Dunia berjalan demikian
cepat, sudah hampir satu bulan aku di desa Cahaya. Kini, aku punya pekerjaan
baru selain menjadi guru, wirausaha, tak ada ruginya pula kuambil jurusan
ekonomi ternyata. Aku kerja part time, seperti para mahasiswa yang
kuliah sambil bekerja, aku mengajar sambil bekerja.
Sebenarnya tidak bisa
dikatakan sebagai kerja. Tapi melihat Kang Mukhlis kewalahan dalam memelihara
bebek-bebeknya, ditambah harus mengantarkan telur-telur kepada para pemesan,
kepada pelanggan yang selalu memesan tiap dua, tiga hari, atau bahkan ada yang
selalu memesan puluhan telur dalam seharinya seperti mandor sekaligus tuan
tanah, Pak Manar.
Kang Mukhlis kewalahan
jika harus memberi makan kemudian harus mengantarkan telur-telur itu. Di
samping pesanan telur bebek kian hari juga terus bertambah. Maka Kang Mukhlis
menambah bebek-bebeknya dengan menetaskan telurnya dengan bantuan ayam betina. Akhirnya
dia memintaku bekerja mengantarkan telur-telur bebek itu kepada para pelanggan
yang memesan pada Kang Mukhlis.
Syahid sering menyertaiku
mengantarkan telur-telur pesanan itu, tapi dia selalu membawa buku ketika
kubonceng, dan dalam pangkuannya ada dua peti kecil berisi telur. Itulah kenapa
Kang Mukhlis membolehkannya ikut bersamaku mengantarkan telur, selain aku belum
tahu tempat rumah para pemesan telur, hal itu juga karena Syahid telah berjanji
pada ayahnya untuk selalu belajar.
Ada kelebihan bekerja pada
Kang Mukhlis. Pertama, aku bisa makan telur sepuasnya tanpa dituntut membayar,
maksudku kebutuhan giziku terpenuhi, termasuk protein. Kedua, aku mendapatkan
tempat tinggal gratis, Kawan, sebenarnya ini bukan bagian dari hasil kerja
melainkan karena kebaikan Kang Mukhlis semata. Ketiga, setiap gajiku langsung
dibayar setiap satu minggu, jumlahnya tergantung seberapa besar omzet penjualan
telur satu minggu tersebut.
Masih ada lagi, keempat
dan seterusnya, aku menjadi terkenal di desa Cahaya, aku banyak mengenal orang,
silaturahmi lancer sekaligus bisa jalan-jalan melihat pemandangan desa, ah!
Kawan, tak bisa dibayar dengan apa pun.
Setiap dua malam sekali,
aku dan Syahid belajar beladiri dari ahlinya, siapa lagi kalau bukan Kang
Mukhlis. Semakin hari, gerakan refleksku semakin cepat, begitu kata Kang
Mukhlis. Ternyata, menurutnya, setiap hari kala aku mengantarkan telur-telur,
mengayuh sepeda berkeliling desa menuju rumah para pelanggan, itulah dasar
pertama bela diri, yaitu kekuatan fisik, kekuatan tubuh, ketahanan.
Dasar-dasar beladiri
membutuhkan tubuh yang kuat dan prima. Seperti pemanasan sebelum melakukan
senam dan olahraga, seperti petani padi yang membajak sawah sebelum ditanam,
seperti belajar sebelum menghadapi ujian sekolah. Ya, seperti itulah kurang
lebihnya. desa Cahaya membawa banyak inspirasi untukku.
Di sekolah, aku paling tak
bisa olahraga, apalagi teori-teorinya, makanya semalam aku mengajak Syahid
untuk belajar bersama. Belajar bersama, atau tepatnya aku minta pengajaran
darinya. Olahraga sepak bola, kebetulan desa Cahaya terkenal karena
permainannya yang buruk, selama bertahun-tahun, pertandingan liga sekolah satu
kecamatan, Sekolah Cahaya selalu kalah. Memalukan.
Tapi, malam itu. Aku bagai
melihat kilat mimpi, membara dalam setiap gerak Syahid kala menjelaskan tentang
permainan sepak bola. Aku baca teorinya dari buku pelajaran yang kuambil dari
perpustakaan, tidak ada yang meleset dari teori dalam buku itu. Kawan, makanya praktik
itu tak lebih buruk dari mempelajari teorinya saja. Kebetulan, Syahid adalah striker
yang baru bagi klub sepak bola Sekolah Cahaya.
