Selasa, 29 Oktober 2019

Bagian 23, Anggap Saja Dia Sahabat


Satu lagi masalahku, tepat ketika pertandingan penyisihan pertama melawan sekolah desa seberang timur. Hasan, kiper andalanku tidak diperbolehkan ibunya ikut. Dia harus membantu memarut kelapa agar bisa untuk makan dan biaya sekolah. Karena waktunya telah banyak digunakan untuk latihan, sepulang sekolah cuma membantu sebentar. Dan hari ini, tepatnya saat penyisihan pertama, ibunya tidak rela dan memintanya bekerja, hari ini adalah hari minggu.

Kawan, terpaksa aku gunakan rumus tercepat dalam mengurus dunia. Sekali lagi dunia, Kawan. Aku membayar jam kerja Hasan, membayar uang sepuluh ribu pada Bu Siti. Padahal, biasanya Hasan membantu sekuat apa pun, paling hanya menghasilkan lima ribu. Bayangkan, memarut kelapa setiap satu kilo dinilai lima ratus rupiah. Padahal, berapa butir kelapa agar bisa menghasilkan parutan satu kilo, belum lagi luka parutan membekas, belum lagi tangan yang pegal-pegal. Dan Pak Manar selaku pemilik usaha, tak peduli dengan luka-luka parut maupun pegal-pegal, dia hanya tahu perkilo lima ratus rupiah.

Kujemput Hasan, kubonceng dengan sepeda. Berkali-kali di perjalanan dia terisak, kubiarkan saja sampai dia tenang.

”Aku berjanji pada Bapak,” nadanya masih terisak, kubiarkan saja.
”Tak akan kubiarkan satu bola pun masuk ke dalam gawang!” optimisme.

Akhirnya semua pemain lengkap, grup yang mendaftar ada 35 sekolah, berarti 35 tim pula. Pertandingan diadakan seminggu penuh, penyisihan pertama dibagi di 17 tempat. Jadi pagi senin itu, ada 17 pertandingan. Tempatnya ditentukan dengan suit. Yang menang berarti pertandingan diadakan di sekolahnya, dan untuk mempermudah, pertandingan dilakukan berdasarkan desa yang paling dekat dulu, persis seperti tahun-tahun sebelumnya.

Sekolah Karya Mukti, sekolah yang membuat desa Cahaya selalu kalah setiap penyisihan pertama. Syahid suit dengan striker kubu lawan. Kalah. Kami bertanding di Sekolah Karya Mukti. Tak jadi soal, kita kalahkan semut di sarangnya sendiri, agar gaung semakin terdengar kuat. Biasanya, jika bertanding di kandang sendiri akan semakin kuat karena penonton pendukung lebih banyak, dianggap menambah kekuatan. Tidak, akan kuhancurkan mitos itu, kemenangan adalah milik orang yang berusaha keras. Man jadda wa jada, begitulah syair negeri Arab sana.

Kedua regu berhadapan, seluruh guru menjadi penonton duduk di kursi kehormatan, baik guru dari Sekolah Cahaya maupun Sekolah Karya Mukti. Wajah Pak Danu tampak cerah. Tangannya tak henti-hentinya terangkat menjulang ke langit, mirip cerita kakek saat nabi Muhammad Saw berdoa pada perang badar. Jika Sekolah Cahaya tidak menang, aku tak akan pernah melihat harapan itu lagi!
Pelatih Sekolah Karya Mukti tepat berhadapan denganku.

”Jadi kau pelatih baru, ya? Ke mana Pak Yusuf? Sudahlah, kuperingatkan, menyerah saja dan mengaku kalah, sebelum malu hingga seumur-umur,” bibirnya mencibir, bengkok sedikit ke depan. Aku tersenyum.

”Tim kami selalu masuk dalam perempat final, walau tak pernah menang. Tapi kami pernah mendapatkan juara ketiga, sedangkan kalian penyisihan awal pun tak pernah lolos.”
Aku menatapnya dan tersenyum.

”Oya, siapa nama Bapak?” aku mengulurkan tanganku.
”Panji Widodo,” dia menyambut tanganku malas, wajahnya melengos. Kawan, dia sangat meremehkan orang lain, jangan kau ikuti orang seperti ini.

”Saya Arif, senang berkenalan dengan Anda Pak Panji, dan kehormatan bagi Bapak karena akan berhadapan dengan tim impian worldcup,” tegas seperti Pak Danu.
”Apa? Ha..ha...ha... worldcup!”

Lelaki itu tertawa terbahak-bahak, berjalan masih dalam keadaan tertawa di depan para murid andalannya, ”Anak-anak! Buat mereka tak berkutik, tak usah gunakan seluruh kekuatan kalian, seperti biasa! Tanpa formasi lone ranger pun kita bisa menang!” dan tawanya kembali meledak, seluruh murid-muridnya bersorak mengejek.

Pak Yusuf telah menjelaskan bahwa formasi lone ranger adalah satu-satunya senjata pamungkas tim Karya Mukti. Mereka akan menggunakannya kala terdesak, formasi yang entah bagaimana pengaturannya, tapi setiap tempat selalu ada kawan, sehingga musuh bingung untuk membongkar strategi itu. Tapi mimpi telah merebut setiap kenyataan. Segalanya menjadi mungkin.

”Anak-anak Cahaya!” aku berteriak lantang! Sontak, keriuhan tim lawan terhenti, Pak Panji melihatku. Aku berjalan pelan di depan siswa-siswaku, baik utama maupun cadangan.

Kuangkat tangan kananku, telunjukku menyembul, ”Kalian lihat di sana, lampu sorot ribuan watt, bukan satu tapi empat, lihat di setiap sudut dan ujungnya!” tangan kiriku terangkat bergantian, ”Lihat di sana! Jutaan penonton melihat pertunjukan hebat kalian! Dan di sana! Keluarga kalian, seluruh penduduk desa Cahaya menonton dan menyoraki kalian! Lihat di sana,” kuluruskan kedua tenganku lurus ke kiri, ”Puluhan stasiun televisi, dari Indonesia dan seluruh dunia merekam setiap strategi kalian, mereka merekam pertandingan ini!”

Kini, telunjuk tangan kananku, satu persatu kuarahkan tepat di wajah mereka. Sambil berjalan, satu persatu, seluruhnya, ”Pertandingan ini! Bukan pada menang dan kalah! Tapi berikan yang terbaik dari kalian! Keluarkan seluruh potensi dan kekuatan! Mimpi kalian, itulah kekuatan yang terbaik! Katakan semangat melalui tangan kalian!”

Aku menghulurkan tangan kananku, dimulai dari barisan pertama dari kanan, bukan! Tapi semua pemain baik utama dan cadangan berhambur ke depan, menumpuk tangan mereka tepat di atas tanganku.
”Semangat!” teriakan membahana, menggelegar bagai petir, itulah teriakan terkeras kami. Dan dunia melihatnya. Tim lawan terbengong melihat kejadian itu. Kawan, ini psywar, perang awal menurunkan mental lawan.

Dan tahukah kau, tim Cahaya menang 7:0, striker dibantu sayap kiri dan kanan, begitu bersemangat menggiring bola, Syahid menghadiahkan gol empat kali. Hasan bergulingan, tak peduli lagi tubuhnya yang remuk, kekuatan janjinya kupegang, tak akan membiarkan satu bola pun masuk! Tim lawan telah kelelahan, mereka tak sempat sekali pun menggunakan formasi lone ranger-nya. Saat pertandingan usai, Pak Panji telah raib dari lapangan sepak bola itu.

Kulihat wajah berbinar-binar Pak Danu! Dia mengepalkan tangannya kuat ke langit, menatapku penuh kemenangan. Pak Yusuf tersenyum padaku, kubalaskan kekalahanmu kawan. Bu Ria dan Bu Siska sangat cerah wajahnya, dan para siswa tersenyum di sela-sela napas yang memburu, di sela ketidakpercayaan bahwa mereka bisa menang dan menghancurkan mitos kalah tiap tahun. Mereka siap melaju ke pertandingan selanjutnya.

***

Ahad, final kompetisi sepak bola Kecamatan. Aku memilih Syahid sebagai kapten kesebelasan Cahaya, dan semua orang setuju.

Kemarin kami sempat melawan kembali Karya Mukti di perempat final. Pak Panji muncul lagi, dia berkeringat menatapku, dia langsung menggunakan formasi lone ranger dengan aba-abanya di awal pertandingan.

Formasi itu bagus, tapi mereka tengah berlawanan dengan kiper terhebat sepanjang sejarah Tim Cahaya. Kekuatan janjinya telah membuat tubuhnya demikian gesit, lompatannya mencapai gawang walau tubuhnya kurus, dia cekatan bagai beruk berayun-ayun. Tak ada bola yang sempat melewati dua meter di depan gawangnya. Tangannya yang luka terkena parut, semakin membuatnya kuat menangkap serangan bola seperti apa pun. Ini sudah kuperkirakan dari awal.

Lone ranger hancur, saat itulah, Tim Cahaya melancarkan serangan bertubi-tubi, dan posisi akhir pertandingannya adalah 8:0. dan lagi-lagi, Pak Panji hilang saat pertandingan usai.

Kembali lagi ke final ini, Kawan. Lawan Tim Cahaya kini adalah tim dari kecamatan sendiri, pemenang empat kali berturut-turut, setiap tahun minimal mereka mendapatkan juara satu atau dua.
Saat kedua tim berhadapan, tim dari kecamatan tampak heran karena mereka belum pernah bertemu dengan Tim Cahaya sebelumnya. Kedua tim sama-sama prima, sama-sama bersemangat! Bedanya hanya satu, tim lawan semangat karena tiap pertandingan mereka selalu menang, bukankah setiap kemenangan akan mengantarkan pada kemenangan selanjutnya, itu juga benar, Kawan. Dan Tim Cahaya semangat karena mimpi dan harapan mereka, lepas dari ikatan kalah, mereka berontak dari keterbatasan.

Pelatih tim Kecamatan, Sekolah Simpang, Pak Joko mengobarkan semangat menggebu-gebu, berteriak di hadapan para siswanya, bahwa mereka harus menang! Sontak, para penonton bersorak demikian ramai.

Giliranku.

Aku berjalan di depan para siswa pilihanku itu, mondar-mandir.
”Tak perlu kuulangi lagi apa yang kita inginkan,” aku tak berteriak, tetapi memelankan suaraku, sehingga membuat seluruh manusia di lapangan kecamata itu terdiam, mencoba mendengar gerangan apa kata yang kuberikan pada para  pemain.

”Aku tak perlu tanamkan apa-apa lagi pada kalian! Karena...” aku menatap langit, matahari semburat, menyinari wajahku, ”aku telah menyerahkan seluruh kepercayaanku pada pundak kalian! Tak akan kuajarkan strategi lagi, karena kalian lebih tahu apa yang harus kalian lakukan untuk meraih mimpi kalian!” aku berteriak sekuat tenaga. Aku berlalu meninggalkan mereka. Kini, kuserahkan semuanya pada kalian murid-muridku.

Kedua puluh anak itu maju ke depan, menyatukan seluruh tangan mereka. Aku berhenti, mereka terdiam melihatku. Aku berbalik, kutumpuk tanganku di atas tumpukan tangan mereka.
”Mimpi kami adalah menang!”

Sorak gempita berasal dari penonton dari desa Cahaya yang kuperhatikan demikian banyak. Ini pasti bujukan Pak Danu, bahkan seluruh pekerja parut kelapa libur kerja, mereka ingin menyaksikan pertandingan ini, inilah sejarah pertama Sekolah Cahaya masuk dalam pertandingan final. Bisa masuk final, sudah merupakan kebanggaan desa.

Aku minggir, dan pertandingan dimulai dengan bunyi peluit dari wasit. Saatnya aku beristirahat, kuserahkan seluruh kepercayaanku pada kalian, wahai murid-murid Cahaya.

Pertandingan dimulai, bola melambung, adu striker, adu sayap kiri, adu sayap kanan, pertahanan yang sama-sama kuat, semangat yang sama-sama prima, ketahanan fisik relatif sama. Bola terpelanting ke sana-ke mari, semua penyerang berebut mencetak gol, penjagaan di setiap tim begitu kuat sehingga Syahid kewalahan menerobos pertahanan musuh. Aku mulai tegang.

Seorang penyerang dari Sekolah Simpang, dan dua orang yang menyertainya. Mereka sangat lihai, jika kulihat gerakan mereka, mereka telah terlatih demikian lama. Kawan, back Cahaya tak bisa menahan permainan mereka, pertandingan hampir setengah main, tapi gawang Tim Cahaya terancam gol.

”Kau benar, Pak Arif.”
Aku menengok ke arah suara itu, Pak Joko, ”Mereka adalah pemain-pemain yang sangat terlatih, dan jujur kuakui satu hal padamu, striker utama timku itu adalah seorang pelajar sekolah menengah pertama. Dia alumni sekolah, tapi tak akan ada yang tahu! Dia adalah pemain terhebat yang pernah kulatih, kalian tak akan bisa menang!”

Aku menatapnya, dia melihat ke arahku. Aku tersenyum.
”Mengapa Anda tersenyum?” kini dia yang terlihat keheranan.
”Pak Joko, aku tak mau tahu apa-apa tentang kehebatan murid-murid Anda.”
”Apa maksud Bapak?”

”Kedua puluh siswa yang kulatih, baik utama maupun cadangan, tidak ada pemain terhebat atau terbaik. Tapi, mereka semua adalah yang terbaik.”

Dia bingung, lantas menolehkan pandangannya pada pertandingan itu. Sebenarnya, aku sangat gugup dan tegang, tapi jika sudah begitu aku tatap langit sejenak, dan ketenangan kudapatkan kembali.

Detik-detik setengah main yang mendebarkan, tiga penyerang tim lawan di depan gawang, satu tendangan di pojok dalam gawang, Hasan menangkap sekuat tenaga, tapi tertipu, bola bertolak ke gawang dan kembali kepada pemain di tengah. Inilah tendangan yang sebenarnya, dan... Hasan mati-matian mendorong gawang sehingga tubuhnya dapat terbang ke tengah untuk menangkis bola.

Tapi, lagi-lagi salah, kaki kanan penyerang kedua menendang kosong, kaki kirinya menyepak bola pelan ke arah kiri. Saat itulah penyerang ketiga langsung menendang, dan Hasan telah terjatuh tepat ketika bola masuk dari gawang di sisi kiri. Gol pertama untuk Sekolah Simpang.

Bunyi peluit, setengah permainan. Tukar tempat. Hasan menghampiriku, menunduk, wajahnya penuh debu dan kuusap debu di pipinya.

”Kau tak perlu merasa bersalah, setiap kali kau jatuh, itulah pengalamanmu untuk belajar dengan cepat dan menjadi terbaik. Kau paham! Jangan kecewakan Bapak untuk kedua kalinya, kau mau berusaha lebih keras?”

Wajahnya sumringah, dan mengangguk. Kelingking kami menyatu, bagai sebuah ikatan tak terbantahkan.

”Beberapa siswa ada yang putus asa, Pak,” Syahid melapor padaku.
”Kuserahkan semua padamu, kini, kau kapten kesebelasan. Aku percaya padamu, Hid,” cukuplah bagiku saat kulihat anggukannya. Menang dan kalah bukanlah segalanya. Kawan, kuberikan kau satu rahasia tentang tiga kekuatan ajaib di dunia ini, jika tiga hal itu ada, maka seseorang akan menjadi orang paling ajaib di dunia ini: cinta, rasa terima kasih, dan kepercayaan.

Pertandingan dilanjutkan.

Ketika kedua tim telah saling menyiapkan formasi, kulihat Syahid mengumpulkan teman-temannya. Strategi apa yang mereka gunakan? Syahid menatap teman-temannya, tepat di depan gawang, aku berada di belakang gawang.

”Teman-teman,” Syahid memelankan suaranya, ”Jangan kecewakan Pak Arif. Percayalah pada kekuatan kita, kita pasti menang! Jadikanlah bola itu bukan sebagai bahan perebutan, tapi jadikan bola itu sebagai sahabatmu yang tidak akan kalian biarkan terebut oleh lawan, jika bola itu sampai terebut, maka anggaplah kalian kehilangan seorang teman.”

Peluit dibunyikan, Tim Cahaya seolah mendapat suntikan baru, semuanya tersenyum penuh yakin, walau kalah satu poin. Mereka kini bekerja sama dengan baik, rapi, teratur, tak lagi mementingkan sendiri untuk mengutak-atik bola, mereka telah belajar lebih cepat dari yang kukira. Jika mereka menggiring sendiri, potensi terebut akan besar karena pihak lawan sudah sangat terlatih.

Bola dikuasai Tim Cahaya, operan cantik sering terjadi, mirip sekali dengan kesebelasan kelas internasional. Mendekati gawang lawan, sebuah operan tepat menuju arah Syahid, seorang lawan menghadangnya. Syahid cekatan, bola operan tinggi, dia meloncat. Tuhan! Lompat! Ya, Syahid lompat tinggi melewati lawannya, dan satu tendangan memutar di udara itu sangat mendebarkan, seluruh penonton dan pemain terbengong. Bola berputar demikian cepat, sang kiper tak menyangka, bola itu masuk melalui kedua kakinya yang terbuka. Gol kawan!

Kedudukan 1:1, permainan tinggal lima menit, mendebarkan. Tim Simpang menggiring bola, cara menggiring mereka sangat lihai, gesit dan cepat. Dan sampailah mereka berada dekat dengan gawang tim Cahaya. Satu tendangan kuat di luncurkan, back kehilangan arah, bola menuju pojok. Tapi tepat! Seperti beruk, Hasan melompat, bola itu tertangkap di tangannya.

Hasan belajar lebih cepat pula, ”Tak akan kubiarkan kalian melukai sahabatku!” bola dilemparkannya. Setiap tim Cahaya mendapat bola, dan melempar kepada yang lain, mereka berteriak, ”Tolong jaga temanku!” jadilah, lawan mereka heran, semua penonton lebih bingung. Syahid mengambil kesempatan, saat konsentrasi lawan lemah, dia menggiringnya.

Waktu tinggal sedikit, Syahid masih menggiring bola di tengah lapangan. Sempat ragu kakinya, jika dia menendang langsung kesempatan masuk adalah fifty-fifty. Karenanya, semua lawan menghadangnya dengan cepat setelah beberapa kali mengetahui kekuatan tendangan jauh Syahid.
Tak ada waktu lagi Syahid! Aku tegang. Waktu sangat mepet. Dan tendangan diluncurkan, semua lawan maju ingin menghadang bola, tapi arah mereka salah. Syahid memberikannya pada Syamsul, pemain cadangan yang baru masuk, yang berada di dekat gawang lawan sebelah kiri.

Kenapa kau berpikir seperti itu Syahid? Aku heran. Waktu tinggal beberapa detik saja saat bola melayang ke arah Samsul. Samsul tersenyum, dan ketika waktu mendekati akhir, sebuah sundulan itu terlaksana dengan baik. Dan... gol terjadi saat detik paling akhir. Dan, gol masih diterima karena waktunya masih ada.

Samsul dipeluk teman-temannya, aku terdiam kaku di tempat berdiriku. Aku terbengong, Kawan. Semua penonton masih bengong, semua tak menyangka. Sekolah Cahaya memenangkan final. Wajah Pak Danu menyala bagai bara. Dan saat peluit tanda berakhir dibunyikan, jadilah gegap gempita terjadi. Aku tersadar, kuhampiri Syahid yang berdiri. Sedang yang lain tengah mengerubungi Samsul.
”Syahid, permainan yang bagus. Super, kau tahu apa yang harus kau lakukan. Dan tentang bola sebagai sahabat. Kau punya ide dari mana?”

Syahid tersenyum padaku.

”Kau sahabat, Bapak bukan seperti seorang guru, tapi sahabat bagi para murid. Itulah inspirasiku.”

Sahabat? Aku dianggapnya sahabat?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar