Jika kuceritakan padamu, Kawan,
mungkin kau tak percaya. Tapi, inilah yang terjadi, seluruh desa tampak
lengang. Orang lewat tak terlihat, orang ke sawah seolah libur, anak ke sekolah
apalagi, orang hendak mencari ikan di sungai tak ada berduyun-duyun membawa
jaring seperti biasa. Seluruh pintu tertutup rapat, aku berkeliling bersama
Syahid, dan gambaran itulah yang kami ketahui.
Setelah pasti, seperti
gambaran yang diberikan Kang Mukhlis, satu langkah kami selanjutnya menemukan
wanita lulusan D3 keperawatan, yang beralih profesi menjadi petani sayur-sayuran
dan singkong, bertahun-tahun lamanya. Namanya Ani Susanti, dia adalah lulusan
terbaik satu angkatannya dua tingkat sekolahnya dengan ibunya Syahid, tawaran
dari dinas kesehatan kota tempatnya kuliah ditolaknya, tawaran di beberapa
rumah sakit swasta juga ditolaknya. Sayang beribu sayang, di desa, dia
ditelantarkan.
Desa Cahaya mempunyai tiga
ruas membentang timur-barat. Dua ruas yang berlawanan arah yaitu utara-selatan,
tempatku tinggal di rumah Kang Mukhlis adalah jalan utamanya, ruas kedua
timur-barat dari arah selatan, satu ruas lagi sebelah utara, sehingga kedua
ruas lainnya berada di sebelah utara dan membentang lurus ke arah utara. Rumah
Ani, di perawat itu adalah ruas sebelah kiri yang menjulang ke arah utara.
Kukayuh sepeda, jalanan onderlaag
tapi lebih tajam dari jalan utama. Tak ada orang lewat, hanya sesekali kulihat
orang keluar rumah, tapi segera masuk kembali. Inikah kegelapan? Syahid
kubonceng di belakang sekaligus penunjuk jalan, melewati ladang-ladang yang
rimbun di pinggir-pinggir jalan, terlihat jalanan ini jarang dilewati kecuali
oleh para peladang. Jarak rumah lebih renggang jauh dari ruas jalan utama.
Angin siang hari bagai
malam senyap, bukan karena dingin melainkan karena ketegangan. Seluruh pintu
rumah yang kami lewati, tak ada yang terbuka. Sebegini kuat ternyata persepsi
masyarakat tentang penyakit kutukan ini.
Tibalah kami di ujung
perbatasan desa dengan ladang yang bagai lautan pandangan, rumah terakhir.
Syahid menganggukkan kepalanya, inilah rumah perawat yang terbuang itu.
Rumah mungil nan indah,
bunga-bunga indah berjejaran di rak-rak kayu yang tersusun beberapa tingkat,
lekat dengan tembok depan, di bawah jendela, dekat pintu masuk. Simfoni segar,
seperti danau penuh liarnya bunga, aroma wangi tercium dari jarak 20 meter, di
tempat kami turun dari sepeda, di pinggir jalan.
Seorang di samping rumah,
tepatnya di kebun atau ladang, antara jalan raya, hingga jauh sampai belakang.
Di tengah-tengahnya, seorang wanita tengah memakai caping anyaman bambu,
membawa tas besar, memanen cabai. Aneka rupa sayuran terlihat indah dan subur;
kacang panjang, kacang buncis, terong, cabai, tomat, bayam. Tersusun demikian
rapi, daun-daunnya hijau segar, tanda siraman air dan pupuknya sesuai.
Wanita itu amat telaten,
memetik cabai, dipilihnya yang telah tua. Aku sendiri tak tahu yang tua yang
seperti apa. Naluri si wanita seolah terpanggil, memanen yang kulihat saat ini
bagai panggilan hati. Mungkin jodoh juga serupa itu, walau seorang lelaki
dijodohkan pada wanita yang kaya dan cantik, kalau hatinya tak terpanggil, tak
cocok, ya tidak jadi.
Seperti memanen cabai,
jika hatinya sreg, maka jadilah si cabai dipetiknya. Wanita itu menyamping dari
arah kami, di balik capingnya, jilbabnya terkibar angin semilir, wajahnya
separuh terlihat tampak putih kemerah-merahan, panas matahari menyilaukan
pandangan. Dia memakai celana panjang, mungkin untuk mempermudah melewati sela
tanaman.
”Ayo, Pak.”
Kami berjalan maju ke
rumah, sambil menuntun sepeda. Kuucapkan salam, wanita itu menjawab salam,
menoleh ke arah kami, membawa hasil panennya dan mendekati kami.
Terlihatlah wajah itu, tak
dinyana oleh pikiranku. Kupikir wanita petani rata-rata, kulitnya pasti hitam
ditambah kotor. Tidak kawan, aku salah!
Kulit wajahnya bersih, hanya memang jejak hitam panas sedikit menutupi, tapi
wajah itu tampak indah mendekati kami.
”Ada tamu rupanya,” senyumnya
merekah.
”Saya mencari Ani, apakah
dia ada?”
Wanita itu menatapku
sejenak, dia keluar dari kebunnya. Melewati kami, meraih gagang pintu, ”Ibu!
Tolong bukakan pintunya, ini aku yang masuk.”
Pintu terbuka, seorang
wanita paruh baya berkeriput keluar rumah, ”Cepat masuk! Wabah kutukan akan
tersebar. Kau juga pakai menantang maut!” ada nada kesal dari raut tua itu.
Wanita tua itu melirik kami, dia heran
dan sorot matanya seolah tak membolehkan kami berkunjung, Kalian bertamu
tidak pada saat yang tepat.
”Masuklah ke dalam dulu,”
wanita si pemetik cabai menoleh sejenak.
”Kamu yakin tidak
apa-apa,” ada kekhawatiran dari wajah si tua.
”Tidak
apa-apa, Bu, mereka sehat semua.”
”Tapi kamu tidak kenal
mereka, bukan?”
”Kenal, salah satu dari
mereka adalah anaknya Kang Mukhlis.”
”Ya sudah, tapi jangan
lama-lama.”
Si wanita muda melepas
capingnya, dan memberi isyarat pada kami untuk masuk. Aku mulai mafhum dengan
keadaan tentang wabah kutukan itu, lalu, bagaimana Sekolah Cahaya bisa berjalan
lagi, kalau seluruh orangtua tidak mengizinkan anak-anaknya sekolah?
Wanita itu keluar,
wajahnya cerah, kelihatan habis cuci muka. Kawan, ternyata di ujung desa Cahaya
ada wanita secantik ini. Sungguh, dia tak kalah dengan bunga desa anaknya pak lurah,
walau usianya lebih tua.
”Sudah lama, rumah ini tak
ada kunjungan tamu satu pun. Dan kau Hid, dulu kau sering main ke sini bersama
ibumu. Saat kau masih balita,” wanita itu tersenyum menatap Syahid, seolah ada
kata yang ingin diungkapkan lagi.
”Satu lagi. Kau orang
asing, bukan asli penduduk desa Cahaya. Kau pasti Arif Maulana, guru baru yang
banyak tingkah. Namamu banyak dibicarakan di desa, berhati-hatilah.”
”Saya ingin bertemu Ani,
aku benar-benar membutuhkan bantuannya. Apakah dia ada?” aku tak sabar.
Wanita itu menatapku tajam,
”Aku adalah Ani. Ada apa mencariku?”
Not Comments Yet "Bagian 28, Ani"
Posting Komentar