Aku agak tenang kini.
Aku duduk di pinggir kursi yang memanjang di depan pintu tes masuk, untuk
mengikuti tes masuk pesantren Darussalam. Di atas daun pintu tempat tes
terdapat tulisan ”Tempat Tes,” di pintunya ada tempelan kertas, ”Harap tertib
berdasarkan urutan pendaftar, waktu tes 10 menit,” kutengok nomor tesku, nomor
25. Aku harus sedikit bersabar.
Kusempatkan mengambil
mushaf dan membacanya lirih, kuteruskan membaca buku yang dipinjamkan Kak Nugroho kemarin. Buku ‘Semulia Akhlak Nabi’ karya ulama dari Mesir, Amru
Khalid. Bahasannya begitu indah, sambil sesekali kulihat setiap orang yang
keluar dari ruang tes, selalu kembali dan memanggil nomor berikutnya sambil
berbincang dengan para peserta tes yang lain yang telah lebih duluan
menyelesaikan tesnya, kuperhatikan percakapan mereka tampak menegangkan.
Aku kembali menekuri
buku,
”Akhlak. Saat
berbicara tentang kemuliaan, tanyailah diri anda: mana shalat tahajjudmu? Mana
puasamu saat siang yang terik menyengat? Mana sumbangan terhadap anak yatim?
Namun Nabi bersabda, ”Sesungguhnya
sesuatu yang paling berat timbangannya adalah budi pekerti yang agung.
Apa tujuan kita
mempelajari akhlak?
”Karena akhlaklah Nabi
saw diutus”
”Saya lihat anda
begitu terperanjat!”
Innamaa bu’its tuli
utammima makaarimal akhlaq, sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan
kemuliaan akhlak. Jadi, apa hubungannya antara
akhlak dan pengutusan Nabi saw?
Sekarang saya bertanya
kepada anda, ”Mengapa Nabi saw diutus?”
Allah ’Azza wa Jalla
berfirman, Wamaa Arsalnaa Ka Illaa Rahmatal Lil ’Aalamiin: Dan kami tidak
mengutusmu kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta
renungkanlah..., sungguh, demi Allah, ada pertautan yang kuat antara hadits
dan ayat di atas. Coba kita lihat shalat. Shalat dapat memperbaiki akhlak anda
Allah SWT berfirman : ”Dan
dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan)
keji dan munkar.”
Subhanallah, jika shalat seseorang itu belum mampu mencegah dari perbuatan keji
dan munkar, maka shalatnya baru sebatas olah raga. Ia telah shalat, namun
shalatnya belum memperbaiki akhlaknya.
Dalam hadits qudsi
Allah ’Azza Wa Jalla berfirman: ”Sesungguhnya Aku menerima shalat dari
seseorang yang mengerjakannya dengan khusyuk karena kebesaranKu, dan ia tidak
mengharapkan anugerah dari shalatnya karena sebagai hambaKu (makhlukKu), dan ia
tidak menghabiskan waktu malamnya karena bermaksiat kepadaKu, menghabiskan
waktu siangnya untuk berdzikir kepadaKu, mengasihi orang miskin, ibnu sabil,
mengasihi anda, dan menyantuni orang yang sedang terkena musibah.”
dapatlah anda menyaksikan adanya hubungan antara ibadah (shalat) dan
akhlak? Ingatlah, jika shalat anda belum memberikan nilai-nilai kasih sayang
terhadap sesama manusia, maka anda belumlah memetik buah shalat anda secara
sempurna.
Demikian pula dengan
sedekah, Allah ’Azza Wa Jalla berfirman: ”Ambillah zakat dari sebagian harta
mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.”
Subhanallah, ternyata tujuan zakat
adalah membersihkan diri dalam rangka proses perbaikan akhlak! Tahukan anda,
bagaimana bisa tujuan zakat bertumpu pada moral?
Demikian pula dengan
puasa. Nabi saw bersabda, ”Jika salah seorang di antara kamu melaksanakan
puasa, maka janganlah berkata kotor dan menipu. Jika seseorang mencelamu atau
hendak membunuhmu, maka katakanlah, ”Sesungguhnya saya sedang berpuasa”.
Subhanallah, tiada kata kecuali
mengagungkan nama Rabb Semesta Alam. Di saat sedang menjalankan puasa,
hari-hari anda dipenuhi dengan nilai moral, sampai-sampai anda tidak dibenarkan
berbuat fasik, mencaci, bersikap pandir (pelit), dan sebagainya.
Jika anda masih ragu,
maka ritual ibadah haji dapat menghilangkan keraguan tersebut. Karena puncak
tertinggi akhlak adalah haji Allah ’Azza Wa Jalla berfirman: ”(Musim) Haji
adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam
bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh Rafats,
berbuat fasik, dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa
yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah,
dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa, dan bertakwalah kepadaKu, hai
orang-orang yang berakal. ”
ingatlah ketika akan bermukim selama 20 hari dalam rangka mengerjakan haji dan memperbaiki akhlak karena
disana, dilarang berbicara kasar, mencaci, mencela, dan mendzalimi seseorang.
”Tujuan kedua mempelajari
akhlak adalah menghindari dikotomi
antara akhlak dan ibadah dalam praktiknya. Kita harus dapat menghindari
pemisahan antara agama dan dunia (sekulerisme, ed). Sebab banyak dijumpai orang
berada di dalam masjid bertujuan memperbaiki akhlak, sedangkan ketika di luar
bertolak belakang. Tentu ada motto yang berkembang, ”Agama hanya ada dalam
masjid. Adapun mengenai kehidupan, saya akan bekerja sebagaimana saya
kehendaki.” Ini merupakan kesalahan yang fatal!
Pemisahan antara
ibadah dan akhlak ini akan melahirkan dua tipe manusia, yang pertama hamba yang
rajin beribadah namun buruk akhlaknya, yang kedua hamba yang baik akhlaknya
tapi buruk ibadahnya. Dua tipe ini amat tidak terpuji. Keduanya bukan dari
Islam. Saya takut anda termasuk golongan ini! Rasulullah saw bersabda, ”Demi
Allah ia tidak beriman, demi Allah ia tidak beriman, demi Allah ia tidak
beriman, Para sahabat bertanya: Siapakah mereka wahai Rasulullah? Rasulullah
menjawab: Orang yang tidak dapat menyimpan rahasia kejelekan tetangganya.”
renungkanlah orang yang suka mengebutkan cuciannya yang masih basah sehingga
percikan air cuciannya mengenai cucian tetangganya yang tinggal di bawahnya.
Renungkanlah orang
yang memarkirkan kendaraannya di depan garasi tetangganya, renungkanlah ketika
seseorang membuang sampahnya ke lahan milik tetangganya, renungkanlah ketika
kita memencet klakson kendaraan yang dapat mengganggu tetangga kita, hendaknya
kita memperhatikan hadits ini.
Sebaliknya sesuatu itu
akan jelas, Rasulullah bersabda, ”Banyak orang berbondong-bondong mendatangi
Rasulullah saw, mereka bertanya: ’Wahai Rasulullah Fulanah menjadi buah bibir
karena rajin shalatnya, puasanya dan zakatnya padahal ia menyakiti para
tetangganya. ’Rasulullah menjawab, ’Tempatnya di neraka,’ kemudian disebutkan pada
Nabi wanita lainnya yang juga menjadi buah bibir karena sedikit shalatnya,
puasanya dan zakatnya sedangkan ia tidak pernah menyakiti para tetangganya.
Maka jawab Nabi saw, ’Tempatnya di surga’.”
Kita tegaskan, bahwa
tidak ada pemisahan antara akhlak dan ibadah! Perhatikanlah, hal ini dapat
mengurangi iman anda! Rasulullah saw juga bersabda, ”Iman itu sebanyak 73
tingkatan, tingakatan tertinggi mengucapkan, ’Laa Ilaahaillallaah,’ sedangkan
tingkatan terendah adalah menyingkirkan rintangan dari jalan.”
menyingkirkan rintangan di jalan merupakan bagian dari iman. Apa pendapat anda
tentang orang yang membuang sisa makanan di jalan, apakah anda sempat berpikir
bahwa hal itu termasuk menghilangkan sebagian dari iman?
Apa pendapat anda
tentang seseorang yang membangunkan anaknya di pagi buta seraya mengatakan,
’Buanglah kantong sampah itu ke jalan, dan jangan sampai seorang pun
melihatnya!” apa pendapat anda tentang orang yang meninggalkan mobilnya karena
macet yang dapat mengganggu kelancaran lalu lintas maupun penyeberang jalan,
sementara ia tidak berupaya memperbaiki kendaraannya? Apakah anda tidak
berpikir bahwa hal itu dapat menghilangkan sebagian dari imannya?!
Ada satu contoh yang
sarat dengan kandungan moral. Suatu saat, ada pemuda bernama Yasir sedang mengendarai
mobil di jalanan sepi. Tiba-tiba di tengah jalan menjumpai spion tergeletak di
jalan tersebut, kemudian ia menghentikan mobilnya dan turun, setelah itu ia
meletakkan spion tersebut di pinggir jalan. Selamat buat Yasir...! sesungguhnya
perbuatan tersebut adalah tanda-tanda keimanan.
Subhanallah! aku menutup kembali buku
karangan Amru Khalid itu. Kini giliran nomor peserta 23, sebentar lagi
giliranku. Tanpa sengaja telingaku menangkap percakapan peserta nomor 22 yang
baru saja keluar.
”Sepertinya, aku tidak
diterima,” wajahnya begitu sayu tak percaya diri.
”Memangnya kenapa?”
tanya temannya yang memakai baju batik.
”Insyaallah waktu tahsin aku lulus tapi ketika tahfidz
banyak yang terlupa, hingga dua orang pengawasnya menggeleng-gelengkan
kepalanya,” lelaki itu tertunduk lesu di kursi memanjang dan duduk di sebelah
temannya.
”Bersabarlah, jika
memang tidak lulus. Allah akan memberikan kepada kita tempat yang baik pula.
Kita harus yakin itu, yang terpenting kita telah berusaha sekuat tenaga.”
Aku tertegun sejenak,
begitukah yang disebut persahabatan? Alangkah indahnya, benar juga kata lelaki
tua di masjid tadi. Hatiku mencoba menguak kembali pelajaran berharga yang baru
saja kudapatkan. Eh..., siapa nama lelaki tua yang kutemui di Masjid tadi.
Kenapa aku tadi tidak menanyakannya. Alangkah ruginya aku, bagaimana
menemukannya kembali? Padahal pelajarannya sungguh bermakna.
”Silakan Mas, anda
ditunggu,” senyum pemuda itu merekah, kelihatannya dia nomor urut yang ke-24.
aku tersenyum membalasnya, ”Iya, terima kasih. Doakan aku masuk, semoga kita
dapat belajar bersama disini.”
Pemuda berbaju koko itu menyalamiku sambil
memperkenalkan dirinya, namanya Syahid. Aku mengenalkan diriku, Ali. Kami
bertukar nomor Hp, lalu aku meninggalkannya dan memasuki ruang tes. Aku
mengetuk daun pintunya yang masih terbuka sedikit, ”Assalamu’alaikum,” beberapa
suara terdengar samar menjawab salam. Lalu terdengar suara selanjutnya,
”Silakan masuk,” aku memasuki ruang itu.
Tiga orang duduk, di belakang sebuah meja kayu panjang. Ruang yang bersih,
tanpa ada gambar, sehingga terlihat longgar dan luas. Mereka memintaku menutup
pintu dan mempersilakan aku duduk di kursi, tepat ada satu kursi di depan meja.
Mungkin berjarak satu meteran dengan meja. Tapi...
Serius! Aku kaget
bahkan seolah jantungku hendak meloncat keluar. Kaki yang hendak menyentak
buru-buru kukendalikan. Bagaimana tidak, lelaki yang duduk di tengah, yang kini
tersenyum tipis kearahku..., ternyata Bapak yang aku temui di Masjid ketika
shalat Dhuha tadi. Subhanallah, alangkah sempitnya dunia ini. Baru saja
aku memikirkannya, ternyata aku langsung bertemu kembali, bahkan dia termasuk
salah satu team penilai penerimaan
santri baru di pondok Darussalam. Aku jadi grogi setengah mati, apalagi dia
tahu masalahku. Kini aku hanya bisa pasrah, menyerahkan segalanya pada Allah
semata.
Mereka memintaku
mengambil Al-Quran yang tergeletak di meja, lalu aku membacanya. Mereka bertiga
menyimak tenang. Aku agak gemetar membacanya.
”Alif laammiim,
Dzaa likalkitaa bulaa roibafiih hudal lilmuttaqiin, Alladzii nayu’ minuu
nabilghoibi wayuqii muu nasholaa ta wamimmaa rozaqnaa hum yunfiquun.
Baru beberapa ayat, aku berhenti sejenak. Kulihat dua orang yang duduk di
pinggir kiri dan kanan Bapak itu, menggelengkan kepalanya beberapa kali. Bapak
yang di tengah itu hanya tersenyum sambil menatapku. Aku kembali meneruskan
bacaanku, bukankah beberapa hari ini aku telah belajar dengan Nugroho.
Mudah-mudahan semuanya lancar karena kupikir bacaanku sudah lumayan baik.
He...he...he..., gurauan hatiku sedikit menghibur.
Ketika membaca, ”Wabasy
syirilladzii na aa manuu wa’a milashoo lihhaati anna lahum jannaa tin tajrii
min tahtihal anhaar...,”
mereka memintaku berhenti. Seorang lelaki setengah baya yang duduk di pinggir
kiri dan memakai kopiah putih itu menatapku tenang, seolah hendak berkata-kata
yang amat berat.
”Anakku, maafkan kami.
Sekarang kamu boleh meninggalkan ruang tes.”
”Tunggu dulu! Aku
ingin mengetes tahfidz-nya. Apakah kamu sudah siap anakku?” Lelaki yang
kutemui di masjid itu menatapku teduh.
”Insyaallah siap Pak,” jawabku mantap, tanpa grogi sedikitpun.
Lelaki itu
menggerak-gerakkan pena-nya, sejenak. Lalu berhenti, matanya menatapku kembali,
”Juz berapa yang kamu hafal?”
”Juz satu.”
”Perhatikan baik-baik.
Aku akan mengetesmu,” suasana hening. Ada sedikit kerut di dahinya, mulutnya
mulai bergerak kembali, ”Walaa talbisul hhaqqo bil baa tili wataktumul
hhaqqo wa antum ta’lamuun,”
matanya berbinar menatapku, seolah menunggu sesuatu dariku. Suaranya sungguh
lembut, tapi..., kenapa dia hanya membaca sedikit? Kenapa mereka bertiga
menatapku? Heran atau bingung. Aku sendiri hanya menelan ludah.
”Aku..., aku harus
melakukan apa? Kenapa kalian semua menatapku aneh?”
”Baiklah, mungkin kamu
belum hafal. Akan aku bacakan ayat yang lainnya,” lelaki bermata teduh itu
seolah memikirkan sesuatu, ”Kaifa takfuruu nabillaahi wakuntum amwaatan fa
ahhyaakum, tsumma yumii tukum tsumma yuhhyiikum tsumma ilayhi turja’uun,”
sekarang teruskanlah ayat sesudahnya.”
Suasana hening. Aku
tidak berkata apa-apa, aku tidak bisa meneruskan ayat itu, entah ayat
keberapakah yang dibacanya dari juz satu. Akhirnya setelah lima menit
menunggu, dua orang yang berada di samping kanan dan kiri lelaki itu,
memberikan ultimatumnya. Mereka langsung menilaiku saat itu juga, padahal aku
tahu pengumuman tes ini akan diumukan
besok. Pertama mereka menyemangatiku, mereka memintaku banyak belajar
lagi, karena selain makhrojul huruf yang belepotan juga tajwidnya
banyak yang belum pas, terutama bagian mad thobii’ii,
idhar, ikhfa’, idghom, dan iqlab. Aku sendiri
memang beberapa kali dalam seminggu ini diajari Nugroho, hanya saja aku belum
paham benar. Mereka memintaku untuk mendaftar tahun depan, jika aku masih
bersedia.
Seolah cobaan yang
biasa kudapatkan, walau biasa, namun perasaanku agak terpukul juga. Mereka
berdua memintaku keluar dan meminta tolong untuk memanggil peserta selanjutnya.
Saat kakinya mulai melangkah selangkah itulah, datang keajaiban Allah untukku
melalui lelaki itu.
”Tunggu sebentar
Anakku,” aku menghentikan langkahku dan kembali menengok. Kubuat gaya biasa,
walau sebenarnya kekecewaanku membuncah, ”Bukankah tadi engkau bilang sudah
hafal Juz satu, tapi kenapa dari ayat yang kubaca seolah tidak ada
respon sama sekali darimu. Seandainya engkau sudah hafal, bukankah engkau bisa
meneruskannya walaupun banyak kesalahan? Bolehkah aku mengetahuinya anakku?
Dari raut wajahmu, seolah engkau merasa selalu pasrah pada keadaan.”
Tepat, seolah dia tahu
isi hatiku. Aku menatapnya kembali, ”Sebenarnya, seminggu yang lalu aku membeli
kaset murottal Al Mathrud, karena aku ingin sekali masuk pondok ini
untuk memperbaiki diri, maka aku menyetelnya setiap saat. Setiap aku belajar,
setiap aku makan di kamar, setiap aku tiduran, setiap menyetrika. Semua yang
kulakukan seolah tak lepas dari mendengarkannya, karena salah satu persyaratan
masuk ke pondok ini adalah hafal satu juz. Dan aku menghafalkannya dari kaset,
aku tidak bisa meneruskan bacaan yang dibaca terpisah-pisah. Jika diperbolehkan
membaca dari awal hingga akhir, aku pasti bisa membacanya. Andai saja..., tapi
seolah hanya memimpikan sesuatu yang tidak mungkin saja,” aku menatap mereka
sejenak, ”Terima kasih atas kesediaannya mendengarkan penjelasanku.
Assalamu’alaikum,” aku membalikkan tubuhku.
”Tunggu dulu!” aku
menghentikan langkahku kembali, ”Maukah engkau membacakan hafalanmu yang kau
dengar dari kaset itu. Kebetulan aku menyukai bacaan syekh Mathrud, yang
merupakan imam masjid riyadh itu. Bacakanlah untukku, aku ingin melihat
kejujuranmu, karena engkau di awal bilang bahwa kau telah hafal juz satu.
Bacakanlah, siapa tahu kami berubah pikiran,” kulihat ada keterkejutan dari
kedua wajah di samping-sampingnya.
Aku tersenyum
menatapnya, belum pernah ada orang yang memperhatikanku sedemikian rupa. Aku
dengan senang hati ingin membacakannya, apalagi untuknya. Aku duduk kembali,
walau terasa canggung aku membacanya. Kuatur suaraku sesuai dengan kaset yang
seminggu ini kudengar, ”A’uu dzubillaa
himinasy syaithonirrajiim, bismillahirrahmaanirrahiim, alhhamdulillaa
hirabbil ’aalamiin. Arrahh maa nirrahiim. Maa likiyau middiin. Iyyaa kana’
buduwa iyyaa kanasta’iin. Ihdinaah shiraathol mustaqiim. Siraa tholladzii na
an’amta ’alayhim ghoiril maghdhuu bi’alayhim walaadhoolliin.”
ruangan seolah dipenuhi dengan kesejukan, hatiku bergetar, mataku terpejam. Ya
Rabbi, dosaku menggunung, ijinkanlah aku bertobat dan memperbaiki dalam
mimbar-mimbar cahayaMu. Seolah aku tiada lagi di pijakan bumi, aku seolah tiada
bersama manusia-manusia. Seolah di kelilingi para malaikat bermata jernih lagi
bersih. Mulutku mencium aroma yang terindah, seolah memancingku untuk tidak mau
berhenti, airmataku tiada terasa berjejalan ingin keluar.
”Alif Laam Miim.
Dzaa likal khitaa bulaa raybafih, hudallil muttaqiin. Alladzii nayu’minuu nabil
ghoibi wayuqii muu nasholaa ta wamim maa razaqnaa hum yunfiquun. Walladzii
nayu’minuu nabimaa unzila ilayka wamaa unzilamin qablikh, wabil Aa khiratihum yuu qinuun. Ulaa ikha ’alaa
hudam mirrabbihim waulaa ikha humul muflihhuun...,”
(Alif Laam Miim.
Kitab(Al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang
bertakwa. (yaitu) Mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan
shalat, dan yang menafkahkan sebagian rezeki yang kami anugerahkan kepada
mereka. Dan mereka yang beriman kepada kitab (Al-Quran) yang telah diturukan
kepadamu dan kitab-kitab yang te4lah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin
akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk
dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung)
sesudah membaca ayat,
”Wabasy syiril ladzii na aa manuu wa ’alimush shaa lihhaa ti annalahum
jannaa tin tajrii mintahh tihal anhar. Kulamaa ruziquu minhaa min tsamaratir
rizqan qaaluu haa dzal ladzii ruziqnaa min qablu wa u tuu bihii mutasyaa bihaa.
Walahum fiihaa azwaa jum muthah haratuw wahum fii haa khooliduun,
lelaki itu memintaku menghentikan bacaanku. Aku membuka mata, betapa kaget.
Kulihat mereka bertiga meneteskan airmata. Aku tidak tahu karena sedari tadi
aku terpejam. Seolah baru tersadar, kami mengusap airmata masing-masing. Aku
mengambil sapu tangan dari celanaku, mereka bertiga mengusap airmatanya dengan
tissue yang tersedia di meja. Betapa malu rasanya aku, menangis di depan
mereka. Aku merasa bersalah karena membuat mereka meneteskan airmata, aku hanya
diam menunggu suara dari mereka.
”Bacaanmu bagus
anakku. Sangat mirip dengan Al-Mathrud, tetapi anehnya engkau ketika membaca
Al-Qur’an tajwidmu masih sangat kurang, apalagi makhrojnya. Tetapi hafalanmu,
sangat bagus, engkau diterima di pondok ini!”
Aku mengangkat
kepalaku kaget. Bukan hanya aku, tapi kedua orang di sampingnya sama kagetnya
dengan aku. Bibirku bergetar, aku tak
dapat berkata apa-apa lagi. Aku masih bingung. Kedua orang di sebelah kiri dan
kanannya saling berpandangan.
”Tapi Pak, dia...,” di
sebelah kiri, lelaki itu seolah mewakili temannya.
”Sudahlah, tidak
apa-apa. Insyaallah dia nanti bisa
dilatih,” lelaki itu tersenyum padaku.
”Tapi Pak, nanti
terjadi ketidakadilan dalam tes ini,” lelaki yang di sebelah kanan angkat
bicara.
”Tidak apa-apa, aku
sudah memikirkannya. Insyaallah
keadilan dan kejujuran akan tetap ditegakkan di Darussalam ini. Percayalah
padaku,” lelaki itu sekali lagi tersenyum kearahku. Kali ini aku membalas
senyumannya.
Aku keluar dengan
tenang. Aku memanggil nomor tes ke-26, dia bertanya kenapa aku di dalam lama
sekali. Kubilang padanya ada sedikit masalah, kulihat raut wajahnya semakin
pias. Mungkin grogi. Hari itu aku pulang dalam keadaan masih bingung sekaligus
bersyukur, entah apa yang terjadi esok saat pengumuman. Kucoba menyerahkan
semua persoalan kepada Allah, aku bertawakkal kepadaNya.
* *
*
Pengumuman di tempel
di depan pondok Darussalam, di dekat lapangan sepak bola footsal. Kurasa aku
datang terlambat, karena kulihat mereka telah berlalu meninggalkan tempat
pengumuman itu. Kulihat banyak wajah yang ceria berseri, mungkin mereka
diterima. Dan..., seolah tidak ada wajah kecewa atau murung. Kulihat semuanya
ceria. Aku semakin tak sabar untuk mempercepat langkahku mendekati papan
pengumuman itu. Akhirnya sampai juga, dan...
Aneh! Mana daftar
calon santri yang diterima? Hanya ada tulisan, atau lebihnya sebuah kalimat,
”31 Pendaftar, kesemuanya diterima.”
Not Comments Yet "Part 16, Tes Pesantren"
Posting Komentar