Jumat, 18 Oktober 2019

Part 7, Merangkai Mimpi Menyulam Harapan

Ketika langit mendung menyapa, ketika angin pagi menyambutku tidak seperti biasanya. Langkah ini mengayun ke suatu arah, mengalun laksana putaran nada yang dinyanyikan, dengan syair sendu, patah hati atau lagu penuh penderitaan, atau penuh semangat dan kebahagiaan.
Semakin larut, semua lamunanku tercecer di setiap terjal jalan yang kulewati, membiarkanku pergi, seolah tak pernah mengharap kehadiranku lagi. Mendung yang bertelekan di atas kepalaku, seolah menambah pekatnya kidung duka. Angin sepoi pagi ini menamparku tak bersahabat, pohon yang berderet tak beraturan di sepanjang jalan, tak terlihat melambaikan isyarat menghiraukan keberadaanku. Kupandangi lagi arah pusaran desaku, hanya sisa kenangan yang tertinggal.
Aku tidak tahu, sadar atau tidak sadar. mengambang atau tenggelam, yang kurasakan, kakiku melangkah dan harus terus melangkah, walau langkah ini semakin lama semakin berat terasa. Bapak yang kini kutinggalkan mungkin sedang membuka pintu kamarku, untuk mengenangku kala rindunya menyentak kalbu, pagi senja tidak seperti biasanya. Kali ini, aku yakin Bapak akan kesepian, dan mungkin lelehan embun itu akan terlihat mengalir lagi, atau mungkin dia akan pergi ke belakang, dimana setiap pagi aku selalu memberi makan ayam-ayam peliharaanku, kala itu senyumnya pasti mengembang, melihatku bermain bersama si Jalu dan jali.
Ibu mungkin sedang meneteskan airmatanya, di kala menggoreng pisang dan tahu bunting. Mungkin dia akan sejenak keluar rumah, mencoba mencari bayanganku. Ya Allah, kenapa aku selalu menjadikan orang lain menangis? Masih ingatanku tajam, saat aku mencium punggung tangan Ibu, dia berkata, “Pergilah San, sumur dan gudang ilmu menunggu jemputanmu. Jangan berpikir hidupmu hanya untuk kami, tapi hidupmu adalah untuk semua orang,” lelehan ketegaran masih kulihat dari wajah ibu, hingga aku meninggalkannya.
Begitupun dengan ketegaran Bapak. Sedang apakah engkau sekarang? Seperti pesanmu, aku kini membawa semangat. Aku ingat ketika aku mencium punggung tanganmu, dan engkau berkata padaku, “Pergilah, di rembang petang kehidupan, engkaulah fajar penerang hari, penerang hati Bapak. Jangan mengkhawatirkan keadaan Bapak disini, janganlah berpikir telah merenggut wajahmu dari tatapan mata kami yang merindu. Walau engkau nanti jauh disana, hati kita mempunyai ikatan yang membuat kita bermesraan tanpa ada jarak. Jadilah cahaya bagi kegelapan, gapailah bintangmu, yang menunggu sinarmu,” dan senyum terakhir yang kulihat itu, telah memburaikan airmataku, hingga menjadi tetesan yang berjatuhan di bumi.
Masih segar ingatan ini pesan paling dalam mereka, “San, jangan pernah melupakan shalat,” Shalat. Insyaallah, aku tidak akan pernah meninggalkannya.
Kukecup kening Fajar, umurnya kini 15 tahun. Yasmin menangis saat aku memeluknya, “Jangan pernah sombong pada kemenanganmu, tapi semakinlah merunduk, jika engkau semakin bertambah ilmu. Jadilah selalu yang terbaik.” Yasmin melambaikan tangannya dalam ingatanku. Keluargaku, harapan itu telah menguatkan kita di kala sepi mendera..
Kokok ayam sudah mulai terdengar satu-satu, kicauan burung bersahutan memamerkan suaranya riang, sambil menyambut mentari pagi ini tersenyum, dan menyapa kehidupan yang baru. Aku mendaki lereng bukit, langkahku kini yang memandu, bukan pikiranku lagi. Meneruskan perjalanan pengasinganku.
Dari atas lereng, aku melepaskan pandang penuh perhatian, yang muncul dari balik kegelapan kabut. Nampak jelas sebuah rel kereta api membentang sepanjang mata memandang, yang masih samar tertutup sisa percikan embun. Sepi bukan hanya mendera panorama, tapi hatiku lebih sepi kurasakan, tak bisa dibandingkan, dengan senyapnya pagi di perjalananku kali ini.
Dadaku merasa lapang, meluap ingin segera melupakan kehidupan, menuju tempat yang belum pernah aku jamah. Tapi dimanakah itu? tempat dimana aku bisa menggali dan menimba bekal. Ya, bekal untuk perjalanan yang panjang.
Namun, ketika aku mulai melangkah menuruni lereng, ada perasaan sedih yang amat mencekam. Aku berpikir kembali dalam hati, mencoba menyelami, bagaimana bisa aku meninggalkan tempat lahirku dengan hati yang mencari ketenangan tanpa kesedihan? bukan, bukan tanpa membawa luka dalam jiwa, kutinggalkan keluarga demi malam-malam kesepian, untuk menetapi persahabatan.
Terlalu banyak kepingan jiwaku, berserakan di sepanjang jalan-jalan kenanganku selama ini, dan terlalu banyak buah kerinduanku berlarian di antara bukit-bukit yang berjajaran, seperti bocah-bocah yang masih murni. Tak kurasa, aku berpisah dengan mereka, dan kenanganku tanpa hati berat dan tersayat. Embun di mataku mulai mengerling bercahaya. Perasaanku benar-benar terjepit. Di satu sisi, aku harus menghamparkan tikar sutra kecilku, untuk menampung harapan yang kupendam, dan di satu sisi, aku harus menghempaskan kenangan yang  merenda rindu, mengulas dan menenun senyum dalam sebuah buhul kebersamaan.
Namun tak mungkin pula aku menunggu lebih lama lagi! Laut tempat kembali semua benda, telah menyeru memanggilku, dan aku harus segera pergi mengakhiri semua ini. Diam termangu, meski mentari mulai naik pada waktu dhuha, panasnya mulai terlihat dan terasai, hanya tinggal menunggu siang menyengat, menghanguskan. Sama dengan tenggelam dalam kebekuan.
Getar sebuah suara tak mungkin menyandang lidah dan bibir yang melahirkannya. Sendiri aku harus membubung, menyatu dengan suasana. Seorang diri juga, tanpa mengajak sisa kenangan yang bagian manapun. Seekor burung perkutut terbang meninggalkan sarang, mengangkasa melintasi mentari.
Sampai di kaki lereng, sekali lagi aku menengok ke arah pusaran tempat kelahiranku, aku meneruskan langkahku, menuju tempat pengasinganku, dan inilah mimpiku yang paling nyata. Aku sudah siap berangkat, gairahku mekar terkembang bagai layar terpasang, membentang menadah angin. tapi biarlah, sekali lagi kuhirup napas dari udara lengang ini, dan sekilas lagi biarkan kulepas pandang mesraku, membelai keindahan panorama.
Stasiun kereta  mulai terlihat oleh sapuan mata, aku sudah siap berangkat. Wahai para penunggang gelombang! Betapa sering aku saksikan kalian berlayar dalam mimpiku, dan kini, kalian memjemputku di kala jaga. Hanya satu kelok di antara kaki lereng lagi di jalanan ini, dan satu denting gemericik aliran sungai terakhir, melewati jembatan bambu reot itu, aku akan berada di pangkuan impian. Sepercik air pelepas dahaga, di tengan kehidupan maha luas tak terbatas.
Aku melanjutkan langkahku, kulihat dari jauh perempuan dan laki – laki penduduk asli daerah sekitar stasiun, sedang bercanda ria sambil memetik lada dari kuncup pohonnya yang menjalar pada tiap – tiap penyangga yang telah disediakan. Teringat lagi akan Ibu yang melepasku dengan derai airmata semangatnya, mungkin untuk melupakanku, dia akan pergi berdagang berkeliling desa menjajakan kue.
Aku berkata dalam hati ;
Akankah perpisahan ini juga merupakan pula saat bertemu? benarkah ujung akhir hariku, akan merupakan fajar baru?
Lalu apa yang akan kuberikan kepada Bapak, Ibu, mereka yang meninggalkan keletihan hanya untuk mengusap keringat di keningku, dengan penuh cinta dan keikhlasan. Apa yang akan kuberikan kepada mereka? Lalu apa yang akan kuberikan pada persahabatan yang menantiku? Apa yang akan kuberikan pada keluarga, jika nanti aku sempat kembali ke pangkuannya setelah masa pengasinganku? Apakah cukup untuk membayar semua duka, yang membuat kerut di keningnya semakin menggurat.
Jika hari ini adalah saatnya mengetam, di ladang manakah telah kusebarkan benih-benihku, dan musim apa saja yang telah berlalu?
Banyak sudah yang telah aku utarakan di dalam hatiku, yang kuucapkan dalam kata-kata. Tapi masih lebih banyak lagi yang terkunci di dalam hati, karena aku sendiri pun tak mampu mengungkap rahasia-Nya.
Aku melewati kereta api itu, dengan perbendaharaan seadanya. Aku tidak naik kereta api, melainkan naik mobil tebengan[1] bus tanki, milik salah satu temanku yang bekerja sebagai kenek ayahnya. Aku naik di kepala mobil, di belakang sofa supir, sempit. Aku harus mengirit untuk keperluanku di Depok kelak, uang tabunganku tak seberapa, namun disana aku akan mencari pekerjaan apa saja. Kubuka kertas pemberian pak Sarono yang menolongku mencarikan program, yang seharusnya hanya boleh untuk Sekolah Menengah Umum, Program Pemerataan Kesempatan Belajar. Alhamdulillah, aku masuk kriteria karena aku termasuk berprestasi. Terima kasih pak Sarono, engkau perantara dari Allah untuk membantuku, dia selalu menesehatiku untuk tepat waktu ketika shalat. Guru bahasa Indonesia, yang sebenarnya paling tidak aku sukai pelajarannya.
     Pandanganku mulai kabur. Kuakhiri semesta pandangku pada lelahnya terik, walau lelehan rindu itu seolah mengiringi kepergianku. Sebuah harapan memang membutuhkan pengorbanan, pengorbanan yang tidak kecil, di dalamnya ada begitu banyak duka. Yang terkecil adalah kesepian yang pasti kujalani, tanpa orang yang setiap hari bermesraan dalam penggalan kenangan, yang pasti akan selalu kukenang sampai semesta tak bersuara lagi.
Aku teringat sesuatu, surat dari Sinta belum aku buka. Aku benar-benar lupa. Aku membuka tas, membuka kotak yang terbungkus kertas bergambar bulan itu. Sebuah Al-Quran plus terjemahan. Dua lembar surat kubaca, sambil melupakan bisingnya mobil dan motor yang lalu lalang di perjalanan.
Assalamu’alikum Warahmatullah Wabarakatuh
Wahai teman yang baik
Ba’da Tahmid wa Shalawat
Aku memberanikan menulis ungkapan hatiku lagi wahai sahabatku, dan mungkin ini adalah penghabisanku yang terakhir. Kutulis ketika hatiku tenang setelah tilawah quran dan shalat malam.
Tubuhku terasa payah, sakitku makin menjadi. Aku menyembunyikannya dari pandangan Abi dan Umi, aku benar-benar tidak ingin melihat mereka menangis, walau hanya sedetik sekalipun. Entah kenapa, aku ingin menulis untukmu, yang sebenarnya engkau bukanlah mahramku. Engkau teman yang baik, ketika aku akan berbicara padamu, tiba-tiba bibirku kelu dan beku. Aku merasa kita ada persamaan.
Mungkin orang lain bisa mengatakan ini cinta?
Tapi aku mengatakan ini lebih dari itu, aku merasakan sesuatu yang sama denganmu,  teman. Aku kesepian dan aku merasakan bahwa kamu juga kesepian, walau kutahu mungkin engkau jarang mengikuti kajian islam atau apapun, tapi hatimu kulihat jujur dan tulus. Aku merasa hidupku tak akan lama, setidaknya itulah firasatku. Kesepianku, menjadikanku peka terhadap perasaan orang lain.
Teman
Hidup ini takkan lama
Ajal datang nyawa tiada
Sekarat pasti menimpa
Itu adalah penggalan lagu nasheed yang aku sukai, selalu mengingatkanku pada kematian yang pasti. Mungkin ketika kamu membacanya aku sudah tiada di dunia.
Tahukah kamu teman?
Aku mengidap penyakit kanker otak, aku memeriksakannya sendiri, tapi aku selalu menyembunyikannya dari orangtuaku. Aku berusaha menutupinya, hingga dokter memvonisku tak akan bertahan lama, karena kanker itu telah kronis pada stadium 3, aku sempat sedih dan sempat pula tersenyum.
Mungkin ini wasiat dariku teman, hidupmu sangat berharga, sangat berharga. Jangan kau kotori oleh pikiran-pikiran sempit keduniaan. Seseorang yang pergi jauh, pasti suatu saat akan pulang ke tempatnya kembali. Lengangnya masa, kita hanyalah mampir, hidup ada kesejatian kekekalan dan keindahan penantian. Sahabatku, jangan pernah takut untuk menetapi keyakinan dan keteguhan, perjuangkanlah dengan keikhlasan, kejujuran, dan kesabaran.
Teman, terimalah ini sebagai pertanda kasih persahabatanku padamu, selamat ulang tahun yang ke-18. Semoga dengan semakin berkurangnya umurmu, akan menjadikanmu dekat kepada Allah Azza Wa Jalla. Bacalah ketika hatimu gundah gulana, bacalah ketika engkau membutuhkan jawaban dari kehidupan, jadikan dia resensi dasar pijakan. Sahabatku, saat menulis ini airmataku menetes membasahi sajadahku, mungkin pertemuan kitapun akan mengakhir, setidaknya itulah firasatku.
Maafkan aku Teman, bukan aku sok memberi nasehat, ini adalah kutujukan seutamanya untukku sendiri. Namun, karena aku merasa kita memiliki banyak persamaan, aku ingin kamu juga merasakan cinta itu. Cinta dari Rabb yang menciptakan kita. Jujur kukatakan, kalau aku memang mencintaimu, mencintaimu karena Allah, semoga Allah memaafkan semua dosa-dosa kita.
Selamat tinggal teman, ini mungkin penghabisanku
Duhai Rabbku, Engkau paling mengerti akan kami daripada kami sendiri, takdir-Mulah yang menciptakan kami penuh cinta. Engkau yang Maha Luas ilmu dan Maha Menentukan takdir setiap hamba-Mu, berilah kesempatan kepada kami untuk menjadi penerang bagi kelamnya masa. Menjadi pembawa lampu dalam kesejatian cahaya. Izinkanlah kami untuk kembali menghirup lengang udara terindah, berilah kesempatan padaku untuk menjadi cahaya yang menyinari penuh cinta.
Wa’alaikumsalam Warahmatullah Wabarakatuh
                                                                               Sinta Khoiriyah
Aku kembali melipat dua pucuk surat itu, menyimpannya dalam bagian tas kecil. Pikiranku kembali menerawang, menikmati perjalanan. Perjalanan memenuhi keyakinan ini membuatku sedikit ragu gelisah, karena apa? Aku sendiri tidak tahu.
Di kapal, aku tidak membayar biaya ongkos, karena aku berada di dalam mobil tanki, karena perhitungannya adalah muatan angkutan, yang berupa minyak mentah yang akan dikirim ke Pulo Gadung. Mobil terparkir ketika malam gelap menyapa, mungkin sampai terang nanti baru aku sampai di Depok. Aku menyelinap hingga di dek tertinggi, gelap mempermudahku tidak terlihat penjaga kapal, seperti waktu aku ke Yogya dulu. Mobil besar dengan muatan berat memang berjalan sangat lambat.
Tepat di bawah tiang, aku duduk menekuri kehidupanku yang telah berjalan. Langkahku seolah semakin gontai hendak meneruskan perjalanan, mengingat semua kejadian. Langit berhiaskan sedikit bintang walau bulan 15, mendung terlihat sedikit tebal. Laut luas, gemerlap lampu di ujung perjalanan, angin membelai kerinduan. Aku mengeluarkan surat dari Mawar yang kusimpan di lipatan dalam dompet, melihat tulisan itu, keyakinan pudarku mulai kubangun kembali.
Aku mendekati pagar di ujung atas kapal, kulihat air yang membelah dilewati kapal. Aku menatap langit, aku menatap ombak yang samar terlihat, “Wahai ombak! gulunglah semua yang ada di hadapanmu, gulunglah angin dan debu bersamamu, gulunglah semua buih-buih jika kau mampu. Tapi demi Allah! engkau tidak akan bisa menggulung keyakinanku! engkau tidak akan menggulung kesetiaanku! menggulung penyesalanku, tidak akan pernah! kecuali Allah memanggilku dalam kesenyapan penantianku!” Gerimis menyapa, aku sama sekali tak bergeming. Aku mencoba menahan, menantang kegelisahan, keraguan, kucoba luruhkan terkena guyuran air gerimis malam ini.
Aku turun dari kapal, sekaligus pamitan pada temanku. Kuberikan padanya dua bungkus rokok sebagai tanda terima kasih. Uang bagi mereka tiadalah terlalu berarti. Aku shalat subuh di mushola pelabuhan Merak, aku langsung naik bus menuju Kampung Rambutan, seperti rute yang diberikan temanku. Jantungku berdetak lebih keras, penantianku akan berakhir, tetapi kini ada segumpal keraguan yang menyertai. Aku berusaha menghilangkan keraguan sejauh-jauhnya. Bus telah penuh, kecuali tempat duduk di sampingku masih tersisa, entah kenapa Allah membiarkanku kesepian.
Seseorang penumpang terakhir masuk. Mencari tempat kosong, seorang wanita berjilbab. Aku menatap pemandangan luar, melalui kaca jendela tak menghiraukan.
“Permisi, bolehkah aku duduk disini?”
Aku hanya menganggukkan kepalaku, hari mulai cerah. Di perjalanan, Aku menoleh sejenak, wanita itu menunduk sambil menekuri bacaannya. Aku kembali mengarahkan pandangan ke gedung-gedung bertingkat yang menjulang, mencoba menusuk langit namun tak sampai.
“Boleh saya tahu kemana tujuan anda?” suaranya anggun, seperti milik Sinta.
“Aku hendak ke Depok. Mbak sendiri?” aku mencoba menciptakan feed back.
“Kebetulan sama, aku hari ini mengurus registrasi kuliah di UI,” terlihat dia begitu menjaga jarak, seperti anak-anak Rohis. Aku sudah paham.
Ternyata gadis itu dari Aceh, dia juga mendapat PPKB dari sekolahnya. Dia mengambil Fakultas Ilmu Budaya, prodi Sastra Inggris. Tuturnya lembut dan terlihat bersahabat. Sesekali dia mendesah lirih, kupastikan dia berdzikir. Sesekali keluar nada humornya, kadang bibirku tersungging senyum juga, entah dia belajar dari mana menemukan kata-kata yang lucu. Kebetulan sekali dia akan satu almamater denganku, tapi aku tidak mengatakan kalau aku juga akan kuliah disana, hanya mengatakan kalau aku mencari sahabatku di Depok.
Perjalanan ini lumayan panjang. Lama aku tidak membaca Al-Quran, apalagi Quran tertinggal di rumah karena ukurannya yang besar. Aku teringat Quran pemberian Sinta, aku sempatkan membacanya lirih walau sedikit, mencoba mencari keteduhan. Aku sempat grogi ketika baru tiga ayat membaca Al-Fatihah, sepasang mata menatapku seolah heran, ah! Mungkin dia heran, begitu kontras denganku. Aku tersenyum dan meneruskan bacaanku, walau kutahu aku belum fasih membaca. Tentu saja, celana jeans balel sobek di lutut pasti aneh kalau membaca al-Quran, padahal kupikir orang Jawa orangnya keras, makanya penampilan harus berubah, biar tidak disebut desa. Ini juga satu-satunya celana jeansku.
Perjalanan baru sampai di Terminal Serang, masih agak lama bagiku untuk menemui sahabatku. Beberapa pedagang kerupuk, aneka minuman, tahu sumedang dan muli hilir mudik, bergilir keluar masuk Bus. Beberapa penumpang turun. Seorang pedagang air minum sedikit memaksa kepada gadis berjilbab di sebelahku, kulihat si gadis sedikit terganggu. Wajahnya memang khas Aceh, manis dan berhidung bangir.
“Maaf Mas, dia tidak mau beli.”
Penjual air minum itu seketika kehilangan senyumnya. Biar saja, terlalu banyak aku telah menemui segala tipe pria, dari yang baik sampai yang amburadul  ketika aku bekerja sebagai kuli, yang kebanyakan mempunyai hobi menenggak minuman keras.
“Terima kasih,” lirih gadis itu kudengar, setelah bus mulai melaju kembali.
Aku menganggukkan kepalaku pelan, hembusan ac mobil membelai rambutku yang terasa tergerai, rambutku mulai panjang sedikit menutupi telinga. Kudengar dari gadis itu, Terminal Kampung Rambutan sebentar lagi. Aku bersiap-siap, rute yang kutahu dari teman kenekku, naik angkot nomor 112.
“Boleh kutahu nama Mas? Siapa tahu suatu saat kita bertemu kembali.”
“Ali,” entah kenapa aku ingin mengganti nama panggilanku, sama dengan nama Bapak. Aku juga akan memberi kejutan pada Mawar. Semua orang tidak akan mengetahui siapa itu Ihsan. Gadis itu memberikan kartu nama padaku, dan mengucapkan salam, memasuki angkot nomor 19. Mungkin dia hendak main dulu ke rumah saudaranya, bukankah  Depok harus melalui terminal dulu dengan nomor 112. Aku menyusuri jalan, dan menuju jalur yang dilewati angkot, yup! Nomor 112.
Di dalam mobil, aku sempatkan membaca kartu nama yang masih aku pegang, “WANDA Hamidah,” disertai alamat rumah dan nomor telepon. Angkot terus melaju, menciptakan perasaan berdebar-debar dalam hatiku, mendesir-desir seolah merasakan getaran kenangan di masa kecil. Sampai di Terminal Depok, aku mencari mobil menuju UI, seorang calo mengisyaratkan padaku menaiki angkot ke arah yang kutuju. Sopan. Sebentar lagi Mawar! Aku datang, datang hanya untukmu.
“Sudah sampai Mas,” Supir angkot mengingatkan, karena aku memang memintanya untuk memberitahuku. Aku baru kali pertama ke Depok.
Aku membayar angkot, dan melangkah menuju bahu jalan, menuju arah yang ditujukan supir, tampak seperti sebuah halte kecil. Aku mendapat informasi bahwa di UI ada sekitar 11-12 halte. Beberapa Mahasiswa UI sedang duduk disana. Sebuah bus kuning berhenti, dan mereka masuk lalu melaju. Beberapa saat kemudian datang beberapa mahasiswa lainnya, dan memasuki bus yang datang kemudian. Aku kelelahan setelah perjalanan, akhirnya kupaksakan naik bus yang berhenti di halte. Kalau kuliah naik bus terus, pasti biaya disini begitu mahal. Aku harus banyak berhemat.
Beberapa Mahasiswa yang sudah berada di bus menatapku sejenak, lalu sibuk dengan pikiran mereka masing-masing, mungkin karena dirasa tidak kenal. Aku melangkah, kursi telah penuh, aku berdiri tepat di belakang supir yang kutaksir usianya telah mendekati 50an tahun. Kursi penuh, telah banyak yang berdiri. Ada yang berpegangan pada besi melingkar yang digantung, dan ada yang memegang palangan besi membujur dari depan ke belakang. Aku memegang besi melintang, mengambil posisi di tengah, dan tepat berada sangat dekat dengan supir, karena itu akan mempermudahkanku membayar ongkos, ketika turun nanti. Aku ingin turun pertama kali di Rektorat, untuk mendaftar ulang dan mencari informasi tambahan tentang seluk-beluk UI yang belum aku ketahui. Syarat masuk ke Asrama UI pun, aku belum tahu karena aku ingin tinggal disana.
Di samping kiri dan kanan, tampak kursi memanjang sampai ekor bus, tidak seperti bus biasanya. Secara tidak langsung, aku dan beberapa orang yang berdiri di tengah menjadi tontonan penumpang yang lain di sisi kanan dan kiri, yang duduk menghadap kami. Apalagi celanaku robek di bagian dengkulnya, sedari tadi aku hanya menunduk. Aku berjanji dalam hati, tidak akan memakai celana seperti ini lagi. Aku akan menyimpannya saja, atau kubakar dan kubuang. Hehhh, aku mendesah, mencoba menghilangkan perasaan malu.
“Pak, aku mau turun di Rektorat,” kudekatkan sedikit mukaku kearah supir. Suasana panas dan senyap, membuat suaraku terasa keras, dan mungkin terdengar oleh semua penumpang di bus itu. Beberapa kali kulihat pandangan mereka menajam kearahku, pandangan-pandangan yang susah diartikan. Ada yang menggeleng kecil, ada yang tersenyum kecil, ada yang cuek setelah melihat tampangku. Mungkin reaksi biasa, melihat diriku yang sedikit berbeda. Berbeda? Mungkin karena aku memang anak desa dan dari desa, tak kenal dengan mode maupun gaul. Ah, siapa yang peduli.
Sempat kulihat sejenak, sang supir tersenyum dari kerutan di wajahnya yang tertarik, lalu sibuk lagi memainkan gerak tangannya, menikungkan bus yang berada di tikungan. Bus melaju, suasana tenang, sinar matahari menembus kaca menembus menamparku. Beberapa mahasiswa menutupi mukanya dengan apa saja yang mereka pegang; tas, buku, tangan. Bagiku, matahari adalah teman kehidupan, aku telah terbiasa berteman dengannya, kubiarkan wajahku merasakan sinar, sungguh nikmat. Teringat akan kampung, yang selalu membuatku bercanda dengan matahari, terpanggang dengan merdu, menyanyi di bawahnya, sambil mencari sisa singkong maupun padi sisa panen.
Mataku menatap sisi, Fakultas Hukum terbaca oleh mataku. Bus berhenti tepat di depan halte yang  berada di pinggir jalan. Beberapa mahasiswa turun, ada 7 orang. Dua orang penumpang baru yang berdiri di halte itu naik, kursi kosong telah penuh kembali. Biarlah, lebih enak berdiri, sambil menatap pemandangan yang sangat asing bagiku. Universitas Indonesia yang terkenal itu, ternyata sangat besar, mungkin sama dengan satu kecamatan di kampungku. Yang lebih mengherankan ialah, disini seperti masih alami, hutan karet sangat panjang menghampar dan masih asri, tidak seperti di kampung yang walaupun masih banyak pepohonan, namun telah gundul. Bus kembali melaju, mencericit layaknya tikus.
Bus kembali berhenti di halte Masjid Ukhuwah Islamiah (MUI). Beberapa turun dan ada yang naik kembali, yang aku heran tidak ada yang membayar ongkos transportasi sama sekali, atau mungkin mereka telah membayar sebelumnya, dan masuk ke dalam biaya kuliah? Aku masih bingung. Bus terus melaju, hingga berhenti lagi di salah satu halte,.
“Mas, sudah sampai di Rektorat UI. Itu dia gedung yang tinggi yang membentuk lancip ke atas,” supir setengahan abad itu menoleh kearahku. Seolah dia tahu kalau aku Mahasiswa baru. Aku sempat kaget sejenak, lamunanku buyar, lalu menganggukkan kepalaku, “Berapa ongkosnya Pak?” aku sengaja memelankan suaraku, aku malu jika terdengar semua penumpang, karena aku kan masih baru, dan belum membayar sama sekali biaya kuliahnya. Supir itu malah menggelengkan kepalanya pelan.
Seorang wanita berjilbab melintas di depanku, dari tadi dia duduk di belakang supir tepat. Dia berhenti sejenak, satu setengah meter setelah melewatiku, “Ali, cepetan turun. Kamu ini benar-benar kampungan,” sepertinya suara pelan itu aku kenal, kutatap sejenak, ya! Dia Wanda. Langkahnya melaju kembali, dan turun dari bus sambil menatapku yang masih berdiri di dalam. Matanya tajam menatapku sambil menahan sesuatu sambil melambaikan tangannya, “Ali, cepetan turun!” nadanya sedikit meninggi, namun aku masih bertahan. Aku kan belum membayar ongkos.
Aku menatap Wanda, “Maaf! Tunggu sebentar, aku kan belum bayar ongkosnya,” aku sedikit mengeraskan suaraku agar terdengar olehnya. Kualihkan pandanganku, sambil merogoh uang dari saku depanku, “Berapa ongkosnya Pak?” aku bertanya lagi pada supir, namun supir itu kembali menggelengkan kepalanya kecil.
Belum sempat kudengar penjelasan sang supir, saat kepalanya menoleh kearahku, sebuah tangan lembut menarik tas Boggieku, hingga membuatku tertarik ke pintu keluar bus, tangan Wanda kuat menarikku. Terpaksa aku turun dari Bus, dan menjadi tontonan aneh para Mahasiswa yang berada di dalam Bus.
“Bus ini gratis untuk mahasiswa, jadi tidak usah bayar,” tangan Wanda sedikit bertolak pinggang, lalu tangannya menurun kembali, wajahnya sangat lucu jika sedang marah. Wajahnya yang putih sedikit berhias keringat, mungkin karena panas yang telah melewati waktu dhuha.
Aku mengalihkan pandanganku pada Wanda, lalu menoleh kearah bus. Bus mulai menderum, kembali mencericit, “Terima kasih ya Pak!” setidaknya, aku tadi belum mengucapkan terima kasih. Bukankah sedari di dalam bus, kuperhatikan setiap orang membayar jasa dengan ucapan terima kasih, dan kini sekilas senyum kecil dan gelengan kepala dari spion bus sebelah kiri. Senyum yang mengingatkanku pada senyuman terakhir sahabat kecilku. Aku tersenyum menatap bus, yang melaju semakin jauh.
“Maafkan aku, membuatmu kesal,” aku membalikkan tubuhku kembali kearah Wanda, kulihat dia sedang membenahi tas punggungnya, telah hilang wajah kesuhnya.
“Kamu sungguh lucu, baru pertama kali ini, aku bertemu dengan orang yang benar-benar lugu. O ya, kenapa kamu tidak bilang kalau kita akan se-almamater?
“Maaf…, sebenarnya aku ingin langsung menuju UI, jadi aku naik angkot nomor 112 yang menuju Terminal Depok, lalu menuju langsung ke Kampus. Sebenarnya aku merasa tidak pantas kuliah disini, karena aku hanyalah orang kampung yang miskin…,”  belum sempat aku meneruskan kata-kataku, gadis itu telah cekikikan dan memegang perutnya. Kulihat tangannya keras mencoba menutup mulutnya.
“Kenapa? Ada yang lucu?” aku menatap dari atas hingga ujung kakiku, sepertinya normal, “Kenapa kamu cekikikan?”
“Dasar orang desa! Kalau mau ke UI, langsung saja dari Kampung Rambutan naik angkot nomor 19. Kenapa muter-muter sampai Terminal Depok?” aku tahu sekarang kenapa tawanya tak tertahan. Aku menatap langit biru sejenak, mencoba menghilangkan pendengaran. Panas menyengat, aku bersyukur pada-Mu ya Allah. Kau beri kesempatan padaku untuk belajar disini, Universitas Indonesia.



[1] Tumpangan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar