Selasa, 29 Oktober 2019

Bagian 21, Mental Juara


Dunia berjalan demikian cepat, sudah hampir satu bulan aku di desa Cahaya. Kini, aku punya pekerjaan baru selain menjadi guru, wirausaha, tak ada ruginya pula kuambil jurusan ekonomi ternyata. Aku kerja part time, seperti para mahasiswa yang kuliah sambil bekerja, aku mengajar sambil bekerja.

Sebenarnya tidak bisa dikatakan sebagai kerja. Tapi melihat Kang Mukhlis kewalahan dalam memelihara bebek-bebeknya, ditambah harus mengantarkan telur-telur kepada para pemesan, kepada pelanggan yang selalu memesan tiap dua, tiga hari, atau bahkan ada yang selalu memesan puluhan telur dalam seharinya seperti mandor sekaligus tuan tanah, Pak Manar.

Kang Mukhlis kewalahan jika harus memberi makan kemudian harus mengantarkan telur-telur itu. Di samping pesanan telur bebek kian hari juga terus bertambah. Maka Kang Mukhlis menambah bebek-bebeknya dengan menetaskan telurnya dengan bantuan ayam betina. Akhirnya dia memintaku bekerja mengantarkan telur-telur bebek itu kepada para pelanggan yang memesan pada Kang Mukhlis.

Syahid sering menyertaiku mengantarkan telur-telur pesanan itu, tapi dia selalu membawa buku ketika kubonceng, dan dalam pangkuannya ada dua peti kecil berisi telur. Itulah kenapa Kang Mukhlis membolehkannya ikut bersamaku mengantarkan telur, selain aku belum tahu tempat rumah para pemesan telur, hal itu juga karena Syahid telah berjanji pada ayahnya untuk selalu belajar.

Ada kelebihan bekerja pada Kang Mukhlis. Pertama, aku bisa makan telur sepuasnya tanpa dituntut membayar, maksudku kebutuhan giziku terpenuhi, termasuk protein. Kedua, aku mendapatkan tempat tinggal gratis, Kawan, sebenarnya ini bukan bagian dari hasil kerja melainkan karena kebaikan Kang Mukhlis semata. Ketiga, setiap gajiku langsung dibayar setiap satu minggu, jumlahnya tergantung seberapa besar omzet penjualan telur satu minggu tersebut.

Masih ada lagi, keempat dan seterusnya, aku menjadi terkenal di desa Cahaya, aku banyak mengenal orang, silaturahmi lancer sekaligus bisa jalan-jalan melihat pemandangan desa, ah! Kawan, tak bisa dibayar dengan apa pun.

Setiap dua malam sekali, aku dan Syahid belajar beladiri dari ahlinya, siapa lagi kalau bukan Kang Mukhlis. Semakin hari, gerakan refleksku semakin cepat, begitu kata Kang Mukhlis. Ternyata, menurutnya, setiap hari kala aku mengantarkan telur-telur, mengayuh sepeda berkeliling desa menuju rumah para pelanggan, itulah dasar pertama bela diri, yaitu kekuatan fisik, kekuatan tubuh, ketahanan.

Dasar-dasar beladiri membutuhkan tubuh yang kuat dan prima. Seperti pemanasan sebelum melakukan senam dan olahraga, seperti petani padi yang membajak sawah sebelum ditanam, seperti belajar sebelum menghadapi ujian sekolah. Ya, seperti itulah kurang lebihnya. desa Cahaya membawa banyak inspirasi untukku.

Di sekolah, aku paling tak bisa olahraga, apalagi teori-teorinya, makanya semalam aku mengajak Syahid untuk belajar bersama. Belajar bersama, atau tepatnya aku minta pengajaran darinya. Olahraga sepak bola, kebetulan desa Cahaya terkenal karena permainannya yang buruk, selama bertahun-tahun, pertandingan liga sekolah satu kecamatan, Sekolah Cahaya selalu kalah. Memalukan.
Tapi, malam itu. Aku bagai melihat kilat mimpi, membara dalam setiap gerak Syahid kala menjelaskan tentang permainan sepak bola. Aku baca teorinya dari buku pelajaran yang kuambil dari perpustakaan, tidak ada yang meleset dari teori dalam buku itu. Kawan, makanya praktik itu tak lebih buruk dari mempelajari teorinya saja. Kebetulan, Syahid adalah striker yang baru bagi klub sepak bola Sekolah Cahaya.

Dan siang itu, sebelum kuajarkan permainan sepak bola pada para siswa. Aku memberikan penyemangatan kepada mereka, aku ajak mereka bersenang-senang dahulu dengan outbound beberapa permainan lapangan ringan seperti Japanese war. Mereka tertawa lepas seperti tak ada beban. Beban kala mereka harus bekerja, memarut kelapa ketika pulang sekolah, ada yang menyabit rumput, membantu ayahnya menyuluh pepaya dan sawo. Kawan, seluruh penduduk desa Cahaya adalah pekerja keras, dari kecil mereka telah diajari hidup dengan keras.

Saat perwakilan dari kedua kubu saling bersuit ala batu, kertas, gunting. Ketika bagian yang menang mengejar yang kalah, di situlah rumitnya, kadang yang kalah menyerbu yang menang, kadang saling lari menghindar. Semuanya tertawa, para tawanan perang yang minggir tertawa terbahak-bahak.
Game selesai, sekarang kita belajar sepak bola.”

Para siswi mundur dan menjadi penonton, para siswa berbaris di hadapanku, 12 orang. Wajah mereka kesemuanya tertunduk. Cahaya matahari memanggang kami, kulihat geliat aneh, seperti kata Syahid tadi malam. Karena kekalahan yang bertubi-tubi setiap tahun, bahkan pertandingan pertama saat penyisihan pun belum pernah jebol. Membuat harapan itu menguap, membuat mimpi terasa bualan kosong.

”Kenapa kalian menunduk?” kulihat hanya Syahid yang menatap lurus ke depan, materiku padanya semalam mempan, kalau mimpi harus menjadi desah napas yang terus mengisi ruang kosong di jiwa.
”Mana semangat kalian?” semuanya terdiam, susah membangkitkan semangat yang telah mati, tapi sebelum kematian yang sesungguhnya, kehilangan semangat merupakan tragedi yang lebih besar daripada mati itu sendiri.

”Siapa yang ingin memenangkan pertandingan sepak bola antar sekolah bulan depan? Angkat tangan yang  ingin menang!”

Kawan, satu tanganlah yang terangkat, dan itu milik Syahid. Kuambil bola yang telah tidak sempurna bundar, aku lempar pelan di hadapan Syahid, memberi aba-aba padanya untuk menendangnya ke arahku. Ancang-ancang, dan satu tendangan menuju arahku, kutangkap dengan kedua tanganku, karena tendangannya tak keras.

Kuangkat bola itu sejajar dengan wajahku, ”Angkat wajah kalian semua. Berarti, kalian benar-benar ingin kalah selamanya? Menjadi pecundang, dan rela setiap tahun piala jatuh bukan untuk Sekolah Cahaya!”

Angin bertiup tenang, dan suara-suara mereka sama sekali tak terdengar.
Salah seorang dari mereka mengangkat jari telunjuknya, dia Samsul, ketua kelas lima. Aku menunggu apa yang hendak diucapkannya.

”Percuma Pak latihan, kita akan selalu kalah. Apalagi, pertandingan tinggal sebulan lagi,” wajahnya kembali tertunduk, dari raut wajahnya bisa kutangkap keputusasaan, latihan macam apa tinggal sebulan? Untuk memenangkan pertanding yang mustahil, tiap tahun selalu kalah. Sebenarnya kutangkap sebuah harapan, tapi telah usang karena penderitaan kalah setiap mencoba.
”Sekarang angkat kepala kalian semua!” suaraku menggelegar.

Semua siswa mengangkat kepalanya, mereka menatapku, tapi wajah-wajah itu adalah wajah pejuang yang telah kalah dan mundur dari medan perang. Aku mencengkeram kuat bola itu, di kedua telapak tanganku. Aku lemparkan pertama pada Samsul dengan kuat, kena! Tepat di dadanya. Dia mengaduh, dan kedua tangannya memegangi dadanya, mungkin sedikit sakit. Bola itu jatuh dan menggelinding ke arahku kembali.

Kuambil, dan kulempar lagi, satu-persatu. Kena! Kedua kali siswa di barisan kanan, ketiga, kena lagi! Keempat, kelima, keenam. Kena! Semuanya mengaduh dan memegangi dadanya. Ketujuh, kena! Kedelapan, aku berhenti dan tersenyum. Siswa ke delapan dari barisan menangkap bola itu dengan kedua tangannya. Matanya tajam, tubuhnya kurus, ada barutan lecet di jari-jarinya.
”Kenapa jari-jarimu?”

Anak itu menjatuhkan bolanya ke tanah, dan memerhatikan jari-jarinya sendiri, ”Ini luka karena aku memarut kelapa membantu ibuku bekerja, Pak.”

”Siapa namamu?”
”Hasan, Pak.”

”Hasan! Baiklah, kau jadi kiper untuk pertandingan bulan depan. Dan kau, tak boleh membiarkan satu bola pun memasuki gawang yang kau jaga! Kau mengerti, Hasan!”

Satu tetes air mata tiba-tiba menetes dari pipinya. Aku trenyuh, apa kata-kataku amat menyakitkannya. Aku jadi tak tega.
”Kau keberatan?”

”Tidak, Pak,” Hasan mengusap air matanya, ”Aku tersanjung mendapatkan penghormatan ini. Saya tak akan membiarkan satu bola pun memasuki gawangku Pak, aku berjanji pada Bapak.”

Dan langit, matahari serta bumi, semuanya tersenyum padaku. Aku tersenyum dan mengangguk padanya, kuacungkan jempol padanya, kuucapkan di hatiku melalui ekspresiku, aku pegang janjimu, Nak!

”Kita pasti menang! Itu yang harus kalian peluk dalam mimpi kalian setiap malam. Kata menang itu harus mengalir dalam setiap darah kalian, menang dalam permainan sepak bola adalah cara kalian bekerja, bawa bunga terindah dan berikan pada desa Cahaya!”

”Sekarang! Siapa yang ingin menang pertandingan di Kecamatan, ikut aku ke lapangan!” kuambil bola, dua orang langsung bersemangat menuju lapangan sepak bola di depan Sekolah.

 Kutunggu hingga sepuluh menit, dan hanya Syahid dan Hasan yang ikut. Hatiku tak ciut, aku melatih mereka. Kuperintahkan Hasan menjaga gawang, dan Syahid menendang. Hasan bersusah payah menangkap bola, tapi tak pernah masuk sama sekali. Aku bangga memilihnya menjadi kiper, dan kulihat sepuluh siswa masih berdiri terpanggang matahari, mereka memerhatikan kami.

Jika bulan depan harus bertanding dengan dua orang ini. Maka aku akan tetap melanjutkannya, walau dengan penambahan dari kelas-kelas lain tanpa mengetahui bakat mereka. Tidak boleh patah semangat sedikit pun.

”Syahid! Kau harus bisa memasukkan bola!” aku berteriak keras menyemangati Syahid, Hasan sekuat tenaga menajamkan seluruh inderanya.

Dan... tendangan spektakuler, Hasan tertipu. Hasan mengira bola itu akan keluar dari gawang, tapi saat mendekati gawang bola berbelok tepat di ujung dalam gawang atas, dan bola itu masuk. Syahid melonjak kegirangan, Hasan melorotkan tubuhnya ke rumput.

Saat menoleh, kesepuluh siswa telah berada di hadapanku. Kapan mereka berjalan ke sini? Mereka bershaf lurus. Aku memerhatikan mereka, Hasan dan Syahid mendekatiku dan berdiri di samping kiriku, kami berhadap-hadapan dengan sepuluh siswa itu.

Syamsul maju satu langkah ke depan, ”Pak, ajarkan kami untuk menang! Karena kami hanya punya mimpi!”

Kakiku bergetar, air mataku hampir menetes, tapi kutahan. Aku majukan tanganku ke depan, kulirik Syahid dia menumpuk tangannya di atas tanganku, begitu pun Hasan. Kulirik semua siswa, mereka semua menaruh tangannya bertumpuk. Dan sorak kemenangan membahana memenuhi langit desa Cahaya.

Kawan, menang itu adalah pilihan, bukan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar