Gedung Dalam Baru, 17 juni 1994
Perubahan belum jauh berbeda dengan dua tahun yang lalu, yang jelas
pedukuhan ini hanya mengalami sedikit perubahan. Perubahan yang terlihat
mencolok adalah makin banyaknya orang-orang yang tidak bertanggung jawab,
merusak lingkungan dengan seenak perutnya sendiri. Mencari ikan dengan
menggunakan obat, telah banyak mengurangi kegemaran penduduk yang ingin
menikmati hobinya memancing, semakin lama ikan mulai habis, bahkan aku sendiri
jarang mencari ikan dengan menggunakan kelambu bersama Bapak, karena ikan sudah
tidak terlihat lagi mencipak di permukaan air.
Hari ini tepat hari pembagian raport untuk
cawu III, aku bergegas mengambil sepedaku, dan berpamitan pada Ibu yang masih
menyuapi Yasmin, ah! Fajar masih bermain-main dengan ayam-ayam di belakang,
umurnya kini sudah mendekati enam tahun, tahun ini juga dia akan sekolah
menyusulku. Kukayuh sepedaku melesat
menuju sekolahku, lima hari yang lalu aku malas berangkat, karena memang hanya
jam kosong, menunggu hari sabtu ini untuk menerima hasil raport. Toh, aku menemani Ibu memasak kue, untuk
dibawa keliling sesudah shalat Dzuhur.
Keadaan sekolah tidak banyak yang berbeda,
Bowo masih memegang juara I, Ratna masih menduduki peringkat ke-II, dilanjutkan
Maria dan lain-lain. Dan hari ini pun saat pembagian giliranku, aku tersenyum
biasa dan tawar, tak ada yang istimewa. Sejak mbak Fatimah, mbak Ningsih pergi
aku semakin mundur kini, aku ranking satu tepat dari belakang. Saat teman-teman
saling memberi selamat, aku keluar menuju taman kecil sekolah. Memandangi
bunga-bunga yang mengepakkan kelopaknya, memberikan wewangiannya ke segala
penjuru alam. Aku tidak membawa kue untuk dijual untuk hari ini, aku
benar-benar malas mendengar ocehan-ocehan setiap kali pembagian raport.
Aku menatap sekilas, bunga yang begitu
harum tercium oleh hidungku, “Mawar!” aku teringat sesuatu, aku cepat mengambil
sepedaku, dan kukayuh sekencang mungkin, mengepakkan setiap sayap yang tercipta
dari imajinasiku. Surat itu! Kini aku telah resmi dapat membaca, tunggulah
aku wahai surat. Surat dari sahabat lamaku.
Assalamu’alaikum Warohmatullah Wabarakatuh
Ihsan Sahabatku
Perpisahan memang akan menyakitkan kita,
tahukah kamu aku pasti akan selalu merindukanmu, merindukan setiap detik
kebersamaan denganmu. Saat senja menyapa kita, kala barisan tegak padi
menorehkan keindahan di sayup-sayup penglihatan, saat berada pada cermin
kehidupan, air menggoyangkan perasaan, menciptakan keteduhan disaat menekuri
persahabatan, membelai heningnya kesepian.
Engkau adalah sahabatku yang telah
menjadikan hatiku tentram, perpisahan ini mungkin akan menjembatani pertemuan
yang akan tercipta kelak. Sampai kapan pun dan apapun yang terjadi, aku akan
berusaha menjadi sahabatmu.
Bulan menyapa saat siang telah lelah
Menyapa insan dalam kesenyapan
Menciptakan keteduhan dalam jemari yang
menyatu
Tataplah bulan dari jemariku
Biarkan secara mesra
Allah menyinari kita dengan cahaya-Nya
Ihsan! Aku menunggumu di Universitas
Indonesia. Aku akan menunggumu untuk persahabatan yang abadi, yakinlah pada
keyakinanku, maka aku juga yakin akan keyakinanmu. Aku hanya akan bertemu
denganmu jika engkau menjadi yang terbaik, berprestasi dan tidak kalah dengan
siapa pun, aku akan menerimamu dan syaratnya Engkau harus menjadi nomor satu.
Wa’alaikumsalam Warahmatullah Wabarakatuh
Aku mengulangi beberapa kali, walaupun
masih belum lancar. Aku merenungkan sejenak dan melipatnya kembali. Ada
perasaan aneh yang mencoba menjalariku, persahabatan. Nanti malam, mungkin
Bapak bisa menjelaskannya padaku.
“Apakah kamu akan menepati
persahabatanmu?” Bapak
menatapku setelah lama membaca surat itu. Guratan di keningnya kini bertambah,
matanya begitu teduh menatapku, seolah sirna sudah segala keletihannya. Aku
hanya menganggukkan kepalaku. Tangan itu menggenggam erat kedua pundakku,
“Jadilah yang terbaik untuk persahabatanmu. Engkau harus menjadi nomor satu, di
manapun kamu berada,” senyumnya meyakinkanku.
“Aku akan berusaha Pak, aku minta doanya,”
dan anggukan itu terbawa mimpiku malam ini, bertabur bintang-bintang yang
terang menghiasi malam, menyiapkan rencana yang telah tersusun di otakku.
Liburan berakhir, back to school. Hari ini aku resmi kelas empat, adikku juga mulai
sekolah kini, dia akan selalu kubonceng dengan sepeda miniku. Hatiku ceria
kembali, seperti menemukan setengah jiwaku yang telah lama hilang, “Wo, aku
ingin memberikan pengumuman kepada teman-teman, tolong kamu umumkan setelah
pelajaran ini, supaya tidak keluar dulu. Hanya sebentar,” pintaku pada Bowo
selaku ketua kelas.
“Kamu kan
tahu mereka paling susah untuk di kelas, San.”
“Ok deh, nanti aku kasih kamu dua pisang goreng,” aku tahu maksud
lirikannya, dia memang menyukai pisang goreng buatan Ibu, aku sering memberinya
bonus.
Pelajaran selesai, sebelum bubar, buru-buru Bowo berlari ke depan
dan memberitahukan, ada seorang siswa yang ingin memberi pengumuman. Giliranku
tampil ke depan, setelah Bowo mundur ke belakang sambil senyam-senyum.
“Teman-teman!” kukuatkan ragaku, aku harus siap, “Sebelumnya aku
minta maaf, terutama pada Bowo, Ratna dan semuanya. Aku memang mengakui bahwa
aku ini anak bodoh…,” kutajamkan arah edaran mata, meyakinkan diriku lagi.
“Mulai hari ini, dengarlah teman-teman,
aku akan menjadi nomor satu! Aku akan meraih ranking satu! Untuk itu mohon
pengertiannya,” kurasa cukup, tapi bukan tepuk tangan yang kudapatkan,
melainkan tawa terbahak-bahak, terutama Bowo, dan itu semakin membuatku yakin,
bahwa aku akan meraih apa yang kuinginkan. Mawar! Tunggulah aku.
Istirahat ini aku berjualan lagi, namun
ada yang berbeda sekarang. Aku selalu memegang buku dan membacanya dimanapun
aku berada. Setelah kue habis, aku menemui Kepala Sekolah, semua Guru dan wali
kelas bahwa aku akan menjadi nomor satu, walau mereka sedikit heran, mereka
siap membantu mewujudkan mimpiku.
SMP Negeri 1 di Kecamatan, Pembagian
Raport cawu I, Sabtu 24Oktober 1998
Setelah pembagian raport yang dibagikan Bu
Siti Aminah, aku mendapati diriku seperti tersengat ribuan lebah, yang
menggerogoti tumpukkan harapan yang tarcecer sedikit demi sedikit. Kebahagiaan
yang tersulam dari Sekolah Dasar, pupus seperti buih yang tak berdaya diterpa
ombak. Aku pulang langsung, seperti kesetanan, kukayuh dengan kecepatan kuda pegasus.
Aku memang kini telah memasuki Sekolah Menengah Pertama Negeri, yang banyak
diimpikan anak-anak lulusan SD, bahkan aku diminta secara resmi oleh pihak
Sekolah, karena danem akhirku
mencapai angka 45. Di sekolah ini, bisa masuk sudah sangat bersyukur, apalagi
sampai bisa berprestasi. Aku mendapat peringkat II. Peringkat kesatu dipegang
oleh seorang wanita berjilbab, namanya Sinta Khoiriyah.
Bowo, Ratna dan Maria juga sekolah di SMP
ini. Aku telah membuktikan kepada mereka, bahwa aku bisa mengalahkan mereka.
Aku telah membayar tawa mereka dikala Sekolah Dasar dulu.
Sesampai di rumah, aku langsung menuju
belakang di pinggir Balong, entah apa
yang akan aku katakan pada Mawar jika aku bertemu dengannya kembali. Sahabat
macam apa aku ini yang mengecewakan. Tidak! Aku memukul sepuas hati sebatang
tegak pohon pisang, yang ukurannya sebesar kepalaku. Aku tidak peduli perih
yang menyayat jemariku, hingga pohon itu doyong dan ambruk. Aku puas, darah
menetes pelan. Aku tidak akan pernah meninggalkan belajar lagi, aku merasa
sudah pintar hingga waktu masuk SMP, aku meremehkan teman-teman sekolahku. Aku
akan menjadi nomor satu!
“Tangan mas ngopo berdarah?” Fajar
menegurku ketika aku masuk dari dapur, kini dia kelas empat SD, dia yang sering
menemani Ibu berdagang, dan aku gaduh kambing pak Bayan, lima ekor dia percayakan kepadaku untuk aku pelihara. Selain
itu, sering menjadi buruh pengumpul kopi di tempat mbah Par yang kebunnya luas, atau ketika musim panen padi, jagung,
atau singkong maka aku sering mengasak di sela-sela waktuku. Aku
membiayai biaya sekolahku sendiri, Ayah dan Ibu melarangku bekerja keras, tapi
aku ingin adik-adikku terus sekolah, apalagi kini Yasmin sudah kelas satu SD
dan…, karena aku harus menemui Mawar di Universitas Indonesia. Dan, ini rahasia
diriku, Mawar dan Tuhanku.
Sebelum aku menjawab, Yasmin datang sambil
bernyanyi riang, kerudung pink kecilnya berkibar-kibar karena lompatan-lompatan
yang dilakukannya, tangannya mesra menimang-nimang raport bersampul merah.
“Mas Ihsan, aku dapat ranking satu. Aku
juga bisa seperti Mas,” senyumnya mengembang, sambil menyerahkan raportnya
kepadaku. Aku membuka-bukanya pelan.
“Mana raportmu Jar,” kulihat muka Fajar
pucat, seperti menyembunyikan sesuatu, “Mana. Mas pingin lihat.”
Kepalanya menunduk, “Maafkan Fajar Mas,”
tangannya nampak gemetaran berpadu, menyatukan jemarinya, “Fajar dapat ranking
10.”
Aku mencengkeram erat kedua pundaknya,
“Kenapa kamu malas belajar! Mau jadi apa kamu, jika kamu bodoh! Lihat adikmu
Yasmin, dia ranking satu!” menggoncang-goncangkannya kuat, aku menemukan tempat
pelampiasan kekesalanku. Fajar menangis keras, hingga Ibu melerai dan memintaku
untuk tidak berlaku kasar pada Fajar. Aku telah jauh berubah, mungkin semua
merasakannya, watakku berubah keras.
Hari ini tempatnya lek Pardi panen singkong, setelah selesai aku mengasak singkong
sisa yang masih terpendam atau terpotong. Cangkul kecil pemberian Bapak
kutancapkan dalam-dalam di bekas cabutan singkong, dapat satu dua kukumpulkan.
Peluh mengalir deras di pipiku, keteguk air minum yang keselipkan diikatan
sabuk. Aku harus mengumpulkan sebanyak mungkin, dan menabung untuk biaya
sekolah, dan sisanya aku tabung untuk berangkat menemui Mawar, di tempat yang
nun jauh disana.
Seekor jangkrik hampir terkena cangkul
yang hendak kutancapkan ke bumi, aku menghentikannya, dan membiarkannya
melompat serta berlalu. Lihatlah Mawar, engkau pasti percaya padaku, bahwa
aku akan menepati janji persahabatan kita. Sedikit lelah, aku membuka tas
dan mengambil buku pelajaran, belajar sejenak sambil menghilangkan lelah,
berteduh di bawah pohon randu, membiarkan semilir angin menyisir rambutku, yang
tampak sedikit kemerahan terkena sengatan matahari. Kutu buku, sahabat buku, mungkin semua
teman-temanku memang pantas menyebutku.
Pembagian Raport Kelas III, Cawu III, 25
Juni 2001
Kepala sekolah langsung memberikan
raportku di kelas, prestasi yang kuraih telah membanggakan pihak Sekolah,
setidaknya untuk satu kecamatan. Selama di SMP, aku mendapat ranking satu,
kecuali waktu kelas satu cawu satu, aku mendapatkan peringkat ke-dua. Aku juga
mendapatkan beasiswa untuk meneruskan Sekolah. Aku semakin semangat belajar,
semakin semangat bekerja, karena janji persahabatanku tetap aku penuhi pada
Sahabatku. Tunggulah sebentar lagi, Sahabatku.
Bapak masih setia dengan pekerjaannya, dia
juga masih sering mengajariku silat, walau mungkin Bapak dulu mungkin tidak
lulus latihan silat di waktu mudanya. Ibu masih membuat kue, dan menjajakannya
bersama Fajar, dan kadang gantian dengan Yasmin.
Beberapa surat datang kepadaku, dari
beberapa Sekolah negeri maupun swasta SMA, untuk mempersuntingku belajar di
gedung mereka. Aku lebih menghargai pendapat Bapak yang memilihkan SMK Negeri I
di kota, sebagai continuitas dari keahlianku menjadi enterpreneur
atau belajar berbisnis. Aku menyetujui usulan Bapak. Tanggal 18 juli 2001, aku
resmi menjadi warga Sekolah Kejuruan Negeri I di Kota yang lumayan jauh dari
desa. Sekolah ini terletak di daerah kampus kota Metro, di seputarannya banyak
berdiri sekolah-sekolah lain, ketika pagi menjelang, kendaraan sangat macet,
karena semua pelajar melewati pusaran Kampus.
SMK Negeri tempatku menuntut ilmu,
mempunyai tiga jurusan yaitu MB (Manajemen Bisnis) atau selling skill,
akuntansi dan sekretaris. Aku memilih Manajemen Bisnis. Prektek kurikulum juga
banyak menggunakan metode praktek daripada teori, ini memudahkan siswa langsung
bisa memahami pelajaran, daripada di cekoki teori dan retorika belaka.
Aku tidak tahu kabar Bowo meneruskan
dimana, jika Ratna kudengar kabar sedang mempersiapkan pernikahannya, ah!
Menikah, bukankah masih terlalu dini. Sinta tanpa kutahu, ternyata sekolah
disini juga, sekelas denganku di kelas I BM I, dia adalah temanku sewaktu SMP,
wajahnya sedikit mengingatkanku pada Mawar. Mawar! Aku akan selalu menjadi nomor satu dimanapun berada.
Berangkat Studi Praktek, Jawa, Senin 4
Agustus 2003
Lima mobil Bus berangkat dari SMK Negeri,
menuju tempat-tempat industri yang telah terjadwal di seputaran Jawa, disamping
itu juga mengunjungi beberapa tempat rekreasi. Alhamdulillah semua biaya
adalah uang tabunganku selama ini, Bapak dan Ibu melepaskanku dengan doa. Aku
sangat mencintai mereka.
Selama menjadi siswa SMK, empat semester
yang kujalani aku mendapatkan predikat nomor satu. Studi ini juga sebagai refresing,
karena setelah ini kami akan praktek ke dunia kerja selama empat bulan di
tempat-tempat kerja. Selama dua tahun aku di SMK, aku tinggal di Pekalongan,
karena memudahkanku berangkat sekolah, tinggal di sebuah rumah yang mempunyai
industri perbibitan, sehingga aku bisa bekerja menyiram bibit di pagi dan sore
hari. Selain itu, di sela-sela waktu aku bekerja di pasar bibit Pekalongan,
menjadi kuli angkat ketika ada pembeli yang datang membeli dalam jumlah besar,
terkadang malam pukul 12.00 tepat pun, pasti aku bekerja jika memang ada
pembeli.
Pekerjaan adalah caraku untuk bertahan,
namun aku mencoba disiplin dalam waktu yang aku susun, dari mulai belajar
ketika menjelang subuh dan pulang kampung seminggu sekali, di hari minggu. Dari
Pekalongan ke Sekolah, aku memakai sepeda yang berjarak 5 kilometer, adikku
Fajar kini masih SMP kelas 3 di SMP Negeri tempatku dulu, walau tidak di kelas
A setidaknya di kelas B. Aku sering memarahinya untuk rajin belajar. Yasmin kini kelas enam SD. Dia selalu
mendapatkan peringkat kesatu, aku bangga kepadanya.
Bus berjalan membelai lamunanku, di
Sekolah aku mengikuti kegiatan ekstrakulikuler,
hanya sebagai jembatan agar aku tidak dihukum ketika razia organisasi, dan yang
kuikuti hanya Rohani Islam, itu pun aku hanya berangkat sebulan sekali, karena
selain pekerjaanku padat, aku juga mencari yang tidak menggunakan banyak tenaga
fisik. Sinta berada di bus yang sama denganku, dia mengikuti banyak kegiatan
ekstrakulikuler, selain OSIS, dia juga sangat aktif di ROHIS dan PMR, jilbabnya
selalu mengingatkanku pada Mawar! Aku rindu pada sahabatku. Tunggulah Mawar,
satu tahun lagi, dan aku akan datang ke kotamu.
Pukul 02.00 siang bus sampai di Bakauheni.
Setelah mobil terparkir, semua siswa bubar manaiki Dek atas, agar tidak
kepanasan di dek terbawah yang pengap. Aku mengayunkan langkahku setelah kurasa
ruangan bus kosong, saat melangkah sekilas bayangan masih duduk di kursi, “Sin!
Kamu tidak turun?” kulihat
mukanya sedikit pucat.
“Iya, sebentar lagi.”
“Ayo sekalian bareng.”
Sinta tersenyum dan mulai mengangkat
badannya pelan, tubuhnya kurasakan berat diangkat. Badannya sedikit limbung dan
hampir jatuh, aku sempat ingin membantunya tapi dia menolak. Mungkin ini
perjalanan yang panjang sehingga agak membuatnya mabuk, apalagi yang belum
pernah menaiki kapal, termasuk aku.
Aku berjalan di depan Sinta, semua siswa
tahu bahwa aku adalah anak Rohis yang berprestasi, walau aku tidak aktif di
setiap kegiatannya. Aku juga terkenal anti pacaran tapi sebenarnya bukan ala
anak Rohis, tapi karena aku tidak tertarik, dan aku hanya ingin menepati janji
persahabatanku dengan Mawar. Ketika aku kelas satu dan dua dulu, aku beberapa
kali mendapatkan surat cinta, namun aku balas dengan menulis bahwa aku sudah
mempunyai pacar, atau ada juga yang mengatakan langsung bahwa mereka mencintai
aku, ah! Cinta monyet. He..he.. aku sering tersenyum sendiri mengingatnya,
apakah wajahku ganteng? Padahal biasa-biasa saja, hanya tubuhku atletis karena
bekerja tanpa kenal waktu, apalagi rambutku kemerahan, terpanggang sinar matahari.
Aku meninggalkan Sinta ketika bertemu
dengan Darma, Khusnul, dan Asih yang mereka adalah anak-anak Rohis, aku
memesankan pada mereka untuk menjaga Sinta, karena terlihat sedikit sakit.
Ketika akan meninggalkan mereka sempat terucap dari bibir Sinta, ucapan lirih,
“Syukran,” aku menatapnya sejenak, “Sama-sama,” walau tidak fasih
berbahasa arab, aku sedikit tahu dari percakapan anak-anak rohis.
Aku menaiki dek teratas, tangga terakhir
ditutup besi sebatas perut, ketika akan naik seorang penjaga kapal melarangku.
Aku menunduk, setelah penjaga itu berbelok, aku menaiki kapal, hingga mendekati
pengeras suara peluit, saat kapal akan berangkat atau berhenti. Aku sendirian,
duduk di bawah tiang bendera, yang berkibar dengan kerasnya karena angin laut
begitu kencang, rambutku tergerai acak-acakkan, kubiarkan saja.
Setahun lagi, walau sekarang aku akan
melewati kotamu, tapi aku janji bahwa kita bertemu saat kuliah nanti. Aku akan
selalu berusaha menepati janjiku. Perjalanan ini menurutku tiada gunanya, tapi
ketika nanti setahun lagi, maka itu adalah hari bersejarah bagiku. Aku
mendekati bibir tiang di ujung kapal, “Mawar! Tunggulah janji persahabatan
kita! Aku akan datang!” aku berteriak sepuasnya pada gelombang yang tercipta
kecil dari usapan angin, menciptakan buih-buih berserakan.
“Hai! Jangan berteriak-teriak, apa kamu
sudah gila!” seorang berseragam keluar dari pintu, tepat di samping bawahku,
mungkin Nahkoda.
“Aku tidak akan berteriak lagi, tapi
izinkan aku disini sampai kapal sampai di Merak!” Anggukan kepalanya membuatku
segera duduk di dekat tiang, berpayungkan besi bundar besar, aku menatap awan
berarak, matahari menyengat dan laut tak bertepi.
Hari-hari berlalu, kami menginap di hotel
Nusantara, seratus meter dari Malioboro Yogya. Aku malas keluar, seperti teman-teman
yang hilir mudik, mencari barang yang bisa mereka bawa pulang ke Lampung. Besok
perjalanan terakhir, yaitu ke Sritex, tempat pembuatan beberapa baju kepolisian
negara-negara luar, dilanjutkan ke Prambanan sebagai tempat terakhir. Aku
terlelap tidur sambil mengingat keluargaku.
Di Prambanan, sore itu aku hanya duduk di pinggiran candi,
ratusan kilatan foto mengkilat, beberapa siswi memintaku berfoto dengannya. Aku
mengiyakan, setelah foto, mereka pergi lagi.
Aku pindah, ingin rasanya ke mobil kembali,
tetapi kuurungkan sejenak, lalu kupaksakan kembali. Saat berada di antara
candi, aku melihat Sinta berjalan gontai, tangannya memegang kepalanya, sambil
matanya kadang-kadang terpejam. Mungkin pusing. Ketika jarak kami sekitar 3
meter, tubuhnya kuyuh terjatuh, aku buru-buru menangkap tubuhnya. Dia pingsan. Sempat kulihat matanya
melihatku, lalu hilang tertutup kembali. Aku berteriak, tapi tak ada yang
datang. Aku berlari membopongnya, kebetulan bertemu pak Sugiman wali kelasku,
lalu kami membawanya ke rumah sakit terdekat. Keluarga di Lampung dihubungi,
dan ayah ibunya sedang menuju kemari.
Hari ini bus pulang kembali ke Lampung. Aku, Asih dan Darma tidak ikut karena
menunggu keluarga Sinta datang. Pak Giman kuminta untuk pulang saja, biar kami
yang menunggunya disini.
“Sudah kukatakan kalau dia sakit, kenapa
kalian membiarkannya berjalan sendirian?”
“Kami kehilangan dia San. Selain itu dia
tidak pamit pada kami.”
Aku mencerna penjelasan Darma, wajahnya
terlihat menyesal. Kami bertiga menunggu di kursi panjang besi depan kamar. Seorang Perawat mendekati kami, “Maaf apa
kalian keluarga Sinta?”
“Kami teman-temannya Suster.”
Silakan ikut saya untuk mengurus
administrasinya. Setidaknya jika orangtuanya belum datang, ada jaminan untuk
pihak Rumah Sakit.
“Baiklah,” aku mengikuti langkah Suster
itu, aku merelakan uangku sebagai jaminan. Persahabatan lebih berharga dari
harta apapun, apalagi persahabatan yang didasari dengan saling kepercayaan. Ah!
Aku kembali teringat Mawar.
Kulihat tubuh lemas itu masih tak bergerak,
Darma dan Asih sedang tidur di kursi, mungkin kelelahan. Orangtua Sinta belum
datang, walau Sinta adalah saingan beratku, dalam menetapi persahabatanku
dengan Mawar, tapi dia juga teman yang baik. Aku salut padanya, walaupun banyak
mengikuti kegiatan ekstrakulikuler, dia masih bisa mendapatkan peringkat kedua,
dan sempat mengalahkanku sewaktu awal Sekolah. Kupandangi sekilas wajah
putihnya, cantik, soft, sungguh cantik, semakin cantik dengan balutan
jilbab. Sungguh beruntung orang yang akan memilikinya kelak. Aku minder sendiri
melihat wajah itu, ah! Apakah Mawar mau menerimaku? dengan wajah hitam legam,
setidaknya sedikit terbakar.
Lamunanku buyar, Sinta membuka matanya
pelan. Sorot matanya langsung mengarah padaku yang langsung mendekatinya.
Matanya mengedar, kutaksir melihat Asih dan Darma yang terlelap. Mulutnya
bergetar seolah ingin mengucapkan sesuatu.
“Ih… Ihsan?” suaranya lirih.
“Ya, ada apa Sin?”
“Jazakallah,” matanya sendu menatapku, dan buliran air meleleh
pelan dari kedua kelopak matanya yang indah. Seandainya Mawar menangis, maka
akan kulipat bumi sebagai tissue untuk membersihkannya, hingga tiada air mata
yang akan tumpah.
Aku paling tidak tahan melihat wanita
menangis, kuambil tissue yang tersedia di meja, kupaksakan mengusap airmatanya,
walau Sinta sempat menolak.
“Sekarang jam berapa?”
“Jam 10.00 malam,” aku memperhatikan
arloji yang baru kubeli sewaktu di kapal.
“Astaghfirullah, aku belum shalat,”
Sinta mencoba bangkit. Tubuhnya
masih terlihat lemah.
“Aku akan membantumu.”
“Jangan San. Aku tidak halal untukmu,
bangunkan saja Asih,” pintanya pelan.
“Baiklah,” aku hendak melangkah.
“San,”
“Apa Sin? Ada yang kurang?”
“Jazakallah,” kubalas dengan
senyuman. Aku melangkah membangunkan Asih dan Darma, mereka mengucapkan Hamdallah
berulang kali sambil membantu Sinta wudhu dan shalat. Aku meninggalkan mereka,
namun sempat kutangkap senyum tulus Sinta, di antara wajah piasnya, pucat tak
sedikitpun mengurangi kecantikannya.
Pagi–pagi kedua orangtua Sinta datang,
sekaligus hari ini juga kami pulang ke Lampung, dan Sinta dipindahkan ke Rumah
Sakit di Lampung. Kami pulang dengan mengendarai kendaraan ayah Sinta. Pak Heri
dan Bu Sulis adalah sosok orangtua yang lembut, dan penuh pengertian pada
Sinta, itu dapat kutangkap dari percakapan dan obrolan ringan denganku selama
di perjalanan. Bu Sulis bercerita cemas, bahwa Sinta paling sering memforsir
dirinya untuk kegiatan, dan jarang mau beristirahat. Kutahu dari teman-teman Rohis, bahwa Sinta adalah
wanita perkasa. Ada- ada saja.
Pulang dari Yogya, aku langsung pulang ke
rumah di Gedung Dalam Baru. Bapak masih kerja. Alhamdulillah Ibu dan
Fajar barusan pulang. Ketika malam, aku menceritakan kejadian di Yogya, mereka
beberapa kali menganggukkan kepala, kekhawatiran mereka terobati sudah. Setelah
acara bincang-bincang, aku mengeluarkan sedikit oleh-oleh, beberapa kaos yang
aku beli murah, dan ada kue dodol dan berem yang kubeli sewaktu perjalanan
pulang, dan kebetulan juga dibelikan oleh keluarga Sinta.
Tubuhku begitu lelah, perjalanan laut
membuat pandanganku masih menyisa bergoyang-goyang. Kesempatkan tidur di
kamarku dulu sewaktu kecil, Fajar izin hendak bermain, aku mengangguk dan berpesan jangan pulang terlalu sore. Mata
yang liyer-liyer tak bisa kutahan lagi, hanya sebentar, karena aku
bermimpi menakutkan. Aku melihat Sinta di ujing tepi jurang sambil menangis,
dan mengulurkan tangannya. Aku mencoba mendekatinya, tapi dia tersenyum dan
menerjunkan diri ke jurang. Untung hanya mimpi, aku bergumam pelan, lega.
Sekolah telah masuk kembali, namun hanya persiapan untuk
melakukan persiapan praktek kerja nyata. Aku mendapat jatah di PT Metro Solar
Investama, di bagian Marketing and Selling, bersama dua rekanku Haidir dan
Saiful. Praktek akan dimulai
minggu depan, dan dilakukan selama empat bulan tepat. Dan sebuah surat datang
kepadaku dari Haidir. Katanya, Sinta menitipkannya sebelum semua
diberangkatkan.
Praktek yang lumayan melelahkan, pagi
sampai sore. Di samping itu, aku juga harus bekerja sebagai kuli. Tapi, mungkin
aku akan berhenti karena ada yang menawariku menjualkan barang miliknya. Di
tempat praktek, banyak pengalaman yang diperoleh, terutama
menghadapi kompleksnya karakter buying, atau saat bertemu suplier, yang
membawakan barang, setelah sebelumnya dilakukan pengecekan stock barang yang
memakan waktu berjam-jam. Saat mengetik surat pesanan, aku teringat surat dari
Sinta yang belum kubaca. Ketika pulang kusempatkan membacanya.
Assalamu’alikum Warahmatullah Wabarakatuh
Wahai teman yang baik
Ba’da Tahmid wa Shalawat
Semoga Allah meridhaiku menuliskan sedikit
ganjalan yang menggumpal di hatiku, dan semoga juga berkenan di hatimu.
Di waktu menulis, langit cerah dan udara
begitu teduh. Tanganku yang bergetar kupaksakan untuk menggerakkan pena,
mungkin tak pantas aku menulis untuk orang sebaik dirimu. Telah datang banyak
berita tentangmu, yang hinggap di pendengaranku, Teman.
Kamu memang seorang yang tegar, bekerja
untuk biaya sekolahmu sendiri, bahkan kutahu engkau juga membantu membiayai
sekolah adikmu. Sifatmu yang pendiam, menjadi bahan perbincangan banyak siswi-siswi
di sekolah kita, tuturmu yang sedikit membuat banyak orang bersimpati. Walau
terlihat keras, namun tuturmu lembut. Wacanamu yang sering ditampilkan di
mading, maupun buletin sekolah selalu kubaca, visi ke depanmu sungguh
cemerlang, kutulis dan kuingat tajam di hatiku.
Ihsan
Kedua orangtuaku begitu sayang padaku,
tapi tahukah engkau? Aku tak mau melihat mereka sedih akan adanya aku. Aku
merasa ada baiknya aku hidup sendiri di muka bumi, namun ketika aku mengenalmu
di saat SMP dulu, aku menemukan separuh jiwa yang terasa telah hilang, hingga
aku mengikutimu masuk di SMK. Tahukah engkau wahai teman, engkaulah semangatku,
sehingga aku memperoleh prestasi yang membuat kedua orangtuaku gembira dan
tersenyum.
Aku semakin merasa bersalah, jika sampai membuat
orangtuaku menangis. Aku tak tega, sungguh. Lebih baik aku tiada, jika
seandainya adanya aku membuat mereka meneteskan airmata. Belum pernah aku
bercerita pada siapapun tentang diriku, namun kuberanikan bercerita padamu,
karena aku tahu kamu adalah orang yang memegang amanah. Dibalik keceriaan dan
senyumku, ada berjuta kesedihan dan kegelisahan yang menutup, hingga tak ada
yang terlihat.
Tahukah engkau teman?
Aku berada di ambang ujung perjalanan.
Setidaknya aku ingin mengatakan padamu, walau aku merasa tak pantas
mengatakannya. Tapi hatiku memaksaku mengatakannya, semoga Allah Azza Wa Jalla
memaafkan semua dosa-dosa kita.
Teman, izinkanlah aku menjadi temanmu. Aku
adalah bagianmu yang tidak terpisahkan, setidaknya izinkanlah di ujung
perjalananku menjadi temanmu. Mohon terimalah permintaanku
Afwan wa Jazakallah
Sinta
Khoiriyah
Aku membacanya beberapa kali. Ah! Apakah
ini sungguhan? Bukankah aku yang seharusnya bertanya padanya, karena aku tidak
sepadan dengan karakternya. Siapakah aku? Seorang pekerja keras dan miskin,
untuk makanpun aku harus menahan lilitan perih di perut. Makan sekali dua kali,
sudah merupakan kesyukuran terdalam bagiku. Wajah kecilku dengan sekarang telah
jauh berbeda, aku terlihat lebih kurus sekarang, kutatap diriku di cermin.
Benar-benar kontras dengan fotoku waktu kecil.
Kupaksakan menulis surat singkat balasan,
agar Sinta tak kecewa.
Wa’alaikumsalam Warahmatullah Wabarakatuh
Sinta yang baik
Wa Ba’du
Suratmu telah sampai dan kubaca. Banyak
hal yang masih membuatku tak mengerti, tapi suatu saat mungkin dengan
berjalannya waktu aku akan mengerti. Kutulis dengan kesungguhan hatiku, bahwa
aku bersedia menjadi temanmu, kuharap engkau menerima temanmu ini apa adanya,
karena aku hanyalah seorang miskin yang mencoba mencari ilmu di luasnya ciptaan
Allah.
Salam persahabatan.
Ihsan
Surat lalu kutitipkan pada Darma yang
kebetulan praktek di dekat tempatku, dan kurasa mereka sering bertemu saat
kajian pekanan bersama mbak Tuti.
Di Ambang kelulusan, aku mencari pak Sujadi selaku Kepala Sekolah.
Aku menceritakan keinginanku, yang ingin meneruskan kuliah di Universitas
Indonesia dan memintanya membantuku. Dia berjanji akan berusaha membantu, itu
membuatku sedikit lega. Selain itu, aku mencari informasi tentang UI; baik
melalui brosur, koran, majalah, gosip, alumni dan informasi apapun untuk
membantu.
Saat ujian telah berakhir. Aku mendapatkan
informasi, bahwa aku tetap mendapatkan predikat tertinggi, dan disusul sebuah
nama yang membuatku untuk pertama kalinya membuat surat, Sinta. Beberapa teman
mengucapkan selamat padaku, termasuk Haidir, Saiful, dan Darma.
Aku tidak melihat Sinta sama sekali,
mungkin sedang syukuran bersama teman-temannya. Selama pergantian waktu,
setelah praktek aku seperti kehilangan, karena kami disibukkan dengan persiapan
UAN. Tanpa kusadari, sebentar lagi ulang tahunku yang ke-18. Selama ini, banyak
hadiah dari teman di saat ulang tahunku, tapi semua tidak begitu menarik
perhatianku. Biasanya juga disertai surat cinta, jika itu dari para siswi. Ah!
Dengan hadiah topi, jam tangan, baju, kaos, gelang atau kalung gaul, mereka mau
mencoba memisahkan keyakinanku pada Mawar? Tidak mungkin!
Seorang lelaki bersama wanita tergesa-gesa
menyibak kerumunan. Aku diberitahu Saiful yang sedikit hitam itu, bahwa mereka
mencariku. Aku segera mendekati mereka, wajah mereka sepertinya aku kenal.
“Kumohon nak Ihsan, hanya sekali ini saja,
bantulah kami,” pak Heri berbicara sambil meneteskan airmata pelan, dan diusap
istrinya.
“Iya Nak, dia adalah anak kami
satu-satunya. Harapan kami ada padanya, kami mencintai Sinta melebihi kehidupan
kami sendiri. Kami tak akan kuat kehilangan dia. Kumohon bantulah dia. Aku akan
melakukan apa saja asal nak Ihsan mau membantu kami. Kumohon Nak,” bu Sulis
menimpali, aku semakin galau.
“Aku akan mempertimbangkannya, mohon Bapak
dan Ibu juga mengerti saya,” aku mencoba sekuat tenaga tenang, kami bicara di
ruang tamu sekolah. Mereka
terlalu sayang kepada Sinta, segalanya akan dikorbankan untuk anaknya. Aku tak
tega menolak mereka sekarang, untuk menikahi Sinta? Menikah dengan Sinta,
berarti aku akan mengkhianati persahabatanku.
“Aku akan memberi jawaban minggu depan,
karena aku harus membicarakan masalah ini pada keluarga saya dulu.”
“Baiklah, kami dapat mengerti. Ini
bukanlah masalah sepele, dan kami mohon masalah ini jangan sampai ada yang
tahu. Setidaknya, itulah permintaan kami,” pak Heri berusaha berkata tegar
dalam kesedihannya.
Mereka berpamitan padaku, aku mengatakan
akan segera menjenguk Sinta. Gadis itu, gadis anggun yang banyak menjadi
perbincangan mulut siswa baik di Rohis maupun bukan. Gadis yang banyak menjadi
rebutan, ternyata mempunyai penyakit kronis. Kanker otak, dan selama ini dia
menyembunyikan penyakit itu dari orangtuanya, karena tidak mau melihat mereka
bersedih. Aku teringat surat dan mimpi tentangnya.
Seorang siswi mengucapkan salam, mengagetkan lamunanku, aku menjawabnya.
“Ada apa Dar,” Darma seperti mencari
sesuatu dalam tasnya.
“Ada titipan dari Sinta. Apakah kamu ada
waktu sekarang, bagaimana kalau kita menjenguknya. Kamu pasti tahu kalau dia
sakit.”
Aku menerima kotak kado darinya, “Jadi
kamu juga tahu?” aku sedikit keheranan.
“Hanya aku dan Asih, Insyaallah
yang lain belum.”
Kami bertiga menaiki angkot menuju rumah
Sinta, gadis itu tersenyum di atas pembaringan. Kemarin dia baru saja dibawa
pulang dari Rumah Sakit. Sorot matanya tak menyiratkan kesakitan, tapi kurasa
dia menutupinya, seperti suratnya padaku. Kami hanya mengobrol seperti obrolan
biasa, tentang rencana meneruskan studi, tentang agenda Rohis yang aku sendiri
tidak aktif.
Aku pulang dengan perasaan tak karuan.
Kudengar dari orangtua Sinta, selama tak sadarkan diri di Rumah Sakit, Sinta
hanya mendesahkan namaku. Apakah ini hanya bohong? Mana mungkin gadis setegar
dia menaruh hati padaku yang miskin, dan ilmu agama saja tidak becus. Banyak
beberapa siswa yang aktif di Rohis, tapi memang tak dipungkiri mereka ikut
aktif pengajian, namun beberapa juga kulihat masih pacaran. Aku sendiri tidak
tahu alasan kenapa mereka anti pacaran, yang jelas anti pacaranku adalah untuk
persahabatanku.
Seminggu berlalu begitu cepat. Aku menceritakan kisah itu
pada Bapak dan Ibu ketika malam menyapa. Sinta juga punya kesempatan hidup,
jika seandainya ada orang yang disayanginya selalu memberinya motivasi hidup.
Ibu menyerahkan sepenuhnya keputusan di tanganku. Bapak hanya menyuruhku
memikirkan dengan matang, semua keputusan pasti punya akibat, dalam sorot mata
Bapak, aku membaca bahwa dia tahu aku menyembunyikan sesuatu rahasia. Rahasia
tentang janji persahabatan.
Aku datang ke rumah Sinta, setidaknya aku
harus memberi kepastian, walau keputusan itu baik atau buruk. Aku menetapkan untuk setia pada
persahabatanku, karena itulah tujuan aku hidup di dunia. Tanpa persahabatan itu,
aku pun tidak bisa hidup. Rumah Sinta begitu banyak orang berkerumun, adakah
sesuatu?
“Pak, ada apa di dalam?” aku bertanya pada
laki-laki separuh baya duduk di depan rumah.
“Sinta sekarat Nak…,”
Aku tidak sempat mendengarkan suara itu
habis, aku masuk dengan menyibak kerumunan, “Maaf, permisi…, permisi…,” aku tak
peduli dikatakan apa oleh orang-orang, walau Sinta tahu keputusanku, tapi aku
tidak rela dia harus menghadap Tuhan begini cepat. Aku memasuki kamar Sinta, orangtuanya
berada di sebelahnya. Wajah Sinta pucat, matanya sayu tinggal mengecil. Aku
mendekatinya.
Kulihat Darma dan Asih juga disana. Sebuah
desahan lirih masih kudengar dari bibir Sinta, “San.” Entah kenapa namaku yang
disebutkannya kini.
“Iya, saya Ihsan. Saya telah datang,” pak
Heri mempersilakan aku duduk.
“Benarkan teman kataku, aku berada…, di
ujung perjalanan. Darma, Asih kalian harus meneruskan perjuangan dimana…, pun
berada. Maafkan Sinta Abi, Umi.”
“Cukup Sin, jangan ngomong sembarangan,”
Asih melelehkan airmatanya.
Aku tak kuat melihat keadaan ini,
“Sudahlah Sin, ingatlah pada Allah. Jika memang ini yang terbaik dariNya,
pergilah dengan tenang,” kulihat tatapan aneh dari Asih dan Darma yang
menatapku. Entah kenapa, kata itu keluar dari bibirku.
Ucapan lirih, “Allah,” mendesah lirih dari
bibir bergetar itu, mengantarkan napas senggal terakhir Sinta. Tangis pelan
pecah, walau kesedihan pasti ada, tapi sebenarnya keikhlasan akan kepergian itu,
sudah tertanam kuat di hati orang yang beriman. Kulihat senyum itu merekah,
meninggalkan tusukan tersendiri di dadaku. Hidup yang fana, kenapa aku selalu
mengharapkan persahabatan yang aku tidak mengetahui akhirnya.
Selamat tinggal sahabatku, untuk pertama
kalinya, aku ragu pada keyakinanku tentang persahabatan. Apakah tujuan hidupku
hanya persahabatan? Aku berterima kasih padamu sahabat, yang walau sebentar,
telah mengetuk setitik kegamangan mendung kayakinanku? Aku akan selalu berdoa
untukmu, semoga Allah selalu memaafkan segala kesalahan kita.
Kakiku seolah tertancap di sebelah kuburmu
sahabat, aku belum mau beranjak, walau semua orang telah meninggalkan jasadmu.
Bapak dan Ibumu berpamitan padaku, setelah sebelumnya beberapa teman-teman
sekolah kita. Untuk ketiga kalinya aku meneteskan airmata untuk perempuan; yang
pertama untuk ibuku, yang kedua untuk Mawar disaat perginya, dan yang ketiga
adalah dirimu sahabatku. Untuk sejenak, izinkanlah aku menemanimu, agar kau
lebih merasa tenang, ketika kedua malaikat
bertanya. Hujan rintik menyapaku, terasa teduh meluluhkan kesombonganku
selama ini. Tuhan, maafkankanlah semua dosa Kami.
Not Comments Yet "Part 6, Ujian Keyakinan"
Posting Komentar