Jumat, 18 Oktober 2019

Part 5, Kemenangan yang Kalah

Jumat sore, ketika anak-anak TPA hampir pulang. Ihsan mendekati Mawar yang sedang duduk di pelataran Mushola, ketika mbak Fatimah dan Ningsih sedang menilai tulisan para anak didiknya dalam buku masing-masing.
Nampak kawanan burung Kuntul terbang membentuk huruf V, dengan ujung runcing ke depan. Persis mata panah raksasa, terbang kearah selatan untuk pulang ke sarang mereka kembali, setelah paginya terbang kearah utara untuk mencari rezeki. Tiadakah mereka memperhatikan burung-burung yang dimudahkan terbang di angkasa bebas. Tidak ada menahannya selain dari Allah. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi orang-orang beriman.[1]
Dalam bukunya 7 habbits, Sean Covey mengemukakan bahwa para ilmuwan telah menemukan sesuatu yang menakjubkan dalam cara terbang burung, yang terbang membentuk mata panah itu. Dengan terbang dalam formasi, seluruh burung mampu untuk terbang 71 persen lebih jauh, ketimbang kalau masing-masing burung terbang sendiri. Mengapa? Ketika seekor burung mengepak sayapnya, terciptalah arus angin bagi burung berikutnya, yaitu burung yang terbang berada di belakangnya, namun agak serong sedikit. Terjadilah efisiensi energi yang luar biasa akibat energi ini. Jika burung paling depan letih, ia akan mundur dan mengambil tempat di belakang, kemudian segera akan ada yang menggantikannya menjadi pemimpin perjalanan. Burung-burung yang terbang di belakang pun mengeluarkan suara yang keras, untuk menyemangati rekannya yang di depan. Setiap kali seekor burung keluar dari formasi, ia akan merasakan tekanan dan tolakan angin yang besar, sehingga buru-buru ia akan kembali ke formasi.
“War, nanti malam kita main yuk. Kata Bapak, kalau malam di dekat Balong sering ada kunang-kunang. Aku sendiri belum pernah melihatnya,” Ihsan menatap Mawar yang masih melihat jalanan yang sepi.
Insyaallah San. Nanti aku izin dulu sama mbak Fatimah.”
“Baiklah, aku mau meneruskan ngaji dulu,”  senyumnya merekah pelan.
Mawar menoleh kearah Ihsan yang telah menerima bukunya kembali, setelah dinilai oleh mbak Ningsih. Ditatapnya wajah polos yang telah menemaninya beberapa hari ini, San apakah kamu tahu, kamu adalah teman pertamaku yang menyenangkan. Apakah kamu tahu? Besok aku akan dijemput Umi kembali ke jakarta. Nanti malam aku akan menemanimu. Tunggulah aku…
*     *     *
Malam menyapa, jangkrik berpesta ria, katak berdendang, combre[2] mengakak tawa, burung Guek[3] menatap liar, luak[4] merambat keluar dari rumpunnya, bintang bertebaran, bulan cerah menyapa jagat. Sungguh malam ini tidak seperti biasa di musim rendeng[5]. Biasanya hujan, jika tidak, setidaknya gerimis kecil menyapa bumi. Malam ini bulan tersenyum indah, bulan tanggal 15.
Bocah Gedung Dalam Baru secara serempak tanpa komando keluar rumah, untuk merayakan masa kecilnya, di bawah sinar bulan, berdendang ria, bermain gobak sodor, petak umpet atau sekongan. Ah! Betapa indahnya masa anak-anak.
Rik…rik… suara gangsir telah menjadi incaran beberapa bocah yang telah mengendap-endap mendekatinya, dengan melangkahkan kakinya tanpa suara. Setelah dekat, tubrukan berupa rebutan yang dilakukan bersama itu ternyata bernilai gagal total, gangsir itu telah mengetahui gerak yang mengancam, melalui dua antena di atas kedua matanya.
“Kencingi bersama lubangnya, pasti gangsir sial itu akan keluar,” saran Wahyu yang merasa kesal karena lompatannya didahului Bimo.
Bimo, Wanto, Kubro menganggukkan kepalanya pelan tanpa suara, mengiyakan saran Wahyu, dan suurrr! Air telah menggenangi lubang gangsir itu, hingga lubang itu penuh dengan air, dan meresap meninggalkan basah, masuk ke dalam lubang. Beberapa detik, seekor gangsir besar keluar kepayahan, membuat mereka segera menubruknya, hingga binatang itu mati tertekan tangan-tangan serakah itu. Akhirnya, mereka tetap memakan bersama seberapa pun dapatnya, namun untuk mengetahui siapa yang paling hebat, mereka diajarkan alam untuk saling berebut mendahului.
Ihsan tersenyum melihat Mawar, yang berada diantara penonton yang sedang menyaksikan permainan gobak sodor, mawar membalas senyuman itu.
“Ayo kita ikut main?” tanpa menunggu jawaban, Ihsan segera menarik tangan Mawar, mereka suit untuk menentukan siapa yang harus masuk ke dalam kelompok yang sudah menang. Permainan dimulai, Mawar sering melakukan kesalahan karena dia belum pernah memainkannya, hingga sering kebobolan ketika menjaga.
“Aku keluar!” Mawar merasa bosan karena selalu melakukan kesalahan, Ihsan mengikutinya sambil berpamitan kepada teman-temannya. Sepeda mengayun kembali, mereka menuju balong, walau waktu menunjukkan pukul 21.00.
Sepeda kecil itu tergeletak begitu saja di tanggul ledeng. Ihsan mondar-mandir gelisah menunggu sesuatu, “Dimana mereka bersembunyi ya? Padahal kita sudah lama disini.”
Mawar menggoncang-goncangkan kakinya di atas permukaan balong, gelombang air yang timbul terlihat indah, karena membuyarkan bayangan rembulan penuh di permukaan balong.
“Setiap pertemuan pasti ada perpisahan, kita harus sadar bahwa pertemuan yang kita rasakan indah, mengisyaratkan bahwa perpisahan merupakan awal yang indah, untuk menciptakan pertemuan kembali,” Mawar semakin menundukkan kepalanya, memandangi air, “Sebenarnya besok aku akan dijemput Umi untuk kembali ke jakarta. Aku ingin berkata jujur padamu San. Namaku sebenarnya bukan Mawar, namaku…,” kalimat itu terhenti sejenak, “Namaku…, San, San!” wajah putih itu mendongak, Astaghfirullah…, Ihsan berada sekitar 30 meter di pinggir balong, di kebun milik mbah Teno, berjalan mengendap-endap.
“Berarti…” wajah putih itu berubah merah, “San! Sedang apa kamu disana?”
Ihsan hanya meletakkan jari telunjuknya di antara bibirnya. Mawar semakin kesal, hingga Ihsan merangsek ke depan, telungkup di tanah, “Horee…dapat! Aku dapat gangsir besar,” Ihsan menggengam gangsir, itu dan membawanya kearah Mawar.
“Untung saja suaramu tidak membuatnya takut,” Ihsan tersenyum bangga.
“Jadi, kamu tadi tidak mendengarkan aku bicara?”
“Bicara apa? Baiklah, sekarang aku akan mendengarkannya. Memangnya Mawar mau ngomong apa sih?” wajah polos tanpa kabut itu, pias terpantul cahaya rembulan.
“Dasar anak desa!” Mawar kembali menekuri sujud pandangnya ke air.
Ihsan semakin bingung, “Kenapa kamu marah?” lalu ikut duduk di samping Mawar, “Aku dapat gangsir besar, rasanya enak banget. Kita bakar disini saja ya?” senyumnya, mencoba melerai kecemberutan Mawar yang kini bertopang dagu.
“Jangan!” Mawar tiba-tiba menoleh cepat kearah Ihsan.
“Kenapa? Kalau kamu gak suka, biar aku sendiri yang memakannya.”
“Jangan!”
“Kenapa?” Ihsan menatap Mawar penuh tanda tanya, anak ini memang aneh.
“Kasihan, dia juga makhluk Allah. Dia juga ingin hidup,” suara itu merendah.
Ihsan tersenyum untuk kesekian kalinya, “Baiklah sahabatku, kamu tidak usah menangis. Untukmu, aku akan melepaskannya.”
Mawar tersenyum manis, meminta binatang itu dari tangan Ihsan, lalu melepaskannya di semak-semak tanggul. Semburat kelegaan tampak dari wajahnya yang memantulkan sinar rembulan, yang telah berada tepat di atas kepala.
Malam semakin senyap, tinggal suara-suara angin yang masih mendesau. Suara katak masih menyisa, tepatnya tengah malam.
“San, apakah kamu mau menjadi sahabatku selamanya. Hingga… kita tua nanti,” kesenyapan yang tercipta lama, membuat Mawar harus memulai, Ihsan dari tadi merebahkan dirinya di rumput tanggul, “Aku memang belum bisa menjadi teman yang baik, tapi aku akan berusaha San. Aku selama ini kesepian, ketiga Kakakku jarang mau menemaniku, Ayahku jarang pulang, dan ibuku lebih menyayangi Kakakku dan sering mengabaikanku, aku ingin menjadi temanmu San,” isak pelan itu mengalun pelan, agak lama menambah kesenyapan malam, “San…, kumohon jadilah temanku? San…, San, San!” wajah sendu itu menoleh, menatap Ihsan yang tersenyum. Tidur pulas.
Mawar tidak menyiratkan kemarahan kini, dia merebahkan dirinya di samping Ihsan. Bulan yang indah, alangkah indahnya jika dia hidup di desa selamanya, tanpa ada kebisingan jalan. Matanya mulai menutup perlahan, malam terakhir ini, akan dimulainya dengan merubah sikapnya yang selalu berbuat kasar.
Ihsan membuka matanya, silau cahaya membuatnya terbangun. Diedarkan pandangannya berkeliling, rembulan mulai turun melewati tengah malam. Di sebelahnya, Mawar telah terlelap. Matanya menatap gadis kecil yang baru beberapa hari ini bersamanya, bukan itu yang dilihatnya kini. Tapi, beberapa kunang-kunang yang baru dilihatnya pertama kali ini, sedang berputar-putar di atas wajah pias Mawar. Wajah itu  begitu bersinar, andai saja dia mau sejenak menjadi sahabatku, walau pergi lagi.
“War, bangun War. Lihatlah, banyak kunang-kunang,” Ihsan menggoncang-goncangkan tubuh Mawar pelan. Gadis kecil itu membuka matanya, senyumnya merekah, bagaikan mimpi, dia dikelilingi cahaya. Mereka saling tersenyum.
“Indah bukan?” Ihsan mengangkat kedua tangannya ke atas, menyatukan teluntuk kanan dengan telunjuk kiri, dan ibu jari dengan ibu jari. Mirip bentuk lingkaran tak sempurna namun juga segitiga tak sempurna, me-ngeker[6] rembulan penuh, dan memasukkannya dalam lubang jemari yang dibentuknya, “Lihatlah rembulan dari tanganku.”
Mawar mendekatkan kepalanya menyentuh kepala Ihsan. Bulan itu benar-benar berada dalam lingkaran tangan Ihsan, begitu mempesona membuat mereka merenda imajinasi masing-masing, ditambah kerlap-kerlip cahaya kunang-kunang menyemarakkan panorama. Bagaikan melihat bulan dari teropong. Lama mereka menatap wajah bulan, yang terus  menyapa bumi dengan cahayanya.
*     *     *
Keindahan yang menyusup membuat Mawar mengangkat tubuhnya, duduk dan kunang-kunang itu terbang berkelip-kelip di atas air, menciptakan pantulan yang begitu mengindahkan cerminan air, ditambah sinar bulan yang menyatukan cahayanya.
“War, tadi kamu mau bicara apa?” Ihsan teringat sesuatu
“Sudahlah, aku tidak mau bicara lagi, ayo pulang. Aku marah padamu!” Mawar mulai melangkah berlalu.
“Tapi War, aku hanya ingin menjadi temanmu…”
Mawar menoleh seketika, dari balik pohon jambu, tiba-tiba menghambur kunang-kunang yang entah dimana sebelumnya bersembunyi, begitu pun dari rerimbunan di pinggir balong, begitu banyak mirip lebah yang sedang mencari madu. Tiada keindahan kecuali terangnya cahaya, semesta begitu indah. Bulan tersenyum, gemintang penuh memenuhi langit, angin malam rindu membelai, dan kunang-kunang layaknya lampu berkelip, memenuhi semesta terpantul air, menimbulkan sinar terang.
Mawar tiba-tiba memeluk Ihsan, isaknya lirih terdengar, “Kumohon, jadilah sahabatku? Kumohon.” Kepalanya tersandar di pundak Ihsan.
“Aku akan selalu menjadi temanmu War. Tapi kenapa kamu menangis?”
“Besok Umi akan menjemputku, aku akan kembali ke Jakarta.”
Ihsan melepaskan pelukan Mawar dan memegang bahunya, “War, pergilah. Suatu saat aku akan mencarimu, dan kita akan menjadi sahabat selamanya,” sorot mata itu begitu tajam, menyiratkan keyakinan.
“Benarkah?” Mawar mengusap air matannya, dengan punggung tangannya.
“Tapi kamu harus janji?”
“Janji apa?”
“Kamu tidak akan nakal lagi, jangan memukul orang lagi, dan harus menurut dengan keluargamu.”
“Baiklah, aku akan menepatinya. Tapi kamu juga harus janji.” Mawar meneruskan perkataannya setelah melihat anggukan Ihsan, “Kamu tidak boleh memakan hewan-hewan yang kamu tangkap lagi, kamu harus menyayangi mereka. Mereka juga ingin hidup seperti kita.”
“Satu hal lagi,” Mawar menghirup udara mengembun sejenak, “Ini hanya akan menjadi rahasia kita, ini janji rahasia kita,” senyum pun berpadu.
Ihsan menganggukkan kepalanya lagi, “Aku akan menepatinya untukmu,” tangannya membentuk huruf V, “Ayo kita pulang.”
Sepeda kecil itu mengayun menuju rumah pak Bayan Yadi, yang letaknya kurang lebih 250 meter dari balong. Malam telah senyap, kehidupan manusia banyak dihabiskan di ranjang.
“Aku pulang dulu ya War,” Ihsan memutar stangnya setelah Mawar turun dari boncengan, kakinya hendak mengayuh pedal.
Mawar mendekati Ihsan dari arah depan, “San!” wajahnya setengah menunduk, “Maafkan semua kesalahanku selama ini?”
Ihsan hanya tersenyum meringis, “Gak pa-pa, aku sudah memaafkannya,” seperti biasa, garukan kepalanya yang memang benar-benar gatal, karena jarang keramas.
Sebuah ciuman di pipi Ihsan, yang serba singkat membuatnya melongo, tangan yang semula menggaruk kepala terkulai lemas jatuh ke bawah. Mawar berlari sambil mengucapkan salam dan menuju pintu.
Ihsan sempat diam sejenak, seperti terpaku di bumi. Tangannya perlahan menyentuh pipinya, yang mungkin kini berwarna merah tak menentu. Dunia seperti khayal, sebentar-sebentar berubah drastis, lalu kayuhnya membahana bersama riangnya ayam yang telah siap-siap berkokok, untuk mengingatkan manusia.
Sebuah pandangan melihat kejadian itu, dengan perasaan bingung dari balik jendela, malam ini dia tidak bisa tidur, lalu menutup horden dan membuka pintu, karena gadis kecil itu mengetuk pintu.
*    *    *
Malam itu walau mendekati pagi, Mawar tidak bisa memejamkan matanya, dihampirinya kamar kakaknya. Dilihatnya seorang wanita berada di ruang tamu, mbak Ningsih. Mawar tidur bersama anak perempuan pak Bayan yang telah SMP.
“Mbak, bolehkah aku meminta bantuan?”
“Kesinilah, apa yang bisa mbak lakukan untukmu?”
“Aku belum bisa menulis. Tolong tuliskan ucapanku.”
“Baiklah. Mbak Ningsih ambil kertas dulu ya?” anggukan kecil itu membuat Ningsih mengambil tasnya, dan mengambil selembar kertas dengan pena-nya.
“Katakanlah, Mbak siap menuliskannya,” tanpa bertanya, Ningsih menyanggupinya.
Beberapa kata terbata-bata, keluar dari bibir kecil Mawar, Ningsih pun sibuk menulis sambil beberapa kali sorot matanya menengadah ke atap. Entahlah! Kenapa hanya menulis seperti berpikir. Mungkin karena bacaan kesukaannya adalah sastra.
*     *     *
Ihsan, sesampai di rumah juga tidak bisa memejamkan matanya, Bapak yang membukakan pintu tidak banyak bertanya, hanya mengatakan kalau pulang jangan malam-malam, lalu beranjak tidur kembali masuk ke kamarnya.
Dilihatnya Fajar masih terlelap. Pulau telah terbentuk di bantalnya. Sesekali pandangannya menengadah, besok Mawar akan pergi lagi, aku harus memberinya sesuatu untuk mengingatkannya padaku. Langkahnya segera digerakkan menuju dapur, mengambil sebongkah kayu dan mematahkan bagian kecilnya, kebetulan kayu jati.
Diambilnya sebilah pisau, lalu berjalan menuju kamarnya kembali, sedetik kemudian jemarinya bekerja mencoba mengukir kayu kecil itu. Serpihan-serpihan kayu mulai mengelupas kecil-kecil, hingga waktu merambat tanpa mengenal kata henti. Senyumnya tiada tertinggal senyum, yang mengiringi gerak jemarinya.
Matanya mulai merasa perih, namun tangannya terus menari memegang pisau, membuat lekukan-lekukan imajinasi yang ada di pikirannya, telah ada lubang yang nampak, di pinggirnya seperti garis melingkar, dengan salah satu tengah membentuk lincipan melengkung. Ah! Entahlah bentuknya memang mirip cincin, tapi masih penuh lika-liku seperti jalanan yang terjal. Akhirnya mata  itu benar-benar tak kuat, setelah menguap beberapa kali, dan tubuh itu jatuh di tikar yang digelarnya di atas alas tanah dalam kamarnya. Matanya nampak begitu lelah, tidurnya bagitu lelap.
Suara langkah lelaki itu, tidak membuat Ihsan bangun. Ali setelah shalat malam sebenarnya sedikit terganggu dengan suara menyisik kayu, setelah memasuki kamar kedua anaknya, didapatinya Ihsan tertidur di tikar bawah, sedangkan Fajar di atas dipan. Tangan kanan Ihsan masih memegang pisau, dan tangan kirinya mengepal. Ali mengambil pisau itu dan membuka kepalan tangan kiri Ihsan, di dapatinya sebuah ukiran yang belum jadi, diamatinya, mencerna bentuk yang belum jadi itu.
Jemari lelaki yang kini memiliki tiga orang anak itu, meraba ukiran kecil itu, merasakannya dengan hati, Ukiran yang dibuat dengan penuh rasa cinta, walau raga tidak kuat, namun kekuatannya mampu menggerakkan sendi yang telah lelah menjadi bercahaya. Anakku, engkau memang belum mengetahui banyak makna kehidupan, tapi cinta akan menjadi bekalmu dalam melangkah. Dibopongnya tubuh Ihsan, lalu membaringkannya di dekat Fajar. Diambilnya ukiran itu dan sebilah pisau, meneruskannya, diambilnya beberapa lembar amplas di dapur. Subuh hampir menyapa, Ali meletakkan ukiran itu dalam genggaman Ihsan kembali. Sebuah cincin bulan sabit
Sabtu seolah semesta hening, membawa perasaan Mawar yang semakin gelisah, hari ini dia akan kembali ke Jakarta. Mandinya begitu lama, seperti tidak ingin pergi meninggalkan Gedung Dalam Baru, hingga Ningsih dari tadi merengek seperti anak kecil meminta gantian. Mawar tidak menghiraukannya, dia melamun, diingatnya suratnya tadi malam telah dititipkannya kepada mbak Ningsih untuk diberikan kepada Ihsan.
Setelah mandi pun, Mawar mendiamkan dirinya di dalam kamar, duduk menekur menatap lantai, hingga suara yang amat dikenalnya terdengar dari arah depan. Mawar buru-buru mengenakan bajunya, dan mengintip pelan dari jendela kamar Harmi yang telah keluar rumah bersama teman-temannya. Mbak Fatimah sedang berbicara dengan Ihsan, suaranya terdengar walau pelan. Terdengar percakapan yang aneh di telinganya.
“Terimalah San, Mbak sudah tahu kalau kamu berhasil,” tangan itu telah mengalihkan bungkusan kotak itu ke tangan Ihsan.
“Tapi Mbak, sebenarnya…,” kalimat itu tercekat, berat hendak mengungkapkan.
“Sudahlah, bukankah kamu dulu begitu antusias menginginkan coklat ini. Mbak ikhlas memberikannya untukmu yang telah menjaga adikku.”
“Bukan itu maksud Ihsan mbak, tapi…,”
“Ihsan!” sebuah suara keras lagi serak keluar dari celah jendela yang membuka, membuat Fatimah dan Ihsan segera menengok. Wajah itu nampak berurai airmata, mengusapnya dengan punggung tangannya.
“War! Dengarkan dulu penjelasanku, aku akan menjelaskannya.”
Terlambat, jendela itu segera tertutup rapat, Ihsan mulai berlari hendak memasuki rumah, namun suara Fatimah menghentikannya sejenak, “Sebenarnya ada apa San?”
“Aku tidak mau hadiah itu, buat Mbak saja!”
“Tapi ini untukmu San.”
“Berikan saja buat Fajar. Aku tidak mau menerimanya,” Ihsan berlari masuk menuju kamar Mawar dan mengetuknya hingga berkali-kali, “War, aku akan menjelaskannya! Aku hanya ingin menjadi sahabatmu,” tapi yang terdengar hanya isakan lirih, membuatnya lemas dan meninggalkan rumah itu untuk pulang. Fatimah semakin bingung, namun pertanyaannya tak diungkapkan melihat situasi yang tidak tepat.
Hari ini Ali tidak berangkat kerja, entahlah, dia merasa tak enak badan. Ihsan pulang dengan wajah kuyu, kotak yang telah dipersiapkannya untuk diberikan kepada Mawar masih dipegangnya erat.
“Kenapa cincinnya belum diberikan kepada Mawar, katanya kesana untuk memberikannya?” Ali menangkap kegelisahan anak pertamanya itu.
“Pak, tadi aku bahagia sekali, karena Malaikat telah menyelesaikan ukiranku tadi malam yang belum selesai, tapi… Mawar marah padaku dan tidak mau menemuiku, karena dia tahu, kalau selama ini aku hanya menginginkan hadiah dari mbak Fatimah.”
Ali mengelus kepala Ihsan lembut, “Berikan kotak itu pada Bapak, biar Bapak yang memberikannya. Bapak tahu sebenarnya kamu tidak hanya menginginkan hadiah itu, buktinya Malaikat telah membantumu membuat hadiah itu.” Walau tidak tahu masalahnya secara jelas, tapi Ali tahu perasaan anaknya.
Ihsan memberikan kotak itu pasrah, “Tolong katakan padanya Pak, kalau aku ingin menjadi sahabatnya sampai kapanpun juga, bukan karena hadiah.”
Ali menganggukkan kepalanya dan pergi ke rumah pak Bayan. Entah apa yang terjadi selanjutnya, yang Ihsan ketahui, Bapaknya bertemu dengan Mawar dan memberikan kotak hadiah itu kepada Mawar.
Sebuah mobil yang sangat dikenalnya melewati rumahnya, Ihsan tidak berteriak seperti biasanya dikala sebuah mobil lewat. Kini tatapannya kosong, tapi hanya sementara, segera diraihnya sepedanya dan mengayunnya dengan cepat.
Terlambat. Mobil itu telah meluncur lagi, meninggalkan rumah Bayan ketika Ihsan telah sampai. Mobil itu melintasinya, sekilas terlihat wajah putih Mawar sedang menatapnya. Dikayuhnya sepeda, mengejar mobil kijang itu, walau kecepatan tidak seimbang, dia berharap dapat mengantar Mawar hingga jalan besar. Debu beterbangan, mengepul mengangkasa, pandangan mata Ihsan kabur. Berhenti. Terlihat Mawar sekilas melambaikan tangannya menempel di kaca, sorot matanya susah diungkapkan.
Bagaimana ini, aku belum meminta maaf padanya. Walau dia marah padaku, aku hanya ingin dia tahu, kalau aku akan menjadi sahabatnya sampai kapanpun, setidaknya dia tahu kalau aku akan merindukannya, sepeda itu mengambil arah yang berbeda, melewati lereng-lereng di atas jalan, jika lewat jalan umum akan berkelok memutar sampai jalan raya, lereng itu lurus, namun jalannya kecil sekitar dua meter.
Sepeda itu terus mengayuh, begitu kencang, ingin rasanya terbang tapi tiada mungkin, tanpa disadari sebuah bongkahan kayu melintang di tengah jalan. Keseimbangannya susah dikendalikan karena  kecepatan kayuhnya tinggi.
“bruukk!” terdengar suara rintihan mengaduh, tiada orang karena ini hanya jalan lintas orang yang hendak mencari kayu. “Mawar!” segera diangkatnya sepeda yang tergeletak melewati bongkahan kayu itu, dilupakannya rasa sakit dan darah yang mengalir pelan di lututnya. Aku harus menemuinya walau hanya sekilas, agar dia tahu bahwa aku hanya ingin menjadi sahabatnya, aku tidak membutuhkan hadiah itu.
Jalan terjal itu tak dihiraukannya lagi, darah menetes walau sedikit, cukup menjadi bukti perjuangannya. Gerakannya cepat menghentikan laju sepeda, pandangannya mengedar. Mobil itu terlihat di bawah, tinggal dekat dari jalan besar, kini dia berada di turunan yang menghubungkan dengan jalan besar. Aku akan datang War! Dan pengorbanan itu terbukti lagi, kecepatannya melesat cepat, angin mendesau marah di sekitarnya, tangannya memainkan rem dan kemudi agar tidak ketinggalan mobil yang hampir mendekati jalan raya. Bukan lagi keselamatan yang ada di pikirannya, melainkan hanya ingin sekali lagi melihat wajah sahabatnya itu.
“Mawar!” mobil kijang itu telah mendahuluinya, dengan jarak yang sangat dekat, sekitar 10 meter. Pandangannya hanya tertuju pada jendela belakang mobil, tatapan mereka bertemu, hingga Ihsan lupa kalau kini sepedanya menyentuh jalan raya dari turunan panjang itu. Jiwanya seakan melayang dan keseimbangannya pun hilang. Sepeda itu mencelat di pinggir kanan jalan dan Ihsan tertinggal, tersungkur.
Ihsan mengangkat tubuhnya sekuat tenaga, darah segar keluar pelan dari bibirnya. Dalam posisi duduk, dia masih melihat mawar meneteskan airmata, menempelkan kedua tangannya di kaca belakang mobil. Ihsan mengangkat tangan kanannya, menggerakkan telapaknya melambai. Senyumnya merekah, di antara kesakitan yang dirasakan. Hanya sebatas inilah aku dapat berusaha. “Maafkan aku sahabatku!” teriakan itu membahana, alam seolah berusaha memantulkannya hingga bersahut-sahutan. Jarak semakin jauh, hingga akhirnya lurus pandangan hanya setapak jalan terhampar.
“Kenapa Non, kenapa menatap keca terus? Non menangis?” Syarif, sang Supir  melihat dari spion di atasnya, menatap sedari tadi anak yang dijemputnya itu menatap ke belakang , dan seperti mendengarkan sebuah isakan lirih.
“Tidak ada apa-apa Bang! Aku pasti akan selalu merindukan desa ini,” Mawar membalikkan tubuhnya, lalu menatap ke depan, disekanya airmatanya dengan tissu yang tersedia di mobil itu, ibunya tidak ikut menjemput karena menemani kakaknya berlibur ke rumah ‘Ammi Yusuf. Walau pergi, separuh jiwanya berada tertinggal di belakang, akankah suatu saat tertemukan. Maafkan aku San. Mobil itu melaju mendendangkan lagu penantian, mendayu dari hati seorang yang baru menemukan seorang sahabat, yang membuatnya berjanji untuk berubah.
Kecemasan nampak di wajah-wajah keluarga Ali Rahman, beberapa orang  dari desa 37C datang membawa Ihsan yang terluka dan sepedanya, tidak ada tangisan dari bibirnya, hanya saja pandangannya terlihat diliputi mendung kesedihan. Nur menghambur menggendong Ihsan, tetesan airmatanya tumpah, “Kenapa kamu Nak?”
Ihsan hanya menghapus airmata ibunya sambil tersenyum. Ali Rahman menemani tamu yang membawa Ihsan, bukan waktunya menanyakan kepada Ihsan, dia tahu perasaan anaknya yang kini kehilangan. Fatimah dan Ningsih menjenguk Ihsan, setelah mendapat kabar kalau Ihsan kecelakaan.
“Ini surat dari Sahabatmu itu. Bacalah sendiri jika kamu sudah bisa membaca,” Ningsih sambil membawa jajanan snack, memberikan amplop coklat kecil ketika dia hanya berdua di kamar Ihsan. Ihsan tersenyum, matanya mulai bercahaya kembali, luka-lukanya seolah tiada terasa lagi, “Terima kasih ya Mbak.” Senyum itu pun dibalas dengan ulasan serupa dari bibir Ningsih.
*    *    *
Sabtu sore. Di salah satu rumah di kota Bogor, nampak bu Ratih sedang duduk  bersama anak perempuannya yang ke-tiga. Mereka baru saja pulang dari tempat pamannya, Yusuf. Sebuah mobil terdengar memasuki garasi rumah. “Wardah, sepertinya adikmu sudah pulang.”
“Iya Mi. Aku akan menyambutnya, pasti dia bawa oleh-oleh dari desa,” senyum gadis kecil itu tulus, membuat siapapun terbius untuk menyayanginya.
“Assalamu’alaikum,” Mawar nampak lesu, mungkin perjalanan lampung ke Pulau Jawa membuatnya sedikit capek. Dijinjingnya plastik hitam, oleh-oleh dari pak Bayan dan ayah Ihsan.
Terdengar jawaban salam dan pintu terbuka, Wardah tersenyum menatapnya, “Kelihatannya kamu kecapekan Zahra? Bagaimana liburanmu bersama Mbak Fatimah?”
“Menyenangkan Kak, tapi Zahra capek banget, mau istirahat dahulu. Nanti Zahra akan cerita bagaimana keindahan desa yang sering kita baca,” senyum itu juga tulus.
Wardah sempat terpaku sejenak, seperti dalam mimpi. Adiknya Zahra tidak seperti biasanya, dan yang semakin membuatnya penasaran adalah,  adiknya tiba-tiba merangkulnya dan berbisik pelan, “Maafkan kenakalan Zahra selama ini, zahra akan berusaha menjadi anak yang baik.”
Zahra masuk ke dalam rumah, meninggalkan Wardah yang masih mencerna kebingunngannya sendiri, apa yang terjadi? Tapi ini adalah mukjizat, pikirannya melayang.
Zahra Mutaqwiati
Umurnya 6 tahun tepat, atau lebih sedikit. Anaknya nakal, bandel dan suka berkelahi. Seluruh keluarganya kewalahan mendidiknya, itu terjadi sebelum bertemu dengan sahabat dari sebuah desa saat dia berlibur. Dia terlahir kembar. Kakak kembarnya bernama Wardah Mutaqwiati, jarak lahir satu jam. Ibunya bernama Ratih Sanggarwati, seorang Ibu rumah tangga yang menghabiskan waktunya di rumah, mendidik anak-anaknya. Ayahnya seorang pengusaha muslim sukses, sangat sayang kepada anak-anaknya, namun karena alasan tertentu, dia hanya pulang di hari ahad saja, dan keluarga begitu menunggunya penuh harapan ketika ahad menyapa.
Dia anak ke-4. Kakaknya yang pertama kini telah bekerja di perusahaan setelah lulus S-1 di perusahaan ayahnya, sambil meneruskan kuliahnya. Kakaknya yang ke-dua kini sedang KKN di Lampung, karena sebentar lagi penyusunan Skripsi untuk kelulusannya di Fakultas Kedokteran.
Zahra. Pendidikan Umminya mengajarkannya selalu untuk memahami arti kehidupan. Setelah liburan II selesai, keluarganya merasakan perubahan yang nampak nyata pada perilakunya, mereka bahagia karena kenakalan itu telah hilang. Pendidikan selama ini dari ummi ternyata berhasil. Di balik itu, ada kontribusi yang disembunyikan Zahra melalui sahabat, yang entah nanti masih bisa bertemu atau tidak
Merambat waktu, Wardah masih kebingungan dengan perubahan adiknya yang hanya terbilang beberapa hari. Biasanya, ketika dia mencoba berbuat baik padanya selalu dibantah, ketika sebuah boneka ia beli pasti dirusak, ketika dia menonton TV pasti dimatikan, ketika belajar Iqra’ dengan Ummi pasti selalu dikelitiki. Ah! Benar-benar aneh.
Pikiran kecilnya sedikit menyelidik, terbang, “Pasti ada sesuatu yang membuatnya berubah, dari liburannya di desa tempat kak Fatimah praktek,” dipacunya langkah menuju kamar, mencari sesuatu yang bisa memantapkan argumennya. Sebuah tas kecil. Tangannya cekatan membuka tas itu cepat ketika Zahra sedang mandi, sebuah kotak mini terbungkus kertas putih diambilnya, lalu berlari ke taman belakang. Mungkin kotak ini bisa menjadi petunjuk, idenya mengelitik.
“Sebuah cincin bulan sabit yang indah, ukirannya benar-benar menggambarkan keindahan,” Wardah takjub, Terlalu kebesaran. Dipakainya cincin itu, “Maafkan aku Zahra, ini sesuatu yang indah. Aku akan menyimpannya.” Walau berat karena menyalahi didikan Ummi, tapi ini akan menjadi yang pertama dan yang terakhir, maafkan aku ya Allah, hati itu membenarkan dan meyakinkan.
    *    *    *
     Malam senin menyapa, besok dimulainya Sekolah mengawali cawu ke-tiga, ingin rasanya Ihsan memulai Sekolahnya, hingga libur yang ditunggunya datang lagi, siapa tahu Mawar akan mengunjungi lagi ke desanya. Ah! Menunggu adalah pekerjaan yang membosankan, Ihsan teringat kata-kata mbak Ningsih.
Ihsan menatap Fajar yang telah pulas di sebelahnya, jemarinya mengelus rambut adiknya itu sejenak. Pikirannya melayang, dia teringat sesuatu. Surat itu! Tangannya menjulur ke bawah bantal, mengambil amplop kecil itu, dibukanya perlahan. Sreek!
“A,” hanya itulah yang tertangkap dalam bacaan pertama tulisan itu, ah! Aku belum bisa membaca. Tapi suatu saat aku akan membacanya. Ihsan memasukkan kembali surat itu ke dalam amplop, lalu berpikir hendak menyembunyikan dimana, ya! Di atap. Ihsan memaksakan dirinya bangkit, lukanya masih membasah. Dia meletakkan amplop itu di selipan usuk kayu atap. Memanjat meja. Beres deh!
*  *  *
Gedung dalam Baru masih seperti semula, tidak terjadi banyak perubahan. Petani masih absen di sawah, pembajak tanah masih membawa brujul[7] dan luku-nya, pengupas singkong masih menenteng peretan[8]-nya, pembuat batu bata masih setia mengadon tanah merahnya, Pak Kades masih menekuni tugasnya di balai desa, Bayan juga setia memberikan laporan kepada lurah.
Hari ini, hati seorang anak kecil menitikkan airmata membasahi pipi, membuat perasaannya tiba-tiba mengiris sepi. Dua orang yang telah beberapa bulan ini selalu bersamanya dikala belajar Iqra’, berpamitan padanya, tidak ada yang istimewa ketika tangan kedua wanita itu melambaikan tangannya kepada seluruh penghuni pedukuhan, tapi  nampak sembab pula seluruh mata. Pertama kali ada penyuluhan kesehatan gratis masuk ke desa ini, apakah masih ada lagi yang mau meneruskannya?
Aktivitas desa memang masih sediakala, namun ada setitik kesedihan yang mereka rasakan. Fatimah dan Ningsih memang telah banyak membantu mereka, dari mulai penyuluhan kesehatan hingga pengobatan gratis, ditambah dengan ide-ide mereka yang digunakan untuk pembangunan desa, walau hanya sebatas wacana.
Sedikit hilang keceriaan di wajah Ihsan, siapa lagi yang akan mengajarinya Iqra’, walau sedikit terobati karena Ibu siap menggantikannya. Kesedihannya bertambah lagi setelah kepergian Mawar, kesepian mulai menjalari hari-hari cerianya yang terenggut, mungkin agak lama dia bisa mengobati kesedihannya ini. Kedua orangtuanya membiarkan sejenak Ihsan menyelami sejenak kesepiaannya, karena mereka yakin, ini adalah pelajaran berharga bagi anaknya, perjumpaan dan kebersamaan itu memang indah, namun perpisahan adalah kepastian dan itu juga merupakan keindahan.
Kesedihan yang bersandar dalam diri manusia, biasanya akan sirna seiring berjalannya waktu, tapi Ihsan merasa waktu itu begitu lama, hingga hari-harinya seolah merupakan penantian yang tak kunjung berakhir, untuk perasaan seorang anak kecil berusia kurang dari tujuh tahun, apakah itu perasaan normal atau berlebihan?


[1] QS. An-Nahl : 79
[2] Binatang sejenis kelelawar
[3] Burung  hantu
[4] Binatang sejenis kucing tapi sering memakan anak ayam atau buah-buahan
[5] Musim penghujan
[6] Memusatkan, melihat dari  sebuah teropong
[7] Alat untuk membajak
[8] Alat untuk mengupasi kulit singkong

Tidak ada komentar:

Posting Komentar