Aku ke rumah Pak Karta,
saat itu Indah tengah menyiram bunga. Aku turun dari sepeda bersama Syahid,
seperti kata Kang Mukhlis, memang hanya sedikit orang yang tidak percaya wabah
kutukan itu. Di antaranya adalah Pak Lurah sendiri yang selalu berpikir
rasional, para guru dan Kang Mukhlis sendiri.
Indah memanggil ayahnya,
kami akhirnya urun rembug, empat orang; aku, Syahid, Pak Karta dan Indah. Empat
orang tentu lebih baik pemikirannya daripada hanya dua orang bukan?
Kami membicarakan
bagaimana menyelesaikan kasus ini, yaitu mengecek berapa orang warga yang telah
terjangkit penyakit, kemudian yang kedua adalah membuatkan kartu jaminan kesehatan
masyarakat. Baru saja kami mulai berembuk, rombongan guru Sekolah Cahaya datang
dan bergabung, semakin lengkaplah.
Para guru tentu saja
gelisah, bagaimana tidak. Mereka berangkat ke sekolah, tak satu pun ada siswa
yang datang. Isu yang menyebar lebih terasa bebannya daripada penyakit itu
sendiri.
Kami membagi kelompok
relawan menjadi dua. Aku, Pak Yusuf, Pak Lurah, bertugas membuatkan masyarakat
surat jaminan kesehatan dengan mencatat data penduduk desa. Bu Siska, Pak Danu,
Indah, Syahid bertugas memeriksa warga desa yang sakit, tapi mereka harus
menjemput Ani dulu.
Saat kami siap-siap
berangkat, seorang lelaki datang sambil menenteng golok dalam ikat pinggangnya,
”Apa kalian pikir aku tidak diikutsertakan?” dialah Kang Mukhlis, sang jawara
telah kembali memakai golok, pertanda siap menjalankan tugas.
Kang Mukhlis bergabung
dengan kelompok yang akan membawa Ani, memeriksa warga desa yang sakit. Saat
itu pula, kami berangkat. Kelompok pertama, mencari, mengambil blangko di
kantor kelurahan, sedangkan kelompok kedua menjemput Ani, Kang Muklis bertindak
sebagai bodyguard, jikalau ada perusuh. Suasana sangat mencekam kawan,
sepi, para rampok dan pencuri bisa beraksi pula di siang hari. Dalam situasi
seperti ini, tak ada penduduk yang berani keluar jauh dari rumah. Mungkin,
kalau kambingnya dicuri dari kandangnya; jikalau hilang tak akan ketahuan,
jikalau ketahuan mungkin si pemilik hanya berteriak dan tidak akan ada yang
menolong dalam kondisi mencekam seperti ini.
Di kelompok pertama, kami
telah menemukan blangko pengisiannya. Sudah sedikit terkena debu, pertama kami
mengumumkannya lewat pengeras suara di masjid, juga seluruh mushala dan langgar
yang ada, Pak Lukmanlah yang mengumumkannya di masjid.
Lelaki buta itu mencegahku
sejenak, sebelum aku kembali ke kelurahan.
”Berjuanglah, Pak Arif!
Karena untuk itulah Allah mengutusmu ke sini,” aku tak tahu maksudnya. Tapi,
aku tak takut lagi padanya, dulu, kupikir mungkin karena obsesi yang terlalu
tinggi, karena aku memberinya kurma dan kuambil bijinya.
Kami menunggu di kelurahan
hingga satu jam lebih, tak ada yang datang.
”Percuma, dulu, beberapa
tahun yang lalu cara ini tak berhasil,” Pak Lurah menerangkan,” Itulah
sebabnya, aku merasa kasihan pada Ani, dia mahasiswi terbaik, pulang ke desa
untuk membaktikan dirinya, berjanji, tapi tak ada yang menghargainya. Bahkan
dia bersedia tanpa bayaran. Beberapa panggilan datang lagi, agar dia bekerja di
kota, tapi katanya lebih baik jadi petani daripada menjadi perawat bukan di
desanya,” Pak Lurah menunduk.
”Bagaimana kalau kita
datangi rumah mereka satu-persatu?” aku coba mengusulkan.
”Baiklah, harus dicoba,” Pak
Yusuf membelaku.
Kami berangkat, kawan jika
kau tahu maka sebenarnya tak akan selesai semudah yang dipikirkan, satu-persatu
rumah. Tapi, hanya ini sementara langkah kami. Kami mulai dari perbatasan desa
di sebelah barat, di barisan ruas paling selatan.
Rumah pertama, saat kami
datang tak mau sedikit pun membuka pintunya, walau Pak Lurah sendiri telah
memperkenalkan dirinya. Mereka sangat takut, tentang wabah kutukan, angin yang
berhembus dari luar rumah adalah penyebab wabah itu menular. Pak Lurah sampai
mengatakan bahwa kami sehat-sehat saja berada di luar. Dalih mereka
selanjutnya, karena Pak Lurah mempunyai aji penangkal karena pernah berguru
silat, sedang mereka sama sekali tak punya ajian.
Rumah kedua, ketiga,
keempat, kelima semuanya sebenarnya menerima kami, tapi tak ada yang percaya
dengan hukum kesehatan modern. Animisme masih menguasai isi otak mereka,
daripada percaya dengan perkembangan pengobatan yang ada. Pak Lurah mulai putus
asa, kami kembali ke Kelurahan untuk menyusun strategi baru. Aku kehabisan
akal, Pak Yusuf terlihat bingung.
”Inilah realitas penduduk
desa Cahaya,” Pak Yusuf menatapku, ”Di sinilah aku dilahirkan, aku ingin mengubah
dogma khurafat, tapi siapalah aku ini?”
Rombongan kedua datang ke
kelurahan, Ani memakai baju putih kebesarannya. Kami berkumpul kembali, Ani
menjelaskan bahwa masyarakat yang sakit, beberapa tidak mau diperiksa. Tapi,
ada beberapa yang berhasil dibujuk dengan kemampuan lobi-lobi Pak Danu, di antaranya
Bu Ria ternyata terkena indikasi demam berdarah. Yang lain demam biasa, tapi
jika tidak segera diberi perawatan akan menjadi parah.
Kulihat dari wajah Ani
yang lelah, sambil menjelaskan. Wajah itu tampak gembira, keahliannya digunakan
di desa Cahaya, walau waktunya tak tepat, walau sedikit memaksa.
”Bagaimana sekarang?” Pak Lurah
kini yang bicara.
Semuanya tampak berpikir.
”Apakah di desa ini ada
yang memiliki sound system yang besar, bisa menjangkau seluruh desa?”
”Untuk apa, Pak Arif?” Pak
Yusuf menatapku.
”Kita harus punya pengeras
suara yang bisa didengar di seantaro desa, kita juga akan mudah koordinasi di antara
kelompok.”
”Ada, di rumah Bang Rizal,
pemilik orgen tunggal Dendang Cinta.”
Tanpa dikomando terlalu
lama, aku, Pak Danu, Pak Yusuf dan Pak Lurah berangkat membawa gerobak besar.
Kami datangi Bang Rizal, dia tengah duduk di depan rumahnya, rumahnya sangat
jauh di ujung bagian timur. Ternyata masih ada orang yang tidak takut wabah
itu, buktinya Bang Rizal santai sambil makan singkong goreng.
”Kenapa takut penyakit?
Kalau mati ya mati saja,” jawab Bang Rizal santai.
Pak Lurah menyampaikan
maksud kami datang, sekaligus jika bersedia Bang Rizal untuk membantu
mengoperasikan sound system-nya.
”Apa untungnya bagiku?”
”Pahlawan desa Cahaya, itu
akan melekat di pundakmu sampai tujuh
keturunanmu,” kata-kata Pak Lurah, orang nomor satu di desa, bukanlah
main-main.
”Baiklah. Pahlawan telah
datang, ayo kita angkut salon-nya.”
Kami menaikkan delapan
buah sound system itu, mendorongnya dan menurunkannya di kantor
kelurahan, memasangnya dalam dua tumpukan. Bang Rizal menata, memasang
kabel-kabel, mencobanya. Bunyinya keras, tetangga desa pun pasti mendengarnya.
”Bunyikan
sekeras-kerasnya, lagu apa saja, musik apa saja. Terserah Bang Rizal.
Orang-orang desa harus sudah sadar sekarang,” aku menatap Bang Rizal.
Pak Lurah menatap Bang Rizal
pula dan mengangguk meyakinkan, ”Untuk hal ini, kaulah pahlawannya, Rizal.”
”Baiklah, ini memang
keahlianku!” Bang Rizal dengan senang hati, senyumnya terukir, dia memasukkan
kaset, mengatur soundnya. Musik bersuara keras membahana seluruh desa Cahaya,
musik itu adalah lagu dangdut kesukaannya, lagu-lagu yang dinyanyikan Elvi
Sukaesih. Kawan, seumur-umur sebenarnya baru kali ini aku mendengarkan musik
dangdut, kunikmati saja.”
Kelompok dibagi dua lagi.
Satu kelompok mendatangi warga, dengan suara dangdut diharapkan penduduk berani
keluar rumah, biasanya musik adalah panggilan jiwa bagi para pencinta musik.
”Ani, bisakah surat
jaminan itu jadi dalam waktu sehari?” aku sedikit mengeraskan suaraku, karena
musik yang keras.
”Minimal besok, jika hari
ini kelar biodatanya.”
”Lalu yang sakit tadi,
apakah sudah ada biodatanya.”
”Aku sudah bawa KTP-KTP
mereka,” Ani menunjukkan beberapa KTP.
”KTP?”
”Iya, KTP.”
”Kenapa tidak
terpikirkan?” aku dekati Bang Rizal, memintanya menghentikan musik. Kuminta dia
mengumumkan berulang-ulang, bahwa masyarakat diharapkan menyerahkan KTP-KTP
mereka, kutambahkan sedikit bumbu bahwa akan ada bantuan dari Pemerintah.
Sebenarnya aku tak bohong kawan, jika dijelaskan bantuannya berupa diringankan
biaya berobatnya, subsidi kesehatan, bukankah itu juga bantuan?
Bang Rizal mengangguk
gembira, lalu, dari kedelapan sound system itu terdengar pengumuman
berulang-ulang:
”Kepada masyarakat desa
Cahaya, saya Bang Rizal, mohon menyerahkan KTP-KTP kalian kepada petugas
kelurahan yang datang ke rumah-rumah, karena akan ada bantuan dari Pemerintah
untuk desa Cahaya. Jika tak menyerahkan KTP, tak akan dapat bantuan. Terima
kasih, tertanda Pak Karta, Lurah Cahaya.”
Not Comments Yet "Bagian 30, Sound System Bang Rizal"
Posting Komentar