Jumat, 18 Oktober 2019

Part 9, MATAHARI Bersinar Lagi

Aku membuka mataku pelan, lemah. Silau lampu membuat mataku nanar, kupaksakan mengedarkan pandangan, kamar serba putih. Seorang lelaki tertidur di sebuah kursi dekat ranjang tempatku berbaring, kelihatannya sebaya denganku. Kupaksakan duduk dengan sandaran bantal. Lelaki itu pelan terbangun.
Alhamdulillah, kamu sudah sadar. Akan kupanggilkan dokter,” raut wajahnya langsung berubah ceria.
“Sebentar,” lelaki itu menatapku kembali, “Dimanakah aku sekarang? Dan anda siapa?” aku ingin mendapatkan penjelasan sekarang juga.
Senyumnya mengembang dan duduk kembali, “Kamu sekarang di Rumah Sakit dan aku adalah teman asramamu, kamar kita dekat. Namaku Nugroho semester III,” belum sempat mulutku terbuka dia meneruskan penjelasannya, “Kamu pasti masih sedikit bingung. Malam itu, seorang lelaki bernama pak Salim datang, dan membawa dirimu dalam keadaan pingsan. Setelah tahu kamarmu, beberapa mahasiswa mengantarkanmu bersama pak Salim ke Rumah Sakit, dan akulah yang menjagamu tadi malam.”
“Berapa lama aku pingsan?”
“Dua hari tiga malam, tapi Alhamdulillah kata dokter tensi darahmu telah turun. Jadi jika sudah sadar, kamu dapat pulang. Kamu terkena penyakit darah tinggi turunan, mungkin dari gen orang tuamu. Setelah ini, kamu harus menjaga pola makanmu, dan jangan terlalu berpikir terlalu berat,” lelaki itu menjelaskan tenang.
“Tapi Kak,” aku teringat dia, adalah kakak tingkatku, “Si.., siapa yang akan membiayai biaya rumah sakit ini. Aku tidak punya uang lebih. Lebih baik saya segera pulang saja,” Lebih baik jujur daripada penyesalan di belakang.
Nugroho tersenyum sekilas, “Kamu memang keras kepala, semua biaya disini telah ditanggung oleh pak Salim. Tapi Insyaallah hari ini kamu bisa pulang, sekarang akan kupanggilkan dokter agar memeriksamu.”
Lelaki itu mulai melangkah.
“Kak! Terima kasih atas segala bantuannya,” hanya senyumannya yang terlihat, senyum penuh keakraban. Aku teringat mimpiku kembali, ibu dan cahaya. Entahlah. Mungkinkah itu berhubungan dengan penyakit yang aku derita. Ibu, seandainya karena penyakit itu dari keturunan, aku akan tetap menyayangimu, yang kukhawatirkan adalah Ibu sendiri. Aku paling tidak tahan melihat airmatanya yang jernih mengalir, membasahi pipinya.
”O ya, pak Salim minta maaf, tidak bisa menjagamu terus, walau dia tahu kamu Mahasiswa di sini, tidak bisa menemanimu, katanya ada keperluan penting. Dia sudah mengurus biaya di Rumah Sakit, dan jika ada apa-apa, dia yang akan mengurusnya. Dia juga menitipkan ini padamu,” kak Nugroho memberikan plastik yang tergeletak di meja.
”Terima kasih banyak Kak, aku buka nanti saja.”
”Apakah kamu ingin aku menghubungi keluargamu?”
”Tidak usah Kak, aku tidak mau mereka khawatir. Apalagi..., mereka sangat jauh dari Depok, aku tidak ingin menambah beban mereka.” Nugroho hanya tersenyum.
Hari itu juga, di kala sore, aku sudah diizinkan pulang oleh pihak Rumah Sakit. Hanya saja, begitu banyak tips yang harus aku lakukan, untuk menyembuhkan penyakitku. Aku pulang ditemani Nugroho, ketika sampai asrama, kusempatkan bersua dengan pak Bejan, yang kebetulan sedang mangkal di Bikunnya. Baru mengucapkan salam, beliau langsung menepuk pundakku agak kuat, aku mengaduh karena keadaanku masih lemah. Dia bilang aku seorang pemberani. Katanya pula, namaku begitu terkenal di seantaro Asrama kini, Ali si pemberani. Aku hanya tersenyum.
Hingga dia berkata sesuatu yang membuatku merasa senang. Pekerjaan yang aku harapkan kemarin benar-benar ada, menjadi kuli di Pasar Minggu. Walau pak Bejan bilang pekerjaan itu agak berat, namun aku tetap memintanya, setidaknya itulah yang bisa kulakukan untuk sementara.
Beberapa teman datang ke kamarku, dan mengajak berkenalan, kami saling bercanda hingga larut malam. Ternyata hidup itu begitu indah jika kita mau sedikit membuka diri kita, bukan selalu menutup diri. Mereka berpamitan kembali ke kamar mereka masing-masing. Di sebelah kiri kamarku, kamarnya Syarif di Jurusan Matematika, tepat di depan kamarku Anto si gondrong Fakultas Teknik, selain sebelah kamar, letak Fakultas pun bersebelahan pula. Kalau di sebelah kanan..., hmm..., tidak ada, karena kamarku di ujung tingkat tiga, sesudah kelokan menuju kamar mandi.
Ketika akan memejamkan mataku, aku teringat sesuatu pemberian dari pak Salim yang kemarin aku bantu. Aku membuka plastik hitam itu, sebuah kotak. Ada gambar celuller di luar kotak. Kotak handphone. Segelnya telah terkelupas, walau kemasannya masih terlihat bagus. Aku membukanya, mataku benar-benar terbelalak. Kukira hanya bungkusnya saja, ternyata Handphone sungguhan. Aku menimang-nimangnya, sangat ringan. Aku dulu hanya pernah memegangnya ketika masih sekolah menengah, kini aku memilikinya. Akankah kukembalikan? Tapi saat ini, aku benar-benar butuh uang, sedangkan aku belum mulai bekerja.
Aku keluar dari kamar dan menuju kamar kak Nugroho, yang dibatasi dua kamar. Jadilah malam itu aku mengganggu istirahat malamnya, namun selama dia mengajari cara menghidupkan dan mengoperasikan Hp, tidak terlihat  wajah tidak senang. Senyumnya lah yang selalu kulihat. Beberapa detik setelah Hp aktiv, sebuah sms masuk.
Assalamu’alaikum, jika sudah sembuh. Tolong telepon saya segera. Pak Salim.
Ternyata Handphone itu telah di beri nomor baru, dan sekaligus telah dibubuhi satu nomor, Salim. Aku meminta saran kepada Nugroho, apakah akan dihubungi sekarang, tapi dia memintaku untuk besok pagi saja, karena ini sudah larut malam. Aku mengikuti usulnya, lalu pamitan ke kamarku.
Aku merebahkan tubuhku di kamar, malam semakin merangkak. Suara pesawat terbang masih kadang terdengar, kadang suara kereta turut menimpalinya. Sebelum tidur, sempat terpikirkan ketika besok menghubungi Pak Salim, ingin mengungkapkan sesuatu, yaitu  ingin menjual Hp itu. Setidaknya dibelikan yang jauh lebih murah, karena bagiku itu termasuk mewah, Nokia 6600. Seperti saran Nugroho, jika mau di jual, ijinlah pada yang memberi, dan nantinya tetap untuk membeli Hp dengan harga lebih murah.
*     *     *
Matahari kembali bersinar di ufuk timur, terlihat begitu indah dari samping kamar asramaku di tingkat tiga. Saatnya mandi, hari ini begitu indah. Pak Salim mengijinkanku menjual Hp pemberiannya, katanya terserah padaku mau diapakan. Toh Hp itu sudah menjadi hakku. Setidaknya untuk biaya sementara di sini. Pak Salim juga berpesan, jika butuh sesuatu jangan sungkan untuk menghubunginya.
Setelah mandi, aku mengenakan baju kotak-kotak. Aku harus segera berangkat. Aku teringat sesuatu. Kuambil Hp. Ku pencet beberapa nomor.
”Assalamu’alaikum, peu haba, na[1] Wanda?” Sapaku dalam bahasa Aceh. Aku teringat Udin temanku waktu SMK, dia asli Aceh. Darinya, aku bisa sedikit bahasa pasarannya.
”Wa’alaikumsalam, haba get[2] ini siapa?” nadanya agak sinis.
“Kamu lupa sama aku?” nadaku bercanda.
”Maaf! anda salah sambung, tut..., tut..., tut...,” aku sedikit kaget. Aku hanya sedikit menyapanya dalam bahasa Aceh, tapi aku mendapat reaksi tak terduga. Kuketik beberapa huruf untuk Wanda.
Assalamu’alaikum, Maaf jika mengganggumu. Aku Ali, siapa lagi kalau bukan preman yang membaca Al-Qur’an di bus,
Dalam hitungan puluhan detik, hp-ku berbunyi.
Wa’alaikumsalam. Aku kirain siapa, aku minta maaf. Kudengar kamu masuk rumah sakit? Udah sembuh?
Alhamdulillah sudah, hari ini sudah bisa mulai kuliah.
Ali! Namamu kini terkenal di mana-mana. Di asrama putri, beberapa mahasiswi ingin kenalan. J
Dasar! Aku kan orang desa. Mana ada yang mau. Memangnya tahu ceritanya?
Oya! Katanya tidak punya Handphone?
Alhamdulillah dapat rezeki.
Iya. Udah ya, nanti telat. Ini hari kedua orientasi, jaga kesehatan! Wass.
Kuambil beberapa buku ke dalam tas, sempat terpikir tentang perilaku Wanda. Mungkin dia merasa terganggu, di pagi hari meneleponnya sehingga dia agak marah. Toh setelah itu dia bercanda lagi seperti biasa, aku merasa akrab dengannya walau baru kenalan. Aku bergegas lalu mengunci pintu kamar, biaya kos di asrama UI memang lebih murah dari tempat lain. Aku memakai topi kesayanganku, pemberian dari Bapak.
Di depan Asrama, aku tidak langsung naik Bikun, aku menunggu seseorang. Itu dia baru datang, pak Bejan. Aku naik Bikun yang dikemudikannya, kuambil tempat paling dekat dengannya.
”Pulang kuliah, kamu sempatkan ke Pasar Minggu. Cari pak Surip, semua orang di pasar tahu. Dia pemilik toko emas Mulia. Bilang saja dari Bejan, dia sudah aku beritahu,” pesan pak Bejan, ketika aku turun di halte Fakultas Ekonomi.
”Terima kasih banyak Pak,” aku menganggukkan kepalaku. Lelaki setengah baya itu tersenyum tulus, lalu melaju kembali mengantarkan duta-duta penimba ilmu.
*     *     *
Hari ini matahari benar-benar bersinar indah, walau agak menyengat ubun-ubun. Sepulang kuliah, -hari ini masih orientasi mahasiswa baruaku langsung ke Pasar Minggu, yang letaknya tidak jauh dari asrama, di dekat stasiun kereta api UI. Mencari pak Surip sangat mudah, beliau begitu ramah padahal toko emasnya begitu besar. Hari itu juga, aku langsung mulai bekerja. Melipat kemejaku dalam tas, dan segera antri dengan teman-teman kuli yang lain.
Menjadi kuli pasar tidaklah berat, tergantung orang yang menjalaninya. Hari pertama ini, kubuat kesan yang baik untuk penyemangat selanjutnya. Apa saja barang yang datang dan hendak di angkut pergi, semuanya harus siap diangkat. Entah itu; beras, cabai, bawang, snack, dan macam-macam lainnya. Rata-rata kuli itu baik padaku, setidaknya mereka selalu mengajakku bercanda, aku paling muda di antara mereka. Yang aku senangi dari mereka adalah, pekerjaan itu tidak membuat mereka lalai dalam beribadah. Saat adzan Ashar berkumandang, mereka istirahat untuk sholat berjamaah, walaupun tidak semuanya.
Aku pulang dari pasar pukul 17.00, sebagian besar kuli sudah pulang. Pasar juga sebentar lagi banyak yang tutup. Uang yang kudapat Alhamdulillah sudah banyak menurutku. Hari-hariku akan kumulai, aku harus terus bertahan. Besok aku harus segera memulai mencari Mawar, aku yakin dia di UI. Getaran persahabatan itu begitu terasa dekat. Tapi aku sedikit ragu, apakah dia mau bersahabat denganku? Seorang kuli. Setidaknya aku harus menetapi keyakinanku.
Semburat senja mengiringiku hingga ke Asrama, begitu merona jingga. Tadi siang ketika di pasar aku menjual Hpku di counter, Alhamdulillah laku satu setengah juta rupiah. Aku membeli Hp murah, nokia 3310 seharga dua ratus ribu. Itu sudah terlalu bagus bagiku, jika bukan karena pak Salim, aku malas membeli Hp. Langkahku mantap melangkah, melewati koridor menuju kamarku. Aku harus segera mandi, bauku apek sekali.


[1] Apa kabar, ada Wanda
[2] Kabar baik

Tidak ada komentar:

Posting Komentar