Selama aku belum memiliki
tempat menetap, aku menetap di rumah Kang Mukhlis. Dia dengan senang hati
menampungku. Tapi, aku tahu diri, aku menahan Kang Mukhlis memasak, dan aku
memasak bersama Syahid. Syahid dan aku memecahkan tiga telur, menggorengnya
menjadi telur mata sapi. Aromanya semerbak, menggoda air ludah yang hampir
menetes.
Aku dan Syahid memasak
dengan seru, Kang Mukhlis tersenyum ke arah kami sambil memberi makan
bebek-bebeknya. Aku tahu arti senyum itu, sama seperti senyum Kakekku saat
menatapku dulu. Senyum, bahagia dan doa agar orang yang ditatapnya menjadi yang
terbaik. Aku mengusap rambut Syahid, ah! Nasibnya kurang lebih sama denganku.
Dia tersenyum menatapku, kami selanjutnya memasak sayur kesukaan Kang Mukhlis,
sayur bung.
Malam itu malam jumat,
setelah makan sehabis shalat Isya’. Kang Mukhlis mengajari Syahid silat, aku
ikut serta sekalian berlatih silat pula pada Kang Mukhlis. Siapa tahu berguna
suatu saat. Sediakan payung sebelum hujan, berlatih sebelum bertanding.
Kami berlatih di lapangan SD
Negeri Cahaya, suasana terang bulan menunjukkan tanggal 12 walau tak sempurna
penuh, tetapi cahayanya cukup terang terlihat. Mulai dengan pemanasan, gerakan
peregangan awal, mulai dari tangan, kepala sampai kaki. Lemas dan enak terasa,
keringat mulai menyembul.
”Pasang kuda-kuda!”
Syahid langsung sedikit
menurunkan tinggi tubuhnya, kedua kakinya menginjak kuat tanah, dan kedua
tangannya mengepal di pinggangnya. Aku mengikutinya saja, lama, Kang Mukhlis
juga melakukan hal sama di depan kami.
Kakiku kesemutan, pegal
rasanya.
”Aduh!” aku terjatuh,
Syahid menendang mata kaki kananku, tanpa persiapan aku terjatuh. Syahid
tersenyum. Matanya terangkat ke atas semua, seolah menantang.
Kang Mukhlis membantuku
berdiri, lalu mengajariku posisi kuda-kuda yang menurutnya kuat. Aku
mengikutinya, posisi sejajar kedua telapak kaki amat menentukan kekuatan
pijakan dan kokohnya persiapan penyerangan. Jaraknya juga tidak boleh terlalu
dekat atau terlalu jauh, tekukan lutut juga harus membentuk 75 derajat. Ah,
seperti perhitungan matematika saja.
Setelah dirasa cukup,
gerakan-gerakan dasar diperagakan. Aku menirukan. Gerakan Kang Mukhis cekatan,
mengajari kami teknik-teknik dasar melumpuhkan, bertahan, melukai, melepaskan
diri, hingga refleks yang sering terjadi ketika berkelahi. Yang paling penting
katanya, adalah tekun berlatih. Aku dan Syahid manggut-manggut.
Bintang yang tak seberapa
terlihat tertutup cahaya rembulan yang terang, memerhatikan kami yang kelelahan dan terduduk beristirahat di
dekat tiang gawang, yang terbuat dari bambu betung; bambu betung memang kuat
serta bentuknya besar, biasanya digunakan untuk membuat ’bom bambu’ atau ’long’,
juga untuk penyangga jemuran, atau dibuat jembatan bambu karena warnanya hitam mengilat
dan halus.
Kang Mukhlis dan Syahid
asyik berbincang tentang masa depan Syahid. Mereka sedikit ribut. Kang Mukhlis
ingin agar anaknya itu menjadi tentara, polisi atau mungkin pejabat. Tapi,
Syahid ingin menjadi arsitektur, atau dokter, atau penulis katanya. Ah! Tak
kompak.
Dalam keributan itu aku
menatap bulan, seolah wajah Kakek tersenyum di sana. Aku ingat Kakek, dia tidak
pernah menyarankan aku untuk menjadi apa pun ketika kelak merenda masa depan.
Dia sangat percaya padaku, ”Jadi apa pun asalkan kau suka,” katanya. Duhai
Kakek.
Semakin malam,
jangkrik-jangkrik membunyikan rik-riknya dari sayap-sayapnya yang bergetar.
Beberapa suara musik terdengar jelas dari arah timur, tidak hanya satu. Pastilah
anak-anak muda yang menyetel radio atau tape-nya.
”Ayo pulang.”
Kang Mukhlis berdiri
mendekati sepeda dan menegakkannya. Kami berangkat tadi berjalan kaki walaupun
dengan sepeda, karena tak muat untuk tiga orang. Kakiku berjalan agak pincang,
tak pernah tahu-tahunya belajar silat. Kang Mukhlis dan Syahid tertawa melihatku
berjalan pincang.
”Kalian duluan saja, saya
ingin jalan-jalan sebentar.”
”Tidak takut kesasar,
Kak?”
Aku mengangkat jempolku
pada Syahid, mengedipkan satu mataku. Kau tak tahu, aku telah lama menyusuri
lorong yang lebih padat dari lorong mana pun, sudah kukelilingi ibukota negeri
ini. Gang-gang tersempit di seluruh penjuru Indonesia, rumah-rumah padat dan
kelokan semeter menjadi jalan. Kau belum mengerti, wajah kecil yang teramat
polos.
Mereka pulang, mengendarai
sepeda, lampu sorotnya lumayan terang kala dikayuh demikian cepat dan disetel
dinamonya. Desa yang teduh, tapi mungkin nama desa ini belum cocok dengan
keadaannya. Lihatlah, Kawan, semuanya masih terlihat gelap, cahaya di setiap
rumah redup. Di sini belum ada listrik, hanya ada diesel dari salah seorang
penduduk dan disalurkan. Tiap lampunya lima ribu perbulan, itupun hanya hidup
dari sore hingga paginya.
Desa Cahaya, angin dingin
berhembus menerpa rambutku. Terlihat bintang jatuh, teramat indah. Kata Kakekku
jika ada bintang jatuh pertanda ada golongan setan yang mencuri dengar
pembicaraan Tuhan Semesta Alam. Pasti sekarang setan itu sedang dikejar
habis-habisan dan lari terbirit-birit.
Kulebarkan kedua tanganku
menyamping, aku bersyukur pada-Mu Allah. Aku belum pernah menemukan tempat yang
begitu sejuk seperti ini di seluruh penggal hidupku.
Telingaku mendengar
bisik-bisik suara, lamat-lamat masih bisa kudengar. Kutajamkan dan semakin
kutajamkan. Semakin lama, suara itu mendekatiku, aku semakin merunduk dari
tempat dudukku. Dua orang tepatnya, berjalan teramat pelan. Aku jadi penasaran,
dan mereka melewatiku sekitar lima meter. Mereka tak melihatku. Mereka berjalan
ke arah sekolah, mengendap-endap, mencurigakan.
Aku mengikuti mereka,
mereka berdua mendekati sebuah rumah yang berada di belakang sekolah. Rumah
bercat hijau, mereka menuju rumah itu. Mengendap di tembok sampingnya. Salah
satu dari mereka merunduk, satunya naik di pundaknya. Mereka mau membuka
jendela kecil di tembok di atas mereka.
”Kalian sedang apa!” aku
berjalan mendekati mereka.
Lelaki yang berada di
bawah kaget dan berlari, seorang yang masih di atas terjatuh. Aku berusaha
lebih cepat, tapi kakiku masih sakit. Lelaki yang terjatuh berdiri lagi dan
terbirit-birit melarikan diri. Kakiku sakit, sampai di rumah itu kedua orang
itu telah menghilang.
Aku kelelahan.
Dua orang keluar dari
rumah itu, masih gelap, aku tak bisa mengenalinya. Tapi, salah satunya
masih kecil.
”Pak Arif. Kenapa
malam-malam begini?”
Aku menghirup napas, samar
terlihat sorot cahaya dari rumah di seberang jalan. Wajah wanita itu? Ya,
sepertinya aku mengenalnya. Samar, dan benar dugaanku, dia si jelita lentik
bermata anggur ungu. Aku gelagapan.
”Ma..maaf, tadi ada dua
orang yang mengendap-endap di sini. Aku
menegur mereka, dan mereka lari.”
”Mereka lagi rupanya,” Bu Siska
mengalihkan wajahnya dariku.
Mereka lagi?
”Maksud Bu Siska mereka
lagi siapa?”
”Geng Sar.”
Geng Sar lagi?
”Sebaiknya Anda segera
pulang, Pak, kau belum banyak tahu tentang desa ini,” tanpa reaksi lagi, Bu
Siska langsung masuk beserta anak kecil itu ke dalam rumah.
Saat kakiku mulai
melangkah pergi, sebuah suara kriut membuatku terhenti dan menoleh ke belakang.
”Oya Pak, berhati-hatilah
esok dengan para siswa,” matanya yang lentik menolehku sejenak, samar, ”banyak
yang telah mengundurkan diri, sangat banyak!” dan menutup pintu kembali. Aku
berbalik, tersenyum, mengundurkan diri.
Aku heran tentang misteri
Geng Sar, penasaran, tetapi akhirnya aku pulang. Menurut Kang Mukhlis, sedari
dulu Geng Sar selalu meneliti rumah Bu Siska. Bu Siska bahkan sudah menyuruh
mereka menggeledah rumah itu, tapi mereka tak menemukan apa yang mereka cari.
Tapi mereka yakin, Bu Siska menyembunyikan apa yang sedang mereka cari. Kang
Mukhlis juga tak tahu apa itu, tapi semua ini bermula dari Mbah Mustaqim, kakek
Bu Siska, pemimpin pertama kelompok yang pindah ke desa Cahaya ini ketika
membuka hutan, dan akhirnya desa Cahaya inilah jadinya.
Menarik! Kawan, jika kau
melihat hal-hal unik dan aneh. Bisa dipastikan pikiran kita sama, kita ingin
menjadi penyelidik.
Malam itu aku susah tidur,
aku berpikir keras. Geng Sar mencari sesuatu dari Bu Siska? Apa itu? Kenapa
berhubungan dengan mendiang kakek Bu Siska yang menjadi pemimpin pertama desa
Cahaya. Ini pasti hanya rahasia kecil, akhirnya mataku terpejam, biarlah pendam
mimpi mengendapkannya. Kakiku juga masih pegal.
”Ayo ke masjid?” Kang Mukhlis
membangunkanku, pagi sudah menjelang rupanya. Syahid berdiri di belakang
Ayahnya, memakai peci.
”Aku di rumah saja, Pak.
Badanku pegal-pegal.”
Sesudah shalat, kakiku
lumayan sembuh tapi masih senut-senut, akhirnya aku keluar rumah.
Kebiasaanku sewaktu kuliah dulu kuulangi, jalan pagi-pagi, maraton. Bertelanjang
kaki, rasanya ngilu menapak di batu-batu besar nan terjal. Akhirnya hanya
pelan-pelan ku melangkah.
Aku ingin mengitari desa
Cahaya, setidaknya sebatas sekolah dan lewat jalur memutar di sebelah utara. Kabut terlihat temaram, lampu-lampu
yang samar menerawang bagai sinar-sinar putih yang memburam. Kelebatan kalong,
kelelawar dan sebangsanya, menyingsing menyambut pagi. Udara desa Cahaya, tidak
pagi, siang atau malam, semuanya sejuk dan segar.
Di pojok sekolah itu,
kakiku terhenti. Sebuah rumah bercat hijau, di belakang sekolah dekat tempatku
berdiri. Rumah yang diincar Geng Sar tadi malam. Dan bukanlah karena hanya
misteri itu aku berhenti, ada tembang yang begitu syahdu mengetuk hatiku.
Saat dendang itu mengalun
dari oktafnya, dari rimanya, dari jedanya semuanya sunyi. Suara itu teramat
merdu, seperti suara jernihnya air danau yang belum dijamah polusi. Tak kedap
yang menghambatnya, sungguh bersih dan fasih. Alam terdiam, seolah isi dunia
hanya terisi suara dendangan itu.
Tubuhku lengkap terdiam,
hatiku kuat tergetar.
Kau tahu kawan, dendang
apa itu? Suara wanita yang lembut tengah membaca Kitabullah. Halus menyusup ke
dalam jiwaku terdalam. Walau jujur, aku tak bisa membaca al-Qur`an, Kakek dulu
pernah mengajariku hanya sebatas hafalan huruf-hurufnya saja.
Alif Laam Raa. Tilka
aayaatul kitaa bilmubiin. Innaa anzalnaahu qur`aanan ’arabiyyal la’allkum
ta’qiluun.
(Alif Laam Raa. Ini
adalah ayat-ayat Kitab (al-Qur`an) yang nyata (dari Allah). Sesungguhnya Kami
menurunkannya berupa al-Qur`an dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya).
Kawan, walau aku belum
bisa mengaji, tapi, dadaku bergetar. Selama ini, dalam pikiranku hanya sains,
ilmu pengetahuan, motivasi-motivasi konvensional. Tapi, berhadapan dengan
ayat-ayat Allah, hatiku tergetar. Aku tak tahu maksudnya ayat-ayat itu, tapi
getaran dendang itu bagaikan mengajakku menyelam dalam palung lautan, mengajakku
meraba kedalaman hatiku.
Dan pagi beranjak
menggantikan peran malam. Siluetnya mulai terlihat dari balik pepohonan tinggi
di sebelah timur. Indah.
Not Comments Yet "Bagian 14, Dendang Suara Terindah"
Posting Komentar