Jumat, 18 Oktober 2019

Part 11, Sebuah Awal yang Terpaksa

HARI-HARIKU seolah sirna, seperti berada dalam alam khayal atau alam nyata, tak kumerasakan. Daftar nama yang tidak menampakkan apa yang aku cari, meski berhari-hari aku mencoba menguak kembali. Kukira mencari Mawar semudah membalikkan telapak tangan, dengan keyakinan yang  menggebu-gebu. Namun kadang, kenyataan tak selalu sesuai dengan angan-angan. Beberapa hari ini, sebelum tiba di Pasar Minggu, kadang kusempatkan menjambangi setiap Fakultas. Semuanya sia-sia.
Aku menyisir rambutku di depan cermin. Dengan wajah seperti ini, apakah jika bertemu, Mawar akan mengakui persahabatanku. Aku sudah merasa dewasa kini, apakah mimpi persahabatan masih berlaku? Aku mengambil Al Qur’an pemberian Sinta, mungkin kini dia sedang bercinta dengan Tuhannya. Kucium Al-Quran itu, ada resapan lembut yang menjalar dari ubun-ubun hingga kaki. Aku memasukkannya ke dalam tas punggungku, dan memasukkan air minum di samping kanan tas. Aku berangkat, menjemput harapan.
*     *     *
Hari Jumat. Mata kuliah pertama selesai. Saat hendak pulang, tiga orang kakak tingkat meminta izin untuk mengumumkan sesuatu, salah satunya Nugroho, yang menungguiku waktu di rumah sakit. Agenda Mentoring. Seminggu sekali, belajar Al-Quran dan ilmu agama. Aku salah satu yang mendaftar, aku merasa tidak enak jika tidak ikut. Apalagi senyum mereka benar-benar membuatku tidak enak menolaknya.
”Assalamu’alaikum Ali,” Nugroho menghampiriku ketika keluar kelas.
”Wa’alaikumsalam,” aku menyambut uluran tangannya, begitu akrab terasa.
”Gimana kesehatanmu? Kelihatannya sudah baikan.”
Alhamdulillah Kak, terima kasih Kakak mau menjagaku waktu di Rumah Sakit. Aku berhutang budi pada Kakak.”
”Tidak seperti itu Akhi[1], kita sesama saudara seiman harus saling menolong, bahkan kita diwajibkan menjaga darah dan martabatnya, demi tegaknya bangunan Islam. Dan Allah senantiasa menolong hambaNya manakala hambaNya itu mau menolong saudaranya[2]
Ucapan itu membuatku merasa tenang. Aku sempat merasa nyaman dengan sebutan Akhi, yang sering kudengar dari percakapan di Rohis sewaktu SMK, dan aku baru mendengarnya kali ini. 
”Kami melihat semua data mahasiswa baru, dan kutahu di Sekolah Menengah dulu kamu ikut Rohis, bagaimana? Siap meneruskan organisasi itu di Universitas?”
Insyaallah Kak.” Nugroho pamitan, hari ini hanya satu mata kuliah. Aku naik bikun, aku menuju masjid Ukhuwah Islamiyah untuk shalat jumat disana, baru ke Pasar Minggu. Sekarang pukul 11.00.
Aku melangkahkan kakiku ke danau Kenanga, sungguh sejuk walau panas kian menyengat. Aku duduk di tepian danau, mirip dengan balong di kampungku. Sorot kemilau matahari, yang menelisik celah reranting menambah keindahan hatiku, yang beberapa hari ini gelisah. Semilir angin tengah menggulung ombak kecil di danau, terlihat permukaan air sedikit menggurat garis, di tanggulnya ia menggerakkan gemerisik reranting. Alam semesta tengah berbuat hal besar, menggumamkan tasbih. Ada keriap, ada desing, ada cericit burung, ada gemericik air, ada desau angin, ada gema mengagungkan Penciptanya. Hatiku tenang sejenak dibuatnya.
Terlena dengan panorama, hingga sebuah suara dari masjid terdengar mengucapkan salam. Adzan berkumandang. Panggilan suci yang menggetarkan hatiku, untuk bangkit dan segera menghampiri. Masjid Ukhuwah Islamiyah terlihat mentereng dan indah, apalagi letaknya sudah dekat dengan asrama. Aku mengambil air wudhu, begitu ramai. Aku menyelinap di barisan tengah, masih ada yang kosong. Aku shalat dua rekaat dan tenang mendengarkan khutbah.
Khotib hari ini masih terlihat muda, mungkin 29 tahunan. Wajahnya terlihat tenang ketika menyampaikan khutbah. Pandangannya menyejukkan. Materi yang disampaikannya amat menarik, sehingga tidak membuatku ngantuk seperti dulu ketika di kampung, karena di kampung terlihat cuma membaca teks buku, dan kadang membacanya pun salah-salah. Khutbah yang disampaikan memang singkat namun begitu berkesan. Materinya tentang Cinta, aku masih ingat tadi dia bercerita tentang seorang sahabat nabi yang bernama Utsman bin Madh’un ra.
”Dia adalah seorang sahabat Rasulullah saw. Disaat semua sahabat disakiti oleh kaum kafir karena membela agama Allah, Utsman bin Madh’un tetap aman, karena mendapat perlindungan mutlak dari Walid bin Mughirah. Akan tetapi dia berkata dalam hati, ”Patutkah diriku berada dalam kenikmatan seperti ini, sementara para sahabat, demi memperoleh cinta Allah, harus mengalami penderitaan?”
Apa yang dipikirkan beliau? Untuk mendapatkan ridha Allah, hendaknya harus didapat dengan jalan yang sama. Beliau ingin merasakan penderitaan bersama sahabat-sahabatnya. Ia akhirnya datang kepada Mughirah dan berkata, ”Wahai Walid, saya tidak membutuhkan perlindunganmu lagi,” lalu ditanyakan kepadanya, ’kenapa? Apakah kamu mendapat perlindungan yang lebih baik dari diriku?’  Utsman menjawab, ”Benar!” Walid penasaran dan bertanya siapakah pelindung yang dimaksud. Dengan mantap Utsman menjawab, ”Allah. Perlindungan Allah lebih kuat dan lebih mulia.” kemudian beliau pergi dan masuk ke arena ka’bah. Sungguh cinta yang mengagumkan. Bahkan beliau ingin disakiti, seperti halnya saudara-saudaranya yang disakiti di jalan Allah.
Setelah beliau masuk ke arena ka’bah. Dilihatnya para sahabat sedang duduk, begitu juga dengan orang-orang kafir. Sementara seorang penyair terkenal, Labid sedang membacakan bait-bait syairnya. Telah menjadi tradisi ketika itu, jika ada seorang penyair sedang membacakan syairnya, semua orang yang hadir tidak ada yang berani bicara. Hingga saat Labid bersyair, ”Ingatlah, segala sesuatu selain Allah adalah batil...” Utsman bin Mad’un berkata, ”Anda benar!”
Penyair itu pun diam sejenak, dan ketika kembali melanjutkan bait keduanya, ”Dan setiap kenikmatan itu pasti akan lenyap...” tiba-tiba Utsman menyahut, ”Anda bohong! Kenikmatan surga tiada habisnya.” Si penyair itu marah dan berkata, ”Wahai sekalian kaum Quraisy, sejak kapan penyair mulai dilecehkan di dalam majelis kalian?”
”Sudahlah, jangan hiraukan ia! Ia sedang dilindungi oleh Walid,” kata mereka.
”Tidak! Saya sudah menolak perlindungannya,” kata Utsman dengan berani.
Spontan, mereka pun bangun dan memukulinya dengan sadis, hingga bola matanya sebelah terluka parah. Darahnya pun mengucur deras dari sebelah matanya, lalu Walid datang dan menertawakannya, ”Hai Utsman! Andai kamu tetap berada dalam perlindungan seorang yang berwibawa...”
”Tidak! Demi Allah, bahkan jika sebelah mataku yang masih sehat ini pun merindukan, maka bisa jadi akan seperti saudaranya yang sebelah, cidera di jalan Allah. Alangkah nikmatnya jika Allah meridhai setiap luka di jalanNya.”
Subhanallah! Cinta seperti apa ini? Cidera parah pada sebelah matanya tidak dipedulikan, bahkan mata sebelahnya lagi yang selamat masih dikatakan ingin mengikuti mata sebelahnya yang cidera. Saat itu Rasulullah saw datang dan berkata, ”Tidak ya Utsman, kami akan pulihkan sebelah matamu seperti sediakala.” lalu Rasulullah mengangkat  telapak tangannya, dan mengusapkannya ke mata Utsman yang cidera, lalu sembuh seperti sediakala.
Hak cinta adalah untuk Allah dan rasulNya. Dan tanda-tandanya dapat dilihat ketika kita banyak mengingat Allah, baik dengan membaca Al-Quran dan berdzikir. Lalu pencinta itu terlihat ketika dia rindu bertemu dengan Allah, kemudian mengikuti Rasulullah saw, karena beliaulah yang akan mengantarkan kita kepada Allah. Dan kita merasakan kemanisan dan keindahan bersama Allah, disaat sendiri maupun ramai, saat senggang maupun sibuk. Adalah bohong belaka jika ada orang berkoar mencintai Allah, namun pada sepertiga malam tidak mau bercinta dengan Sang Kekasih dengan ruku’ dan sujud menghamparkan wajahnya ke bumi berlama-lama.”
Selesai shalat jum’at aku duduk di depan masjid, udara panas menampar wajahku, membuatku agak malas hendak ke Pasar Minggu.
”Assalamualaikum,” seorang lelaki duduk di sebelahku. Keadaan sekitar sudah sepi.
Aku menjawab salam, dan menengok ke kanan tempat lelaki itu duduk. Aku terperanjat. Aku menyambut uluran tangannya. Sang khotib jumat. Senyumnya tampak tenang, sorot matanya begitu teduh dan nyaman. Wajahnya nampak putih bersih, bulu di dagunya tipis memanjang. Terlihat berwibawa.
”Adik menunggu seseorang?”
”Tidak. Hanya masih sedikit malas hendak keluar. Ustadz sendiri hendak kemana?” aku teringat panggilan sewaktu pemateri waktu di Rohis dulu, seringnya menggunakan Ustadz. Apa salahnya aku memakainya.
”Saya menunggu dua anak saya, tadi salah seorang mahasiswa mengajaknya keluar sebentar setelah shalat.”
Sang Khotib itu bernama Wahid. Ustadz Wahid, begitu aku memanggilnya. Umurnya membuatku tak percaya, 47 tahun. Padahal wajahnya masih sangat muda dan bersih. Beliau mengajar di pondok pesantren di dekat Terminal. Walau lebih tua jauh dariku, namun dia begitu akrab sehingga aku tidak canggung lagi, bahkan aku meminta saran darinya tanpa malu.
”Tadz, seandainya semua yang kulakukan selama ini untuk sebuah janji persahabatan. Apakah aku telah mengingkari cintaku pada Allah? Terus terang saya masih bingung dengan khutbah yang Ustadz sampaikan tadi.”
Ustadz Wahid tersenyum renyah. Matanya menatapku teduh, ”Semua hal, apakah itu cinta maupun persahabatan, asalkan untuk mendekatkan diri dan mengantarkan kepada kesejatian cinta pada Allah. Itu tidaklah mengapa, dan itu dianjurkan kecuali jika itu malah menjauhkan kita kepada Allah, maka tinggalkanlah. Dan aku yakin, engkau pasti dapat mencerna mana yang bisa membuatmu lebih dekat dengan Allah, karena kamu sudah baligh, sehingga mampu memilih mana yang seharusnya dilakukan dan ditinggalkan,” aku mengangukkan kepalaku, begitu nyaman kurasakan.
”Apakah mentoringnya sudah dimulai?” beliau bertanya, dia tahu aku semestar baru dari percakapan kami tadi.
Insyaallah minggu depan Tadz.”
Samar-samar kulihat seorang lelaki menggandeng dua anak kecil, dari kilaunya sinar mentari yang menimbulkan liukan di sepanjang mata memandang, menguapkan panas bumi dan aspal. Mereka mendekati kami, mataku silau ketika mereka telah dekat. Ustadz Wahid tersenyum, setelah menjawab salam dari dua anak kecil itu. Ustadz merangkul kedua anak kecil itu dan menciumnya. Senyumku pun terukir kepada lelaki yang membawa kedua anak Ustadz Wahid.
”Kamu sudah kenal dengan Ustadz Wahid ya?” lelaki itu bertanya heran.
”Barusan saja Kak, barusan ketemu tadi,” lelaki itu adalah kak Nugroho, kedua bocah itu memegang plastik yang berisi juice mangga, warnanya kuning segar. Kami mengobrol bertiga walau sejenak, kedua bocah itu perempuan dan laki-laki,  Fitri dan Muslim. Fitri  berumur 13 tahun dan Muslim 11 tahun, mereka anak Ustadz Wahid yang pertama dan kedua, dan kedua anaknya yang lain di rumah bersama ibunya. Anak Ustadz ada empat kini.
Setelah agak lama, Ustadz Wahid pamitan pulang. Ada yang harus diselesaikan. Mereka naik bikun, jaraknya masih lumayan jauh dengan Terminal, apalagi panas menyengat. Tidak baik untuk kedua anaknya berjalan kaki, di bawah teriknya matahari yang memanggang. Sempat kuingat pesannya, ”Rajinlah belajar dan rajin mempelajari ilmu agama, belajarlah dari akh Nugroho selaku pembimbing mentoring.”
Aku dan Nugroho berpisah, dia hendak rapat di masjid Ukhuwah Islamiyah, sedangkan aku pamitan, tanpa memberitahukan hendak kerja di Pasar Minggu, kecuali kubilang ingin ke Pasar Minggu semata. Dia tersenyum tanpa menanyakan keperluanku kesana. Rahasiaku menjadi kuli aman, aku tidak mau memperoleh simpati. Aku lebih suka bekerja keras, dan mendapatkan hasil dari jerih payahku, yang akan membuatku merasa lega dan tenang.


[1] saudaraku
[2] HR. Muslim

Tidak ada komentar:

Posting Komentar