Kepada
kak Nugroho aku menceritakan semuanya, karena aku yakin dia akan menjaga
rahasiaku ini. Aku benar-benar tak punya lagi tempat untuk meminta saran.
Setelah kuceritakan, Nugroho memegang pundakku pelan sambil tersenyum.
”Dengarlah
wahai Ali. Sebaik-baik perkataan adalah firman Allah swt, sebaik-baik petunjuk
adalah petunjuk Rasulullah saw. Allah berfirman, ”Yaitu orang-orang yang
beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah,
hanya dengan mengingati Allahlah hati akan menjadi tenteram,”
jiwamu kini telah terombang-ambing. Syetan semakin gencar merayu dan membujukmu
melakukan hal-hal yang tidak diajarkan Rasulullah saw. Engkau harus cepat-cepat
menemukan dirimu, dan engkau akan mengenal Tuhanmu dengan baik, begitulah pesan
Ali bin Abi Thalib ra. Sahabat yang pertama masuk islam ketika usianya masih
sangat muda.
Aku
berharap engkau dapat mencontoh Ali bin Abi Thalib. Beliau adalah kunci ilmu
bagi gudangnya ilmu yaitu Rasulullah. Aku tahu keadaanmu, keadaanmu tak jauh
berbeda dari Ali yang selalu hidup kekurangan, hingga dia diasuh oleh orang
yang terbaik sepanjang sejarah manusia. Kamu harus mencari dan menemukan jati
dirimu. Kamu harus menjadi orang besar, walau engkau memiliki banyak
keterbatasan karena itulah Allah menciptakan kita.
Rasulullah
saw bersabda, ”Barangsiapa yang melalui suatu jalan untuk mencari ilmu,
Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga. Sesungguhnya para malaikat
membentangkan sayapnya untuk para penuntut ilmu karena mereka ridha atas apa
yang ia lakukan. Orang yang berilmu akan dido’akan untuknya ampunan oleh yang ada
di langit maupun yang ada di bumi sampai ikan yang ada dalam lautan. Keutamaan
orang yang berilmu dengan orang yang beribadah adalah seperti keutamaan bulan
dengan seluruh bintang. Para Ulama adalah pewaris nabi, dan nabi tidak pernah
mewariskan dinar maupun dirham, tetapi mereka mewariskan ilmu. Barangsiapa yang
mengambilnya, ia telah mendapatkan bagian yang sangat besar.”
begitulah, tiada lagi keindahan dan kemulyaan di atas orang-orang berilmu dan
bertaqwa kepada Allah.
”Semuanya
tergantung ditanganmu Akh,” kembali senyumnya tersungging, tiada
kusangka begitu banyak hal yang belum kupelajari darinya. Rasanya Allah
mengutusnya untukku, sebagai obat bagi sakitku. Tiada terasa airmataku menetes,
kak Nugroho buru-buru mengambil tissue dari laci meja belajarnya. Kusempatkan
malam ini, ba’da isya’ untuk membicarakan masalahku dengannya.
”Aku
ingin menjadi orang yang berguna..., aku ingin menjadi orang yang berilmu. Agar
aku dicintai semua mahkluk Allah, dan diridhai Allah. Aku tak ingin
terus-menerus, dibayang-bayangi hal-hal yang membuatku sering merasa gelisah
dan sakit,’ tiada terasa Nugroho memelukku, aku menangis dalam pelukan seorang
yang berilmu, aku menumpahkan semua rasa di jiwaku. Seolah aku menemukan diriku
lahir kembali, dalam mekarnya bunga-bunga. Seolah aku menemukan diriku yang
hilang. Aku bangkit dan duduk bersila.
Aku
mengusap airmataku, ”Bolehkah aku bertanya lagi?”
”Silakan,
jika bisa kujawab insyaallah akan
kujawab. Jika tidak bisa, maka aku akan mencari sumber yang terpercaya.”
”Ketika
aku mengharapkan sebuah hadiah, terutama ketika aku ingin menepati janji
persahabatan itu, maka aku bisa menjadi nomor satu, dan aku dapat mencapai hal
yang tidak bisa kulakukan jika tanpa sebuah dorongan kuat. Apakah kemampuan
seperti ini tidak ada dalam Islam?”
”Pertanyaanmu
sungguh aneh. Pada dasarnya semua orang oleh Allah diberikan akal untuk berpikir,
dan menentukan setiap pilihan yang ada di kehidupannya. Termasuk aku atau
dirimu. Dorongan atau motivasi yang kuat dapat menimbulkan rangsangan, yang
membuat kita semangat untuk mencapai apa yang kita inginkan. Misalnya karena
mengharapkan hadiah, yang baginya adalah penting maka dia mengejarnya, berusaha
hingga tanpa terasa semua organ dalam dirinya bekerja sama tanpa kenal lelah.
Seorang Muslim mempunyai motivator paling besar dalam dirinya untuk melejit
menjadi yang terbaik, dan bahkan Islam mengharuskan penganutnya menjadi
hamba-hamba Allah yang memiliki ilmu tinggi, dan menjadi terbaik di segala
bidang.
Semua
sahabat Nabi saw telah menorehkan sejarah dunia. Dunia heran melihat setiap
karekter yang diciptakan Allah, dan diajarkan melalui Rasulullah saw. Walau
mereka ada yang tidak dikenal namanya, namun Allah Yang Maha Mengetahui
mempunyai catatan tersendiri. Dan segala penilaian tiada berarti, kecuali penilaian
Allah. Karena sesuatu yang baik di mata manusia, belum tentu baik dalam
pandangan Allah Azza Wa Jalla.
Motivasi
terdahsyat kita adalah kesejatian cinta Allah, Allah-lah tujuan kita menjadi
hamba yang terbaik, berlomba-lomba dalam mengerjakan kebaikan. Jika engkau
telah berma’rifah
kepada Allah dengan baik, engkau akan menemukan dirimu selalu setiap saat
dalam keadaan terbaik. Seluruh waktu dan tenagamu menjadi bermanfaat, dan
tidurmu sekalipun adalah bermanfaat. Bahkan engkau akan terkejut karena dirimu,
jika telah menjadikan Allah sebagai tujuan, akan lebih tinggi motivasimu
daripada sekedar dunia dan seisinya.”
”Bagaimanakah
cara mengenal Allah dengan baik?” aku menatap Nugroho antusias.
”Tenanglah,
sepertinya dadamu terbakar oleh iman.
Untuk mengenal Allah pelajarilah Ilmu, hadirilah majlis-majlis ta’lim yang
mengagungkan Rabb Semesta Alam, seringlah duduk-duduk bersama ulama, kajilah
Al-Quran karena itu adalah sebaik-baik perkataan.”
Walau
aku masih bingung, aku mengangguk-anggukkan kepalaku, ”Tolong tunjukkan padaku
Kak, bagaimana agar aku lebih cepat mengenal Allah, agar aku dapat segera
merubah diriku menjadi orang yang terbaik dan bermanfaat bagi umat Islam,
negara dan terutama keluargaku? Aku akan berusaha sekuat tenaga, agar aku bisa
menemukan diriku. Aku merasa kini seolah batang pisang yang telah kehilangan
kehidupan setelah memberikan buahnya, aku..., layu,” aku mengangkat tanganku
dan menutup wajahku.
”Kamu
tahu Ali,” tangannya memegang pundakku pelan, ”Di dekat Terminal kereta, ada
Pondok Pesantren khusus Mahasiswa, kita
kemarin kesana belum lama untuk menghadiri syukuran khitanannya Muslim, anaknya
Ustadz Wahid. Jika kamu memang ingin bersungguh-sungguh belajar agama, kamu
bisa menimba ilmu disana. Kamu harus nyantri disana dan tinggal disana, itupun
jika kamu mau,” Nugroho tersenyum pelan, matanya tak bisa bohong kalau
sebenarnya dia mengantuk. Malam semakin menukik tajam, mungkin mendekati pagi.
”Apakah
jika aku nanti disana, bisa membuat hatiku tenang dan tidak lagi merasakan
kegelisahan yang berlarut-larut, hingga membuatku susah untuk tidur?”
”Insyaallah, Biidznillah, Allah Maha membolak-balikkan hati dan akan
memberikan penerangan dan cahaya kepada siapapun yang dikehendakiNya, jika
telah Allah beri cahaya, walaupun seluruh makhluk di seluruh penjuru dunia
berkumpul untuk menyesatkannya, niscaya akan menemui kebuntuan belaka.”
”Insyaallah saya ingin mondok disana
Kak,” aku menatapnya mantap.
”Alhamdulillah, itu adalah langkah awal
yang baik. Tapi..., ada sesuatu yang aku lupakan,” Nugroho menyangga dagunya
dengan tangan kanannya.
”Apa
yang terlupa Kak?”
”Untuk
masuk ke Pondok Darussalam, ada tes yang harus diikuti setiap calon santrinya.
Diantaranya ada hafalan Al-Quran minimal satu juz, dan juga tes membaca Quran
dengan tartil. Waktu tes tinggal
sebentar lagi, atau mungkin kamu harus bersabar menunggu tes buka tahun depan?”
”Tidak
bisakah tahun ini Kak? Aku akan berusaha menghafalnya, dan belajar membacanya
dengan tartil.”
Nugroho
tak menanggapi, hanya matanya sejenak menatapku tajam, sejenak kemudian seolah
berpikir dalam, ”Aku akan membantumu sebisa mungkin, tapi tetap saja kita hanya
berusaha. Semoga Allah memberikan kemudahan kepadamu. Amiin.”
Aku
pamitan kembali ke kamar, saatnya mengistirahatkan mataku yang mungkin tinggal
lima watt. Sedari tadi kupaksakan dia terbuka, demi sebuah kesempatan yang
membuncah di dalam dadaku, ingin mengakhiri segalanya. Aku ingin kembali
padaNya, dengan kesungguhan kata dan tindakan. Mengembalikan tujuan hidup yang
sesungguhnya..., yang sebenarnya...
* *
*
Seusai
semester genap berakhir, Nugroho tidak pulang kampung. Katanya masih banyak
tugas. Nugroho agak melonggarkan waktunya untukku. Dia benar-benar meluangkan
waktu-waktu senggangnya, untuk mengajariku membaca Al-Quran dengan tartil. Kadang tajwid yang baru kukenal
namanya, dan juga bagaimana pembunyian kata-katanya sering membuat kepalaku
pusing. Waktu pendaftaran hanya tinggal seminggu lagi, dan yang baru kuketahui
paling cuma mad tobi’i
dengan hukum nun mati dan tanwin. Makhrojul
hurufnya masih acak kadut. Aku menyesal, kenapa aku dulu tidak serius
sewaktu Mentoring dengannya.
Hari
senin sore sepulang dari kuliah, dan melakoni lakonku di Pasar sebagai kuli,
kusempatkan ke toko buku di dekat Terminal. Disana ada kaset-kaset murottal,
lengkap dari juz satu sampai tiga puluh, itu yang kucari. Aku membeli satu, juz
satu Al-Mathrud. Dari seminggu yang lalu aku belajar menghafal dengan
Nugroho, belum se-ayat pun yang aku hafal karena makhroj huruf dan
tajwidnya masih kurang tepat. Terpaksa aku harus menghafal dengan metodeku
sendiri.
Kujadwalkan
seminggu full sebelum tes di pondok
Darussalam, menghafal satu juz dengan mendengarkan dari kaset, setiap ba’da subuh dan malam menjelang tidur.
Dan seminggu berjalan seolah melambat atau cepat, aku sendiri sudah
melupakannya. Aku kini seolah mengalir lagi bagaikan air, beberapa kali aku
masih bertemu dengan pemilik cincin bulan. Bertemu di bikun atau di luar asrama, aku harus kuat membuang jauh-jauh
ingatan tentangnya. Semuanya. Walau kadang perasaanku masih bergetar, ketika
melewati Fakultas Ilmu Budaya, serasa angin hembusannya berbeda ketika melewati
tempat manapun.
Bagiku
yang terpenting kini adalah bagaimana bisa masuk ke pondok Darussalam,
konsentrasiku kugunakan sepenuhnya kesana. Setiap mendengarkan kaset, aku
selalu menyimaknya dan merekamnya sekuat tenaga di otakku. Pagi hari libur,
setelah semesteran membuatku betah berlama-lama demi mendengarkan murottal.
Selama bekerja di Pasar Minggu, selain mengangkat barang kugunakan waktu itu
untuk membaca Al-Quran, kubaca sesuai dengan kaset di rumah. Pelan dan hampir
berbisik, sehingga hanya aku dan Allah yang mendengarkannya.
Hari
senin itu benar-benar telah datang, beberapa hari yang lalu telah kedengar
kabar juga banyak calon Mahasiswa dari lulusan SMA se-Nusantara sudah ada yang
mendaftar. Hari ini, Nugroho menemaniku mengikuti tes di pondok Mahasiswa
Darussalam. Sampai disana, Nugroho menemaniku sebentar selama mendaftar dan
menunggu, bersama antrian lain karena memang hari ini pendaftaran langsung, dan
pengumumannya biasanya besoknya setelah hari tes. Aku mengambil formulir dan
mengisinya di meja yang telah disediakan. Aku duduk di kursi tunggu setelah
Nugroho pamitan padaku, seperti biasa ada tugas. Dia memang orang sibuk.
Beberapa
orang di ruang tunggu masih terlibat perbincangan seru, dengan sebaya mereka
atau orang tua mereka. Mungkin mereka juga mengikuti tes masuk pondok. Aku
melangkahkan kakiku di Masjid kecil, yang terletak di sebelah selatan pondok,
berlawanan dengan lapangan bola yang berada di depan, di sebelah utara pondok.
Aku ingin melaksanakan shalat Dhuha, belum pernah sekalipun dengan kesungguhan
aku menunaikan shalat sunnah itu. Setidaknya seperti pesan Nugroho, shalat
dhuha dapat memperlancar urusan, dibangunkan istana di surga atau dengan dua
rekaatnya saja, dapat menyedekahi 360 persendian yang berada dalam organ tubuh
manusia.
Masjidnya
begitu bersih, walau tidak sebesar masjid Ukhuwah Islamiyah, namun pesona
sejuknya tidak kalah dibanding disana. Tempat wudhunya pun begitu bersih, di
masjid tidak ada orang, tanpa rikuh aku langsung melaksanakan shalat dhuha.
Begitu tenang dan seolah menghanyutkan. Tanpa terasa airmataku menetes pelan,
hangat. Aku merasakan Allah begitu dekat, sangat dekat hingga terasakan betapa
indahnya hidup, yang kadang tidak kita sadari dengan banyak mengeluh dan
menyia-nyiakanNya. Terasa bagaikan hidup ini hanyalah ujian yang ringan, semua
penuh dengan kedamaian. Tak terasa wajahku telah basah, begitu banyak dosa yang
selama ini terabaikan, seolah hanya sebagai perbuatan yang biasa.
Padahal
setiap perbuatan sebesar dzarrah pun, akan dimintai pertanggungjawaban,
begitu banyak kedzoliman yang terlupa untuk memohon ampunan. Kadang jika
ditanya siapa yang ingin ke surga, jawabanku pasti, ”Saya!” tapi kenapa aku begitu
lambat untuk lari menjauhi neraka, malah melangkah banyak melakukan
kemaksiatan? Mulai kini, aku akan memperbaiki diri ya Allah, maka izinkanlah
aku dengan kuasaMu. Masukkanlah aku ke pondok Darussalam, dengan izinmu ya
Allah, aku berjalan menuju kepada jalan yang Engkau kehendaki.
Ya
Allah..., aku hina maka tinggikanlah derajatku dengan ilmu dariMu...,
izinkanlah aku menghirup udara ketaqwaan, sebelum utusanMu menjemputku dan
membawaku kepadaMu. Izinkahlah...
”Assalamu’alaikum,”
”Wa’alaikumsalam,”
aku segera membersihkan airmataku dengan tangan kanan dan kiriku. Malu
seandainya terlihat menangis. Kutatap si penyapa, seorang lelaki berumur
setengah baya, mungkin lebih. Wajahnya tenang dan tersenyum, jenggotnya
memanjang, bajunya longgar sampai bawah
dan memakai kopiah rajut putih. Aku gelagapan, dan membersihkan sisa-sisa
airmata yang masih tersisa di wajahku.
Aku
menghadapnya sambil bersila setelah kurasa wajahku telah bersih, aku
benar-benar tak menyadari jika selama shalat dan muhasabah tadi, ada seseorang
di belakangku. Kini dia sedang duduk bersila pula, mungkin dia takmir masjid
ini. Aku masih terdiam, menunggu apa yang ingin disampaikannya. Kurasa itu
lebih baik daripada aku memulai duluan, sedangkan aku bingung apa yang ingin
aku katakan.
”Kamu
ada masalah anakku?” aku sempat kaget sejenak, tuturnya begitu lembut.
Membuatku rindu akan Bapak di rumah. Dia memegang kedua pundakku dengan kedua
tangannya, mungkin dia menunggu jawabanku.
”Aku...,”
tiba-tiba ada perasaan membuncah yang ingin aku ceritakan, ”Aku telah dibohongi
oleh persahabatan. Aku telah datang ke kota persahabatan..., karena aku telah
berjanji padanya, aku akan datang untuk keabadian persahabatan. Bahkan aku
telah mengorbankan segalanya dalam hidupku, harga diriku, keluargaku hanya untuk
menepati janji persahabatan itu. Tapi kini, sahabat itu mengkhianatiku. Aku
merasa hidupku tiada guna selama ini, karena dalam pikiranku hanya terpenuhi
sesak oleh kata persahabatan.
Aku...,
dari orang miskin datang ke kotanya. Kukorbankan semua waktu dan pikiranku
untuk memenuhi janji itu. Dan setelah aku menepatinya, dia bahkan tidak
mengenalku lagi, dia tidak mau mengenalku! Hidupku bagai hancur, aku kesini
ingin merubah diriku..., ingin belajar menjadi diriku yang sesungguhnya, bukan
menjadi bayang-bayang sahabat yang telah membuatku terlunta-lunta,” aku
mengusap airmataku kembali, kutatap wajah tua di depanku. Tatapannya begitu
teduh, seolah berenang di danau yang airnya begitu jernih nan biru.
”Anakku,
Persahabatan itu adalah indah. Rasulullah saw bersabda bahwa seribu
sahabat itu sedikit tapi satu orang
musuh itu banyak, tentu kamu juga paham itu. Ingatlah, berikanlah yang terbaik
untuk persahabatan itu. Janganlah pernah kamu menyakitinya walau dia menyakitimu,
jika terlewati maka mintalah maafnya. Persahabatan menjadikan hati peka, dan
tahu saat musim pasang surut dan musim berlabuhnya persahabatan, pertemuannya
bukan hanya mengisi waktu senggang, melainkan menghidupkan sang waktu yang
terus berjalan.
Sahabat
itu mengisi kekosongan, mengganti keresahan menjadi ceria kegirangan. Membagi
duka dan kesenangan, bagai dua pengemis yang membelah rotinya untuk dimakan bersama, atau bagai dua gambar
pada mata uang logam yang tak terpisahkan, begitu nikmat walau di bawah terik
matahari yang membakar, walau di tengah hujan deras yang mengguyur.
Lahan
yang kering kerontang membutuhkan hujan, apalagi kerongkongan manusia yang
kehausan, bumi membutuhkan matahari untuk meneranginya. Hati manusia yang pilu
membutuhkan rintik lembut embun untuk menenangkannya, itulah persahabatan yang
lahir dari jiwa, yang menjadikan kesegaran pada kehidupan.”
”Lalu
kenapa..., kenapa sahabatku mengkhianatiku?” Nadaku kurasa melemah.
”Persahabatan
yang sejati adalah seperti yang Rasulullah saw dan para sahabat, yang mereka
bagaikan satu tubuh, jika satu mengalami kesakitan maka semuanya merasakan
sakitnya. Persahabatan itu pada hakikatnya bermuara pada Allah, jika muaranya
pada Allah tentu saja persahabatan itu akan terjaga, cobalah susupkan ke
hatimu, carilah rahasia sebenarnya di balik peristiwa yang terjadi, karena hati
tidak akan berbohong kepada siapapun. Apakah itu persahabatan atau hanya rekaan
yang bukan untuk Allah.
Jika
persahabatan itu untuk Allah, dia akan kekal. Persahabatan itu memperkaya jiwa dan menuntun pada
kesejatian cinta. Dan kita akan memilih keduanya, yaitu cinta dan persahabatan
karena keduanya bagaikan dua sisi mata uang yang saling melengkapi, namun jika
engkau diharuskan memilih diantara keduanya, maka pilihlah cinta karena dengan
cinta, engkau akan menemukan persahabatan-persahabatan di dalamnya.”
Aku
masih menatap lelaki tua itu, dia tersenyum pelan.
”Pergilah
untuk tes, semoga engkau diterima. Allah mencintai orang-orang yang berusaha
sekuat tenaga mengejar ilmu dan hidayah,” senyumnya begitu tulus, mengantar
langkahku yang kini kurasa mantap. Kusempatkan mencium punggung tangannya. Aku
menemukan sosok Bapak dari setiap kata-katanya yang mengalir, dari kata
itulah cerminan akhlaknya.
Not Comments Yet "Part 15, Tekad"
Posting Komentar