Graduation Ceremony
Semilir angin begitu
terasa syahdu memelukku, melingkupiku dengan kasih sayangnya. Pepohonan
menjulang di pinggir jalan melambai terayun-ayun pelan. Angin pagi yang terasa
sejuk dan damai. Hidup ini memang indah, sangat indah. Meski tak seindah yang
kumau, meski tak sesempurna yang kuinginkan. Namun, sungguh, aku sangat
menikmati setiap perjalanan hidup ini. Sungguh Allah, aku menikmatinya. Walau
mungkin kadang Kau lihat air mataku menetes, tapi bukanlah itu berarti aku
sedih. Itu semata karena aku juga manusia.
Kupejamkan mataku sejenak,
setitik jernih membasah kedua mataku. Namun, segera kuhapus. Aku tak boleh
berlarut-larut, bukankah cahaya itu menungguku? Menunggu ada orang yang
menyalakannya. Cahaya?
Apa makna cahaya bagiku?
Biarlah, aku kembali
menyadari keberadaanku di dunia. Aku memakai sepatu yang semenjak kuliah belum
pernah kuganti sama sekali. Kupakai dengan cinta, lembut dalam membuat simpul
ikatannya. Lalu, kutatap matahari yang masih malu metampakkan sinarnya. Sejenak
terasa jiwa tenang dalam anganku.
Aku berdiri dan
membentangkan kedua tanganku, bersejajar ke samping. Bagai manusia bersayap.
Kegerakkan kedua tanganku pelan sambil mengatur napas, lembut dan udara paling
sejuk, masuk dan mengaliri seluruh pori
dan syarafku. Segar. Dan... kedua ujung bibirku refleks tergerak membentuk
sebuah senyuman. Pastinya senyuman yang terindah jika kau melihatnya, sungguh.
Walau aku tak bisa melihatnya sendiri, tapi aku yakin itulah senyuman yang
begitu indah. Karena hatiku teramat bahagia mendendangkannya.
Kuambil toga yang masih
tergeletak di lantai depan kontrakan, kupegang erat sekali di tangan kiriku.
Aku menatapnya lekat, ada tali yang tergerai dari tengah atas toga itu. Hanya
satu gesekan ke kanan, maka acara formal wisuda akan selesai. Betapa banyak air
mata dan darah yang menetes, hanya untuk memakainya? Hingga mungkin demi
mengenakannya, ada yang rela membayar dengan uang berapa pun, tanpa harus susah
payah mengikuti kuliah ataupun menyelesaikan tugas akhirnya sendiri.
Tapi, biarlah. Bukankah
Allah Mahaadil? Dan hatiku tenang kembali.
Aku melangkahkan kaki
kananku dengan penuh ketulusan dan doa, semoga inilah langkah yang akan menjadi
manfaat bagiku maupun orang lain. Aku teringat buku Becoming Young
Entrepreneur karya Pietra Sarosa, RFA (Registered Financial Associate) yang
mengatakan bahwa semua hal besar, semua hal dahsyat bermula dari yang
kecil. Kiatnya mudah: dream big, start small, act now!
Berpikir serta bermimpi
besar, mempunyai visi yang kuat, visualisasi yang jelas serta reliable untuk dapat diraih. Lalu,
memulainya dari yang kecil, dari yang bisa dilakukan dengan segala keterbatasan
termasuk keterbatasan finansial. Kemudian aksi nyata sebagai wujud kesungguhan
terhadap mimpi besar, terhadap cita-cita yang ingin diraih. Tidak sebatas teori
tanpa praktik atau hanya basa-basi dan retorika usang.
”Berangkat sekarang, Kak Arif?”
Sebuah suara dari
belakangku membuatku menoleh. Dia Andi Budiansah,
adik tingkat kuliah.
”Iya, kamu juga ke sana, kan?”
”Iya, tapi nanti, Kak.
Masih mau mencuci baju dulu.”
”Oke Bro, aku duluan aja
ya?” aku mantap melangkah ke arah gerbang.
”Kak!”
Aku menoleh ke arah Andi,
”Ada apa?”
”Selamat ya, Kak. Kak Arif
memang hebat! Maka Kak Arif harus selalu bersemangat!” Andi meluruskan tangan
kanannya di kening, mirip siswa SD saat upacara bendera. Aku tersenyum padanya
dan mengangguk.
Aku mulai melangkah
melewati gerbang. Antrian jalan menuju kampus terlihat padat. Padat, karena
kampusku terletak di antara Sekolah Dasar, SMP, dan SMA. Pagi ini, semua
penuntut ilmu tengah berangkat ke sekolahnya masing-masing untuk memulai
aktivitas belajarnya. Dan aku, salah satu yang akan diwisuda
pada hari ini. Dan tentu saja, aku melangkah dengan semangat tinggi, mungkin
bisa disejajarkan dengan perjuangan semangat 45.
Terakhir ini, aku tinggal
di kontrakan bersama tiga teman. Kami patungan untuk membayar biaya sewa rumah
kecil nan mungil itu. Dua orang penghuni kontrakan itu diwisuda hari ini; Adi
Hermanto menekuni FKIP Matematika, dan satunya aku, Arif Maulana yang mengambil
Jurusan Manajemen di Fakultas Ekonomi. Dua penghuni lainnya masih duduk di
semester enam, yaitu Andi dan Darma Pamungkas. Aku terkenal oleh teman-temanku
sebagai orang yang humoris dan banyak bergaul, aku juga bergelut sebagai trainer
di organisasi pemberdayaan ekonomi.
Lalu-lalang kendaraan di jalan
yang kulewati setiap harinya itu bagaikan lebah yang keluar dari sarangnya.
Duta-duta ilmu telah tersenyum, menyambut hari yang baru untuk memulai hari
ini, memulai hari dengan menambah perbekalan ilmu. Ilmu pun tidaklah melulu
harus di dapat di sekolah formal, namun setidaknya, sekolah merupakan salah
satu bagian penting dalam proses menuntut ilmu.
Jika engkau belum berkesempatan
menuntut ilmu di bangku sekolah atau hanya tamat SD-SMA, tidak usah berkecil
hati dan bersedih, karena kesedihan tidak akan banyak membantu. Engkau bisa mempelajari
banyak hal. Ya, di sebuah sekolah informal yang bernama kehidupan. Setiap hari,
di sekolah ini, engkau akan memiliki kesempatan untuk mempelajari banyak hal. Engkau
mungkin menyenangi pelajaran itu, atau kadang engkau juga beranggapan bahwa hal
tersebut tidak relevan dan bodoh.
Ya, sebagaimana menjadi pemenang
adalah pilihan. Tentu saja menjadi yang terbaik juga merupakan pilihan. Dan tentu
saja menjadi pintar itu juga pilihan. Dan hidup ini adalah pilihan-pilihan
seperti ilmu ekonomi yang kupelajari. Ilmu ekonomi adalah ilmu bagaimana memilih,
memilih antara keinginan dan kebutuhan manusia.
Aku terus melangkah dengan
senyum merekah seindah mentari pagi. Motor-motor berseliweran membunyikan
klaksonnya karena kemacetan yang luar biasa. Bagaimana tidak? Seluruh keluarga bersama
wisudawan yang berjumlah enam ratus lebih datang ke tempat mintakat, belum lagi
ditambah mahasiwa yang ingin menyaksikan jalannya acara wisuda. Pastilah padat.
Namun, langkahku tak
terhalang sedikit pun karena macet. Kakiku saling berkejaran saling menyalip,
meliuk di antara celah, melewati celah-celah sempit di antara kendaraan, di
pinggir jalan, di atas trotoar, atau di rumput di tepi trotoar. Ah! Nyaman dan
asyik bukan?
”Arif!”
Sebuah suara lembut
memanggilku. Seorang wanita menyembulkan kepalanya dari pintu mobil APV-nya. Ia
tersenyum, lesung pipinya terlihat. Jilbabnya yang panjang sempurna dipadu dengan
baju wisuda. Dan aku pun tersenyum.
”Eh, kamu, Nur!
Mengagetkan aku saja. Ada
apa?” kulihat sejenak di dalam mobil itu terlihat banyak orang, pastilah keluarganya.
Ramai sekali. Dari balik kaca hitam mobil, terlihat tawa senyum ceria.
Sungguhkah kebahagiaan?
”Tidak apa-apa sih. Ingin
menyapamu saja, karena bosan menunggu begini lama, macet. Melihatmu jalan
sendirian, ya aku tegur. Memangnya tidak boleh?”
Aku tersenyum, ”Bodoh!” batinku,
aku menggelengkan kepalaku ke kanan, ”Terserah kamu!” dan tetap mempertahankan
senyum konyolku.
”Kamu sendirian saja, Rif?”
”Emangnya kenapa? Biasanya
superman juga selalu sendiri bukan?”
”Heh! Aku serius tahu!”
wajahnya sedikit sewot.
”Dua rius bahkan sepuluh
rius!” reaksinya semakin membuatku melebarkan senyumku.
”Dasar Arif! Oya, mana
keluargamu? Apakah nanti menyusul waktu acara?”
”Ah! Acara wisuda kan hanya formalitas
saja, tidak terlalu penting bagiku.”
”Tapi...,”
”Okelah! Aku duluan ya?”
aku meninggalkannya sambil tetap menggelengkan kepalaku. Wanita itu bernama
Nurul Fitriyani, dia adalah teman satu jurusan denganku. Biasanya aku selalu
mengerjainya, tapi dia juga tak pernah marah. Karena dia tahu karakterku.
Aku kembali melangkah ke
arah matahari. Menatap surya yang memang selalu indah, berkilauan dari
pantulannya. Beberapa pengendara bermotor yang lewat mendahuluiku ada yang
mengenakan toga. Wajah-wajah mereka terlihat bahagia.
Pintu gerbang kampusku
semakin dekat, menyedot jiwaku untuk segera memasukinya, seperti panggilan jiwa
yang mendayu-dayu. Inilah saat kehidupan berjalan, dan aku tidak boleh sedikit pun
ragu dalam melangkah, karena keraguan sama saja bahwa aku tidak melangkah. Oleh
karena itu, aku melangkah dengan penuh keyakinan. Karena hidup adalah pilihan,
dan aku memilih untuk menjadi yang terbaik.
Aku menyeberang jalan. Jalan
sangat padat, hingga tiga orang satpam universitas membantu para penyeberang
jalan. Orang-orang terlihat bergerombol, dan di setiap gerombol itu pasti ada
seorang yang memakai toga, tentu keluarga-keluarga para wisudawan dan
wisudawati.
Aku menatap langit,
tersenyum indah padanya dan tentu saja aku bersyukur pada Allah. Kembali kuteruskan
langkahku menuju para wisudawan dan wisudawati yang tengah berbaris di depan
rektorat. Bersiap-siap memasuki tempat acara pengukuhan. Kusapa teman-teman
yang beberapa telah berbaris di deretan Fakultas Ekonomi.
Sejenak sebelum acara
dimulai, kami berfoto-foto ria. Senyum-senyum kami digelar, senyum-senyum
kemenangan setelah sekian lama bersusah payah menyelesaikan skripsi. Sebuah keceriaan
karena telah terlepas dari penjara bimbingan, serta berhasil melalui ujian
skripsi yang mendebarkan, seolah diinterogasi di kantor polisi. Ah! Ada-ada
saja. Bagiku, itu hanyalah biasa. Dalam otak manusia, setiap permasalahan dalam
kehidupannya akan memiliki penafsiran yang berbeda, tergantung bagaimana
kesiapan dan kelapangan dada orang tersebut.
Tergantung bagaimana keyakinan dan opini di otaknya. Bagaimana otak merespon
setiap kejadian, maka itulah hasil yang akan terjadi sebagai aktualisasi dari
pendapatnya. Karenanya, hidup itu adalah pilihan, disadari atau tidak.
Suasana semakin ramai
mendekati pukul delapan dan acara sebentar lagi akan dimulai. Nurul datang ke arah
kami dan ikut berpotret ria. Baru sekali jepret, dan suara dari mikrofon
terdengar menggema: ”Para wisudawan dan
wisudawati diharapkan memasuki ruangan!”
Seperti gladi kemarin,
yang akan masuk pertama kali adalah Fakultas Teknik. Mereka melangkah dengan rapi
dihiasi raut wajah yang bahagia. Ada
yang melambaikan tangannya, pastilah dia melihat keluarganya. Mungkin saja baru
datang.
Sebentar lagi giliran
Fakultas Ekonomi. Salah satu Dosen di Fakultas Ekonomi memberi aba-aba kepada kami
untuk segera melangkah. Beberapa teman-temanku juga melambaikan tangan ke arah
keluarga mereka. Senyum mereka merekah, ada kelegaan terpancar dari roman muka
mereka. Ada
yang masih menengak-nengok, mencari-cari di antara ribuan orang yang akan
menyaksikan pengukuhan wisuda itu. Pastilah mereka sedang mencari keluarga
mereka, khawatir kalau sampai tidak datang. Dan sedetik atau beberapa detik
kemudian, wajah mereka sumringah karena pandangan mata mereka menemukan apa
yang dicari.
Dan aku tidak sedang atau
akan mencari-cari seseorang. Satu-satunya orang yang kuharapkan datang dalam
acara ini tak akan mungkin datang. Namun, aku yakin di sisi-Nya sana, dia sedang
tersenyum melihatku. Kakek. Janjiku telah kupenuhi, meski aku tak bisa
memperlihatkannya padamu sewaktu kau masih di dunia. Tapi lihatlah, Kek! Aku telah
memenuhi janjiku, aku telah memenuhi janjiku, bukan?
Air mataku tak bisa
kutahan, terjun bebas, hangat, mengalir hingga ke pipi, mendekat ke bibir.
Tanganku segera sigap dan menghapusnya. Aku Arif! Aku selalu tegar! Aku
berjanji kepada Kakek untuk selalu tegar, apa pun yang menghadang. Gelombang,
badai, gempa, beliung ataupun topan! Aku Arif yang tegar, iya kan, Kek? Aku menatap langit, mencoba meredakan
dan menenangkan hatiku.
Aku membuka mataku
kembali, langkahku pelan mengalun mengikuti teman-teman di depanku. Alunan lagu
mengiringi langkah-langkah para wisudawan dan wisudawati menuju tempat
pengukuhan. Mereka semua terlihat bahagia, melangkah penuh kemenangan.
Mataku terpaku, menajam ke
delapan orang di depan barisanku. Seseorang dengan saksama melihatku penuh
keheranan. Berarti, dia melihatku meneteskan airmata? Mataku melihatnya sekilas.
Wajahnya teramat heran, seolah berkata kepadaku dalam isyarat itu, ”Kenapa
kau menangis? Aku tak pernah melihatmu sekali pun bersedih. Kenapa?” Wanita
itu berbalik menghadap ke depan kembali, dan tangannya mengusap air matanya.
Dia meneteskan air mata untukku?
Di antara senyum yang
saling menyatu antara keluarga para wisudawan, aku tak perlu lagi mencari
siapa-siapa. Aku mencapai tempat dudukku, tertera nomor dan namaku di kursi
itu, persis seperti gladi kemarin. Saat semua wisudawan dan wisudawati sudah
menempati posisi duduknya, wajah mereka menunggu-nunggu, menunggu dipanggil
perorang untuk dikukuhkan langsung oleh Rektor Universitas. Namun, pikiranku
tak bisa lepas dari wajah wanita yang meneteskan air mata itu. Kini, dia duduk
tiga baris di depanku, hanya saja semenjak duduk tadi, dia sama sekali tidak
pernah menolehkan kepalanya ke belakang.
Bukankah orang lain
hanyalah cerminan bagi kita? Kita tidak bisa mencintai atau membenci atau
perasaan apa pun, atau sesuatu tentang diri orang lain kecuali ia merefleksikan
hal yang kita perbuat. Cinta atau benci dalam diri kita sendiri. Intinya, semua
sikap orang lain yang diarahkan kepada kita, adalah akibat dari sikap kita
kepada orang tersebut.
Acara selanjutnya sangat
membosankan bagiku, celoteh dan sambutan yang berunut satu-persatu; dari mulai
Dekan, Rektor dan akhirnya pejabat Walikota setempat. Punggungku pegal, seolah
habis mengangkat barang-barang berat. Aku memang tidak cocok kerja di kantoran
yang memosisikan tubuhku untuk selalu duduk. Sungguh, aku tidak akan pernah
betah. Makanya hingga kini, aku lebih betah menjadi entrepreneur dan trainer.
Ya! Menjadi loper koran
tiap pagi mengantarkan ke beberapa pelanggan koran juga termasuk wirausaha, kan? Bedanya wirausaha
dengan employee adalah bingkai berpikirnya. Biasanya employee kurang bisa
mengembangkan kemampuannya, karena mereka sudah nyaman dengan posisinya, aman
karena perbulan pasti mendapatkan gaji, keras atau tidaknya usahanya hanya
berpengaruh sedikit. Beda dengan wirausaha yang harus bekerja keras dan cerdas
untuk mendapatkan kelebihan dalam pendapatannya. Ia akan selalu melakukan inovasi
dan kreatif dalam setiap kerjanya.
Ah! Kenapa aku berpusing
ria memikirkan entrepreneur vs employee? Enjoy aja lagi! Dan aku
menikmati kembali snack yang diberikan panitia, menyeruput minuman dalam botol.
Ah! Apa yang aku lakukan dalam hidupku sendiri terserah padaku bukan? Aku punya
semua hal, dan tak kekurangan apa pun. Aku memiliki yang aku butuhkan dalam
kehidupan. Semua pilihan terletak padaku. Benar.
Tapi benarkah? Ah, bodoh!
”... tiga wisuda terbaik
Universitas diharapkan maju ke depan, wisudawan terbaik ketiga Universitas
dengan indeks prestasi 3,73, Adi Hermanto FKIP Matematika,” tepuk tangan riuh
terdengar membahana. Adi adalah temanku di kontrakan, dia keluar dari barisan
duduk Fakultas Keguruan, wajahnya sumringah. Aku ikut bahagia.
”Wisudawati terbaik kedua
Universitas dengan indeks prestasi 3,81, Sri Purwaningsih dari Fakultas Hukum,”
tepukan tangan kembali menggema. Dua pasang orangtua, keluar dari tempat duduk
khusus yang telah disediakan panitia wisuda, mereka adalah orangtua Adi dan
Sri. Orangtua mereka akan mewakili menerima sertifikat piagam dan trofi, yang
diserahkan Rektor.
Rektor turun dari barisan
para Senat Universitas.
”Dan wisudawan terbaik
pertama Universitas dengan indeks prestasi 3,87, Arif Maulana dari Fakultas
Ekonomi.” Tepuk tangan semakin terlihat riuh dan antusias, kukuatkan kakiku
menjejak dan berdiri. Aku melangkah pelan, beberapa teman-teman di barisan di
depanku menepuk punggungku. Mereka berteriak-teriak kepadaku memberi semangat. Aku
tersenyum dan kurasa senyumku terlihat konyol seperti biasanya.
Namun, senyumku hilang ketika aku melewati wanita
itu, matanya kembali basah dan dia mengangguk kepadaku, sambil tersenyum. Aku
tersenyum padanya dan ikut mengangguk, aku tak mau terlihat sedih lagi! Aku
berjalan ke depan, seluruh manusia, ribuan di acara wisuda itu, pastilah
melihat setiap langkah yang kuayunkan. Kini, aku menjadi sorotan semua orang.
Aku menatap langit, dan tersenyum. Kakek, kupenuhi janjiku padamu. Allah,
terima kasih untuk semuanya.
Aku berbaris di sebelah
kanan dari enam orang di sebelah kiriku. Orangtuaku tidak akan datang, dalam gladi
kemarin hanya diberitahu bahwa orangtua harus turut serta maju, dan orangtuaku
tak akan mewakiliku menerima trofi. Semua teman-temanku akan tahu kini, bahwa
aku tidak memiliki orangtua, karena mereka telah meninggal. Bahkan, aku belum
pernah melihat wajah keduanya semenjak aku dilahirkan ke dunia ini.
Rektor turun dan
menyerahkan piagam serta trofi langsung padaku, dia tersenyum padaku dan
menepuk pundak kananku.
”Selamat ya, Arif Maulana.
Semoga Allah selalu memberikan kebaikan kepadamu.”
”Terima kasih, Pak!” aku
mengucapkannya tulus.
Rektor bergeser ke kiri,
dan menyerahkan piagam kedua dan ketiga kepada orangtua Sri dan Adi. Dan Rektor
kembali ke tempatnya semula.
”Kepada wisudawan terbaik
agar dapat memberikan sambutannya kepada para alumni.”
Aku melangkah menuju
podium. Tiba-tiba kakiku gemetaran, saat aku menyentuh mikrofon di podium,
untuk kudekatkan di posisi dekat mulutku, tanganku dingin dan berkeringat. Gemetar.
Aku serius kali ini. Kenapa? Aku tak pernah gemetaran kala aku memberikan materi
di training-training, aku menatap ke seluruh penjuru di mana manusia
melihatku. Aku kehilangan kata-kata, aku bingung. Bibirku kelu dan bergetar
hendak bersuara. Jika sudah begini, jika dalam keadaan terjepit, jika aku dalam
kebimbangan, jika aku mencari jawaban, jika aku betul-betul mencari jawaban.
Maka, aku akan melihat langit, dan itulah yang kulakukan kini.
Not Comments Yet "Bagian 1, Graduation Ceremony"
Posting Komentar