Selasa, 29 Oktober 2019

Bagian 24, Bunga Untuk Wanita Suci


Ada kebiasaan unik di Desa Cahaya. Kebiasaan ini bermula dari cerita rakyat tentang Malin Kundang dari Pulau Sumatera. Kau tahu kawan, pulau Sumatera yang berukuran 473.604.000 km2 adalah salah satu dari pulau terbesar di dunia; masuk sepuluh besar peringkat dunia, tepatnya di urutan keenam setelah pulau Balfin di Kanada 476.067.000 km2, dan sebelum pulau Honshu di Jepang 203.315.000 km2.

Cerita tentang Malin Kundang yang berasal dari keluarga miskin, merantau dengan menaiki perahu seorang saudagar kaya. Akhirnya Malin Kundang menikah dengan anak gadis si saudagar kaya, tapi ketika sudah kaya, Malin Kundang durhaka kepada Ibunya, hingga di akhir cerita Malin Kundang dikutuk menjadi batu. Cerita itu mengakar kuat dalam khasanah kisah desa Cahaya. Diceritakan turun temurun, dari orangtua kepada anak, terus-menerus.

Makanya, entah siapa yang memulai, setiap akhir bulan selalu ada acara sejenis pengajian atau hanya semacam kenduri, bertempat di Balai Desa yang juga Balai Sekolah yang sudah reot. Masyarakat berkumpul penuh hikmat mendengarkan petuah-petuah dari seorang yang diundang khusus dari Kecamatan, para kyai, berapa pun bayarannya.

Seperti pagi ini, acara telah dipersiapkan seperti biasanya. Bertepatan dengan hari senin, maka setelah upacara bendera. Sekolah tiba-tiba diliburkan, anak-anak diwajibkan mengikuti acara tersebut. Kisah Malin Kundang akan diceritakan kembali oleh sang narasumber dengan versinya sendiri, yang penting substansinya sama, menghormati ibu dan bapak.

Balai Sekolah tak akan cukup, maka bagian belakang ke arah selatan yang temboknya kayu dipreteli. Terbuka, maka jadilah memanjang, karena bagian sampingnya adalah jendela yang lebar-lebar jadi tidak bermasalah. Kursi ditata rapi, di luar balai hanya beratapkan pepohonan rindang, hanya sela-sela kecil daun yang menyorotkan cahaya matahari.

Sebenarnya bukan itu yang ingin kubahas. Tapi hari ini pematerinya adalah aku, dan itu pun mendadak. Namaku disandingkan begitu penting setelah kemenangan sepak bola di Kecamatan kemarin. Satu piala kini bertengger di kantor guru. Setiap hari, Pak Danu selalu menimang dan mengelapnya. Kawan, itulah sebabnya Pak Danu yang memintaku mengisi acara ini. Aku akan mengisi tentang kisah orangtua, terutama ibu. Judul materi dadakan ini adalah tentang seikat bunga.

Kupakai baju kemeja, salah satu pemberian Bu Siska. Para guru duduk di depan, aku bersebelahan dengan Bu Siska. Tuhan, jantungku berdetak lebih cepat. Aku grogi.

”Sudah kau persiapkan materinya, Pak Arif?”
Lembut, tapi dia sama sekali tak melihat ke arahku, pandangannya lurus melihat dua anak yang tengah menggelar taplak di meja depan.

”Sudah, tapi jujur, aku masih gemetaran. Oya Bu Siska, aku menemukan sesuatu dari kemeja yang kupakai ini.”

”Benarkah?” Bu Siska menoleh ke arahku, tatapannya heran, “Itu baju almarhum Ayahku Pak.”
Aku mengeluarkan kertas dari dompetku, kuberikan padanya. Bu Siska menerimanya dan membacanya, ada kerut di dahinya.

“ Keluarga bu Siska punya jiwa seni.”
”Maksud Pak Arif?”

”Kata-kata itu, dia adalah pemuja ilmu,” kulihat ada kebanggaan terpancar dari sorot matanya.
”Tapi, aku tak tahu maksud tulisan ini.”

”Kalau aku boleh berargumen, tulisan itu bukanlah tulisan Ayah Bu Siska. Tinta yang digunakan adalah tinta celup, tulisan tampak lebih besar, menggunakan semacam kuas kecil. Mungkin saja, Ayah Bu Siska mendapatkannya dari orang lain atau mungkin dari kakek Bu Siska. Dilihat juga, kertas itu adalah buatan tahun-tahun sekitar kemerdekaan Indonesia. Tentu saat itu, ayah Bu Siska masih kecil atau mungkin belum lahir.”

Bu Siska menatapku serius.

”Bisa jadi demikian, analisis Anda begitu bagus. Tapi tetap saja, aku tak mengerti maksud tulisan ini. Apakah Pak Arif mau menguak maksud tulisan ini? Itu pun jika Pak Arif tak keberatan.”

”Baiklah akan kucoba, akan kuberitahu jika aku sudah memahaminya,” kertas itu dikembalikan padaku. Acara dimulai, peserta berjubelan penuh, ada yang tak kebagian tempat duduk. Pak Lurah duduk di depan beserta puterinya. Kang Mukhlis ikut hadir, tapi duduk di tengah.
Aku maju ke depan setelah dipanggil MC. Kuucapkan salam.

”Sejarah akan terus hidup manakala ada orang yang menceritakannya, seperti itulah kehidupan ini. Akan terus ada, manakala ada dua kata: ayah dan ibu. Namun, tak bisa dipungkiri, peran ibulah yang paling penting dalam sistem sejarah kehidupan. Susah payah dalam mengandung, penuh pengorbanan hingga nyawa sebagai taruhan. Akan  saya ceritakan satu kisah singkat tentang sebuah kisah, arti sebuah cinta. Arti kata lembut, untuk seorang ibu.”

Kawan, aku menatap langit. Kasih sayang ibu? Aku hanya pernah melihat lapisan dalam perutnya, aku disuapinya selama sembilan bulan dalam rahimnya, setiap makananan dibaginya tanpa perhitungan. Kawan, itulah kasih sayang ibu padaku, aku lahir dan beliau meninggal. Bahkan, aku tak mengetahui di mana letak kuburnya. Aku meneruskan pidatoku.

”Inilah kisah tersebut. Ada seorang pria berhenti di toko bunga untuk memesan seikat karangan bunga yang akan dipaketkan pada sang Ibu melalui jasa pengiriman. Jarak tempat tinggal ibunya adalah 150 Km. Begitu ia turun dari motornya, dia melihat seorang gadis kecil berdiri di atas trotoar jalan di depan toko bunga, gadis kecil itu menangis tersedu-sedu.

Pria itu menanyainya kenapa menangis. Gadis kecil itu menjawab, ’Saya ingin membeli setangkai bunga mawar untuk ibu saya, khusus untuknya dan berwarna merah. Tetapi saya hanya mempunyai uang lima ribu saja, sedangkan harga mawar itu sepuluh ribu.’

Pria itu lantas tersenyum, ’Ayo ikut denganku, aku akan membelikanmu mawar merah, bunga yang kau mau, khusus untuk ibumu.’ Kemudian ia membelikan gadis kecil itu setangkai mawar merah, sekaligus membeli karangan bunga untuk ibunya, lalu menuju tempat jasa pengantaran barang.

Ketika selesai, gadis kecil itu masih bersamanya. Pria itu menawarkan diri untuk mengantar gadis kecil itu pulang ke rumah dan memberikan bunga itu secepatnya kepada ibu si gadis kecil. Gadis kecil itu melonjak gembira, katanya, ’Ya, tentu saja.’

Kemudian mereka berdua menaiki motor dan melaju. Mereka menuju tempat yang ditunjukkan gadis kecil itu, yaitu pemakaman umum, gadis itu lalu meletakkan bunganya pada sebuah nisan kuburan yang masih membasah, terlihat gemburnya masih baru.

Melihat hal itu, hati pria yang mengantarkan gadis kecil itu trenyuh dan teringat sesuatu. Bergegas, ia kembali menuju tempat jasa pengiriman, dan membatalkan pengiriman karangan bunganya walau uangnya tak bisa kembali. Dia tak peduli. Ia memegang kuat karangan bunga itu, dicium penuh cinta dan air matanya menetes dalam karangan bunga itu. Dia mengendarai sendiri motornya sejauh 150 km, menuju rumah ibunya, tak peduli apa pun. Hanya ingin menyerahkan karangan bunga itu padanya, pada ibu yang telah mengajarinya banyak hal.

Bapak-bapak, ibu-ibu sekalian, anak-anakku yang kucintai. Sungguh, belum terlambat untuk mencintai wanita yang paling berjasa pada kita. Walau dia sudah meninggal. Kusebut kalian semua sahabatku, kukatakan sahabat, tidak ada kata terlambat bagi orang yang sudah terlambat. Berikanlah tanda cinta dan ketulusan kita, seolah dengan itu, kita akan tulus menjaga mereka, sampai ajal benar-benar datang.”

Semua hadirin terdiam, ada yang menangis, meneteskan air matanya. Tanpa terasa, air mataku menetes.

”Sahabatku, tidak ada kata terlambat. Sekarang juga, sebelum matahari tegak di atas kepala kita. Ungkapkan cinta dan ketulusan pada mereka, dengan apa pun. Karena mereka menunggu ungkapan cinta itu, sungguh. Tak usah banyak kata, ungkapkanlah sekarang juga. Sungguh, sekaranglah waktunya, pergilah sahabat-sahabatku!”

Aku sedikit menekankan kata-kataku. Seorang lelaki, berdiri di barisan tengah, dia menatapku dalam, air matanya menetes.

”Kau benar Pak Arif, sekaranglah waktunya,” dia berjalan di antara sela-sela duduk orang, dia keluar dan mengendarai sepedanya. Semuanya terbengong, dan tiga orang berdiri, empat orang lagi, dua orang lagi, terus bertambah. Mereka menatapku dalam, lalu pergi meninggalkan tempat itu.
Bu Siska berdiri, ”Aku akan ke pemakaman, Pak Arif.”

Aku mengangguk.

Seluruh siswa satu-persatu pergi, Pak Lurah, Kang Mukhlis telah tiada. Air mataku menetes, satu sampai di daguku. Sepi kawan, di Balai Sekolah tak ada orang lain selain diriku. Tak ada kata terlambat, aku berdoa dalam hati, untuk ayah dan ibuku yang wajahnya pun belum pernah kutemui.
Kutatap semua tempat duduk, tak ada orang lain lagi. Hanya di jalan sana, orang lewat begitu banyak, mereka membawa bunga, apa saja, bunga kamboja, melati, mawar, hingga bunga sepatu. Kurasa, seluruh penduduk desa Cahaya tengah memberikan bunga pada orangtua mereka.

Salah! Persepsiku salah lagi. Seorang wanita berjalan masuk, gemulai menunduk wajahnya. Wanita itu memakai baju hijau muda, anggun, sangat cerah, rambutnya tergerai halus sehalus kulit wajahnya. Di kedua tangannya, ada sekuntum bunga mawar pink. Langkahnya pelan, ke depan, ke arahku. Tanpa kata, dia mengulurkan bunga mawar pink itu padaku. Sorot matanyalah yang menjadi wakil ucapannya, betapa sorotnya memintaku dengan sangat menerimanya.
”Untukku?”

”Iya, Kak.”
Aku menerima bunga itu, saat kuambil bunga itu, senyumnya terlihat begitu segar.
”Kenapa untukku?”

”Ibuku telah meninggal, Ayah kini sedang berdua bersamanya di kuburan. Bunga ini untuk Kakak, karena mengembalikan cinta Ayah yang telah lama hilang. Serta, bunga ini adalah terima kasih dari seluruh warga Cahaya.”

Wanita itu berbalik meninggalkanku, langkahnya tetap anggun. Kawan, dialah bunga desa itu, Indah Isnaintri, dia memang lahir hari senin, dia juga anak ketiga. Karena anak pertama Pak Lurah meninggal ketika baru lahir, dan anak kedua meninggal di hutan lindung.


Hari itu, seluruh masyarakat Cahaya tumpah ruah, saling mengungkapkan cintanya. Anak-anak sekolah memberikan kecupan kepada ibunya. Seorang suami memberikan bunga kepada isterinya, seorang anak memberikan baktinya dengan ungkapan-ungkapan cintanya masing-masing. Desa Cahaya mulai hari ini, diselimuti cinta, seluruhnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar