Aku gemetaran. Langit di
atas sana,
membentuk figurasi wajah Kakek. Aku tersenyum, dan kubenahi posisi mikrofon
yang terjepit di penyangga besi itu, hingga memudahkanku berbicara.
Aku mengucapkan salam
setelah sekian lama berdiri. Semua mata tertuju ke arahku, semuanya tenang.
Hening seperti pekuburan. Yang terdengar hanya suara alam yang pelan
meningkahinya.
”Tiada perkataan sebaik
syukur pada Allah yang menciptakan, karena semua hal adalah atas kehendak-Nya. Terima
kasih atas waktu yang diberikan pada saya untuk dapat berbicara di sini. Saya ingin
menyambungkan lidah seseorang yang teramat berarti bagi saya, dia adalah almarhum
kakek saya. Dia selalu berkata, ‘Hanya orang yang memiliki tujuan yang jelas
dan tepat, yang akan bisa mengatasi semua tantangan! Karenanya, bila kau sudah menemukan
tujuanmu, maka semua hal akan dapat kau selesaikan!’
Itulah pesan kakek saya. Sebuah
dorongan agar saya mempunyai tujuan dalam hidup ini. Tujuan yang harus
diperjuangkan” Sekali lagi aku menatap langit, dan wajah membayang Kakek
tersenyum teramat indah.
”Hidup ini haruslah kita
jalani, karena itu adalah keniscayaan. Tidak ada kata menyerah dan pasrah, yang
ada adalah tawakal. Ikhtiar dengan sungguh-sungguh. Yang paling rumit dalam
hidup ini, dan patut kita pelajari adalah cara menjalani hidup kita.
Ya! Cara menjalani hidup.
Bagaimana Albert Einstein
bisa menemukan teori relativitas? Bagaimana Thomas Alfa Edison bisa menemukan
lampu? Bagaimana semua penemu dapat menemukan hasil temuannya? Ya, sekali lagi
karena mereka tahu caranya.
Saya akan bercerita
tentang Columbus,
pelaut terkenal dari Italia. Suatu malam, ia datang menghadiri sebuah perjamuan
makan, di mana dia diatur untuk duduk di antara tamu-tamu agung yang datang.
Dalam perjamuan, ada seorang setengah baya yang telah mendengar keberhasilan
yang dicapai oleh Columbus
dalam menemukan pulau-pulau, dan ternyata lelaki tua itu sangat iri kepadanya.
Lelaki tua itu berdiri dan
mendekati Columbus
serta duduk di dekatnya.
Lelaki tua itu bertanya
pada Colombus, ’Bila Anda tidak menemukan pulau-pulau, apakah tidak ada orang
lain di seluruh dunia yang mampu menjalankan tugas seperti yang kau lakukan?’
Pertanyaan yang tiba-tiba
itu menjadikan suasana perjamuan makan menjadi tegang. Semua yang hadir terdiam
dan memerhatikan dua orang itu, Colombus dan lelaki tua itu.
Columbus tidak berkata apa-apa, dia mengambil sebutir telur yang berada di meja
perhelatan. Dia mengajak orang-orang yang semejanya, untuk mencoba membuat
telur rebus itu agar bisa tegak berdiri di atas meja. Bahkan seluruh pengunjung
diperbolehkan untuk mencoba mendirikan telur itu.
Namun, tidak ada seorang pun
yang berhasil melakukannya.
Ada
seseorang yang berkata dengan keras, ’Telur rebus itu tidak mungkin untuk
ditegakkan!’ Colombus tersenyum dan mengambil telur rebus itu, lalu diketuknya
dengan ringan, di bagian salah satu yang lonjong menjorok pada meja. Ujung
lonjong salah satu bagian telur rebus itu pecah sedikit, dan Colombus
menegakkannya pelan-pelan di atas meja. Dan telur itu berdiri dengan sempurna,
berdiri tegak.
Orang setengah baya yang
bertanya tadi berujar mengeluh, ’Kalau begitu caranya, kami semua pun pasti
bisa!’
’Benar! Jika Anda tahu
bagaimana caranya!’ ujar Colombus mengeraskan suaranya dan berkata, ’Karena
saya telah menunjukkan Anda jalan menuju dunia yang baru, tidak ada hal lain
yang lebih mudah untuk kalian, kecuali mengikutinya! Dan itu lebih mudah.’
Setelah Colombus selesai bicara, orang setengah baya itu menjadi malu dan
menundukkan kepalanya.
Benar kata Columbus, kita
membutuhkan cara bagaimana menjalani hidup ini. Dan cara itu bisa didapatkan
dengan belajar, belajar dengan sungguh-sungguh.
Tidak ada penyakit di
dunia ini yang tidak ada obatnya! Hanya bagaimana caranya. Siapa yang
mengetahui cara hidup yang lebih dahulu, dialah pemenangnya. Maka, kreativitas adalah
sebuah perlombaan bagi para penuntut ilmu.
Seperti perjalanan dari
Sabang sampai Merauke. Kini, dengan pesawat terbang, mungkin hanya dibutuhkan
waktu yang singkat. Bagaimana jika dahulu? Mungkin hingga berhari-hari,
berminggu-minggu, atau mungkin berbulan-bulan untuk sampai. Semakin cepat arus
informasi, transfer ilmu yang didapatkan, tekhnologi yang berkembang demikian
cepat, seolah membuat efektivitas waktu teramat membingungkan untuk memprediksi
kurikulum pendidikan. Maka, bagaimana caranya melampaui metode yang biasa,
karena waktu seolah tak efektif lagi.
Saya hanya berbagi apa
yang ada dalam pikiran saya. Hingga hari ini, waktu yang telah terlewat membuat
kita sadar, bahwa banyak yang telah kita lupakan dan kita sia-siakan. Namun,
tidak ada kata terlambat karena sebenarnya kita telah terlambat demikian jauh.
Tugas kita sekarang, pasca
kuliah ini adalah menemukan potensi kita, menemukan cara terbaik yang tepat.
Menjemput harapan, dengan kesungguhan. Tidak ada lagi kata kemalasan, dan
berhenti berkarya karena dunia telah menunggu karya-karya kita, menelurkan
berbagai inovasi.
Dan, apakah kita sanggup?
Aku katakan, bahwa kita
sanggup! Mental kita adalah mental pemenang, tanamkan dalam pikiran kita bahwa kita adalah pemberani! Dan kita
berani menjemput kemenangan itu!”
Tepuk tangan riuh,
menggelegar. Aku yakin mereka terbakar semangat, biarlah! Aku ingin darah-darah
mereka bergolak dan bersemangat! Mengentaskan kemiskinan di negeri ini!
Mengobati luka yang mengangga di tubuh Indonesiaku tercinta. Karena mereka
adalah darah-darah baru yang lahir untuk kejayaan Indonesia. Negeri di mana aku dilahirkan, di mana kakekku dilahirkan
dan membimbingku, negeri di mana nenekku, ibu dan ayahku juga dilahirkan, walau
aku belum pernah melihat wajah mereka.
”Tidak ada kata kalah
dalam kamus kita, yang ada hanyalah terus berjuang dan berjuang tanpa henti!
Tidak ada kamus dalam hidup kita keberhasilan akhir! Karena kita akan terus
berproses seperti kepompong, selalu dan terus-menerus mengembangkan diri.
Masa belajar kita tidak
berhenti di sini. Jika ada biaya dan waktu, kita akan sekolah lebih tinggi
lagi, jika tidak kehidupan yang mahaluas ini telah menyediakan terbuka setiap
celahnya untuk kita pelajari, untuk kita kuak seluruh rahasianya.
Jika kita belum tahu cara
menjalani hidup ke depan, jangan pernah berhenti untuk menemukannya, karena proses
belajar adalah seumur hidup, long life education. Kita siap bersaing,
berkompetitor dengan lulusan sarjana manapun, dengan lulusan sarjana
Universitas ternama manapun di negeri ini, selama kita memiliki harapan dan kepercayaan,
maka kita memenangkan setiap pertempuran!”
Gemuruh! Semua alumni
berdiri dan mengepalkan tangannya dan ada yang bertepuk tangan riuh, suitan
beberapa kali terdengar. Gegap gempita, aku tersenyum dan mengakhiri pidatoku.
Aku turun dari podium,
sebagai pemenang! Kakek, aku telah memenuhi janjiku padamu, dan akan selalu
kupenuhi janjiku dengan sepenuh kemampuanku. Kembali kutatap langit hingga aku
duduk di kursiku kembali, kulihat kekuasan Allah yang begitu besar atas semua
yang terjadi.
Kekuatan keyakinan. Kekuatan
untuk meyakini seluruh potensi diri.
Not Comments Yet "Bagian 4, Columbus dan Telur Rebus"
Posting Komentar