Tensiku naik drastis
ketika aku pingsan, saat acara Sahabat di Gazebo. Beberapa teman waktu aku tak
sadarkan diri, menungguiku secara bergantian dan mereka begitu senang ketika
aku telah sadar. Hamdalah berdengung di telingaku, Allah, aku tidaklah
sadar, banyak orang yang memperhatikanku, kukira aku sendirian di dunia ini.
Saat aku pertama bangun di Rumah Sakit, yang pertama kulihat wajahnya adalah
Nugroho dan Farhan, mereka tertidur di lantai beralaskan tikar. Airmataku
meleleh saat itu, begitu hidupku selalu menyusahkan orang lain. Mereka merasa
bersalah membiarkan aku kelelahan, padahal saat itu pikiranku benar-benar
berkecamuk.
Biaya Rumah Sakit
telah dibayar seseorang, yang hanya meninggalkan sebuah nama, Wiati. Entahlah
siapa dia, atau mungkin suruhan pak Salim? Yang dulu pernah kutolong saat hendak
dirampok. Entahlah, suatu saat nanti jika aku menemukan orangnya, aku akan
mengucapkan terima kasih dan berupaya membalas kebaikannya.
Pagi itu beberapa
teman sefakultas datang menjenguk, walau tidak semuanya karena ada yang
mempunyai hajat lain, yang datang mungkin 7 orang termasuk Hanif, Hamid dan
Feri yang berdekatan kamar denganku. Mereka membawa buah-buahan dan kue, mereka
semua mendoakanku cepat sembuh, dan menyemangatiku untuk bersabar. Aku
tersenyum pada mereka ketika mereka pamitan pulang.
Siang itu, aku telah
diizinkan pulang, hanya saja masih butuh banyak istirahat dan tidak boleh berpikir
dan bekerja terlalu keras dulu. Dalam hati aku hanya membatin ’Jika aku tidak kerja siapa yang akan
membiayai kuliahku dan mengirim uang ke kampung’ kulihat Farhan
mengambilkan air minum untukku. Aku kembali ke kamar ini lagi, mungkin suatu
saat kamar ini akan kurindukan, pikiranku melayang.
”Aku ingin bicara sesuatu hal
padamu,”
“Apa itu?” suaraku
masih kurasakan lemah.
Farhan menyodorkan
sebuah amplop, ”Ini kutemukan saat kamu jatuh! Maaf aku telah membacanya,”
kepalanya tertunduk.
Aku memegang
pundaknya, ”Tidak apa-apa saudaraku, dia adalah temanku yang telah
meninggal...”
”Meninggal?” ada
kekagetan di raut wajah bersihnya.
”Baiklah akan aku
ceritakan,” kurasa tak ada yang harus kututupi agar Farhan tidak salah paham
terhadap Sinta, wanita yang tegar itu. Mungkin kini dia telah tenang dan tak
perlu memikirkan dirinya yang sakit lagi. Farhan mendengarkannya, hingga dia
dapat memahami, lalu kami terlibat perbincangan yang tak berujung, ngalor-ngidul.
”Aku banyak mendengar
tentangmu Ali,” aku sedikit kaget, tadi kami masih saling bercanda, kini
kulihat wajahnya berubah serius. Aku menjadi heran.
”Ada apa Farhan, apa
aku melakukan kesalahan?”
”Tidak! Maaf, selama ini
aku tidak tahu masalah yang kamu hadapi. Kamu merelakan diri bekerja di Pasar
Minggu, untuk biaya hidup dan kuliahmu disini, jika kamu tidak keberatan aku
punya tawaran untukmu,”
”Tawaran apa?”
”Kebetulan aku bersama
teman-teman Mahasiswa yang lain, membentuk sejenis tim yang intens di bidang
pembinaan anak atau privat.
Beberapa orang mendatangi kami dan meminta untuk mengajari anak-anaknya belajar
membaca Al-Qur’an, dan mengajari pelajaran. Semakin lama kami semakin
kebanjiran permintaan. Kemarin ada tiga orang lagi yang datang meminta bantuan
tenaga pengajar. Jika kamu tidak menolak, aku ingin memberikan dua orang untuk
kamu ajari, dan Insyaallah honornya
untuk kamu saja, buat keperluan sehari-hari. Aku tidak mau kamu bekerja terlalu
keras.”
Aku diam sejenak,
”Tapi, apakah aku bisa mengajari mereka?”
”Insyaallah kamu bisa, kebanyakan mereka masih awal belajar Iqra’nya, dan kulihat bacaanmu sudah
bagus. Setidaknya itu bisa membantumu. Dan jika engkau masih bingung, aku akan
memberikan metode-metode pengajaran yang efektif,” nampak bicaranya begitu
halus dan hati-hati, dia takut menyinggung perasaanku.
”Insyaallah
akan aku usahakan, tapi aku akan selalu meminta bimbingan darimu Farhan, agar
aku bisa mengajar dengan baik.”
”Tentu saja. Dengan
senang hati.”
Kami mengobrol, hingga
tiada terasa malam semakin merambat, udara dingin menyelusup mengajak tubuh
untuk rebahan. Farhan pamitan dan mengajakku esok, untuk mengunjungi rumah yang
meminta tenaga privat tersebut. Aku mengiyakan, aku rebahan. Mataku belum bisa
dipejamkan, aku teringat dengan Ibu dan Bapak di rumah. Biarkanlah disini aku
menyelesaikan masalahku sendiri, aku tidak mau menambah beban mereka. Malam ini
aku hanya berharap dapat bermimpi bertemu mereka dan rebahan di pangkuan mereka,
guna melepaskan penat yang seolah membelengu seluruh kehidupanku. Untuk mencari
ketenangan, walau sesaat.
* *
*
Siang ini sepulang
kuliah, aku masuk ke Rektorat. Ada yang harus kuurus. Saat itulah sewaktu aku
keluar melewati danau Kenaga, kulihat Mawar sedang naik Bikun. Kucoba menahan segala asa dan
gejolak, tapi aku tak bisa. Persahabatan itu telah merubah seluruh hidupku,
atau itukah tujuan hidupku. Aku berlari mengejarnya, aku seperti orang gila.
Tak kuhiraukan Mahasiswa yang melihatku keheranan, mereka pun mungkin tak mau
tahu urusanku. Bikun berhenti di
Fakultas MIPA, beberapa mahasiswa turun dan ada yang naik. Aku berjalan biasa
walau keringatku bercucuran. Langkahku pelan di belakang bikun, Mawar belum turun. Bikun
kembali melaju, akupun melaju dengan kencang. Aku berlari walau bajuku telah
lengket dan tas punggungku seolah berat menimpa tubuhku.
Aku terus berlari,
sambil hatiku terus bergejolak menyebut nama Mawar berulang kali dalam hati.
Aku mengepalkan kepalan tanganku, airmataku memburai. Aku tak kuasa menahan
rasa ini, betapa ingin kumenyapanya tapi ada rasa yang menahanku. Ada kerinduan
yang menghangat, namun ada kebekuan yang menggumpal. Aku bingung. Akalku pun
buntu, aku hanya mengikuti ritme alam yang bergerak.
Bikun malaju
melewati Kukusan dan Lapangan Olahraga, di Fakultas Tekhnik Bikun berhenti. Aku pun berjalan biasa
sempoyongan, pelan kembali sambil mengatur napas yang senggal. Dia tidak turun,
bikun kembali melaju. Akupun berlari
kembali, aku hanya ingin tahu dimana dia akan berhenti, itu saja cukup bagiku.
Aku melewati Wisma Makara, hingga bikun
sampai di Asrama Mahasiswa. Aku sudah kehabisan napas, ngos-ngosan. Aku
terduduk lemas, kulihat Mawar turun dari Bikun,
senyumnya terukir sambil mengucapkan terima kasih kepada supir bikun.
Melihat senyumnya saja sudah cukup bagiku, jalannya yang menunduk menambah
keanggunannya. Allah, alangkah hebatnya Engkau, yang menciptakan bidadari
seperti dia, aku pun merasa tak pantas untuknya. Cukuplah bagiku melihatnya
bahagia. Mungkin itulah yang tertulis dalam persahabatan ini.
Saat itu, kebetulan
Farhan juga kulihat turun dari bikun yang baru datang. Aku
menghampirinya, berbarengan memasuki Asrama. Saat itu adzan menggema. Aku hari
ini izin tidak ke Pasar, dirasa-rasa aku belum pernah absen. Siang itu ba’da dzuhur, aku menyertai Farhan untuk
mempertemukanku dengan kedua orang tua anak yang akan kuajari privat. Rumahnya
tidak terlalu jauh dari terminal UI maupun Pasar Minggu, mungkin sekitar dua
kilometer. Jika terus maka akan menuju terminal Kampung Rambutan.
Rumah pertama yang
harus kuprivat ternyata lumayan mewah, hanya saja seperti rumah yang jarang
ditempati. Terawat tapi tidak optimal. Yang kami temui hanya Fadli anak SD
kelas V yang akan kuprivat nantinya. Bapaknya katanya pergi kerja, kakaknya
sedang bekerja, karena selain kuliah di UI dia langsung nyambi kerja, entah
diapun tidak tahu apa pekerjaannya. Sepanjang hari, Fadli sering ditinggal
sendirian di rumah, alangkah malangnya. Anaknya sedikit tertutup.
Aku dan Farhan sedikit
heran, karena Fadli sama sekali tidak menyinggung sedikitpun tentang Ibunya.
Ketika aku beranikan untuk menanyakannya, dia menggelengkan kepalanya sejenak,
lalu sempat kulihat ada sebening embun, yang seolah membuat lensa kaca membasah
tersiram embun. Lalu buru-buru dia mengusapnya, dan tak berkata apa-apa, dia
agak tertutup. Walau dia hidup di kota, tapi kurasa nasibnya tidaklah lebih
baik dariku ketika aku kecil, yang penuh dengan keceriaan. Tanpa sadar aku
telah banyak belajar dari kehidupan.
Fadli juga memberikan
sebuah surat, katanya dari kakaknya. Ketika kurasa agak lama, akhirnya kami
sepakat untuk pamitan pada Fadli, dan belum memastikan untuk kapan memulai
privatnya. Tapi jadwal kami harus mendatangi rumah kedua.
Di rumah kedua,
ternyata rumahnya pun terlihat mewah. Kami berbincang akrab dengan Ayah dan Ibu
Hasan, anak yang kedua untuk diberi bimbingan. Begitu cerianya Hasan, karena
orangtuanya pulang menyempatkan diri untuk bersamanya menunggu kami. Harapan
besar orangtua Hasan, menginginkan kami untuk mendidiknya, agar menjadi anak
sholih karena mereka kurang bisa mengajari masalah agama, karena mereka kini
juga masih belajar.
Kami pulang ketika
adzan Ashar menggema. Kami shalat di sebuah mushola di pinggir jalan, Alhamdulillah, di Mushola ini juga
ramai. Sempat kuberpikir ternyata didikan orangtua berpengaruh besar terhadap
perilaku anak, dari yang diperhatikan dan dibiarkan saja. Perbedaan itu sangat
mencolok ketika melihat Hasan dan Fadli, Fadli yang rendah diri dan tertutup,
mungkin karena kurang perhatian. Kasihan dia. Aku sangat bersyukur karena kedua
orangtuaku, begitu sayang kepadaku walau dengan keterbatasan-keterbatasan yang
ada. Namun bagiku, itu lebih dari cukup untuk bekalku, mengarungi kehidupan
yang penuh dengan jalanan terjal.
* * *
Assalamu’alaikum
Wr. Wb.
Untuk
Pengurus Perkumpulan Mahasiswa Pengajar Privat (PMPP)
Kutitipkan salam doa agar semua di PMPP,
selalu dalam penjagaan terbaik Allah, menjadikan kalian semua diridhaiNya dan
menjadikan kalian orang-orang yang diberikan hikmah, untuk menjadikan banyak
generasi menjadi penerus Muhammad Rasulullah.
Saya tidak bisa menemui kalian secara langsung,
siang ini jam kerjaku menjaga wartel dan interned. Kuharap kalian dapat
berbincang-bincang dengan adikku. jadi kutitipkan surat ini kepada adikku
Fadli. Sebelumnya kami berterima kasih karena kalian mau menerima
rekomendasiku, karena kami memang keluarga yang kurang mampu. Kalian tentu
sudah tahu keadaanku.
Saya berharap
kalian bisa sabar menghadapi sifat tertutup adikku, itupun sebenarnya saya
tidak membayar dengan uang lebih. Saya sangat berterima kasih sekali, pengurus
PMPP mau membantu kami, walaupun dengan bayaran yang sedikit yang saya kita
hanya cukup untuk biaya transportasi semata. Tapi saya berharap, adikku dapat
menjadi anak yang sholih, itulah harapanku.
Kusampaikan salam
terimakasih terdalam dariku untuk team privat, saya hanya dapat mendoakan
kalian semua, agar Allah membalas kalian lebih banyak jika tidak di dunia,
semoga di akhirat yang kekal, dapat menjadikan berkah yang melimpah saat berkah
itu hanya untuk orang-orang yang ikhlas.
Terima kasih
Kakak Fadli
Siti Nur Aisyah
Aku
menutup surat kecil satu lembar itu. Besok aku akan memberikannya pada Farhan,
karena tadi sempat terlupa untuk membacanya bersama. Aku sedikit heran,
ternyata kakaknya itu perempuan dan dia menulis, bahwa mereka keluarga kurang
mampu? Bukankah rumahnya begitu mewah? Entahlah, mungkin suatu saat aku
mengetahuinya, dan aku akan berusaha membimbing dengan baik karena Fadli kurasa
tiada mempunyai teman. Entah kenapa, aku ingin berbagi kebahagiaan masa kecilku
padanya.
Aku menutup pintu
kamar. Panas menyengat. Aku melepas baju, tinggal kaus dan rebahan di atas
karpet. Kuhidupkan kipas kecil, sejuk hingga menjalar ke seluruh kulit, terasa
seumpama berada di dekat telaga Kautsar dan hanya kenikmatan yang ada.
Sore ini, aku pulang
dengan membawa banyak teladan, aku banyak belajar dari anak-anak. Kuingat tadi
sempat jengkel juga dengan kelakuan Rahma, adiknya Hasan. Ketika kedua
orangtuanya memintanya belajar bersama Hasan kakaknya, kata yang terlontar
adalah kata-kata kasar, lalu naik ke tangga. Orangtuanya meminta maaf pada
kami, kulihat Farhan tersenyum, mungkin dia telah biasa melihat kejadian
seperti itu, karena komunitasnya juga mengajar anak-anak dan aku belum terbiasa
sama sekali.
Hari ini aku harus
memulai planning baru dalam hidupku, yup! Merancang jadwal tetap, agar
semua dapat dievaluasi, mana-mana kegiatan yang terlaksana dan terbengkalai,
kemudian itu untuk perbaikan ke depan, itulah inti dari Manajemen. Mengatur.
Aku harus dapat mengoptimalkan semua potensi yang dapat aku gunakan untuk
berubah menjadi baik, harus dapat memilih skala prioritas, mana yang sebaiknya
dilakukan dulu dan mana yang harus diakhirkan, atau di delete karena
dinilai tidak mempunyai manfaat atau lebih banyak keburukannya.
Malam ini aku memulai
lagi hidupku yang kurasa tak terarah. Hidup memang seperti air yang mengalir,
tapi jika hanya terbawa arus kemanapun dan dimanapun, kita tidak akan menemukan
diri kita. Aku tidak akan menjadi orang yang sukses, jika aku mudah
terombang-ambing, mengalir begitu saja dan akhirnya tanpa terasa tenggelam dan
mati tanpa kita sadari. Jadwalku kini, pagi kuliah hingga siang, kemudian ke
Pasar untuk menguatkan otot-ototku, mengangkati barang belanjaan. Ba’da maghrib dan ba’da Isya’ aku mengisi privat. Aku akan memulainya dengan
senyuman.
Mataku sedikit
ngantuk. Sore itu aku tertidur dengan membawa senyuman kecil, ”Aku tidak
akan pernah bangga pada setiap prestasi yang aku capai, tapi sebenarnya tidak
saya rencanakan sama sekali. Tetapi aku juga tidak akan pernah menyesal pada
setiap kegagalan yang aku temui selama aku telah merencanakannya dengan matang
sebelum melakukannya.”
Mawar! Aku sudah dapat
sedikit melupakanmu, aku harus sadar. Hidupku bukanlah semata untuk menepati
persahabatan kita.
Not Comments Yet "Part 13, Tawaran Perekat Ukhuwah"
Posting Komentar