Selasa, 29 Oktober 2019

Bagian 25, Mesin Impian Hasan


Hari ahad, Syahid kuminta mengantarkanku silaturahim ke rumah Hasan. Kudengar kakinya terkilir setelah pertandingan. Kami mengayuh sepeda ke arah selatan, tepat lima rumah sebelum sungai besar desa, yang dijadikan sumber pengairan seluruh sawah desa.

Saat kami ke rumah Hasan, dia tidak ada. Seorang tetangganya mengatakan kalau Hasan dan Ibunya ke rumah Pak Manar, pemilik industri perminyakan yang mempekerjakan puluhan, bahkan mungkin sampai angka seratusan orang untuk memarut kelapa. Dengan upah Rp 500 perkilo hasil parutan. Jika sehari bekerja paling banyak hanya bisa mencapai sepuluh kilo, maka itu tak akan sesuai dengan standar upah minimum regional, tak akan sesuai, bahkan sangat jauh.

Rumah Pak Manar dekat dengan dam sungai, berjarak lima rumah dari rumah Hasan. Jadi kisaran 100 meter. Sudah kubilang, bahwa jarak satu rumah ke rumah yang lain berkisar 20-30 meter. Kami sampai di sana, Pak Manar tengah duduk mengisap rokok dengan pipa menjulang panjang ke depan. Tubuhnya demikian gendut, berbeda dengan orang-orang yang lalu lalang dari pintu di tengah rumah yang besar bentuk huruf U itu. Sangat kurus, bahkan ada yang mirip tengkorak berbalut kulit.

Kami mengucapkan salam, seperti cerita yang banyak dihembuskan, Pak Manar adalah orang yang pelit walau pembawaannya ramah. Tapi untuk urusan uang, jangan pernah diragukan lagi. Namun begitu, dialah orang terkaya di desa Cahaya.

”Rupanya ada tamu penting! Masuklah Pak Arif!” aku dan Syahid duduk di ruangan depan rumah Pak Manar.

Bersahabat dan ramah memang, tapi, dia selalu berujar tak membiarkan kami ganti bicara. Hingga belasan menit, tak ada sela untuk aku bicara. Sorot mata Syahid memberi isyarat padaku, sudah kubilang, percaya sekarang? Mata itu menantang. Benar, boro-boro ada minuman, yang ada hanya bualan bahwa dia pemilik usaha terbesar di desa ini jasanya lebih besar daripada Pak Lurah, pengentas kemiskinan desa, penyelamat pengangguran.

”Pak!” aku memotong, walau kutahu tempatnya tak tepat. Kucari sela ambil napasnya tak ada, ambil napasnya pun masih bicara. Kawan, biasanya jika kau bicara dengan orang lain yang cerewet, pasti masih ada jeda ketika dia mengambil napas untuk berujar lagi. Tapi ini tak ada, aku kebingungan mana jeda ambil napasnya, sungguh.

”Saya ke sini mau bertemu dengan Hasan. Dia sedang sakit, tapi dia berangkat kerja kata tetangganya tadi.”
”Ooo... silakan. Masuk saja ke ruangan di tengah itu, temuilah siapa tadi?”
”Hasan, Pak.”

”Iya, Hasan, aku juga tak kenal anak itu. Maklumlah Pak, saya penyelamat pengangguran, saking banyaknya karyawan, saya tak tahu secara detail nama-namanya. Masuk saja,” senyumnya terukir.
”Jadi, tidak apa-apa saya menemui Hasan?” wajahku cerah, tak semua isu-isu benar. Buktinya, aku diperbolehkan menemui Hasan, berarti dia tidak pelit bukan?

”Tidak apa-apa, silakan saja.”
Aku menatap Syahid, kuangkat kedua alisku, ganti kutantang. Tak semua perkataanmu benar bukan? Pak Manar masih berbaik hati!

”Bapak tidak akan merasa rugi?” aku masih sedikit berbasa-basi.
”Kenapa harus rugi Pak Arif, bukankah sudah kubayar mereka berdasarkan apa yang mereka hasilkan. Perkilo parutan kelapa berarti lima ratus rupiah. Jika dia istirahat, tentu mereka yang rugi bukan? Aku tak rugi, itu sudah kuperhitungkan matang-matang, makanya usahaku bisa eksis hingga hari ini.”

Mataku terbelalak mendengarkan penjelasan Pak Manar, bibirku melongo. Kawan, kulihat Syahid cekikikan, tapi ditutupinya kedua mulut itu dengan kedua tangannya.

Kami masuk, begitu banyak manusia tengah menghadap parutan dan tampah, untuk menadah hasil parutan. Semuanya tampak berkonsentrasi, khusyuk dengan parutannya sendiri, lihatlah tangan-tangan mereka, luka parutan tak terperikan. Kadang ada yang berdarah, tapi segera diisab dengan mulutnya, lalu bekerja kembali.

Aku miris melihatnya.

Laki-laki dan perempuan, tak ada obrolan bahkan, mereka larut demi sesuap nasi untuk hari ini. Kawan, ini seperti kerja rodi, romusha. Mereka bahkan tak melihat kehadiranku, mereka asyik, tapi keringat-keringat mengucur dari wajah-wajah mereka yang legam  pula. Bukan segelintir, tapi begitu banyak orang terduduk bagai menunggu bantuan datang, atau barisan pendengar khutbah jumat.

Syahid menyadarkanku, dia menarik tangan kananku. Telunjuknya mengarah ke suatu tempat di ujung sana. Hasan tengah bertelanjang dada. Di sampingnya ada ibunya. Tangannya kurus seperti dahan kayu mahoni, teramat kecil.

Ada sela jalan, di antara orang-orang yang dipergunakan para pekerja untuk lewat. Kami lewat, duduk di dekat Hasan dan Ibunya. Mereka tak menyadari keberadaan kami, kami membiarkan saja. Saat Hasan mengelap keringat yang membasah di dahinya, dia melihat kami.

”Kalian! Sejak kapan?”

Dia kaget, menghentikan parutannya, dan mencium punggung tanganku. Ibunya masih memarut, dia melihat sejenak  pada kami. Tapi, kemudian acuh dan meneruskan kerjanya, aku maklum. Baginya, itulah biaya untuk sekolah anaknya serta untuk tambahan makan selain dari kerja suaminya.
Hasan duduk bersama kami.

”Kakimu yang terkilir sudah sembuh, San?”
”Belum Pak, tapi Hasan harus bantu Ibu, buat sekolah dan berlatih bola lagi!” lihat semangatnya kawan, kau tak akan temui selain di sini. Mimpi-mimpi yang tergerus keadaan.
”Berapa hasil kerja ibumu di sini setiap harinya, San?”

”Dari pagi, Ibu setelah masak langsung memarut. Kala sore pulang, paling banter dapatnya lima belas kilo, itu pun sudah tanpa henti. Jadi jika penuh, biasanya maksimal dapat Rp 7.500. itupun masih kurang untuk keperluan sekolahku, ayah mencari ikan di sungai, itu untuk biaya makan sehari-hari. Seandainya...”

Aku menunggu kelanjutan kata-katanya, tapi Hasan menatap langit di atas sana, seperti kala kucari jawaban setiap permasalahan. Pasti dia sedang berpikir keras. Kutunggu apa yang ingin dikatakannya.

”Seandainya aku punya mesin penggiling kelapa, tak usah hebat, cukup bisa dua puluh kilo seharinya. Pasti ibuku akan bangga padaku, melebihi bangganya ketika aku kemarin menang menjadi kiper.”

Aku melihat tatapan mimpinya.
”Kau mau membuat alat itu?”
”Sayang, itu cuma mimpi Pak Arif.”
”Tidak! Itu bukan mimpi, itu kenyataan!”

”Jangan bercanda Pak, yang ada adalah bekerja lebih cekatan agar hasil parutan semakin banyak. Bergerak lebih cepat, lebih banyak, lebih lama.”
”Kamu benar, kita akan buat alat lebih cepat, lebih banyak, dan lebih bertahan lama daripada kekuatan tangan. Kita akan membuatnya. Kita pasti bisa!”
Hasan menatapku dalam, ”Dengan apa membuatnya, Pak?”

Aku mengangkat telunjukku, tepat di kening bagian kanan, ”Dengan ilmu!”
”Bisakah?”
”Apakah Bapak pernah bohong padamu?”
Hasan menggeleng.

”Tak ada yang tak mungkin dengan ilmu.”

Dan, kami pamit. Kulihat senyum perpisahan Hasan, indah tak terperikan. Pelajaran terbaik untuk anak adalah mimpi! Camkan itu, Kawan. Aku punya tugas baru nanti malam, membuat bagan seperti apa, dalam menyatakan imajinasi Hasan. Mesin pemarut daging kelapa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar