Persepsi dan semua
anggapanku salah.
Kukira mereka
memerhatikanku karena mereka takjub akan perkenalan pertamanya dengan guru
barunya, kuanggap mereka terkesan dengan penampilanku, kusangka mereka menaruh
perhatian besar. Nyatanya, mereka menungguku terjatuh dari kursi yang telah
mereka susun jatuh, dipasang sebagai penyambutan meriah nan indah bagiku.
Aku keluar kelas, kepalaku
berkunang-kunang. Sempat lagi kulihat Bu Siska melihatku, dan bukanlah senyum
resah yang kudapat, melainkan senyum-senyum yang benar karena lucu. Dia menutup
mulutnya, ada sedikit binar di mata lentiknya. Aku pun ikut tersenyum, sambil
berlari menghindar.
Kucari toilet di belakang
sekolah, di dekat kantor guru. Ketika
melewati satu toilet untuk siswa, mataku terbelalak karena di sana antri sampai
lima orang. Aku segera bertolak cepat menuju toilet guru, satu kamar dan di sana
antri siswa empat orang. Aku mengambil di posisi nomor lima. Empat siswa di
depanku, entah kelas berapa, mereka menengok ke arahku dan tertawa
terbahak-bahak.
Menertawakanku?
”Apa yang kalian
tertawakan?” wajahku kupasang seheran-herannya.
Mereka melihatku, dan tawa
semakin meledak.
”Bapak ke masjid sana
saja. Di sana juga ada air,” seorang siswi di barisan kedua melihatku, tangan
kanannya menunjuk ke arah selatan dan timur, tangan kirinya menutupi mulutnya
yang masih saja terdengar desis tawa ditahan.
Aku berlalu, bukan karena
ingin segera mencari air. Tapi, karena tak tahan dengan tawa mereka. Aku
menyeberang jalan onderlaag, melewati dua rumah yang jaraknya berjauhan
dan tampaklah sebuah bangunan, masjid tapi tidak terlalu besar. Di atasnya
kubah kecil dan ada tiang yang menggambarkan lekukan bulan sabit dan bintang di
tengahnya.
Aku mendekatinya, berjalan
di emperan masjidnya. Masjid ini terlihat bersih, aku menyusuri pinggir masjid,
di depan sana terlihat tempat wudhu. Di kaca-kaca masjid itu, kulihat sejenak
wajahku. Tuhan! Layak saja mereka tertawa terbahak-bahak, apalagi senyum kecil Bu
Siska waktu melihatku tadi. Terang saja, rambutku awut-awutan, wajahku penuh
sawang laba-laba, debu dan campuran kapur halus putih merebak merot-merot
di wajahku. Benar-benar seperti hantu tak tertanggungkan, hantu tak diundang,
hantu berbalut kulit yang pakaiannya compang-camping. Aku sendiri tertawa
melihat bentukku di balik cermin. Kawan, jangan ikut kau tertawa, kumohon.
Aku menuju arah tempat
wudhu, ingin kubersihkan wajahku. Saat mendekati tempat wudhu, kulihat amben
beralaskan tikar di depan tempat wudhu. Mungkin digunakan untuk menunggu waktu
shalat tiba oleh masyarakat sekitar. Aku mencapai tikungan ke arah tempat
wudhu, dan karena terburu-buru, aku menabrak seseorang.
Orang itu hampir jatuh ke
belakang. Aku menangkap tubuhnya, ringan.
”Terima kasih.”
Wajah kami bertemu, aku
terkaget dan melepaskan tangannya. Dia terjatuh sempurna, aku mundur dan
terpeleset hingga tubuhku jatuh di semen kasar pinggir masjid. Pantatku lagi-lagi
sakit, seperti ambeien rasanya. Ini dua kalinya aku jatuh, mungkin jika tiga
kali, habislah sekalian rasa sakitnya.
Lelaki kurus itu mengaduh.
Aku memerhatikannya lagi, kawan, lihatlah ada tubuh begitu ceking, berbalut
kulit saja tulangnya. Peci yang kumal dan berbarut putih-putih melekat di
kepalanya, matanya yang hitam, dan mengerikan karena ada birut-birut
menyeramkan di sekitarnya. Matanya, masya Allah, buta.
”Maafkan aku, Pak, saya
kaget tadi.”
”Tidak apa-apa.”
Lelaki itu berdiri
kembali, dia berjalan merambat di tembok. Kakinya menyeret, kurasa menghafalkan
jejakannya. Tangannya meraih kain sarung di amben, dia hafal tempatnya,
dipakainya. Masuk ke masjid, menyeret kakinya. Mulutnya terus komat-kamit tapi
pelan. Kawan, aku merasa bersalah padanya. Kukira tadi hantu yang ingin
menakut-nakutiku.
Lelaki itu, berjalan
terus. Dia shalat.
Aku tersadar, aku segera
membersihkan diriku di tempat wudhu. Saat di rumah kutanyakan tentang orang
buta itu kepada Kang Mukhlis, apa yang terjadi di sekolah pertama kalinya
menjadi guru tidak terlalu penting lagi. Aku tiba-tiba terobsesi ingin
mengetahui tentang lelaki buta yang kurus itu.
Kang Mukhlis bercerita di
depanku dan Syahid, lelaki buta itu bernama Lukman Hakim. Dia tinggal di desa
Cahaya, sekitar empat tahun ini. Lelaki buta itu, tak tahu darimana dan kapan
secara tepat waktunya datang ke desa ini.
Lelaki buta itu, tahu-tahu
sudah berada di Masjid an-Nur. Ketika pagi hari, masyarakat desa dikagetkan
dengan lelaki buta yang telah ikut shalat subuh. Kapan datangnya, yang jelasnya
di malam gelaplah datangnya. Ketika ditanya, lelaki buta itu tidak tahu-menahu
tentang asal-usulnya. Lukman hanya menjawab sesuatu yang membuat penduduk desa
semakin bingung. Karena, jawaban Lukman, dia sedang menunggu cahaya.
Menunggu cahaya?
Dan, masyarakat sepakat,
mereka bergiliran memberikan makanan kepada Lukman, dia tidak bisa bekerja
sendiri di sini. Lukman diminta menunggui masjid, membersihkan semampunya, dan
disediakan amben untuk tidur di samping masjid. Ketika diminta tinggal di rumah
salah seorang warga, dia menolak karena menurutnya cahaya itu akan mendatangi
masjid di mana dia tinggal. Lukman tidak mau terlewat, kala cahaya itu datang
menghampirinya.
Hari minggu itu, aku dan
Syahid mengantarkan makanan untuk Lukman Hakim, di Masjid an-Nur. Kami
membawakan nasi beserta telur rebus, kutambah uang sisaku kubelikan kurma di
pasar templek, pasar tradisional di perbatasan desa Cahaya, dekat dengan
gerbang penelitian hutan lindung di ujung desa.
Aku sekaligus ingin
meminta maaf padanya, tentang kejadian tempo hari. Kami naik sepeda, sampailah
di depan masjid. Kami sampai waktu shalat ’Ashar, kami ikut bergabung shalat
berjamaah. Segelintir orang, mungkin tujuh, dan Pak Yusuf salah satu di antara
mereka.
Selesai shalat, saat keadaan
telah sepi. Kulihat Lukman masih sibuk berzikir dengan butir-butir tasbih,
bergerak berputar bagai perputaran bumi penuh keseimbangan. Pelan, syahdu,
bibirnya yang pecah-pecah terus berirama, hanya hati dan Tuhannya yang paham.
Jemarinya berhenti memutar
butiran tasbih, dia berbalik ke arah kami yang duduk di tengah. Di bawah lampu
hiasan masjid yang indah bagai marjan, lazuardi, batu permata. Dia tersenyum
dan mendongakkan kepalanya ke arah kami, matanya yang hanya terlihat putih
tanpa ada hitam melingkar di tengahnya, terlihat jelas.
Syahid memberi isyarat
kepadaku, kami mendekat.
”Pak Lukman, ini makanan
dari Bapak.”
Lukman tersenyum, ”Semoga Kang
Mukhlis selalu dilindungi Allah, kau bawa teman, Hid?” suaranya lembut.
”Ini guru baru di Sekolah,
Pak, namanya Pak Arif.”
Pak Lukman seolah
memerhatikanku, dia terpaku sejenak memandangiku, mungkinkah dia mampu
melihatku? Pernah kudengar, jika seorang dekat dengan Tuhannya, maka mata
hatinya akan terang seperti mempunyai indera keenam atau sejenisnya, atau seperti
ilmu makrifat.
”Bapak mau kurma?” aku
menawarkan kurma padanya.
”Itu makanan kesukaanku,
sebagaimana Rasulullah Saw sering memakannya,” senyumnya mengembang.
Aku ikut tersenyum, kubuka
plastik yang kami bawa. Salah satu kurma kuambil, kubuka dan sedikit
kubersihkan dengan tanganku. Aku memisahkan isinya, aku ingin Pak Lukman
tinggal memakannya saja tanpa menguliti isinya. Kukelupas hingga tinggal daging
kurmanya saja. Saat akan kuberikan di tangannya, aku teringat kejadian kemarin
saat aku menabrak dan menjatuhkannya. Sebagai permintaan maafku, aku ingin
menyuapinya, kurasa itu lebih baik.
”Bukalah mulut Bapak,”
lelaki itu sebenarnya belum terlalu tua benar, mungkin usianya tiga puluh
limaan, atau berkisar di antaranya.
Lukman Hakim terdiam, tapi
akhirnya membuka mulutnya sedikit. Aku menyuapinya, kutarik tanganku, dan
lelaki buta itu mengunyah-ngunyah daging kurma itu. Ada kenikmatan terpancar
dari raut wajahnya, dia pasti menikmatinya.
”Saya ke sini juga ingin
meminta maaf kepada Bapak.”
Lelaki itu masih diam,
sambil menikmati kunyahan kurma di mulutnya. Habis, aku menguliti lagi dan
menyuapinya lagi. Dia mengunyah lagi, sambil tersenyum.
”Saya adalah orang yang
menabrak Bapak tempo hari, yang membuat BaPak Lukman terjatuh.”
Lukman berhenti mengunyah.
Wajahnya berubah aneh, kaget. Dia terdiam lunas, seolah tersedak atau menelan
nyamuk yang terbang nyasar di mulutnya. Matanya yang putih terbelalak,
tiba-tiba membesar dan menegang, syaraf-syaraf di sekitar wajahnya bermunculan. Syahid mundur
satu langkah ke belakang, dia pasti ketakutan.
Aku gemetaran. Marahkah
dia? Pasti, karena kudengar giginya gemeretakan, gemeretuk, gigi gerahamnya
beradu. Kedut-kedut di sekitar mulutnya, kedap kian kemari berupa
tonjolan-tonjolan. Wajahnya, raut wajahnya semuanya menegang. Aku gemetaran.
Satu gerakan cepat, lelaki
buta itu bergerak ke arah kami seperti akan menerkam dan mencengkeram kami.
Dan, Syahid menjerit dan berlari sejadi-jadinya. Aku yang masih gemetaran tak
kuat bergerak karena kedua tangan berbalut kulit itu mencengkeram kedua
pundakku kuat. Bagaimana mungkin cengkeramannya demikian kuat? Bagaimana
mungkin? Aku tak bisa bergerak.
Aku semakin gemetaran,
seolah tubuhku akan dilumat. Wajahnya semakin mendekat ke wajahku, kerutan di
wajahnya tampak jelas di depan mataku, mata putihnya tanpa ada hitamnya bak biji
kenari tampak mendekat sekian centimeter. Lunas, tubuhku bagai dilolosi
tulangnya satu persatu.
Mulutnya mendekat,
bergerak, membuka. Mulutnya mendekati pipiku, aku memejam. Jika harus mati, aku
telah menemukan cahaya yang selama ini aku impikan. Tuhan, aku telah pasrah. Terdengar
suara pelan, berbisik, serak, kemerosak.
”Kaulah Cahaya yang aku
tunggu.”
Tak begitu jelas di
telingaku. Tapi, Lukman melepaskan rengkuhan tangannya, aku bebas. Dan aku
mundur, berlari pontang-panting. Aku terjatuh tergulung di undakan, aku
sempurna tengkurap di tanah di bawah undakan. Wajahku penuh debu, Syahid telah
menghilang, tapi sepedanya masih ada.
Kuambil dan kutendang
standarnya, saat aku mulai mengayuh penuh ketakutan dan masih gemetaran,
kudengar suara dari dalam masjid.
”Jika kau sudah paham
datanglah padaku, akan kutunjukkan jalanmu.”
Aku semakin kuat mengayuh
sepeda, kutemukan Syahid masih berjalan, dia memegangi perutnya. Pastinya
terasa sakit dan kelelahan.
”Ayo naik!”
Syahid naik, ”Kukira aku
tak akan bertemu Pak Arif lagi!” napasnya masih memburu. Kami pulang, dan di
benakku tergambar semua kejadian. Aku masih bingung, Kawan, tapi mungkin suatu
saat nanti aku akan paham. Entahlah, semuanya serba mengambang dan belum jelas.
Not Comments Yet "Bagian 17, Lukman Hakim"
Posting Komentar