Dan siang itu, sebelum
kuajarkan permainan sepak bola pada para siswa. Aku memberikan penyemangatan
kepada mereka, aku ajak mereka bersenang-senang dahulu dengan outbound
beberapa permainan lapangan ringan seperti Japanese war. Mereka tertawa
lepas seperti tak ada beban. Beban kala mereka harus bekerja, memarut kelapa
ketika pulang sekolah, ada yang menyabit rumput, membantu ayahnya menyuluh
pepaya dan sawo. Kawan, seluruh penduduk desa Cahaya adalah pekerja keras, dari
kecil mereka telah diajari hidup dengan keras.
Saat perwakilan dari kedua
kubu saling bersuit ala batu, kertas, gunting. Ketika bagian yang menang
mengejar yang kalah, di situlah rumitnya, kadang yang kalah menyerbu yang
menang, kadang saling lari menghindar. Semuanya tertawa, para tawanan perang
yang minggir tertawa terbahak-bahak.
”Game selesai,
sekarang kita belajar sepak bola.”
Para siswi mundur dan
menjadi penonton, para siswa berbaris di hadapanku, 12 orang. Wajah mereka
kesemuanya tertunduk. Cahaya matahari memanggang kami, kulihat geliat aneh,
seperti kata Syahid tadi malam. Karena kekalahan yang bertubi-tubi setiap
tahun, bahkan pertandingan pertama saat penyisihan pun belum pernah jebol.
Membuat harapan itu menguap, membuat mimpi terasa bualan kosong.
”Kenapa kalian menunduk?”
kulihat hanya Syahid yang menatap lurus ke depan, materiku padanya semalam
mempan, kalau mimpi harus menjadi desah napas yang terus mengisi ruang kosong
di jiwa.
”Mana semangat kalian?”
semuanya terdiam, susah membangkitkan semangat yang telah mati, tapi sebelum
kematian yang sesungguhnya, kehilangan semangat merupakan tragedi yang lebih
besar daripada mati itu sendiri.
”Siapa yang ingin
memenangkan pertandingan sepak bola antar sekolah bulan depan? Angkat tangan
yang ingin menang!”
Kawan, satu tanganlah yang
terangkat, dan itu milik Syahid. Kuambil bola yang telah tidak sempurna bundar,
aku lempar pelan di hadapan Syahid, memberi aba-aba padanya untuk menendangnya ke
arahku. Ancang-ancang, dan satu tendangan menuju arahku, kutangkap dengan kedua
tanganku, karena tendangannya tak keras.
Kuangkat bola itu sejajar
dengan wajahku, ”Angkat wajah kalian semua. Berarti, kalian benar-benar ingin
kalah selamanya? Menjadi pecundang, dan rela setiap tahun piala jatuh bukan
untuk Sekolah Cahaya!”
Angin bertiup tenang, dan
suara-suara mereka sama sekali tak terdengar.
Salah seorang dari mereka
mengangkat jari telunjuknya, dia Samsul, ketua kelas lima. Aku menunggu apa
yang hendak diucapkannya.
”Percuma Pak latihan, kita
akan selalu kalah. Apalagi, pertandingan tinggal sebulan lagi,” wajahnya
kembali tertunduk, dari raut wajahnya bisa kutangkap keputusasaan, latihan
macam apa tinggal sebulan? Untuk memenangkan pertanding yang mustahil, tiap
tahun selalu kalah. Sebenarnya kutangkap sebuah harapan, tapi telah usang
karena penderitaan kalah setiap mencoba.
”Sekarang angkat kepala
kalian semua!” suaraku menggelegar.
Semua siswa mengangkat
kepalanya, mereka menatapku, tapi wajah-wajah itu adalah wajah pejuang yang
telah kalah dan mundur dari medan perang. Aku mencengkeram kuat bola itu, di
kedua telapak tanganku. Aku lemparkan pertama pada Samsul dengan kuat, kena!
Tepat di dadanya. Dia mengaduh, dan kedua tangannya memegangi dadanya, mungkin
sedikit sakit. Bola itu jatuh dan menggelinding ke arahku kembali.
Kuambil, dan kulempar
lagi, satu-persatu. Kena! Kedua kali siswa di barisan kanan, ketiga, kena lagi!
Keempat, kelima, keenam. Kena! Semuanya mengaduh dan memegangi dadanya.
Ketujuh, kena! Kedelapan, aku berhenti dan tersenyum. Siswa ke delapan dari
barisan menangkap bola itu dengan kedua tangannya. Matanya tajam, tubuhnya
kurus, ada barutan lecet di jari-jarinya.
”Kenapa jari-jarimu?”
Anak itu menjatuhkan
bolanya ke tanah, dan memerhatikan jari-jarinya sendiri, ”Ini luka karena aku
memarut kelapa membantu ibuku bekerja, Pak.”
”Siapa namamu?”
”Hasan, Pak.”
”Hasan! Baiklah, kau jadi
kiper untuk pertandingan bulan depan. Dan kau, tak boleh membiarkan satu bola
pun memasuki gawang yang kau jaga! Kau mengerti, Hasan!”
Satu tetes air mata
tiba-tiba menetes dari pipinya. Aku trenyuh, apa kata-kataku amat
menyakitkannya. Aku jadi tak tega.
”Kau keberatan?”
”Tidak, Pak,” Hasan
mengusap air matanya, ”Aku tersanjung mendapatkan penghormatan ini. Saya tak
akan membiarkan satu bola pun memasuki gawangku Pak, aku berjanji pada Bapak.”
Dan langit, matahari serta
bumi, semuanya tersenyum padaku. Aku tersenyum dan mengangguk padanya,
kuacungkan jempol padanya, kuucapkan di hatiku melalui ekspresiku, aku
pegang janjimu, Nak!
”Kita pasti menang! Itu
yang harus kalian peluk dalam mimpi kalian setiap malam. Kata menang itu harus
mengalir dalam setiap darah kalian, menang dalam permainan sepak bola adalah
cara kalian bekerja, bawa bunga terindah dan berikan pada desa Cahaya!”
”Sekarang! Siapa yang
ingin menang pertandingan di Kecamatan, ikut aku ke lapangan!” kuambil bola,
dua orang langsung bersemangat menuju lapangan sepak bola di depan Sekolah.
Kutunggu hingga sepuluh menit, dan hanya
Syahid dan Hasan yang ikut. Hatiku tak ciut, aku melatih mereka. Kuperintahkan
Hasan menjaga gawang, dan Syahid menendang. Hasan bersusah payah menangkap
bola, tapi tak pernah masuk sama sekali. Aku bangga memilihnya menjadi kiper,
dan kulihat sepuluh siswa masih berdiri terpanggang matahari, mereka
memerhatikan kami.
Jika bulan depan harus
bertanding dengan dua orang ini. Maka aku akan tetap melanjutkannya, walau
dengan penambahan dari kelas-kelas lain tanpa mengetahui bakat mereka. Tidak
boleh patah semangat sedikit pun.
”Syahid! Kau harus bisa
memasukkan bola!” aku berteriak keras menyemangati Syahid, Hasan sekuat tenaga
menajamkan seluruh inderanya.
Dan... tendangan
spektakuler, Hasan tertipu. Hasan mengira bola itu akan keluar dari gawang,
tapi saat mendekati gawang bola berbelok tepat di ujung dalam gawang atas, dan
bola itu masuk. Syahid melonjak kegirangan, Hasan melorotkan tubuhnya ke
rumput.
Saat menoleh, kesepuluh
siswa telah berada di hadapanku. Kapan mereka berjalan ke sini? Mereka bershaf
lurus. Aku memerhatikan mereka, Hasan dan Syahid mendekatiku dan berdiri di
samping kiriku, kami berhadap-hadapan dengan sepuluh siswa itu.
Syamsul maju satu langkah
ke depan, ”Pak, ajarkan kami untuk menang! Karena kami hanya punya mimpi!”
Kakiku bergetar, air mataku
hampir menetes, tapi kutahan. Aku majukan tanganku ke depan, kulirik Syahid dia
menumpuk tangannya di atas tanganku, begitu pun Hasan. Kulirik semua siswa,
mereka semua menaruh tangannya bertumpuk. Dan sorak kemenangan membahana
memenuhi langit desa Cahaya.
Kawan, menang itu adalah
pilihan, bukan?
Not Comments Yet "Bagian 21, Mental Juara"
Posting Komentar