Selasa, 29 Oktober 2019

Bagian 20, Teruskan Perjuangan


Keadaan semakin gawat! Memang benar, kelas lima yang mengomandoi terjadinya keheboha. Kehebohan pertama kali di Sekolah Dasar Negeri Cahaya. Dalam sejarah desa, inilah kali pertama, keributan yang membuat gempar desa.

Setelah semua tenang, di halaman tempat upacara bendera setiap hari senin. Semua siswa berkumpul seperti akan upacara, barisan diistirahatkan. Yang mengherankan, aku berdiri di tengah seperti pemimpin upacara, seperti akan divonis hukuman, seperti akan diberi penghargaan? Tak mungkin!
Semua kekacauan, akulah mulanya.

Pak Danu berada di barisan guru, di pojok kiriku. Di sampingnya berdiri dengan tegap, Pak Yusuf, Bu Siska, dan Bu Ria. Semuanya diam, tanpa ekspresi, bagai para jaksa, baik pembela maupun penggugat. Keringatku keluar berjejalan. Mereka pikir aku siapa? Apalagi aku di tengah panasan sendiri. Tersengat matahari siang yang membara.

Angin berhembus tenang, semilir.

Pak Danu berdehem, bergerak menghentakkan kaki kanannya kuat ke tanah, lalu maju satu langkah. Menghadap ke kiri, tegap, berjalan menuju posisi pembina upacara. Berdiri tegap, menghadapku, membenahi kacamatanya, wajah tirusnya semakin menandakan ketuaannya.

Tubuhnya tertutupi tembok yang disusun setinggi lututnya. Pak Danu menghadap ke seluruh siswa dan padaku, dia mengucapkan salam.

”Seperti taklimat-taklimat pada ketetapan yang diambil pada setiap kondisi,” Pak Danu kembali berdehem, ”Melihat peristiwa-peristiwa yang terjadi, perlu kiranya diambil sebuah keputusan untuk menyelesaikan masalah-masalah yang terjadi. Bermula dari pelajaran mimpi yang diberikan Pak Arif. Maka... dengan itu diambil sebuah keputusan.”

Kalimat Pak Danu menggantung.

Kulihat Pak Yusuf masih tenang dalam berdirinya, Bu Siska walau terlihat tenang tapi kutangkap kekhawatiran tersembunyi dari wajahnya yang lembut. Bu Ria terlihat gelisah, dia terlalu khawatirkah? Suara gemuruh kembali terdengar dari belakangku, saling bisik.

”Diam dulu!” tegas. Semuanya terdiam, hanya kinjeng tangis dan burung prenjak yang terdengar masih membunyikan kidungnya.

”Bahwa...”

Pak Danu bergerak, dia bergeser ke kiri lagi, tepat dua langkah. Langkah tegap, berjalan menuju ke arahku, aku tahu mungkin inilah akhirku berada di desa Cahaya. Inilah pemecatan paling terhormat yang pernah kuterima. Aku salut pada Pak Danu yang demikian menghargai arti sebuah PHK. Tidak seperti para investor di negeri ini, PHK seenaknya. Bahkan, kadang pesangon tak diberikan.

Sampailah Pak Danu di depanku. Kedua tangannya bergerak, memegang pundakku kuat, ”Pak Arif, setelah semua yang terjadi. Saya harap, kau tidak menyesal. Saya harap kau tidak merasa sakit hati, aku harap kau bisa menerima keputusan ini.”

Nadanya teramat sedih untuk sebuah perpisahan. Bahkan, aku tak merasa sakit hati sama sekali, walau pemecatan, tapi selayak aku terhormat saat turun dari jabatan untuk melantik pejabat yang baru.

”Aku bisa menerimanya dengan baik, Pak! Saya tidak akan sakit hati, saya bahagia, saya sangat bahagia pernah menjadi bagian dari desa Cahaya ini.”
”Apa maksud Pak Arif?”

Kini, aku yang terbengong, ”Bukankah ini perpisahan?”

Pak Danu mencengkeram semakin kuat kedua pundakku, ”Pak Arif, aku mohon padamu. Teruskanlah perjuangan!” Pak Danu tersenyum, mengangguk penuh makna. Sorot matanya kembali ceria, dan kulihat harapan besar menyembul di kedua matanya yang telah keriput.

”Saya mohon, ajarkan anak-anak mimpi itu! Ajarkan mereka mimpi, agar mereka dapat membangun Cahaya. Kau benar! Itulah sebuah harapanku, aku mengaku kalah padamu. Maka aku mohon, teruskan perjuangan ini! Karena sisa umurku tidaklah lama lagi, aku telah melihat kekuatan mimpi, aku telah melihatnya anak muda.”

Senyum kami menyatu, kawan, air mataku satu denting luluh.

Aku berbalik ke arah semua siswa, Syahid berdiri paling depan. Senyumnya tak terperikan indahnya kawan. Aku berbalik lagi, Pak Danu mengangguk seolah memohon padaku. Kulihat pula senyum Bu Ria, senyumnya terlalu ceria. Pak Yusuf, yang kuceritakan wajahnya seperti ustadz, mengangkat jempolnya ke arahku, dan sekali lagi kulihat senyum Bu Siska yang anggun.


Seluruh siswa bersorak, entah mereka paham atau tidak. Namanya anak-anak, setiap keributan pasti mereka suka dan ikut ambil bagian. Tapi aku berjanji kawan, akan kuajarkan mimpi-mimpi pada mereka, mimpi yang akan mereka peluk dalam tidur mereka, yang akan membayang setiap mereka berjalan dan bernapas. Mimpi yang membuatku bertahan, untuk menjadi yang terbaik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar