Selasa, 29 Oktober 2019

Bagian 27, Kutukan


Malam indah desa Cahaya, bertabur bintang, ditingkahi semua bunyi hewan malam saling sahut-menyahut. Gelap dan sepinya desa tergantikan dengan semaraknya bunyi alam; angin dan berupa-rupa suara hewan.

Jurus-jurus pencak silat yang kupelajari dari Kang Mukhlis demikian pesat, begitu katanya. Dalam ilmu bela diri yang peling penting adalah refleks, mata yang cekatan, gerakan yang cepat dalam berkelit dan menghindar, lalu menyentak dengan kejutan, serangan yang tiba-tiba. Untuk pengembangan refleks gerak, pengembangannya adalah latihan, sering latihan. Itulah kunci sukses, ketekunan belajar.

Latihan terus-menerus akan membentuk karakter gerak, seperti kebiasaan yang terus-menerus maka akan menjadi karakter sifatnya, menjadi akhlaknya. Malam ini, kami berlima, kini Kang Mukhlis menambah dua murid baru, Hasan ikut latihan, dia tak terlalu repot lagi dengan urusan parutnya, dia bisa bersantai lebih banyak untuk belajar, dan mengembangkan setiap potensinya, satunya adalah pemuda desa bernama Yanto.

Kang Mukhlis berlatih sendiri, aku mengajari Yanto jurus-jurus dasar, sedangkan Syahid mengajari Hasan jurus-jurus dasar pula.

Oya, satu lagi yang kulupa. Kini Hasan memeliki gelar baru, dilekatkan di belakang namanya, seperti lekatnya pangkat di pundak seorang perwira yang naik pangkat. Gelarnya adalah Hasan MoM, Master of Machine. Siapa pun yang akan membuat mesin parut, harus berbagi hasil dengan Hasan, sejenis franchise.

Satu hal memang yang paling berat, tahu cara yang pertama adalah pemenang. Tak berarti meniru itu salah, melainkan pelajaran agar kitalah penemu. Agar nama harum, didoakan sebagai orang yang berguna, diceritakan kepada anak-cucu sebagai teladan, penyemangat kehidupan selanjutnya. Siapa tak ingin?

Kami berlatih hingga kelelahan mencapai seluruh organ. Kami istirahat, menyelonjorkan kaki-kaki. Yanto dan Hasan telah dari tadi beristirahat, selanjutnya aku dan Syahid menyusul. Kami duduk di tengah lapangan, menghilangkan keringat yang menembus kain baju. Kang Mukhlis masih berlatih, tentu saja, sang jawara lebih bertahan lama.

Saat menikmati gemerlap bintang yang terlihat indah, tiba-tiba saja angin bertiup lebih kencang, mendung  yang tergulung angin seolah menciptakan gurat gelap di atas sana. Kang Mukhlis menghentikan latihannya, pandangan matanya tertuju pada hutan lindung, matanya teramat kuat seolah menelusup ke dalam rimba hutan.

Aku, Hasan dan Syahid terdiam. Satu hal yang membuat kami merinding, seluruh suara hewan malam yang semula berpesta tiba-tiba hening. Jangkrik kembali mengatupkan sayapnya dan kembali ke lubangnya, sejenak suara monyet berteriak-teriak seolah ketakutan, lalu hilang tanpa ada sedikit pun suara. Persis di sebuah ruangan kedap suara, satu gesekan, tengokan kepala, gerakan alis, denyut nadi seolah terdengar. Maksudku adalah teramat sunyi, Kawan.

Suara lolongan panjang anjing hutan terdengar, seolah menyentuh pundak, berdirilah bulu kuduk yang mendengarnya, gemetaran karena bunyi yang beda dari biasa. Suara itu teramat dekat, berasal dari hutan. Hingga mata kami semua tertuju ke hutan, misteri apalagi ini?

Semenit setelah mata kami semua tertuju ke langit di atas hutan, sekelebat burung hitam terbang membunyikan suaranya, ’Kwak! Kwak!” bukan satu kawan, tapi menyusul beberapa burung gagak lagi, dan menyenandungkan lagu kematiannya, bulu kudukku berdiri. Aku sedikit tahu, gagak adalah burung yang sering ditafsirkan sebagai pertanda buruk.

”Gagak hitam!”
Suara itu berasal dari Kang Mukhlis, tatapannya tetap ke langit, tapi dari nada suaranya tersirat sebuah kebencian mendalam. Kurasa tak lazim.

”A..apa, tidak mungkin!” Yanto tampak gugup.
Aku, Hasan dan Syahid kebingungan melihat ekspresi Yanto.
”Memangnya kenapa jika gagak hitam?” aku penasaran.

Kang Mukhlis masih diam, kedua tangannya mengepal kuat, gigi gerahamnya seolah saling menekan, suara gemeretak terdengar. Yanto yang ketakutan menjelaskan terbata-bata bahwa kejadian buruk akan terulang lagi.

Sepuluh tahun yang lalu kurang lebih. Burung gagak hitam adalah pertanda munculnya malapetaka, penyakit menyebar ganas, mengamuknya binatang buas yang menewaskan beberapa warga, banyak juga yang hilang diperkirakan dibawa penghuni hutan lindung dari roh-roh nenek moyang. Saat itu, Yanto masih belasan tahun, kejadian yang amat menyeramkan.

”Aku tak mau mengingatnya, kejadian itu sudah lama. Kenapa harus terulang kembali?” Hasan dan Syahid memegangi tanganku. Tapi Kang Mukhlis, dia terpaku. Ada sorot mata yang tak bisa kutafsirkan.

”Semoga saja, tak ada penduduk yang melihat gagak-gagak hitam itu atau mendengarkan suaranya? Jika mendengarnya, desa bisa gempar,” Yanto berkata penuh harap.
”Iya, ini sudah larut. Tentu, penduduk sudah lelap. Semuanya akan berakhir tanpa perlu risau bukan?” aku mencoba menenangkan suasana.

”Kamu salah.”
”Kenapa, Kang?”
”Apa kau tak lihat kejadian siang tadi! Penduduk pasti sudah menyadarinya.”

Kejadian tadi siang? Memang, sewaktu sekolah tadi ada kejadian ganjil hingga seluruh siswa Sekolah Cahaya keluar walau saat itu masih jam masuk. Tiga ekor kijang hutan masuk desa, ketiganya berlarian dan seekor lagi berada di depan sekolah. Masyarakat memburu, hingga siswa-siswa ikut memburunya. Tapi, apa hubungannya dengan burung gagak hitam?

”Masyarakat percaya, jika hewan-hewan telah keluar hutan tandanya danyang penunggu hutan lindung akan meminta korban, penyakit akan menyebar bagai wabah. Seandainya aku bisa berbuat sesuatu,” Kang Mukhlis terlihat kecewa, geraham-gerahamnya kembali bertemu.

Kepercayaan terhadap hal-hal gaib di desa Cahaya masih kental. Itulah yang sering diceritakan Syahid. Ketika menghadapi bulan baru atau hari tertentu, mereka masih membuat sesajian di tempat-tempat keramat agar musibah tak menerpa, atau setiap tahun mereka mengorbankan kepala kambing di sungai desa.

”Kesyirikan belum bisa dihilangkan.”
Malam semakin larut, kami mengantarkan Hasan pulang. Malam itu, aku tak nyenyak hendak tidur, akhirnya kupaksakan mata pejam, setelah sebelumnya berdoa agar musibah dan bencana tak menyambangi desa Cahaya yang mulai membuatku kerasan.

***

Pagi-pagi benar, aku dan Syahid siap-siap berangkat, keadaan di jalan sungguh sepi. Seperti biasa, kami naik sepeda, sampai di sekolah keadaan benar-benar sepi. Pak Danu, Bu Siska datang, menyusul kemudian Pak Yusuf. Kawan, sampai pukul sepuluh pagi, yang datang hanya kami berlima. Desa senyap, seolah tak berpenghuni.

Jangan-jangan.
Seorang datang mengenakan sepeda, dia Pak Wirya, rumahnya dekat dengan Sekolah. Terburu-buru mendekati kami di kantor, napasnya turun-naik.

”Anakku sakit, infeksi demam. Kutukan datang lagi, bagaimana ini Pak Danu?”
Pak Danu menurunkan kacamatanya, ”Kupikir aku tak akan menemui kejadian seperti ini lagi sampai aku meninggal, ternyata demikian cepat.”

Seseorang datang mengendarai sepeda, dia memberikan surat kepada Pak Danu lalu pamitan tanpa basa-basi. Lelaki itu adalah Ayahanda Bu Ria, Bu Ria sakit demam juga. Pak Lurah bingung, sedari tadi minta solusi kepada Pak Danu, tentang penyakit yang menyebar.

Pak Yusuf menjelaskan kepadaku tentang semua hal. Sepuluh tahun lalu, semua orang mengunci diri di dalam rumahnya, karena penyakit menyebar dan menular jika berinteraksi dengan penderita. Saat itu, banyak orang mati karena penyakit, mereka dikubur hanya oleh keluarganya masing-masing. Selain itu, beberapa orang  yang pergi ke hutan untuk melakukan sesajian, semuanya mati diterkam binatang buas, dengan tubuh tercabik-cabik, atau hilang tak pernah kembali.

Dan kejadian itu kini terulang. Pak Yusuf juga menyayangkan tentang kesyirikan di desa, tapi suaranya tidak didengarkan. Ingin sekali Pak Yusuf menyelidiki, sebenarnya apa yang disembunyikan di hutan lindung, tentang misteri yang ada di dalamnya, tapi selalu dihalangi oleh keamanan hutan.
Akhirnya semua pamit pulang, di rumah aku memiliki seseorang yang sepertinya tahu lebih banyak. Aku memaksa Kang Mukhlis menceritakan tentang segalanya, dan apa yang kira-kira bisa aku perbuat.?

”Ada seorang perawat yang ditelantarkan di sini. Jika kau bisa membujuknya, dia mungkin bisa membantu, karena pasti setiap penyakit bisa dijelaskan secara nyata, bukan berdasarkan pada kutukan-kutukan.”
”Siapa dia, Kang?”

”Ani.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar