Jumat, 18 Oktober 2019

Part 10, Mencari Persahabatan yang Hilang

Harus mencari kemana?
Itulah masalahnya. Keyakinanku tidak pernah goyang untuknya, untuk persahabatan. Tapi aku juga sadar, kenyataan tak selalu sesuai dengan angan-angan dan keyakinan. Seusai shalat shubuh berjama’ah di mushola, kusempatkan mengadu kepada Allah agak lama, ”Allah adalah satu-satunya tempat mengadu,” aku teringat pesan Bapak dan Ibu, walau selama ini aku terasa jauh dengan-Nya, setidaknya aku ingin meminta padaNya, agar aku bertemu dengan keyakinanku, cukup  bertemu saja untuk meminta maaf. Tidak lebih.
Kuliah telah melewati masa orientasi, aku memasukkan air putih dalam botol kemasan, yang aku beli kemarin di Pasar Minggu sepulang kerja, ke dalam wadah kecil di samping kanan tas. Di halte depan asrama, aku tak menemukan pak Bejan, mungkin belum datang. Aku memasuki bikun terdepan, warna biru saja. Bikun yang ada warna merah di depannya, mempunyai jalur yang berbeda dengan tujuanku ke FE. Di dalamnya ramai dan penuh sesak. Beberapa mahasiswa berebut tempat duduk, yang hanya berada di pinggir kanan dan kiri memanjang. Aku berdesakan berdiri berpegangan pada besi memanjang di atas. Semua mahasiswa serasa saling acuh, tak ada suara. Aku teringat kehidupan di desa yang semuanya serasa satu tubuh, satu keluarga.
Lamunanku tersentak, bukan karena sudah sampai di Fakultasku, bukan pula karena aku berdiri di belakang. Besi pegangan bikun itu bergetar hebat, di kala hatiku resah mendera, menganak pilu. Getaran itu tak terasa di luar, tapi dari dalam hatiku. Sebuah getaran halus, namun terasa menyetrum jiwaku, walau getaran yang tercipta dibarengi dengan getaran beberapa orang di depanku. Ada satu sengatan lembut yang memaksa kepalaku mencari, dari mana getaran lembut itu tercipta, memastikan.
Hanya perasaanku? Kulihat sekitar ada sembilan orang, yang berpegangan lurus di besi di depanku. Dua wanita berada paling depan dan tujuh pria. Semuanya tampak menekuri pikiran masing-masing. Salah satu wanita di barisan kedua menghadap kanan, dia memandangi pemandangan di kanan bikun, mungkin mahasiswa baru.. Kerudungnya ukuran 60cm. Lalu...
Mataku sejenak tertegun pada wanita di barisan depan, walau sedikit tertutup oleh wanita di belakangnya, dan beberapa orang di depanku. Sempat kutatap wajah itu menghadap ke kiri bikun. Matanya begitu indah, wajah bersih bagai bersinar dan tatapannya seolah melalaikanku sejenak dari kehidupan. Dari diakah getaran itu?
Sampai di halte FIB –Fakultas ilmu budaya- wanita berjilbab itu turun. Halte FE sebentar lagi akan sampai, rute bikun yang tidak ada warna merahnya melewati  stasiun UI, lalu di pertigaan belok ke kanan dan melewati Fakultas Psikologi, FISIP dan FIB. Setelah itu baru FE. Mataku sempat memperhatikannya, ketika bikun melaju meninggalkan halte.
*     *     *
Kuliah yang menyenangkan. Aku yang miskin ini sangat bersyukur kepada Allah, dari sekian ratus juta penduduk Indonesia aku yang dipilih-Nya kuliah, menuntut ilmu, menjadikanku mencintai ilmu itu. Lebih beruntung lagi, aku termasuk yang kuliah di UI. Terlebih lagi, aku masuk kesini dengan mudah dengan Program Pemerataan Kesempatan Belajar (PPKB), yang menikmatinya hanya segelintir orang. Ya Allah, harus kubayar dengan apa semua nikmat-Mu ini, sayangnya kuakui aku belum tahu dengan apa.
Pulang kuliah dengan rindu, rindu ingin kembali lagi esok. Mata kuliah tadi adalah Pengantar Ekonomi dan Pengantar Manajemen. Aku naik bikun sambil tersenym. Sebelum ke Pasar Minggu, aku mempunyai jadwal. Jadwal yang selama ini menjadi tujuan utamaku ke Universitas ini, mencari Mawar. Kuyakinkan di Fakultas Ekonomi, dia tidak ada, karena aku telah mengecek semua nama, dan Mawar tidak ada di antara daftar tersebut. Setidaknya hari ini aku harus mencari ke Fakultas lain.
Apakah aku memang bodoh?
Mencari sebuah nama, di antara delapan belas ribuan lebih mahasiswa, bagaikan mencari jarum di tumpukan jerami, atau jarum yang dicelupkan di tengah samudera. Tapi keyakinanku terhadap Mawar begitu kuat, hingga menumpulkan pikiranku. Kenapa aku tidak ke Rektorat saja, meminta daftar nama seluruh mahasiswa UI dari setiap Fakultas. Aku berhenti di Rektorat dan mengambil data, Alhamdulillah pihak Rektorat memberikannya, dan aku memfotokopinya. Segera kumasukkan ke dalam tas Boggie biruku, tas kesayanganku, karena bentuknya besar dan warnanya merupakan favoritku.
Aku meneruskan perjalanan, berhenti di samping stasiun kereta api. Masuk gang kecil menuju Pasar Minggu. Rudi, kuli yang sebaya di Pasar Minggu melemparkan senyum kecilnya kearahku. Dia terlihat senang, kami berkenalan kemarin.
 Tepat ketika tanganku berjabat dengan Rudi, Adzan dzuhur mendengung. Aku mengajaknya shalat dulu, Senyum kecilnya hilang. Dengan tenang dia memintaku sendirian saja. Aku menganggukkan kepalaku, dan meninggalkannya. Aku harus berdo’a pada Allah untuk mempertemukanku dengan Mawar.
*     *     *
Saat yang kurindukan. Di dalam kamar, maghrib hampir tiba. Aku membuka kertas fotokopi semua mahasiswa. Mencari sebuah nama yang membuatku berdebar-debar, berharap dengan sepenuh jiwa, segelegak air segar dikala haus di padang gersang. Mataku sebentar-sebentar kuusap pedih, demi melihat satu huruf yang apabila dibacakan di depanku, hilanglah segala keberadaan jiwa yang nelangsa memendam rindu.
Ada sepuluh ribu lebih data, bahkan mendekati angka dua puluh ribu. Mawar! Tak apa kukorbankan mataku, jika itu dapat menemukanmu, aku rela. Demi melihat sinar rembulan pancaran dari wajahmu, aku siap melakukan apapun. Hilang sudah kelelahanku siang tadi, mengangkat barang-barang pembelian dari para Ibu rumah tangga, maupun para penjual warung eceran. Lelah di tubuhku telah sirna, tergantikan cahaya harapan yang berpendar-pendar menawan.
Sebuah ketukan pintu membuyarkan semua anganku, kulipat semua kertas yang sedari tadi kutelisik. Kubuka pintu, kak Nugroho. Dia mengajakku ke Mushola, sudah hampir iqomad[1]. Aku menyanggupi dan ingin mengenakan ganti dulu. Astaghfirullah! Aku terlalu keasyikan. Kupakai koko pemberian Bapak, aku jadi teringat pesannya agar jangan lupa shalat, apapun yang terjadi.
Selesai maghrib, Farhan sebelah kamarku nomor dua setelah kamarnya Syarif, piket membacakan kitab Riyadhus Shalihin karya Imam Nawawi yang dibaca dari awal untuk Mahasiswa baru. Bukhari-Muslim meriwayatkan dari Ibnu ’Umar ra, bahwa Rasulullah saw bersabda :”Islam itu ditegakkan di atas lima dasar; bersaksi bahwa tiada ilah(Tuhan) yang berhak diibadahi, kecuali Allah, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji ke Baitullah, dan berpuasa pada bulan Ramadhan.” Farhan membacakan hadits yang lainnya. Jatah membaca 2 hadits.
Aku bergegas kembali ke kamar, membuka pekerjaan yang telah menanti. Sudah kucari dari ribuan nama, namun satu kata itu tak kutemukan sama sekali. Aku meminum segelas air yang kutuangkan dari galon. Di Asrama, paling praktis membeli air minum dalam galon, jika tidak, entah berapa pembengkakan biaya yang akan kukeluarkan. Apalagi aku tidak punya perlengkapan memasak sama sekali. Benar-benar nekad. Kulanjutkan ayunan edaran mataku, Mawar harus kutemukan! Shalat isya’ aku mendatangi Mushala, tidak enak jika diingatkan terus oleh kak Nugroho. Selesai shalat, aku meneruskan menekuri berlembar-lembar data kembali. Membolak-baliknya hingga tak terasa malam mendekati pagi, kantukku tak terasakan. Rindu yang membuncah, mampu membuat ladang gersang bagaikan panorama permai yang ditumbuhi rerumputan hijau, di tepian danau jernih yang menyejukkan.
Kutatap jam dinding kecil yang dihinggapi seekor cicak, pukul 2 pagi. Aku sudah mengulang data itu dua kali, ada dua nama Mawar. Sri Mawar Indah dan Prasetyo Mawar Gumelar. Satu nama perempuan dan satunya lagi laki-laki. Aku hanya punya satu peluang. Sri Mawar, Fakultas Ilmu Budaya jurusan sastra Indonesia. Benarkah dia sahabatku? Semuanya akan terungkap esok. Kantukku belum muncul, aku mencoba mengulang kembali membaca data, siapa tahu ada nama Mawar yang tertinggal. Namun hingga Subuh datang, tak kutemukan lagi nama yang membuatku bergairah menyambut hari.
Siang hari, waktu kuliah mataku benar-benar liyer. Tak kuasa namun tetap kupertahankan, walau pelajaran yang masuk hanya berapa persen. Waktu yang kurindukan adalah, saat dua mata kuliah hari ini mengucapkan sampai bertemu lagi minggu depan. Pasti jiwaku akan langsung terbang, mengepakkan sayap-sayap yang telah kusimpan dari tekadku.
Berita dari pak Ratmono membuatku segera menghilangkan kantuk yang menjalar, dia ada keperluan mendadak, jadi kuliah ke-2 diminta mencari literatur mata kuliah, dan minggu depan baru dimulai pembahasannya. Setelah mencatat judul buku dan pengarangnya, aku segera menaiki bikun menuju FIB, memastikan nama Mawar yang aku tandai. Aku sempat teringat, belum banyak yang kukenal di jurusanku. Mungkin baru dua orang, Hamid dan Hanif, dan kebetulan mereka dekat dengan kamarku, hanya berjarak 3 atau 5 kamar. Kupikir aku kurang adil juga.
Sampai di FIB, aku menanyakan kelas Sastra Indonesia kepada salah satu mahasiswa, yang kutemui di depan Fakultas setelah turun dari bikun. Aku berjalan pelan menuju kelas yang ditunjukkan tadi, kelas sedang masuk. Ada sekitar 40 mahasiswa sedang duduk, memperhatikan seorang dosen wanita yang agak gemuk. Aku melihat  celingukan di balik kaca, mondar-mandir ke depan dan ke belakang, melihat dari sisi samping setiap mahasiswa. Beberapa mahasiswa lelakinya terasa seram, rambut gondrong atau rambut yang tak tersisir, awut-awutan. Beberapa mahasiswa sepertinya melihatku keheranan, lalu meneruskan memperhatikan penjelasan Dosen, tak peduli.
Seorang mahasiswa yang rambutnya gondrong mengangkat tangan kanannya, lalu sejurus kemudian keluar dari kelas. Mungkin izin ke belakang. Saat melewatiku, mulutku tak bisa bertahan, ”Maaf Mas, saya ingin bertanya?” lelaki itu menatapku sejenak. Agak seram.
”Ada apa? Sudah kebelet nih!”
Aku mengatur nada bicaraku, ”Saya ingin tanya, di kelas anda, ada yang namanya Sri Mawar Indah? Kumohon tunjukkan yang mana orangnya,” wajahku kupoles agak memelas.
Insyaallah nanti aja, setelah aku kembali dari WC. Sudah tidak kuat,” belum sempat anganku berharap, lelaki itu sudah melesat bak meteor yang menghantam bumi, hingga tak terlihat bekasnya. Sepeninggal mahasiswa itu aku melirik satu-persatu mahasiswa yang menekuri buku atau pena-nya, macam-macam gaya yang kulihat. Ada 12 mahasiswi, dan...
Pandanganku tertuju pada sebentuk wajah, yang kutangkap dari samping. Wajah putih yang membuatku jantungku berdebar. Wanita di dalam bikun kemarin. Wajahnya pias bercahaya dari balik kaca jendela, seolah gerak kehidupan itu terhenti. Wanita itu sebentar menatap bukunya, menulis lalu memperhatikan Dosen kembali, seolah konsentrasinya hanya untuk pelajaran. Jilbabnya begitu panjang, mahkota terindah bagi wanita. Wajahnya tenang setenang air danau yang jernih di pegunungan, aku tak bisa lagi menggambarkan keindahan wajah yang begitu sempurna, sebagai hasil ciptaan Allah yang Maha Tinggi. Mataku terpaku tak bisa tercabut dari hunjamannya.
Hatiku berdebar, mendesir halus. Mata wanita itu sungguh indah, setiap kedipannya bagai potongan waktu yang memelan, dan angin pun seolah tunduk di sekelilingnya. Wanita itu sejenak menatap ke jendela, tepat dari arahku. Dia melihatku sejenak dari balik kaca, lalu menundukkan kepalanya kembali, menekuri bukunya. Wajahnya seperti tak mau menoleh kearahku lagi, wajahnya seperti ketakutan. Aku jadi merasa bersalah, kududukkan diriku di kursi kayu memanjang di depan kelas itu. Mungkinkah...?
Dia Mawar! Aku yakin dialah Mawar, iya! Aku tersenyum di sela lamunanku yang semakin berbunga-bunga.
”Mas!” aku kaget dan menoleh kepalaku cepat. Lelaki gondrong tadi.
Aku berdiri karena lelaki itu menarik tanganku. Matanya menelisik jendela, menembus kelas, dan memperhatikan teman-temannya di dalam. Telunjuk tangan kanannya mengarah ke suatu arah, di pojok belakang, ”Itu orang yang anda cari.”
”Siapa?” aku sedikit bingung atau kaget
”Sri Mawar Indah, yang tadi anda tanyakan.” aku seolah sadar kembali, lalu kuurutkan pandanganku mengikuti telunjuk tangan kanannya. Aku sempat terpaku seberapa detik. Wanita itu, yang ditunjuk berambut kriting awut-awutan tak terurus, dan wajahnya terlihat lebih seram.
”Maksud anda, Mawar itu yang berambut kriting itu?”
Anggukan kepala mahasiswa itu membuatku hampir pingsan, kukira wanita berjilbab itu, tapi ternyata bukan. Pupus sudah harapanku, aku belum dapat menemukannya karena Mawar memakai jilbab.
”Terima kasih Mas. Bukan itu yang saya cari. Aku pamit dulu,” langkahku gontai, ketika langkah pertama menggerakkan yang kanan.
”Mas! Kelihatannya anda kecewa dan sedih. Kenalkan namaku Angga! Aku siap membantu meringankan beban anda, kapanpun anda butuhkan. Ini kartu namaku,” lelaki itu menjabat tanganku, dan memberikan kartu nama. Aku merasa aneh.
”Nama saya Ali, terima kasih Mas. Insyaallah jika saya membutuhkan bantuan Mas saya akan mencari Mas,” kali ini aku pergi dengan lesu bercampur kelelahan. Aku harus segera tiba di Pasar Minggu, dan sekalian Dzuhur di Mushola dekat Pasar. Aku harus bekerja kembali. Harapan yang kukira indah ternyata belum tersambung, kukira wanita cantik berjilbab itu. Tapi walau bukan, setidaknya aku dapat berpikir jernih, dan tidak menganggap penampilan luar sebagai patokan langsung menilai orang. Angga yang kelihatannya sangar, ternyata lembut bahkan menawarkan bantuan pula.
Mawar..., oh Mawar.
Kemana lagi akan kucari dikau persahabatan yang hilang.


[1] Panggilan shalat sesudah Adzan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar