Jumat, 18 Oktober 2019

Part 4, Mawar

Kamis, Hari Ke-Lima Liburan Cawu II
Matahari dhuha mentereng kembali, menemani semilirnya angin dingin menyisa. Pohon nyiur melambai-lambai, serona biru langit memancar membentang. Serunai keindahan desa, kedamaian dan ketenangan terasai di hati. Kelengangan malam gerimis, telah tergantikan dengan hari yang cerah, para petani dan segenap pekerja desa secara serempak berangkat ke tempat kerjanya masing-masing.
Pembuat batu bata sering merasa kepayahan, karena musim ini memang musim hujan, tapi titah nuraninya harus tetap membuat bata, walau ketika sore mendung dia harus memindahkan batu bata yang hampir kering, untuk diteduhkan dari rintik air di malam hari. Para buruh wanita pengupas singkong di ladang dan pekerja di pabrik baik pabrik singkong maupun pabrik industri di kecamatan, sudah berangkat dari rumahnya masing-masing. Desa mulai lengang kembali, hanya sedikit wanita yang menyisa di desa; baik yang membuat anaman besek[1] dari iratan bambu tipis, maupun yang hanya memetik kopi di kebunnya sendiri, atau yang berjaga di warung-warung desa.
Lengang penduduk dewasa, lain lagi ramainya bocah yang kini menjalani hari-hari liburnya, ada pula yang membantu orang tuanya di sawah, namun kebanyakan bermain-main, entah mencari burung dengan plinteng[2], bermain kelereng, bermain petak umpet atau bermain gobak sodor[3], tinggal pilih dan bebas mencari komunitas yang disukainya.
Kidung dan nyanyian bocah Gedung Dalam Baru begitu menggema, dengan syairnya masing-masing, bernyanyi sambil bermain, “Dji Ro Lu teng ndas petak cakar maleng dodo mentok tai gareng…” ada yang berkidung, “Tul jaenak jae katul jaedi, kuntul jare mbanyak doke bajul garek siji.” Ah! Alangkah tentram dan merdunya.
Beberapa hari ini, Ihsan selalu menemani gadis kecil yang berlibur dari Jakarta, menemani kakaknya praktek. Ibunya memberi izin, tapi dengan syarat jangan berkelahi lagi, beda dengan Bapak sewaktu mengetahui Ihsan berkelahi menolong adiknya mbak Fatimah. Bapak bangga, namun mulai selanjutnya, Ihsan diajari silat setiap ba’da subuh, setelah mengaji sebentar. Ihsan gembira dan berlatih silat dengan patuh dan tekun, memperagakan jurus-jurus yang diajarkan Bapaknya. Ihsan selalu ingat nama jurus yang diajarkan, ada jurus semut menggigit gajah, ada katak memukul ular, tikus membanting kucing, belalang menendang guguk –anjing- dan lain-lain. Walau aneh, Ihsan merasa senang mempelajarinya.
“Bagaimana kalau hari ini kita ke balong?” sampai saat ini, Ihsan belum mengetahui namanya, padahal waktunya tinggal dua hari lagi.
“Terserah.” Satu kata, dingin. Ihsan melaju sepedanya menuju balong.
Ada tiga anak yang sedang memancing. Gadis kecil itu duduk di semen tanggul, di atas balong, kakinya bergerak-gerak, dan jarinya menyentuh permukaan air menciptakan gelombang kecil berputar. Silau sinar matahari memantul mengindahkan wajah air yang tenang, hanya ombak kecil yang tercipta.
“Ehm…, kamu… belum memberitahu namamu, aku bingung hendak memanggilmu,” Ihsan menatap sejenak wajah putih di sebelahnya itu. Seekor walang kadung hinggap di rambut gadis kecil. Jeritan kecil membuat Ihsan segera mengambilnya. Hening suasana tercipta dari bungkamnya lisan.
“San kita ke gubuk yuk?” sorot mata itu tajam menatap Ihsan. Penuh pengharapan.
Sepeda kecil itu mengayun kembali, menuju gubuk di pinggir atas sawah, mereka berdua duduk di angkrok[4] bambu gubuk. Gadis kecil itu tetap diam, membelakangi Ihsan. Begitu lama Ihsan menunggu, hening suasana hingga melihat seekor gemak[5] mendaratkan terbangnya, di belakang gubuk. Santapatan lezat!
“Ehm San…, San…, aku ingin kamu tahu, namaku Zahra, kamu boleh memanggilku Zahra,” tidak ada sahutan. Sepi semesta, hening suasana. “San, san!,” wajah itu menengok ke belakang, dilihatnya Ihsan sedang berputar-putar membentangkan tangannya, berputar lagi…, Dasar Anak desa! Apa yang dia lakukan?
Ihsan berlari memutar dan terus memutar, melebarkan tangannya bak alap-alap yang hendak menerjang mangsa, matanya begitu elok tajam memusatkan pada satu titik. Putarannya semakin mendekat, sambil suara besar keluar dari rongga mulutnya, “gok…gok…,” semakin putaran mengecil, suaranya semakin cepat dan besar, dan…, “Aku dapat, aku dapat Gemak,” satu lompatan menubruk, ketika putarannya tinggal satu meter, kedua tangannya telah mencengkeram burung yang nampak ketakutan. Tawa Ihsan membahana, bangga karena bisa menangkap gemak seperti bapaknya.
Ihsan berlari menuju gubuk, “Hei! Aku dapat gemak! kita akan makan enak hari ini. Enaknya diapain ya? Dibakar atau digoreng ya?” bola mata itu ke atas, seolah memberi sinyal otak untuk berpikir.
“Jangan, burung itu harus dilepaskan lagi!” mata gadis kecil itu bulat membesar.
“Kenapa? Lagian nangkapnya kan susah.”
“Tidak usah tanya kenapa, atau aku tidak akan memberi tahu namaku, Titik!”
“Baiklah, baiklah. Aku akan melepaskannya. Tapi kamu harus memberitahu namamu, Janji ya?” Ihsan mengalihkan pandangannya ke gemak, ah! Beruntung kamu.
Gadis kecil itu tersenyum simpul, namun segera sirna dengan kedatangan dua orang yang sangat mereka kenal, Wahyu dan Bimo.
“Serahkan gemak itu, atau kalian berdua akan kami hajar sampai babak belur. Ha…ha…ha…,” tawa bersamaan itu, membuat Ihsan mengepalkan tinjunya. Bapak.
“Kami tidak akan memberikannya kepada kalian, kami akan melepaskannya,” gadis kecil itu menatap sejenak Ihsan, yang menatap kedua orang di hadapan mereka, “Iya kan San, Engkau tidak akan menyerahkan burung itu kepada mereka? walau kita taruhannya.”
Ihsan menatap sejenak gadis kecil itu, senyumnya merekah perlahan, “Tenang saja, kali ini, aku akan menghajar mereka!” kepalannya semakin kuat.
“Ayo cepat serahkan!” Bimo membantu menggertak Ihsan.
“Majulah kalian, beberapa hari ini aku telah belajar jurus-jurus sakti yang diturunkan Bapakku. Jika kalian masih ingin hidup, kalian harus pergi atau jurus pertamaku akan merobohkan kalian!” Ihsan menyerahkan gemak itu ke gadis kecil, kaki sebelah kanan diangkatnya, kedua tangan itu mengepak, dan jari-jarinya membuat lincipan seperti burung yang hendak mematuk. Dua orang di depannya melongo keheranan, apalagi gadis kecil itu.
“Dasar bocah bodoh!” Wahyu yang geram, akhirnya melayangkan pukulan kanannya, pukulan kosong karena Ihsan memutar tubuhnya menyamping. Peluang emas, saatnya menggunakan jurus pertama, “Belalang menendang Guguk!” buk! Telak, tendangan tepat mengenai bokong, Wahyu jatuh nyungsep di antara padi dan nyebur hingga merusak beberapa tanaman padi.
“Hebat! Jika kamu bisa menolong burung ini, aku akan memberitahu namaku San!”
“Kamu janji?”
“Aku janji!” senyum itu lepas, seolah hilang sudah kediamannya dulu.
“Ayo, kamu maju sekalian!” kini kedua tangannya mengatup ke depan, mirip belalang, sorot matanya berkonsentrasi kearah gerakan lawan.
“Hiaaat!”  Bimo yang telah tak sabar menendang dengan kaki kanannya, karena takut kejadian sama seperti Wahyu. Gagal. Kakinya tertangkap kedua tangan Ihsan, lalu kepala ihsan masuk dengan cepat, di antara kedua paha dan mengangkat tubuh Bimo sekuat tenaga. Saatnya jurus kedua, “Tikus membanting kucing! Hiaat!” dan byuur! Tubuh Bimo menubruk Wahyu yang mencoba bangun. Beceknya sawah memuncrat.
Tawa Ihsan dan gadis kecil itu lepas sudah, namun hanya sementara, karena seorang petani berteriak menghampiri mereka, “Dasar bocah-bocah edan! ngrusak tanemane uwong! Kene tak bledik podoan![6]
Ihsan segera menyambar tangan gadis kecil itu, “Cepat! Ini jauh lebih berbahaya. Biarkan saja mereka berdua,” mereka lari menuju gubuk, dan mengambil sepedanya, lalu melejit bagai meteor.
“Kenapa kita lari? Padahal kita kan tidak salah!” gadis kecil itu mengelus kepala burung yang masih terlihat ketakutan itu, dipandanginya Ihsan yang sedang duduk, sambil mengatur napasnya. Mereka berada di utara SD N 2 Gedung Dalam Baru, ladang yang membentang luas di dekat lapangan, banyak anak yang bermain disana.
“Bukan masalah salah atau tidak. Tadi itu namanya mbah Guno, siapapun anak yang ditemuinya, apalagi berbuat salah pasti akan dijanturnya, aku pernah hingga seharian aku pusing, kepalaku seolah mau pecah. Makanya kita harus lari.”
“Dijantur? Apaan tuh?”
“Enggak tahu, pokoknya kepalaku di angkatnya, dengan kedua telapak tangan, lalu digoyang-goyang terus, sampai-sampai telingaku mau copot, aku kapok!”
Keheningan membuat mereka menikmati panorama, ketika angin mendesir, ketika burung kutilang bernyanyi, ketika jangkrik bersembunyi di bawah lungko, dan ketika matahari hampir tepat di ubun-ubun.
“Sekarang kamu harus menepati janji, kamu harus memberitahu namamu? Ayo katakan,” Ihsan menggoncang-goncangkan kedua pundak gadis kecil itu.
“Aku tadi sudah mengatakannya, aku malas mengatakannya lagi.”
“Kalau tidak mau mengatakannya, aku akan menggoreng gemak ini,” Ihsan memamerkan gemak, tanpa diketahui kapan terebut dari tangan gadis kecil itu.
“Jangan! Baiklah, tapi setelah itu kita harus melepaskannya,” dan anggukan Ihsan membuatnya terpaksa berbicara, walau jengkel setengah mati, “Namaku… namaku…,” Ihsan menatapnya tanpa kedip, mulutnya semakin melongo, “Mawar.”
“Mawar! Nama yang bagus. Hore…hore… aku sekarang tahu namamu,” tanpa sadar, karena hadiah coklat yang diimpikannya akan segera diperoleh, Ihsan mencium pipi Mawar hingga membuat Mawar kaget. Ihsan menjauh dan melonjak-lonjak kegirangan, sambil mengangkat gemak yang berada di genggaman tangan kanannya.
“Buk!” sebuah pukulan tiba-tiba mendarat di pipi Ihsan, hingga membuatnya jatuh.
“Kenapa? Kenapa kamu memukulku?” Ihsan bangun dan membersihkan bajunya dari debu-debu tanah yang menempel.
“Kamu tidak boleh mengulanginya lagi! Awas kalau kamu mengulanginya lagi.”
“Mengulangi apa? Memangnya aku berbuat apa?” wajah polos itu nampak bingung.
“Kamu tadi telah menciumku, dasar anak desa!”
“Baiklah aku minta maaf, aku tidak sengaja. Tapi…, pukulanmu sakit sekali,” Ihsan mengelus-elus pipinya, tapi pikirannya senang, terbayang kembali coklat di benaknya.
“Maafkan aku juga, aku janji tak akan mengulanginya,” sebentuk wajah yang menyesal itu menambah serunai pancaran sejuk di wajahnya.
“Baiklah aku gak marah kok, sekarang kita lepaskan burung ini, aku takut dia mati.”
Mereka tersenyum, tangan mereka menyatu memegang gemak itu, gemak itu seolah tahu perasaan manusia yang berada di dekatnya, matanya merasa melihat kebebasan, “Satu… dua… tiga,” tangan-tangan kecil itu melepaskan pegangannya dan melemparkan burung itu ke angkasa, suaranya mencicit menandakan kebebasannya kembali, terbang menuju komunitasnya kembali, untuk meneruskan titah suci dari Rabbnya. Panas matahari bener-benar mengecup ubun-ubun, panasnya terasai, membuat mereka sadar waktu pulang telah tiba.
Esoknya, saat matahari dhuha menyapa kehidupan kembali, “Bapak udah berangkat ya Bu?” Ihsan mendekati Ibunya yang sedang memasak.
“Setelah Shalat dhuha tadi, Bapak langsung berangkat ke sawahnya Lek Pardi, hari ini Panen. Kamu udah shalat dhuha belum?”
“Belum Bu? Memangnya dhuha wajib juga ya bu?”
“Shalat Dhuha banyak manfaatnya, walau hanya dua rekaat, itu sebagai Shadaqah semua organ tubuh kita.”
Ihsan mengangguk pelan, “Ihsan shalat dulu, habis itu Ihsan mau bantuin Bapak ya Bu?” Ihsan menatap Ibunya, berharap mendapat izin.
“Baiklah, mumpung liburan,” senyum itu membuat Ihsan segera melonjak hilang.
Ihsan mengayun sepedanya, melewati rumah pak Bayan Yadi, yang berada di dekat jembatan bambu menuju sawah, pedalannya terhenti karena seseorang memanggilnya.
“Ada apa War? Kamu tidak menemani mbak Fatimah?”
“Mbak Fatimah sedang sibuk, aku boleh ikut gak San?”
“Tapi…, aku mau ke sawah, membantu Bapak mengumpulkan padi.”
Karena memaksa, Ihsan tak bisa berbuat apa-apa hingga mawar telah berada di boncengan sepedanya. Lagu-lagu ajaran Bu Syarmi guru kesenian, mengalun ceria.
Pak Ali nampak mengenakan caping[7], ketika mengumpulkan padi yang telah ditatanya rapi per-ikat, wajahnya nampak kepanasan kemerahan. Saat angin sepoi membelai wajah lelahnya, saat burung Dadali melintas di atas kepalanya, saat kaki-kakinya telah kelelahan kian kemari, saat itulah tiba-tiba wajah piasnya berubah bagaikan malam berhiaskan bintang gemintang. Wajah lelah itu telah sirna, menyaksikan buah hatinya datang dari arah matahari bersinar.
Ihsan dan Mawar mendekati pak Ali, yang telah selesai mengumpulkan tanaman padi yang baru disabitnya, tempat pemukul berbentuk segitiga telah terpasang di pinggir terpal. Siap untuk memukul.
Senyum Ihsan membuat Ali segera memukulkan damen padi, hingga butiran padi rontok dan jatuh di terpal. Udara panas mulai terasa.
“Kamu disini saja, nanti terkena gatel-gatel. Aku mau membantu ayahku,” Ihsan meninggalkan Mawar dan menggengam damen[8], tangannya yang kecil hanya mampu menggenggam sekitar 7 helai dan memukulkannya, butiran beterbangan tak tentu arah, ada yang keluar jauh mencelat dan ada yang tersangkut di rambutnya. Ali tertawa menyaksikan anaknya, yang berusaha keras memukul hingga napasnya turun naik.
Mawar yang melihat segera menghambur, dan ikut memukul-mukulkan helaian padi damen, hingga semakin banyak buliran-buliran pada mencelat, namun masih banyak yang masuk ke dalam terpal. Ali membiarkan mereka membantunya, baginya memberikan kebebasan kepada anak untuk melakukan yang mereka sukai, adalah termasuk membantu mereka menemukan jati dirinya kelak.
Selesai sudah, Ali mengumpulkan butiran padi dan membersihkan sisa-sisa helai yang masuk ke dalam terpal, lalu memasukkannya ke dalam kantong kandi. Dapat 3 kandi, Alhamdulillah, Ali mengelap keringat di dahinya dengan menggunakan baju yang diikatkannya di kepala.
Ihsan dan Mawar mengikuti mengelap muka mereka, dengan tissue yang selalu dibawa Mawar, tampak keceriaan di wajah mereka. Menyelesaikan suatu pekerjaan adalah sebuah kepuasan, yang tidak bisa dinilai walau dengan hasilnya sekalipun. Karena kenikmatan itu terletak pada prosesnya.


[1] Anyaman dari bambu yang di iris tipis-tipis, biasanya untuk wadah nasi saat kenduri
[2] Ketapel
[3] Permainan jaga secara gantian antara pemain grup satu dengan lainnya. Saling meloloskan diri.
[4] Tempat duduk di dalam gubuk yang dibuat agak  tinggi
[5] Burung  puyuh
[6] Merusak tanaman orang! Kesini saya hajar kalian!
[7] Topi melingkar dari anyaman bambu
[8] Tanaman padi setelah dipanen

Tidak ada komentar:

Posting Komentar