Desa Gedung Dalam Baru, Lampung (1991)
Pekat pagi masih menyelubung. Kembara jiwa masing-masing teriring dengan
keimanannya. Kicauan burung belum ada yang terdengar, namun kokok ayam sudah
terdengar mulai menggema, membelah kelamnya malam menjelang pagi. Satu, satu.
Bergantian. Mega masih belum terlihat, hamparan hijau masih bersembunyi, hanya
kelebatan kelelawar yang masih tersisa bertahan, mencari serangga yang menjadi
santapannya sehari-hari.
Semilir angin begitu teduh menyambut hari yang baru. Seorang wanita
berkulit putih bersih, berjalan agak tergesa-gesa, menyisir jalan yang masih membasah
menyisakan embun yang turun, jilbab putihnya berkibar di bagian ujungnya.
Matanya yang mulai terbiasa dengan gelapnya pedesaan, tidak membuat kakinya
canggung lagi, apalagi seorang anak kecil
menuntun jalan yang dilewatinya. Mereka memasuki belokan jalan tanggul ledeng,
menyisir di sebelah kirinya dan nampak padi-padi yang siap panen, belum
terlihat kuningnya pucuk padi dan hijau tuanya daun karena masih gelapnya pagi.
Sesekali langkah mereka harus menghindari katak yang
melompat lewat, menyeberang jalan yang memisahkan antara ledeng dan balong.
Hamparan perdu bambu masih gelap hanya terlihat rumpun yang memenuhi kaki
langit utara, menutup semesta mengelilingi pinggiran balong sebelah utara. Balong
adalah muara pusat berakhirnya air hujan mengendap, disana hidup bermacam-macam
hewan air, bahkan menjadi pusat pemancingan desa. Katak-katak di balong
masih menyisa mendendangkan syair kebanggaan mereka, mereka bersyukur, musim
penghujan ini dimanfaatkan untuk melestarikan jenisnya. Hasilnya akan terlihat
mulai esok hari ketika matahari telah menggantikan peran malam yang sudah
terlihat kelelahan, ada telur yang disusun di uluran panjang seperti usus
bening, ada yang berbentuk busa mengumpul di atas air, begitulah titah
kehidupan yang harus katak jalani.
Anakan ikan gabus, Kocolan masih betah di
pinggiran balong karena ketika malam mereka harus berada di pinggiran
yang airnya lebih jernih dan dangkal. Santapannya yang berupa nyamuk dan
serangga lembut lainnya pasti akan
bertelur di pinggiran mulai dari sore hari hingga mentari muncul kembali di
kaki langgit timur. Wulungan, Luwing, atau si kaki seribu merambat cepat dengan
kaki-kaki lembutnya, karena tempatnya tidur tadi malam tergenang air sehingga
membuatnya harus naik di potongan kayu yang terapung. Entah sampai kapan dia
terapung-apung di atasnya, kecuali kayu itu terdorong gelombang air atau
tertiup angin sepoi hingga menyentuh pinggiran balong.
Capung masih berteduh di balik-balik daun rerimbunan,
yang kadang daun itu bergerak terkena kumpulan embun yang siap menetes ke
bawah. Burung-burung masih bertengger lelap di antara reranting pohon yang
menjulang, mencoba meraih langit. Semut dan rayap telah bersiap-siap
menjalankan rutinitasnya kembali untuk mengumpulkan makanan, hanya menunggu
kemilau sedikit sinar dari arah timur, maka mereka akan memulai titah alam
untuk meneruskan kelestarian jenisnya.
“Ayo
Mbak Fatimah, Ibuku wes gak kuat lagi. Sepertinya mbah Par membutuhkan bantuan Mbak lagi,” lelaki kecil itu berjalan
semakin cepat.
Wanita
itu hanya tersenyum sambil mempercepat langkahnya. Wanita berjilbab itu sudah
sangat maklum dengan bocah kecil yang memanggilnya pagi-pagi buta ini. Ihsan
Nur Ali memang sering membuat orang gemes.
Ihsan Nur Ali
Bocah berusia 6 tahun lebih dua bulan. Anaknya menggemaskan, banyak
bertanya, bawel. Ayahnya bernama Ali Rahman, bekerja sebagai buruh tani karena
tidak mempunyai lahan sendiri. Sosok ayah yang sangat bertanggung jawab dan
sabar. Ibunya bernama Nur Aliah, ibu rumah tangga yang baik, penyayang. Selain
ibu rumah tangga ibunya juga membuat dan menjual kue. Setiap hari Ihsan
membantu ibunya berkeliling kampung atau ke kampung tetangga, menjual kue,
apalagi baru satu bulan ini Ihsan masuk Sekolah Dasar, sehingga Ihsan membawa
kue buatan ibunya ke sekolah untuk dijual ketika waktu istirahat. Adiknya yang
berumur 3 tahun kini masih tidur, Fajar namanya, sering setiap kali Ihsan yang
menjaga dan bermain bersamanya. Ihsan
sangat menyanyangi adiknya.
Ihsan. Rambutnya hitam belah pinggir dan klimis, pipinya gembul, agak gemuk
karena sering makan kue apalagi tahu bunting buatan ibunya, benar-benar tidak
tahan.
“San,
apakah benar ibumu bilang sudah tidak tahan lagi dan adikmu akan segera lahir?”
wanita berjilbab itu sebenarnya hanya mengisi waktu sambil menguji sebatas mana
kemampuan Ihsan dalam merespon sesuatu. Beberapa kali kejadian yang sama, Ihsan
memanggilnya di pagi buta sebelum subuh katanya ibunya akan melahirkan,
ternyata hanya gejala biasa yang dialami ibu hamil.
Seekor
burung Trotok, si pengerat kayu melintas di atas kepala mereka sambil
berdendang membelah pagi buta, trotok…tok…tok.
“Dibilangin
kok gak percaya sih Mbak, kan Mbak
sendiri yang sering ngajarin Ihsan kalau bohong itu dosa!” Ihsan cemberut
sambil mempercepat laju langkah kakinya.
Siti
Fatimah
Wanita berjilbab, wajahnya putih bersih. Ayahnya seorang Pengusaha dan
ibunya, Ratih seorang ibu yang lembut. Dia praktek KKN di desa Gedung Dalam
Baru, Lampung. Kuliah di Universitas Indonesia, Fakultas Kedokteran, semester
enam. Fatimah lebih suka praktek di desa walaupun jarak Salemba dan Lampung
lumayan jauh, karena selain bisa belajar sekaligus membantu masyarakat yang di
tempatnya belum ada pelayanan kesehatan, dan pilihannya adalah di Lampung. Siti
Fatimah, di kampus adalah seorang aktivis dakwah maka tidak salah jika selain
praktek dia juga mengajar TPA di desa Gedung Dalam dan Ihsan adalah salah satu
muridnya.
Fatimah praktek bersama satu rekannya; Ningsih. Fatimah pagi ini tidak
mengajak Ningsih ikut karena masih tertidur, terlihat mukanya tadi sangat lelah,
karena kemarin banyak pasien plus pemberian penyuluhan masalah bahaya penyakit
yang disebabkan oleh nyamuk, maklum lagi musim hujan. Selain itu juga sering
membantu persalinan mbah Par, seorang
bidan yang usianya telah menua.
Belum
sempat Fatimah meneruskan interogasinya, Ihsan sudah mulai bawelnya, “Mbak,
kalau ibu mau melahirkan lagi berarti nanti Ihsan punya adik dua ya?”
“Insyaallah, Ihsan akan punya adik lagi.”
Pertanyaan
itu ternyata tidak sampai disitu saja.
“Apakah
nanti adikku akan keluar dari perut ibu? Soalnya waktu melahirkan Fajar aku kan
masih sangat kecil, ” Ihsan berbicara sambil melangkah, hanya saja kini
langkahnya agak diperlambat.
“Tentu
saja.”
“Berarti
Ihsan dan Fajar dulu juga keluar dari perut ibu ya mbak?”
“Tentu
saja.”
“Apakah
adikku nanti kalau lahir, akan sama seperti aku ketika aku lahir dulu ya mbak?”
“Tentu
saja Ihsan, lihatlah rumahmu sudah kelihatan,” rumah Ihsan yang kecil dan
berdinding geribik anyaman bambu yang dipotong tipis, tinggal beberapa meter
lagi karena telah melewati tikungan pertigaan di pojok rumahnya.
“Waduh
gawat dong Mbak?” Ihsan berhenti dan berbalik kearah Fatimah, mukanya terlihat
was-was dan ketakutan.
“Gawat
kenapa?” Fatimah jadi ikut panik.
“Ayo
cepetan Mbak?”
“Cepetan
kenapa?” Fatimah semakin bingung.
“Untung
mbak Ningsih tidak ikut, dia kan paling doyan telur,” ada sedikit kelegaan di wajah Ihsan lalu dia meneruskan
langkahnya, “Ayo Mbak!”
Fatimah
memegang tangan Ihsan dan menariknya, “Mbak masih belum ngerti dengan maksudmu,
ayo jelaskan dulu!”
“Nanti
kalau sampai mbak Ningsih ikut pasti adikku akan digorengnya, makanya ayo
buruan Mbak.”
“Digoreng?”
wajah putih itu pias semakin bingung.
“Iya,
kan mbak Ningsih paling doyan sama
telur goreng, makanya adikku nanti sebelum menetas harus dijaga, jangan sampai
mbak Ningsih tahu,” Ihsan menjelaskan seperti gaya profesor, dan itu yang
membuat Fatimah ingin terpingkal-pingkal. namun ditahannya agar tak membuat
Ihsan kehilangan gayanya.
“Kalau
begitu ayo kita laksanakan tugas untuk menjaga adikmu,” kini Fatimah berjalan
seiringan dengan Ihsan, “Memangnya kamu tahu dari mana kalau adikmu akan
menjadi telur dulu?”
“Dari
Bowo, dia itu paling pintar di kelasku Mbak. Katanya kehidupan itu dimulai dari
telur lalu ketika aku bertanya, dia juga mengatakan dulu aku juga berbentuk
telur sebelum aku menjadi seperti ini. Tentu saja adikku nanti juga berbentuk
telur, kan Mbak tadi yang bilang kalau adikku nanti sama denganku ketika lahir,
makanya kita harus menjaga telur itu sebelum menetas.”
Terlihat
pak Ali di depan pintu, mengamati mereka dengan pandangan gelisah,
“Assalamu’alaikum,” Ihsan dan Fatimah hampir bersamaan mengucapkan salam, sejak
Fatimah dan Ningsih KKN di sini, seolah salam itu mulai menggema di setiap
rumah.
“Wa’alaikumsalam,
mari Mbak silakan, sepertinya istri saya akan melahirkan,” ibu jari pak Ali
mengisyaratkan Fatimah untuk masuk ke rumah.
“Masuklah
Mbak dan tolonglah Ibuku, aku akan menjaga keamanan di depan pintu. Siapapun
yang ingin mengambil adikku akan berhadapan denganku, pahlawan super hero!”
tangannya bertolak pinggang seperti gaya Superman dalam Superman Return, Fatimah hanya tersenyum, dan pak Ali semakin
bingung dengan keadaan anak pertamanya yang semakin hari semakin menjadi-jadi,
tapi rasa sayangnya membuatnya tersenyum bangga.
Fatimah
memasuki rumah dan Ihsan sendirian berjaga-jaga di depan pintu, saat itulah
adzan subuh menggema.
Alunan kerinduan telah didendangkan
Hati telah terpaut, jiwa telah membuncah
Alhamdulillah, bahagiaku menemui-Mu
Marilah kita menunaikan shalat
“Ayo pahlawanku, kita ke masjid dulu,” Ali
sambil mengenakan peci mengajak anaknya yang masih menebar pandang ke segala
penjuru.
“Tapi
Pak? Ibu butuh keamanan,” semburat wajahnya terlihat serius.
“Tapi,
kata mbak Fatimah kan sholat berjamaah bagi laki-laki wajib.”
“Tapi…,
baiklah aku izin dulu sama mbak Fatimah,” Ihsan berlari masuk ke rumah dan
menuju ke kamar melihat ibunya yang berbaring dan wajahnya berlumuran keringat,
Fatimah dan Mbah Par berada di sampingnya.
“Mbak,
tolong jaga Ibu baik-baik. Jangan biarkan mbak Ningsih mengambil adikku, aku
akan shalat di masjid sebentar. Tugas ini kupercayakan pada mbak, karena aku
percaya pada mbak, ok! Aku berangkat dulu, Assalamu’alaikum,” Ihsan berlari
menyusul ayahnya meninggalkan ibunya yang semakin bertambah bingung, mbah Par sempat kehilangan
konsentrasinya sejenak, dan Fatimah yang tersenyum menjawab salam sambil
menggelengkan kepalanya beberapa kali
Kembara
jiwa yang merindukan kesucian akan nafsu yang menggelayuti setiap jiwa manusia,
menghangatkan kalbu yang sakit, menghangatkan kehidupan insan dari pekat
gelapnya perjalanan, meneduhkan perasaan was-was, mendendangkan kesyukuran,
meneduhkan kelopak mata, menguatkan indera, mencerdaskan akal. Marilah kita
shalat dan menuju kemenangan.
Selesai
shalat tidak seperti biasanya, Ihsan langsung berlalu untuk menuju rumah
meneruskan misinya. Ayahnya hanya tersenyum. Baginya, Ihsan adalah anak yang
penurut walau kadang sering nakal.
Tepat
Pukul 07.00, Di Rumah Ihsan
Gedung
Dalam Baru masih lengang, kehidupan pedukuhan baru dimulai kembali. Perkutut
dan burung Kutilang telah membubung dan hinggap di dahan-dahan pohon,
lalu berebut menarik perhatian, berkicau merdu. Kinjeng Tangis mulai menyayikan kidungnya, hewan ini mengeluarkan bunyi dari dua sayapnya
yang bergetar ketika merenda rindu memanggil, memancing lawan jenisnya. Musim rendeng
ini digunakan semua makhluk Gedung Dalam Baru, untuk melestarikan jenisnya
masing-masing.
Padi
yang menghijau, menghampar menyemarakkan pandangan panorama. Ada yang mulai
menguning. Menyejukkan hati para petani, melihatnya membuat mereka merasa
senang dan tersenyum. Itulah kebahagiaan hakiki. Melihatnya, hilang sudah peluh
membajak tanah, daud, tandur, matun, yang ada hanyalah senyum yang
menghiasi wajah.
Rumah
Ihsan tidak jauh dari hamparan padi, hanya dibatasi balong di belakang
mereka sekitar 30 meter, lalu dua tanggul ledeng. Hamparan itu dapat
dinikmati sepuas hati. Senyum pasti merekah melihat ratusan hektar hijau, luas
tak terbatas.
Seorang
wanita berjilbab biru muda menghampiri rumah itu, mbak Ningsih. Ihsan merubah
posisi tangannya, membentangkan tangan menutup lubang pintu. Dia berjaga dari ba’da
subuh di depan pintu.
“Assalamu’alaikum,”
senyum Ningsih mengembang.
“Wa’alaikumsalam,”
jawabnya singkat, Ningsih adalah orang yang sering membelikannya snack
dan jajanan, namun kali ini dia harus melindungi adiknya.
“Ibumu
akan melahirkan ya San?” tanya Ningsih sambil tersenyum.
“Iya,
tapi mbak tidak boleh melihat adikku sebelum menetas.”
“Apa?”
Kekagetan
Ningsih terabaikan dengan suara tangisan seorang bayi yang membelah kesejukan
pagi hari. Ihsan merasa kaget, “Ternyata manusia menetas lebih cepat!” dan
langsung berlari masuk diikuti Ningsih. Rumah yang sangat kecil mempermudah
mereka hingga melewati ruang tamu, dan langsung masuk kamar ibunya. Ketika masuk
Fatimah sedang menggendong bayi. Semua orang merasa bahagia karena bayi dan ibu
selamat, walau terlihat sedikit keletihan di wajah sang ibu. Kecuali wajah
Ihsan yang terbengong-bengong manyun di pintu kamar, “Kenapa adikku bisa
menetas begitu cepat! Lalu dimana bekas kulit telurnya!”
Semua
orang di kamar itu menatap Ihsan. yang menggaruk kepalanya yang terasa gatal,
hilang sudah senyum mereka. Ada yang terpingkal tak tertahan, ada yang
menggelengkan kepalanya. Wajah Ibu pun yang semula keletihan terlihat senyumnya
mengembang. dan ada yang masih bingung mencerna maksud perkataan Ihsan, dialah
Ningsih.
Sekolah
SD N II Gedung Dalam Baru, di Kelas IA. Hari Kamis.
Cerecau
dua burung cemblek yang nangkring di atas pohon Ringin
bersahutan, seolah menyambut kedatangan para duta manusia yang menimba bekal,
untuk perjalanan hidupnya yang masih panjang. Burung Perci dan burung ’Gereja’
tidak mau kalah, mereka juga menyemarakkan panorama suara sambil
berkejar-kejaran, hanya sesekali mereka harus diam dan bersembunyi di balik
daun-daun rimbun atau di bawah terowongan atap genting, kala terlihat burung Alap-Alap
membubung, berputar-putar di angkasa. Memantau, mencari rezekinya.
SD N II
berdekatan dengan ladang di sebelah utara desa, ketika istirahat banyak
siswa-siswi yang bermain di ladang untuk sekedar mencari gangsir atau belalang untuk mainan, atau beberapa bocah sibuk mencari gemak
– puyuh – untuk di bakar, atau dibawa pulang
untuk digoreng. Itulah kehidupan alami bocah-bocah Gedung Dalam Baru.
“Assalamu’alaikum,”
Ihsan mulai terbiasa dengan ucapan salam. Baskom plastik kecil warna hijau
berisi kue, ia taruh di atas meja duduknya.
“Wa’alaikumsalam,”
beberapa siswa di kelas ada yang menyahut termasuk Bowo, Roni, Rahman, Farid,
dan Rani. Beberapa anak yang lain sedang sibuk bermain dan saling melempar
kertas yang diremas-remas, menjadi bulatan seperti bola kasti.
Ihsan
langsung berlari, menuju Bowo yang sedang duduk sebangku dengan Farid, “Wo, aku
minta contekan Matematika dong, aku lagi malas mengerjakannya.”
“Malas
atau tidak bisa mengerjakannya?” Roni nyeletuk tanpa menoleh, karena jemarinya
sedang sibuk menyalin PR yang dikerjakan Bowo.
“Iya deh
terserah kamu. Aku mah sama saja malas atau tidak bisa mengerjakan, pada
intinya kita sama-sama nyontek kan?” ujung bibir Ihsan sedikit terangkat sambil
mengambil buku dan pena, untuk menyiapkan menyalin tugas bersama keempat
temannya yang sedang sibuk menyalin pula.
Bunyi
lonceng berdengung tiga kali. Siswa yang masih di depan gerbang segera berlari
sebelum bu Nanik, guru BP muncul dan siap menghukum yang terlambat. Beberapa
menit kemudian gerbang ditutup oleh bu Nanik, masih ada beberapa siswa yang
telat, alhasil jadilah hukuman sebagai pelengkap sarapan mereka di rumah. Ada
yang sibuk mencabuti rumput, mengumpulkan sampah, dan yang paling telat terkena
jatah mengepel toilet.
Bu
Lastri memasuki kelas IA. Kelas I dibagi menjadi dua kelas. Ihsan
gelagapan membenahi bukunya dan menempati duduknya bersama Rahman.
Bowo
berdiri, “Semua siap,” selaku ketua kelas. Semua siswa berdiri, “Selamat pagi
Bu Guru.”
“Selamat
pagi anak-anak,” sahut bu Lastri dan menduduki kursinya.
“Sekarang,
kumpulkan tugas kalian. Yang tidak mengerjakan PR akan ibu hukum!”
Tanpa
dikomando, beberapa siswa maju ke depan, mengumpulkan tugas tiga hari yang lalu.
Pelajaran matematika terjadwal dua kali selama seminggu. Setelah bu Lastri
menghitung buku yang dikumpulkan, lalu menghitung jumlah siswa, ternyata yang
mengumpulkan hanya 9 orang dari siswa 31 orang.
“Katakan!
Siapa yang tidak mengumpul tugas, sebelum ibu panggil satu persatu.”
Sebuah
jemari kecil terangkat, hanya seorang. Sorot matanya tak berani menatap ke
depan.
“Kenapa
kamu tidak mengerjakan tugasmu Ihsan?”
“Saya
sedang banyak tugas Bu, dan…,” Ihsan menghentikan penjelasannya.
“Dan
kenapa…,” bu Lastri bertanya penasaran.
“Dan
saya tidak bisa mengerjakannya Bu? Ketika aku ingin mengerjakannya,
malah membuatku semakin pusing tujuh keliling.”
“Makanya
kamu harus mulai rajin belajar dari sekarang, lalu kenapa yang lain juga tidak
mengerjakannya? Ada 22 orang yang tidak mengumpulkan
tugas, dan semuanya harus menerima hukuman.”
“Tapi
Bu…”
“Ada apa
lagi Ihsan, kamu juga termasuk yang terkena hukuman.”
“Begini
Bu. Ibu ingin tahu kenapa banyak murid yang malas tidak mengerjakan tugas, saya
tahu jawabannya jika ibu ingin tahu,” Ihsan memainkan pensil dengan jarinya.
“Katakan
dengan benar Ihsan, atau hukumanmu bertambah berat.”
“Bu
Lastri harus memberikan hadiah kepada
murid yang jawabannya benar, kalau hanya mengerjakan tanpa ada imbalan,
tentu saja mereka malas mengerjakannya, itu adalah metode yang tepat Bu,” Ihsan
tersenyum, diingat-ingatnya kata-kata metode itu, ah! tidak tahu artinya tapi
dulu mbak Fatimah menjelaskan seperti itu kepada mbak Ningsih, kenapa ketika
mengajar ngaji selalu memberikan hadiah kepada murid, yang mengerjakan tugas
hafalan. Di waktu pertama dulu Ihsan mendapatkan buku, pensil dan lima permen
sebagai juara pertama, karena berhasil menghafal huruf-huruf Hijaiyah dalam
waktu sehari, ya karena mengharapkan hadiah tentunya.
Bu
Lastri terlihat merenung sejenak, “Baik kalau begitu, pelajaran besok siapa yang bisa menjelaskan sebab
terjadinya hujan dan salju, akan Ibu beri hadiah,” bu Lastri tersenyum penuh
kemenangan, selain mengajar matematika dia juga mengajar pelajaran lainnya.
“Ibu janji?”
Ihsan berdiri. Wajahnya begitu polos, menatap meminta kepastian.
“Ibu
janji, dan hadiahnya boleh kalian yang memilihnya, tapi ingat! jika besok tidak
ada yang bisa menjawabnya, ibu akan memberikan hukuman kepada kalian semua!” bu
Lastri mengedarkan pandangannya kesemua muridnya, meyakinkan. Dalam satu hari?
bisa sangat mustahil, untuk ukuran anak kelas I SD, “Dan hari ini tidak ada
yang akan kena hukuman, karena ibu mengakui kesalahan ibu, dan kepada Ihsan
walau kamu bandel dan sering tidak mengerjakan tugas, Ibu berterimakasih
padamu, kamu pintar tapi kamu harus rajin belajar.”
“Insyaallah Bu,” Ihsan tersenyum
sumringah, bukan karena pujian itu, tapi karena hadiah yang dijanjikan. Ihsan
masih ingat mbak Ningsih pernah cerita bahwa dia dulu waktu SMA mengambil
jurusan IPA, kesempatan.
Pelajaran
matematika diteruskan, murid-murid belajar dengan tenang karena hukuman
dibatalkan, biasanya hukuman berupa mengganti jawaban sebanyak 10 kali, wah
pegel deh. Namun, bagaimana dengan besok?
Bel
istirahat berbunyi. Ihsan keluar dari kelasnya dan duduk di taman kecil di
antara kelas-kelas, dibukanya daun pisang pembungkus kue yang telah
dipersiapkannya. Segera dipasangnya aksi pedagang profesional, sambil
mengedarkan pandang dan senyum, beberapa teman-temannya telah menghampiri dan
membelinya, juga beberapa kakak kelasnya pun demikian. Dalam hitungan 15 menit
kue telah ludes, Ihsan tersenyum puas. Memang Kue buatan Ibu tidak ada
bandingannya! siip lah. Pelajaran kedua dimulai, pelajaran bahasa Indonesia.
Ihsan merasa gelisah sedari tadi, pasalnya dia ingin segera bertemu mbak
Ningsih. Rasanya waktu terasa sangat lama, apalagi pak Harto selalu bercerita
terus, hingga bunyi lonceng tiga kali yang ditunggunya benar-benar mampir di
telinganya, membuatnya tersenyum riang. Seriang semesta.
Not Comments Yet "Part 1, Dia Bernama Ihsan"
Posting Komentar