Jumat, 18 Oktober 2019

Part 14, Pemilik Cincin Bulan

Meskipun terlambat, aku harus datang. Acara kajian di masjid Ukhuwah Islamiyah. Aku mendapat undangan berupa sms dari kak Nugroho, masih lebih baik telat daripada tidak datang. Acara kajian itu diisi oleh AA Gym dari Bandung, acara tentang menjaga hati dari kotoran-kotoran yang membuat hati berkarat.
Begitu turun dari bikun, aku menginjakkan kakiku memasuki pelataran Masjid. Pukul 10 pagi. Sebenarnya aku hendak berangkat dari pagi, tapi ada tugas kuliah yang harus aku kumpulkan besok, sementara naskah belum aku tulis sama sekali. Minggu yang seharusnya digunakan untuk waktu lain selain kuliah, ternyata aku masih menggunakannya untuk mengerjakan tugas laporan. Yah! Terpaksa, karena waktu senggangku pada hari minggu.
Sebentar lagi semester dua berakhir, tanpa terasa sudah hampir setahun aku menimba ilmu di negeri kota seberang ini. Kadang aku senang, namun sejenak kemudian aku sangat takut. Takut karena belum ada ilmu yang tercerap dalam memoriku, aku takut jika aku mengecewakan orang tua apalagi Allah yang telah mengutus Rasulullah sebagai nabiNya. Tiada terasa aku telah lama tak mengingat sebuah nama yang dulu  menguatkanku di kala lemah, memberi motivasi sehingga menjadikan siswa terbaik. Mawar, salahkah jika kini namamu tak lagi mekar dalam hatiku..., pencarian jati diri ini memang terlampau sulit kuatasi.
Hatiku berdebar cepat, seorang wanita yang kuusahakan melupakannya demi kebaikanku dan kebaikannya. Wanita itu kini berjalan bersama seorang anak kecil, kuperhatikan lebih seksama. Bukankah itu Nurul, anaknya Ustadz Wahid. Aku pasti tidak salah. Aku berdiri terpaku di paping, berbentuk persegi enam kecil-kecil itu. Demi melihatnya, matahari seolah kehilangan pesonanya, angin seolah berhenti bertiup, ragaku bagai terbang tak mengenal jiwanya kembali. Beberapa lama dapat melupakannya, telah sirna kembali begitu melihat wajahnya. Sahabatku yang hilang, dan kulihat di jemarinya melekat indah sebuah cincin, yang pernah kuukir dengan segenap perasaan kehilangan persahabatan. Mawar...
Aku mendekati mereka pelan, langkahku seolah terbang. Lelahku telah hilang. Perasaanku campur aduk, Aku benar-benar takut kehilangan Mawar untuk kedua kalinya. Tapi..., aku merasa telah dipermainkan oleh keadaan, sehingga aku merasa tak punya harga diri lagi. Harga diri?
Semuanya akan kugadaikan, demi persahabatan yang selama ini menjadi semangat hidupku. Jiwaku resah, pikiranku kacau. Entah kekuatan apa yang membuatku mendekati mereka.
”Nurul! Sedang apa disini?” kulihat Mawar dan Nurul menoleh.
’Ami!” Nurul menubrukku, dia penurut. Apalagi sewaktu acara khitanan Muslim di pondok Darussalam, aku seharian mengajaknya main. Aku merasa mempunyai alasan tak bergetar karena ada Nurul, umurnya masih tujuh tahun. Aku membenahi jilbab kecilnya, ada rambut yang kelihatan. Matahari diam tak berbahasa, panasnya menyaksikan kami. Aku duduk di depan Nurul, dan Mawar di depanku berjarak 7 meteran menunduk.
”Nurul kesini sama siapa?” aku menanyakan asal.
”Sama ’Ammah[1] Wardah, terus Nurul kepingin pulang karena siang ini Umi mau ngajakin Nurul ke Pasar untuk beli kerudung baru,” Nurul menggoncangkan badannya kekiri dan kekanan. Hingga jilbabnya bergoyang bagai terombang-ambing di lautan luas.
Wardah? Sejak kapan Wardah memakai cincin bulan milik Mawar. Apa yang terjadi sebenarnya, bagaimana aku mengetahuinya? Semua pertanyaan menguasai pikiranku, hingga aku tak dapat berpikir apa-apa lagi kecuali setiap celah hanya terisi Mawar dan Mawar. Agak lama aku menatap wajah mungil Nurul, walaupun aku agak membayang memandang wajah putih di belakangnya. Hingga tiada terasa, bibirku kelu dan agak lama kami bertiga terdiam, kecuali Nurul yang sedari tadi mempermainkan jari-jarinya.
”Nurul, ayo kita pulang? Nanti Umi menunggunya terlalu lama,” suara lembut itu benar-benar membuatku seolah entah berada dimana, atau di awang-awang, mengapung dan kehilangan segala rasa.
Terkumpul serpihan manis dalam satu harapan
Tak tergores dan tak berubah rasa
Memberikan manisnya, menghilangkan kepahitan
Atau jika ingin mencicipi manis
Maka dialah tujuannya
Menghimpun semua senyum dalam rasa
Mengulumnya membuat lidah bergoyang puas
Namun apakah kebanyakan rasa manis tidak membuat lidah kelu juga
Gula...[2]
Pelan. Nurul melangkah sambil meninggalkanku, senyum yang manis. Aku menggerakkan tanganku, melambai. Aku tak kuasa lagi mencegah persahabatanku untuk menemaniku. Aku tak berdaya ketika jemari yang terpasang cincin bulan itu, menyentuh sejuk jemari mungil Nurul, dan menggandengnya sambil berujar lembut salam, yang membuatku benar-benar kehilangan tempat berpijak.
Akankah kulepaskan? Persahabatan yang selama ini kukumpulkan dari serpihan masa yang tak berujung. Tidak! Tapi dia bukanlah Mawar, namanya adalah Wardah. Apakah dia dulu membohongiku? Aku dalam kebingungan dan kebimbangan di setiap lini kehidupan. Aku harus memperjelas semuanya, agar tak ada lagi yang menjadi beban dalam perjalananku.
”Mawar!” suaraku agak keras tanpa terasa. Lidahku kelu kembali, wanita itu menghentikan langkahnya, si kecil Nurul menatapku sambil tersenyum, matanya sipit karena matahari menyengat panas.
’Ami mau ikut kami?” tanya Nurul polos.
”Tidak! Ti..., tidak! ’Ami hanya ingin tanya pada Bibimu?”
”Mau bertanya apa Akh? Tidak baik berlama-lama seperti ini. Saya juga harus segera mengantarkan Nurul, karena sudah ditunggu Uminya,” nadanya benar-benar datar, bahkan terasa seperti tanpa ada nada sama sekali.
”Saya..., saya hanya ingin bertanya. Apakah Anti bernama Mawar?” semua inderaku kutujukan untuk kepastian terakhir. Jika dia bukan, maka aku akan meneruskan hidupku, tanpa istilah Mawar lagi dalam bayang-bayang hidupku.
”Nama saya Wardah, artinya memang Mawar tapi belum ada yang memanggilku Mawar. Maaf, mungkin Akhi salah orang,” dia tidak melihat kearahku sedikitpun kecuali menunduk.
”Baiklah..., mungkin aku salah orang. Aku minta maaf atas kejadian kemarin waktu di Gazebo membuat anda berlari. Maafkan saya,” ada derai penyesalan, namun kelegaan pun tercipta pula.
”Tidak apa-apa, mungkin karena di dunia ini banyak sekali manusia, sehingga banyak yang kebetulan mirip satu dengan yang lainnya. Kukira anda begitu keras kepala mencari orang bernama Mawar itu. Boleh kutahu siapakah Mawar itu bagi anda?”
”Hmm..., bukan apa-apa hanya seorang teman lama.”
’Ammah! Ayo kita pulang! Kasihan Umi, nanti kelamaan nunggu,” suara si mungil benar-benar telah terlihat kepanasan. Wajahnya memerah.
Mereka pamit. Aku membalikkan diriku untuk segera menuju Masjid, beberapa panitia kulihat di depan Masjid sedang memegang buku. Mungkin buku tamu. Aku masih teringat kejadian barusan. Wardah? Aku seolah ingin melupakan semuanya. Apakah bisa? Aku juga tidak tahu lagi, untuk apakah aku hidup, selain selama ini hanya untuk  persahabatan. Hidupku ke depan seolah bagaikan pepohonan yang layu, tak ada yang menyiraminya dengan air kesejukan. Tapi aku harus tegar kini, setidaknya aku masih punya tujuan. Keluargaku menantikanku, menjadi manusia yang bermanfaat bagi yang lain. Bagiku, itu tujuan yang maha berat, padahal untuk bermanfaat untuk diriku sendiri, aku belum bisa.
Bapak..., Ibu..., doakanlah. aku sangat takut karena belum ada ilmu yang tercerap dalam otakku. Adik-adikku, bantulah kakak dengan doa kalian, maafkanlah kekasaran kakak dulu. Seandainya waktu bisa diputar, aku tak akan mengorbankan kalian, hanya untuk persahabatan yang membuatku tergadai dan kehilangan harga diri. Tiada terasa mataku berkaca, ada serpihan air yang membuatku merasakan keteduhan dan kesedihan.
Aku mengisi biodata singkat di meja depan. Kulihat daftar telah banyak, peserta laki-laki telah mencapai angka 600 sekian. Aku membayar tiket, lalu panitia memberikan snack  dan air minum. Aku memasuki masjid, kulihat AA Gym telah mengisi materi. Sedikit telat. Aku melihat Farhan, aku duduk di sampingnya.
”Assalamu’alaikum,” aku menghulurkan tanganku.
”Wa’alaikumsalam Warahmatullah,” Farhan menjabat tanganku, senyumnya mengembang tipis. Senyumnya begitu teduh, melupakan sejenak akan kepenatan hidup. Dia pernah memberi nasehat, bahwa dengan bertemunya telapak tangan sesama saudara muslim, dan mengharapkan ukhuwah terjaga di jalan Allah, maka dosa-dosanya akan berguguran dari celah-celah jari, dan lebih indah lagi jika diselingi dengan senyuman keihklasan, yang menciptakan embun saling kepercayaan.
”Materi sudah lama?” tanyaku agak berbisik, begitu banyak orang.
”Belum lama, mungkin baru lima menit,” aku tidak mengganggunya lagi, aku menyimak dengan seksama. Tutur pemateri itu benar-benar lembut dan menyentuh. Jika di desa, aku teringat jika ada kajian maka bisa dipastikan menggunakan nada yang datar, hingga aku terlelap di pangkuan Ibu, atau ketika ada materi pengajian akbar yang diisi seorang Kyai. Bisa dipastikan aku akan pulang dengan tidak membawa ilmu, melainkan pulang dengan membawa bahan lelucon, karena sepanjang kajian isinya goyonan semata.
Kajian berakhir dengan mengharu biru, ketika AA Gym memimpin doa untuk memuhasabbah[3] diri. Banyak yang meneteskan airmata, embun di mataku pun tak tertahan keluar juga. Kami shalat dzuhur berjamaah, setelah itu aku membantu Farhan untuk bersih-bersih setelah acara usai. Begitu menyenangkan. Ah! Hidup bagaikan sebuah roda, kadang kita bersedih lalu tiba-tiba kita tersenyum kembali.
”Ali, temani aku sebentar ya?”
”Memangnya ada apa?”
”Aku menunggu seseorang, untuk menyerahkan draft perlombaan antar Fakultas, kebetulan Fakultas Hukum kini bekerja sama dengan Fakultas Ilmu Budaya. Insyaallah sebentar lagi dia datang. Kamu harus menemaniku,” nadanya agak ragu.
”Aku tahu. Dia pasti seorang Akhwat, makanya kamu gak berani?” aku menggodanya. Dia malah tersenyum, dasar Farhan.
Berkali-kali Farhan melihat arlojinya, hingga sebuah kata tertangkap dalam gendang telingaku, ”Sudah telat dua puluh menit. Kemana Ukhti Zahra ya?”
”Memangnya ada perlu apa sih, sampai  kamu tidak sabar menunggunya,” aku bertanya penasaran.
”Aku ada rapat jam dua tepat di Fakultas, sesudah itu pertemuan dengan pengurus PMPP”
Bunyi Hp menjerit. Farhan mengambil Hp-nya. Sepertinya sebuah sms, beberapa detik dia membacanya. Lalu menatapku agak ragu.
”Kenapa? Ada yang salah denganku?”
”Orang yang kutunggu datang lima belas menit lagi. Tapi waktuku tidak cukup lagi untuk ke Fakultasku, aku akan mengirim sms untuknya, kalau kamu yang akan memberikan draft ini. Tapi..., itu akan merepotkanmu menunggu disini sendirian...,”
”Sudahlah,” aku memotongnya cepat, ”Tidak apa-apa, bukankah kita saudara. Aku banyak berutang budi padamu. Sini draftnya, aku akan menunggunya.”
Farhan menyerahkan beberapa lembar kertas, yang dibungkus dengan plastik putih bening, ”Tapi awas! Serahkan drafnya langsung. Jangan ngobrol sembarangan, nanti dikira kamu adalah aku, karena dia juga belum kenal dengan saya. Kami hanya janji bertemu di depan masjid. Ok?”
”Ok Bos!” Farhan berlari menuju depan, dan naik bikun diiringi senyuman, sempat juga terpikir untuk berbuat jahil pada wanita yang akan kutemui nanti. Tapi, aku harus menjaga amanah seperti pesan kak Nugroho.
Sepuluh menit berlalu. Panas semakin menyengat, matahari bagai lidah api yang menjilati bumi, hingga jilatannya menghanguskan aspal yang semakin menghitam. Lima menit lagi...
Seorang wanita berjilbab datang dari arah depan, menuju masjid Ukhuwah Islamiyah, pandangannya tertunduk menghunjam ke bumi. Aku berdiri, agar dia mengetahui, aku berada tepat lurus kearah pintu depan. Kuharap dialah yang dimaksud Farhan hendak mengambil draft ini.
Jarak semakin dekat, dan...
Wardah..., gadis itu..., langkahnya semakin mendekat. Injakan kakiku seolah bergetar kembali. Bumi seolah berguncang, aku harus kuat. Aku tak boleh lemah lagi, aku harus bisa mengalahkan ketidakberdayaan ini. Aku adalah Ihsan Nur Ali dan bukan seorang pengecut, atau Ihsan yang kehilangan jati dirinya. Aku tak boleh lemah! Aku menguatkan ragaku.
Langkahnya semakin mendekat, aku hanya teringat nasyid Tazakka yang sering kudengar dari kamar Syarif...

Pertemuan kita kali ini
Bukan sekedar kawan lama tak jumpa
Tapi kita bertemu ada satu makna
Kita punya satu perjuangan[4]
Pergulatan hebat terjadi di dalam dadaku, deburan demi deburan saling bertabrakan. Lihatlah wajah indah yang memantulkan sinar matahari itu, alangkah jernih dan sempurna. Jilbab biru muda itu menambah keceriaan di wajahnya yang menunduk. Sesekali jemarinya membenahi tas punggung, yang sepertinya lumayan berat. Setiap langkahnya bagaikan setrum, yang menggetarkan seluruh bagian organ di tubuhku. Allah..., tolonglah hambaMu yang lemah ini. Allah...,  jangan jadikan hambaMu kehilangan jati diri.
”Assalamu’alaikum,” nadanya datar.
”Wa’alaikumsalam.”
Akh Farhan?” penekanannya pada sebuah pertanyaan yang ragu.
”Bukan, aku temannya. Dia menitipkan ini untuk anda,” aku gemetaran menyerahkan draft itu, kulihat tangannya mengambil ujung kertas dan menariknya. Cincin bulan itu telah raib dari jemarinya. Wanita itu berpamitan, seolah dia tidak pernah bertemu sama sekali denganku. Aneh. Dia hanya berpesan, agar Farhan dan rekan-rekan di Fakultas Ilmu Budaya menyiapkan acaranya, sedangkan yang akhwat mengurus konsumsi dan hadiah-hadiah. Aku mengiyakan.
Aku langsung menuju Pasar Minggu, perasaanku terbawa hingga melayang bersama bikun yang terus melaju. Buat apa lagi aku menetapi persahabatan ini? Bahkan dia kini tidak mau lagi memakai cincin bulan itu lagi. Apakah Engkau telah mengatur kehancuranku ya Allah. Membawaku dari desa ke kota, memisahkanku dengan keluargaku. Dan kini aku seolah terlunta-lunta. Aku berjanji padaMu, aku akan melupakan Mawar! Tak akan lagi kusebut-sebut dia dalam doaku. Maka bantulah aku untuk melupakannya ya Allah. Mawar..., selamat tinggal. Persahabatan ini adalah kebohongan.


[1] Bibi
[2] Sajak Badarudin, Lampung Post, 22 Juli 2007
[3] Menilai
[4] Sahabat Perjuangan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar