Selasa, 29 Oktober 2019

Bagian 28, Ani


Jika kuceritakan padamu, Kawan, mungkin kau tak percaya. Tapi, inilah yang terjadi, seluruh desa tampak lengang. Orang lewat tak terlihat, orang ke sawah seolah libur, anak ke sekolah apalagi, orang hendak mencari ikan di sungai tak ada berduyun-duyun membawa jaring seperti biasa. Seluruh pintu tertutup rapat, aku berkeliling bersama Syahid, dan gambaran itulah yang kami ketahui.

Setelah pasti, seperti gambaran yang diberikan Kang Mukhlis, satu langkah kami selanjutnya menemukan wanita lulusan D3 keperawatan, yang beralih profesi menjadi petani sayur-sayuran dan singkong, bertahun-tahun lamanya. Namanya Ani Susanti, dia adalah lulusan terbaik satu angkatannya dua tingkat sekolahnya dengan ibunya Syahid, tawaran dari dinas kesehatan kota tempatnya kuliah ditolaknya, tawaran di beberapa rumah sakit swasta juga ditolaknya. Sayang beribu sayang, di desa, dia ditelantarkan.

Desa Cahaya mempunyai tiga ruas membentang timur-barat. Dua ruas yang berlawanan arah yaitu utara-selatan, tempatku tinggal di rumah Kang Mukhlis adalah jalan utamanya, ruas kedua timur-barat dari arah selatan, satu ruas lagi sebelah utara, sehingga kedua ruas lainnya berada di sebelah utara dan membentang lurus ke arah utara. Rumah Ani, di perawat itu adalah ruas sebelah kiri yang menjulang ke arah utara.

Kukayuh sepeda, jalanan onderlaag tapi lebih tajam dari jalan utama. Tak ada orang lewat, hanya sesekali kulihat orang keluar rumah, tapi segera masuk kembali. Inikah kegelapan? Syahid kubonceng di belakang sekaligus penunjuk jalan, melewati ladang-ladang yang rimbun di pinggir-pinggir jalan, terlihat jalanan ini jarang dilewati kecuali oleh para peladang. Jarak rumah lebih renggang jauh dari ruas jalan utama.

Angin siang hari bagai malam senyap, bukan karena dingin melainkan karena ketegangan. Seluruh pintu rumah yang kami lewati, tak ada yang terbuka. Sebegini kuat ternyata persepsi masyarakat tentang penyakit kutukan ini.

Tibalah kami di ujung perbatasan desa dengan ladang yang bagai lautan pandangan, rumah terakhir. Syahid menganggukkan kepalanya, inilah rumah perawat yang terbuang itu.

Rumah mungil nan indah, bunga-bunga indah berjejaran di rak-rak kayu yang tersusun beberapa tingkat, lekat dengan tembok depan, di bawah jendela, dekat pintu masuk. Simfoni segar, seperti danau penuh liarnya bunga, aroma wangi tercium dari jarak 20 meter, di tempat kami turun dari sepeda, di pinggir jalan.

Seorang di samping rumah, tepatnya di kebun atau ladang, antara jalan raya, hingga jauh sampai belakang. Di tengah-tengahnya, seorang wanita tengah memakai caping anyaman bambu, membawa tas besar, memanen cabai. Aneka rupa sayuran terlihat indah dan subur; kacang panjang, kacang buncis, terong, cabai, tomat, bayam. Tersusun demikian rapi, daun-daunnya hijau segar, tanda siraman air dan pupuknya sesuai.

Wanita itu amat telaten, memetik cabai, dipilihnya yang telah tua. Aku sendiri tak tahu yang tua yang seperti apa. Naluri si wanita seolah terpanggil, memanen yang kulihat saat ini bagai panggilan hati. Mungkin jodoh juga serupa itu, walau seorang lelaki dijodohkan pada wanita yang kaya dan cantik, kalau hatinya tak terpanggil, tak cocok,  ya tidak jadi.

Seperti memanen cabai, jika hatinya sreg, maka jadilah si cabai dipetiknya. Wanita itu menyamping dari arah kami, di balik capingnya, jilbabnya terkibar angin semilir, wajahnya separuh terlihat tampak putih kemerah-merahan, panas matahari menyilaukan pandangan. Dia memakai celana panjang, mungkin untuk mempermudah melewati sela tanaman.

”Ayo, Pak.”
Kami berjalan maju ke rumah, sambil menuntun sepeda. Kuucapkan salam, wanita itu menjawab salam, menoleh ke arah kami, membawa hasil panennya dan mendekati kami.

Terlihatlah wajah itu, tak dinyana oleh pikiranku. Kupikir wanita petani rata-rata, kulitnya pasti hitam ditambah kotor. Tidak  kawan, aku salah! Kulit wajahnya bersih, hanya memang jejak hitam panas sedikit menutupi, tapi wajah itu tampak indah mendekati kami.

”Ada tamu rupanya,” senyumnya merekah.
”Saya mencari Ani, apakah dia ada?”
Wanita itu menatapku sejenak, dia keluar dari kebunnya. Melewati kami, meraih gagang pintu, ”Ibu! Tolong bukakan pintunya, ini aku yang masuk.”

Pintu terbuka, seorang wanita paruh baya berkeriput keluar rumah, ”Cepat masuk! Wabah kutukan akan tersebar. Kau juga pakai menantang maut!” ada nada kesal dari raut tua itu. Wanita tua itu melirik kami, dia  heran dan sorot matanya seolah tak membolehkan kami berkunjung, Kalian bertamu tidak pada saat yang tepat.

”Masuklah ke dalam dulu,” wanita si pemetik cabai menoleh sejenak.
”Kamu yakin tidak apa-apa,” ada kekhawatiran dari wajah si tua.
”Tidak apa-apa, Bu, mereka sehat semua.”       
”Tapi kamu tidak kenal mereka, bukan?”

”Kenal, salah satu dari mereka adalah anaknya Kang Mukhlis.”
”Ya sudah, tapi jangan lama-lama.”

Si wanita muda melepas capingnya, dan memberi isyarat pada kami untuk masuk. Aku mulai mafhum dengan keadaan tentang wabah kutukan itu, lalu, bagaimana Sekolah Cahaya bisa berjalan lagi, kalau seluruh orangtua tidak mengizinkan anak-anaknya sekolah?

Wanita itu keluar, wajahnya cerah, kelihatan habis cuci muka. Kawan, ternyata di ujung desa Cahaya ada wanita secantik ini. Sungguh, dia tak kalah dengan bunga desa anaknya pak lurah, walau usianya lebih tua.

”Sudah lama, rumah ini tak ada kunjungan tamu satu pun. Dan kau Hid, dulu kau sering main ke sini bersama ibumu. Saat kau masih balita,” wanita itu tersenyum menatap Syahid, seolah ada kata yang ingin diungkapkan lagi.

”Satu lagi. Kau orang asing, bukan asli penduduk desa Cahaya. Kau pasti Arif Maulana, guru baru yang banyak tingkah. Namamu banyak dibicarakan di desa, berhati-hatilah.”
”Saya ingin bertemu Ani, aku benar-benar membutuhkan bantuannya. Apakah dia ada?” aku tak sabar.


Wanita itu menatapku tajam, ”Aku adalah Ani. Ada apa mencariku?”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar