Hatiku berdendang
Penuh rindu
Allah, aku rindu bersamaMu...
Malam menyapa, bulan
tampak indah bersinar. Ini hari pertama para santri menginap di pondok
Darussalam. Siang yang melelahkan, aku jadi teringat ketika di desa. Tidak ada
yang kami kerjakan sendiri jika bersama Bapak dan Ibu. Rindu itu menusuk-nusuk
dalam kalbu.
Jumlah santri yang
baru berjumlah 31, semua pendaftar diterima. Walau tempatnya masih kurang,
namun terdengar kabar kalau pesantren akan dibangun lagi, padahal ditahun-tahun
sebelumnya, paling banter Darussalam hanya menerima santri antara
sepuluh hingga lima belas orang saja. Siang tadi aku teringat teman-teman yang
aku tinggalkan di Asrama Mahasiswa, mereka juga membantuku mengemasi
barang-barangku serta membantuku pindahan. Mereka memang sahabat-sahabat yang
baik. Syarif yang pintar, Hamid dan Hanif yang lucu, Farhan yang mempunyai aktivitas
berjubel, Anto sigondrong teknik dan tentu saja kak Nugroho, mereka semua
mengucapkan Barakallah padaku karena aku diterima di pondok. Mereka
semua mendoakanku, agar aku dapat menimba ilmu dengan baik, dan semoga Allah
meridhai setiap perjalananku. Aku jadi teringat sesuatu, ya, tadi siang ada sms
masuk tapi belum sempat aku buka.
Aku membuka Hp, dua
sms dari..., Wanda dan nomor baru. Kubuka punya Wanda dahulu.
”Asw. Mantan preman
sekarang sudah insyaf J, semoga Allah
memudahkan jalanmu untuk memperbaiki diri, barakallah ya Akh,”
Dasar Wanda, masih
suka bercanda. Kuketik beberapa huruf.
”Wass. Masih mending mantan
preman daripada mantan Ustadz. Tapi, terima kasih atas doanya.”
Aku membuka sms yang
satu lagi.
”Aslkm. Pertm kali kuucapkn
trim’s kpd anda. Adik saya banyk berubah, dia smkin percy diri dan kesepianny
berkurang. Sebnrnya sy ingin brtemu anda, ya mungkn suatu saat. Kudengar dari
adikku, anda jg kulh di UI. Trims banyak. Aisyah kakak Fadli.”
Dari kakaknya Fadli
ternyata. Fadli anak yang penurut walau dia agak pendiam, kurasa dia mempunyai
masalah yang teramat mencekam sejak kecil. Selama ini dia belum menceritakan
apapun kecuali cerita tentang kakaknya, Aisyah. Banyak hal yang kuketahui
tentang kakaknya itu, walau aku belum bertemu dengannya. Aisyah, wanita yang
membiayai kuliah serta sekolah adiknya sendiri. Wanita tegas yang sekaligus
penuh kasih sayang. Tak pernah terlihat menangis, jika Fadli menangis maka
Aisyah akan memarahinya, walau sesudah itu dia akan membuat adiknya tersenyum
kembali, misalkan dengan membelikan sesuatu yang disukainya. Aku tahu mereka
membayarku tidak tinggi, bahkan mungkin separuh dari satunya, tapi jika tidak
dibayarpun aku akan tetap mengajari Fadli, karena aku pernah merasakan
kepahitan mereka. Wanita itu, yang kata Fadli cantik bagaikan bidadari. Jika
mengingat bidadari dunia..., aku pasti teringat ibuku. Dialah bidadari dunia
bagiku.
Aku menghentikan
lamunanku, kutatap bulan. Kuketik beberapa kata untuk membalas sms dari Aisyah.
Dan aku menyimpan nomornya, ”Wass. Aku
hanya menjlnkan tugsku. Aku akn berush agar adikmu sellu tersenyum menatap masa
depannya. Jangan lupa berdoa untuknya.”
Saat mataku telah
lelah, Syahid teman sekamar denganku mengajakku tidur. Kini sekamar kami harus
bersabar sementara, sebelum gedung yang akan dibangun jadi. Kami sekamar lima
orang, padahal ditahun sebelumnya mereka biasa sekamar dua orang saja. Saat
hendak memejamkan mata Hp-ku menjerit pelan, karena volumenya hanya satu.
”Insyaallah, terima kasih.
Mungkn hanya Allah yang bisa membalasnya. Met tidur.”
dari Aisyah.
Aku menghidupkan alarm
Hp, karena pengumuman tadi sore. Besok pagi pukul 03.15 menit, semua santri
diharapkan untuk shalat tahajud berjama’ah yang Insyaallah akan diimami oleh Ustadz Wahid. Kututup mataku perlahan,
untaian doa Kulantunkan dan aku tak tahu, kapan aku terbang ke dunia maya yaitu
mimpi.
* *
*
Hari-hari di pondok
pada awalnya masih terlihat santai, namun setelah seminggu peraturan mulai
berlaku. Jadwal belajar di pondok yaitu dua kali sehari, dari hari senin hingga
jum’at, sedangkan sabtu dan minggu libur. Belajarnya pada waktu ba’da subuh,
dan ba’da shalat isya’. Materinya pun beragam, dari seminggu dua kali belajar
bahasa arab menggunakan buku Al ’Arobiyah linaa syi iin yang terdiri
dari enam jilid kemudian ta’mir,
satu kali perpekan, kemudian setiap pagi ba’da subuh tahsin dua kali
yaitu pembenaran bacaan Al-Quran. Kitab yang dipelajari di tingkat awal adalah
Riyadhus Shalihin dan tafsir Ibnu Katsir. Jadwal yang padat, tapi tetap boleh
ijin asalkan syar’i misalnya urusan urgent urusan kuliah maupun keluarga,
dan sebagainya. Aku harus menyiapkan diri untuk menjadi manusia yang baru,
karena semakin banyak kegiatan positif, maka pikiran-pikiran negatif akan
tersingkirkan dengan sendirinya.
Di Pesantren, Ustadz
Wahid mengajar untuk tingkat satu, yaitu tafsir Ibnu Katsir. Dia mengajar malam
ba’da shalat isya’. Ustadz yang
selalu tersenyum, namun dari sorot matanya tampak tegas sehingga santri yang
berjumlah 31 orang tidak berani ribut, karena seolah mata Sang Ustadz selalu
memandang kami satu persatu. Jadwal yang kubuat ba’da pulang dari Pasar Minggu,
adalah membuka-buka catatan kuliah atau beristirahat walau sejenak, untuk
menyiapkan belajar malamnya. aku masih menyembunyikan pekerjaanku itu. Belum
ada yang tahu karena ketika pulang aku masih mengenakan pakaian kuliah, mereka
mengira jadwalku hingga sore.
Di malam haripun
demikian, ketika bertabrakan dengan jadwal mengisi privat, aku meminta kepada
Syahid untuk menuliskan absenku, dan ternyata dua pelajarannya adalah
bertepatan dengan materi Ustadz Wahid saat materi tafsir. Walau aku tidak
masuk, ketika pulang privat aku selalu mencatat catatan milik Syahid, jadi
kuusahakan tidak pernah ketinggalan. Apa boleh buat, jika tidak mengisi privat,
darimana aku memperoleh biaya kuliah dan biaya pondok. Jika ketahuan pun pasti
mereka akan memakluminya. Semoga saja.
Dan biaya pesantren
ternyata tidak semahal yang kupikirkan, bahkan seimbang dengan biaya kost di
Asrama Mahasiswa, padahal di Asrama hanya kamar saja dan belum termasuk makan
dan listrik jika ada tambahan alat elektronik, sedangkan di pesantren sudah
lengkap dengan fasilitas listrik, makan dan juga belajarnya. Subhanallah, Allah memang mempermudah
segalanya. Yang membuatku lebih betah lagi, ternyata kondisi mendukung sekali,
teman-teman yang baik lagi saling menasehati. Kala ada materi sebulan sekali
ketika tahsin, yaitu evaluasi diri atau muhasabah.
Hari sabtu. Liburan di
Pesantren beberapa santri pulang ke rumah, karena selain itu kuliah mereka juga
libur. Mungkin separuh yang masih menetap. Aku sendiri masih ada mata kuliah di
hari sabtu. Bismillahirrahmaanirrahiim,
kulangkahkan kakiku mantap setelah sebelumnya memasukkan Al-Quran di ranjang
tas sebelah kanan, dan air minum kuselipkan di ranjang tas sebelah kiri. Aku
memakai peci bulat, mengambil topi pemberian Bapak, lalu menutupkannya di atas
peci. Jarak pesantren sampai Fakultas Ekonomi tidak terlalu jauh, hanya
berjalan keluar pesantren, lalu menyeberang jalan besar dan tiba di halte
pertama UI dari Asrama Mahasiswa. Setelah itu baru naik bikun, dan melewati beberapa Fakultas dan akhirnya turun juga di
Fakultas Ekonomi.
Fakultas Ekonomi yang
sepi dari nilai-nilai religius, karena ekonomi yang dipelajari adalah ekonomi konvensional yang mencari keuntungan. Walau
begitu, ekonomi global dan internasional merupakan mata kuliah yang sering
disampaikan, sehingga aku tahu bagaimana negara memberlakukan penerapan pajak
dan subsidi, atau bagaimana jaminan dalam mencetak uang dan sebagainya. Semua
hal harus kupelajari, untuk melihat nilai manfaat dan mana yang tidak sesuai
dengan Islam.
Di kelas, kucoba
menatap teman-temanku yang ternyata selama setahun lebih ini, aku belum
mengenal mereka, bahkan aku jarang berinteraksi dengan mereka, karena sepulang
kuliah aku langsung ke masjid Ukhuwah Islamiyah dan ke Pasar Minggu, untuk
menyambung hidupku di kota Depok yang nyaman ini. Yah! Seberapa pun peluang
untuk dapat mengenal mereka, mereka juga suatu saat dan sekarang adalah asset
yang belum terlihat. Tidak sempurna keimanan salah seorang diantara kalian
hingga dia mencintai untuk saudaranya apa yang dicintai untuk dirinya sendiri.
Ada sekitar 45
mahasiswa dalam kelasku, jurusan manajemen pemasaran. Namun ketika seringnya
pembicaraan di kalangan teman-teman, mereka sering membanding-bandingkan mana
mahasiswi yang paling cantik dan cocok buat rebutan. Yah! Dasar teman-teman.
Ada yang belum paham, bagaimana Rasulullah saw mencontohkan bagaimana memilih
pasangan hidup. Untung kak Nugroho sudah mengajarkannya walau hanya sepintas.
Uups! Bukankah aku baru belajar agama kemarin sore, tapi aku beruntung dapat
belajar agama di pondok Darussalam, sehingga paradigma pemikiranku tidak
terlalu convensional, seperti ekonomi yang aku pelajari dan bukan paradigma
liberal, seperti yang menyebar merusak agama Islam saat ini.
Aku mendekati Hanif
yang masih menyalin catatan dariku, karena kemarin dia tidak berangkat.
”Nif! Boleh tanya
gak?” aku sedikit menggodanya dengan menyenggol lengan kanannya yang masih
menulis. Tulisannya tercoret sedikit.
Matanya langsung tajam
menyoroti seluruh wajahku. Lalu tersenyum pelan sambil cemberut lagi, ”Mau
tanya apa Ali dari kampung?” kebiasaan kami memang selalu bercanda. Walau aku
sudah di pondok, namun aku tak bisa menghentikan bercandaku dengannya, karena begitu
melihat wajahnya aku sudah pingin ketawa.
”Siapa yang katamu
paling cantik satu jurusan kita?” aku melihat wajahnya berubah. Agak kaget,
”Aku hanya bermaksud ingin tahu saja, jangan heran. Selama ini yang aku kenal
baik baru kamu sama Hamid, dan aku sendiri tidak mempunyai banyak teman,” aku
kembali menatap keheranannya, ”Kenapa kamu memandang aneh begitu? Ya udah aku
tidak jadi tanya.”
”Bukan! Bukan itu yang
kumaksud Li,” matanya berkedip-kedip, ”Ada sesuatu yang rasanya aneh dengan
pertanyaanmu.”
”Memangnya kenapa?”
”Ternyata..., kamu
normal juga,” kepalanya menggeleng beberapa kali.
”Dasar Hanif! Aku kira
ada yang tidak wajar,” aku memukul bahunya pelan, ”Sudahlah! Lupakan pertanyaan
itu.”
Baru beberapa menit
pembicaraan kami. Hanif tiba-tiba menepuk pundakku pelan dan membisikkan
sesuatu. Sangat pelan, ”Itu dia baru masuk.”
”Siapa?” tanyaku
penasaran.
”Siapa lagi kalau
bukan wanita tercantik satu jurusan kita,” nadanya sedikit sewot.
Aku menatap sosok
lembut yang baru memasuki kelas. Splash! Mataku seolah terpaku untuk beberapa
detik. Seorang wanita berambut terurai lembut, masuk dengan menjinjing jas cangklong
menjuntai di sebelah kiri dan tangan kanannya memegang dua buku tebal, buku
Pengantar Manajemen dan satunya lagi aku belum pernah melihatnya. Bajunya
nampak rapi, berupa kemeja lengan panjang. Wajahnya yang putih nampak halus
bagai pualam yang jernih, tingginya ideal mungkin. Bola matanya lentik, namun
tidak jelalatan dan terlihat sedikit layu. Mungkin kekurangan tidur.
Aku segera mengalihkan
pandanganku. Memang wanita itu cantik, sangat bahkan. Pantas saja Hanif sering
membicarakannya dulu waktu di Asrama. Aku pun mungkin hanya bermimpi, jika
seandainya mendapatkan pendamping hidup yang wajahnya secantik wanita itu. Aku
menghadap Hanif kini, namun kulihat mata Hanif tak lepas dari sorotannya kepada
wanita itu. Aku kembali menyentaknya di pundak, dia tergagap. Aku tersenyum
melihat wajah sewotnya.
Wanita itu berhenti di
sebuah kursi, namun tidak duduk. Kepalanya seolah berpikir sejenak, lalu menaruh
bukunya di meja kursi yang didesain kecil menempel di pegangan tangan kanan.
Wanita itu melangkah menyamping kearah kami, dia melihat kami. Hanif salah
tingkah. Aku mengalihkan pandanganku, aku teringat pesan Kak Nugroho. Pandangan
Mata adalah anak panah Iblis! Ah! Mungkin wanita itu ingin berbincang dengan
Hanif, dia kan tajir. Sedangkan aku? Mungkin mimpi kali!
”Assalamu’alaikum,”
sapanya lembut sambil tetap berdiri.
”Wa’alaikumsalam
Warohmatullah,” Hanif menyerobot keras, tingkahnya langsung sumringah, matanya
pun berbinar. Aku hanya menjawab pelan.
”Apakah kamu yang
namanya Ali?”
Aku sontak kaget. Aku
yang dicarinya? Aku menoleh kearahnya dan muka putih itu tertangkap di mataku.
Rambutnya kemilau ditimpa sinar remang dari balik jendela kelas. Benar-benar seolah bidadari, orang-orang di desaku
pun tidak akan menyangka ternyata ada manusia yang cantik seperti ini.
”Iya, saya Ali. Ada
yang bisa saya bantu?” kulihat Hanif masih sedikit keheranan.
”Kita menjadi satu
kelompok dengan Rika. Kita bertiga satu kelompok untuk mencari laporan keuangan
suatu perusahaan atau perbankkan, kemudian kita menghitung tingkat likuiditas
perusahaan itu. Ini tugas dari mata kuliah Manajemen Keuangan. Kukira engkau
belum tahu karena minggu kemarin kamu tidak masuk.”
Aku menganggukkan
kepalaku, ”Iya, terima kasih. Aku memang belum tahu. Insyaallah kita bisa mengerjakannya bersama.”
”Baiklah. O ya,
katanya kamu sakit kena darah tinggi ya? Maafkan aku tidak bisa ikut
menjengukmu karena di rumah banyak tugas,” senyumnya sungguh tulus, lesungnya
begitu tarasa teduh.
”Tidak apa-apa, doa
kalian semua sudah cukup bagiku.”
”Ya sudah, aku mau ke
kursiku lagi,” gadis itu berlalu meninggalkan kami. Setelah itu bisa dipastikan
Hanif geger sendiri, dia bilang bagaimana mungkin wanita yang dulu selalu
pendiam. Diajak pacaran tidak pernah mau, kenapa denganku begitu loyal,
kukatakan pada Hanif bahwa mungkin untuk mencairkan keadaan sesama kelompok
pembuatan tugas. Yah! Apa di dunia ini yang tidak bisa berubah.
Hari ini sepulang
kuliah, naik Bikun aku turun di stasiunl UI lalu masuk ke Pasar. Saatnya mengganti
bajuku, setidaknya dengan kaos dalam dan memasukkan kemejaku ke dalam tas.
Saatnya bekerja. Tentu saja jika nanti aku akan terlambat untuk masuk pelajaran
di Pondok, tapi..., apa boleh buat. Aku butuh uang untuk membayar kuliah dan
pondok, tapi Alhamdulillah di pondok
biayanya cukup ringan, mungkin biaya pondok plus makannya sesuai dengan sewa
kamar di Asrama UI. Ini karena banyak donatur pondok yang menghandle dana nyantri, dan akhirnya setiap
Santri mendapatkan subsidi.
”Ali!” aku menengok ke
belakang. Pak Sapto, pedagang ATK
yang tokonya lumayan besar.
Aku mendekati lelaki
yang telah dua kali naik haji itu, ”Enten nopo Pak?”
Lelaki asal Jawa
Tengah itu tersenyum ramah. Tangannya sigap mengangkat kardus yang tertutup
rapat, lalu menaruhnya di atas meja kayu. Kelihatannya agak berat, ”Ini tolong
antarkan ke toko di seberang sana,” jari telunjuknya menunjuk arah seberang,
”Serahkan di Mahabbah Cell, disana ada
counter, wartel dan interned. Dan ini upahmu karena mereka sudah membayar plus ongkos antarnya.
Letaknya bersebelahan dengan toko bangunan Bumi Waras di Pasar Bagian Dalam,”
Pak Sapto menyerahkan uang Rp. 3.000 dan aku menerimanya.
”Insyaallah
saya tahu Pak,” aku mengangkat kardus itu, lumayan berat.
”Hati-hati Ali, isinya
kertas untuk transkip pembayaran di mesin wartel jadi agak sedikit berat,”
senyum lelaki itu tulus, walau dia punya beberapa karyawan namun dia sering
membantu para karyawannya. Dia tidak malu mengangkat barang bersama
karyawannya. Selain itu, dia menerapkan untuk menutup toko kala adzan menggema.
Aku tersenyum
kepadanya, lalu berpamitan sambil memikul kardus itu, ”Matur suwon Pak.
Assalamu’alaikum,” jawaban salamnya mengiringi langkah kakiku yang bernyanyi
riang sambil hatiku bertahmid. Semua atas izin Allah ’Azza Wa Jalla.
Aku menyusuri Pasar
Minggu, toko Bumi Waras mungkin berkisar sekitar 400 M. Letaknya di bagian
dalam, membuatku harus berkelak-kelok memasuki gang pasar dan pasti semakin
memberlambat jalanku, karena banyak orang yang lalu-lalang. Pasar memang
identik dengan kemaksiatan, terutama mata. Astaghfirullah,
berulang kali dzikir hatiku menggema, membuatku harus menundukkan pandangan
atau mengalihkannya. Itulah setidaknya pelajaran pertama waktu Ustadz Wahid
memberikan Tarbiyah perdana pada santri baru, ”Jagalah Allah, niscaya Allah
akan menjaga kita. Jagalah amanahnya, jagalah penglihatan dari pandangan
khianatnya, jagalah telinga dari pendengaran keburukan dan kesiaan, jagalah
lisanmu dan berkatalah yang bermanfaat atau diam. Insyaallah kita akan mendapatkan petunjuk dengan menjaga
amanah-amanah Allah.” Aku harus bisa menyesuaikan diriku untuk mendapatkan
petunjuk Allah. Aku harus berusaha!
Keluar gang pasar,
perasaanku terasa lega. Tahmid
kembali kulantunkan dari bibirku. Toko Bumi Waras sudah terlihat, hanya tinggal
10 Meter. Di sebelahnya terpampang papan bertuliskan Mahabbah Cell. Itu dia.
Ruko yang lumayan besar, ada 3 Plong. Satu untuk counter dan yang dua plong
untuk wartel dan interned. Terlihat agak sepi. Maklum, sekarang pukul 12.45. pas
panas-panasnya kota Depok, berdasarkan prakiraan cuaca di koran yang kubaca
pagi tadi di Pondok.
Seorang wanita memakai
kaos dan berambut sebatas pundak sedang menghadap ke dalam toko. Astaghfirullah, mataku kembali berkhianat.
Ternyata susah juga menyesuaikan diri untuk mendapatkan petunjukMu ya Allah.
Tapi, aku akan selalu berusaha.
”Assalamu’alaikum,”
suaraku pelan.
”Wa’alaikumsalam,”
wanita itu menoleh. Dan...
”Lho!” aku agak kaget,
”Kamu..., Rika kan?”
”Iya. Bukankah kamu
Ali?”
Aku menganggukkan
kepalaku pelan. Aku sedikit malu, tapi kupikir sejenak tak apalah. Toh
pekerjaanku ini halal dan aku harus percaya diri. Rika pernah menjengukku
bersama Hanif saat aku di Rumah Sakit. Dilihat dari penampilannya, sepertinya
dia anak orang kaya.
”Kamu sedang apa
disini?” tanyanya pelan, tanpa ada tersirat kesombongan.
Aku sedikit kaget,
”Aku mengantarkan barang ini. Kata Pak Sapto disini membutuhkan barang ini.”
”Ooo..., kamu juga
pasti terkejut jika tahu siapa yang menjaga Mahabbah Cell ini.”
Belum sempat aku
bertanya, sesosok keluar dari pintu di dalam toko itu. Seorang yang masih
memakai telekung untuk shalat. Mataku benar-benar terpana, wanita yang seumpama
bidadari. Wajahnya yang putih bagai pualam, awan putih menyisakan kenanganku
siang tadi saat aku bersama Hanif, dan wanita itulah yang membuat Hanif dalam
candanya masih uring-uringan.
”Ali!” kulihat
keterkejutan pula dari raut wajahnya. Wanita itu melepas telekungnya dan
melipatnya. Rambutnya terurai, panjang dan hitam, ”Kamu...”
”Iya. Aku mengantarkan
kertas ini dari Pak Sapto dari toko ATK di seberang sana,” aku segera memotong
kata-katanya cepat.
”Apakah kamu bekerja
disana?” tanyanya singkat.
”Tidak. Aku bekerja
sebagai kuli di Pasar, dan kebetulan sekali pak Sapto memintaku mengantarkan
kertas ini, dan kebetulan juga ternyata kamu bekerja disini. Ya sudah, aku
kembali kerja dulu.”
”Tunggu! Ini sangat
kebetulan. Kita bertiga satu kelompok, sebaiknya kapan kita membahas tugas
kita,” Rika kembali bersuara. Nadanya pelan tak ada peremehan.
”Mungkin besok di
kelas. Insyaallah aku bisa.”
”Ali,” suara pelan
dari wanita cantik versi Hanif. Tangannya terulur, ”Mungkin kamu belum
mengenalku.”
Tanganku gemetar, agak
ragu kugerakkan. Aku menangkupkan telapak tanganku di dada, ”Iya. Sejujurnya
aku belum mengetahui namamu. Namaku Ihsan Nur Ali, panggilanku Ali,” aku
memotongnya cepat, aku takut dia tersinggung. Aku kini harus ketat menyesuaikan
diri dengan tata-tertib pondok.
”Oo..., maaf ternyata
kamu...,” dia menarik tangannya kembali, ”Namaku Siti Nur Aisyah, panggil saja
Aisyah.”
”Aisyah! Sepertinya
aku sering mendengarnya. Ah! Mungkin nama itu ada dalam serpihan dalam
ingatanku mengenai teman atau anggota keluargaku,” aku menggaruk kepalaku yang
tak gatal. Kebiasaanku waktu kecil terulang tanpa sengaja.
”Mungkin saja! Nama
Aisyah juga kurasa sangat banyak bukan?” kulihat senyum sekilasnya terukir
indah, menciptakan wajah itu semakin sempurna. Matanya bulat ceria
menggambarkan betapa agungnya Allah sebagai Sang Pencipta.
Aku berpamitan dengan
kesepakatan, besok di kampus akan membahas tugas mata kuliah Manajemen Keuangan
dari Pak Yanto. Aku beruntung mempunyai teman-teman yang baik, walau aku tidak
menjabat tangan wanita yang bukan muhrim dan bisa dibilang bekerja sebagai
buruh, mereka tetap tidak berubah dalam berkomunikasi. Alhamdulillah, syukurku kembali menggema di relung hatiku yang
terdalam. Terima kasih ya Allah, aku bahagia bertuhankan Engkau dan aku ridha
Muhammad sebagai teladanku, dan aku bangga beragamakan Islam.
* *
*
Sepulang aku langsung
mandi dan mengenakan baju koko biruku, lalu menyelinap masuk ke dalam barisan
santri lain yang sedang belajar di ruang tengah, yang dikelilingi kamar-kamar.
Aku duduk bersebelahan dengan Syahid, Samsul dan Zainal, beberapa orang juga
baru masuk menyusul. Ada pula beberapa orang yang main sepak bola di lapangan
depan pondok. Mereka juga barusan pulang dari kampus, mungkin sibuk karena
padatnya jam kuliah, dan juga ada yang sudah berada di kepengurusan dakwah
sehingga biasanya ada agenda rapat. Sering sindiran dari orang, membuat para
aktivis dakwah terkekeh sendiri, ’Mahasiswa Kura-Kura’ kuliah rapat-kuliah
rapat. Ada-ada saja bahkan ada sindiran balasan untuk Mahasiswa yang sok
study oriented, yaitu Mahasiswa kupu-kupu alias kuliah pulang-kuliah pulang.
Di Pondok, aku harus
terbiasa makan seadanya, bagiku itu sangat biasa. Kadang makan sehari sekali
pun aku sering. Tidur tanpa kasur empuk pun bagiku sudah biasa. Kalau kamar
mandi yang agak antrl, itu baru menurutku yang agak sulit apalagi jika dapat
jatah kuliah lebih pagi. Biasanya aku selalu mandi di pagi buta sebelum subuh,
agar memudahkanku, mengejar aktivitasku yang telah terpampang dalam jadwal
agenda dalam catatanku.
Kebiasaan buruk tidak
boleh dibawa dan harus dirubah di pondok, semisal dari awalnya yang masih
merokok, apalagi jika ada yang meminum miras. Pihak pondok akan tegas. Masih
ada beberapa santri yang kulihat kemarin masih sembunyi-sembunyi merokok. Saat
aku melihatnya, dia bilang belum bisa berhenti total, makanya terpaksa dia
merokok di WC. Aku hanya menyarankannya untuk
berhenti pelan-pelan.
Pagi hari sesudah tahsin, atau belajar kitab kadang kami
bersama riyadhoh
sampai pukul 07 pagi. Biasanya riyadhohnya berbeda-beda, ada yang main sepak
bola, ada yang senam, ada yang lari-lari, dan ada yang hanya menggerak-gerekkan
tangan dan kakinya. Sekedar pelemasan sendi-sendi.
Teman-teman yang baik
dan supel, walau ada yang masih terlihat acuh. Biasanya yang acuh adalah
jebolan pondok sewaktu SMA-nya, dan karena itu mereka merasa sedikit lebih tinggi
level keilmuan keislamannya. Apalagi hafalannya tentu saja lebih banyak dari
yang masih awal mondok. Ada satu orang yang seangkatan denganku telah hafal
lima juz, namanya Farid Abdullah, dan yang lain ada yang tiga dan dua juz.
Sebagian besar baru hafal satu juz, itupun juz 30. Tapi itu semua sudah merupakan
karunia yang patut disyukuri, karena masih banyak orang yang sudah besar pun
belum bisa mengeja Iqra’, apalagi
membaca Al-Quran.
Hari-hari yang
menyenangkan, walau kelelahan dan keletihan kadang sering menemaniku. Tapi aku
sangat bersyukur, dapat memulai belajar dengan hati tentang Islam. Ajaran yang
penuh keindahan, setiap ajarannya mempunyai makna keindahan, yang sebenarnya
harus dikuak oleh setiap orang yang mengaku beragama Islam, bukan sekedar
terpampang islamnya di KTP. Banyak hal yang kudapatkan, jika teringat orangtua
di kampung aku ingin segera menerapkan Birrul walidain
kepada Bapak dan Ibu disana, mendidik kedua adikku. Tapi..., belum waktunya.
Aku harus menimba ilmu lebih banyak lagi.
Not Comments Yet "Part 17, Penyesuaian"
Posting Komentar