Jumat, 18 Oktober 2019

Part 16, Tes Pesantren

Aku agak tenang kini. Aku duduk di pinggir kursi yang memanjang di depan pintu tes masuk, untuk mengikuti tes masuk pesantren Darussalam. Di atas daun pintu tempat tes terdapat tulisan ”Tempat Tes,” di pintunya ada tempelan kertas, ”Harap tertib berdasarkan urutan pendaftar, waktu tes 10 menit,” kutengok nomor tesku, nomor 25. Aku harus sedikit bersabar.
Kusempatkan mengambil mushaf dan membacanya lirih, kuteruskan membaca buku yang dipinjamkan Kak Nugroho kemarin. Buku Semulia Akhlak Nabi karya ulama dari Mesir, Amru Khalid. Bahasannya begitu indah, sambil sesekali kulihat setiap orang yang keluar dari ruang tes, selalu kembali dan memanggil nomor berikutnya sambil berbincang dengan para peserta tes yang lain yang telah lebih duluan menyelesaikan tesnya, kuperhatikan percakapan mereka tampak menegangkan.
Aku kembali menekuri buku,
”Akhlak. Saat berbicara tentang kemuliaan, tanyailah diri anda: mana shalat tahajjudmu? Mana puasamu saat siang yang terik menyengat? Mana sumbangan terhadap anak yatim? Namun Nabi bersabda, ”Sesungguhnya sesuatu yang paling berat timbangannya adalah budi pekerti yang agung.
Apa tujuan kita mempelajari akhlak?
”Karena akhlaklah Nabi saw diutus”
”Saya lihat anda begitu terperanjat!”
Innamaa bu’its tuli utammima makaarimal akhlaq, sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.[1] Jadi, apa hubungannya antara akhlak dan pengutusan Nabi saw?
Sekarang saya bertanya kepada anda, ”Mengapa Nabi saw diutus?”
Allah ’Azza wa Jalla berfirman, Wamaa Arsalnaa Ka Illaa Rahmatal Lil ’Aalamiin: Dan kami tidak mengutusmu kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta[2] renungkanlah..., sungguh, demi Allah, ada pertautan yang kuat antara hadits dan ayat di atas. Coba kita lihat shalat. Shalat dapat memperbaiki akhlak anda
Allah SWT berfirman : ”Dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar.[3] Subhanallah, jika shalat seseorang itu belum mampu mencegah dari perbuatan keji dan munkar, maka shalatnya baru sebatas olah raga. Ia telah shalat, namun shalatnya belum memperbaiki akhlaknya.
Dalam hadits qudsi Allah ’Azza Wa Jalla berfirman: ”Sesungguhnya Aku menerima shalat dari seseorang yang mengerjakannya dengan khusyuk karena kebesaranKu, dan ia tidak mengharapkan anugerah dari shalatnya karena sebagai hambaKu (makhlukKu), dan ia tidak menghabiskan waktu malamnya karena bermaksiat kepadaKu, menghabiskan waktu siangnya untuk berdzikir kepadaKu, mengasihi orang miskin, ibnu sabil[4], mengasihi anda, dan menyantuni orang yang sedang terkena musibah.”[5] dapatlah anda menyaksikan adanya hubungan antara ibadah (shalat) dan akhlak? Ingatlah, jika shalat anda belum memberikan nilai-nilai kasih sayang terhadap sesama manusia, maka anda belumlah memetik buah shalat anda secara sempurna.
Demikian pula dengan sedekah, Allah ’Azza Wa Jalla berfirman: ”Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.[6] Subhanallah, ternyata tujuan zakat adalah membersihkan diri dalam rangka proses perbaikan akhlak! Tahukan anda, bagaimana bisa tujuan zakat bertumpu pada moral?
Demikian pula dengan puasa. Nabi saw bersabda, ”Jika salah seorang di antara kamu melaksanakan puasa, maka janganlah berkata kotor dan menipu. Jika seseorang mencelamu atau hendak membunuhmu, maka katakanlah, ”Sesungguhnya saya sedang berpuasa”.[7] Subhanallah, tiada kata kecuali mengagungkan nama Rabb Semesta Alam. Di saat sedang menjalankan puasa, hari-hari anda dipenuhi dengan nilai moral, sampai-sampai anda tidak dibenarkan berbuat fasik, mencaci, bersikap pandir (pelit), dan sebagainya.
Jika anda masih ragu, maka ritual ibadah haji dapat menghilangkan keraguan tersebut. Karena puncak tertinggi akhlak adalah haji Allah ’Azza Wa Jalla berfirman: ”(Musim) Haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh Rafats[8], berbuat fasik, dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa, dan bertakwalah kepadaKu, hai orang-orang yang berakal. [9] ingatlah ketika akan bermukim selama 20 hari dalam rangka mengerjakan haji dan memperbaiki akhlak karena disana, dilarang berbicara kasar, mencaci, mencela, dan mendzalimi seseorang.
”Tujuan kedua mempelajari akhlak adalah menghindari dikotomi[10] antara akhlak dan ibadah dalam praktiknya. Kita harus dapat menghindari pemisahan antara agama dan dunia (sekulerisme, ed). Sebab banyak dijumpai orang berada di dalam masjid bertujuan memperbaiki akhlak, sedangkan ketika di luar bertolak belakang. Tentu ada motto yang berkembang, ”Agama hanya ada dalam masjid. Adapun mengenai kehidupan, saya akan bekerja sebagaimana saya kehendaki.” Ini merupakan kesalahan yang fatal!
Pemisahan antara ibadah dan akhlak ini akan melahirkan dua tipe manusia, yang pertama hamba yang rajin beribadah namun buruk akhlaknya, yang kedua hamba yang baik akhlaknya tapi buruk ibadahnya. Dua tipe ini amat tidak terpuji. Keduanya bukan dari Islam. Saya takut anda termasuk golongan ini! Rasulullah saw bersabda, ”Demi Allah ia tidak beriman, demi Allah ia tidak beriman, demi Allah ia tidak beriman, Para sahabat bertanya: Siapakah mereka wahai Rasulullah? Rasulullah menjawab: Orang yang tidak dapat menyimpan rahasia kejelekan tetangganya.[11] renungkanlah orang yang suka mengebutkan cuciannya yang masih basah sehingga percikan air cuciannya mengenai cucian tetangganya yang tinggal di bawahnya.
Renungkanlah orang yang memarkirkan kendaraannya di depan garasi tetangganya, renungkanlah ketika seseorang membuang sampahnya ke lahan milik tetangganya, renungkanlah ketika kita memencet klakson kendaraan yang dapat mengganggu tetangga kita, hendaknya kita memperhatikan hadits ini.
Sebaliknya sesuatu itu akan jelas, Rasulullah bersabda, ”Banyak orang berbondong-bondong mendatangi Rasulullah saw, mereka bertanya: ’Wahai Rasulullah Fulanah menjadi buah bibir karena rajin shalatnya, puasanya dan zakatnya padahal ia menyakiti para tetangganya. ’Rasulullah menjawab, ’Tempatnya di neraka,’ kemudian disebutkan pada Nabi wanita lainnya yang juga menjadi buah bibir karena sedikit shalatnya, puasanya dan zakatnya sedangkan ia tidak pernah menyakiti para tetangganya. Maka jawab Nabi saw, ’Tempatnya di surga’.[12]
Kita tegaskan, bahwa tidak ada pemisahan antara akhlak dan ibadah! Perhatikanlah, hal ini dapat mengurangi iman anda! Rasulullah saw juga bersabda, ”Iman itu sebanyak 73 tingkatan, tingakatan tertinggi mengucapkan, ’Laa Ilaahaillallaah,’ sedangkan tingkatan terendah adalah menyingkirkan rintangan dari jalan.[13] menyingkirkan rintangan di jalan merupakan bagian dari iman. Apa pendapat anda tentang orang yang membuang sisa makanan di jalan, apakah anda sempat berpikir bahwa hal itu termasuk menghilangkan sebagian dari iman?
Apa pendapat anda tentang seseorang yang membangunkan anaknya di pagi buta seraya mengatakan, ’Buanglah kantong sampah itu ke jalan, dan jangan sampai seorang pun melihatnya!” apa pendapat anda tentang orang yang meninggalkan mobilnya karena macet yang dapat mengganggu kelancaran lalu lintas maupun penyeberang jalan, sementara ia tidak berupaya memperbaiki kendaraannya? Apakah anda tidak berpikir bahwa hal itu dapat menghilangkan sebagian dari imannya?!
Ada satu contoh yang sarat dengan kandungan moral. Suatu saat, ada pemuda bernama Yasir sedang mengendarai mobil di jalanan sepi. Tiba-tiba di tengah jalan menjumpai spion tergeletak di jalan tersebut, kemudian ia menghentikan mobilnya dan turun, setelah itu ia meletakkan spion tersebut di pinggir jalan. Selamat buat Yasir...! sesungguhnya perbuatan tersebut adalah tanda-tanda keimanan.
Subhanallah! aku menutup kembali buku karangan Amru Khalid itu. Kini giliran nomor peserta 23, sebentar lagi giliranku. Tanpa sengaja telingaku menangkap percakapan peserta nomor 22 yang baru saja keluar.
”Sepertinya, aku tidak diterima,” wajahnya begitu sayu tak percaya diri.
”Memangnya kenapa?” tanya temannya yang memakai baju batik.
Insyaallah waktu tahsin aku lulus tapi ketika tahfidz[14] banyak yang terlupa, hingga dua orang pengawasnya menggeleng-gelengkan kepalanya,” lelaki itu tertunduk lesu di kursi memanjang dan duduk di sebelah temannya.
”Bersabarlah, jika memang tidak lulus. Allah akan memberikan kepada kita tempat yang baik pula. Kita harus yakin itu, yang terpenting kita telah berusaha sekuat tenaga.”
Aku tertegun sejenak, begitukah yang disebut persahabatan? Alangkah indahnya, benar juga kata lelaki tua di masjid tadi. Hatiku mencoba menguak kembali pelajaran berharga yang baru saja kudapatkan. Eh..., siapa nama lelaki tua yang kutemui di Masjid tadi. Kenapa aku tadi tidak menanyakannya. Alangkah ruginya aku, bagaimana menemukannya kembali? Padahal pelajarannya sungguh bermakna.
”Silakan Mas, anda ditunggu,” senyum pemuda itu merekah, kelihatannya dia nomor urut yang ke-24. aku tersenyum membalasnya, ”Iya, terima kasih. Doakan aku masuk, semoga kita dapat belajar bersama disini.”
Pemuda  berbaju koko itu menyalamiku sambil memperkenalkan dirinya, namanya Syahid. Aku mengenalkan diriku, Ali. Kami bertukar nomor Hp, lalu aku meninggalkannya dan memasuki ruang tes. Aku mengetuk daun pintunya yang masih terbuka sedikit, ”Assalamu’alaikum,” beberapa suara terdengar samar menjawab salam. Lalu terdengar suara selanjutnya, ”Silakan masuk,” aku memasuki  ruang itu. Tiga orang duduk, di belakang sebuah meja kayu panjang. Ruang yang bersih, tanpa ada gambar, sehingga terlihat longgar dan luas. Mereka memintaku menutup pintu dan mempersilakan aku duduk di kursi, tepat ada satu kursi di depan meja. Mungkin berjarak satu meteran dengan meja. Tapi...
Serius! Aku kaget bahkan seolah jantungku hendak meloncat keluar. Kaki yang hendak menyentak buru-buru kukendalikan. Bagaimana tidak, lelaki yang duduk di tengah, yang kini tersenyum tipis kearahku..., ternyata Bapak yang aku temui di Masjid ketika shalat Dhuha tadi. Subhanallah, alangkah sempitnya dunia ini. Baru saja aku memikirkannya, ternyata aku langsung bertemu kembali, bahkan dia termasuk salah satu team penilai penerimaan santri baru di pondok Darussalam. Aku jadi grogi setengah mati, apalagi dia tahu masalahku. Kini aku hanya bisa pasrah, menyerahkan segalanya pada Allah semata.
Mereka memintaku mengambil Al-Quran yang tergeletak di meja, lalu aku membacanya. Mereka bertiga menyimak tenang. Aku agak gemetar membacanya.
Alif laammiim, Dzaa likalkitaa bulaa roibafiih hudal lilmuttaqiin, Alladzii nayu’ minuu nabilghoibi wayuqii muu nasholaa ta wamimmaa rozaqnaa hum yunfiquun.[15] Baru beberapa ayat, aku berhenti sejenak. Kulihat dua orang yang duduk di pinggir kiri dan kanan Bapak itu, menggelengkan kepalanya beberapa kali. Bapak yang di tengah itu hanya tersenyum sambil menatapku. Aku kembali meneruskan bacaanku, bukankah beberapa hari ini aku telah belajar dengan Nugroho. Mudah-mudahan semuanya lancar karena kupikir bacaanku sudah lumayan baik. He...he...he..., gurauan hatiku sedikit menghibur.
Ketika membaca, ”Wabasy syirilladzii na aa manuu wa’a milashoo lihhaati anna lahum jannaa tin tajrii min tahtihal anhaar...,[16]” mereka memintaku berhenti. Seorang lelaki setengah baya yang duduk di pinggir kiri dan memakai kopiah putih itu menatapku tenang, seolah hendak berkata-kata yang amat berat.
”Anakku, maafkan kami. Sekarang kamu boleh meninggalkan ruang tes.”
”Tunggu dulu! Aku ingin mengetes tahfidz-nya. Apakah kamu sudah siap anakku?” Lelaki yang kutemui di masjid itu menatapku teduh.
Insyaallah siap Pak,” jawabku mantap, tanpa grogi sedikitpun.
Lelaki itu menggerak-gerakkan pena-nya, sejenak. Lalu berhenti, matanya menatapku kembali, ”Juz berapa yang kamu hafal?”
Juz satu.”
”Perhatikan baik-baik. Aku akan mengetesmu,” suasana hening. Ada sedikit kerut di dahinya, mulutnya mulai bergerak kembali, ”Walaa talbisul hhaqqo bil baa tili wataktumul hhaqqo wa antum ta’lamuun,[17]” matanya berbinar menatapku, seolah menunggu sesuatu dariku. Suaranya sungguh lembut, tapi..., kenapa dia hanya membaca sedikit? Kenapa mereka bertiga menatapku? Heran atau bingung. Aku sendiri hanya menelan ludah.
”Aku..., aku harus melakukan apa? Kenapa kalian semua menatapku aneh?”
”Baiklah, mungkin kamu belum hafal. Akan aku bacakan ayat yang lainnya,” lelaki bermata teduh itu seolah memikirkan sesuatu, ”Kaifa takfuruu nabillaahi wakuntum amwaatan fa ahhyaakum, tsumma yumii tukum tsumma yuhhyiikum tsumma ilayhi turja’uun,[18]” sekarang teruskanlah ayat sesudahnya.”
Suasana hening. Aku tidak berkata apa-apa, aku tidak bisa meneruskan ayat itu, entah ayat keberapakah yang dibacanya dari juz satu. Akhirnya setelah lima menit menunggu, dua orang yang berada di samping kanan dan kiri lelaki itu, memberikan ultimatumnya. Mereka langsung menilaiku saat itu juga, padahal aku tahu pengumuman tes ini akan diumukan  besok. Pertama mereka menyemangatiku, mereka memintaku banyak belajar lagi, karena selain makhrojul huruf yang belepotan juga tajwidnya banyak yang belum pas, terutama bagian mad thobii’ii[19], idhar, ikhfa’, idghom, dan iqlab. Aku sendiri memang beberapa kali dalam seminggu ini diajari Nugroho, hanya saja aku belum paham benar. Mereka memintaku untuk mendaftar tahun depan, jika aku masih bersedia.
Seolah cobaan yang biasa kudapatkan, walau biasa, namun perasaanku agak terpukul juga. Mereka berdua memintaku keluar dan meminta tolong untuk memanggil peserta selanjutnya. Saat kakinya mulai melangkah selangkah itulah, datang keajaiban Allah untukku melalui lelaki itu.
”Tunggu sebentar Anakku,” aku menghentikan langkahku dan kembali menengok. Kubuat gaya biasa, walau sebenarnya kekecewaanku membuncah, ”Bukankah tadi engkau bilang sudah hafal Juz satu, tapi kenapa dari ayat yang kubaca seolah tidak ada respon sama sekali darimu. Seandainya engkau sudah hafal, bukankah engkau bisa meneruskannya walaupun banyak kesalahan? Bolehkah aku mengetahuinya anakku? Dari raut wajahmu, seolah engkau merasa selalu pasrah pada keadaan.”
Tepat, seolah dia tahu isi hatiku. Aku menatapnya kembali, ”Sebenarnya, seminggu yang lalu aku membeli kaset murottal Al Mathrud, karena aku ingin sekali masuk pondok ini untuk memperbaiki diri, maka aku menyetelnya setiap saat. Setiap aku belajar, setiap aku makan di kamar, setiap aku tiduran, setiap menyetrika. Semua yang kulakukan seolah tak lepas dari mendengarkannya, karena salah satu persyaratan masuk ke pondok ini adalah hafal satu juz. Dan aku menghafalkannya dari kaset, aku tidak bisa meneruskan bacaan yang dibaca terpisah-pisah. Jika diperbolehkan membaca dari awal hingga akhir, aku pasti bisa membacanya. Andai saja..., tapi seolah hanya memimpikan sesuatu yang tidak mungkin saja,” aku menatap mereka sejenak, ”Terima kasih atas kesediaannya mendengarkan penjelasanku. Assalamu’alaikum,” aku membalikkan tubuhku.
”Tunggu dulu!” aku menghentikan langkahku kembali, ”Maukah engkau membacakan hafalanmu yang kau dengar dari kaset itu. Kebetulan aku menyukai bacaan syekh Mathrud, yang merupakan imam masjid riyadh itu. Bacakanlah untukku, aku ingin melihat kejujuranmu, karena engkau di awal bilang bahwa kau telah hafal juz satu. Bacakanlah, siapa tahu kami berubah pikiran,” kulihat ada keterkejutan dari kedua wajah di samping-sampingnya.
Aku tersenyum menatapnya, belum pernah ada orang yang memperhatikanku sedemikian rupa. Aku dengan senang hati ingin membacakannya, apalagi untuknya. Aku duduk kembali, walau terasa canggung aku membacanya. Kuatur suaraku sesuai dengan kaset yang seminggu ini kudengar, ”A’uu dzubillaa himinasy syaithonirrajiim, bismillahirrahmaanirrahiim, alhhamdulillaa hirabbil ’aalamiin. Arrahh maa nirrahiim. Maa likiyau middiin. Iyyaa kana’ buduwa iyyaa kanasta’iin. Ihdinaah shiraathol mustaqiim. Siraa tholladzii na an’amta ’alayhim ghoiril maghdhuu bi’alayhim walaadhoolliin[20].” ruangan seolah dipenuhi dengan kesejukan, hatiku bergetar, mataku terpejam. Ya Rabbi, dosaku menggunung, ijinkanlah aku bertobat dan memperbaiki dalam mimbar-mimbar cahayaMu. Seolah aku tiada lagi di pijakan bumi, aku seolah tiada bersama manusia-manusia. Seolah di kelilingi para malaikat bermata jernih lagi bersih. Mulutku mencium aroma yang terindah, seolah memancingku untuk tidak mau berhenti, airmataku tiada terasa berjejalan ingin keluar.
”Alif Laam Miim. Dzaa likal khitaa bulaa raybafih, hudallil muttaqiin. Alladzii nayu’minuu nabil ghoibi wayuqii muu nasholaa ta wamim maa razaqnaa hum yunfiquun. Walladzii nayu’minuu nabimaa unzila ilayka wamaa unzilamin qablikh, wabil  Aa khiratihum yuu qinuun. Ulaa ikha ’alaa hudam mirrabbihim waulaa ikha humul muflihhuun[21]...,”
(Alif Laam Miim. Kitab(Al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa. (yaitu) Mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan yang menafkahkan sebagian rezeki yang kami anugerahkan kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepada kitab (Al-Quran) yang telah diturukan kepadamu dan kitab-kitab yang te4lah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung)
sesudah membaca ayat, ”Wabasy syiril ladzii na aa manuu wa ’alimush shaa lihhaa ti annalahum jannaa tin tajrii mintahh tihal anhar. Kulamaa ruziquu minhaa min tsamaratir rizqan qaaluu haa dzal ladzii ruziqnaa min qablu wa u tuu bihii mutasyaa bihaa. Walahum fiihaa azwaa jum muthah haratuw wahum fii haa khooliduun[22], lelaki itu memintaku menghentikan bacaanku. Aku membuka mata, betapa kaget. Kulihat mereka bertiga meneteskan airmata. Aku tidak tahu karena sedari tadi aku terpejam. Seolah baru tersadar, kami mengusap airmata masing-masing. Aku mengambil sapu tangan dari celanaku, mereka bertiga mengusap airmatanya dengan tissue yang tersedia di meja. Betapa malu rasanya aku, menangis di depan mereka. Aku merasa bersalah karena membuat mereka meneteskan airmata, aku hanya diam menunggu suara dari mereka.
”Bacaanmu bagus anakku. Sangat mirip dengan Al-Mathrud, tetapi anehnya engkau ketika membaca Al-Qur’an tajwidmu masih sangat kurang, apalagi makhrojnya. Tetapi hafalanmu, sangat bagus, engkau diterima di pondok ini!”
Aku mengangkat kepalaku kaget. Bukan hanya aku, tapi kedua orang di sampingnya sama kagetnya dengan aku.  Bibirku bergetar, aku tak dapat berkata apa-apa lagi. Aku masih bingung. Kedua orang di sebelah kiri dan kanannya saling berpandangan.
”Tapi Pak, dia...,” di sebelah kiri, lelaki itu seolah mewakili temannya.
”Sudahlah, tidak apa-apa. Insyaallah dia nanti bisa dilatih,” lelaki itu tersenyum padaku.
”Tapi Pak, nanti terjadi ketidakadilan dalam tes ini,” lelaki yang di sebelah kanan angkat bicara.
”Tidak apa-apa, aku sudah memikirkannya. Insyaallah keadilan dan kejujuran akan tetap ditegakkan di Darussalam ini. Percayalah padaku,” lelaki itu sekali lagi tersenyum kearahku. Kali ini aku membalas senyumannya.
Aku keluar dengan tenang. Aku memanggil nomor tes ke-26, dia bertanya kenapa aku di dalam lama sekali. Kubilang padanya ada sedikit masalah, kulihat raut wajahnya semakin pias. Mungkin grogi. Hari itu aku pulang dalam keadaan masih bingung sekaligus bersyukur, entah apa yang terjadi esok saat pengumuman. Kucoba menyerahkan semua persoalan kepada Allah, aku bertawakkal kepadaNya.
*     *    *
Pengumuman di tempel di depan pondok Darussalam, di dekat lapangan sepak bola footsal. Kurasa aku datang terlambat, karena kulihat mereka telah berlalu meninggalkan tempat pengumuman itu. Kulihat banyak wajah yang ceria berseri, mungkin mereka diterima. Dan..., seolah tidak ada wajah kecewa atau murung. Kulihat semuanya ceria. Aku semakin tak sabar untuk mempercepat langkahku mendekati papan pengumuman itu. Akhirnya sampai juga, dan...
Aneh! Mana daftar calon santri yang diterima? Hanya ada tulisan, atau lebihnya sebuah kalimat, ”31 Pendaftar, kesemuanya diterima.”


[1] HR Malik, Ahmad, Al-Baihaqi
[2] QS Al-Anbiyaa’ : 107)
[3] QS Al – ’Ankabuut : 45)
[4] Orang yang kehabisan bekal dalam perjalanan dan perjalanannya bukan untuk bermaksiat kepada Allah swt
[5] HR Ahmad Az-Zubaidi,
[6] QS At Taubah : 103
[7] HR Muslim
[8] Mengeluarkan perkataan yang menimbulkan birahi yang tidak senonoh atau bersetubuh.
[9] QS Al-Baqarah 197
[10] Pemisahan
[11] HR Muslim dan Ahmad
[12] HR Ahmad, Al-Hakim, Al-Haitsami
[13] HR Bukhari, Muslim dan Ahmad
[14] Hafalan Quran
[15] QS. Al Baqarah 1-3. Alif lam mim, kitab (Quran) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertaqwa. Mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan yang menafkahkan sebagian rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka.
[16] QS Al Baqarah = Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik bahwa mereka disediakan surga-surga yang mengalir sunggai-sungai di bawahnya.
[17] QS Al Baqarah 42, Dan janganlah kamu campuradukkankebenaran dengan kebatilan dab (janganlah) kamu sembunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahuinya.
[18] QS Al Baqarah 28, Bagaimana kamu ingkar kepada Allah, padahal kamu (tadinya) mati, lalu Dia menghidupkan kamu, kemudian Dia mematikan kamu lalu Dia menghidupkan kamu kembali. Kemudian kepada-Nyalah kamu dikembalikan.
[19]  Membacanya dipanjangkan dua harakat, terjadinya fathah bertemu alif mati, kasrah bertemu ya mati, dhammah bertemu wau mati.
[20] Al-Faatihhah
[21] Al-Baqarah 1-5
[22] Al-Baqarah 25. Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya. Setiap mereka diberi rizki buah-buahan dan surga-surga itu, mereka mengatakan, “Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu.” mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada istri-istri yang suci dan mereka kekal di dalamnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar