Malam ini aku tak bisa
tidur. Pikiranku terpusat pada mesin imajinasi Hasan. Seperti apa bentuknya?
Memarut daging kelapa dalam kecepatan, praktis. Untuk mendapatkan alat dari mana?
Sedangkan ini adalah desa terpencil, demikian jauh dari peradaban. Bayangkan,
di desa ini yang punya alat komunikasi bisa dihitung dengan jari, mungkin Pak Lurah
atau keamanan hutan lindung saja.
Aku membutuhkan mesin yang
bisa menggerakkan pemarut-pemarut, parutan dibuat praktis, saling bereaksi
karena aku butuh mesin pemarut yang bekerja labih cepat, lebih banyak hasilnya,
tidak cepat lelah seperti manusia. Kawan, aku tak tahu-menahu tentang mesin.
Tapi, semua bisa dengan dicoba. Setiap penemu tak akan sedikit pun putus asa.
Baiklah, untuk urusan
mesin akan kupikir nanti. Sekarang, alat yang bergerak itu seperti apa? Yang
bekerja lebih cepat, lebih banyak hasil parutannya. Mesin itu haruslah bisa
bekerja secara simultan, berkelanjutan, saling menopang dan bekerja sama. Aku
tahu! Keseimbangan gerak!
Ilmu ilmiah semacam
William Harvey, penemu ihwal peredaran darah yang begitu lancar bergerak dan
beredar, atau semacam Johannes Kepler pencetus tata gerak planet-planet di
seputar matahari mempersembahkan informasi yang mendasar dalam otakku. Ditambah
kelengkapan Copernicus dan Galileo dalam fatwa mereka tentang peredaran planet.
Ya! Alat itu berupa gerigi-gerigi,
bergerigi seperti bola panjang, seperti pipa. Saling terkait ketika berputar,
dibutuhkan pengait yang kuat untuk menyambungkannya dengan parut yang terus
berputar, berlawanan. Untuk memutarnya butuh gir pompa. Dibutuhkan cukup tiga
parut bulat, agar mesin bekerja maksimal, dua satu arah dan satunya berlawanan
arah.
Aku menggambar bentuknya
dalam kertas. Tinggal mesin penggeraknya. Kucari tahu nanti, karena aku buta
tentang permesinan. Minimal punya rancangan di tahap awal, sudah cukup baik.
Esok kan kupresentasikan pada Hasan.
***
Aku memperlihatkan bagan
sederhana itu pada Hasan, dia antusias. Kupresentasikan bahwa mesin ini, tak
hanya menghasilkan 20 kilo sehari, tapi 200 kilo sehari. Kulihat matanya
berbinar-binar.
”Mesin ajaib! Ibu pasti
akan memujiku seumur hidupnya!”
”Tapi kita butuh mesin
penggeraknya, San, aku sendiri bingung, mesin apa yang akan digunakan. Aku
belum paham dengan permesinan.”
”Bagaimana jika mesin
motor!”
”Bagaimana kau berpikir
demikian?”
”Aku tahu sedikit tentang
mesin motor Pak, pamanku di desa seberang sungai memiliki bengkel. Jika Ayah
main ke sana aku pasti ikut, aku diajarinya ketika Paman memperbaiki mesin
motor. Ini seperti ketika memutar gir depan dan belakang mesin motor, hanya
beda arah putar saja.”
”Maksudmu.”
”Dalam mesin motor, ketika
mesin mulai menyala. Piston memutar poros engkol mesin, lalu diteruskan ke gigi
nanas dan kemudian ke as gear yang memutarkan gear depan dan gear belakang,
kemudian memutar roda motor.”
Aku terdiam, ”Ya! Ini baru
penemuan! Kita akan memakai mesin motor!”
Sejenak, temuan Hasan
membuatku mengerutkan dahiku, ”Tapi kita cari mesin motor di mana? Lalu,
harganya?” aku mencoba memutar otak.
”Bagaimana kalau sore
nanti kita menyeberang sungai, kita ke rumah pamanmu itu, mungkin saja akan ada
ilham nantinya.”
”Sepakat!”
Sore itu, selepas
mengantar telur-telur pesanan, aku izin tidak bisa ikut latihan sepak bola
bersama pemuda-pemuda desa. Setelah kemenangan Sekolah Cahaya, antusiasme bola
semakin menggeliat, aku dicatat dalam sejarah pelatih desa. Aku dan Hasan
menebeng pada pencari ikan, lebar sungai berjarak seratus meter, ditempuh
sekitar 10 menit. Aku menurunkan sepeda dari kapal, sang nelayan tak mau
dibayar. Dia bahagia bisa memboncengku menyeberang, bahkan dia berjanji akan
menjemput kami kembali, setengah jam sebelum maghrib.
Di rumah paman Hasan, Pak Harun
namanya. Kami diajari tentang kinerja mesin motor, persis seperti yang dikatakan
Hasan. Kebetulan sekali, kemarin ada orang yang menjual motor bututnya,
sebenarnya tidak mirip motor lagi, sudah mati. Tapi, sebagai orang yang tahu
mesin, Pak Harun membelinya untuk dimanfaatkan beberapa mesin yang masih dapat
didaur ulang, untuk perbaikan-perbaikan mesin yang lain.
Motor itu dijual dengan
harga Rp 200.000, untuk mesin masih bisa hidup, tapi hanya mesin itu yang masih
utuh; aki telah rusak, ban sudah tak ada, motor sudah pretel. Aku
mengajak Hasan untuk menjauh sebentar, konsultasi bagaimana kalau mesin itu
saja yang digunakan untuk membuat mesin parut, akan kubeli pakai uangku. Hasan
setuju.
Hasan menceritakan tentang
keinginan kami membuat mesin parut kelapa. Bukan dukungan yang kami peroleh
tapi sikap pesimistis.
”Bujangku, tak usahlah kau
turuti saran gurumu itu, dia belum tahu apa-apa tentang mesin, bisa-bisa
bermimpi membuat mesin parut! Jika demikian, aku yang sudah dari dulu
menggeluti mesin ini, kenapa aku tidak berpikiran seperti itu? Karena itu hal
yang tidak mungkin, Bujang!”
Hasan menunduk, aku tahu
perang batin semacam apa yang dialaminya. Benar juga kata Pak Harun. Aku tahu
apa tentang mesin? Belum pernah sekali pun aku tahu. Tahu apa aku tentang
parutan kelapa? Aku baru melihat kemarin. Tahu apa aku tentang pengalaman? Pak
Harun telah lama hidup di sini. Setidaknya, aku telah menanamkan pelajaran
optimis kepada Hasan.
”Tidak, Paman!”
Aku kaget! Kata-kata itu
bukan berasal dari lidahku. Tapi, dari kedua bibir Hasan.
”Aku percaya pada Pak Arif!
Kami akan membuat mesin itu, persis tanpa kurang suatu apa pun!”
Pak Harun terdiam,
”Baiklah, kutantang kau, Bujang! Tak usah kau bayar mesin motor butut itu,
untuk kau. Tapi jika kau tak bisa membuatnya, jika kau lulus sekolah nanti, kau
harus bekerja di sini, sampai kau tua! Meneruskan usaha pamanmu ini!”
Apa?
”Baiklah, Paman!”
Mataku terbelalak, ”Ini
ide gila, San.”
”Tenang Pak Arif. Apa
susahnya membuat mesin itu!”
Keyakinan kawan, inilah
kekuatan keyakinan.
***
Pikiranku tak pernah
lepas, membayang mesin parut itu. Malam, aku tak bisa tidur, mengamati bagan
mesin. Kurangkai dalam otakku, tentang sistem keseimbangan, hingga pukul dua
pagi. Butuh karet kuat dan lentur untuk mengaitkan mesin dengan tiga parutan.
Sepulang sekolah, kuajak Hasan
ke pasar di Kecamatan. Kucari karet kuat itu, adanya adalah karet di mesin
diesel, itu sudah cukup kuat. Aku pulang, Hasan juga pulang minta izin kepada
ibunya tidak ikut memarut, walau ibunya sempat melarang. Satu permasalahan
lagi, bagaimana membuat parutan melingkar, harus elastis pula.
Ternyata bukan hanya itu,
warga desa telah gempar bahwa aku dan Hasan akan membuat mesin pemarut serba
cepat. Ada yang mendukung, ada yang
mencemooh. Kami tak peduli, konsentrasi kami adalah mesin ini harus berputar
dengan baik. Kami mencoba mesin, hidup, seluruh elemennya masih bagus.
Ukuran kawat-kawat, yang
memenuhi lingkaran untuk memarut haruslah ukurannya sama, agar hasil parutannya
rapi. Akhirnya kami meminta bantuan Pak Harun kembali. Kami setengah mati
meyakinkan Pak Harun untuk membuatnya. Pak Harun menyanggupi, tapi dia optimis
mesin itu tak akan jadi, dia tetap mengulang kesepakatan dengan Hasan seperti
kemarin. Hasan bersikukuh, bahwa mesinnya akan menjadi mesin temuan pertamanya.
Kawan, tahukah kau salah
satu keyakinan kuat Hasan, karena dia berontak dari keadaan yang teramat tidak
nyaman baginya. Lihatlah tangannya tergerus luka, tersobek-sobek tajamnya parut.
Untuk menulis dia menggunakan tangan kirinya. Dia mengambil risiko, atau tidak
punya kesempatan sama sekali. Sungguh pemberani!
Pak Harun meminta kami
menunggu, kami tunjukkan rancangan mesinnya. Dia membuat lempeng besi yang
lentur, dilebarkan, lalu kawat-kawat sesuai ukuran bagan: 1 cm. Kawat-kawat
tajam itu ditancapkan di gabus batang pisang yang tebal. Semuanya dipanaskan,
disejajarkan demikian rapi, persis seperti ukuran bagan yang kami perlihatkan
padanya.
Untuk menjaga agar batang
pisang tidak terbakar, Pak Harun menyirami terus dengan air. Hingga dirasanya
semua ujung telah panas, Pak Harun menempelkan semuanya menghunjam ke seluruh
permukaan persegi panjang lempeng besi itu, semuanya menancap dengan baik. Pak
Harun menjemurnya, ketika lempeng telah penuh rata dengan kawat-kawat, semuanya
rapi. Hebat betul! Inilah kekuatan ketekunan, Kawan!
Setelah dirasa kering,
lempeng besi yang telah penuh dengan kawat yang di buat melingkar itu disambung
dengan las. Setiap ruas ujungnya berlubang, Pak Harun menutupnya dengan besi
bulat, di las lagi, disisakan lubang berdiameter tiga perempat cm untuk
mengait-ngaitkan satu parutan bulat dengan yang lain. Pak Harun juga membuat
lempeng untuk menutup sisi-sisi parutan, tak ketinggalan penutup atas agar
kelapa yang diparut tidak menjulang ke atas.
Sempurna sudah. Kami pamit
membawa pulang ketiga bundaran mesin parut itu.
”Ingatlah, Bujang!
Sebentar lagi kau harus bersiap-siap meneruskan usaha bengkelku ini!”
”Lihat saja, Paman! Paman
akan takjub nanti!”
Aku heran, dari mana Hasan
kini mempunyai keyakinan yang demikian dalam?
Seminggu sudah kami
bekerja, mesin itu hari ini juga dipasang sesuai bagan. Tiga mesin parut bulat
itu, sudah terpasang saling terkait membentuk segitiga; dua sejajar dan satunya
di tengah dengan posisi di bawahnya. Di antara sela ketiga parut bulat itu
terdapat sela tapi teramat tipis. Aku mencoba memutar. Berhasil! Langkah pertama
sukses, tak ada gesekan.
Hasan ikut memutarnya
pelan, ada keindahan saat tangannya memainkannya, seolah-olah dia melihat mesin
telah dibunyikan, dan mesin parut telah memutar demikian kencang.
Mesin didekatkan, aku
membeli bensin. Engkol kami buat dari kayu jati, karet yang telah kupotong dan
kupasang sesuai ukuran, mengaitkan mesin dengan ketiga gerigi parutan.
Kawan, sekali lagi. Desa
gempar, Pak Lurah terlanjur mendengar, Pak Danu pastilah lebih agresif
mengundang seluruh warga desa. Semua tumpah ruah, saat kami bawa mesin itu ke
rumah Hasan, karena tujuan Hasan sebenarnya adalah memberikan mesin buatannya
itu pada ibunya. Ekspresi rasa cintanya karena tempo hari saat akhir bulan, dia
tidak memberikan bunga pada ibunya sebagai wujud ungkapan cintanya, karena bunga
yang dicarinya di seluruh desa telah habis, hanya ada bunga bangkai kawan.
Kali ini, senyum merekah
dari wajah Hasan. Senyum kemenangan.
”Ini mesin untuk Ibu, agar
Ibu dapat membiayai sekolah Hasan. Agar tangan Ibu tak lagi kasar saat kucium,
agar tangan Ibu tak lagi mengeluarkan darah demi mencari uang. Ini khusus untuk
Ibu!”
Kawan, teramat romantis.
Cinta yang penuh perjuangan. Aku
terharu.
”Dengan rongsokan seperti
ini?”
Hasan kaget! Bukan
teriakan sayang yang didapatkan. Hasan tak terima, dia berlari ke rumah Pak Manar,
diambilnya satu plastik daging kelapa, tergopoh-gopoh dibawanya pulang.
Semua warga menonton drama
itu, bukan sekadar sandiwara, ini nyata. Pak Harun melihat penuh tegang,
sekarang dia mulai sadar akan kesungguhan Hasan. Pak Lurah dan Pak Danu melihat
paling depan. Guru-guru desa Cahaya ikut melihat pula. Bahkan, Geng Sar melihat dari kejauhan, di atas motor-motor
mereka.
Syahid memegangi tangan
kananku dengan kedua tangannya, dia melihatku, aku meyakinkannya. Kau lihat
saja.
Semua terdiam. Hanya Hasan
kecil yang bergerak, bocah berusia tak lebih dari sebelas tahun itu, menjadi
sorot perhatian.
”Lihatlah, Bu! Ini untuk
Ibu!” Hasan mendekati mesin, memasukkan semua daging di lekukan tiga parutan
bulat, masih sisa, karena memang panjang lalu menutup sisi atasnya dengan
lempeng besi yang dibuat engsel di pojok atas. Tangan kecil kurus itu mendekati
kayu jati, mesin diengkolnya. Mesin berbunyi pelan.
Tepuk tangan membahana,
walau ketiga parutan belum berputar.
”Ibu! Lihatlah mesinku
bekerja!”
Hasan mengeraskan suara,
menarik kawat gasnya. Suara menggelegar bagai motor yang siap berpacu dalam
balapan, menunggu aba-aba siap. Semua menunggu, seluruh mesin bergetar, kelapa
melonjak-lonjak ke atas, tapi tak terluka sama sekali. Di bawah sela-sela
ketiga parutan itu telah dipasang bak besar, tapi tak ada yang terjatuh di sana.
Semuanya menunggu, aku tegang.
Lima belas menit, Kawan!
Hasan belum putus asa, dia mematikan lagi, menghidupkan lagi, dikeraskan gas
hingga lunas maksimal. Dia tidak putus asa sama sekali. Aku kasihan melihatnya,
drama menyedihkan, seluruh warga melihat iba kepada Hasan. Ada yang meneteskan air
mata, karena peluh telah sempurna membasahi wajah kurus hitam itu.
Kawan, aku tak tega
melihatnya. Apalagi taruhannya, bekerja di bengkel hingga tuanya? Aku
menyalahkan diri sendiri, menyumpahi kesombonganku, sok hebat! Aku menyesal!
Sangat menyesal, semua ini berawal dariku. Tapi, Hasan masih bersikeras mencoba
dan mencoba lagi.
Ada yang meratap, seorang
ibu memeluk sebatang pohon. Air mata telah membasahi pipi hingga beberapa kali
dia harus mengelap air matanya. Bu Mirna, ibunda Hasan sampai memeluk anaknya.
Hasan bersikeras,
dihidupkan lagi setelah dimatikan untuk yang keempat puluh satu kalinya.
Dikeraskan lagi suaranya, tapi tak satu butir pun yang terjatuh di bak bawah.
Dia mematikan mesin lagi, dia menghidupkan lagi. Langit desa Cahaya seketika
mendung, ikut iba pada Hasan.
”Sudah, anakku! Sudah! Kau
tak perlu membuktikan apa-apa lagi pada Ibu. Ibu akan selalu menyayangimu, ada
atau tanpa alat ini! Sudahlah, menyerah saja.”
Semuanya terharu, Pak Lurah
dan Pak Danu ikut meneteskan air matanya.
Aku maju ke depan, ”Iya,
San, ini salah Bapak. Mesin ini tak bisa bekerja. Ini semua hanya bualan
Bapak!”
”Tidak! Mesin ini
sempurna. Tak mungkin salah. Lepaskan Ibu, aku mau menghidupkan mesin lagi!”
”Sudahlah anakku, ini
tidak akan berhasil,” Bu Mirna merengek.
Hasan meronta, ”Baiklah
akan kucoba sekali lagi! Setelah itu, itulah finalnya.”
Ibunya mundur, memberi
kesempatan. Pak Wiryo, ayah Hasan berdiri sambil meneteskan air mata, melihat
drama anak satu-satunya itu. Hasan mengucapkan basmalah lebih kuat, dihidupkannya
mesin itu, gas dimaksimalkan. Satu menit, tak ada kejadian besar. Mesin tak
menggerakkan ketiga parutan panjang bundar itu.
Hasan menjatuhkan kedua
lututnya ke tanah, sempurna lemas.
Dan Pak Harun maju ke
depan, mendekati Hasan sambil tersenyum. Kulihat kemenangan di wajahnya
terpancar, kenapa dia maju, ataukah dia mau menambah kesedihan kegagalan Hasan.
Wajahnya memancar, tanda kemenangan di tangannya.
Semua mata melihat Pak Harun
duduk pula di depan Hasan, semua orang tahu tentang tantangan yang diberikan Pak
Harun.
”Kamu mengaku menyerah?”
Nadanya sungguh mengejek,
seharusnya tidak seperti itu. Hasan sedang sedih, dia memang keterlaluan, paman
seperti apa dia?
Hasan mengangguk lemah,
”Saya akan bekerja, sampai tua di bengkel Paman,” nada suaranya lemah dan
pasrah, pasrah penuh kekalahan.
”Jadi kau mau menjadi kuli
bengkel sampai tua?”
Hasan mengangguk kembali,
lemah dan pasrah.
Benar-benar paman yang
keterlaluan.
”Dasar bodoh!”
”Plak!”
Apa? Semua mata kaget melihat kejadian itu, apalagi
aku. Pak Harun, sudah demikian menghinanya,
masih menampar pipi Hasan, Hasan memegangi bekas merah di pipi kanannya.
Pak Harun mengangkat lengan
kanan Hasan, ”Berdiri, Bujangku!” Pak Harun mendirikan Hasan, tepat di depan
mesin buatan kami.
”Kamu tahu ini mesin motor
bukan?”
”Iya, Paman!”
”Kenapa kau tak
menggunakan giginya, bukankah sudah kuajari kau tentang mesin motor!”
Wajah Hasan mendongak kilat,
wajahnya bercahaya.
Tak ada kata selanjutnya,
Hasan bangkit berdiri, bersemangat menghidupkan mesin. Mesin hidup kembali, Pak
Harun mundur sejenak. Semua orang dibuat bingung. Hasan mengungkit sesuatu, iya
itu adalah saluran gigi motor, dimasukkan gigi satu.
Menakjubkan.
Ketiga gulungan parutan berputar
simultan terlihat dari pengait yang berputar, pelan-pelan, hingga berputar
demikian indah. Dua gulungan yang sejajar berputar ke kanan, dan satu gulungan
di bawah berputar sebaliknya.
Secepat kilat, daging
kelapa telah hilang dan jatuh teramat lembut jatuh di bak di bawahnya. Aku baru
tahu sekarang, gigi satu tentu saja masih pelan, bagaimana kalau sampai gigi
empat. Aku lupa, dan tak terpikir olehku sama sekali. Ini adalah mesin motor,
maka perseneling giginya adalah kekuatan memutar gir.
Hasan mematikan mesin, dia
berlari memelukku. Sontak, semua orang yang semula menangis, bersorak, tepuk
tangan, siulan, teriakan. Kemenangan ini adalah kemenangan mereka semua, Pak Manar
kaget dan hampir saja pingsan. Pasti dia tengah berpikir, bagaimana membayar
mereka perkilo lagi, selain itu bagaimana dia mencari kelapa demikian banyaknya
untuk digiling dalam waktu cepat.
Pak Harun tersenyum puas, Kawan,
aku telah salah paham padanya. Kadang pandangan manusia itu keliru, kuingatkan
itu padamu. Ini pelajaran penting bagi manusia.
Mulai sekatang tak akan
ada lagi tangan terluka terkena parut. Tak akan ada lagi ada siswa terpaksa
menulis dengan tangan kirinya, karena tangan kanannya perih. Dan mimpi mulai
diperhitungkan dalam kegelapan jahiliah desa Cahaya. Kemajuan akan menghampiri,
kala mimpi menjadi sah untuk diperjuangkan.
Not Comments Yet "Bagian 26, Jerih yang Terbayar"
Posting Komentar