Jumat, 18 Oktober 2019

Part 13, Tawaran Perekat Ukhuwah

Tensiku naik drastis ketika aku pingsan, saat acara Sahabat di Gazebo. Beberapa teman waktu aku tak sadarkan diri, menungguiku secara bergantian dan mereka begitu senang ketika aku telah sadar. Hamdalah berdengung di telingaku, Allah, aku tidaklah sadar, banyak orang yang memperhatikanku, kukira aku sendirian di dunia ini. Saat aku pertama bangun di Rumah Sakit, yang pertama kulihat wajahnya adalah Nugroho dan Farhan, mereka tertidur di lantai beralaskan tikar. Airmataku meleleh saat itu, begitu hidupku selalu menyusahkan orang lain. Mereka merasa bersalah membiarkan aku kelelahan, padahal saat itu pikiranku benar-benar berkecamuk.
Biaya Rumah Sakit telah dibayar seseorang, yang hanya meninggalkan sebuah nama, Wiati. Entahlah siapa dia, atau mungkin suruhan pak Salim? Yang dulu pernah kutolong saat hendak dirampok. Entahlah, suatu saat nanti jika aku menemukan orangnya, aku akan mengucapkan terima kasih dan berupaya membalas kebaikannya.
Pagi itu beberapa teman sefakultas datang menjenguk, walau tidak semuanya karena ada yang mempunyai hajat lain, yang datang mungkin 7 orang termasuk Hanif, Hamid dan Feri yang berdekatan kamar denganku. Mereka membawa buah-buahan dan kue, mereka semua mendoakanku cepat sembuh, dan menyemangatiku untuk bersabar. Aku tersenyum pada mereka ketika mereka pamitan pulang.
Siang itu, aku telah diizinkan pulang, hanya saja masih butuh banyak istirahat dan tidak boleh berpikir dan bekerja terlalu keras dulu. Dalam hati aku hanya membatin ’Jika aku tidak kerja siapa yang akan membiayai kuliahku dan mengirim uang ke kampung’ kulihat Farhan mengambilkan air minum untukku. Aku kembali ke kamar ini lagi, mungkin suatu saat kamar ini akan kurindukan, pikiranku melayang.
”Aku ingin bicara sesuatu hal padamu,”
“Apa itu?” suaraku masih kurasakan lemah.
Farhan menyodorkan sebuah amplop, ”Ini kutemukan saat kamu jatuh! Maaf aku telah membacanya,” kepalanya tertunduk.
Aku memegang pundaknya, ”Tidak apa-apa saudaraku, dia adalah temanku yang telah meninggal...”
”Meninggal?” ada kekagetan di raut wajah bersihnya.
”Baiklah akan aku ceritakan,” kurasa tak ada yang harus kututupi agar Farhan tidak salah paham terhadap Sinta, wanita yang tegar itu. Mungkin kini dia telah tenang dan tak perlu memikirkan dirinya yang sakit lagi. Farhan mendengarkannya, hingga dia dapat memahami, lalu kami terlibat perbincangan yang tak berujung, ngalor-ngidul.
”Aku banyak mendengar tentangmu Ali,” aku sedikit kaget, tadi kami masih saling bercanda, kini kulihat wajahnya berubah serius. Aku menjadi heran.
”Ada apa Farhan, apa aku melakukan kesalahan?”
”Tidak! Maaf, selama ini aku tidak tahu masalah yang kamu hadapi. Kamu merelakan diri bekerja di Pasar Minggu, untuk biaya hidup dan kuliahmu disini, jika kamu tidak keberatan aku punya tawaran untukmu,”
”Tawaran apa?”
”Kebetulan aku bersama teman-teman Mahasiswa yang lain, membentuk sejenis tim yang intens di bidang pembinaan anak atau privat[1]. Beberapa orang mendatangi kami dan meminta untuk mengajari anak-anaknya belajar membaca Al-Qur’an, dan mengajari pelajaran. Semakin lama kami semakin kebanjiran permintaan. Kemarin ada tiga orang lagi yang datang meminta bantuan tenaga pengajar. Jika kamu tidak menolak, aku ingin memberikan dua orang untuk kamu ajari, dan Insyaallah honornya untuk kamu saja, buat keperluan sehari-hari. Aku tidak mau kamu bekerja terlalu keras.”
Aku diam sejenak, ”Tapi, apakah aku bisa mengajari mereka?”
Insyaallah kamu bisa, kebanyakan mereka masih awal belajar Iqra’nya, dan kulihat bacaanmu sudah bagus. Setidaknya itu bisa membantumu. Dan jika engkau masih bingung, aku akan memberikan metode-metode pengajaran yang efektif,” nampak bicaranya begitu halus dan hati-hati, dia takut menyinggung perasaanku.
Insyaallah akan aku usahakan, tapi aku akan selalu meminta bimbingan darimu Farhan, agar aku bisa mengajar dengan baik.”
”Tentu saja. Dengan senang hati.”
Kami mengobrol, hingga tiada terasa malam semakin merambat, udara dingin menyelusup mengajak tubuh untuk rebahan. Farhan pamitan dan mengajakku esok, untuk mengunjungi rumah yang meminta tenaga privat tersebut. Aku mengiyakan, aku rebahan. Mataku belum bisa dipejamkan, aku teringat dengan Ibu dan Bapak di rumah. Biarkanlah disini aku menyelesaikan masalahku sendiri, aku tidak mau menambah beban mereka. Malam ini aku hanya berharap dapat bermimpi bertemu mereka dan rebahan di pangkuan mereka, guna melepaskan penat yang seolah membelengu seluruh kehidupanku. Untuk mencari ketenangan, walau sesaat.
*     *     *
Siang ini sepulang kuliah, aku masuk ke Rektorat. Ada yang harus kuurus. Saat itulah sewaktu aku keluar melewati danau Kenaga, kulihat Mawar sedang naik Bikun. Kucoba menahan segala asa dan gejolak, tapi aku tak bisa. Persahabatan itu telah merubah seluruh hidupku, atau itukah tujuan hidupku. Aku berlari mengejarnya, aku seperti orang gila. Tak kuhiraukan Mahasiswa yang melihatku keheranan, mereka pun mungkin tak mau tahu urusanku. Bikun berhenti di Fakultas MIPA, beberapa mahasiswa turun dan ada yang naik. Aku berjalan biasa walau keringatku bercucuran. Langkahku pelan di belakang bikun, Mawar belum turun. Bikun kembali melaju, akupun melaju dengan kencang. Aku berlari walau bajuku telah lengket dan tas punggungku seolah berat menimpa tubuhku.
Aku terus berlari, sambil hatiku terus bergejolak menyebut nama Mawar berulang kali dalam hati. Aku mengepalkan kepalan tanganku, airmataku memburai. Aku tak kuasa menahan rasa ini, betapa ingin kumenyapanya tapi ada rasa yang menahanku. Ada kerinduan yang menghangat, namun ada kebekuan yang menggumpal. Aku bingung. Akalku pun buntu, aku hanya mengikuti ritme alam yang bergerak.
Bikun malaju melewati Kukusan dan Lapangan Olahraga, di Fakultas Tekhnik Bikun berhenti. Aku pun berjalan biasa sempoyongan, pelan kembali sambil mengatur napas yang senggal. Dia tidak turun, bikun kembali melaju. Akupun berlari kembali, aku hanya ingin tahu dimana dia akan berhenti, itu saja cukup bagiku. Aku melewati Wisma Makara, hingga bikun sampai di Asrama Mahasiswa. Aku sudah kehabisan napas, ngos-ngosan. Aku terduduk lemas, kulihat Mawar turun dari Bikun, senyumnya terukir sambil mengucapkan terima kasih kepada supir bikun. Melihat senyumnya saja sudah cukup bagiku, jalannya yang menunduk menambah keanggunannya. Allah, alangkah hebatnya Engkau, yang menciptakan bidadari seperti dia, aku pun merasa tak pantas untuknya. Cukuplah bagiku melihatnya bahagia. Mungkin itulah yang tertulis dalam persahabatan ini.
Saat itu, kebetulan Farhan juga kulihat turun dari bikun yang baru datang. Aku menghampirinya, berbarengan memasuki Asrama. Saat itu adzan menggema. Aku hari ini izin tidak ke Pasar, dirasa-rasa aku belum pernah absen. Siang itu ba’da dzuhur, aku menyertai Farhan untuk mempertemukanku dengan kedua orang tua anak yang akan kuajari privat. Rumahnya tidak terlalu jauh dari terminal UI maupun Pasar Minggu, mungkin sekitar dua kilometer. Jika terus maka akan menuju terminal Kampung Rambutan.
Rumah pertama yang harus kuprivat ternyata lumayan mewah, hanya saja seperti rumah yang jarang ditempati. Terawat tapi tidak optimal. Yang kami temui hanya Fadli anak SD kelas V yang akan kuprivat nantinya. Bapaknya katanya pergi kerja, kakaknya sedang bekerja, karena selain kuliah di UI dia langsung nyambi kerja, entah diapun tidak tahu apa pekerjaannya. Sepanjang hari, Fadli sering ditinggal sendirian di rumah, alangkah malangnya. Anaknya sedikit tertutup.
Aku dan Farhan sedikit heran, karena Fadli sama sekali tidak menyinggung sedikitpun tentang Ibunya. Ketika aku beranikan untuk menanyakannya, dia menggelengkan kepalanya sejenak, lalu sempat kulihat ada sebening embun, yang seolah membuat lensa kaca membasah tersiram embun. Lalu buru-buru dia mengusapnya, dan tak berkata apa-apa, dia agak tertutup. Walau dia hidup di kota, tapi kurasa nasibnya tidaklah lebih baik dariku ketika aku kecil, yang penuh dengan keceriaan. Tanpa sadar aku telah banyak belajar dari kehidupan.
Fadli juga memberikan sebuah surat, katanya dari kakaknya. Ketika kurasa agak lama, akhirnya kami sepakat untuk pamitan pada Fadli, dan belum memastikan untuk kapan memulai privatnya. Tapi jadwal kami harus mendatangi rumah kedua.
Di rumah kedua, ternyata rumahnya pun terlihat mewah. Kami berbincang akrab dengan Ayah dan Ibu Hasan, anak yang kedua untuk diberi bimbingan. Begitu cerianya Hasan, karena orangtuanya pulang menyempatkan diri untuk bersamanya menunggu kami. Harapan besar orangtua Hasan, menginginkan kami untuk mendidiknya, agar menjadi anak sholih karena mereka kurang bisa mengajari masalah agama, karena mereka kini juga masih belajar.
Kami pulang ketika adzan Ashar menggema. Kami shalat di sebuah mushola di pinggir jalan, Alhamdulillah, di Mushola ini juga ramai. Sempat kuberpikir ternyata didikan orangtua berpengaruh besar terhadap perilaku anak, dari yang diperhatikan dan dibiarkan saja. Perbedaan itu sangat mencolok ketika melihat Hasan dan Fadli, Fadli yang rendah diri dan tertutup, mungkin karena kurang perhatian. Kasihan dia. Aku sangat bersyukur karena kedua orangtuaku, begitu sayang kepadaku walau dengan keterbatasan-keterbatasan yang ada. Namun bagiku, itu lebih dari cukup untuk bekalku, mengarungi kehidupan yang penuh dengan jalanan terjal.

*   *   *
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Untuk Pengurus Perkumpulan Mahasiswa Pengajar Privat (PMPP)
     Kutitipkan salam doa agar semua di PMPP, selalu dalam penjagaan terbaik Allah, menjadikan kalian semua diridhaiNya dan menjadikan kalian orang-orang yang diberikan hikmah, untuk menjadikan banyak generasi menjadi penerus Muhammad Rasulullah.
Saya  tidak bisa menemui kalian secara langsung, siang ini jam kerjaku menjaga wartel dan interned. Kuharap kalian dapat berbincang-bincang dengan adikku. jadi kutitipkan surat ini kepada adikku Fadli. Sebelumnya kami berterima kasih karena kalian mau menerima rekomendasiku, karena kami memang keluarga yang kurang mampu. Kalian tentu sudah tahu keadaanku.
