Chapter
2
Jupiter
Wind
Suara
ayam berkokok dan suara hewan pagi saling bersahutan, rumah terpencil di ujung
desa, rumah Noran dan Kaja.
Entah
mengapa, Kaja merasa heran dia diminta Cuma membawa dua ember air dan disuruh pulang
segera setelah mengambil air tersebut. Bahkan, Kaja diminta tak mengambil air
di gunung dan hanya di ujung desa dimana ada sumur umum yang bisa digunakan
oleh siapapun.
Kaja
keheranan, namun terus bergegas mengambil air tersebut. Sampai melewati Perguruan
Angin Timur, Kaja kembali diejek.
“Sampah
sedang sakit! Dia bawa dua ember saja, hahahaha,” Baron dan rekan-rekannya
masih membully, kecuali Putri yang kasihan melihat Kaja. Guru Perguruan yang
berada ditingkatan tertinggi Perak mendiamkan murid-muridnya menghina Kaja. Di
perguruan Angin Timur punya 5 guru utama, kelimanya adalah anggota Aflif dari
Desa Pertiwi. Ya, mereka mendapatkan tugas dari Aflif Pusat untuk mengajar di
desa mereka, membina generasi baru agar banyak pahlawan baru yang lahir dan
membantu perdamaian dunia, itu misi mereka.
Arda,
pemimpin Aflif dan menjadi pendiri perguruan Angin Timur. Prabu, Loka, Samo dan
Bunto merekalah tumpuan harapan desa untuk mendidik anak-anak desa untuk
memiliki masa depan yang cerah. Selain mendapatkan bayaran dari Aflif pusat
mereka juga mendapatkan berkah setoran dari sukarela masyarakat. Sudah 10 tahun
mereka mengabdi dan memenuhi misi Aflif di desa Pertiwi.
Kaja
tak mempedulikan olok-olok para murid Perguruan Angin Timur, dia bergegas.
“Hentikan
semua latihan! Kita akan menyaksikan pertandingan terbesar di dunia, penantang
baru akan mencoba merebut tahta Lord Master. Ayo bersiap dan menyaksikan
Televisi!” Semua murid tersenyum, “Ayo!”
Kaja
sempat mendengarnya, dia pun bergegas pergi dan mempercepat langkahnya agar
sampai rumah dan mendapatkan kesempatan untuk menonton pertandingan lima
tahunan tersebut. Ya, pertandingan akan dibagi dalam kualifikasi 5 benua,
hingga mendapatkan 4 pemenang setiap benua dan akhirnya ke 20 peserta terbaik
bertanding untuk menentukan siapa yang bisa mengalahkan Lord Master sang
pemimpin Aflif. Jika menang, dia akan menggantikan Lord Master sesuai dengan
kebijakannya dengan para penasehat Aflif.
Tentu
saja semua orang ingin menjadi peserta dan bisa menjadi Lord Master, dan
syaratnya ikut turnamen adalah menjadi anggota Aflif.
*
* * * *
Kaja
menaruh ember air, belum sempat duduk dia dipanggil Kakeknya.
“Kesinilah,
bukankah kau ingin melihat pertarungan Lord Master?”
Kaja
mengangguk dan mendekati Noran, tv sudah menyala. Penyiar pertandingan sedang
berapi-api memberikan arahan dan siapa pemenang turnamen 5 benua dan orang
paling beruntung berkesempatan menjadi Lord Master berikutnya. Namun, jika itu
dia bisa mengalahkan Lord Master yang sudah 15 tahun memimpin Aflif dan tak
terkalahkan, Gasan Arwana.
Pertandingan
dimulai, Lord Master mengenakan topeng seperti biasanya. Ketegangan terjadi
dalam pertempuran itu meskipun itu dari layar televisi. Sorak penonton histeris
meneriakkan Gasan! Gasan! Menang!
Kaja
ikut terbawa suasana, matanya berbinar. Namun, Noran Kakeknya seolah santai
saja dan acuh. Lebih dari 10 menit pertarungan masih berlanjut
Booom
Booom Booom
Wusssshhhh
Lawan
Lord Master, Master Ramaya mengeluarkan dentuman keras dengan tombaknya,
bayangan Srigala Perak hampir menembus dinding penghalang Lord Master. Ramaya
penantang menggunakan Kekuatan Rakuta yang diperolehnya, Srigala Perak.
“Kakek,
Pertarungan mereka luar biasa!”
“Biasa
saja Kaja, sebentar lagi juga kelar. Lord Master pasti menang!” Noran menjawab
santai.
“Darimana
Kakek tahu, lihat saja Ramaya mendesak mundur Lord Master pertahanannya hampir
jebol.”
Penyiar
pertarungan lantang bersuara, “Apakah Ramaya akan sukses mengalahkan Gasan
Arwana dan menjadi Lord Master yang baru! Menarik! Menarik! Kita lihat saja!”
Saat
itulah Nampak senyuman kecil dari Lord Master Gasan, dia menarik tangan kirinya
ke belakang dan muncullah bayangan Mamoth besar menjuntai belalali dan gading
berjumlah 6. Ramaya kaget dan keadaan berbalik, serangan kemudian saling
bersahutan, perbedaan kekuatan mulai terlihat. Pada akhirnya, Lord Master
kembali dimenangkan oleh Gasan, Ramaya mengaku kalah.
*****
Noran
mematikan TV-nya dan tak peduli dengan Kaja yang masih terlihat takjub akan
pertandingan tersebut.
“Ikuti
aku Kaja! Aku akan mengajarimu sesuatu yang paling penting dalam hidupmu, ini
akan menjadi bekal selama hidupmu.”
Kaja
berpikir kalau Kakeknya akan mengajari receptarier lagi atau obat baru,
sayangnya Kaja salah. Saat melangkah meninggalkan Rumah dan meninggalkan
pelataran rumah yang luas itu, Noran berhenti dan Kaja pun berhenti tepat di
belakangnya.
“Kaja!
Ikuti aku, jangan teralihkan dan fokus mengikuti aku! Ingat, jika kau tak bisa
mengikutiku di belakangku, Kau akan menyesal!”
Ada
aura yang muncul dari tubuh Noran, energinya meluap, Apa Ini?? Kaja kaget,
seolah ini pertama kalinya Kakeknya bicara serius sekali, angin hembusan energi
bahkan sangat kuat hendak mementalkan tubuh Kaja.
“MULAAIII!”
Noran
berteriak dan angin di sekitarnya seolah air mengalir, dia terlihat berlari
dengan cepat. Kaja mengikutinya dan mencoba berlari, entah kenapa dia bisa
terus mengejar Kakeknya. Selama ini, dia memang setiap hari berlari sebagai
hukuman, tapi itu berlari biasa. Kali ini, Dia berlari sangat cepat dan tidak
pernah dilakukan sebelumnya.
Noran
semakin cepat, Kaja pun tak mau tertinggal. Semakin cepat! Cepat dan cepat.
Noran bahkan seolah seperti kilat dan meliuk menghindari pepohonan lebat, Kaja
pun konsentrasi, matanya terlihat jernih bercahaya, dia menghindari pepohonan
meskipun beberapa kali hendak menabrak tapi dia kemudian fokus dan akhirnya
bisa menstabilkan tubuh dan kecepatannya.
Mereka
bahkan kini sangat cepat seperti dua kilatan petir yang bekejaran. Terus
berlari, sesekali menendang pohon dan beralih ke pohon lain untuk memberikan
tekanan agar lebih cepat. Kaja mengikuti semua gerakan Noran Kakeknya, dia baru
sadar bahwa dirinya menjadi sosok yang luar biasa dan tak bisa dibayangkannya.
Noran
tiba-tiba berhenti di tepiah danau yang
luas, di atasnya ada air terjun yang deras dan tinggi sekali. Noran tersenyum
saat menyadari Kaja bisa mengikutinya dengan baik.
“Itu
adalah pelajaran pertama, Kau menguasai teknik Wind Speed.”
Kaja
menjadi heran, dia sedikit menahan napasnya karena masih terlihat sedikit lelah
namun segera mengatur napasnya dan memulihkan dirinya dengan Teknik pengobatan
dan pemurnian jiwa.
“Pelajaran
Kedua, Lihat Aku dan konsentrasi!”
Noran
melangkahkan kaki kanannya di air di pinggiran danau itu, gelombang riak air
terjun terlihat namun Noran tetap menaruh kaki kanannya di atas air. Kaja
sedikit khawatir, Kakek, air danau ini
sangatlah dalam. Tapi, Kaja diam tak bersuara.
Keajaiban
terjadi, Noran tetap terjaga dengan kaki kanannya menempel di air di susul kaki
kirinya dan melangkah biasa saja di air. Kaja terkejut luar biasa, matanya
keheranan membulat. Ini luar biasa.
Noran
melangkah dengan santai dan kedua tangannya bersedekap hingga ke tengah danau,
tepat sekitar 10 meter sebelum air terjun yang deras itu.
“Kaja!
Percayalah dan lakukan seperti Kakek, kau hanya perlu konsentrasi dan
meringankan tubuhmu!”
Kaja
tak peduli lagi, dia konsentrasi. Selama ini, dia yakin sepenuhnya pada
kakeknya, apapun itu. Kaja memusatkan energi di hatinya, membuat gerakan seringannya,
dan keajaiban pun terjadi dia melangkah meskipun awalnya agak goyang namun
akhirnya dia menstabilkan tubuhnya dan mendekati kakeknya, dia berjalan di atas
air, Kaja kagum luar biasa, Amazing.
Noran
kembali tersenyum, Sesuai harapannya,
anak ini punya bakat besar.
“Kaja,
kau sudah menguasai Soul Balancing, kau bisa berkembang lebih besar nantinya.
Kini, pelajaran ketiga, perhatikan kakekmu ini baik-baik.”
Noran
sedikit memajukan kaki kanannya di atas air, memundurkan sedikit kaki kirinya.
Sedikit menunduk untuk memperoleh keseimbangan, air di sekitar kaki Noran pun
bereaksi, seolah riak berputar seperti ada angin tekanan menyebar. Dan……
Wuuussssssshhhhhh!
Kaja
kaget, matanya membesar. Dia benar-benar tak percaya, dia melihat Kakeknya
terbang melompat ke atas langit meninggalkannya dan melewati air terjun dan
mendarat dengan indah di tebing atas di dekat air terjun.
Belum
sempat hilang kekagetannya, Noran sudah berteriak dari atas air terjun, “Kaja!
Lakukanlah!”
Kakek benar-benar gila!
Ternyata dia menyembunyikan kemampuan sehebat ini?
Kaja
berkonsentrasi, energinya meluap ada kebahagiaan dan rasa takjub bercampur, dia
memusatkan energi di ujung kaki-kakinya dan… “ Terbaaaangggg!” Kaja berteriak
dan dia benar-benar terbang melompat sangat tinggi, bahkan saking semangatnya
dia sadar bahwa dia sudah melewati kakeknya dan melompat dengan sangat tinggi
hingga tak bisa menstabilkan tubuhnya sendiri.
“Sial!
OH Tuhan!” Noran tertawa terkekeh melihat Kaja mendekap pohon tinggi di atas
air terjun, dia menabrak pohon karena lompatannya terlalu tinggi. Dasar bocah!
Kaja
menggaruk kepalanya dan melompat turun, dia turun dengan mudah dan menapak
tanah di dekat Kakeknya berada.
“Kaja,
inilah latihanmu selama ini. Setiap hari yang kamu lakukan sesungguhnya adalah
latihan, mulai dari mengambil air hingga seluruh hukuman adalah latihanmu. Penyiksaan
yang kamu alami selama 10 tahun adalah penggemblengan dirimu untuk meraih
takdirmu.”
“Kakeek,”
Kaja baru menyadari sekarang, meski curiga tapi Kaja tak pernah protes
sekalipun. Setiap hari harus mengambil air dari mata air di atas gunung,
alasannya hanya dengan air itu Kakeknya tetap segar. Setiap hari menerima
hukuman, push up, lari. Dan, siang harinya belajar pengobatan, semuanya adalah
untuk menempanya.
Kaja
menekuk satu lututnya, membungkung, airmatanya menetes. Jadi, selama ini Kakek bukanlah orang yang kejam. Dia hanya melatihku.
“Bangunlah
Kaja,” Noran membantu cucunya itu bangun. Kaja pun bangun.
“Dengarlah,
aku akan mengajarimu jurus pamungkas yang aku miliki, kau sudah memenuhi syarat
dan ini bisa menjagamu dari serangan musuh yang kuat. Lihat dan dengarkan Kakek
baik-baik, karena bisa jadi terakhir kali aku mengajarimu.”
Kaja
hanya terdiam dan seluruh inderanya mengarah fokus ke Kakeknya.
Noran
mundur beberapa langkah, dia membuka kedua tangannya ke masing-masing arah,
udara pun seolah berkobar di sekitarnya. Kaja dapat merasakan tenaga yang luar
biasa terpancar. Lalu, tangan kanan Noran ke atas, jari telunjuknya mengarah
satu keatas. Saat itulah seolah ada kilauan yang berpusat di atas jari telunjuk
itu, membentuk lingkaran.
“Konsentrasi,
tarik dan pusatkan energi di luar dirimu di sekitarmu. Semakin banyak energi
yang bisa kau kumpulkan dari alam itu lebih dahsyat, lalu pusatkan energimu
untuk mengawal energi dari alam tersebut.”
Lingkaran
energi mulai berkumpul dari alam menuju jari telunjuk Noran, terus memutar dan
berpusat, sementara ada semacam ikatan energi seperti cincin mengitari
lingkaran energi itu. Semakin membesar bola energi, semakin besar pula cincin
energi yang mengikatnya.
“Kaja,
jika energimu besar, kau bisa menampung energi alam dan itu akan membuat daya
kekuatannya tak terbatas. Ini hanya demo.”
Noran
menghentikan kumpulan energi itu, pusarannya terlihat dahsyat dan…
“JUPITER
WIND” Noran melemparkan bola dan cincin itu ke bawahnya, agak condong jauh dan
sesuatu yang ajaib terjadi.
DUAARRR
DUAARRR BRAAAKKK !!
Ledakan
besar, bahkan tiga pohon ikut terkena energi dan rubuh, dan juga sebuah lubang
besar di bumi tercipta cukup besar dan seolah ada meteorid jatuh. Mata Kaja
terbelalak melihatnya, dahsyatnya.
“Cobalah
Kaja, konsentrasilah, jika kau menciptakan kecil tak mengapa itu sudah
berpotensi mengingat kamu baru sekali mencobanya.”
Kaja
memejamkan matanya, dia mengangkat tubuhnya ke atas, meringankan tubuhnya dan
menstabilkan dirinya. Dia melayang sekira 7 meter dari permukaan tanah dan
Noran melihatnya dari bawah. Kaja mengangkat tangannya ke atas, dia menarik
energi alam di sekitarnya dengan fokus di atas seluruh jarinya. Kaja merenggangkan
seluruh jarinya, dan energi pun mulai Nampak kecil sebiji kelereng berkumpul.
Kaja
sedikit kesulitan membentuk cincin pengikat energi, itulah yang tersulit karena
cincin pengikat itu adalah energi diri sendiri dan terus berputar
menyeimbangkan energi alam yang terus berkumpul. Namun, Kaja akhirnya mampu
melakukannya dan kini Noran yang terkaget melihat, energi alam yang terkumpul
tak terkendali, pengikat semakin membesar dan
kini bahkan seperti bentuk Jupiter dan cincinnya, bola energi sekitar
diameter 2 meter terbentuk. Kaja terlihat mulai kewalahan, dahinya berkerut dan
dia pun membuka matanya seolah sadar dia tak bisa menahan terlalu besar lagi.
“JUPITER
WIIIN”
DUAAAARRRR!!!
DUAAAARRRR!!! DUAAAARRRR!!!
BRAAAAAKKKKK!!!
Sekali
lagi, ledakan besar dan lebih besar dari pertama milik Noran, Noran pun
terbelalak. Kaja turun dan terlihat sedikit berkeringat.
Noran
tersenyum pada Kaja, “Bagus Kaja, kau sudah menguasainya.” Anak ajaib, selanjutnya kau harus bisa menjaga dirimu sendiri.
Keduanya
tersenyum dan Noran meminta Kaja untuk pulang.
*****
DUAAARRRR!!
Lima
orang yang tengah dalam mobil dengan roda besar dalam perjalanan tersebut
terkaget. Jalanan mulai masuk ke pelosok dan perbukitan yang jarang dilewati
orang.
“Informasi
itu benar! Lelaki tua itu disana,” Ucap Cukra Mamba, Pemimpin Aflif TRUE DEMON,
Lelaki berewok tipi situ berkata kepada 4 rekannya, dia merasakan energi
dahsyat dari Jupiter Wind, jurus yang sangat dikenal dari lelaki yang tengah
mereka incar.
“Benar,
itu jurus legendaris milik si Kakek Bonto,” Sahut Ruciko di sebelahnya, “Tapi
sepertinya, mulai sekarang perjalanan kita harus dengan jalan, Mobil sudah tak
bisa masuk.” Ketiga yang lain mengangguk.
Sepertinya
mereka sadar, jika menggunakan energi mereka bisa sehari sampai, tapi jika
bersantai maka mereka membutuhkan 3 hari perjalanan lagi.
Salah
satu dari mereka, Sultan ikut nimbrung, “Dalam tugas perburuan ini, kita harus
menangkap hidup-hidup Bonto, dan aku memastikan ada 4 Aflif yang bergerak, dan
salah satunya adalah Tim Kita.”
Mamba
pun tersenyum sambil turun dari Mobil, Menarik!
*****
Di
sisi lain, dua grup Aflif tampak bertemu dan sepakat untuk melakukan perburuan
bersama, menangkap hidup-hidup Bonto.
Aflif
BUMI LANGIT (7 Orang) dan Aflif MAYAPADA (5 Orang) Dalam aturan Aflif, setiap
orang bisa membentuk tim minimal 5 orang untuk memulai Job sebagai Aflif lalu
bisa 7 atau 9 orang. Kedua tim Aflif ini sama-sama menyusuri tebing di lain
sisi dan meninggalkan mobil mereka. Mereka sadar, tugas ini berat karena Bonto
sudah menghilang sejak 10 tahun yang lalu, dia dulu adalah mantan anggota Aflif
yang terkenal dan dulu berada di puncak Emas untuk kemampuannya.
“Kamu
tahu apa yang disimpan Bonto sehingga kita harus mengejarnya?” Salah satu
kelompok Aflif BUMI LANGIT bicara sambil terus berjalan.
Pemimpin
Aflif MAYAPADA, Ranggi tersenyum, “Pasti karena benda Itu!”
Semua
pun mendengar Ranggi dan terus berjalan.
DUUAARRRR
DUAARRRR
Kedua
Tim Aflif itu menyadari ledakan besar. Sepertinya,
kita harus cepat. Siapa tahu dia sudah mendapatkan bocoran raid ini.
Not Comments Yet "Chapter 2, Jupiter Wind"
Posting Komentar