Jumat, 18 Oktober 2019

Part 12, Pertemuan Tak Terduga

Hari-hari berlalu begitu cepat, tanpa memikirkan apa yang telah manusia lakukan. Mawar hingga kini belum aku temukan. Rasanya harapanku mulai memudar, walau dalam hatiku terdalam masih menghunjam keyakinan yang tak akan pernah berubah. Semester satu telah berlalu, ujian semester satu bagiku biasa saja, aku juga malas menetapi janji persahabatan itu. Hasil IP[1]ku 3,30. Sudah bagus menurutku, karena aku memang kurang belajar, karena mengutamakan jadi kuli dan belajar pun jarang. Kuliahku Alhamdulillah dapat terbayar. Aku juga dapat sedikit mengirimkan uang ke kampung dengan wesel, walaupun dua bulan sekali, dengan nilai tidak seberapa, namun aku berharap dapat meringankan beban ayah dan ibu untuk sekolah adik-adikku.
Pintu kamarku diketuk pelan, dan sebuah suara yang tidak asing mengucapkan salam dari luar, kak Nugroho. Hari ini masih dalam rangkaian liburan setelah semester satu. Aku membalas salam dan buru-buru membuka pintu. Senyuman akrab itu kembali tersungging di wajahnya.
”Hari ini kamu ada acara?”
Insyaallah tidak ada. Memangnya ada apa Kak?” sebenarnya Nugroho tidak ingin dipanggil kak, namun aku sangat susah merubahnya. Dia menginginkan dipanggil Akh, sebagai simbol kekeluargaan. Dia begitu sabar, walau aku beberapa kali membolos tidak mengikuti mentoring, bahkan sebulan, kadang sekali atau dua kali dan banyak bolosnya.
”Hari ini, Sahabat mengadakan bakti sosial. Kamu bisa bantu kan?”
Insyaallah,” aku hampir lupa, padahal brosur kegiatannya dua minggu yang lalu telah diberikan kepadaku oleh Nugroho. Namun dia tidak menyinggungku lupa. Lembaga Dakwah Sahabat merupakan salah satu lembaga dakwah di UI, diantara Lembaga Dakwah tiap Fakultas, dan Sahabat merupakan Lembaga Dakwahnya Asrama Mahasiswa. Pusat lembaga dakwah UI kesekretariatannya berada di masjid Ukhuwah Islamiyah, yaitu Nuansa Islam Mahasiswa  atau biasa disingkat SALAM.
”Aku mau mandi dulu ya Kak.”
”Baiklah, kamu nyusul saja. Aku harus membantu menyiapkan tempat dan perlengkapannya. Kamu sudah tahu tempatnya kan?”
”Di Gazebo. Baiklah, saya insyaallah akan menyusul.”
Setelah Nugroho pamitan, aku segera mandi dan mengenakan baju koko biru tua, yang baru aku beli sebulan yang lalu di Pasar Minggu. Aku suka warnanya. Setelah shalat dhuha aku menenteng tasku, tak lupa aku membawa Al Quran dan air minum. Yup berangkat! Tidak enak kalau mengecewakan kak Nugroho terus.
Aku langsung ke Gazebo, tempatnya seperti pendopo. Gazebo merupakan tempat terbuka yang sering digunakan untuk tempat berkumpul, dan acara-acara semacam seminar maupun training. Lokasinya dekat dengan TU dan berada di sebelah taman.
Acara terlaksana dengan lancar, walaupun hanya membantu sedikit, hatiku terasa riang dapat membantu orang lain. Ketika donor darah, aku tidak bisa mendonorkan darahku, tensiku tinggi. Aku membantu di lain stand, khitanan massal. Aku membagikan sarung dan kopiah, serta amplop yang berisi uang untuk setiap peserta khitan. Anak-anak yang lucu dan menggemaskan, mereka melonjak ketika kuberikan bingkisan, namun ketika saatnya khitan mereka ketakutan, hingga ada yang menangis sebelum dikhitan. Aku tak bisa menahan tawaku.
Hari yang melelahkan, para akhwat[2] melayani para ibu-ibu yang memeriksakan kesehatan, dan melayani pasar murah yang dijejali oleh ibu-ibu rumah tangga. Seorang anak mendekatiku dan tersenyum, dia baru saja dikhitan. Wajahnya membuatku tersenyum.
’Ami[3] sedang apa disini?” setelah mengucapkan salam Muslim bertanya tenang.
”Hanya membantu saja. Kamu tidak takut dikhitan?”
”Kenapa takut ’Ami. Melakukan sunnah itu Insyaallah akan dicintai Allah,” wajah polosnya nampak bagai ketenangan laut yang mengalir lembut, matanya begitu mirip dengan ayahnya. Istilah takut khitan bagiku rawan, karena aku dulu di khitan saat kelas enam Sekolah Dasar, itupun karena dipaksa Bapak.
Aku hanya heran. Ustadz Wahid kata Nugroho adalah termasuk orang kaya, perusahaannya dikelola oleh orang lain. Bahkan dana bantuan, biasanya dari beliau terlalu besar kepada Lembaga Dakwah dan organisasi keagamaan lainnya. Tapi anaknya khitan massal disini.
”Apakah Muslim senang dikhitan disini?”
”Iya, disini ramai sekali. Banyak teman lagi,” anak yang penurut, tidak sepertiku.
”Ayo ikut ’Ami?”
Aku menggandeng tangannya, aku mengajaknya berkeliling. Kebetulan banyak pedagang yang mengelilingi acara. Aku menawarinya membelikan sesuatu sebagai hadiah untuk khitannya. Muslim memang anak yang cerdas, kuajak ke dagangan mainan, namun kelihatannya dia kurang tertarik. Dia memintaku dibelikan kaset murottal[4] juz 11, aku hanya menggelengkan kepala. Harganya jauh lebih murah daripada membelikan mainan. Akhirnya aku membeli dua kaset. juz 11 dan 12, Muslim begitu senang. Aku ikut tersenyum. Aku tidak tahu, bahwa semua hal telah diatur oleh Allah Yang Maha Menentukan.
Dari kejauhan Ustadz Wahid datang, menuju kearah kami. Senyumnya nampak meneduhkan. Aku menjabat tangannya. Aku baru tahu sekarang, kenapa Muslim menginginkan kaset murottal, ternyata dia sedang menghafal Al-Quran dengan Uminya. Sekarang sudah 10 juz, aku sebenarnya malu, tapi segera kusembunyikan dengan senyuman. Alih-alih sama atau melebihi, juz ’Amma saja banyak bolongnya.
”Datanglah nanti sore ke pondok bersama Nugroho, Insyaallah syukuran untuk anakku. Datanglah, dan terima kasih atas hadiah untuk anakku. Insyaallah akan sangat bermanfaat untuknya,” aku hanya tersenyum.
Aku pamitan kepada mereka, aku harus segera membantu yang lain. Terlihat Farhan sedang sibuk melayani bapak-bapak. Ramai. Aku bergegas menuju kearahnya, dan...
”Krosaak!!” aku menabrak seorang wanita berjilbab, kertas berhamburan dan jatuh berserakan di rumputan hijau.
”Maafkankan aku, aku tidak sengaja,” aku membantu memunguti kertas yang berserakan, dan sebuah pandanganku tertancap demi melihat benda yang tak ternilai harganya bagiku, pada jarinya yang memunguti kertas. Jemari itu mengenakan cincin bulan sabit, hatiku berdesir.
”Tidak apa-apa. Saya akan membereskannya sendiri, Antum[5] pergilah,” suaranya seolah menyuruhku pergi. Kupaksakan melihat sebentuk wajah itu, wajah yang tak asing. Kulihat sewaktu di bikun dan di kelas Fakultas Sastra Indonesia. Wajah yang terlalu sempurna, bak bulan saat purnama, bahkan lebih indah.
”Cincin anda,” wanita itu segera berdiri setelah selesai memunguti kertas, dan menerima kertas dariku. Wanita itu mengucapkan terima kasih, seolah tak menghiraukan perkataanku, dan melangkah mengucapkan salam sambil tertunduk.
”Mawar!” wanita itu menghentikan langkahnya sejenak, ”Aku Ihsan! Aku sahabatmu!” aku sedikit berteriak, beberapa orang di kerumunan itu melihat kearahku.
”Mungkin anda salah orang, Assalamu’alaikum.”
”Wa’alaikumsalam,” tubuhku terasa lemas, padahal kumerasakan bumi seolah bergetar menyambut suka citaku, tapi semuanya bagai tertiup angin kencang dan menghabiskan semuanya. Mawar telah melupakanku? Aku yakin dialah orangnya, cincin itulah buktinya. Aku tidak akan pernah melupakan guratan yang sempat kutoreh dari kayu jati, yang kutemukan di tumpukan kayu bakar milik ibuku dulu. Aku masih ingat dengan jelas. Dialah Mawar! Persahabatan itu akhirnya kutemukan. Tapi? Apakah mungkin dia masih marah kepadaku, karena aku dulu menginginkan cokelat dari mbak Fatimah? Aku melihatnya hingga hilang di balik kerumunan. Aku harus meminta maaf padanya, setidaknya itu akan membuatku tenang. Dan aku tidak berani berharap lebih darinya.
Siapalah aku? Aku mahasiswa miskin dari sebuah kampung pelosok di Lampung, walaupun asli keturunan Jawa. Sehingga ewoh pakewoh[6] yang diajarkan Bapak dan Ibu, melekat di dalam kepribadianku.
”Ayo Ali, bantuin Ane,” terdengar suara Farhan, di sela-sela melayani seorang Bapak yang membawa anaknya. Aku tersenyum padanya dan mendekatinya, mungkin senyum yang kubuat semanis mungkin itu tidaklah semanis biasanya. Farhan sering menemaniku belajar bersama, walaupun dia tahu aku sedikit mempunyai teman. Terutama ketika malam-malam semesteran kemarin, setelah belajar, biasanya dia mengajakku bermain catur. Aku juga bisa bermain darinya.
Kesedihanku sedikit terobati, dengan tersenyum renyah bersama Farhan, menikmati lucunya bocah-bocah kecil yang dikhitan. Memang benar kata-kata kak Nugroho, seorang sahabat jika melihatnya saja akan membuat kita kehilangan kesedihan dan mengingatkan kita akan Allah. Walau aku selalu membolos, aku sebenarnya menyukai ilmu agama, tapi entahlah, pikiranku kini entah kemana, aku bingung.
Lantunan lagu-lagu nasheed terdengar membahana, menggetarkan jiwa. Jiwaku agak tenang kini. Kapankah ketenangan akan menghinggapiku? Pikiranku melayang mengikuti irama syair, mataku sempat menangkap siluet Mawar, yang sedang menyerahkan sembako kepada salah seorang ibu, di antara kerumunan yang ramai lalu-lalang orang. Wajahnya yang bersinar, membiuskan keberadaanku yang tak berdaya oleh pancaran keindahannya. Aku benar-benar tertawan, apakah aku benar-benar gila? seperti Majnun dalam novel yang dua minggu yang lalu kubaca. Apakah tiada tujuan lain hidupku ini? Kecuali hanya untuk Mawar. Irama nasheed semakin membuatku nanar, aku telah lupa keberadaanku di bumi.
Pertemuan kita kali ini
Bukan sekedar kawan lama tak jumpa
Tap kita bertemu ada satu makna
Kita punya satu perjuangan...
Mata lembutnya membuat siapa saja yang melihat, akan tertawan bagai kumbang yang tertahan menghirup madu dari kuntum-kuntum bunga yang meneduhkan. Semua hal di dunia ini serasa tak berarti, lihatlah jika dia tersenyum, maka seolah dunia terhenti, waktu terhenti, aliran air terhenti, semuanya menyaksikan keindahan senyumannya. Aku teringat penggalan kata Nugroho saat mengisi mentoring, ”Barang siapa menyukai sesuatu, dia akan menjadi tawanannya,” dan aku telah tertawan.
Tangannya begitu sabar memberikan gula kepada para ibu, yang  berebut membeli pasar murah, senyumnya tak pernah putus sama sekali. Setiap kali dia tersenyum, dadaku berdesir. Matahari yang panas pun tak kuasa menahan pandanganku, yang takjub akan wanita yang memakai cincin bulan sabit itu. Allah! Aku gila! Sungguh, kenapa dengan diriku? Ingin kumenangisi segala ketidakberdayaan dan kelemahan ini.

Andai ada kasih antara kita
Kita kembalikan kepada Yang Esa
Agar ia suci tulus dan ikhlas
Semoga Allah memberkati

Sambutlah tangan sahabat saudaramu
Bimbinglah ia melangkah bersama
Satukan hati kita teguhkan ia
Beriring, bersama untuk kebenaran
Perjuangan itu... artinya berkorban
Berkorban itu artinya terkorban
Janganlah gentar untuk berjuang
Demi agama dan bangsa

Inilah jalan kita
Inilah jalan kita[7]
Apakah aku memang gila? Persahabatan macam apa yang merasukiku, jika boleh aku ingin lahir tanpa ada rasa yang menyiksa seperti ini. Allah, kenapa Kau ciptakan rasa yang begitu menyakitkan, kenapa kau tumbuhkan rasa di hatiku, padahal aku ini tidak pantas dicintai. Tingkahku buruk, dan aku hanya mampu sholat saja di hadapanMu. Aku belum bisa melakukan hal lebih untukMu. Aku teringat sesuatu, aku mengambil dompetku dan membuka selembar kertas. Farhan tersenyum dan mempersilakan aku melakukan apa yang ingin kulakukan, dia mungkin paham dengan kepanikanku. Aku membaca kertas itu dalam hatiku, sangat pelan hingga hanya aku dan Tuhanku yang tahu. Penggalan kata dalam surat Sinta, semoga Allah mengampuni dosa-dosanya. Kepalaku semakin berat kurasakan, seperti dunia berputar-putar.
Mungkin ini wasiat dariku teman, hidupmu sangat berharga, sangat berharga. Jangan kau kotori oleh pikiran-pikiran sempit keduniaan. Seseorang yang pergi jauh, pasti suatu saat akan pulang ke tempatnya kembali. Lengangnya masa, kita hanyalah mampir, hidup ada kesejatian kekekalan dan keindahan penantian. Sahabatku, jangan pernah takut untuk menetapi keyakinan dan keteguhan, perjuangkanlah dengan keikhlasan, kejujuran, dan kesabaran.
Teman, terimalah ini sebagai pertanda kasih persahabatanku padamu, selamat ulang tahun yang ke-18. Semoga dengan semakin berkurangnya umurmu, akan menjadikanmu dekat kepada Allah Azza Wa Jalla. Bacalah ketika hatimu gundah gulana, bacalah ketika engkau membutuhkan jawaban dari kehidupan, jadikan dia resensi dasar pijakan. Sahabatku, saat menulis ini airmataku menetes membasahi sajadahku, mungkin pertemuan kitapun akan mengakhir, setidaknya itulah firasatku.

Benarkah semua yang kulakukan selama ini demi persahabatan yang belum tentu menerimaku? Aku benar-benar seperti orang gila. Semua telah kulakukan hanya untuk sesuatu yang bodoh. Apakah tujuan hidupku sebenarnya? Kepalaku mulai terasa berat. Bagai tertusuk ribuan jarum.
Air mataku pelan mengalir, aku di ambang kebimbangan yang berat. Apakah jika aku menetapi persahabatanku, aku akan menjadi orang tak berharga? Ya Allah, aku benar-benar gila, tolonglah hambaMu. Berilah petunjukMu, tidakkah kau berikan jalan keluar kepadaku? Perasaan berkecamuk menyatu dalam jiwaku antara harapan, kegelisahan, keputusasaan, keindahan, kekhawatiran, ketidakberdayaan dan semua rasa yang pernah manusia pikirkan. Kepalaku pusing hingga terasa tertusuk-tusuk, mataku buram, semua terlihat samar dan semakin menghilang. Sempat terlihat pandangan terakhir, Farhan memegangiku dalam keadaan panik dan semuanya hilang, bagai tak pernah ada.

Hiduplah wahai jiwa, walau dalam kebimbangan yang amat sangat.


[1] Indeks Prestasi, semacam kertas hasil  ujian semester Universitas
[2] Saudara perempuan
[3] Paman
[4] bacaan Al-Quran
[5] Antum=kalian, kata jamak dari anta
[6] Belum
[7] Sahabat Perjuangan : Tazakka

Tidak ada komentar:

Posting Komentar