Ada kebiasaan unik di Desa
Cahaya. Kebiasaan ini bermula dari cerita rakyat tentang Malin Kundang dari
Pulau Sumatera. Kau tahu kawan, pulau Sumatera yang berukuran 473.604.000 km2
adalah salah satu dari pulau terbesar di dunia; masuk sepuluh besar peringkat
dunia, tepatnya di urutan keenam setelah pulau Balfin di Kanada 476.067.000 km2,
dan sebelum pulau Honshu di Jepang 203.315.000 km2.
Cerita tentang Malin
Kundang yang berasal dari keluarga miskin, merantau dengan menaiki perahu
seorang saudagar kaya. Akhirnya Malin Kundang menikah dengan anak gadis si
saudagar kaya, tapi ketika sudah kaya, Malin Kundang durhaka kepada Ibunya,
hingga di akhir cerita Malin Kundang dikutuk menjadi batu. Cerita itu mengakar
kuat dalam khasanah kisah desa Cahaya. Diceritakan turun temurun, dari orangtua
kepada anak, terus-menerus.
Makanya, entah siapa yang
memulai, setiap akhir bulan selalu ada acara sejenis pengajian atau hanya
semacam kenduri, bertempat di Balai Desa yang juga Balai Sekolah yang sudah reot.
Masyarakat berkumpul penuh hikmat mendengarkan petuah-petuah dari seorang yang
diundang khusus dari Kecamatan, para kyai, berapa pun bayarannya.
Seperti pagi ini, acara
telah dipersiapkan seperti biasanya. Bertepatan dengan hari senin, maka setelah
upacara bendera. Sekolah tiba-tiba diliburkan, anak-anak diwajibkan mengikuti
acara tersebut. Kisah Malin Kundang akan diceritakan kembali oleh sang narasumber
dengan versinya sendiri, yang penting substansinya sama, menghormati ibu dan
bapak.
Balai Sekolah tak akan
cukup, maka bagian belakang ke arah selatan yang temboknya kayu dipreteli.
Terbuka, maka jadilah memanjang, karena bagian sampingnya adalah jendela yang lebar-lebar
jadi tidak bermasalah. Kursi ditata rapi, di luar balai hanya beratapkan
pepohonan rindang, hanya sela-sela kecil daun yang menyorotkan cahaya matahari.
Sebenarnya bukan itu yang
ingin kubahas. Tapi hari ini pematerinya adalah aku, dan itu pun mendadak. Namaku
disandingkan begitu penting setelah kemenangan sepak bola di Kecamatan kemarin.
Satu piala kini bertengger di kantor guru. Setiap hari, Pak Danu selalu
menimang dan mengelapnya. Kawan, itulah sebabnya Pak Danu yang memintaku
mengisi acara ini. Aku akan mengisi tentang kisah orangtua, terutama ibu. Judul
materi dadakan ini adalah tentang seikat bunga.
Kupakai baju kemeja, salah
satu pemberian Bu Siska. Para guru duduk di depan, aku bersebelahan dengan Bu
Siska. Tuhan, jantungku berdetak lebih cepat. Aku grogi.
”Sudah kau persiapkan
materinya, Pak Arif?”
Lembut, tapi dia sama
sekali tak melihat ke arahku, pandangannya lurus melihat dua anak yang tengah menggelar
taplak di meja depan.
”Sudah, tapi jujur, aku
masih gemetaran. Oya Bu Siska, aku menemukan sesuatu dari kemeja yang kupakai
ini.”
”Benarkah?” Bu Siska
menoleh ke arahku, tatapannya heran, “Itu baju almarhum Ayahku Pak.”
Aku mengeluarkan kertas dari
dompetku, kuberikan padanya. Bu Siska menerimanya dan membacanya, ada kerut di
dahinya.
“ Keluarga bu Siska punya jiwa
seni.”
”Maksud Pak Arif?”
”Kata-kata itu, dia adalah
pemuja ilmu,” kulihat ada kebanggaan terpancar dari sorot matanya.
”Tapi, aku tak tahu maksud
tulisan ini.”
”Kalau aku boleh
berargumen, tulisan itu bukanlah tulisan Ayah Bu Siska. Tinta yang digunakan
adalah tinta celup, tulisan tampak lebih besar, menggunakan semacam kuas kecil.
Mungkin saja, Ayah Bu Siska mendapatkannya dari orang lain atau mungkin dari
kakek Bu Siska. Dilihat juga, kertas itu adalah buatan tahun-tahun sekitar kemerdekaan
Indonesia. Tentu saat itu, ayah Bu Siska masih kecil atau mungkin belum lahir.”
Bu Siska menatapku serius.
”Bisa jadi demikian,
analisis Anda begitu bagus. Tapi tetap saja, aku tak mengerti maksud tulisan
ini. Apakah Pak Arif mau menguak maksud tulisan ini? Itu pun jika Pak Arif tak
keberatan.”
”Baiklah akan kucoba, akan
kuberitahu jika aku sudah memahaminya,” kertas itu dikembalikan padaku. Acara
dimulai, peserta berjubelan penuh, ada yang tak kebagian tempat duduk. Pak
Lurah duduk di depan beserta puterinya. Kang Mukhlis ikut hadir, tapi duduk di
tengah.
Aku maju ke depan setelah
dipanggil MC. Kuucapkan salam.
”Sejarah akan terus hidup
manakala ada orang yang menceritakannya, seperti itulah kehidupan ini. Akan
terus ada, manakala ada dua kata: ayah dan ibu. Namun, tak bisa dipungkiri,
peran ibulah yang paling penting dalam sistem sejarah kehidupan. Susah payah
dalam mengandung, penuh pengorbanan hingga nyawa sebagai taruhan. Akan saya ceritakan satu kisah singkat tentang
sebuah kisah, arti sebuah cinta. Arti kata lembut, untuk seorang ibu.”
Kawan, aku menatap langit.
Kasih sayang ibu? Aku hanya pernah melihat lapisan dalam perutnya, aku
disuapinya selama sembilan bulan dalam rahimnya, setiap makananan dibaginya
tanpa perhitungan. Kawan, itulah kasih sayang ibu padaku, aku lahir dan beliau
meninggal. Bahkan, aku tak mengetahui di mana letak kuburnya. Aku meneruskan
pidatoku.
”Inilah kisah tersebut.
Ada seorang pria berhenti di toko bunga untuk memesan seikat karangan bunga
yang akan dipaketkan pada sang Ibu melalui jasa pengiriman. Jarak tempat
tinggal ibunya adalah 150 Km. Begitu ia turun dari motornya, dia melihat
seorang gadis kecil berdiri di atas trotoar jalan di depan toko bunga, gadis
kecil itu menangis tersedu-sedu.
Pria itu menanyainya
kenapa menangis. Gadis kecil itu menjawab, ’Saya ingin membeli setangkai bunga
mawar untuk ibu saya, khusus untuknya dan berwarna merah. Tetapi saya hanya
mempunyai uang lima ribu saja, sedangkan harga mawar itu sepuluh ribu.’
Pria itu lantas tersenyum,
’Ayo ikut denganku, aku akan membelikanmu mawar merah, bunga yang kau mau, khusus
untuk ibumu.’ Kemudian ia membelikan gadis kecil itu setangkai mawar merah,
sekaligus membeli karangan bunga untuk ibunya, lalu menuju tempat jasa
pengantaran barang.
Ketika selesai, gadis
kecil itu masih bersamanya. Pria itu menawarkan diri untuk mengantar gadis
kecil itu pulang ke rumah dan memberikan bunga itu secepatnya kepada ibu si
gadis kecil. Gadis kecil itu melonjak gembira, katanya, ’Ya, tentu saja.’
Kemudian mereka berdua
menaiki motor dan melaju. Mereka menuju tempat yang ditunjukkan gadis kecil
itu, yaitu pemakaman umum, gadis itu lalu meletakkan bunganya pada sebuah nisan
kuburan yang masih membasah, terlihat gemburnya masih baru.
Melihat hal itu, hati pria
yang mengantarkan gadis kecil itu trenyuh dan teringat sesuatu. Bergegas, ia
kembali menuju tempat jasa pengiriman, dan membatalkan pengiriman karangan
bunganya walau uangnya tak bisa kembali. Dia tak peduli. Ia memegang kuat
karangan bunga itu, dicium penuh cinta dan air matanya menetes dalam karangan
bunga itu. Dia mengendarai sendiri motornya sejauh 150 km, menuju rumah ibunya,
tak peduli apa pun. Hanya ingin menyerahkan karangan bunga itu padanya, pada ibu
yang telah mengajarinya banyak hal.
Bapak-bapak, ibu-ibu
sekalian, anak-anakku yang kucintai. Sungguh, belum terlambat untuk mencintai
wanita yang paling berjasa pada kita. Walau dia sudah meninggal. Kusebut kalian
semua sahabatku, kukatakan sahabat, tidak ada kata terlambat bagi orang yang
sudah terlambat. Berikanlah tanda cinta dan ketulusan kita, seolah dengan itu,
kita akan tulus menjaga mereka, sampai ajal benar-benar datang.”
Semua hadirin terdiam, ada
yang menangis, meneteskan air matanya. Tanpa terasa, air mataku menetes.
”Sahabatku, tidak ada kata
terlambat. Sekarang juga, sebelum matahari tegak di atas kepala kita. Ungkapkan
cinta dan ketulusan pada mereka, dengan apa pun. Karena mereka menunggu
ungkapan cinta itu, sungguh. Tak usah banyak kata, ungkapkanlah sekarang juga.
Sungguh, sekaranglah waktunya, pergilah sahabat-sahabatku!”
Aku sedikit menekankan
kata-kataku. Seorang lelaki, berdiri di barisan tengah, dia menatapku dalam, air
matanya menetes.
”Kau benar Pak Arif,
sekaranglah waktunya,” dia berjalan di antara sela-sela duduk orang, dia keluar
dan mengendarai sepedanya. Semuanya terbengong, dan tiga orang berdiri, empat
orang lagi, dua orang lagi, terus bertambah. Mereka menatapku dalam, lalu pergi
meninggalkan tempat itu.
Bu Siska berdiri, ”Aku
akan ke pemakaman, Pak Arif.”
Aku mengangguk.
Seluruh siswa satu-persatu
pergi, Pak Lurah, Kang Mukhlis telah tiada. Air mataku menetes, satu sampai di
daguku. Sepi kawan, di Balai Sekolah tak ada orang lain selain diriku. Tak ada
kata terlambat, aku berdoa dalam hati, untuk ayah dan ibuku yang wajahnya pun
belum pernah kutemui.
Kutatap semua tempat
duduk, tak ada orang lain lagi. Hanya di jalan sana, orang lewat begitu banyak,
mereka membawa bunga, apa saja, bunga kamboja, melati, mawar, hingga bunga
sepatu. Kurasa, seluruh penduduk desa Cahaya tengah memberikan bunga pada
orangtua mereka.
Salah! Persepsiku salah
lagi. Seorang wanita berjalan masuk, gemulai menunduk wajahnya. Wanita itu
memakai baju hijau muda, anggun, sangat cerah, rambutnya tergerai halus sehalus
kulit wajahnya. Di kedua tangannya, ada sekuntum bunga mawar pink. Langkahnya
pelan, ke depan, ke arahku. Tanpa kata, dia mengulurkan bunga mawar pink itu
padaku. Sorot matanyalah yang menjadi wakil ucapannya, betapa sorotnya
memintaku dengan sangat menerimanya.
”Untukku?”
”Iya, Kak.”
Aku menerima bunga itu,
saat kuambil bunga itu, senyumnya terlihat begitu segar.
”Kenapa untukku?”
”Ibuku telah meninggal,
Ayah kini sedang berdua bersamanya di kuburan. Bunga ini untuk Kakak, karena
mengembalikan cinta Ayah yang telah lama hilang. Serta, bunga ini adalah terima
kasih dari seluruh warga Cahaya.”
Wanita itu berbalik
meninggalkanku, langkahnya tetap anggun. Kawan, dialah bunga desa itu, Indah
Isnaintri, dia memang lahir hari senin, dia juga anak ketiga. Karena anak
pertama Pak Lurah meninggal ketika baru lahir, dan anak kedua meninggal di
hutan lindung.
Hari itu, seluruh
masyarakat Cahaya tumpah ruah, saling mengungkapkan cintanya. Anak-anak sekolah
memberikan kecupan kepada ibunya. Seorang suami memberikan bunga kepada
isterinya, seorang anak memberikan baktinya dengan ungkapan-ungkapan cintanya
masing-masing. Desa Cahaya mulai hari ini, diselimuti cinta, seluruhnya.
Not Comments Yet "Bagian 24, Bunga Untuk Wanita Suci"
Posting Komentar