Saya berharap kalian bisa sabar menghadapi sifat tertutup adikku, itupun sebenarnya saya tidak membayar dengan uang lebih. Saya sangat berterima kasih sekali, pengurus PMPP mau membantu kami, walaupun dengan bayaran yang sedikit yang saya kita hanya cukup untuk biaya transportasi semata. Tapi saya berharap, adikku dapat menjadi anak yang sholih, itulah harapanku.
Kusampaikan salam terimakasih terdalam dariku untuk team privat, saya hanya dapat mendoakan kalian semua, agar Allah membalas kalian lebih banyak jika tidak di dunia, semoga di akhirat yang kekal, dapat menjadikan berkah yang melimpah saat berkah itu hanya untuk orang-orang yang ikhlas.
Terima kasih
Kakak Fadli
Siti Nur Aisyah
Aku menutup surat kecil satu lembar itu. Besok aku akan memberikannya pada Farhan, karena tadi sempat terlupa untuk membacanya bersama. Aku sedikit heran, ternyata kakaknya itu perempuan dan dia menulis, bahwa mereka keluarga kurang mampu? Bukankah rumahnya begitu mewah? Entahlah, mungkin suatu saat aku mengetahuinya, dan aku akan berusaha membimbing dengan baik karena Fadli kurasa tiada mempunyai teman. Entah kenapa, aku ingin berbagi kebahagiaan masa kecilku padanya.
Aku menutup pintu kamar. Panas menyengat. Aku melepas baju, tinggal kaus dan rebahan di atas karpet. Kuhidupkan kipas kecil, sejuk hingga menjalar ke seluruh kulit, terasa seumpama berada di dekat telaga Kautsar dan hanya kenikmatan yang ada.
Sore ini, aku pulang dengan membawa banyak teladan, aku banyak belajar dari anak-anak. Kuingat tadi sempat jengkel juga dengan kelakuan Rahma, adiknya Hasan. Ketika kedua orangtuanya memintanya belajar bersama Hasan kakaknya, kata yang terlontar adalah kata-kata kasar, lalu naik ke tangga. Orangtuanya meminta maaf pada kami, kulihat Farhan tersenyum, mungkin dia telah biasa melihat kejadian seperti itu, karena komunitasnya juga mengajar anak-anak dan aku belum terbiasa sama sekali.
Hari ini aku harus memulai planning baru dalam hidupku, yup! Merancang jadwal tetap, agar semua dapat dievaluasi, mana-mana kegiatan yang terlaksana dan terbengkalai, kemudian itu untuk perbaikan ke depan, itulah inti dari Manajemen. Mengatur. Aku harus dapat mengoptimalkan semua potensi yang dapat aku gunakan untuk berubah menjadi baik, harus dapat memilih skala prioritas, mana yang sebaiknya dilakukan dulu dan mana yang harus diakhirkan, atau di delete karena dinilai tidak mempunyai manfaat atau lebih banyak keburukannya.
Malam ini aku memulai lagi hidupku yang kurasa tak terarah. Hidup memang seperti air yang mengalir, tapi jika hanya terbawa arus kemanapun dan dimanapun, kita tidak akan menemukan diri kita. Aku tidak akan menjadi orang yang sukses, jika aku mudah terombang-ambing, mengalir begitu saja dan akhirnya tanpa terasa tenggelam dan mati tanpa kita sadari. Jadwalku kini, pagi kuliah hingga siang, kemudian ke Pasar untuk menguatkan otot-ototku, mengangkati barang belanjaan. Ba’da maghrib dan ba’da Isya’ aku mengisi privat. Aku akan memulainya dengan senyuman.
Mataku sedikit ngantuk. Sore itu aku tertidur dengan membawa senyuman kecil, ”Aku tidak akan pernah bangga pada setiap prestasi yang aku capai, tapi sebenarnya tidak saya rencanakan sama sekali. Tetapi aku juga tidak akan pernah menyesal pada setiap kegagalan yang aku temui selama aku telah merencanakannya dengan matang sebelum melakukannya.”
Mawar! Aku sudah dapat sedikit melupakanmu, aku harus sadar. Hidupku bukanlah semata untuk menepati persahabatan kita.


[1] Les, Kursus, Bimbingan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar