Jumat, 18 Oktober 2019

Part 15, Tekad

Kepada kak Nugroho aku menceritakan semuanya, karena aku yakin dia akan menjaga rahasiaku ini. Aku benar-benar tak punya lagi tempat untuk meminta saran. Setelah kuceritakan, Nugroho memegang pundakku pelan sambil tersenyum.
”Dengarlah wahai Ali. Sebaik-baik perkataan adalah firman Allah swt, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah saw. Allah berfirman, ”Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allahlah hati akan menjadi tenteram,[1]” jiwamu kini telah terombang-ambing. Syetan semakin gencar merayu dan membujukmu melakukan hal-hal yang tidak diajarkan Rasulullah saw. Engkau harus cepat-cepat menemukan dirimu, dan engkau akan mengenal Tuhanmu dengan baik, begitulah pesan Ali bin Abi Thalib ra. Sahabat yang pertama masuk islam ketika usianya masih sangat muda.
Aku berharap engkau dapat mencontoh Ali bin Abi Thalib. Beliau adalah kunci ilmu bagi gudangnya ilmu yaitu Rasulullah. Aku tahu keadaanmu, keadaanmu tak jauh berbeda dari Ali yang selalu hidup kekurangan, hingga dia diasuh oleh orang yang terbaik sepanjang sejarah manusia. Kamu harus mencari dan menemukan jati dirimu. Kamu harus menjadi orang besar, walau engkau memiliki banyak keterbatasan karena itulah Allah menciptakan kita.
Rasulullah saw bersabda, ”Barangsiapa yang melalui suatu jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga. Sesungguhnya para malaikat membentangkan sayapnya untuk para penuntut ilmu karena mereka ridha atas apa yang ia lakukan. Orang yang berilmu akan dido’akan untuknya ampunan oleh yang ada di langit maupun yang ada di bumi sampai ikan yang ada dalam lautan. Keutamaan orang yang berilmu dengan orang yang beribadah adalah seperti keutamaan bulan dengan seluruh bintang. Para Ulama adalah pewaris nabi, dan nabi tidak pernah mewariskan dinar maupun dirham, tetapi mereka mewariskan ilmu. Barangsiapa yang mengambilnya, ia telah mendapatkan bagian yang sangat besar.[2] begitulah, tiada lagi keindahan dan kemulyaan di atas orang-orang berilmu dan bertaqwa kepada Allah.
”Semuanya tergantung ditanganmu Akh,” kembali senyumnya tersungging, tiada kusangka begitu banyak hal yang belum kupelajari darinya. Rasanya Allah mengutusnya untukku, sebagai obat bagi sakitku. Tiada terasa airmataku menetes, kak Nugroho buru-buru mengambil tissue dari laci meja belajarnya. Kusempatkan malam ini, ba’da isya’ untuk membicarakan masalahku dengannya.
”Aku ingin menjadi orang yang berguna..., aku ingin menjadi orang yang berilmu. Agar aku dicintai semua mahkluk Allah, dan diridhai Allah. Aku tak ingin terus-menerus, dibayang-bayangi hal-hal yang membuatku sering merasa gelisah dan sakit,’ tiada terasa Nugroho memelukku, aku menangis dalam pelukan seorang yang berilmu, aku menumpahkan semua rasa di jiwaku. Seolah aku menemukan diriku lahir kembali, dalam mekarnya bunga-bunga. Seolah aku menemukan diriku yang hilang. Aku bangkit dan duduk bersila.
Aku mengusap airmataku, ”Bolehkah aku bertanya lagi?”
”Silakan, jika bisa kujawab insyaallah akan kujawab. Jika tidak bisa, maka aku akan mencari sumber yang terpercaya.”
”Ketika aku mengharapkan sebuah hadiah, terutama ketika aku ingin menepati janji persahabatan itu, maka aku bisa menjadi nomor satu, dan aku dapat mencapai hal yang tidak bisa kulakukan jika tanpa sebuah dorongan kuat. Apakah kemampuan seperti ini tidak ada dalam Islam?”
”Pertanyaanmu sungguh aneh. Pada dasarnya semua orang oleh Allah diberikan akal untuk berpikir, dan menentukan setiap pilihan yang ada di kehidupannya. Termasuk aku atau dirimu. Dorongan atau motivasi yang kuat dapat menimbulkan rangsangan, yang membuat kita semangat untuk mencapai apa yang kita inginkan. Misalnya karena mengharapkan hadiah, yang baginya adalah penting maka dia mengejarnya, berusaha hingga tanpa terasa semua organ dalam dirinya bekerja sama tanpa kenal lelah. Seorang Muslim mempunyai motivator paling besar dalam dirinya untuk melejit menjadi yang terbaik, dan bahkan Islam mengharuskan penganutnya menjadi hamba-hamba Allah yang memiliki ilmu tinggi, dan menjadi terbaik di segala bidang.
Semua sahabat Nabi saw telah menorehkan sejarah dunia. Dunia heran melihat setiap karekter yang diciptakan Allah, dan diajarkan melalui Rasulullah saw. Walau mereka ada yang tidak dikenal namanya, namun Allah Yang Maha Mengetahui mempunyai catatan tersendiri. Dan segala penilaian tiada berarti, kecuali penilaian Allah. Karena sesuatu yang baik di mata manusia, belum tentu baik dalam pandangan Allah Azza Wa Jalla.
Motivasi terdahsyat kita adalah kesejatian cinta Allah, Allah-lah tujuan kita menjadi hamba yang terbaik, berlomba-lomba dalam mengerjakan kebaikan. Jika engkau telah berma’rifah[3] kepada Allah dengan baik, engkau akan menemukan dirimu selalu setiap saat dalam keadaan terbaik. Seluruh waktu dan tenagamu menjadi bermanfaat, dan tidurmu sekalipun adalah bermanfaat. Bahkan engkau akan terkejut karena dirimu, jika telah menjadikan Allah sebagai tujuan, akan lebih tinggi motivasimu daripada sekedar dunia dan seisinya.”
”Bagaimanakah cara mengenal Allah dengan baik?” aku menatap Nugroho antusias.
”Tenanglah, sepertinya dadamu terbakar  oleh iman. Untuk mengenal Allah pelajarilah Ilmu, hadirilah majlis-majlis ta’lim yang mengagungkan Rabb Semesta Alam, seringlah duduk-duduk bersama ulama, kajilah Al-Quran karena itu adalah sebaik-baik perkataan.”
Walau aku masih bingung, aku mengangguk-anggukkan kepalaku, ”Tolong tunjukkan padaku Kak, bagaimana agar aku lebih cepat mengenal Allah, agar aku dapat segera merubah diriku menjadi orang yang terbaik dan bermanfaat bagi umat Islam, negara dan terutama keluargaku? Aku akan berusaha sekuat tenaga, agar aku bisa menemukan diriku. Aku merasa kini seolah batang pisang yang telah kehilangan kehidupan setelah memberikan buahnya, aku..., layu,” aku mengangkat tanganku dan menutup wajahku.
”Kamu tahu Ali,” tangannya memegang pundakku pelan, ”Di dekat Terminal kereta, ada Pondok  Pesantren khusus Mahasiswa, kita kemarin kesana belum lama untuk menghadiri syukuran khitanannya Muslim, anaknya Ustadz Wahid. Jika kamu memang ingin bersungguh-sungguh belajar agama, kamu bisa menimba ilmu disana. Kamu harus nyantri disana dan tinggal disana, itupun jika kamu mau,” Nugroho tersenyum pelan, matanya tak bisa bohong kalau sebenarnya dia mengantuk. Malam semakin menukik tajam, mungkin mendekati pagi.
”Apakah jika aku nanti disana, bisa membuat hatiku tenang dan tidak lagi merasakan kegelisahan yang berlarut-larut, hingga membuatku susah untuk tidur?”
Insyaallah, Biidznillah[4], Allah Maha membolak-balikkan hati dan akan memberikan penerangan dan cahaya kepada siapapun yang dikehendakiNya, jika telah Allah beri cahaya, walaupun seluruh makhluk di seluruh penjuru dunia berkumpul untuk menyesatkannya, niscaya akan menemui kebuntuan belaka.”
Insyaallah saya ingin mondok disana Kak,” aku menatapnya mantap.
Alhamdulillah, itu adalah langkah awal yang baik. Tapi..., ada sesuatu yang aku lupakan,” Nugroho menyangga dagunya dengan tangan kanannya.
”Apa yang terlupa Kak?”
”Untuk masuk ke Pondok Darussalam, ada tes yang harus diikuti setiap calon santrinya. Diantaranya ada hafalan Al-Quran minimal satu juz, dan juga tes membaca Quran dengan tartil. Waktu tes tinggal sebentar lagi, atau mungkin kamu harus bersabar menunggu tes buka tahun depan?”
”Tidak bisakah tahun ini Kak? Aku akan berusaha menghafalnya, dan belajar membacanya dengan tartil.”
Nugroho tak menanggapi, hanya matanya sejenak menatapku tajam, sejenak kemudian seolah berpikir dalam, ”Aku akan membantumu sebisa mungkin, tapi tetap saja kita hanya berusaha. Semoga Allah memberikan kemudahan kepadamu. Amiin.”
Aku pamitan kembali ke kamar, saatnya mengistirahatkan mataku yang mungkin tinggal lima watt. Sedari tadi kupaksakan dia terbuka, demi sebuah kesempatan yang membuncah di dalam dadaku, ingin mengakhiri segalanya. Aku ingin kembali padaNya, dengan kesungguhan kata dan tindakan. Mengembalikan tujuan hidup yang sesungguhnya..., yang sebenarnya...
*     *     *
Seusai semester genap berakhir, Nugroho tidak pulang kampung. Katanya masih banyak tugas. Nugroho agak melonggarkan waktunya untukku. Dia benar-benar meluangkan waktu-waktu senggangnya, untuk mengajariku membaca Al-Quran dengan tartil. Kadang tajwid yang baru kukenal namanya, dan juga bagaimana pembunyian kata-katanya sering membuat kepalaku pusing. Waktu pendaftaran hanya tinggal seminggu lagi, dan yang baru kuketahui paling cuma mad tobi’i[5] dengan hukum nun mati dan tanwin. Makhrojul[6] hurufnya masih acak kadut. Aku menyesal, kenapa aku dulu tidak serius sewaktu Mentoring dengannya.
Hari senin sore sepulang dari kuliah, dan melakoni lakonku di Pasar sebagai kuli, kusempatkan ke toko buku di dekat Terminal. Disana ada kaset-kaset murottal, lengkap dari juz satu sampai tiga puluh, itu yang kucari. Aku membeli satu, juz satu Al-Mathrud. Dari seminggu yang lalu aku belajar menghafal dengan Nugroho, belum se-ayat pun yang aku hafal karena makhroj huruf dan tajwidnya masih kurang tepat. Terpaksa aku harus menghafal dengan metodeku sendiri.
Kujadwalkan seminggu full sebelum tes di pondok Darussalam, menghafal satu juz dengan mendengarkan dari kaset, setiap ba’da subuh dan malam menjelang tidur. Dan seminggu berjalan seolah melambat atau cepat, aku sendiri sudah melupakannya. Aku kini seolah mengalir lagi bagaikan air, beberapa kali aku masih bertemu dengan pemilik cincin bulan. Bertemu di bikun atau di luar asrama, aku harus kuat membuang jauh-jauh ingatan tentangnya. Semuanya. Walau kadang perasaanku masih bergetar, ketika melewati Fakultas Ilmu Budaya, serasa angin hembusannya berbeda ketika melewati tempat manapun.
Bagiku yang terpenting kini adalah bagaimana bisa masuk ke pondok Darussalam, konsentrasiku kugunakan sepenuhnya kesana. Setiap mendengarkan kaset, aku selalu menyimaknya dan merekamnya sekuat tenaga di otakku. Pagi hari libur, setelah semesteran membuatku betah berlama-lama demi mendengarkan murottal. Selama bekerja di Pasar Minggu, selain mengangkat barang kugunakan waktu itu untuk membaca Al-Quran, kubaca sesuai dengan kaset di rumah. Pelan dan hampir berbisik, sehingga hanya aku dan Allah yang mendengarkannya.
Hari senin itu benar-benar telah datang, beberapa hari yang lalu telah kedengar kabar juga banyak calon Mahasiswa dari lulusan SMA se-Nusantara sudah ada yang mendaftar. Hari ini, Nugroho menemaniku mengikuti tes di pondok Mahasiswa Darussalam. Sampai disana, Nugroho menemaniku sebentar selama mendaftar dan menunggu, bersama antrian lain karena memang hari ini pendaftaran langsung, dan pengumumannya biasanya besoknya setelah hari tes. Aku mengambil formulir dan mengisinya di meja yang telah disediakan. Aku duduk di kursi tunggu setelah Nugroho pamitan padaku, seperti biasa ada tugas. Dia memang orang sibuk.
Beberapa orang di ruang tunggu masih terlibat perbincangan seru, dengan sebaya mereka atau orang tua mereka. Mungkin mereka juga mengikuti tes masuk pondok. Aku melangkahkan kakiku di Masjid kecil, yang terletak di sebelah selatan pondok, berlawanan dengan lapangan bola yang berada di depan, di sebelah utara pondok. Aku ingin melaksanakan shalat Dhuha, belum pernah sekalipun dengan kesungguhan aku menunaikan shalat sunnah itu. Setidaknya seperti pesan Nugroho, shalat dhuha dapat memperlancar urusan, dibangunkan istana di surga atau dengan dua rekaatnya saja, dapat menyedekahi 360 persendian yang berada dalam organ tubuh manusia.
Masjidnya begitu bersih, walau tidak sebesar masjid Ukhuwah Islamiyah, namun pesona sejuknya tidak kalah dibanding disana. Tempat wudhunya pun begitu bersih, di masjid tidak ada orang, tanpa rikuh aku langsung melaksanakan shalat dhuha. Begitu tenang dan seolah menghanyutkan. Tanpa terasa airmataku menetes pelan, hangat. Aku merasakan Allah begitu dekat, sangat dekat hingga terasakan betapa indahnya hidup, yang kadang tidak kita sadari dengan banyak mengeluh dan menyia-nyiakanNya. Terasa bagaikan hidup ini hanyalah ujian yang ringan, semua penuh dengan kedamaian. Tak terasa wajahku telah basah, begitu banyak dosa yang selama ini terabaikan, seolah hanya sebagai perbuatan yang biasa.
Padahal setiap perbuatan sebesar dzarrah pun, akan dimintai pertanggungjawaban, begitu banyak kedzoliman yang terlupa untuk memohon ampunan. Kadang jika ditanya siapa yang ingin ke surga, jawabanku pasti, ”Saya!” tapi kenapa aku begitu lambat untuk lari menjauhi neraka, malah melangkah banyak melakukan kemaksiatan? Mulai kini, aku akan memperbaiki diri ya Allah, maka izinkanlah aku dengan kuasaMu. Masukkanlah aku ke pondok Darussalam, dengan izinmu ya Allah, aku berjalan menuju kepada jalan yang Engkau kehendaki.
Ya Allah..., aku hina maka tinggikanlah derajatku dengan ilmu dariMu..., izinkanlah aku menghirup udara ketaqwaan, sebelum utusanMu menjemputku dan membawaku kepadaMu. Izinkahlah...
”Assalamu’alaikum,”
”Wa’alaikumsalam,” aku segera membersihkan airmataku dengan tangan kanan dan kiriku. Malu seandainya terlihat menangis. Kutatap si penyapa, seorang lelaki berumur setengah baya, mungkin lebih. Wajahnya tenang dan tersenyum, jenggotnya memanjang, bajunya longgar sampai  bawah dan memakai kopiah rajut putih. Aku gelagapan, dan membersihkan sisa-sisa airmata yang masih tersisa di wajahku.
Aku menghadapnya sambil bersila setelah kurasa wajahku telah bersih, aku benar-benar tak menyadari jika selama shalat dan muhasabah tadi, ada seseorang di belakangku. Kini dia sedang duduk bersila pula, mungkin dia takmir masjid ini. Aku masih terdiam, menunggu apa yang ingin disampaikannya. Kurasa itu lebih baik daripada aku memulai duluan, sedangkan aku bingung apa yang ingin aku katakan.
”Kamu ada masalah anakku?” aku sempat kaget sejenak, tuturnya begitu lembut. Membuatku rindu akan Bapak di rumah. Dia memegang kedua pundakku dengan kedua tangannya, mungkin dia menunggu jawabanku.
”Aku...,” tiba-tiba ada perasaan membuncah yang ingin aku ceritakan, ”Aku telah dibohongi oleh persahabatan. Aku telah datang ke kota persahabatan..., karena aku telah berjanji padanya, aku akan datang untuk keabadian persahabatan. Bahkan aku telah mengorbankan segalanya dalam hidupku, harga diriku, keluargaku hanya untuk menepati janji persahabatan itu. Tapi kini, sahabat itu mengkhianatiku. Aku merasa hidupku tiada guna selama ini, karena dalam pikiranku hanya terpenuhi sesak oleh kata persahabatan.
Aku..., dari orang miskin datang ke kotanya. Kukorbankan semua waktu dan pikiranku untuk memenuhi janji itu. Dan setelah aku menepatinya, dia bahkan tidak mengenalku lagi, dia tidak mau mengenalku! Hidupku bagai hancur, aku kesini ingin merubah diriku..., ingin belajar menjadi diriku yang sesungguhnya, bukan menjadi bayang-bayang sahabat yang telah membuatku terlunta-lunta,” aku mengusap airmataku kembali, kutatap wajah tua di depanku. Tatapannya begitu teduh, seolah berenang di danau yang airnya begitu jernih nan biru.
”Anakku, Persahabatan itu adalah indah. Rasulullah saw bersabda bahwa seribu sahabat  itu sedikit tapi satu orang musuh itu banyak, tentu kamu juga paham itu. Ingatlah, berikanlah yang terbaik untuk persahabatan itu. Janganlah pernah kamu menyakitinya walau dia menyakitimu, jika terlewati maka mintalah maafnya. Persahabatan menjadikan hati peka, dan tahu saat musim pasang surut dan musim berlabuhnya persahabatan, pertemuannya bukan hanya mengisi waktu senggang, melainkan menghidupkan sang waktu yang terus berjalan.
Sahabat itu mengisi kekosongan, mengganti keresahan menjadi ceria kegirangan. Membagi duka dan kesenangan, bagai dua pengemis yang membelah rotinya  untuk dimakan bersama, atau bagai dua gambar pada mata uang logam yang tak terpisahkan, begitu nikmat walau di bawah terik matahari yang membakar, walau di tengah hujan deras yang mengguyur.
Lahan yang kering kerontang membutuhkan hujan, apalagi kerongkongan manusia yang kehausan, bumi membutuhkan matahari untuk meneranginya. Hati manusia yang pilu membutuhkan rintik lembut embun untuk menenangkannya, itulah persahabatan yang lahir dari jiwa, yang menjadikan kesegaran pada kehidupan.”
”Lalu kenapa..., kenapa sahabatku mengkhianatiku?” Nadaku kurasa melemah.
”Persahabatan yang sejati adalah seperti yang Rasulullah saw dan para sahabat, yang mereka bagaikan satu tubuh, jika satu mengalami kesakitan maka semuanya merasakan sakitnya. Persahabatan itu pada hakikatnya bermuara pada Allah, jika muaranya pada Allah tentu saja persahabatan itu akan terjaga, cobalah susupkan ke hatimu, carilah rahasia sebenarnya di balik peristiwa yang terjadi, karena hati tidak akan berbohong kepada siapapun. Apakah itu persahabatan atau hanya rekaan yang bukan untuk Allah.
Jika persahabatan itu untuk Allah, dia akan kekal. Persahabatan itu memperkaya jiwa dan menuntun pada kesejatian cinta. Dan kita akan memilih keduanya, yaitu cinta dan persahabatan karena keduanya bagaikan dua sisi mata uang yang saling melengkapi, namun jika engkau diharuskan memilih diantara keduanya, maka pilihlah cinta karena dengan cinta, engkau akan menemukan persahabatan-persahabatan di dalamnya.”
Aku masih menatap lelaki tua itu, dia tersenyum pelan.
”Pergilah untuk tes, semoga engkau diterima. Allah mencintai orang-orang yang berusaha sekuat tenaga mengejar ilmu dan hidayah,” senyumnya begitu tulus, mengantar langkahku yang kini kurasa mantap. Kusempatkan mencium punggung tangannya. Aku menemukan sosok Bapak dari setiap kata-katanya yang mengalir, dari kata itulah cerminan akhlaknya.


[1] QS. Ar-Ra’d : 28
[2] HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Ahmad, Ad-Darimi, Al-Baghawi dan lain-lain. shahih
[3] Mengenal
[4] Bidznillah = Dengan izin Allah
[5] Dalam tajwid, bunyinya panjang dua harakat/ketukan
[6] Lafadz / bunyi huruf hijaiyah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar