Part 2, Kemampuan yang Tersembunyi
Pulang
sekolah tidak seperti biasanya, Ihsan tidak langsung pulang untuk menjaga
adik-adiknya, tapi berlari ke rumah Pak Bayan Yadi, tempat mbak Fatimah
dan Ningsih praktek penyuluhan. Burung Darsih bernyanyi riang mengiringi
setiap langkah Ihsan, menambah kobaran semangat untuk semakin melaju dengan
ayunan angin. Erat tangannya masih memegang baskom plastiknya.
Setelah
mengucapkan salam, terlihat ada seorang ibu yang sedang memeriksakan diri pada
mbak Fatimah, Fatimah membalas salam dan tersenyum kepada Ihsan yang terlihat
ngos-ngosan, pucat. Ihsan langsung bertanya keberadaan mbak Ningsih, ketika
Fatimah menjawab di kamar sedang mengambil stetoskop,
Ali menghambur ke kamar dengan sisa kekuatan yang dimilikinya.
Ali
menunggu di luar kamar, hingga Ningsih keluar dari kamar sambil memegang
stetoskop, “Mbak, tolong jelaskan pada Ihsan, bagaimanakah terjadinya hujan dan
salju?”
Ningsih
merasa kaget, namun senyumnya segera mengembang, “Baiklah, tapi ayo duduk dulu,
lihat kamu masih ngos-ngosan gitu.”
Ihsan
duduk di kursi kayu ruang tengah itu, menyusul kemudian Ningsih ikut duduk. Senyum
ningsih mengembang pelan. Pikirannya agak ragu. Tapi tidak apalah, dia takut
Ihsan kecewa. Kata-katanya meluncur dengan pelan, menjelaskan sedetailnya agar
mudah dipahami anak berusia 6 tahun itu.
“Bagaimana?
Ya udah kalau Ihsan bingung, nanti atau kapan-kapan Mbak jelaskan lagi,”
Ningsih menatap Ihsan yang terdiam, semua indera seperti menyatu, atau malah
terlihat bingung total.
“Sudah
ya Mbak, cuma seperti itu. Kenapa terlalu mudah.”
Ningsih
tak pelak, melongo hingga menyipitkan kedua matanya, keriput dikeningnya
menciptakan guratan, “Jangan sok paham, coba jelaskan apa yang mbak jelaskan
tadi!”
“Sewaktu
udara naik lebih tinggi ke Atmosfer, terbentuklah titik-titik air, dan
terbentuklah awan. Ketika sampai pada ketinggian yang suhunya sekitar 400
C di bawah titik beku, awan itu membeku menjadi kristal es kecil-kecil. Udara
sekelilingnya yang tidak begitu dingin membeku pada kristal tadi. Dengan demikian kristal bertambah besar,
dan menjadi butir-butir salju. Bila melalui udaranya hangat, salju itu mencair menjadi hujan. Pada
musim dingin salju jatuh tanpa mencair,” Ihsan menatap mata Ningsih, yang
menatapnya aneh, “Apakah ada yang salah Mbak?”
Tidak ada yang diperbuat
Ningsih kecuali mengedipkan mata, dan tarikan nafasnya yang teratur,
penjelasannya dapat disimpulkan dengan baik tanpa ada kekurangan. Anak berusia
6 tahun ini…, “Enggak… enggak pa-pa sudah benar kok San. Sebenarnya
kenapa kamu bertanya tentang sebab
hujan?”
“Karena ada hadiahnya dari bu
Lastri, dan hadiahnya boleh memilih.”
“Demi hadiah?” Ningsih
menggaruk jilbabnya pelan, “Baiklah apakah kamu mau menerima tawaran dari Mbak?
Ada hadiahnya, dan kamu juga boleh memilih.”
“Hadiah lagi? tentu saja mbak,
apa yang harus Ihsan lakukan?” kenapa hari ini penuh dengan gemerlap bintang
hadiah, angin dari mana?
“Kamu harus menghafalkan surat
An Naas,” Ningsih tersenyum. Mungkin
terlalu berat, apalagi Ihsan masih Iqra
1.
“Ok, besok pagi sebelum ke
sekolah, aku akan kesini. Mbak siap-siap saja membelikan hadiah yang Ihsan
inginkan,” dan mata Ningsih yang membesar membuat Ihsan semakin bersemangat.
Fatimah ikut bergabung bersama
mereka, setelah pasien yang diperiksanya pamitan pulang. Mereka berbincang apa
saja, hingga Ihsan harus pamitan untuk menemani Ibunya mengawasi kedua adiknya,
sudah beberapa hari ini ibunya libur dagang keliling, karena Yasmin masih
terlalu kecil untuk ditinggal. Hari mendekati waktu Ashar, lalu mentari akan
mencapai tempat peraduannya. Malam yang gelap akan menyapa kehidupan lagi.
Musim rendeng ketika malam, pasti
jika tidak hujan maka gerimis pasti menggantikannya. Malam tidaklah sehina
pandangan manusia, karena Allah menciptakan gelap, untuk menciptakan cahaya.
Malam senyap. Sedikit suara
yang menyisa, suara-suara binatang malam, terutama gangsir yang
menyanyikan bunyi riik riik panjangnya melalui kedua sayapnya yang
mengembung, melebar dan bergetar ketika berada di luar lubangnya. Walau malam
gerimis tak membuatnya bergeming, kadang kilatan menimbulkan garis patah-patah.
Lampu ublik dan petromak terlihat berkelap-kelip di setiap rumah, menandakan
masih adanya kehidupan di Gedung Dalam Baru yang letaknya terpencil. Di sebuah
rumah geribik yang letaknya di dekat ledeng, seorang lelaki
berumur sekitar 30-an sedang berhadapan dengan lampu ublik yang remang,
sambil memegang Al-Quran yang masih terlihat bersih, walaupun umur Al-Quran itu
telah melampaui sepuluh tahun.
Firman-firman Allah meluncur dari
mulutnya, kadang matanya ikut terpejam terbawa alunan suasana, kadang buliran
bening mengalir, namun segera di usapnya, karena anaknya kini berada di
depannya, sedang mendengarkan dengan seksama surat An-Naas yang sedang
dibacanya.
Alunannya berhenti. Sudah tiga
kali dia membaca surat An-Naas. Ditatapnya wajah polos anaknya, “Enten nopo ingin menghafal surat An-Naas, apakah
hafalannya adalah tugas dari Sekolah? Atau dari mbak Fatimah?”
Ihsan menggeleng pelan, “Sudah
ya Pak? Tak kiroin akeh, ternyata Cuma sedikit saja,” senyumnya mengembang.
Kembara lamunannya terbang mengangkasa.
“Kalau kamu masih belum hafal,
Bapak siap membacakannya lagi, sampai pahlawan dan permata hati Bapak tidak
mengalami kesulitan lagi dalam membacanya. Bahkan sampai napas Bapak terhenti,”
ditatapnya Ihsan penuh cinta dan kesyukuran, yang ditatapnya hanya
cengar-cengir.
“Ura usah Pak, ketika
Bapak membaca yang kedua kali, Ihsan sudah hafal kok. Memang bacaan Al-Quran
agak susah untuk diingat. He… he…, maafkan Ihsan harus membuat Bapak membacanya
berulang-ulang.”
Kini giliran Ali yang melongo
terdiam, tapi senyumnya kembali bersinar merekah perlahan, dasar anak kecil,
senangnya bercanda, “Baiklah coba kamu baca, nanti bapak pasti tahu, di bagian
mana yang belum hafal.”
Ihsan mengambil napas pelan.
Matanya terpejam sejenak, membiarkan hembusan dingin malam, menyentuh, dan
merambati setiap pori kulitnya yang tidak tertutup kain. Mulutnya mulai terbuka
pelan, “Bismillaa Hirrahmaa Nirrahiim,”
Hembusan angin di sekitar mereka merekah, hembusannya begitu teduh. Semesta
terdiam, tunduk mendengarkan Firman Allah, yang mengalun dari bibir si kecil.
“Qul A’uu Dzu Birabbin Naas,” si cicak yang merambat di bambu dinding
geribik itu terbungkam, sorot matanya teralih dari kupu-kupu tersesat yang sedang
di bidiknya dari tadi. Ekornya yang melenggak-lenggok diam lurus. Sesekali hanya
kedipan mata dan gerakan napasnya yang terlihat, dzikirnya mengikuti alunan
suara kecil itu.
“Malikin Naas,” Kolomonggo yang sedang mengikat serangga yang terperangkap dalam
sangkarnya, di pojok siku geribik atap menghentikan serabut yang keluar dari
bawah kakinya. Matanya menatap pendar cahaya di ruangan itu, gigi-giginya
bergerak-gerak, mengikuti irama merdu kecil yang membuatnya terpesona.
“Ilaa Hin Naas,” Nur, sang Ibu terbangun, karena suara
mungil nan merdu itu. Ditinggalkannya Yasmin yang terlelap, yang baru berumur
beberapa bulan itu, untuk ikut bersenandung melantunkan ayat-ayat cinta.
Dilihatnya dari pintu kamar dengan membuka daun pintu pelan, dua orang yang sedang
duduk di atas tikar di ruang tamu. Dilihatnya mata sang Bapak bening bercahaya, semburat cinta dan keharuan
nampak disana. Basah.
“Min Syarril Waswaa Sil
Khan Naas,” lengang sunyi terliputi pendar cahaya,
kegelapan hati yang ternoda telah tercuci, dengan kucuran lelehan embun di mata
pendengaran. Hilang sudah kegelapan yang nampak. Seekor burung ’gereja’
betina yang menyelimuti ketiga anaknya di sarang, yang dibuat di atap genting
itu mengajak anaknya, untuk bersama memohon perlindungan dan memuji kebesaran
Rabb Semesta Alam. alunan membahana, susul menyusul. Entah sudah berapa
Malaikat datang, menyelimuti rumah itu dengan cahaya dan pendar ketenangan.
“Alladzii Yuwaswisu Fii
Suduu Rin Naas, Minal Jinnati Wan Naas,” semesta menggema, memantulkan alunan
untuk diangkat ke Arsy, kilatan cahaya dari atap langit nampak membelah
kegelapan malam, mengusir kegelapan, tak sedikitpun membiarkan golongan
pembisik untuk mencuri-curi dengar.
Tiba-tiba terang benderang
terasai di hati setiap makhluk, hati yang laksana cermin. Bukan hanya benderang
di pandangan mata.
Ali mengusap air matanya
pelan, dengan tangannya yang kasar dan ngapal karena keletihan bekerja, namun semua
sirna dengan senyuman yang membahana, menyejukkan pandangan. Nur yang sedari
tadi berdiri, menyandar di pintu mendekati suami dan anak tertuanya, matanya
telah basah dan bercahaya, terpantulkan cahaya redup ublik. Tanganya
menggapai rambut Ihsan, mengelusnya pelan nan lembut.
Ihsan menatap bergantian kedua
orangtuanya. Inilah saatnya, “Ibu,” pandangannya kini bertumpu pada wanita yang
duduk di sampingnya, “Apakah Ibu tahu, Ihsan… Ihsan mencintai Ibu karena
Allah,” tangan kecil itu mengusap air mata yang mengalir jernih di pipi Ibunya.
Pandangannya beralih kepada lelaki yang masih memegang Mushaf kesayangannya,
“Dan Ihsan juga mencintai Bapak karena Allah, Ihsan mencintai kalian semua
karena Allah,” suasana menciptakan hening, Nur memeluk erat Ihsan mesra, tak
ketinggalan sang Bapak yang biasa bekerja keras tanpa mengenal lelah, memeluk
lebar kedua orang di hadapannya. Aliran air mata terus mengalir, air mata penuh
kesyukuran.
Fajar terbangun, dan segera
menghambur tanpa banyak berpikir, ikut memeluk tiga orang di ruang tamu itu.
Tapi sayang, tangannya terlalu kecil
menjangkau, hingga sang Ibu menggendongnya. Ihsan mengecup kening Fajar
pelan, “Aku juga mencintaimu karena Allah.” Kehidupan terasa indah jika semua
hidup untuk saling mencintai karena Allah, tak ada dendam dan permusuhan, yang
ada hanyalah saling mempercayai.
*
* *
Hari yang benar-benar secerah
matahari, yang tersenyum dengan bara panasnya, menyengat. Sudah beberapa hari
ini, Ibunya hanya berdagang di rumah, tidak mengajaknya berdagang keliling
karena masih repot mengurusi Yasmin dan Fajar. Ihsan telah meminta izin.
Ihsan baru saja pulang dari pasar bersama Mbak Ningsih
karena hafalan surat An-Naas-nya
telah lulus, dan hadiah yang dimintanya bukanlah jajanan seperti yang biasa
dibelikan mbak ningsih, tapi kali ini dia meminta beberapa hadiah. Dua buah
jilbab untuk ibunya, karena Ihsan ingin melihat ibunya cantik seperti Fatimah.
Tidak ada kebahagiaan yang
terasai kecuali hari ini, apalagi tadi pagi juga penjelasannya mengenai
terjadinya hujan mengagetkan bu Lastri, teman-temannya berterima kasih karena
berkat dia, ancaman hukuman untuk mereka terbatalkan. Dan hadiah yang dimintanya adalah sepatu baru,
karena sepatunya telah berlubang dan setiap kali berjalan terlihatlah jari-jari
kakinya menyembul keluar. Ejekan teman-teman membuatnya memilih sepatu, sebagai
hadiah dari bu Lastri.
Mungkin hari ini. Orang
terbahagia sedunia yang bisa terlihat dari senyumnya adalah Ihsan. Kakinya
berjalan menari seperti mengikuti lagu bahagia hari ini. Langit, bumi, serta
semesta Gedung Dalam Baru menganggukkan kepalanya, mesra meyakinkan.
Minggu, Mushola Miftahul Jannah
Mentari beranjak ke peraduan, mendekati garis
cakrawala. Warnanya merah kekuning-kuningan, menyala layaknya lampu yang
dihidupkan sang Peronda di kala malam gelap gulita. Burung-burung dengan
nalurinya, mulai berinisiatif pulang ke sarangnya masing-masing. Ayam dan itik
mulai tergopoh-gopoh mencari kandangnya, karena jatah mereka sebentar lagi akan
dihidangkan di baskom atau manci yang telah usang, dedak plus merang
ditambah sedikit menir, membuat mereka harus segera pulang, jika tidak
ingin kehabisan oleh yang lain. Capung sudah tinggal menyisa di angkasa,
terapung-apung. Entah berapa lama lagi mereka akan betah.
Kini saatnya giliran
binatang-binatang malam, yang telah bersiap-siap untuk terjun mencari santapan
kesukaan mereka, mereka masih bersembunyi di sarangnya masing-masing, hingga
matahari benar-benar menghilang di kaki langit sebelah barat. Seekor Kampret betina di ketiak pohon kelapa sedang
kewalahan menenangkan tiga anaknya, yang sedari tadi berteriak mencericit,
membuka mulutnya terus-menerus. Kelaparan, waktunya belum tiba. Kalong,
Kelelawar, Codot, dan Burung Hantu sudah terlihat tidak sabar,
mereka benar-benar telah mencengkeramkan kakinya kuat-kuat, mirip pelari estafet
yang menunggu start, start dari Allah Azza
Wa Jalla, ketika menimbun matahari dari pandangan.
Mushola Miftahul Jannah
masih terlihat ramai, Fatimah dan Ningsih terlihat ceria menghadapi anak-anak
binaan mereka. Mereka tahu, waktu mereka tinggal dua bulan lagi. Mereka pasti
akan selalu merindukan anak-anak Gedung Dalam Baru.
Roni masih betah mengganggu
Ratna yang sedari tadi sibuk, menyalin huruf-huruf hijaiyah dari papan board
hitam, tulisan dengan menggunakan kapur. Roni paling terkenal dengan jahilnya,
mengagetkan, melempar dengan lipatan kertas, atau merobek anyaman tikar
tempat mereka duduk, untuk mengelitiki hingga membuat tulisan Ratna
tercoret dan pasti Roni akan tertawa terkekeh, Ihsan hanya tersenyum sambil
geleng-geleng. Dasar gak ada kerjaan.
Fatimah biasanya memberikan
hukuman ringan ketika Roni ketahuan, tapi dasar bandel. Besok pasti diulangin
lagi jahilnya.
Setelah Muraja’ah satu-persatu membaca, dan waktu menunjukkan 17.30. Saatnya pulang dan berpamitan pada
guru-guru ngaji, bersalam-salaman antara laki-laki dan perempuan terpisah.
Saatnya anak-anak Gedung Dalam Baru membantu orang tua di rumah. Respon
masyarakat besar ketika Fatimah mengusulkan mengajar ngaji, walaupun hanya
empat bulan. Sekitar 31 anak mengikutinya setiap sore.
Not Comments Yet "Part 2, Kemampuan yang Tersembunyi"
Posting Komentar