KTP-KTP terkumpul, kami
menyalin biodata-biodata ke dalam blangko, beberapa yang lain bertugas mengambil
KTP dari rumah-ke rumah, beberapa warga mengumpulkan langsung ke Kelurahan.
Terkumpullah, KTP begitu banyak. Pak Lurah tersenyum puas.
Menjelang sore, pekerjaan
kami selesai, kelelahan tampak terlihat dari wajah-wajah kami. Tangan gemetaran
karena menulis demikian banyak biodata. Kang Mukhlis dan Pak Lurah pergi ke
Kecamatan, menyetorkan biodata setelah dicap dan ditandatangani seluruhnya.
Besok semoga sudah jadi walau belum seluruhnya.
Malam ini, semua relawan
kembali ke rumah masing-masing, besok perjuangan akan dimulai kembali. Tapi,
para relawan laki-laki menunggui sound system, dua orang pemuda datang
membantu; Yanto dan satunya anak buah orgen tunggal Dendang Cinta, jiwa
dangdutnya terpanggil karena musik dibunyikan bertalu-talu.
Malam harinya, delapan sound
system dibunyikan lagu-lagu dangdut. Itulah keinginan tertinggi Bang Rizal,
dia ingin semua penduduk Cahaya mendengarkan lagu-lagu dangdut kesayangannya.
Di satu sisi, aku, walau tak suka mendengarkan lagu dangdut, tapi dengan suara
dangdut ini, suara lolongan serigala dan bunyi burung gagak hitam tak akan
kedengaran. Warga desa pasti lebih tenang.
Musik hanya berhenti saat
shalat datang, Bang Rizal selain suka dangdut, dia rajin ibadah. Dia selalu
teringat petuah raja dangdut, ’H. Rhoma Irama’ bahwa musik itu tujuannya juga
untuk dakwah, jadi shalat adalah tetap utama. Dalam lubuk hatiku terdalam, aku salut
pada Bang Rizal.
Malamnya, saat musik
berbunyi keras, saat terpekur. Ada satu hal permasalahan lagi, membersihkan
desa dari kotoran dan sampah, itulah pesan Ani. Tapi, bagaimana melakukannya?
Kau tahu, Kawan, desa teramat kotor, selokan-selokan penuh sampah, air
tersumbat, pantas saja nyamuk-nyamuk menyebarkan demam demikian cepat.
Anak-anak sekolah.
Benar! Aku dekati Bang Rizal,
”Bang, tugas kepahlawananmu belum selesai. Ada lagi yang harus kau lakukan!”
”Apa? Semalaman tak tidur
menunggui dangdut, mengumumkan sesuatu sampai pagi? Apa?” antusiasmenya
berlebihan, jangan kau ikuti yang satu ini. Obsesi pahlawan membuat orang
menjadi berlebihan.
”Umumkan agar anak-anak
sekolah besok datang ke sekolah. Mereka harus datang!”
”Beres!”
Tak terlalu lama kutunggu,
suara dari sound system kembali menggelegar, musik mati.
”Kepada anak-anak
Sekolah Cahaya, saya Bang Rizal, besok sekolah masuk seperti biasa! Kalian
harus datang, tak usah takut pada penyakit, karena telah kuusir semuanya dengan
musik dangdutku! Kalian harus berangkat, mimpi kalian sedang menunggu.Terima
kasih, tertanda Pak Danu Kepala Sekolah, tertanda seluruh dewan guru Sekolah
Cahaya .”
***
Pagi menyapa desa Cahaya.
Kami tunggu hingga pukul tujuh pagi. Satu orang siswa telah hadir, dialah
Syahid. Kawan, sebenarnya ini tak perlu dibahas. Syahid memang tak takut dan dia
diizinkan Kang Mukhlis. Aku hanya ingin membuatmu tidak tegang melihat keadaan
desa Cahaya.
Pukul 07.10, seorang dari
arah selatan datang dengan sepeda onthelnya
yang dibeli dengan hasil franchise-nya yang bertambah tiap hari. Dia Hasan,
lelaki kurus yang kini telah menulis menggunakan jari-jari kanannya. Tak ada
lagi luka parutan baru di jarinya, tapi, luka lama pasti selalu menyisa, itulah
bukti sebuah sejarah yang berubah karena mimpi.
Hasan turun dan
menghampiriku, diciumnya tangan-tangan para guru yang berbaris di lapangan
upacara bendera, Sang Merah Putih berkibar di tiangnya, semilir pelan angin
mengibarkannya, menambah wibawa Indonesia.
Hasan berdiri di samping
Syahid, berbaris di depan kami. Para dewan guru menunggu, satu-persatu siswa
hadir hingga pukul 07.30, di barisan itu, setiap kelas telah ada perwakilannya.
Kami tunggu hingga pukul 08.00, rata-rata tiap kelas yang hadir adalah
setengahnya. Ini cukup bagus daripada kemarin, hanya Syahid saja.
”Apakah kita mau belajar, Pak
Arif? Dengan murid demikian jumlahnya?” Pak Yusuf menatapku, Bu Siska juga.
”Bagaimana, Pak Arif?
Kuserahkan padamu, kaulah yang mempunyai ide mengumpulkan mereka,” Pak Danu
menimpali.
Aku mengangguk, maju ke
depan. Aku berdiri menghadap para murid, tepat di posisi tengah mereka.
”Untuk kalian! Aku acungi
jempol, kalian telah berani mendobrak ketakutan. Ini membuktikan bahwa kalian
adalah siswa-siswa yang berani! Sekarang aku minta setiap kelas, membagi diri
menjadi lima kelompok, harus rata. Berapa pun jumlahnya, dalam hitungan
kesepuluh, semua harus segera beres!”
”Satu! Dua! Tiga! Empat...!
Siswa-siswa saling dorong,
aku senang melihat keceriaan mereka kembali. Mungkin, sehari di rumah saja
membuat karakter bermain mereka terpasung. Setiap barisan kelas, saling
berebut, mungkin memilih-milih teman. Kubiarkan saja. Hatiku gembira, walau tak
terpancar dari raut wajahku.
”Delapan! Sembilan!
Sepuluh! Semuanya diam!”
Siswa yang masih belum
terima dan masih mencari celah pindah, segera diam tak berdaya karena
teriakanku. Sudah terbagi, walau mungkin ada yang dua orang satu kelompoknya.
”Baiklah, kelompok sebelah
kanan adalah kelompok satu dari tiap-tiap kelas. Kelompok satu! Berbaris di
depan Pak Danu, sekarang juga dalam hitungan ketiga, selesai! Satu! Dua! Tiga!”
masing-masing kelompok satu yang kusebut, berlari dan berbaris di depan Pak
Danu, masih ada yang terlihat bingung. Biar sajalah.
Kelompok kedua tiap-tiap
kelas, berbaris di depan Pak Yusuf. Kelompok ketiga, berbaris di depan Bu Siska,
kelompok keempat berbaris lurus di depanku.” Bu Ria? Dia masih sakit. Saat aku
bingung hendak menempatkan kelompok kelima dimana, seorang berbaju putih,
jilbab putih pula datang mengendarai sepedanya. Ani.
Aku terdiam, menunggu Ani
yang masih berjalan ke arah kami. Saat dia dekat.
”Kelompok kelima, berbaris
di depan petugas kesehatan, di depan Bu Ani yang memakai baju putih!”
siswa-siswa kelompok kelima berhamburan, Bu Ani sempat bingung, tapi anggukanku
cukup membuatnya menerima.
Aku berteriak lantang
bahwa tugas kita adalah membersihkan desa. Kelompok satu dipimpin Pak Danu
membersihkan sepanjang jalan ruas pertama dari selatan. Kelompok kedua dipimpin
Pak Yusuf membersihkan ruas jalan utama, barisan rumah di depan Kang Mukhlis.
Kelompok ketiga dipimpin Bu Siska, membersihkan ruas jalan ketiga dari selatan.
Kelompok empat, aku pimpin untuk membersihkan ruas jalan keempat yang jalurnya
arah utara selatan. Kelompok kelima, dipimpin Bu Ani membersihkan ruas
terakhir, di samping ruasku. Ani membersihkan jalanan di depan rumahnya
sepanjang jalur.
Kami berangkat membawa
alat-alat kebersihan apa saja. Ani melepas baju putihnya, di dalamnya dia
memakai baju panjangnya. Kulihat ada senyum tersungging kala memberi aba-aba
jalan kepada para siswa.
Sebelum berangkat, aku
berpesan bahwa barang siapa yang jalurnya paling bersih, maka ada hadiahnya.
Jadilah semua siswa bersemangat, seperti lomba tujuh belasan saat ulang tahun
kemerdekaan. Kami berangkat bagai pahlawan-pahlawan Indonesia saat berperang
membebaskan penjajahan.
Di jalurku, para siswa
begitu bersemangat. Aku turun ke selokan, parit, membersihkan plastik, sampah,
rumput yang terlalu tinggi, bahkan kaleng-kaleng dibuang di sana. Jumlah personel
yang banyak membuat pekerjaan itu seakan
ringan saja. Panas mulai menyengat, keringat bercucuran, tapi ada saja tawa
renyah kala wajah terciprat lumpur. Semuanya tertawa, apalagi anak-anak, mereka
paling senang bagian ini, Kawan.
Kukumpulkan sampah-sampah
itu dalam kandi yang digelar di atas selokan, tapi tiba-tiba kandi itu telah
menghilang. Kemana? Subhanallah, itulah kata-kata zikir pertamaku yang
keluar dari lubuk hatiku terdalam. Sepanjang aku melihat dengan mataku, banyak
lelaki perkasa dan ibu-ibu telah turun bersama kami. Sampah tadi juga telah
digotong oleh dua orang pemuda, mereka turun, bagaikan seribu malaikat yang membantu
Rasulullah Saw saat Perang Badar, begitulah cerita Kakek padaku dulu.
Air mataku hampir saja
menetes, tak ada kesusahan jika mau mencoba. Lihatlah, mereka tersenyum padaku,
kepala mereka mengangguk, mengacungkan jempol padaku. Wabah terkutuk, sama
sekali tak membuat mereka takut lagi. Tanganku bergetar, aku semakin
bersemangat segera mengambil sampah-sampah yang menumpuk tinggi.
”Pak, mana sampahnya lagi,
kami akan membuangnya,” lelaki itu menaruh kandi di atas selokan, dia ikut
turun bersamaku di parit, ”Mari kita angkat bersama-sama kotoran ini. Aku malu
pada anak-anak yang rajin, sedangkan kami membiarkan saja sampah menggunung,”
tangannya segera memunguti kotoran, sampah, rumput liar.
Not Comments Yet "Bagian 31, Bersih - Bersih Desa"
Posting Komentar