Jumat, 18 Oktober 2019

Part 8, Asrama UI

Tengah hari ini, kota Depok sejuk di antara pepohonan dan bunga-bunga, yang walaupun liar namun ditata dengan indah. Universitas Indonesia, aku datang kini. Membawa harapan dan semangat. Kutahu informasi ketika aku masih SMK, Universitas Indonesia secara resmi berdiri sejak tanggal 2 Februari 1950, mempunyai  latar belakang sejarah yang unik. Awalnya dikenal dengan Universiteit Van Indonesie, yang didirikan oleh pemerintah Belanda tahun 1946. karena Indonesia mendapatkan kemerdekaan pada tahun 1945, maka pemerintah Belanda menyerahkan Universitas tersebut kepada pemerintah Indonesia pada tahun 1950, dan sejak itu dinamakan Universitas Indonesia. Pada tahun 1951, UI hanya terdiri dari 10 fakultas yang tersebar di lima kota besar, Jakarta, Bogor, Bandung, Surabaya, dan Makassar. Kemudian, cabang-cabang di luar Jakarta tersebut, menjadi universitas-universitas atau institut-institut yang berdiri sendiri.
Sejak didirikan, UI telah mengambil peranan penting di negara ini, tidak hanya di bidang pendidikan, tetapi juga di banyak bidang lain. Ketika Orde Baru dimulai pada tahun 1966, Pemerintah telah menunjuk beberapa guru besar UI, untuk menduduki jabatan Menteri, dengan tujuan untuk memulihkan kembali situasi Ekonomi nasional. Sejak saat itu, UI secara konstan telah memberikan kontribusi nyata pada usaha-usaha Pemerintah, untuk meraih kemakmuran nasional.
Pada tanggal 26 Desember 2000, melalui Peraturan Pemerintah RI Nomor 152 tahun 2000, Universitas Indonesia ditetapkan sebagai perguruan tinggi negeri mandiri berstatus Badan Hukum Milik Negara (BHMN). Dalam status tersebut, UI wajib lebih mengedepankan kinerja pengelolaan sebuah universitas publik, dengan prinsip-prinsip efisiensi, efektivitas, akuntabilitas, dan transparansi.
Aku berjalan menyusuri jalan yang berada di sebelah kiri danau, yang baru kutahu namanya dari Wanda, ya, danau Kenanga. Terletak di dekat masjid Ukhuwah Islamiyah, pusat masjid UI. Wanda berjalan di belakangku sekitar 5 meteran. Sesekali dia mengajak berbicara. Rektorat UI terlihat begitu tinggi dan megah, bentuknya seperti pagoda, yang sekilas mempunyai lima ujung lancip, dan di tengah yang paling tinggi, sedangkan ujung yang empat mengelilingi lancipan yang utama. Besar sekali, mungkin bisa untuk menampung semua orang di Kampungku.
Danau Kenanga terhampar sejuk, menjadikan airnya berkilauan terpantul kehijauan, dan pernak-pernik bunga yang mengelilinginya. Maka, ia tampak tersenyum saat ditimpa sinaran mentari. Beberapa pemancing saling bercakap sambil menunggu penuh harap, dan beburung menata sarangnya di atas pepohonan di tepiannya. Seakan, tiap jenis kehidupan menjadi lebih bahagia berada di danau ini.
“Sepertinya celanamu tidak sesuai dengan dirimu Ali?” sebuah suara lembut dari arah belakang, kembali menyapaku.
“Sebenarnya aku juga tidak mau lagi memakai celana ini. Aku salah sangka. Kukira di Jawa orangnya keras, seperti persaingan bisnis di televisi dan koran yang selalu memanas, juga di koran-koran yang beberapa kali terjadi banyak kejahatan dan kekejian di daerah Jawa. Makanya aku iseng memakai celana ini, agar aku tidak diganggu disini. Setelah ini, aku tidak akan memakainya, aku selalu malu jika mengingatinya. O..ya, kenapa kamu bertanya seperti itu Wanda?”
“Tidak, hanya saja aku sempat heran kemarin. Masa’ ada preman baca Al-Quran di dalam bus. Wah bisa buruan kiamat nanti, karena semua serba kacau dan gonjang-ganjing,” Sempat kumenoleh sejenak, tawa kecilnya begitu ceria. Jilbabnya berkibar terkena sepoi angin, bersinar terpantul sinar matahari. Aku meneruskan langkahku.
Tak lepas mataku dari keindahan. Beberapa bunga kertas berjejer, ditata dengan indah, bunganya pun tersenyum sambil tergerak keatas, menatap sang surya. Beberapa orang terlihat memancing dengan takzim dan mesra, menunggu penanda tergerak ke dalam, dan senar terasa tertarik. Wajah ceria tampak, ketika seekor ikan berwarna hitam yang di kampungku belum pernah kulihat terangkat keatas, dan mereka masukkan ke dalam wadah yang telah mereka sediakan. Beberapa pasangan lelaki dan perempuan, kulihat sedang duduk-duduk memandangi danau dan burung yang riang hinggap dan terbang. Semuanya bagaikan surga dunia, hingga kami sampai di gedung tinggi menjulang itu, masuk dari arah belakang, karena di samping kiri sedang ada perbaikan.
Hari ini aku benar-benar mengikuti semua yang dilakukan oleh Wanda, semuanya! karena aku memang tidak tahu sama sekali, proses daftar ulang dan mengurus semua persiapan kuliah disini bagi Mahasiswa baru yang menerima PPKB sebagai program UI, yang memberikan kesempatan bagi mahasiswa baru yang berprestasi dari daerah. Naik lift pun aku belum pernah, makanya aku mengikutinya ketika naik lift di Rektorat, sungguh malu rasanya, namun apa boleh buat. Wanda sedari tadi sepertinya selalu tersenyum kecil, sambil mengajariku segala sesuatu yang  berhubungan dengan cara kuliah, entah darimana dia tahu banyak seperti itu.
Setelah melakukan registrasi dan pendaftaran mahasiswa PPKB, aku mengikuti Wanda lagi naik bus menuju Asrama UI, karena aku juga belum tahu tempatnya. Bus kembali membawaku, kulihat sang supir bukan yang pertama kali kunaiki sewaktu datang ke UI. Kulihat jendela, aku  melewati Fakultas MIPA. Bus berhenti, seperti yang kuduga, beberapa orang naik dan turun. Bus kembali mengepakkan sayap-sayapnya, mengibaskan debu-debu jalan. Pemandangan begitu indah kupandangi, hutan karet yang asri, dan beberapa danau yang menyejukkan ditambah lagi, aku teringat persahabatan yang selama ini aku perjuangkan dengan seluruh jiwaku.
Bus melewati Wisma Makara, entah untuk apa bangunan itu, aku hanya melihat plang di depannya saja. Mobil terus melaju, dan berhenti di salah satu halte dan beberapa mobil juga sedang berhenti disana. Mungkin ini pangkalan busnya, pikirku. Mungkin bus akan melaju kembali, tapi ternyata semua penumpang turun tanpa tersisa sama sekali, Wanda kembali mengingatkanku untuk turun. Aku turun dari Bus, ada plang tertulis di depan, “Asrama Mahasiswa.”
“Ali, kita harus berpisah. Mendaftarlah di bagian asrama putra karena asrama putra dan putri terpisah,” tangannya menunjuk kearah bagian bangunan bertingkat di depan kami.
“Baiklah. Terima kasih atas semua bantuannya,” aku beranjak meninggalkannya.
“Ali,” Wanda menghentikan langkahku kembali.
Aku menoleh, “Ada apa?”
“Senang berkenalan denganmu. O ya, kamu punya nomor Hp?”
Aku tersenyum padanya, “Sama-sama, terima kasih banyak atas bantuannya dan maaf, aku tidak punya handphone,” aku mulai melangkahkan langkahku lagi tapi aku teringat sesuatu, “Wanda! Assalamu’alaikum,” agak kaku.
“Wa’alaikumsalam Warohmatullah, maaf Ali, ada satu hal lagi pesanku.”
“Apa itu?”
“Jangan pakai lagi celanamu itu ya!” wajahnya bagai pualam yang kemerahan, ditimpa cahaya matahari.
Aku tersenyum, ada-ada saja. Aku berlalu menaiki tangga, kantin mahasiswa terlewati. Matahari tersenyum, panas menyapa. Tasku telah berat terasa. Dzuhur tiba.
*     *     *
Aku resmi menjadi penghuni Asrama, setelah  Dzuhur aku mengurusnya. Beberapa syarat-syarat telah kupersiapkan dari Lampung, karena melihat informasi di interned. Di antaranya surat keterangan sehat dari dokter, fotokopi kartu keluarga, dan pas foto 4x6, hanya keterangan dari wakil Dekan Fakultas yang belum ada, maka aku segera menaiki Bikun bis kuningmeluncur ke Fakultas Ekonomi. Syarat tinggal di asrama hanya diperbolehkan selama dua tahun, setelah itu harus hengkang untuk semester baru.
Asrama UI mempunyai kapasitas kamar berjumlah 1.059, 444 putra dan 615 putri, fasilitasnya juga lengkap, ada televisi yang berada di kantin, wartel, warnet, rental komputer dan lain-lain. 
Di Asrama Mahasiswa aku tinggal di kamar C.3/31, berada di tingkat ke-3. satu kamar untuk satu orang, dan biayanya Rp 125.000/bulannya. Ini termasuk murah, jika dibandingkan kost di luar asrama yang bisa berlipat-lipat. Kamar Asrama UI sangat banyak, mungkin jumlahnya mendekati angka seribu atau malah lebih. Aku duduk di teras ketinggian lantai 3, pepohonan rindang nampak sejuk. Setiap beberapa menit kereta api lewat, menderukan bunyi pekak karena stasiun sangat dekat dengan asrama. Setiap jam juga pesawat lepas landas, terlihat menderu awan karena letaknya juga dekat dengan asrama. Pemandangan yang sangat berbeda dengan kampungku.
Beberapa Mahasiswa melewati lorong dan diriku, ada yang tersenyum dan ada yang berlalu begitu saja. Hari ini, aku terlalu lelah untuk berkeliling sambil melihat Fakultas Ekonomi tempatku selanjutnya belajar. Ada empat konsentrasi disana. Ada Manajemen Keuangan, Pemasaran, Sumber Daya Manusia, dan Manajemen Operasi. Aku mengambil konsentrasi Manajemen Pemasaran. Aku masuk ke kamar, saatnya berbenah dan bersih-bersih. Kamar 2,5 x 3 meteran ini akan menjadi saksi, bahwa pernah ada yang kuliah di UI. Seorang kampung yang mencari persahabatannya. Aku tersenyum, mengedarkan pandangan ke seluruh pojok kamar.
Malam menyapa, aku merasa lapar. Aku turun dan menuju kantin Asrama, begitu besar dan kursi tertata rapi dibagi dalam tiap meja masing-masing. Ada yang makan sambil berbincang, ada yang makan sendirian, ada yang menikmati dengan lahapnya, aku memesan nasi sayur daun singkong ditambah tempe. Ah! Nikmatnya. Sambil makan, aku terus terbayang bagaimana caranya dapat bertahan hidup di Depok, kuliah sambil kerja. Harus!
Ba’da Isya’, aku keluar dari Asrama, berjalan-jalan menghirup udara malam, dingin. Aku sempat berbincang kepada supir Bikun yang tadi siang kutanyakan ongkos bus. Namanya pak Bejan dari Jombang, Jawa Timur. Pak Bejan memiliki istri dan tiga orang anak yang tinggal di dekat Pasar Minggu, di dekat terminal kereta api, sekitar 1 km dari asrama. Dia begitu semangat mengatakan aku anak desa, karena tingkahku tadi siang. Aku tersenyum padanya. Kutahu dari kata-katanya yang tulus, bahwa pekerjaan baginya adalah ibadah. Sungguh sejuk terasa di hatiku.
“Apakah Bapak bisa membantu saya?” aku mencoba membuka diri.
“Apa yang bisa kubantu orang Lampung?”
Orang Lampung selalu jadi sorotan di seantaro Indonesia, terkenal karena kasarnya. Tidak tahu darimana awalnya, hanya saja jika suku apapun pokoknya kalau lahir di Lampung, bisa dipastikan pandangan pertama adalah keras dan kasar perkataannya. Susahnya adalah ketika melamar pekerjaan, jika tertulis lahirnya di Lampung, biasanya akan di tumpuk di urutan terakhir.
“Aku di UI dengan biayaku sendiri, orangtuaku kepayahan membiayai pendidikan kedua adikku. Aku mohon, carikan aku pekerjaan Pak, yang bisa disambi dengan kuliah?” aku menatapnya, berharap tulus.
“Pekerjaan? Waduh Bapak juga bingung Nak. Bapak mah kenalnya sama orang-orang di seputaran Pasar Minggu, paling ada pekerjaan jadi kuli Pasar Minggu. Maaf, Bapak cuma bercanda.”
Aku memotong senyumnya cepat, “Tidak apa-apa Pak, saya mau,” kini giliran pak Bejan melongo, mulutnya membentuk lingkaran, hilang sudah senyumnya. Dia berjanji akan menanyakan tentang kerja kuli di Pasar Minggu, dan memberi informasi kepadaku jika sudah dapat. Dia minta izin pamit pulang, karena waktu kerjanya habis dan harus kembali ke keluarganya. Aku menyalaminya, berharap dia mau membantuku. Dia mengangguk dan berkata padaku, bahwa aku adalah orang yang punya semangat tinggi. Katanya pula, aku akan menjadi orang besar dan berpesan untuk selalu belajar dengan sungguh-sungguh. Aku mendapat teman baru yang baik-baik di UI. Aku tersenyum menatap langit yang tertutup jubah malam, rembulan terlihat remang, terima kasih Allah. Aku berjalan menyusuri jalan, menghilangkan kebosanan di kamar.
Waktu menunjukkan pukul 22.00, aku kembali ke Asrama. Langkahku terhenti di jalanan sepi, di antara pepohonan karet. Tiga orang mengendap-endap di tengah jalan pembatas, antara jalur kiri dan kanan. Sebuah mobil Xenia dari kejauhan terlihat menyorotkan lampunya. Salah seorang, si rambut gondrong melebarkan tangannya di tengah jalan, yang akan dilalui mobil tersebut, dua orang lainnya merunduk di balik pohon. Aku memperhatikan secara seksama, ada yang tidak beres.
Mobil mengerem, cericit agak kuat. Si lelaki di depan mobil mendekati mobil dan mengetuk jendelanya, aku mendengar jelas karena nadanya sedikit berteriak. Lelaki itu meminta si pengemudi mobil membantunya, karena temannya terkena kecelakaan di jalan depan. Dua orang yang mengendap di belakang mobil, memukul sesuatu di ban mobil dan, “pesss!” tepat disaat si pengemudi mobil turun, dan pisau telah mengkilap berada di perutnya. Si pengemudi mengeluarkan dompetnya pelan. Handphone dan arloji dilucuti secara paksa. Aku teringat Bapak, aku harus bertindak.
“Hentikan! Kembalikan barang yang bukan hak kalian!” kulihat wajah kekagetan mereka, si penodong memberi isyarat kepala, dua orang lainnya mendekatiku sambil menyinyir kuda. Ocehan menghina keluar dari mulut-mulut mereka, aku mencoba tenang, setenang Bapak bekerja dengan senyumannya. Si kumis tipis mendekatiku dan melihat celah punggungku. Tendangannya mengayun, aku menepis dengan tangan kiriku dan tangan kanan segera meluncur mengenai perutnya, kulihat suara tercekak di tenggorokannya. Tubuh si kumis jatuh ke bawah, sambil mengerang kesakitan. Kutambah lagi tendangan sebagai bonus.
Si baju kotak-kotak seperti melihat kesempatan, tapi refleksku telah terlatih. Sebelum tangannya mendarat di wajahku, pukulanku lebih cepat mengenai dadanya disusul tendangan berputar seperti film Jet Li yang pernah kulihat. Tepat mengenai pipinya. Tubuh itu jatuh terjengkang. Wajah panik menggelayuti si penodong, didorongnya lelaki berumuran 40an itu. Tangannya bergantian melempar pisau, berpindah dari kiri ke kanan sambil mendekatiku. Senjata harus dilawan senjata, aku menarik kait ikat pinggang, dan memegang ujung agar memudahkan kepalanya bergerak. Saat si gondrong mengayunkan pisaunya, kepala ikat pinggangku telah lebih dulu tepat mendarat di jidatnya. Saat kurebut pisaunya, tangannya masih kuat mengayun. Lengan kiriku tergores, segera tangan kananku menyikut dengan kuat, di antara mata si gondrong, tubuhnya mental ke belakang. Pukulan yang kuat kurasa.
Aku mengambil dompet yang tercecer beserta Hp, “Jangan berbuat kejahatan lagi, carilah rezeki yang halal! Pergilah kalian!” mereka terhuyung-huyung pergi sambil mengucapkan terima kasih, moga-moga mereka mau sadar. Zaman yang semakin rusak, kadang aku heran ketika orang berkata, “Yang haram saja susah, apalagi mencari yang halal!” kata Bapak, itu hanyalah nafsu yang berbicara. Bukanlah halal itu indah dan menentramkan? Aku menggelengkan kepala sambil mendekati si pengemudi mobil.
“Ini dompet dan Hp anda,” kulihat wajahnya tenang walau tadi diancam, senyumnya seolah aku kenal. Mungkin hanya perasaanku.
Aku baru sadar, darah hangat mengalir di siku membasah di baju. Segera kusobek lengan kiri baju setelah dompet berpindah tangan, mengikat kencang agar darahnya berhenti, persis seperti ketika dulu sering menyabit rumput dan terkena sabit, maka segera kusobek baju atau mencari kain lain, lalu mengikatnya kuat. Alhamdulillah darahnya berhenti.
“Bagaimana kalau mas saya antar ke rumah atau Rumah Sakit terdekat?” lelaki itu melepaskan kacamatanya.
“Tidak usah Pak, aku tidak apa-apa,” aku memperhatikan ban yang kempes di sebelah kiri mobil, “Ban mobil anda bocor, tadi sempat kulihat mereka menusukkan benda di ban anda.”
“Iya, apakah di sekitar sini ada bengkel?”
“Maaf Pak, saya baru datang ke UI tadi siang, jadi belum tahu seluk-beluknya. Apakah Bapak punya kunci-kunci untuk memperbaiki mesin?”
“Iya, tapi saya tidak bisa mengganti ban.”
Insyaallah saya bisa.”
Lelaki itu membuka bagasi, dan mengeluarkan sekotak kunci-kunci yang sebenarnya aku sendiri tidak tahu nama-namanya, hanya saja sewaktu perjalanan naik tanki kemarin, mobil sempat bocor di  Bandar Lampung, dan temanku si kenek mengajariku mengganti ban. Aku mulai praktek, baru kemarin aku melihat dan kini aku  harus bisa. Mulai kupasang dongkrak dan melepaskan ban, lalu memasang ban serep, ternyata aku bisa walau durasi waktunya jauh lebih lama, tanpa terasa peluhku menghiasi wajah.
Lelaki itu ,memperhatikanku sedari tadi sambil berbincang denganku, namanya Abdullah Salim, biasa dipanggil Salim. Dia ke UI mengantarkan kedua adiknya yang kuliah disini, sekalian mengurusi permohonan tinggal di asrama UI, dan kutahu dari ceritanya, bahwa supirnya sedang sakit, sehingga dia sendiri yang mengemudikan mobil. Dia memintaku bercerita pula tentangku, kuceritakan tentang kenekatanku kuliah di UI dengan hanya membawa uang seadannya. Dia tersenyum dan memintaku untuk tetap tegar, pasti ada jalan jika manusia berusaha. Aku memasukkan kunci-kunci ke dalam kotak, dan memasukkannya kembali ke bagasi.
Aku berpamitan ingin kembali ke Asrama, malam telah larut. Pak Salim tiba-tiba memberiku kartu nama dan dua lembar uang seratus ribuan, aku sempat menolak, tapi pak Salim memaksanya. Aku menerimanya, karena memang aku juga membutuhkan banyak uang di UI. Aku mengucapkan salam padanya, kulihat dia belum masuk ke mobil dan selalu memperhatikanku, mungkin dia menungguku hilang dari pandangan. Aku meninggalkannya. Baru beberapa langkah, mataku berkunang-kunang, liyer-liyer, seperti ada ribuan ulat menari-nari dan semuanya menjadi serba putih. Lalu gelap.
*     *     *
Aku mendapati jasadku berada di antara cahaya putih, menyilaukan sekali, kupandangi sekelilingku. Sebuah ruangan yang bersih, tidak ada meja ataupun perabotan lainnya. Ada seseorang di depanku, tapi wajahnya berkilauan tak jelas. Dia semakin mendekat, langkahnya pelan gemulai.
Duhai, ibu…, napasku senggal, tak kuat bersuara.
Senyumnya seindah pawarna, seelok bunga serunai, semesra bintang yang setia menemani bulan. Ibu… aku tak bisa berbicara, bergerakpun aku tak kuat, hanya kakiku yang bertahan berpijak pada lantai yang bercahaya pula. Lantainya jernih, lebih jernih dari kaca.

Dia mendekatiku hingga sampai tepat di depanku, tangannya kirinya terbuka mengelus kepalaku pelan, dan tangan kanannya meraih tangan kananku, memindahkan sesuatu dari genggamannya. Lalu berlalu dan hilang entah kemana, sempat kulihat airmatanya mengalir lalu tak kelihatan lagi. Aku sendiri, kubuka pelan tangan kananku. Kini aku dapat menggerakkannya kembali. Tidak ada apa-apa di tanganku, padahal jelas tadi aku merasakan sesuatu berpindah dari tangan ibu. Tapi telapak tanganku terisi cahaya yang menyilaukan, mataku silau, dan cahaya itu merambat dari telapak tanganku ke seluruh ragaku. Cahaya ada dimana-mana, di  hatiku, di mataku, di telingaku, di tanganku, di kakiku. Begitu indah menyilaukan. Dan mataku tak kuat lagi, semua tiba-tiba. Hilang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar