Hari
ini tak ada kuliah. Kusempatkan sehari ini aku di Masjid Pesantren, belajar.
Pikiranku sebentar melayang sejenak. Lintasan menikah begitu kuat sebenarnya
membuncah. Ustadz Arifin bercerita sewaktu menikah dulu belum punya rumah
apalagi kendaraan, masih menjadi marbot Masjid atau ustadz Ilham yang
menikahnya sewaktu kuliah sehingga dia harus KKN – kuliah kerja nikah – tapi Allah tidak pernah membuat
mereka kekurangan. Apakah sudah saatnya aku menikah? Aku kadang diundang untuk
mengisi walimatul ursy, tapi kenapa
aku sendiri belum melangkah? Lamunanku membuyar saat Ustadz Umair memanggilku
di luar Masjid setelah beliau shalat Dhuha. Aku keluar masjid, kulihat Ustadz
Umair duduk dengan seorang yang sebaya dengannya memakai kacamata. Aku
mengucapkan salam kepada mereka.
”Ini yang namanya Ali.
Dia santri disini,” Ustadz Umair memperkenalkan namaku.
”Nama
Bapak Hamdan, lengkapnya Hamdan Al-Faruq,” lelaki itu mulai mengenalkan
dirinya, ”Saya dan Umair bersahabat ketika kami sama-sama belajar di Mesir.
Saya juga memunyai Pesantren di Aceh, namanya Ulul Albab,” lelaki itu begitu
ramah seperti Ustadz Wahid. Kami berbincang-bincang akrab. Aku tidak merasa
canggung berdiskusi dengan mereka. Pak Hamdan baru saja datang dari Aceh.
”Ali” Pak Hamdan
memerhatikanku teduh, ”Bagaimana menurutmu tentang suami yang menyakiti
istrinya? Sampai sebatas manakah suami itu dapat memukul isterinya? Bagaimana
pendapatmu?”
Aku
berupaya menjelaskan sebisaku, ”Allah berfirman, “... Wanita-wanita yang kamu kuatirkan nusyuz-nya
(meninggalkan kewajiban bersuami-istri. Seperti meninggalkan rumah tanpa izin)
maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka dari tempat tidur dan pukullah
mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan
untuk menyusahkannya. Sesungguhnya allah Mahatinggi lagi Mahabesar.” dalam ayat tersebut Allah ’Azza wa Jalla
memang mengizinkan suami memukul isterinya namun pada isterinya yang
membangkang. yang harus dilakukan pertama kali oleh seorang suami adalah
menasehatinya, jika belum berubah suami dapat memisahkan tempat tidurnya dengan
isteri. jika memang bebal maka diambil langkah selanjutnya yaitu memukul. namun
memukul tidak boleh memukul muka dan tidak boleh menyakitkan –ghairu mubrah-, seperti nabi Ayyub as.
yang memukul isterinya dengan pelan dengan lidi karena isterinya menjual
rambutnya, seperti yang diungkapkan Al Qurthubi dalam kitab tafsirnya.
Al
Qurthubi menyebutkan ketika bertanya pada Ibnu Abbas, ”Apa yang dimaksud
pukulan yang tidak melukai?” jawab Ibnu Abbas : ”Pukulan menggunakan siwak.”
pukulan
itu ditujukan hanya untuk mengingatkan sehingga tidak akan terasa sakit sama
sekali. Rasulullah saw bersabda tentang
seorang suami yang memukul isterinya, ”Ali ra. menuturkan bahwa isteri Walid
Ibnu Uqbah datang kepada Nabi seraya berkatra, ’Ya Rasulullah, sesungguhnya
Walid memukulku.’ Rasulullah bersabda, ’Katakanlah bahwa Rasulullah saw telah
melindungi aku.’ tidak lama setelah itu maka wanita itu kembali seraya berkata,
’Walid makin banyak memukulku.’ Maka beliau saw mengambil sebagian kain dari
bajunya dan diserahkan kepada wanita itu untuk diserahkan kepada Walid seraya
berpesan, ’Katakanlah kepada Walid bahwa aku melindungimu.’
Ketika
wanita itu datang lagi dan mengadukan perlakuan Walid kepadanya untuk ketiga
kalinya, maka Beliau saw mengangkat kedua tangannya seraya berdo’a, “Ya Allah,
sesungguhnya Walid telah menyakiti aku sebanyak dua kali, maka ia kuserahkan
kepada-Mu
apakah seorang suami atau lelaki ada
yang berani menantang Rasulullah saw, dan menyakitinya? padahal begitu cintanya
seorang Muslim kepada beliau melebihi dirinya sendiri. kehormatan Nabi saw
ketika hidup dan sesudah wafat posisinya masih sama karena Sabdanya sampai
sekarang mempunyai hukum mutlak. Maka akankah seorang suami tenteram jika
didoakan seperti itu oleh Rasulullah saw.
”Lalu, Bagaimana
menurutmu tentang bid’ah?’
Diskusi yang menarik
walau terlihat seolah mengetesku, ”Tentu saja jika menilik secara luas, ia
mencakup segala hal yang baru. Termasuk yang disebut Ibnu Taimiyah rahimallah
sebagai ’Perbuatan yang seharusnya dilakukan pada zaman Nabi saw dan tidak
ada larangan dari beliau untuk melakukannya di zaman itu, tetapi baru dilakukan
pada zaman sepeninggal beliau.’ Contohnya adalah penghimpunan Mushaf
Al-Qur’an atau misalnya lagi yang dilakukan di masa ’Umar ra. hal itu yang
sempat dilarang Rasulullah yaitu shalat tarawih berjamaah. Ini tidak termasuk
bid’ah yang dilarang syariat. Umar ra. berkata, ’Sebaik-baik bid’ah adalah
ini,’ tentu maksudnya bid’ah secara keseluruhan.
Bid’ah haqiqiyahlah
yang harus dihilangkan. Kemudian ada bid’ah idhafiyah yaitu segala sesuatu yang akarnya disyariatkan
tetapi sifatnya tidak seperti shalat nishfu sya’aban, asalnya sholat adalah
disyariatkan tetapi disesuaikan dengan waktu khusus dan tatacara tersendiri
yang tidak ada tuntunannya juga tertolak. Ada bid’ah tarkiyah
juga akan tertolak semisal meninggalkan menikah karena ingin beribadah secara
total, atau meninggalkan tidur untuk beribadah sepanjang malam. Ada juga bid’ah
iltizam, yaitu mengkhususkan ibadah-ibadah yang sebenarnya tidak
ditentukan tatacara dan waktunya namun mereka melakukannya agar dapat komitmen
menjalankan ibadah itu, misalnya dzikir yang ditentukan jumlahnya, istighfar
atau shalawat Nabi. Ada kata mudah untuk menyelesaikan perdebatan tentang
bid’ah yang dari zaman tabi’in hingga sekarang masih belum selesai,” aku diam
sejenak.
”Apa itu?” Pak Hamdan
merasa penasaran.
”Sebuah kata yang
ringan dan mudah, ’Beringan-ringan melakukan sunnah adalah jauh lebih baik
daripada berpayah-payah dengan bid’ah’
bukankah dengan begitu setiap amalan kita sesuai syariat. Kenapa berpayah-payah
dalam urusan yang tidak jelas padahal amalan sunnah begitu banyak yang belum
kita kerjakan,” mereka membenarkan kata-kataku. Kami berdiskusi tentang apa
saja, bahkan juga tentang hubungan suami-istri. Aku memang belum pernah, tapi
aku sudah banyak melahap buku tentang nikah jadi sedikit-sedikit aku nyambung.
Nikah? Siapakah bidadariku yang masih kau tutupi dalam tabirmu ya Allah? Aku
tak berani memilih, biarlah Engkau yang menunjukkan sendiri ya Allah.
”Bisa kau antarkan aku
ke Asrama Ali? Anakku disana, aku sendiri belum pernah kesana,” Ustadz Umair
menganggukkan kepalanya kearahku. Mengizinkanku.
”Insyaallah, dengan senang hati Tadz.”
Aku mengganti bajuku
sebentar di kamar lalu keluar kembali mengantar Pak Hamdan ke Asrama Mahasiswa.
Kami naik bikun sambil mengobrol
banyak hal, kami berasal dari pulau Sumatera jadi sudah merasa cocok dari awal.
Kami turun di Asrama, tempat pertama kali aku tinggal di Depok dulu. Aku hendak
pamitan tapi Pak Hamdan mencegahku, ”Kau pasti terkejut siapa anakku. Dia kenal
denganmu,” beliau tersenyum dan mengambil Hp-nya. Suara percakapan lirih lalu
hubungan terputus. Dia memintaku menunggu sejenak. Seorang wanita berjilbab
keluar dari pintu Asrama Putri, sekilas aku kenal. Ya, dia Wanda Hamidah. Jadi,
pak Hamdan adalah ayahnya?
Wanda mengecup
punggung tangan ayahnya. Alangkah indah pertemuan, begitu rindunya aku pada
Bapak dan Ibuku di Lampung. Kami berbincang sejenak, saat matahari mulai berada
di ubun-ubun, aku pamitan. Aku langsung menuju Masjid, dzuhur sebentar lagi.
Wanda? Diakah bidadariku? Yang tabirnya masih Kau tutupi. Wanita bermata lentik
dan berhidung bangir itu? Aku tak berani berharap lebih, apalagi dia adalah
seorang putri pemilik Pesantren di Aceh. Seolah menunggu hujan emas yang tak
akan pernah jatuh.
Kembali lakon hidupku
dimulai. Setelah dzuhur, aku bekerja kembali. Kerja bagiku adalah ibadah.
Meniatkan untuk dapat berinfak, menghindari dari meminta-minta kepada
makhlukNya, mempersiapkan biaya untuk naik haji, memberi makan fakir miskin,
membantu biaya sekolah Fadli sementara, untuk persiapan nikah. Nikah? Kenapa
kata-kata itu seolah selalu muncul tanpa kupersiapkan? Allah, jagalah hatiku
agar selalu bersinar dalam naunganMu. Sore hari aku kembali ke Pesantren,
Syahid mengatakan aku ditunggu seseorang, katanya teman Ustadz Umair. Berarti
Ustadz Hamdan. Aku segera mandi, nanti insyaallah ketemu. Pukul 17,30
aku ke masjid sambil menunggu maghrib tiba, kuambil mushaf pemberian Sinta.
Masih bagus hingga kini.
Sebuah senyum
menyambutku, pak Hamdan. Dia mengajakku bicara empat mata di samping kolam.
”Kau tahu anakku, apa
tujuanku kesini,” aku hanya menggelengkan kepalaku, ”Seorang temanku di Aceh,
temanku sejak kecil tepatnya. Dia melamar putriku untuk putranya yang baru
pulang belajar dari Malaysia,” pandangannya menatap tajam, ikan yang menghirup
udara segar ke permukaan. Bibirnya bergerak kembali, ”Itulah masalahnya, Wanda
tidak mau menikah dengan pemuda pilihan ayahnya, padahal dia juga belum pernah
bertemu dengan pemuda pilihanku. Dia adalah anakku satu-satunya,” ada kesedihan
dalam makna setiap katanya.
”Mungkin Wanda
mempunyai alasan?”
”Itu dia,” aku sedikit
kaget, ”Tadi dia telah terus-terang pada ayahnya, dan kami membuat kesepakatan.
Ternyata dia telah mencintai seorang pemuda di Depok, dia sangat ingin menikah
dengan pria itu. Dia ingin aku yang melamarkannya, jika pria itu tidak mau,
maka dia akan menuruti kata-kataku untuk menikah dengan pemuda pilihanku,”
pandangannya masih menembus air di kolam.
”Berarti masalahnya
sudah selesai, hanya tinggal menyelesaikan kesepakatan itu,” aku berkomentar,
kami merasa sudah akrab. Sama-sama dari Sumatera.
”Itu masalahnya!” aku
semakin penasaran, ”Kau tahu siapa pilihannya?”
Aku menggelengkan
kepalaku.
”Dia itu kamu,”
matanya menatapku, namun aku tak tahu apa maknanya.
Aku? Kiamatkah dunia?
Atau sudah gilakah dunia? Aku? Aku tersenyum tanpa tahu arti senyumku sendiri,
”Aku Pak?,” aku menunjuk dada dengan telunjukku, ”Ternyata selera humor Bapak
bagus juga,” aku tersenyum lembut.
”Kaupikir aku bercanda
anakku?” matanya kini terlihat tenang dan serius. Aku tak kuasa tersenyum,
semua bungkam seperti ikan yang bungkam dalam ketenangan air. Hening tak ada
suara, hingga adzan maghrib yang akhirnya mengakhiri percakapan kami. Dia
menunggu jawabanku seminggu lagi, karena dia akan tinggal di Depok selama satu
minggu, di Pesantren. Pak Hamdan menyerahkan biodata Wanda agar kupelajari.
Allah, sekali lagi aku datang padaMu. ’Jadikanlah hatiku cahaya.’
Saat malam. Belajar
Tafsir kepalaku benar-benar pusing. Aku tak bisa konsentrasi. Saat kajian
ditutup aku lega. Kajian tadi benar-benar susah kupahami karena keadaan
pikiranku yang sedikit kacau. Saat akan ke kamar, Samsul memanggilku, dia
bilang aku dipanggil Syaikh Wahid di Masjid. Kebetulan, aku bisa meminta
pendapat dari beliau. Senyum teduhnya menyambut kedatanganku yang kuyuh.
”Kau terlihat
mengantuk. Wudhulah dulu, lalu shalat dua rekaat,” aku mengikuti ucapannya.
Bukankah hati orang yang beriman hanya akan tenang dengan mengingat Allah? Aku
shalat dua rekaat dengan memohon ketenangan dan mendatangi Ustadz Wahid
kembali. Beliau mempersilakanku duduk.
”Sekarang kau sudah
siap?” aku menganggukkan kepalaku.
”Sebelumnya agar kau
tidak bingung aku akan bercerita sejenak. Aku mempunyai seorang kakak kandung.
Beliau mempunyai empat orang anak. yang unik, dia melimpahkan semua
tanggung-jawab akan hak pernikahannya padaku. tiga orang anaknya telah
kuusahakan mencari jodohnya, hanya Allah yang Maha Menentukan sedangkan kita
hanya berikhtiyar,” mata teduhnya menatapku sejenak, ”Masalahnya kini anaknya yang
keempat memintaku mencarikan jodoh untuknya, terlepas nanti apakah jadi atau
tidak. Manusia hanyalah berupaya.”
”Ustadz memintaku
membantu mencarikan jodoh untuknya?”
”Tepat. Saya
membutuhkan bantuanmu,” ustadz lembut itu menepuk pundakku. Apapun jika yang
meminta tolong Ustadz Wahid, apapun akan kulakukan.
”Dia itu perempuan
atau laki-laki tadz? Terus kriteria yang diinginkannya apa saja? Dia mencari
yang seperti apa?” aku memberondong Ustadz dengan beberapa pertanyaan, aku
begitu semangat. Kulihat senyum simpul darinya, legalah hati ini.
”Keponakanku itu
wanita. Kriterianya terserah padaku, yang jelas dia bisa membimbingnya menuju
jalan Allah. Akhlaknya diutamakan,” Ustadz tersenyum.
”Sulit jika
kriterianya tidak jelas Tadz. Sesuatu yang umum akan sulit dicari,” aku mencoba
berargumen.
”Aku sudah
menemukannya, hanya tinggal menunggu kesiapannya. Dan langsung ta’aruf
langsung antara kedua belah pihak.”
”Berarti tidak ada
masalah. Lalu, apa yang bisa kubantu Tadz?”
”Ehm..., apakah engkau
sudah siap untuk menikah?”
”Menikah? Saya Tadz?”
Ustadz meminta jawabanku, ”Aku hanya orang miskin. Untuk kuliah saja aku harus
berhemat, karena itu dari hasil kerjaku. Jika Allah, berkehendak
mempertemukanku dengan jodohku. Aku akan menerimanya.”
”Alhamdulillah, berarti hanya tinggal proses ta’arufnya saja.”
Aku tidak mengerti,
”Maksud Ustadz?”
”Saya ingin
menjodohkannya denganmu Ali,” seolah gempa kembali terulang. Dua orang besar
yang melamarkan seorang bidadari untukku, hari ini. Ya Allah..., padahal pagi
tadi aku berujar dalam hatiku, ’Apakah sudah saatnya aku menikah?’ ternyata
kau buka pintu-pintu kearahnya. Masyaallah, alangkah cepatnya engkau
menetapkan sesuatu. Alangkah cintanya Engkau pada hambaMu. Saat pamitan hendak
ke kamar, Ustadz Wahid memintaku shalat istikharah, dan meminta izin pada
orangtua dulu. Dia menyerahkan map, kata beliau biodata keponakannya.
Malam ini adalah malam
yang meresahkan seumur hidupku. Tak lelap tidurku, aku bahkan tak bisa
memejamkan mataku. Kupaksa, tetap tak bisa. Tak kubawa dua map yang membuatku
resah. Aku menuju Masjid, akan kuadukan semuanya padaMu Allah. Biarlah
keputusanMu yang akan berkehendak.
Setelah shalat istikharah
aku mengadukan semuanya pada Allah. Aku tak kuasa membuka selembarpun biodata
itu, aku teringat hadits Rasulullah saw, ”Janganlah kamu menikahi wanita
karena kecantikannya ; karena mungkin saja kecantikan itu membuatnya hina.
Janganlah kamu menikahi wanita karena hartanya ; karena mungkin saja hartanya
akan membuatnya melampaui batas, nikahilah seorang wanita karena agamanya.
Sebab, seorang budak yang shalihah meskipun buruk ruwanya adalah lebih utama.”
aku tak kuasa menatap foto, jika di dalam biodata ada. Aku sedikitpun tak
berani membukanya.
”Ya Allah,
sesungguhnya aku memohon kepadaMu pilihan dengan ilmuMu, memohon kekuatan
kepadaMu dengan kuasaMu. Aku memohon anugerahMu yang agung. Sesungguhnya hanya
Engkau yang kuasa, sedangkan aku tidak. Hanya Engkaulah yang mengetahui,
sementara aku tidak. Engkau Maha Mengetahui rahasia yang ghaib. Ya Allah, jika
Engkau mengetahui mana yang baik bagiku dalam urusan agama, kehidupan dunia,
dan kesudahan urusanku, maka tetapkanlah dia bagiku, mudahkanlah dia untukku,
kemudian berikanlah berkah untukku dalam urusan dengannya. Dan, jika Engkau
mengetahui bahwa mereka buruk bagiku dalam urusan agama, dunia dan kesudahan
urusanku, maka palingkanlah mereka dariku dan palingkan aku darinya. Tetapkan
bagiku kebaikan apapun, kemudian ridhailah aku.”
Allah, pilihkan untukku jika di antara mereka memang jodohku dan tetapkanlah
waktunya sekehendakMu. Jika aku yang tak pantas untuk mereka, maka tahanlah
mereka dariku..., aku tak kuasa memilih kecuali atas petunjukMu. Amiin.
Pukul 02.30, aku mulai
lebih tenang. Aku rebahan membaca doa dan tidur di Masjid. Aku harus bangun
untuk shalat malam. Kuhidupkan alarm di Hp. Mataku menutup.
* *
*
Dimana aku? Aku
terduduk di ranjang empuk berhiaskan kemilau pita dan bunga-bunga nan indah.
Ini seperti kamar pengantin. Pintu terkuak, sesorang masuk. Pak Hamdan? Dia
mengucapkan salam. Masuk dan tersenyum padaku, lalu pamitan pergi meninggalkan
kamar. Aku bingung, pintu terkuak kembali. Ustadz Wahid masuk dan mengucapkan
salam. Beliau tersenyum dan pamitan pulang, aku semakin bingung. Saat kuhendak
keluar melalui pintu itu, seseorang masuk lagi ke kamar. Dia mengucapkan salam.
Aku kaget, aku hafal betul siapa pemilik suara itu.
Bapak?
Aku ingin memeluknya karena rinduku membuncah. Niatku kuurungkan, seseorang
wanita muncul dari belakang Bapak, wajahnya tertutupi selendang hingga hanya
matanya yang bening saja yang terlihat begitu indah. Aku semakin bingung, Bapak
tersenyum lalu memegang tangan wanita itu dan memperlihatkan sesuatu untuk
kulihat. Sebuah ukiran dalam jemarinya. ”Cincin berbentuk bulan”
”Pak, dia isteriku?”
malam zafaf yang indah, ”Bolehkah kubuka tudung kepalanya yang menutupi
wajahnya? Agar aku bisa menikmati wajahnya.”
”Bersabarlah Nak,
sekarang belum saatnya. Masih banyak hal yang harus kamu persiapkan terutama
hatimu,” Bapak menunjukkan telapak tangannya, tepat di dadanya.
”Tit..., Titt..., tiit
tiit tiit,” suara menggema dari Hp 3315 ku yang semakin keras membangunkanku
dari mimpi. Alhamdulillah, aku mematikan alarmnya. Astaghfirullah,
sudah limabelas menit alarm berbunyi. Sekarang pukul 03.30, tadi kuhidupkan
pukul 03.15. terima kasih ya Allah, Kau beri kesempatan padaku untuk kembali
mengumpulkan bekal untuk bertemu denganMu.
Not Comments Yet "Part 26, Diakah Bidadariku?"
Posting Komentar