Jumat, 18 Oktober 2019

Part 6, Ujian Keyakinan

Gedung Dalam Baru,  17 juni 1994
     Perubahan belum jauh berbeda dengan dua tahun yang lalu, yang jelas pedukuhan ini hanya mengalami sedikit perubahan. Perubahan yang terlihat mencolok adalah makin banyaknya orang-orang yang tidak bertanggung jawab, merusak lingkungan dengan seenak perutnya sendiri. Mencari ikan dengan menggunakan obat, telah banyak mengurangi kegemaran penduduk yang ingin menikmati hobinya memancing, semakin lama ikan mulai habis, bahkan aku sendiri jarang mencari ikan dengan menggunakan kelambu bersama Bapak, karena ikan sudah tidak terlihat lagi mencipak di permukaan air.
Hari ini tepat hari pembagian raport untuk cawu III, aku bergegas mengambil sepedaku, dan berpamitan pada Ibu yang masih menyuapi Yasmin, ah! Fajar masih bermain-main dengan ayam-ayam di belakang, umurnya kini sudah mendekati enam tahun, tahun ini juga dia akan sekolah menyusulku.  Kukayuh sepedaku melesat menuju sekolahku, lima hari yang lalu aku malas berangkat, karena memang hanya jam kosong, menunggu hari sabtu ini untuk menerima hasil raport. Toh, aku menemani Ibu memasak kue, untuk dibawa keliling sesudah shalat Dzuhur.
Keadaan sekolah tidak banyak yang berbeda, Bowo masih memegang juara I, Ratna masih menduduki peringkat ke-II, dilanjutkan Maria dan lain-lain. Dan hari ini pun saat pembagian giliranku, aku tersenyum biasa dan tawar, tak ada yang istimewa. Sejak mbak Fatimah, mbak Ningsih pergi aku semakin mundur kini, aku ranking satu tepat dari belakang. Saat teman-teman saling memberi selamat, aku keluar menuju taman kecil sekolah. Memandangi bunga-bunga yang mengepakkan kelopaknya, memberikan wewangiannya ke segala penjuru alam. Aku tidak membawa kue untuk dijual untuk hari ini, aku benar-benar malas mendengar ocehan-ocehan setiap kali pembagian raport.
Aku menatap sekilas, bunga yang begitu harum tercium oleh hidungku, “Mawar!” aku teringat sesuatu, aku cepat mengambil sepedaku, dan kukayuh sekencang mungkin, mengepakkan setiap sayap yang tercipta dari imajinasiku. Surat itu! Kini aku telah resmi dapat membaca, tunggulah aku wahai surat. Surat dari sahabat lamaku.
Assalamu’alaikum Warohmatullah Wabarakatuh
Ihsan Sahabatku
Perpisahan memang akan menyakitkan kita, tahukah kamu aku pasti akan selalu merindukanmu, merindukan setiap detik kebersamaan denganmu. Saat senja menyapa kita, kala barisan tegak padi menorehkan keindahan di sayup-sayup penglihatan, saat berada pada cermin kehidupan, air menggoyangkan perasaan, menciptakan keteduhan disaat menekuri persahabatan, membelai heningnya kesepian.
Engkau adalah sahabatku yang telah menjadikan hatiku tentram, perpisahan ini mungkin akan menjembatani pertemuan yang akan tercipta kelak. Sampai kapan pun dan apapun yang terjadi, aku akan berusaha menjadi sahabatmu.
Bulan menyapa saat siang telah lelah
Menyapa insan dalam kesenyapan
Menciptakan keteduhan dalam jemari yang menyatu
Tataplah bulan dari jemariku
Biarkan secara mesra
Allah menyinari kita dengan cahaya-Nya
Ihsan! Aku menunggumu di Universitas Indonesia. Aku akan menunggumu untuk persahabatan yang abadi, yakinlah pada keyakinanku, maka aku juga yakin akan keyakinanmu. Aku hanya akan bertemu denganmu jika engkau menjadi yang terbaik, berprestasi dan tidak kalah dengan siapa pun, aku akan menerimamu dan syaratnya Engkau harus menjadi nomor satu.
Wa’alaikumsalam Warahmatullah Wabarakatuh
Aku mengulangi beberapa kali, walaupun masih belum lancar. Aku merenungkan sejenak dan melipatnya kembali. Ada perasaan aneh yang mencoba menjalariku, persahabatan. Nanti malam, mungkin Bapak bisa menjelaskannya padaku.
“Apakah kamu akan menepati persahabatanmu?” Bapak menatapku setelah lama membaca surat itu. Guratan di keningnya kini bertambah, matanya begitu teduh menatapku, seolah sirna sudah segala keletihannya. Aku hanya menganggukkan kepalaku. Tangan itu menggenggam erat kedua pundakku, “Jadilah yang terbaik untuk persahabatanmu. Engkau harus menjadi nomor satu, di manapun kamu berada,” senyumnya meyakinkanku.
“Aku akan berusaha Pak, aku minta doanya,” dan anggukan itu terbawa mimpiku malam ini, bertabur bintang-bintang yang terang menghiasi malam, menyiapkan rencana yang telah tersusun di otakku.
Liburan berakhir, back to school. Hari ini  aku resmi kelas empat, adikku juga mulai sekolah kini, dia akan selalu kubonceng dengan sepeda miniku. Hatiku ceria kembali, seperti menemukan setengah jiwaku yang telah lama hilang, “Wo, aku ingin memberikan pengumuman kepada teman-teman, tolong kamu umumkan setelah pelajaran ini, supaya tidak keluar dulu. Hanya sebentar,” pintaku pada Bowo selaku ketua kelas.
“Kamu kan tahu mereka paling susah untuk di kelas, San.”
“Ok deh, nanti aku kasih kamu dua pisang goreng,” aku tahu maksud lirikannya, dia memang menyukai pisang goreng buatan Ibu, aku sering memberinya bonus.
Pelajaran selesai, sebelum bubar, buru-buru Bowo berlari ke depan dan memberitahukan, ada seorang siswa yang ingin memberi pengumuman. Giliranku tampil ke depan, setelah Bowo mundur ke belakang sambil senyam-senyum.
“Teman-teman!” kukuatkan ragaku, aku harus siap, “Sebelumnya aku minta maaf, terutama pada Bowo, Ratna dan semuanya. Aku memang mengakui bahwa aku ini anak bodoh…,” kutajamkan arah edaran mata, meyakinkan diriku lagi.
“Mulai hari ini, dengarlah teman-teman, aku akan menjadi nomor satu! Aku akan meraih ranking satu! Untuk itu mohon pengertiannya,” kurasa cukup, tapi bukan tepuk tangan yang kudapatkan, melainkan tawa terbahak-bahak, terutama Bowo, dan itu semakin membuatku yakin, bahwa aku akan meraih apa yang kuinginkan. Mawar! Tunggulah aku.
Istirahat ini aku berjualan lagi, namun ada yang berbeda sekarang. Aku selalu memegang buku dan membacanya dimanapun aku berada. Setelah kue habis, aku menemui Kepala Sekolah, semua Guru dan wali kelas bahwa aku akan menjadi nomor satu, walau mereka sedikit heran, mereka siap membantu mewujudkan mimpiku.
SMP Negeri 1 di Kecamatan, Pembagian Raport cawu I, Sabtu 24Oktober 1998
Setelah pembagian raport yang dibagikan Bu Siti Aminah, aku mendapati diriku seperti tersengat ribuan lebah, yang menggerogoti tumpukkan harapan yang tarcecer sedikit demi sedikit. Kebahagiaan yang tersulam dari Sekolah Dasar, pupus seperti buih yang tak berdaya diterpa ombak. Aku pulang langsung, seperti kesetanan, kukayuh dengan kecepatan kuda pegasus. Aku memang kini telah memasuki Sekolah Menengah Pertama Negeri, yang banyak diimpikan anak-anak lulusan SD, bahkan aku diminta secara resmi oleh pihak Sekolah, karena danem akhirku mencapai angka 45. Di sekolah ini, bisa masuk sudah sangat bersyukur, apalagi sampai bisa berprestasi. Aku mendapat peringkat II. Peringkat kesatu dipegang oleh seorang wanita berjilbab, namanya Sinta Khoiriyah.
Bowo, Ratna dan Maria juga sekolah di SMP ini. Aku telah membuktikan kepada mereka, bahwa aku bisa mengalahkan mereka. Aku telah membayar tawa mereka dikala Sekolah Dasar dulu.
Sesampai di rumah, aku langsung menuju belakang di pinggir Balong, entah apa yang akan aku katakan pada Mawar jika aku bertemu dengannya kembali. Sahabat macam apa aku ini yang mengecewakan. Tidak! Aku memukul sepuas hati sebatang tegak pohon pisang, yang ukurannya sebesar kepalaku. Aku tidak peduli perih yang menyayat jemariku, hingga pohon itu doyong dan ambruk. Aku puas, darah menetes pelan. Aku tidak akan pernah meninggalkan belajar lagi, aku merasa sudah pintar hingga waktu masuk SMP, aku meremehkan teman-teman sekolahku. Aku akan menjadi nomor satu!
“Tangan mas ngopo berdarah?” Fajar menegurku ketika aku masuk dari dapur, kini dia kelas empat SD, dia yang sering menemani Ibu berdagang, dan aku gaduh kambing pak Bayan, lima ekor dia percayakan kepadaku untuk aku pelihara. Selain itu, sering menjadi buruh pengumpul kopi di tempat mbah Par yang kebunnya luas, atau ketika musim panen padi, jagung, atau singkong maka aku sering mengasak di sela-sela waktuku. Aku membiayai biaya sekolahku sendiri, Ayah dan Ibu melarangku bekerja keras, tapi aku ingin adik-adikku terus sekolah, apalagi kini Yasmin sudah kelas satu SD dan…, karena aku harus menemui Mawar di Universitas Indonesia. Dan, ini rahasia diriku, Mawar dan Tuhanku.
Sebelum aku menjawab, Yasmin datang sambil bernyanyi riang, kerudung pink kecilnya berkibar-kibar karena lompatan-lompatan yang dilakukannya, tangannya mesra menimang-nimang raport bersampul merah.
“Mas Ihsan, aku dapat ranking satu. Aku juga bisa seperti Mas,” senyumnya mengembang, sambil menyerahkan raportnya kepadaku. Aku membuka-bukanya pelan.
“Mana raportmu Jar,” kulihat muka Fajar pucat, seperti menyembunyikan sesuatu, “Mana. Mas pingin lihat.”
Kepalanya menunduk, “Maafkan Fajar Mas,” tangannya nampak gemetaran berpadu, menyatukan jemarinya, “Fajar dapat ranking 10.”
Aku mencengkeram erat kedua pundaknya, “Kenapa kamu malas belajar! Mau jadi apa kamu, jika kamu bodoh! Lihat adikmu Yasmin, dia ranking satu!” menggoncang-goncangkannya kuat, aku menemukan tempat pelampiasan kekesalanku. Fajar menangis keras, hingga Ibu melerai dan memintaku untuk tidak berlaku kasar pada Fajar. Aku telah jauh berubah, mungkin semua merasakannya, watakku berubah keras.
Hari ini tempatnya lek Pardi panen singkong, setelah selesai aku mengasak singkong sisa yang masih terpendam atau terpotong. Cangkul kecil pemberian Bapak kutancapkan dalam-dalam di bekas cabutan singkong, dapat satu dua kukumpulkan. Peluh mengalir deras di pipiku, keteguk air minum yang keselipkan diikatan sabuk. Aku harus mengumpulkan sebanyak mungkin, dan menabung untuk biaya sekolah, dan sisanya aku tabung untuk berangkat menemui Mawar, di tempat yang nun jauh disana.
Seekor jangkrik hampir terkena cangkul yang hendak kutancapkan ke bumi, aku menghentikannya, dan membiarkannya melompat serta berlalu. Lihatlah Mawar, engkau pasti percaya padaku, bahwa aku akan menepati janji persahabatan kita. Sedikit lelah, aku membuka tas dan mengambil buku pelajaran, belajar sejenak sambil menghilangkan lelah, berteduh di bawah pohon randu, membiarkan semilir angin menyisir rambutku, yang tampak sedikit kemerahan terkena sengatan matahari. Kutu buku, sahabat buku, mungkin semua teman-temanku memang pantas menyebutku.
Pembagian Raport Kelas III, Cawu III, 25 Juni 2001
Kepala sekolah langsung memberikan raportku di kelas, prestasi yang kuraih telah membanggakan pihak Sekolah, setidaknya untuk satu kecamatan. Selama di SMP, aku mendapat ranking satu, kecuali waktu kelas satu cawu satu, aku mendapatkan peringkat ke-dua. Aku juga mendapatkan beasiswa untuk meneruskan Sekolah. Aku semakin semangat belajar, semakin semangat bekerja, karena janji persahabatanku tetap aku penuhi pada Sahabatku. Tunggulah sebentar lagi, Sahabatku.
Bapak masih setia dengan pekerjaannya, dia juga masih sering mengajariku silat, walau mungkin Bapak dulu mungkin tidak lulus latihan silat di waktu mudanya. Ibu masih membuat kue, dan menjajakannya bersama Fajar, dan kadang gantian dengan Yasmin.
Beberapa surat datang kepadaku, dari beberapa Sekolah negeri maupun swasta SMA, untuk mempersuntingku belajar di gedung mereka. Aku lebih menghargai pendapat Bapak yang memilihkan SMK Negeri I di kota, sebagai continuitas dari keahlianku menjadi enterpreneur atau belajar berbisnis. Aku menyetujui usulan Bapak. Tanggal 18 juli 2001, aku resmi menjadi warga Sekolah Kejuruan Negeri I di Kota yang lumayan jauh dari desa. Sekolah ini terletak di daerah kampus kota Metro, di seputarannya banyak berdiri sekolah-sekolah lain, ketika pagi menjelang, kendaraan sangat macet, karena semua pelajar melewati pusaran Kampus.
SMK Negeri tempatku menuntut ilmu, mempunyai tiga jurusan yaitu MB (Manajemen Bisnis) atau selling skill, akuntansi dan sekretaris. Aku memilih Manajemen Bisnis. Prektek kurikulum juga banyak menggunakan metode praktek daripada teori, ini memudahkan siswa langsung bisa memahami pelajaran, daripada di cekoki teori dan retorika belaka.
Aku tidak tahu kabar Bowo meneruskan dimana, jika Ratna kudengar kabar sedang mempersiapkan pernikahannya, ah! Menikah, bukankah masih terlalu dini. Sinta tanpa kutahu, ternyata sekolah disini juga, sekelas denganku di kelas I BM I, dia adalah temanku sewaktu SMP, wajahnya sedikit mengingatkanku pada Mawar. Mawar! Aku akan selalu  menjadi nomor satu dimanapun berada.
Berangkat Studi Praktek, Jawa, Senin 4 Agustus 2003
Lima mobil Bus berangkat dari SMK Negeri, menuju tempat-tempat industri yang telah terjadwal di seputaran Jawa, disamping itu juga mengunjungi beberapa tempat rekreasi. Alhamdulillah semua biaya adalah uang tabunganku selama ini, Bapak dan Ibu melepaskanku dengan doa. Aku sangat mencintai mereka.
Selama menjadi siswa SMK, empat semester yang kujalani aku mendapatkan predikat nomor satu. Studi ini juga sebagai refresing, karena setelah ini kami akan praktek ke dunia kerja selama empat bulan di tempat-tempat kerja. Selama dua tahun aku di SMK, aku tinggal di Pekalongan, karena memudahkanku berangkat sekolah, tinggal di sebuah rumah yang mempunyai industri perbibitan, sehingga aku bisa bekerja menyiram bibit di pagi dan sore hari. Selain itu, di sela-sela waktu aku bekerja di pasar bibit Pekalongan, menjadi kuli angkat ketika ada pembeli yang datang membeli dalam jumlah besar, terkadang malam pukul 12.00 tepat pun, pasti aku bekerja jika memang ada pembeli.
Pekerjaan adalah caraku untuk bertahan, namun aku mencoba disiplin dalam waktu yang aku susun, dari mulai belajar ketika menjelang subuh dan pulang kampung seminggu sekali, di hari minggu. Dari Pekalongan ke Sekolah, aku memakai sepeda yang berjarak 5 kilometer, adikku Fajar kini masih SMP kelas 3 di SMP Negeri tempatku dulu, walau tidak di kelas A setidaknya di kelas B. Aku sering memarahinya untuk rajin belajar. Yasmin kini kelas enam SD. Dia selalu mendapatkan peringkat kesatu, aku bangga kepadanya.
Bus berjalan membelai lamunanku, di Sekolah aku mengikuti kegiatan ekstrakulikuler, hanya sebagai jembatan agar aku tidak dihukum ketika razia organisasi, dan yang kuikuti hanya Rohani Islam, itu pun aku hanya berangkat sebulan sekali, karena selain pekerjaanku padat, aku juga mencari yang tidak menggunakan banyak tenaga fisik. Sinta berada di bus yang sama denganku, dia mengikuti banyak kegiatan ekstrakulikuler, selain OSIS, dia juga sangat aktif di ROHIS dan PMR, jilbabnya selalu mengingatkanku pada Mawar! Aku rindu pada sahabatku. Tunggulah Mawar, satu tahun lagi, dan aku akan datang ke kotamu.
Pukul 02.00 siang bus sampai di Bakauheni. Setelah mobil terparkir, semua siswa bubar manaiki Dek atas, agar tidak kepanasan di dek terbawah yang pengap. Aku mengayunkan langkahku setelah kurasa ruangan bus kosong, saat melangkah sekilas bayangan masih duduk di kursi, “Sin! Kamu tidak turun?” kulihat mukanya sedikit pucat.
“Iya, sebentar lagi.”
“Ayo sekalian bareng.”
Sinta tersenyum dan mulai mengangkat badannya pelan, tubuhnya kurasakan berat diangkat. Badannya sedikit limbung dan hampir jatuh, aku sempat ingin membantunya tapi dia menolak. Mungkin ini perjalanan yang panjang sehingga agak membuatnya mabuk, apalagi yang belum pernah menaiki kapal, termasuk aku.
Aku berjalan di depan Sinta, semua siswa tahu bahwa aku adalah anak Rohis yang berprestasi, walau aku tidak aktif di setiap kegiatannya. Aku juga terkenal anti pacaran tapi sebenarnya bukan ala anak Rohis, tapi karena aku tidak tertarik, dan aku hanya ingin menepati janji persahabatanku dengan Mawar. Ketika aku kelas satu dan dua dulu, aku beberapa kali mendapatkan surat cinta, namun aku balas dengan menulis bahwa aku sudah mempunyai pacar, atau ada juga yang mengatakan langsung bahwa mereka mencintai aku, ah! Cinta monyet. He..he.. aku sering tersenyum sendiri mengingatnya, apakah wajahku ganteng? Padahal biasa-biasa saja, hanya tubuhku atletis karena bekerja tanpa kenal waktu, apalagi rambutku kemerahan, terpanggang sinar matahari.
Aku meninggalkan Sinta ketika bertemu dengan Darma, Khusnul, dan Asih yang mereka adalah anak-anak Rohis, aku memesankan pada mereka untuk menjaga Sinta, karena terlihat sedikit sakit. Ketika akan meninggalkan mereka sempat terucap dari bibir Sinta, ucapan lirih, “Syukran,” aku menatapnya sejenak, “Sama-sama,” walau tidak fasih berbahasa arab, aku sedikit tahu dari percakapan anak-anak rohis.
Aku menaiki dek teratas, tangga terakhir ditutup besi sebatas perut, ketika akan naik seorang penjaga kapal melarangku. Aku menunduk, setelah penjaga itu berbelok, aku menaiki kapal, hingga mendekati pengeras suara peluit, saat kapal akan berangkat atau berhenti. Aku sendirian, duduk di bawah tiang bendera, yang berkibar dengan kerasnya karena angin laut begitu kencang, rambutku tergerai acak-acakkan, kubiarkan saja.
Setahun lagi, walau sekarang aku akan melewati kotamu, tapi aku janji bahwa kita bertemu saat kuliah nanti. Aku akan selalu berusaha menepati janjiku. Perjalanan ini menurutku tiada gunanya, tapi ketika nanti setahun lagi, maka itu adalah hari bersejarah bagiku. Aku mendekati bibir tiang di ujung kapal, “Mawar! Tunggulah janji persahabatan kita! Aku akan datang!” aku berteriak sepuasnya pada gelombang yang tercipta kecil dari usapan angin, menciptakan buih-buih berserakan.
“Hai! Jangan berteriak-teriak, apa kamu sudah gila!” seorang berseragam keluar dari pintu, tepat di samping bawahku, mungkin Nahkoda.
“Aku tidak akan berteriak lagi, tapi izinkan aku disini sampai kapal sampai di Merak!” Anggukan kepalanya membuatku segera duduk di dekat tiang, berpayungkan besi bundar besar, aku menatap awan berarak, matahari menyengat dan laut tak bertepi.
Hari-hari berlalu, kami menginap di hotel Nusantara, seratus meter dari Malioboro Yogya. Aku malas keluar, seperti teman-teman yang hilir mudik, mencari barang yang bisa mereka bawa pulang ke Lampung. Besok perjalanan terakhir, yaitu ke Sritex, tempat pembuatan beberapa baju kepolisian negara-negara luar, dilanjutkan ke Prambanan sebagai tempat terakhir. Aku terlelap tidur sambil mengingat keluargaku.
Di Prambanan, sore itu aku hanya duduk di pinggiran candi, ratusan kilatan foto mengkilat, beberapa siswi memintaku berfoto dengannya. Aku mengiyakan, setelah foto, mereka pergi lagi.
Aku pindah, ingin rasanya ke mobil kembali, tetapi kuurungkan sejenak, lalu kupaksakan kembali. Saat berada di antara candi, aku melihat Sinta berjalan gontai, tangannya memegang kepalanya, sambil matanya kadang-kadang terpejam. Mungkin pusing. Ketika jarak kami sekitar 3 meter, tubuhnya kuyuh terjatuh, aku buru-buru menangkap tubuhnya. Dia pingsan. Sempat kulihat matanya melihatku, lalu hilang tertutup kembali. Aku berteriak, tapi tak ada yang datang. Aku berlari membopongnya, kebetulan bertemu pak Sugiman wali kelasku, lalu kami membawanya ke rumah sakit terdekat. Keluarga di Lampung dihubungi, dan ayah ibunya sedang menuju kemari.
Hari ini bus pulang kembali ke Lampung. Aku, Asih dan Darma tidak ikut karena menunggu keluarga Sinta datang. Pak Giman kuminta untuk pulang saja, biar kami yang menunggunya disini.
“Sudah kukatakan kalau dia sakit, kenapa kalian membiarkannya berjalan sendirian?”
“Kami kehilangan dia San. Selain itu dia tidak pamit pada kami.”
Aku mencerna penjelasan Darma, wajahnya terlihat menyesal. Kami bertiga menunggu di kursi panjang besi depan kamar. Seorang Perawat mendekati kami, “Maaf apa kalian keluarga Sinta?”
“Kami teman-temannya Suster.”
Silakan ikut saya untuk mengurus administrasinya. Setidaknya jika orangtuanya belum datang, ada jaminan untuk pihak Rumah Sakit.
“Baiklah,” aku mengikuti langkah Suster itu, aku merelakan uangku sebagai jaminan. Persahabatan lebih berharga dari harta apapun, apalagi persahabatan yang didasari dengan saling kepercayaan. Ah! Aku kembali teringat Mawar.
Kulihat tubuh lemas itu masih tak bergerak, Darma dan Asih sedang tidur di kursi, mungkin kelelahan. Orangtua Sinta belum datang, walau Sinta adalah saingan beratku, dalam menetapi persahabatanku dengan Mawar, tapi dia juga teman yang baik. Aku salut padanya, walaupun banyak mengikuti kegiatan ekstrakulikuler, dia masih bisa mendapatkan peringkat kedua, dan sempat mengalahkanku sewaktu awal Sekolah. Kupandangi sekilas wajah putihnya, cantik, soft, sungguh cantik, semakin cantik dengan balutan jilbab. Sungguh beruntung orang yang akan memilikinya kelak. Aku minder sendiri melihat wajah itu, ah! Apakah Mawar mau menerimaku? dengan wajah hitam legam, setidaknya sedikit terbakar.
Lamunanku buyar, Sinta membuka matanya pelan. Sorot matanya langsung mengarah padaku yang langsung mendekatinya. Matanya mengedar, kutaksir melihat Asih dan Darma yang terlelap. Mulutnya bergetar seolah ingin mengucapkan sesuatu.
“Ih… Ihsan?” suaranya lirih.
“Ya, ada apa Sin?”
Jazakallah,” matanya  sendu menatapku, dan buliran air meleleh pelan dari kedua kelopak matanya yang indah. Seandainya Mawar menangis, maka akan kulipat bumi sebagai tissue untuk membersihkannya, hingga tiada air mata yang akan tumpah.
Aku paling tidak tahan melihat wanita menangis, kuambil tissue yang tersedia di meja, kupaksakan mengusap airmatanya, walau Sinta sempat menolak.
“Sekarang jam berapa?”
“Jam 10.00 malam,” aku memperhatikan arloji yang baru kubeli sewaktu di kapal.
Astaghfirullah, aku belum shalat,” Sinta mencoba bangkit. Tubuhnya masih terlihat lemah.
“Aku akan membantumu.”
“Jangan San. Aku tidak halal untukmu, bangunkan saja Asih,” pintanya pelan.
“Baiklah,” aku hendak melangkah.
“San,”
“Apa Sin? Ada yang kurang?”
Jazakallah,” kubalas dengan senyuman. Aku melangkah membangunkan Asih dan Darma, mereka mengucapkan Hamdallah berulang kali sambil membantu Sinta wudhu dan shalat. Aku meninggalkan mereka, namun sempat kutangkap senyum tulus Sinta, di antara wajah piasnya, pucat tak sedikitpun mengurangi kecantikannya.
Pagi–pagi kedua orangtua Sinta datang, sekaligus hari ini juga kami pulang ke Lampung, dan Sinta dipindahkan ke Rumah Sakit di Lampung. Kami pulang dengan mengendarai kendaraan ayah Sinta. Pak Heri dan Bu Sulis adalah sosok orangtua yang lembut, dan penuh pengertian pada Sinta, itu dapat kutangkap dari percakapan dan obrolan ringan denganku selama di perjalanan. Bu Sulis bercerita cemas, bahwa Sinta paling sering memforsir dirinya untuk kegiatan, dan jarang mau beristirahat. Kutahu dari teman-teman Rohis, bahwa Sinta adalah wanita perkasa. Ada- ada saja.
Pulang dari Yogya, aku langsung pulang ke rumah di Gedung Dalam Baru. Bapak masih kerja. Alhamdulillah Ibu dan Fajar barusan pulang. Ketika malam, aku menceritakan kejadian di Yogya, mereka beberapa kali menganggukkan kepala, kekhawatiran mereka terobati sudah. Setelah acara bincang-bincang, aku mengeluarkan sedikit oleh-oleh, beberapa kaos yang aku beli murah, dan ada kue dodol dan berem yang kubeli sewaktu perjalanan pulang, dan kebetulan juga dibelikan oleh keluarga Sinta.
Tubuhku begitu lelah, perjalanan laut membuat pandanganku masih menyisa bergoyang-goyang. Kesempatkan tidur di kamarku dulu sewaktu kecil, Fajar izin hendak bermain, aku mengangguk dan  berpesan jangan pulang terlalu sore. Mata yang liyer-liyer tak bisa kutahan lagi, hanya sebentar, karena aku bermimpi menakutkan. Aku melihat Sinta di ujing tepi jurang sambil menangis, dan mengulurkan tangannya. Aku mencoba mendekatinya, tapi dia tersenyum dan menerjunkan diri ke jurang. Untung hanya mimpi, aku bergumam pelan, lega.
Sekolah telah masuk kembali, namun hanya persiapan untuk melakukan persiapan praktek kerja nyata. Aku mendapat jatah di PT Metro Solar Investama, di bagian Marketing and Selling, bersama dua rekanku Haidir dan Saiful. Praktek akan dimulai minggu depan, dan dilakukan selama empat bulan tepat. Dan sebuah surat datang kepadaku dari Haidir. Katanya, Sinta menitipkannya sebelum semua diberangkatkan.
Praktek yang lumayan melelahkan, pagi sampai sore. Di samping itu, aku juga harus bekerja sebagai kuli. Tapi, mungkin aku akan berhenti karena ada yang menawariku menjualkan barang miliknya. Di tempat praktek, banyak pengalaman yang diperoleh, terutama menghadapi kompleksnya karakter buying, atau saat bertemu suplier, yang membawakan barang, setelah sebelumnya dilakukan pengecekan stock barang yang memakan waktu berjam-jam. Saat mengetik surat pesanan, aku teringat surat dari Sinta yang belum kubaca. Ketika pulang kusempatkan membacanya.
Assalamu’alikum Warahmatullah Wabarakatuh
Wahai teman yang baik
Ba’da Tahmid wa Shalawat
Semoga Allah meridhaiku menuliskan sedikit ganjalan yang menggumpal di hatiku, dan semoga juga berkenan di hatimu.
Di waktu menulis, langit cerah dan udara begitu teduh. Tanganku yang bergetar kupaksakan untuk menggerakkan pena, mungkin tak pantas aku menulis untuk orang sebaik dirimu. Telah datang banyak berita tentangmu, yang hinggap di pendengaranku, Teman.
Kamu memang seorang yang tegar, bekerja untuk biaya sekolahmu sendiri, bahkan kutahu engkau juga membantu membiayai sekolah adikmu. Sifatmu yang pendiam, menjadi bahan perbincangan banyak siswi-siswi di sekolah kita, tuturmu yang sedikit membuat banyak orang bersimpati. Walau terlihat keras, namun tuturmu lembut. Wacanamu yang sering ditampilkan di mading, maupun buletin sekolah selalu kubaca, visi ke depanmu sungguh cemerlang, kutulis dan kuingat tajam di hatiku.
Ihsan
Kedua orangtuaku begitu sayang padaku, tapi tahukah engkau? Aku tak mau melihat mereka sedih akan adanya aku. Aku merasa ada baiknya aku hidup sendiri di muka bumi, namun ketika aku mengenalmu di saat SMP dulu, aku menemukan separuh jiwa yang terasa telah hilang, hingga aku mengikutimu masuk di SMK. Tahukah engkau wahai teman, engkaulah semangatku, sehingga aku memperoleh prestasi yang membuat kedua orangtuaku gembira dan tersenyum.
Aku semakin merasa bersalah, jika sampai membuat orangtuaku menangis. Aku tak tega, sungguh. Lebih baik aku tiada, jika seandainya adanya aku membuat mereka meneteskan airmata. Belum pernah aku bercerita pada siapapun tentang diriku, namun kuberanikan bercerita padamu, karena aku tahu kamu adalah orang yang memegang amanah. Dibalik keceriaan dan senyumku, ada berjuta kesedihan dan kegelisahan yang menutup, hingga tak ada yang terlihat.
Tahukah engkau teman?
Aku berada di ambang ujung perjalanan. Setidaknya aku ingin mengatakan padamu, walau aku merasa tak pantas mengatakannya. Tapi hatiku memaksaku mengatakannya, semoga Allah Azza Wa Jalla memaafkan semua dosa-dosa kita.
Teman, izinkanlah aku menjadi temanmu. Aku adalah bagianmu yang tidak terpisahkan, setidaknya izinkanlah di ujung perjalananku menjadi temanmu. Mohon terimalah permintaanku
Afwan wa Jazakallah
                                                                                           Sinta Khoiriyah
Aku membacanya beberapa kali. Ah! Apakah ini sungguhan? Bukankah aku yang seharusnya bertanya padanya, karena aku tidak sepadan dengan karakternya. Siapakah aku? Seorang pekerja keras dan miskin, untuk makanpun aku harus menahan lilitan perih di perut. Makan sekali dua kali, sudah merupakan kesyukuran terdalam bagiku. Wajah kecilku dengan sekarang telah jauh berbeda, aku terlihat lebih kurus sekarang, kutatap diriku di cermin. Benar-benar kontras dengan fotoku waktu kecil.
Kupaksakan menulis surat singkat balasan, agar Sinta tak kecewa.
Wa’alaikumsalam Warahmatullah Wabarakatuh
Sinta yang baik
Wa Ba’du
Suratmu telah sampai dan kubaca. Banyak hal yang masih membuatku tak mengerti, tapi suatu saat mungkin dengan berjalannya waktu aku akan mengerti. Kutulis dengan kesungguhan hatiku, bahwa aku bersedia menjadi temanmu, kuharap engkau menerima temanmu ini apa adanya, karena aku hanyalah seorang miskin yang mencoba mencari ilmu di luasnya ciptaan Allah.
Salam persahabatan.
Ihsan
  Surat lalu kutitipkan pada Darma yang kebetulan praktek di dekat tempatku, dan kurasa mereka sering bertemu saat kajian pekanan bersama mbak Tuti.
Di Ambang kelulusan, aku mencari pak Sujadi selaku Kepala Sekolah. Aku menceritakan keinginanku, yang ingin meneruskan kuliah di Universitas Indonesia dan memintanya membantuku. Dia berjanji akan berusaha membantu, itu membuatku sedikit lega. Selain itu, aku mencari informasi tentang UI; baik melalui brosur, koran, majalah, gosip, alumni dan informasi apapun untuk membantu.
Saat ujian telah berakhir. Aku mendapatkan informasi, bahwa aku tetap mendapatkan predikat tertinggi, dan disusul sebuah nama yang membuatku untuk pertama kalinya membuat surat, Sinta. Beberapa teman mengucapkan selamat padaku, termasuk Haidir, Saiful, dan Darma.
Aku tidak melihat Sinta sama sekali, mungkin sedang syukuran bersama teman-temannya. Selama pergantian waktu, setelah praktek aku seperti kehilangan, karena kami disibukkan dengan persiapan UAN. Tanpa kusadari, sebentar lagi ulang tahunku yang ke-18. Selama ini, banyak hadiah dari teman di saat ulang tahunku, tapi semua tidak begitu menarik perhatianku. Biasanya juga disertai surat cinta, jika itu dari para siswi. Ah! Dengan hadiah topi, jam tangan, baju, kaos, gelang atau kalung gaul, mereka mau mencoba memisahkan keyakinanku pada Mawar? Tidak mungkin!
Seorang lelaki bersama wanita tergesa-gesa menyibak kerumunan. Aku diberitahu Saiful yang sedikit hitam itu, bahwa mereka mencariku. Aku segera mendekati mereka, wajah mereka sepertinya aku kenal.
“Kumohon nak Ihsan, hanya sekali ini saja, bantulah kami,” pak Heri berbicara sambil meneteskan airmata pelan, dan diusap istrinya.
“Iya Nak, dia adalah anak kami satu-satunya. Harapan kami ada padanya, kami mencintai Sinta melebihi kehidupan kami sendiri. Kami tak akan kuat kehilangan dia. Kumohon bantulah dia. Aku akan melakukan apa saja asal nak Ihsan mau membantu kami. Kumohon Nak,” bu Sulis menimpali, aku semakin galau.
“Aku akan mempertimbangkannya, mohon Bapak dan Ibu juga mengerti saya,” aku mencoba sekuat tenaga tenang, kami bicara di ruang tamu sekolah. Mereka terlalu sayang kepada Sinta, segalanya akan dikorbankan untuk anaknya. Aku tak tega menolak mereka sekarang, untuk menikahi Sinta? Menikah dengan Sinta, berarti aku akan mengkhianati persahabatanku.
“Aku akan memberi jawaban minggu depan, karena aku harus membicarakan masalah ini pada keluarga saya dulu.”
“Baiklah, kami dapat mengerti. Ini bukanlah masalah sepele, dan kami mohon masalah ini jangan sampai ada yang tahu. Setidaknya, itulah permintaan kami,” pak Heri berusaha berkata tegar dalam kesedihannya.
Mereka berpamitan padaku, aku mengatakan akan segera menjenguk Sinta. Gadis itu, gadis anggun yang banyak menjadi perbincangan mulut siswa baik di Rohis maupun bukan. Gadis yang banyak menjadi rebutan, ternyata mempunyai penyakit kronis. Kanker otak, dan selama ini dia menyembunyikan penyakit itu dari orangtuanya, karena tidak mau melihat mereka bersedih. Aku teringat surat dan mimpi tentangnya.
Seorang siswi mengucapkan salam, mengagetkan lamunanku, aku menjawabnya.
“Ada apa Dar,” Darma seperti mencari sesuatu dalam tasnya.
“Ada titipan dari Sinta. Apakah kamu ada waktu sekarang, bagaimana kalau kita menjenguknya. Kamu pasti tahu kalau dia sakit.”
Aku menerima kotak kado darinya, “Jadi kamu juga tahu?” aku sedikit keheranan.
“Hanya aku dan Asih, Insyaallah yang lain belum.”
Kami bertiga menaiki angkot menuju rumah Sinta, gadis itu tersenyum di atas pembaringan. Kemarin dia baru saja dibawa pulang dari Rumah Sakit. Sorot matanya tak menyiratkan kesakitan, tapi kurasa dia menutupinya, seperti suratnya padaku. Kami hanya mengobrol seperti obrolan biasa, tentang rencana meneruskan studi, tentang agenda Rohis yang aku sendiri tidak aktif.
Aku pulang dengan perasaan tak karuan. Kudengar dari orangtua Sinta, selama tak sadarkan diri di Rumah Sakit, Sinta hanya mendesahkan namaku. Apakah ini hanya bohong? Mana mungkin gadis setegar dia menaruh hati padaku yang miskin, dan ilmu agama saja tidak becus. Banyak beberapa siswa yang aktif di Rohis, tapi memang tak dipungkiri mereka ikut aktif pengajian, namun beberapa juga kulihat masih pacaran. Aku sendiri tidak tahu alasan kenapa mereka anti pacaran, yang jelas anti pacaranku adalah untuk persahabatanku.
Seminggu berlalu begitu cepat. Aku menceritakan kisah itu pada Bapak dan Ibu ketika malam menyapa. Sinta juga punya kesempatan hidup, jika seandainya ada orang yang disayanginya selalu memberinya motivasi hidup. Ibu menyerahkan sepenuhnya keputusan di tanganku. Bapak hanya menyuruhku memikirkan dengan matang, semua keputusan pasti punya akibat, dalam sorot mata Bapak, aku membaca bahwa dia tahu aku menyembunyikan sesuatu rahasia. Rahasia tentang janji persahabatan.
Aku datang ke rumah Sinta, setidaknya aku harus memberi kepastian, walau keputusan itu baik atau buruk. Aku menetapkan untuk setia pada persahabatanku, karena itulah tujuan aku hidup di dunia. Tanpa persahabatan itu, aku pun tidak bisa hidup. Rumah Sinta begitu banyak orang berkerumun, adakah sesuatu?
“Pak, ada apa di dalam?” aku bertanya pada laki-laki separuh baya duduk di depan rumah.
“Sinta sekarat Nak…,”
Aku tidak sempat mendengarkan suara itu habis, aku masuk dengan menyibak kerumunan, “Maaf, permisi…, permisi…,” aku tak peduli dikatakan apa oleh orang-orang, walau Sinta tahu keputusanku, tapi aku tidak rela dia harus menghadap Tuhan begini cepat. Aku memasuki kamar Sinta, orangtuanya berada di sebelahnya. Wajah Sinta pucat, matanya sayu tinggal mengecil. Aku mendekatinya.
Kulihat Darma dan Asih juga disana. Sebuah desahan lirih masih kudengar dari bibir Sinta, “San.” Entah kenapa namaku yang disebutkannya kini.
“Iya, saya Ihsan. Saya telah datang,” pak Heri mempersilakan aku duduk.
“Benarkan teman kataku, aku berada…, di ujung perjalanan. Darma, Asih kalian harus meneruskan perjuangan dimana…, pun berada. Maafkan Sinta Abi, Umi.”
“Cukup Sin, jangan ngomong sembarangan,” Asih melelehkan airmatanya.
Aku tak kuat melihat keadaan ini, “Sudahlah Sin, ingatlah pada Allah. Jika memang ini yang terbaik dariNya, pergilah dengan tenang,” kulihat tatapan aneh dari Asih dan Darma yang menatapku. Entah kenapa, kata itu keluar dari bibirku.
Ucapan lirih, “Allah,” mendesah lirih dari bibir bergetar itu, mengantarkan napas senggal terakhir Sinta. Tangis pelan pecah, walau kesedihan pasti ada, tapi sebenarnya keikhlasan akan kepergian itu, sudah tertanam kuat di hati orang yang beriman. Kulihat senyum itu merekah, meninggalkan tusukan tersendiri di dadaku. Hidup yang fana, kenapa aku selalu mengharapkan persahabatan yang aku tidak mengetahui akhirnya.
Selamat tinggal sahabatku, untuk pertama kalinya, aku ragu pada keyakinanku tentang persahabatan. Apakah tujuan hidupku hanya persahabatan? Aku berterima kasih padamu sahabat, yang walau sebentar, telah mengetuk setitik kegamangan mendung kayakinanku? Aku akan selalu berdoa untukmu, semoga Allah selalu memaafkan segala kesalahan kita.
Kakiku seolah tertancap di sebelah kuburmu sahabat, aku belum mau beranjak, walau semua orang telah meninggalkan jasadmu. Bapak dan Ibumu berpamitan padaku, setelah sebelumnya beberapa teman-teman sekolah kita. Untuk ketiga kalinya aku meneteskan airmata untuk perempuan; yang pertama untuk ibuku, yang kedua untuk Mawar disaat perginya, dan yang ketiga adalah dirimu sahabatku. Untuk sejenak, izinkanlah aku menemanimu, agar kau lebih merasa tenang, ketika kedua malaikat  bertanya. Hujan rintik menyapaku, terasa teduh meluluhkan kesombonganku selama ini. Tuhan, maafkankanlah semua dosa Kami.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar