Jumat, 18 Oktober 2019

Part 17, Penyesuaian

Hatiku berdendang
Penuh rindu
Allah, aku rindu bersamaMu...
Malam menyapa, bulan tampak indah bersinar. Ini hari pertama para santri menginap di pondok Darussalam. Siang yang melelahkan, aku jadi teringat ketika di desa. Tidak ada yang kami kerjakan sendiri jika bersama Bapak dan Ibu. Rindu itu menusuk-nusuk dalam kalbu.
Jumlah santri yang baru berjumlah 31, semua pendaftar diterima. Walau tempatnya masih kurang, namun terdengar kabar kalau pesantren akan dibangun lagi, padahal ditahun-tahun sebelumnya, paling banter Darussalam hanya menerima santri antara sepuluh hingga lima belas orang saja. Siang tadi aku teringat teman-teman yang aku tinggalkan di Asrama Mahasiswa, mereka juga membantuku mengemasi barang-barangku serta membantuku pindahan. Mereka memang sahabat-sahabat yang baik. Syarif yang pintar, Hamid dan Hanif yang lucu, Farhan yang mempunyai aktivitas berjubel, Anto sigondrong teknik dan tentu saja kak Nugroho, mereka semua mengucapkan Barakallah padaku karena aku diterima di pondok. Mereka semua mendoakanku, agar aku dapat menimba ilmu dengan baik, dan semoga Allah meridhai setiap perjalananku. Aku jadi teringat sesuatu, ya, tadi siang ada sms masuk tapi belum sempat aku buka.
Aku membuka Hp, dua sms dari..., Wanda dan nomor baru. Kubuka punya Wanda dahulu.
Asw. Mantan preman sekarang sudah insyaf J, semoga Allah memudahkan jalanmu untuk memperbaiki diri, barakallah ya Akh,
Dasar Wanda, masih suka bercanda. Kuketik beberapa huruf.
Wass. Masih mending mantan preman daripada mantan Ustadz. Tapi, terima kasih atas doanya.
Aku membuka sms yang satu lagi.
Aslkm. Pertm kali kuucapkn trim’s kpd anda. Adik saya banyk berubah, dia smkin percy diri dan kesepianny berkurang. Sebnrnya sy ingin brtemu anda, ya mungkn suatu saat. Kudengar dari adikku, anda jg kulh di UI. Trims banyak. Aisyah kakak Fadli.
Dari kakaknya Fadli ternyata. Fadli anak yang penurut walau dia agak pendiam, kurasa dia mempunyai masalah yang teramat mencekam sejak kecil. Selama ini dia belum menceritakan apapun kecuali cerita tentang kakaknya, Aisyah. Banyak hal yang kuketahui tentang kakaknya itu, walau aku belum bertemu dengannya. Aisyah, wanita yang membiayai kuliah serta sekolah adiknya sendiri. Wanita tegas yang sekaligus penuh kasih sayang. Tak pernah terlihat menangis, jika Fadli menangis maka Aisyah akan memarahinya, walau sesudah itu dia akan membuat adiknya tersenyum kembali, misalkan dengan membelikan sesuatu yang disukainya. Aku tahu mereka membayarku tidak tinggi, bahkan mungkin separuh dari satunya, tapi jika tidak dibayarpun aku akan tetap mengajari Fadli, karena aku pernah merasakan kepahitan mereka. Wanita itu, yang kata Fadli cantik bagaikan bidadari. Jika mengingat bidadari dunia..., aku pasti teringat ibuku. Dialah bidadari dunia bagiku.
Aku menghentikan lamunanku, kutatap bulan. Kuketik beberapa kata untuk membalas sms dari Aisyah. Dan aku menyimpan nomornya, Wass. Aku hanya menjlnkan tugsku. Aku akn berush agar adikmu sellu tersenyum menatap masa depannya. Jangan lupa berdoa untuknya.
Saat mataku telah lelah, Syahid teman sekamar denganku mengajakku tidur. Kini sekamar kami harus bersabar sementara, sebelum gedung yang akan dibangun jadi. Kami sekamar lima orang, padahal ditahun sebelumnya mereka biasa sekamar dua orang saja. Saat hendak memejamkan mata Hp-ku menjerit pelan, karena volumenya hanya satu.
Insyaallah, terima kasih. Mungkn hanya Allah yang bisa membalasnya. Met tidur.dari Aisyah.
Aku menghidupkan alarm Hp, karena pengumuman tadi sore. Besok pagi pukul 03.15 menit, semua santri diharapkan untuk shalat tahajud berjama’ah yang Insyaallah akan diimami oleh Ustadz Wahid. Kututup mataku perlahan, untaian doa Kulantunkan dan aku tak tahu, kapan aku terbang ke dunia maya yaitu mimpi.
*     *     *
Hari-hari di pondok pada awalnya masih terlihat santai, namun setelah seminggu peraturan mulai berlaku. Jadwal belajar di pondok yaitu dua kali sehari, dari hari senin hingga jum’at, sedangkan sabtu dan minggu libur. Belajarnya pada waktu ba’da subuh, dan ba’da shalat isya’. Materinya pun beragam, dari seminggu dua kali belajar bahasa arab menggunakan buku Al ’Arobiyah linaa syi iin yang terdiri dari enam jilid kemudian ta’mir[1], satu kali perpekan, kemudian setiap pagi ba’da subuh tahsin dua kali yaitu pembenaran bacaan Al-Quran. Kitab yang dipelajari di tingkat awal adalah Riyadhus Shalihin dan tafsir Ibnu Katsir. Jadwal yang padat, tapi tetap boleh ijin asalkan syar’i misalnya urusan urgent[2] urusan kuliah maupun keluarga, dan sebagainya. Aku harus menyiapkan diri untuk menjadi manusia yang baru, karena semakin banyak kegiatan positif, maka pikiran-pikiran negatif akan tersingkirkan dengan sendirinya.
Di Pesantren, Ustadz Wahid mengajar untuk tingkat satu, yaitu tafsir Ibnu Katsir. Dia mengajar malam ba’da shalat isya’. Ustadz yang selalu tersenyum, namun dari sorot matanya tampak tegas sehingga santri yang berjumlah 31 orang tidak berani ribut, karena seolah mata Sang Ustadz selalu memandang kami satu persatu. Jadwal yang kubuat ba’da pulang dari Pasar Minggu, adalah membuka-buka catatan kuliah atau beristirahat walau sejenak, untuk menyiapkan belajar malamnya. aku masih menyembunyikan pekerjaanku itu. Belum ada yang tahu karena ketika pulang aku masih mengenakan pakaian kuliah, mereka mengira jadwalku hingga sore.
Di malam haripun demikian, ketika bertabrakan dengan jadwal mengisi privat, aku meminta kepada Syahid untuk menuliskan absenku, dan ternyata dua pelajarannya adalah bertepatan dengan materi Ustadz Wahid saat materi tafsir. Walau aku tidak masuk, ketika pulang privat aku selalu mencatat catatan milik Syahid, jadi kuusahakan tidak pernah ketinggalan. Apa boleh buat, jika tidak mengisi privat, darimana aku memperoleh biaya kuliah dan biaya pondok. Jika ketahuan pun pasti mereka akan memakluminya. Semoga saja.
Dan biaya pesantren ternyata tidak semahal yang kupikirkan, bahkan seimbang dengan biaya kost di Asrama Mahasiswa, padahal di Asrama hanya kamar saja dan belum termasuk makan dan listrik jika ada tambahan alat elektronik, sedangkan di pesantren sudah lengkap dengan fasilitas listrik, makan dan juga belajarnya. Subhanallah, Allah memang mempermudah segalanya. Yang membuatku lebih betah lagi, ternyata kondisi mendukung sekali, teman-teman yang baik lagi saling menasehati. Kala ada materi sebulan sekali ketika tahsin, yaitu evaluasi diri atau muhasabah.
Hari sabtu. Liburan di Pesantren beberapa santri pulang ke rumah, karena selain itu kuliah mereka juga libur. Mungkin separuh yang masih menetap. Aku sendiri masih ada mata kuliah di hari sabtu. Bismillahirrahmaanirrahiim, kulangkahkan kakiku mantap setelah sebelumnya memasukkan Al-Quran di ranjang tas sebelah kanan, dan air minum kuselipkan di ranjang tas sebelah kiri. Aku memakai peci bulat, mengambil topi pemberian Bapak, lalu menutupkannya di atas peci. Jarak pesantren sampai Fakultas Ekonomi tidak terlalu jauh, hanya berjalan keluar pesantren, lalu menyeberang jalan besar dan tiba di halte pertama UI dari Asrama Mahasiswa. Setelah itu baru naik bikun, dan melewati beberapa Fakultas dan akhirnya turun juga di Fakultas Ekonomi.
Fakultas Ekonomi yang sepi dari nilai-nilai religius, karena ekonomi yang dipelajari adalah ekonomi konvensional yang mencari keuntungan. Walau begitu, ekonomi global dan internasional merupakan mata kuliah yang sering disampaikan, sehingga aku tahu bagaimana negara memberlakukan penerapan pajak dan subsidi, atau bagaimana jaminan dalam mencetak uang dan sebagainya. Semua hal harus kupelajari, untuk melihat nilai manfaat dan mana yang tidak sesuai dengan Islam.
Di kelas, kucoba menatap teman-temanku yang ternyata selama setahun lebih ini, aku belum mengenal mereka, bahkan aku jarang berinteraksi dengan mereka, karena sepulang kuliah aku langsung ke masjid Ukhuwah Islamiyah dan ke Pasar Minggu, untuk menyambung hidupku di kota Depok yang nyaman ini. Yah! Seberapa pun peluang untuk dapat mengenal mereka, mereka juga suatu saat dan sekarang adalah asset yang belum terlihat. Tidak sempurna keimanan salah seorang diantara kalian hingga dia mencintai untuk saudaranya apa yang dicintai untuk dirinya sendiri[3].
Ada sekitar 45 mahasiswa dalam kelasku, jurusan manajemen pemasaran. Namun ketika seringnya pembicaraan di kalangan teman-teman, mereka sering membanding-bandingkan mana mahasiswi yang paling cantik dan cocok buat rebutan. Yah! Dasar teman-teman. Ada yang belum paham, bagaimana Rasulullah saw mencontohkan bagaimana memilih pasangan hidup. Untung kak Nugroho sudah mengajarkannya walau hanya sepintas. Uups! Bukankah aku baru belajar agama kemarin sore, tapi aku beruntung dapat belajar agama di pondok Darussalam, sehingga paradigma pemikiranku tidak terlalu convensional, seperti ekonomi yang aku pelajari dan bukan paradigma liberal, seperti yang menyebar merusak agama Islam saat ini.
Aku mendekati Hanif yang masih menyalin catatan dariku, karena kemarin dia tidak berangkat.
”Nif! Boleh tanya gak?” aku sedikit menggodanya dengan menyenggol lengan kanannya yang masih menulis. Tulisannya tercoret sedikit.
Matanya langsung tajam menyoroti seluruh wajahku. Lalu tersenyum pelan sambil cemberut lagi, ”Mau tanya apa Ali dari kampung?” kebiasaan kami memang selalu bercanda. Walau aku sudah di pondok, namun aku tak bisa menghentikan bercandaku dengannya, karena begitu melihat wajahnya aku sudah pingin ketawa.
”Siapa yang katamu paling cantik satu jurusan kita?” aku melihat wajahnya berubah. Agak kaget, ”Aku hanya bermaksud ingin tahu saja, jangan heran. Selama ini yang aku kenal baik baru kamu sama Hamid, dan aku sendiri tidak mempunyai banyak teman,” aku kembali menatap keheranannya, ”Kenapa kamu memandang aneh begitu? Ya udah aku tidak jadi tanya.”
”Bukan! Bukan itu yang kumaksud Li,” matanya berkedip-kedip, ”Ada sesuatu yang rasanya aneh dengan pertanyaanmu.”
”Memangnya kenapa?”
”Ternyata..., kamu normal juga,” kepalanya menggeleng beberapa kali.
”Dasar Hanif! Aku kira ada yang tidak wajar,” aku memukul bahunya pelan, ”Sudahlah! Lupakan pertanyaan itu.”
Baru beberapa menit pembicaraan kami. Hanif tiba-tiba menepuk pundakku pelan dan membisikkan sesuatu. Sangat pelan, ”Itu dia baru masuk.”
”Siapa?” tanyaku penasaran.
”Siapa lagi kalau bukan wanita tercantik satu jurusan kita,” nadanya sedikit sewot.
Aku menatap sosok lembut yang baru memasuki kelas. Splash! Mataku seolah terpaku untuk beberapa detik. Seorang wanita berambut terurai lembut, masuk dengan menjinjing jas cangklong menjuntai di sebelah kiri dan tangan kanannya memegang dua buku tebal, buku Pengantar Manajemen dan satunya lagi aku belum pernah melihatnya. Bajunya nampak rapi, berupa kemeja lengan panjang. Wajahnya yang putih nampak halus bagai pualam yang jernih, tingginya ideal mungkin. Bola matanya lentik, namun tidak jelalatan dan terlihat sedikit layu. Mungkin kekurangan tidur.
Aku segera mengalihkan pandanganku. Memang wanita itu cantik, sangat bahkan. Pantas saja Hanif sering membicarakannya dulu waktu di Asrama. Aku pun mungkin hanya bermimpi, jika seandainya mendapatkan pendamping hidup yang wajahnya secantik wanita itu. Aku menghadap Hanif kini, namun kulihat mata Hanif tak lepas dari sorotannya kepada wanita itu. Aku kembali menyentaknya di pundak, dia tergagap. Aku tersenyum melihat wajah sewotnya.
Wanita itu berhenti di sebuah kursi, namun tidak duduk. Kepalanya seolah berpikir sejenak, lalu menaruh bukunya di meja kursi yang didesain kecil menempel di pegangan tangan kanan. Wanita itu melangkah menyamping kearah kami, dia melihat kami. Hanif salah tingkah. Aku mengalihkan pandanganku, aku teringat pesan Kak Nugroho. Pandangan Mata adalah anak panah Iblis! Ah! Mungkin wanita itu ingin berbincang dengan Hanif, dia kan tajir. Sedangkan aku? Mungkin mimpi kali!
”Assalamu’alaikum,” sapanya lembut sambil tetap berdiri.
”Wa’alaikumsalam Warohmatullah,” Hanif menyerobot keras, tingkahnya langsung sumringah, matanya pun berbinar. Aku hanya menjawab pelan.
”Apakah kamu yang namanya Ali?”
Aku sontak kaget. Aku yang dicarinya? Aku menoleh kearahnya dan muka putih itu tertangkap di mataku. Rambutnya kemilau ditimpa sinar remang dari balik jendela kelas. Benar-benar seolah bidadari, orang-orang di desaku pun tidak akan menyangka ternyata ada manusia yang cantik seperti ini.
”Iya, saya Ali. Ada yang bisa saya bantu?” kulihat Hanif masih sedikit keheranan.
”Kita menjadi satu kelompok dengan Rika. Kita bertiga satu kelompok untuk mencari laporan keuangan suatu perusahaan atau perbankkan, kemudian kita menghitung tingkat likuiditas perusahaan itu. Ini tugas dari mata kuliah Manajemen Keuangan. Kukira engkau belum tahu karena minggu kemarin kamu tidak masuk.”
Aku menganggukkan kepalaku, ”Iya, terima kasih. Aku memang belum tahu. Insyaallah kita bisa mengerjakannya bersama.”
”Baiklah. O ya, katanya kamu sakit kena darah tinggi ya? Maafkan aku tidak bisa ikut menjengukmu karena di rumah banyak tugas,” senyumnya sungguh tulus, lesungnya begitu tarasa teduh.
”Tidak apa-apa, doa kalian semua sudah cukup bagiku.”
”Ya sudah, aku mau ke kursiku lagi,” gadis itu berlalu meninggalkan kami. Setelah itu bisa dipastikan Hanif geger sendiri, dia bilang bagaimana mungkin wanita yang dulu selalu pendiam. Diajak pacaran tidak pernah mau, kenapa denganku begitu loyal, kukatakan pada Hanif bahwa mungkin untuk mencairkan keadaan sesama kelompok pembuatan tugas. Yah! Apa di dunia ini yang tidak bisa berubah.
Hari ini sepulang kuliah, naik Bikun aku turun di stasiunl UI lalu masuk ke Pasar. Saatnya mengganti bajuku, setidaknya dengan kaos dalam dan memasukkan kemejaku ke dalam tas. Saatnya bekerja. Tentu saja jika nanti aku akan terlambat untuk masuk pelajaran di Pondok, tapi..., apa boleh buat. Aku butuh uang untuk membayar kuliah dan pondok, tapi Alhamdulillah di pondok biayanya cukup ringan, mungkin biaya pondok plus makannya sesuai dengan sewa kamar di Asrama UI. Ini karena banyak donatur pondok yang menghandle dana nyantri, dan akhirnya setiap Santri mendapatkan subsidi.
”Ali!” aku menengok ke belakang. Pak Sapto, pedagang ATK[4] yang tokonya lumayan besar.
Aku mendekati lelaki yang telah dua kali naik haji itu, ”Enten nopo Pak?”
Lelaki asal Jawa Tengah itu tersenyum ramah. Tangannya sigap mengangkat kardus yang tertutup rapat, lalu menaruhnya di atas meja kayu. Kelihatannya agak berat, ”Ini tolong antarkan ke toko di seberang sana,” jari telunjuknya menunjuk arah seberang, ”Serahkan di  Mahabbah Cell, disana ada counter, wartel dan interned. Dan ini upahmu karena mereka sudah membayar plus ongkos antarnya. Letaknya bersebelahan dengan toko bangunan Bumi Waras di Pasar Bagian Dalam,” Pak Sapto menyerahkan uang Rp. 3.000 dan aku menerimanya.
Insyaallah saya tahu Pak,” aku mengangkat kardus itu, lumayan berat.
”Hati-hati Ali, isinya kertas untuk transkip pembayaran di mesin wartel jadi agak sedikit berat,” senyum lelaki itu tulus, walau dia punya beberapa karyawan namun dia sering membantu para karyawannya. Dia tidak malu mengangkat barang bersama karyawannya. Selain itu, dia menerapkan untuk menutup toko kala adzan menggema.
Aku tersenyum kepadanya, lalu berpamitan sambil memikul kardus itu, ”Matur suwon Pak. Assalamu’alaikum,” jawaban salamnya mengiringi langkah kakiku yang bernyanyi riang sambil hatiku bertahmid. Semua atas izin Allah ’Azza Wa Jalla.
Aku menyusuri Pasar Minggu, toko Bumi Waras mungkin berkisar sekitar 400 M. Letaknya di bagian dalam, membuatku harus berkelak-kelok memasuki gang pasar dan pasti semakin memberlambat jalanku, karena banyak orang yang lalu-lalang. Pasar memang identik dengan kemaksiatan, terutama mata. Astaghfirullah, berulang kali dzikir hatiku menggema, membuatku harus menundukkan pandangan atau mengalihkannya. Itulah setidaknya pelajaran pertama waktu Ustadz Wahid memberikan Tarbiyah perdana pada santri baru, ”Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjaga kita. Jagalah amanahnya, jagalah penglihatan dari pandangan khianatnya, jagalah telinga dari pendengaran keburukan dan kesiaan, jagalah lisanmu dan berkatalah yang bermanfaat atau diam. Insyaallah kita akan mendapatkan petunjuk dengan menjaga amanah-amanah Allah.” Aku harus bisa menyesuaikan diriku untuk mendapatkan petunjuk Allah. Aku harus berusaha!
Keluar gang pasar, perasaanku terasa lega. Tahmid kembali kulantunkan dari bibirku. Toko Bumi Waras sudah terlihat, hanya tinggal 10 Meter. Di sebelahnya terpampang papan bertuliskan Mahabbah Cell. Itu dia. Ruko yang lumayan besar, ada 3 Plong. Satu untuk counter dan yang dua plong untuk wartel dan interned. Terlihat agak sepi. Maklum, sekarang pukul 12.45. pas panas-panasnya kota Depok, berdasarkan prakiraan cuaca di koran yang kubaca pagi tadi di Pondok.
Seorang wanita memakai kaos dan berambut sebatas pundak sedang menghadap ke dalam toko. Astaghfirullah, mataku kembali berkhianat. Ternyata susah juga menyesuaikan diri untuk mendapatkan petunjukMu ya Allah. Tapi, aku akan selalu berusaha.
”Assalamu’alaikum,” suaraku pelan.
”Wa’alaikumsalam,” wanita itu menoleh. Dan...
”Lho!” aku agak kaget, ”Kamu..., Rika kan?”
”Iya. Bukankah kamu Ali?”
Aku menganggukkan kepalaku pelan. Aku sedikit malu, tapi kupikir sejenak tak apalah. Toh pekerjaanku ini halal dan aku harus percaya diri. Rika pernah menjengukku bersama Hanif saat aku di Rumah Sakit. Dilihat dari penampilannya, sepertinya dia anak orang kaya.
”Kamu sedang apa disini?” tanyanya pelan, tanpa ada tersirat kesombongan.
Aku sedikit kaget, ”Aku mengantarkan barang ini. Kata Pak Sapto disini membutuhkan barang ini.”
”Ooo..., kamu juga pasti terkejut jika tahu siapa yang menjaga Mahabbah Cell ini.”
Belum sempat aku bertanya, sesosok keluar dari pintu di dalam toko itu. Seorang yang masih memakai telekung untuk shalat. Mataku benar-benar terpana, wanita yang seumpama bidadari. Wajahnya yang putih bagai pualam, awan putih menyisakan kenanganku siang tadi saat aku bersama Hanif, dan wanita itulah yang membuat Hanif dalam candanya masih uring-uringan.
”Ali!” kulihat keterkejutan pula dari raut wajahnya. Wanita itu melepas telekungnya dan melipatnya. Rambutnya terurai, panjang dan hitam, ”Kamu...”
”Iya. Aku mengantarkan kertas ini dari Pak Sapto dari toko ATK di seberang sana,” aku segera memotong kata-katanya cepat.
”Apakah kamu bekerja disana?” tanyanya singkat.
”Tidak. Aku bekerja sebagai kuli di Pasar, dan kebetulan sekali pak Sapto memintaku mengantarkan kertas ini, dan kebetulan juga ternyata kamu bekerja disini. Ya sudah, aku kembali kerja dulu.”
”Tunggu! Ini sangat kebetulan. Kita bertiga satu kelompok, sebaiknya kapan kita membahas tugas kita,” Rika kembali bersuara. Nadanya pelan tak ada peremehan.
”Mungkin besok di kelas. Insyaallah aku bisa.”
”Ali,” suara pelan dari wanita cantik versi Hanif. Tangannya terulur, ”Mungkin kamu belum mengenalku.”
Tanganku gemetar, agak ragu kugerakkan. Aku menangkupkan telapak tanganku di dada, ”Iya. Sejujurnya aku belum mengetahui namamu. Namaku Ihsan Nur Ali, panggilanku Ali,” aku memotongnya cepat, aku takut dia tersinggung. Aku kini harus ketat menyesuaikan diri dengan tata-tertib pondok.
”Oo..., maaf ternyata kamu...,” dia menarik tangannya kembali, ”Namaku Siti Nur Aisyah, panggil saja Aisyah.”
”Aisyah! Sepertinya aku sering mendengarnya. Ah! Mungkin nama itu ada dalam serpihan dalam ingatanku mengenai teman atau anggota keluargaku,” aku menggaruk kepalaku yang tak gatal. Kebiasaanku waktu kecil terulang tanpa sengaja.
”Mungkin saja! Nama Aisyah juga kurasa sangat banyak bukan?” kulihat senyum sekilasnya terukir indah, menciptakan wajah itu semakin sempurna. Matanya bulat ceria menggambarkan betapa agungnya Allah sebagai Sang Pencipta.
Aku berpamitan dengan kesepakatan, besok di kampus akan membahas tugas mata kuliah Manajemen Keuangan dari Pak Yanto. Aku beruntung mempunyai teman-teman yang baik, walau aku tidak menjabat tangan wanita yang bukan muhrim dan bisa dibilang bekerja sebagai buruh, mereka tetap tidak berubah dalam berkomunikasi. Alhamdulillah, syukurku kembali menggema di relung hatiku yang terdalam. Terima kasih ya Allah, aku bahagia bertuhankan Engkau dan aku ridha Muhammad sebagai teladanku, dan aku bangga beragamakan Islam.
*     *     *
Sepulang aku langsung mandi dan mengenakan baju koko biruku, lalu menyelinap masuk ke dalam barisan santri lain yang sedang belajar di ruang tengah, yang dikelilingi kamar-kamar. Aku duduk bersebelahan dengan Syahid, Samsul dan Zainal, beberapa orang juga baru masuk menyusul. Ada pula beberapa orang yang main sepak bola di lapangan depan pondok. Mereka juga barusan pulang dari kampus, mungkin sibuk karena padatnya jam kuliah, dan juga ada yang sudah berada di kepengurusan dakwah sehingga biasanya ada agenda rapat. Sering sindiran dari orang, membuat para aktivis dakwah terkekeh sendiri, ’Mahasiswa Kura-Kura’ kuliah rapat-kuliah rapat. Ada-ada saja bahkan ada sindiran balasan untuk Mahasiswa yang sok study oriented, yaitu Mahasiswa kupu-kupu alias kuliah pulang-kuliah pulang.
Di Pondok, aku harus terbiasa makan seadanya, bagiku itu sangat biasa. Kadang makan sehari sekali pun aku sering. Tidur tanpa kasur empuk pun bagiku sudah biasa. Kalau kamar mandi yang agak antrl, itu baru menurutku yang agak sulit apalagi jika dapat jatah kuliah lebih pagi. Biasanya aku selalu mandi di pagi buta sebelum subuh, agar memudahkanku, mengejar aktivitasku yang telah terpampang dalam jadwal agenda dalam catatanku.
Kebiasaan buruk tidak boleh dibawa dan harus dirubah di pondok, semisal dari awalnya yang masih merokok, apalagi jika ada yang meminum miras. Pihak pondok akan tegas. Masih ada beberapa santri yang kulihat kemarin masih sembunyi-sembunyi merokok. Saat aku melihatnya, dia bilang belum bisa berhenti total, makanya terpaksa dia merokok di WC. Aku hanya menyarankannya untuk berhenti pelan-pelan.
Pagi hari sesudah tahsin, atau belajar kitab kadang kami bersama riyadhoh[5] sampai pukul 07 pagi. Biasanya riyadhohnya berbeda-beda, ada yang main sepak bola, ada yang senam, ada yang lari-lari, dan ada yang hanya menggerak-gerekkan tangan dan kakinya. Sekedar pelemasan sendi-sendi.
Teman-teman yang baik dan supel, walau ada yang masih terlihat acuh. Biasanya yang acuh adalah jebolan pondok sewaktu SMA-nya, dan karena itu mereka merasa sedikit lebih tinggi level keilmuan keislamannya. Apalagi hafalannya tentu saja lebih banyak dari yang masih awal mondok. Ada satu orang yang seangkatan denganku telah hafal lima juz, namanya Farid Abdullah, dan yang lain ada yang tiga dan dua juz. Sebagian besar baru hafal satu juz, itupun juz 30. Tapi itu semua sudah merupakan karunia yang patut disyukuri, karena masih banyak orang yang sudah besar pun belum bisa mengeja Iqra’, apalagi membaca Al-Quran.
Hari-hari yang menyenangkan, walau kelelahan dan keletihan kadang sering menemaniku. Tapi aku sangat bersyukur, dapat memulai belajar dengan hati tentang Islam. Ajaran yang penuh keindahan, setiap ajarannya mempunyai makna keindahan, yang sebenarnya harus dikuak oleh setiap orang yang mengaku beragama Islam, bukan sekedar terpampang islamnya di KTP. Banyak hal yang kudapatkan, jika teringat orangtua di kampung aku ingin segera menerapkan Birrul walidain[6] kepada Bapak dan Ibu disana, mendidik kedua adikku. Tapi..., belum waktunya. Aku harus menimba ilmu lebih banyak lagi.


[1] Hiwar artinya percakapan bahasa arab
[2] Penting
[3] HR Bukhari dan Muslim
[4] Alat – Alat Tulis Kantor
[5] Olahraga
[6] Berbakti Pada Orangtua

Tidak ada komentar:

Posting Komentar