Kamis, Hari Ke-Lima Liburan Cawu
II
Matahari
dhuha mentereng kembali, menemani semilirnya angin dingin menyisa. Pohon nyiur
melambai-lambai, serona biru langit memancar membentang. Serunai keindahan
desa, kedamaian dan ketenangan terasai di hati. Kelengangan malam gerimis,
telah tergantikan dengan hari yang cerah, para petani dan segenap pekerja desa
secara serempak berangkat ke tempat kerjanya masing-masing.
Pembuat batu bata sering
merasa kepayahan, karena musim ini memang musim hujan, tapi titah nuraninya
harus tetap membuat bata, walau ketika sore mendung dia harus memindahkan batu
bata yang hampir kering, untuk diteduhkan dari rintik air di malam hari. Para
buruh wanita pengupas singkong di ladang dan pekerja di pabrik baik pabrik
singkong maupun pabrik industri di kecamatan, sudah berangkat dari rumahnya
masing-masing. Desa mulai lengang kembali, hanya sedikit wanita yang menyisa di
desa; baik yang membuat anaman besek dari iratan bambu tipis, maupun yang hanya memetik kopi di kebunnya
sendiri, atau yang berjaga di warung-warung desa.
Lengang penduduk dewasa, lain
lagi ramainya bocah yang kini menjalani hari-hari liburnya, ada pula yang
membantu orang tuanya di sawah, namun kebanyakan bermain-main, entah mencari
burung dengan plinteng, bermain kelereng, bermain petak umpet
atau bermain gobak sodor, tinggal pilih dan bebas mencari
komunitas yang disukainya.
Kidung dan nyanyian bocah
Gedung Dalam Baru begitu menggema, dengan syairnya masing-masing, bernyanyi
sambil bermain, “Dji Ro Lu teng ndas petak cakar maleng dodo mentok
tai gareng…” ada yang berkidung, “Tul jaenak jae katul jaedi, kuntul
jare mbanyak doke bajul garek siji.” Ah! Alangkah tentram dan merdunya.
Beberapa hari ini, Ihsan
selalu menemani gadis kecil yang berlibur dari Jakarta, menemani kakaknya
praktek. Ibunya memberi izin, tapi dengan syarat jangan berkelahi lagi, beda
dengan Bapak sewaktu mengetahui Ihsan berkelahi menolong adiknya mbak Fatimah.
Bapak bangga, namun mulai selanjutnya, Ihsan diajari silat setiap ba’da subuh,
setelah mengaji sebentar. Ihsan gembira dan berlatih silat dengan patuh dan
tekun, memperagakan jurus-jurus yang diajarkan Bapaknya. Ihsan selalu ingat
nama jurus yang diajarkan, ada jurus semut menggigit gajah, ada katak memukul
ular, tikus membanting kucing, belalang menendang guguk –anjing- dan
lain-lain. Walau aneh, Ihsan merasa senang mempelajarinya.
“Bagaimana kalau hari ini kita
ke balong?” sampai saat ini, Ihsan belum mengetahui namanya, padahal
waktunya tinggal dua hari lagi.
“Terserah.” Satu kata, dingin.
Ihsan melaju sepedanya menuju balong.
Ada tiga
anak yang sedang memancing. Gadis kecil itu duduk di semen tanggul, di atas balong,
kakinya bergerak-gerak, dan jarinya menyentuh permukaan air menciptakan
gelombang kecil berputar. Silau sinar matahari memantul mengindahkan wajah air
yang tenang, hanya ombak kecil yang tercipta.
“Ehm…, kamu… belum memberitahu
namamu, aku bingung hendak memanggilmu,” Ihsan menatap sejenak wajah putih di
sebelahnya itu. Seekor walang kadung hinggap di rambut gadis kecil.
Jeritan kecil membuat Ihsan segera mengambilnya. Hening suasana tercipta dari
bungkamnya lisan.
“San kita ke gubuk yuk?” sorot
mata itu tajam menatap Ihsan. Penuh pengharapan.
Sepeda kecil itu mengayun
kembali, menuju gubuk di pinggir atas sawah, mereka berdua duduk di angkrok bambu gubuk. Gadis kecil itu tetap diam,
membelakangi Ihsan. Begitu lama Ihsan menunggu, hening suasana hingga melihat
seekor gemak mendaratkan terbangnya, di belakang
gubuk. Santapatan lezat!
“Ehm San…, San…, aku ingin
kamu tahu, namaku Zahra, kamu boleh memanggilku Zahra,” tidak ada sahutan. Sepi
semesta, hening suasana. “San, san!,” wajah itu menengok ke belakang,
dilihatnya Ihsan sedang berputar-putar membentangkan tangannya, berputar lagi…,
Dasar Anak desa! Apa yang dia lakukan?
Ihsan berlari memutar dan
terus memutar, melebarkan tangannya bak alap-alap yang hendak menerjang mangsa,
matanya begitu elok tajam memusatkan pada satu titik. Putarannya semakin
mendekat, sambil suara besar keluar dari rongga mulutnya, “gok…gok…,” semakin
putaran mengecil, suaranya semakin cepat dan besar, dan…, “Aku dapat, aku dapat
Gemak,” satu lompatan menubruk, ketika putarannya tinggal satu meter,
kedua tangannya telah mencengkeram burung yang nampak ketakutan. Tawa Ihsan
membahana, bangga karena bisa menangkap gemak seperti bapaknya.
Ihsan berlari menuju gubuk,
“Hei! Aku dapat gemak! kita akan
makan enak hari ini. Enaknya diapain ya? Dibakar atau digoreng ya?” bola mata
itu ke atas, seolah memberi sinyal otak untuk berpikir.
“Jangan, burung itu harus
dilepaskan lagi!” mata gadis kecil itu bulat membesar.
“Kenapa? Lagian nangkapnya kan
susah.”
“Tidak usah tanya kenapa, atau
aku tidak akan memberi tahu namaku, Titik!”
“Baiklah, baiklah. Aku akan
melepaskannya. Tapi kamu
harus memberitahu namamu, Janji ya?” Ihsan mengalihkan pandangannya ke gemak, ah! Beruntung kamu.
Gadis kecil itu tersenyum
simpul, namun segera sirna dengan kedatangan dua orang yang sangat mereka
kenal, Wahyu dan Bimo.
“Serahkan gemak itu, atau kalian berdua akan kami hajar sampai babak belur. Ha…ha…ha…,” tawa bersamaan itu, membuat
Ihsan mengepalkan tinjunya. Bapak.
“Kami tidak akan memberikannya
kepada kalian, kami akan melepaskannya,” gadis kecil itu menatap sejenak Ihsan,
yang menatap kedua orang di hadapan mereka, “Iya kan San, Engkau tidak akan
menyerahkan burung itu kepada mereka? walau kita taruhannya.”
Ihsan menatap sejenak gadis
kecil itu, senyumnya merekah perlahan, “Tenang saja, kali ini, aku akan
menghajar mereka!” kepalannya semakin kuat.
“Ayo cepat serahkan!” Bimo
membantu menggertak Ihsan.
“Majulah kalian, beberapa hari
ini aku telah belajar jurus-jurus sakti yang diturunkan Bapakku. Jika kalian masih ingin hidup, kalian
harus pergi atau jurus pertamaku akan merobohkan kalian!” Ihsan menyerahkan
gemak itu ke gadis kecil, kaki sebelah kanan diangkatnya, kedua tangan itu
mengepak, dan jari-jarinya membuat lincipan seperti burung yang hendak mematuk.
Dua orang di depannya melongo keheranan, apalagi gadis kecil itu.
“Dasar bocah bodoh!” Wahyu
yang geram, akhirnya melayangkan pukulan kanannya, pukulan kosong karena Ihsan
memutar tubuhnya menyamping. Peluang emas, saatnya menggunakan jurus pertama,
“Belalang menendang Guguk!” buk! Telak, tendangan tepat mengenai bokong,
Wahyu jatuh nyungsep di antara padi dan nyebur hingga merusak beberapa tanaman
padi.
“Hebat! Jika kamu bisa
menolong burung ini, aku akan memberitahu namaku San!”
“Kamu janji?”
“Aku janji!” senyum itu lepas,
seolah hilang sudah kediamannya dulu.
“Ayo, kamu maju sekalian!”
kini kedua tangannya mengatup ke depan, mirip belalang, sorot matanya
berkonsentrasi kearah gerakan lawan.
“Hiaaat!” Bimo yang telah tak sabar menendang dengan
kaki kanannya, karena takut kejadian sama seperti Wahyu. Gagal. Kakinya
tertangkap kedua tangan Ihsan, lalu kepala ihsan masuk dengan cepat, di antara
kedua paha dan mengangkat tubuh Bimo sekuat tenaga. Saatnya jurus kedua, “Tikus
membanting kucing! Hiaat!” dan byuur! Tubuh Bimo menubruk Wahyu yang mencoba
bangun. Beceknya sawah memuncrat.
Tawa Ihsan dan gadis kecil itu
lepas sudah, namun hanya sementara, karena seorang petani berteriak menghampiri
mereka, “Dasar bocah-bocah edan! ngrusak tanemane uwong! Kene tak bledik podoan!”
Ihsan segera menyambar tangan
gadis kecil itu, “Cepat! Ini jauh lebih berbahaya. Biarkan saja mereka berdua,”
mereka lari menuju gubuk, dan mengambil sepedanya, lalu melejit bagai meteor.
“Kenapa kita lari? Padahal
kita kan tidak salah!” gadis kecil itu mengelus kepala burung yang masih
terlihat ketakutan itu, dipandanginya Ihsan yang sedang duduk, sambil mengatur
napasnya. Mereka berada di utara SD N 2 Gedung Dalam Baru, ladang yang
membentang luas di dekat lapangan, banyak anak yang bermain disana.
“Bukan masalah salah atau
tidak. Tadi itu namanya mbah Guno,
siapapun anak yang ditemuinya, apalagi berbuat salah pasti akan dijanturnya,
aku pernah hingga seharian aku pusing, kepalaku seolah mau pecah. Makanya kita
harus lari.”
“Dijantur? Apaan tuh?”
“Enggak tahu, pokoknya
kepalaku di angkatnya, dengan kedua telapak tangan, lalu digoyang-goyang terus,
sampai-sampai telingaku mau copot, aku kapok!”
Keheningan membuat mereka
menikmati panorama, ketika angin mendesir, ketika burung kutilang bernyanyi, ketika jangkrik bersembunyi di bawah lungko,
dan ketika matahari hampir tepat di ubun-ubun.
“Sekarang kamu harus menepati
janji, kamu harus memberitahu namamu? Ayo katakan,” Ihsan
menggoncang-goncangkan kedua pundak gadis kecil itu.
“Aku tadi sudah mengatakannya,
aku malas mengatakannya lagi.”
“Kalau tidak mau
mengatakannya, aku akan menggoreng gemak
ini,” Ihsan memamerkan gemak, tanpa diketahui kapan terebut dari tangan gadis
kecil itu.
“Jangan! Baiklah, tapi setelah
itu kita harus melepaskannya,” dan anggukan Ihsan membuatnya terpaksa
berbicara, walau jengkel setengah mati, “Namaku… namaku…,” Ihsan menatapnya
tanpa kedip, mulutnya semakin melongo, “Mawar.”
“Mawar! Nama yang bagus.
Hore…hore… aku sekarang tahu namamu,” tanpa sadar, karena hadiah coklat yang diimpikannya
akan segera diperoleh, Ihsan mencium pipi Mawar hingga membuat Mawar kaget.
Ihsan menjauh dan melonjak-lonjak kegirangan, sambil mengangkat gemak yang berada di genggaman tangan
kanannya.
“Buk!” sebuah pukulan
tiba-tiba mendarat di pipi Ihsan, hingga membuatnya jatuh.
“Kenapa? Kenapa kamu
memukulku?” Ihsan bangun dan membersihkan bajunya dari debu-debu tanah yang
menempel.
“Kamu tidak boleh
mengulanginya lagi! Awas kalau kamu mengulanginya lagi.”
“Mengulangi apa? Memangnya aku
berbuat apa?” wajah polos itu nampak bingung.
“Kamu tadi telah menciumku,
dasar anak desa!”
“Baiklah aku minta maaf, aku
tidak sengaja. Tapi…, pukulanmu sakit sekali,” Ihsan mengelus-elus pipinya,
tapi pikirannya senang, terbayang kembali coklat di benaknya.
“Maafkan aku juga, aku janji
tak akan mengulanginya,” sebentuk wajah yang menyesal itu menambah serunai
pancaran sejuk di wajahnya.
“Baiklah aku gak marah
kok, sekarang kita lepaskan burung ini, aku takut dia mati.”
Mereka tersenyum, tangan
mereka menyatu memegang gemak itu, gemak itu seolah tahu perasaan manusia yang
berada di dekatnya, matanya merasa melihat kebebasan, “Satu… dua… tiga,”
tangan-tangan kecil itu melepaskan pegangannya dan melemparkan burung itu ke
angkasa, suaranya mencicit menandakan kebebasannya kembali, terbang menuju
komunitasnya kembali, untuk meneruskan titah suci dari Rabbnya. Panas matahari
bener-benar mengecup ubun-ubun, panasnya terasai, membuat mereka sadar waktu
pulang telah tiba.
Esoknya, saat matahari dhuha
menyapa kehidupan kembali, “Bapak udah berangkat ya Bu?” Ihsan mendekati Ibunya
yang sedang memasak.
“Setelah Shalat dhuha tadi,
Bapak langsung berangkat ke sawahnya Lek Pardi, hari ini Panen. Kamu
udah shalat dhuha belum?”
“Belum Bu? Memangnya dhuha
wajib juga ya bu?”
“Shalat Dhuha banyak manfaatnya,
walau hanya dua rekaat, itu sebagai Shadaqah semua organ tubuh kita.”
Ihsan mengangguk pelan, “Ihsan
shalat dulu, habis itu Ihsan mau bantuin Bapak ya Bu?” Ihsan menatap Ibunya,
berharap mendapat izin.
“Baiklah, mumpung liburan,”
senyum itu membuat Ihsan segera melonjak hilang.
Ihsan mengayun sepedanya,
melewati rumah pak Bayan Yadi, yang berada di dekat jembatan bambu menuju
sawah, pedalannya terhenti karena
seseorang memanggilnya.
“Ada apa War? Kamu tidak
menemani mbak Fatimah?”
“Mbak Fatimah sedang sibuk,
aku boleh ikut gak San?”
“Tapi…, aku mau ke sawah,
membantu Bapak mengumpulkan padi.”
Karena memaksa, Ihsan tak bisa
berbuat apa-apa hingga mawar telah berada di boncengan sepedanya. Lagu-lagu
ajaran Bu Syarmi guru kesenian, mengalun ceria.
Pak Ali nampak mengenakan caping, ketika mengumpulkan padi yang telah ditatanya
rapi per-ikat, wajahnya nampak kepanasan kemerahan. Saat angin sepoi membelai
wajah lelahnya, saat burung Dadali melintas di atas kepalanya, saat
kaki-kakinya telah kelelahan kian kemari, saat itulah tiba-tiba wajah piasnya
berubah bagaikan malam berhiaskan bintang gemintang. Wajah lelah itu telah
sirna, menyaksikan buah hatinya datang dari arah matahari bersinar.
Ihsan dan Mawar mendekati pak
Ali, yang telah selesai mengumpulkan tanaman padi yang baru disabitnya, tempat
pemukul berbentuk segitiga telah terpasang di pinggir terpal. Siap untuk
memukul.
Senyum
Ihsan membuat Ali segera memukulkan damen padi, hingga butiran padi rontok dan
jatuh di terpal. Udara panas
mulai terasa.
“Kamu disini saja, nanti
terkena gatel-gatel. Aku mau membantu ayahku,” Ihsan meninggalkan Mawar
dan menggengam damen, tangannya yang kecil hanya mampu menggenggam
sekitar 7 helai dan memukulkannya, butiran beterbangan tak tentu arah, ada yang
keluar jauh mencelat dan ada yang tersangkut di rambutnya. Ali tertawa
menyaksikan anaknya, yang berusaha keras memukul hingga napasnya turun naik.
Mawar yang melihat segera
menghambur, dan ikut memukul-mukulkan helaian padi damen, hingga semakin
banyak buliran-buliran pada mencelat, namun masih banyak yang masuk ke dalam
terpal. Ali membiarkan mereka membantunya, baginya memberikan kebebasan kepada
anak untuk melakukan yang mereka sukai, adalah termasuk membantu mereka
menemukan jati dirinya kelak.
Selesai sudah, Ali mengumpulkan
butiran padi dan membersihkan sisa-sisa helai yang masuk ke dalam terpal, lalu
memasukkannya ke dalam kantong kandi. Dapat 3 kandi, Alhamdulillah, Ali
mengelap keringat di dahinya dengan menggunakan baju yang diikatkannya di
kepala.
Ihsan dan Mawar mengikuti
mengelap muka mereka, dengan tissue yang selalu dibawa Mawar, tampak keceriaan
di wajah mereka. Menyelesaikan suatu pekerjaan adalah sebuah kepuasan, yang
tidak bisa dinilai walau dengan hasilnya sekalipun. Karena kenikmatan itu
terletak pada prosesnya.
Not Comments Yet "Part 4, Mawar"
Posting Komentar