Selasa, 29 Oktober 2019

Bagian 26, Jerih yang Terbayar


Malam ini aku tak bisa tidur. Pikiranku terpusat pada mesin imajinasi Hasan. Seperti apa bentuknya? Memarut daging kelapa dalam kecepatan, praktis. Untuk mendapatkan alat dari mana? Sedangkan ini adalah desa terpencil, demikian jauh dari peradaban. Bayangkan, di desa ini yang punya alat komunikasi bisa dihitung dengan jari, mungkin Pak Lurah atau keamanan hutan lindung saja.

Aku membutuhkan mesin yang bisa menggerakkan pemarut-pemarut, parutan dibuat praktis, saling bereaksi karena aku butuh mesin pemarut yang bekerja labih cepat, lebih banyak hasilnya, tidak cepat lelah seperti manusia. Kawan, aku tak tahu-menahu tentang mesin. Tapi, semua bisa dengan dicoba. Setiap penemu tak akan sedikit pun putus asa.

Baiklah, untuk urusan mesin akan kupikir nanti. Sekarang, alat yang bergerak itu seperti apa? Yang bekerja lebih cepat, lebih banyak hasil parutannya. Mesin itu haruslah bisa bekerja secara simultan, berkelanjutan, saling menopang dan bekerja sama. Aku tahu! Keseimbangan gerak!

Ilmu ilmiah semacam William Harvey, penemu ihwal peredaran darah yang begitu lancar bergerak dan beredar, atau semacam Johannes Kepler pencetus tata gerak planet-planet di seputar matahari mempersembahkan informasi yang mendasar dalam otakku. Ditambah kelengkapan Copernicus dan Galileo dalam fatwa mereka tentang peredaran planet.

Ya! Alat itu berupa gerigi-gerigi, bergerigi seperti bola panjang, seperti pipa. Saling terkait ketika berputar, dibutuhkan pengait yang kuat untuk menyambungkannya dengan parut yang terus berputar, berlawanan. Untuk memutarnya butuh gir pompa. Dibutuhkan cukup tiga parut bulat, agar mesin bekerja maksimal, dua satu arah dan satunya berlawanan arah.

Aku menggambar bentuknya dalam kertas. Tinggal mesin penggeraknya. Kucari tahu nanti, karena aku buta tentang permesinan. Minimal punya rancangan di tahap awal, sudah cukup baik. Esok kan kupresentasikan pada Hasan.

***

Aku memperlihatkan bagan sederhana itu pada Hasan, dia antusias. Kupresentasikan bahwa mesin ini, tak hanya menghasilkan 20 kilo sehari, tapi 200 kilo sehari. Kulihat matanya berbinar-binar.
”Mesin ajaib! Ibu pasti akan memujiku seumur hidupnya!”
”Tapi kita butuh mesin penggeraknya, San, aku sendiri bingung, mesin apa yang akan digunakan. Aku belum paham dengan permesinan.”
”Bagaimana jika mesin motor!”

”Bagaimana kau berpikir demikian?”
”Aku tahu sedikit tentang mesin motor Pak, pamanku di desa seberang sungai memiliki bengkel. Jika Ayah main ke sana aku pasti ikut, aku diajarinya ketika Paman memperbaiki mesin motor. Ini seperti ketika memutar gir depan dan belakang mesin motor, hanya beda arah putar saja.”
”Maksudmu.”

”Dalam mesin motor, ketika mesin mulai menyala. Piston memutar poros engkol mesin, lalu diteruskan ke gigi nanas dan kemudian ke as gear yang memutarkan gear depan dan gear belakang, kemudian memutar roda motor.”

Aku terdiam, ”Ya! Ini baru penemuan! Kita akan memakai mesin motor!”
Sejenak, temuan Hasan membuatku mengerutkan dahiku, ”Tapi kita cari mesin motor di mana? Lalu, harganya?” aku mencoba memutar otak.
”Bagaimana kalau sore nanti kita menyeberang sungai, kita ke rumah pamanmu itu, mungkin saja akan ada ilham nantinya.”
”Sepakat!”

Sore itu, selepas mengantar telur-telur pesanan, aku izin tidak bisa ikut latihan sepak bola bersama pemuda-pemuda desa. Setelah kemenangan Sekolah Cahaya, antusiasme bola semakin menggeliat, aku dicatat dalam sejarah pelatih desa. Aku dan Hasan menebeng pada pencari ikan, lebar sungai berjarak seratus meter, ditempuh sekitar 10 menit. Aku menurunkan sepeda dari kapal, sang nelayan tak mau dibayar. Dia bahagia bisa memboncengku menyeberang, bahkan dia berjanji akan menjemput kami kembali, setengah jam sebelum maghrib.

Di rumah paman Hasan, Pak Harun namanya. Kami diajari tentang kinerja mesin motor, persis seperti yang dikatakan Hasan. Kebetulan sekali, kemarin ada orang yang menjual motor bututnya, sebenarnya tidak mirip motor lagi, sudah mati. Tapi, sebagai orang yang tahu mesin, Pak Harun membelinya untuk dimanfaatkan beberapa mesin yang masih dapat didaur ulang, untuk perbaikan-perbaikan mesin yang lain.

Motor itu dijual dengan harga Rp 200.000, untuk mesin masih bisa hidup, tapi hanya mesin itu yang masih utuh; aki telah rusak, ban sudah tak ada, motor sudah pretel. Aku mengajak Hasan untuk menjauh sebentar, konsultasi bagaimana kalau mesin itu saja yang digunakan untuk membuat mesin parut, akan kubeli pakai uangku. Hasan setuju.

Hasan menceritakan tentang keinginan kami membuat mesin parut kelapa. Bukan dukungan yang kami peroleh tapi sikap pesimistis.

”Bujangku, tak usahlah kau turuti saran gurumu itu, dia belum tahu apa-apa tentang mesin, bisa-bisa bermimpi membuat mesin parut! Jika demikian, aku yang sudah dari dulu menggeluti mesin ini, kenapa aku tidak berpikiran seperti itu? Karena itu hal yang tidak mungkin, Bujang!”

Hasan menunduk, aku tahu perang batin semacam apa yang dialaminya. Benar juga kata Pak Harun. Aku tahu apa tentang mesin? Belum pernah sekali pun aku tahu. Tahu apa aku tentang parutan kelapa? Aku baru melihat kemarin. Tahu apa aku tentang pengalaman? Pak Harun telah lama hidup di sini. Setidaknya, aku telah menanamkan pelajaran optimis kepada Hasan.
”Tidak, Paman!”

Aku kaget! Kata-kata itu bukan berasal dari lidahku. Tapi, dari kedua bibir Hasan.
”Aku percaya pada Pak Arif! Kami akan membuat mesin itu, persis tanpa kurang suatu apa pun!”
Pak Harun terdiam, ”Baiklah, kutantang kau, Bujang! Tak usah kau bayar mesin motor butut itu, untuk kau. Tapi jika kau tak bisa membuatnya, jika kau lulus sekolah nanti, kau harus bekerja di sini, sampai kau tua! Meneruskan usaha pamanmu ini!”
Apa?

”Baiklah, Paman!”
Mataku terbelalak, ”Ini ide gila, San.”
”Tenang Pak Arif. Apa susahnya membuat mesin itu!”
Keyakinan kawan, inilah kekuatan keyakinan.

***

Pikiranku tak pernah lepas, membayang mesin parut itu. Malam, aku tak bisa tidur, mengamati bagan mesin. Kurangkai dalam otakku, tentang sistem keseimbangan, hingga pukul dua pagi. Butuh karet kuat dan lentur untuk mengaitkan mesin dengan tiga parutan.

Sepulang sekolah, kuajak Hasan ke pasar di Kecamatan. Kucari karet kuat itu, adanya adalah karet di mesin diesel, itu sudah cukup kuat. Aku pulang, Hasan juga pulang minta izin kepada ibunya tidak ikut memarut, walau ibunya sempat melarang. Satu permasalahan lagi, bagaimana membuat parutan melingkar, harus elastis pula.

Ternyata bukan hanya itu, warga desa telah gempar bahwa aku dan Hasan akan membuat mesin pemarut serba cepat. Ada  yang mendukung, ada yang mencemooh. Kami tak peduli, konsentrasi kami adalah mesin ini harus berputar dengan baik. Kami mencoba mesin, hidup, seluruh elemennya masih bagus.

Ukuran kawat-kawat, yang memenuhi lingkaran untuk memarut haruslah ukurannya sama, agar hasil parutannya rapi. Akhirnya kami meminta bantuan Pak Harun kembali. Kami setengah mati meyakinkan Pak Harun untuk membuatnya. Pak Harun menyanggupi, tapi dia optimis mesin itu tak akan jadi, dia tetap mengulang kesepakatan dengan Hasan seperti kemarin. Hasan bersikukuh, bahwa mesinnya akan menjadi mesin temuan pertamanya.

Kawan, tahukah kau salah satu keyakinan kuat Hasan, karena dia berontak dari keadaan yang teramat tidak nyaman baginya. Lihatlah tangannya tergerus luka, tersobek-sobek tajamnya parut. Untuk menulis dia menggunakan tangan kirinya. Dia mengambil risiko, atau tidak punya kesempatan sama sekali. Sungguh pemberani!

Pak Harun meminta kami menunggu, kami tunjukkan rancangan mesinnya. Dia membuat lempeng besi yang lentur, dilebarkan, lalu kawat-kawat sesuai ukuran bagan: 1 cm. Kawat-kawat tajam itu ditancapkan di gabus batang pisang yang tebal. Semuanya dipanaskan, disejajarkan demikian rapi, persis seperti ukuran bagan yang kami perlihatkan padanya.

Untuk menjaga agar batang pisang tidak terbakar, Pak Harun menyirami terus dengan air. Hingga dirasanya semua ujung telah panas, Pak Harun menempelkan semuanya menghunjam ke seluruh permukaan persegi panjang lempeng besi itu, semuanya menancap dengan baik. Pak Harun menjemurnya, ketika lempeng telah penuh rata dengan kawat-kawat, semuanya rapi. Hebat betul! Inilah kekuatan ketekunan, Kawan!

Setelah dirasa kering, lempeng besi yang telah penuh dengan kawat yang di buat melingkar itu disambung dengan las. Setiap ruas ujungnya berlubang, Pak Harun menutupnya dengan besi bulat, di las lagi, disisakan lubang berdiameter tiga perempat cm untuk mengait-ngaitkan satu parutan bulat dengan yang lain. Pak Harun juga membuat lempeng untuk menutup sisi-sisi parutan, tak ketinggalan penutup atas agar kelapa yang diparut tidak menjulang ke atas.

Sempurna sudah. Kami pamit membawa pulang ketiga bundaran mesin parut itu.
”Ingatlah, Bujang! Sebentar lagi kau harus bersiap-siap meneruskan usaha bengkelku ini!”
”Lihat saja, Paman! Paman akan takjub nanti!”
Aku heran, dari mana Hasan kini mempunyai keyakinan yang demikian dalam?

Seminggu sudah kami bekerja, mesin itu hari ini juga dipasang sesuai bagan. Tiga mesin parut bulat itu, sudah terpasang saling terkait membentuk segitiga; dua sejajar dan satunya di tengah dengan posisi di bawahnya. Di antara sela ketiga parut bulat itu terdapat sela tapi teramat tipis. Aku mencoba memutar. Berhasil! Langkah pertama sukses, tak ada gesekan.

Hasan ikut memutarnya pelan, ada keindahan saat tangannya memainkannya, seolah-olah dia melihat mesin telah dibunyikan, dan mesin parut telah memutar demikian kencang.
Mesin didekatkan, aku membeli bensin. Engkol kami buat dari kayu jati, karet yang telah kupotong dan kupasang sesuai ukuran, mengaitkan mesin dengan ketiga gerigi parutan.

Kawan, sekali lagi. Desa gempar, Pak Lurah terlanjur mendengar, Pak Danu pastilah lebih agresif mengundang seluruh warga desa. Semua tumpah ruah, saat kami bawa mesin itu ke rumah Hasan, karena tujuan Hasan sebenarnya adalah memberikan mesin buatannya itu pada ibunya. Ekspresi rasa cintanya karena tempo hari saat akhir bulan, dia tidak memberikan bunga pada ibunya sebagai wujud ungkapan cintanya, karena bunga yang dicarinya di seluruh desa telah habis, hanya ada bunga bangkai kawan.

Kali ini, senyum merekah dari wajah Hasan. Senyum kemenangan.
”Ini mesin untuk Ibu, agar Ibu dapat membiayai sekolah Hasan. Agar tangan Ibu tak lagi kasar saat kucium, agar tangan Ibu tak lagi mengeluarkan darah demi mencari uang. Ini khusus untuk Ibu!”
Kawan, teramat romantis. Cinta  yang penuh perjuangan. Aku terharu.
”Dengan rongsokan seperti ini?”

Hasan kaget! Bukan teriakan sayang yang didapatkan. Hasan tak terima, dia berlari ke rumah Pak Manar, diambilnya satu plastik daging kelapa, tergopoh-gopoh dibawanya pulang.
Semua warga menonton drama itu, bukan sekadar sandiwara, ini nyata. Pak Harun melihat penuh tegang, sekarang dia mulai sadar akan kesungguhan Hasan. Pak Lurah dan Pak Danu melihat paling depan. Guru-guru desa Cahaya ikut melihat pula. Bahkan, Geng Sar  melihat dari kejauhan, di atas motor-motor mereka.

Syahid memegangi tangan kananku dengan kedua tangannya, dia melihatku, aku meyakinkannya. Kau lihat saja.

Semua terdiam. Hanya Hasan kecil yang bergerak, bocah berusia tak lebih dari sebelas tahun itu, menjadi sorot perhatian.
”Lihatlah, Bu! Ini untuk Ibu!” Hasan mendekati mesin, memasukkan semua daging di lekukan tiga parutan bulat, masih sisa, karena memang panjang lalu menutup sisi atasnya dengan lempeng besi yang dibuat engsel di pojok atas. Tangan kecil kurus itu mendekati kayu jati, mesin diengkolnya. Mesin berbunyi pelan.

Tepuk tangan membahana, walau ketiga parutan belum berputar.
”Ibu! Lihatlah mesinku bekerja!”

Hasan mengeraskan suara, menarik kawat gasnya. Suara menggelegar bagai motor yang siap berpacu dalam balapan, menunggu aba-aba siap. Semua menunggu, seluruh mesin bergetar, kelapa melonjak-lonjak ke atas, tapi tak terluka sama sekali. Di bawah sela-sela ketiga parutan itu telah dipasang bak besar, tapi tak ada yang terjatuh di sana. Semuanya menunggu, aku tegang.

Lima belas menit, Kawan! Hasan belum putus asa, dia mematikan lagi, menghidupkan lagi, dikeraskan gas hingga lunas maksimal. Dia tidak putus asa sama sekali. Aku kasihan melihatnya, drama menyedihkan, seluruh warga melihat iba kepada Hasan. Ada yang meneteskan air mata, karena peluh telah sempurna membasahi wajah kurus hitam itu.

Kawan, aku tak tega melihatnya. Apalagi taruhannya, bekerja di bengkel hingga tuanya? Aku menyalahkan diri sendiri, menyumpahi kesombonganku, sok hebat! Aku menyesal! Sangat menyesal, semua ini berawal dariku. Tapi, Hasan masih bersikeras mencoba dan mencoba lagi.

Ada yang meratap, seorang ibu memeluk sebatang pohon. Air mata telah membasahi pipi hingga beberapa kali dia harus mengelap air matanya. Bu Mirna, ibunda Hasan sampai memeluk anaknya.
Hasan bersikeras, dihidupkan lagi setelah dimatikan untuk yang keempat puluh satu kalinya. Dikeraskan lagi suaranya, tapi tak satu butir pun yang terjatuh di bak bawah. Dia mematikan mesin lagi, dia menghidupkan lagi. Langit desa Cahaya seketika mendung, ikut iba pada Hasan.

”Sudah, anakku! Sudah! Kau tak perlu membuktikan apa-apa lagi pada Ibu. Ibu akan selalu menyayangimu, ada atau tanpa alat ini! Sudahlah, menyerah saja.”
Semuanya terharu, Pak Lurah dan Pak Danu ikut meneteskan air matanya.
Aku maju ke depan, ”Iya, San, ini salah Bapak. Mesin ini tak bisa bekerja. Ini semua hanya bualan Bapak!”

”Tidak! Mesin ini sempurna. Tak mungkin salah. Lepaskan Ibu, aku mau menghidupkan mesin lagi!”
”Sudahlah anakku, ini tidak akan berhasil,” Bu Mirna merengek.

Hasan meronta, ”Baiklah akan kucoba sekali lagi! Setelah itu, itulah finalnya.”
Ibunya mundur, memberi kesempatan. Pak Wiryo, ayah Hasan berdiri sambil meneteskan air mata, melihat drama anak satu-satunya itu. Hasan mengucapkan basmalah lebih kuat, dihidupkannya mesin itu, gas dimaksimalkan. Satu menit, tak ada kejadian besar. Mesin tak menggerakkan ketiga parutan panjang bundar itu.

Hasan menjatuhkan kedua lututnya ke tanah, sempurna lemas.

Dan Pak Harun maju ke depan, mendekati Hasan sambil tersenyum. Kulihat kemenangan di wajahnya terpancar, kenapa dia maju, ataukah dia mau menambah kesedihan kegagalan Hasan. Wajahnya memancar, tanda kemenangan di tangannya.
Semua mata melihat Pak Harun duduk pula di depan Hasan, semua orang tahu tentang tantangan yang diberikan Pak Harun.

”Kamu mengaku menyerah?”
Nadanya sungguh mengejek, seharusnya tidak seperti itu. Hasan sedang sedih, dia memang keterlaluan, paman seperti apa dia?

Hasan mengangguk lemah, ”Saya akan bekerja, sampai tua di bengkel Paman,” nada suaranya lemah dan pasrah, pasrah penuh kekalahan.
”Jadi kau mau menjadi kuli bengkel sampai tua?”
Hasan mengangguk kembali, lemah dan pasrah.
Benar-benar paman yang keterlaluan.
”Dasar bodoh!”

”Plak!”
Apa? Semua mata kaget melihat kejadian itu, apalagi aku. Pak Harun, sudah demikian menghinanya,  masih menampar pipi Hasan, Hasan memegangi bekas merah di pipi kanannya.
Pak Harun mengangkat lengan kanan Hasan, ”Berdiri, Bujangku!” Pak Harun mendirikan Hasan, tepat di depan mesin buatan kami.
”Kamu tahu ini mesin motor bukan?”
”Iya, Paman!”

”Kenapa kau tak menggunakan giginya, bukankah sudah kuajari kau tentang mesin motor!”
Wajah Hasan mendongak kilat, wajahnya bercahaya.

Tak ada kata selanjutnya, Hasan bangkit berdiri, bersemangat menghidupkan mesin. Mesin hidup kembali, Pak Harun mundur sejenak. Semua orang dibuat bingung. Hasan mengungkit sesuatu, iya itu adalah saluran gigi motor, dimasukkan gigi satu.

Menakjubkan. Ketiga gulungan parutan berputar simultan terlihat dari pengait yang berputar, pelan-pelan, hingga berputar demikian indah. Dua gulungan yang sejajar berputar ke kanan, dan satu gulungan di bawah berputar sebaliknya.

Secepat kilat, daging kelapa telah hilang dan jatuh teramat lembut jatuh di bak di bawahnya. Aku baru tahu sekarang, gigi satu tentu saja masih pelan, bagaimana kalau sampai gigi empat. Aku lupa, dan tak terpikir olehku sama sekali. Ini adalah mesin motor, maka perseneling giginya adalah kekuatan memutar gir.

Hasan mematikan mesin, dia berlari memelukku. Sontak, semua orang yang semula menangis, bersorak, tepuk tangan, siulan, teriakan. Kemenangan ini adalah kemenangan mereka semua, Pak Manar kaget dan hampir saja pingsan. Pasti dia tengah berpikir, bagaimana membayar mereka perkilo lagi, selain itu bagaimana dia mencari kelapa demikian banyaknya untuk digiling dalam waktu cepat.
Pak Harun tersenyum puas, Kawan, aku telah salah paham padanya. Kadang pandangan manusia itu keliru, kuingatkan itu padamu. Ini pelajaran penting bagi manusia.


Mulai sekatang tak akan ada lagi tangan terluka terkena parut. Tak akan ada lagi ada siswa terpaksa menulis dengan tangan kirinya, karena tangan kanannya perih. Dan mimpi mulai diperhitungkan dalam kegelapan jahiliah desa Cahaya. Kemajuan akan menghampiri, kala mimpi menjadi sah untuk diperjuangkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar