Selasa, 29 Oktober 2019

Bagian 19, Transfer Mimpi


Aku masuk ke kelas penuh kewaspadaan. Sudah dua minggu ini aku mengajar di Sekolah Cahaya. Berkali-kali aku dikerjai siswa, mulai dari bedak kapur yang ditaruh di atas pintu saat aku masuk jatuh dan aku mandi kapur; dilempar dengan bulatan kertas beberapa kali saat menulis di depan; ditipu: ada yang memanggil lalu mereka bermain perang-perangan seperti biasanya; sampai kursiku ditaruh permen karet. Aku harus bersabar, setuju. Hari ini aku kembali masuk kelas. Aku mendekati meja guru, semua siswa berdiri, kutendang sekali kursi guru, siapa tahu remuk. Duk! Bergeming, dan aku duduk.

”Kalian boleh duduk.”

”Terima kasih, Pak Guru!” suara mereka keras, bersama dan kompak.

Aku tersenyum, kuitarkan pandangan, ruangan masih serba kotor. Kalian tahu, Kawan, di pojok-pojok kulihat sawang dan laba-laba bergelantungan dengan kaki-kakinya penuh bulu, di sana mereka menyimpan makanan yang terjebak, mengulumnya dengan serabut untuk diawetkan. Beberapa kecoa tampak berlarian seolah tak ada orang-orang yang peduli padanya. Di tambah cicak pun saling kejar, tak takut lagi pada orang, merayap di dinding. Tanda cap kaki sepatu juga masih setia melekat seumpama tanda tangan di kertas.

”Baik anak-anak, hari ini, kita tidak belajar. Tapi...,”

Tidak! Belum sempat selesai, semua murid bersorak. Seperti kemarin-kemarin, mereka mengambil kertas gulungan yang berada di bawah meja, di bawah kursi, di dalam laci. Sambil ber auooo, seperti tarzan, mereka melempariku dengan gulungan kertas itu serempak.

Aku menangkis sekenaku, beberapa gulungan kutangkap. Kulihat wajah ceria mereka, Tuhan, itu adalah wajah yang teramat polos dan indah, wajah keluguan, dan aku melihat wajahku sendiri. Sama seperti mereka, kala aku bahagia bersama kakek.

Beberapa gulungan kertas di tanganku, kucengkeram kuat. Kuangkat tinggi, kuambil ancang-ancang, dengan wajah yang tak kalah ceria dengan mereka. Aku melempari siswa-siswa kelas lima itu. Seorang yang kubidik, menghindar dengan bersembunyi, memelorotkan tubuhnya dari balik laci meja. Ada yang menggulung kertas baru, melempariku, tidak sebanding satu lawan tiga puluhan. Kutangkap, kulemparkan juga.

Seru, Kawan! Kelas kacau.

Antara kami tidak ada jarak lagi, bukan lagi seorang guru dan murid, melainkan teman bermain lemparan. Aku memungut satu gulungan kertas yang terjatuh di meja, kubidik Syahid yang sedang berusaha menggulung kertas baru. Kupicingkan satu mataku, kulemparkan dengan sekuat tenaga. Tepat! Mengenai jidatnya, dia memegangi jidatnya dan kertas yang belum selesai digulungnya, dilemparkannya. Dan sasarannya salah, tapi tepat mengenai belakang kepala siswa di depannya.

Kawan, apa yang terjadi? Kau tak akan percaya. Aku baru saja melakukan strategi perang. Kini, aku tidak melawan mereka semua. Tapi semuanya saling lempar, semua murid, aku bukan sasaran utama. Kertas yang jatuh, dipunggut lagi, sedetik kemudian telah terbang menurut sasaran lemparnya.

Posisi saling berubah, saling sembunyi di meja-meja, mana kawan mana lawan sudah kabur dan samar. Yang ada hanyalah keceriaan kala lemparannya mengenai sasaran, Tuhan! Keceriaan dan kebahagiaan apa ini? Aku sangat bahagia sekali.

”Buk!” sebuah lemparan kertas mengenai kening sebelah kananku, rupanya seorang siswi mengincarku sejak tadi. Dia berteriak girang karena serangannya mengenaiku, lalu melonjak tinggi sebagai ekspresi kemenangan seolah Chris John saat menang tinju.

Aku mengusap bekas lemparan, tak sakit. Aku pura-pura mengaduh, dan semua siswa meledak tawa. Kuambil kertas sebanyak-banyaknya yang tergeletak di meja dan di lantai, kuraup dan kulemparkan asal di depanku.

”Bapak belum kalah!”

Dan semua berteriak girang, saling lempar kembali terulang. Kawan, mataku tertawan oleh indahnya gulungan kertas yang beterbangan, melesat, terjatuh, salah sasaran, keluar ke jendela yang pecah kacanya, menabrak atap papan reot yang hancur berantakan. Seolah puluhan kertas yang terbang, seolah ribuan, seolah jutaan gemerlapan, pelan jatuhnya menimbulkan pesona indah. Bagai buih di lautan yang diterbangkan, sinar matahari yang masuk melalui jendela dan genting yang rusak, meningkahi indahnya simfoni kertas beterbangan. Kuangkat tanganku bagai kapal terkembang layarnya, mengarungi samudera luas tak terbatas. Teriakan para siswa, bagai nyanyian kinjeng tangis yang sering menyanyikan kidungnya di pepohonan nyiur.

Seorang lelaki kurus berdiri tepat di depan pintu yang engselnya telah rusak berkarat, lelaki tirus, berkacamata tebal, berkumis tebal pula. Berdiri terdiam, tanpa ekspresi, melihatku.

Aku menurunkan tanganku, aku merasa tak enak membuat kelas berantakan. Pasti, atau mungkin saja, aku akan dikeluarkan. Aku tertunduk, mengangkat kepala lagi. Dan masih sempat-sempatnya sebuah gulungan kertas nyasar dan mengenai jidatku, saat adu pandang mataku dengan mata bayi milik Pak Danu, bagai ada aliran listrik yang terhubung.

Saat kertas nyasar itu jatuh tepat di lantai, saat suara riuh para siswa tak terdengar lagi, saat bunyi kertas jatuh itu jatuh di dekat sepatuku dan membunyi pelan.

”Pak Arif, ikut saya ke kantor sebentar!”

Tegas! Kukira, selama aku berinteraksi dengan Pak Danu, baru pertama kali ini pula nadanya tanpa ekspresi. Alamat! Apakah aku akan meninggalkan desa ini? Dan menjadi petualang dunia, dan... mungkin itulah nasibku. Sebagai penjelajah dunia.

Hening, hanya tinggal desing angin yang kedengaran. Aku melangkah pelan, menuju pintu. Setiap derak, jejak, bekas langkahku bagai seorang pejuang di medan perang, yang diturunkan dari jabatan dan diminta pulang tanpa hormat. Aku tak menengok ke kelas lagi, tapi hatiku berujar, anak-anak, mungkin ini pertemuan terakhir kita. Kalian harus menemukan mimpi-mimpi kalian.

”Pak!”

Langkahku terhenti, tepat satu langkah lagi mencapai undakan keluar kelas. Inginku tak menengok, demi kudengar nama itu. Aku menengok juga, suara Syahid. Mata kami bertatapan, matanya tampak sayu. Baru kutahu, mata itu sekali ini, tetaplah bersama kami, kumohon!

Syahid keluar dari posisi tempat duduknya, dia berjalan pelan, langkahnya pelan terseret. Semua murid melihat antara dia dan aku. Dia berjalan semakin dekat denganku. Kini, hanya jejak langkahnya yang terdengar di suara itu.

Tepat. Beberapa langkah di hadapanku, dia berhenti dan wajahnya mendongak melihatku. Satu bulir bening mengalir di pipinya. Aku duduk, menyejajarkan diriku pada wajahnya, kuusap air matanya dan aku tersenyum seperti pesan Kakek, tersenyum dalam kondisi apa pun.

”Jangan pergi ya, Pak?” pelan.
Aku memeluknya. Tuhan, sungguh aku tak tega melihat seorang anak kecil menangis, untukku. Seperti air mata wanita itu, wanita yang meneteskan air mata untukku sewaktu acara wisuda kuliah dulu.

”Kau harus kuat,” aku tersenyum sambil kutatap matanya, ”Belum tentu kan aku akan pergi dari sini?”

Saat aku berdiri, kulihat beberapa siswa mengusap air matanya. Aku tersenyum, mengedarkan pandangan pada mereka semua. Setidaknya, jika aku harus pergi dari desa ini, aku telah bertemu wajah-wajah mereka. Wajah-wajah yang di dalamnya terisi cinta.

Aku meninggalkan mereka, aku menuju kantor. Ruangan kantor sepi, semua guru, atau tepatnya tiga guru yang lain tengah mengajar di kelas-kelas, memberi tugas pada kelas lain dan masuk gantian di kelas lainnya. Sungguh tidak efektif, siswa ribut, tak karuan, prestasi belajar pasti tertinggal.
Aku masuk ke dalam ruangan Pak Danu. Di sana, lelaki kurus dan tua yang seharusnya sudah pensiun itu duduk sambil membaca sebuah buku. Hendak kuketuk pintu yang terbuka itu, tapi keduluan.

”Masuklah Pak Arif,” nadanya masih datar dan ada ketegasan di dalamnya.

Aku masuk, tangan Pak Danu memberi isyarat tangannya agar aku duduk. Kawan, seolah ini ruangan sidang bagiku. Lihat saja, Pak Danu yang biasanya ceria dan ramah pada setiap orang tiba-tiba berlaku demikian tegang. Pikiranku mulai berpikir, berprasangka tapi lisanku tetap diam menunggu kata-kata yang akan keluar dari mulut Pak Danu, bagai menunggu vonis, bagi menunggu tembakan peluru saat hukuman mati siap dilakukan.

”Pak Arif.”

Aku tergagap, sedikit terkejut hingga hampir saja jantungku lepas keluar. Setelah lama, diam, tiba-tiba suara Pak Danu keluar tiba-tiba. Pak Danu menaruh bukunya dengan gaya wibawanya, mirip dosen penguji saat ujian pendadaran. Gayanya tak kalah dengan seorang profesor.

”Apa yang kau ajarkan pada anak-anak?”

Aku bingung hendak menjawab apa, tubuhku seolah gemetaran, bibir-bibirku terasa kelu. Pelajaran? Aku membuat para siswa bertambah asyik saling lempar, kelas jadi berantakan, ribut tak terperikan. Tuhan, aku harus menjawab apa?

”Pelajaran apa yang Bapak berikan pada anak-anak kelas lima?” nada Pak Danu semakin tegas, bagai paku-paku yang ditancapkan pertama, dan dipukul dengan martil untuk penguatannya.

”Jawab Pak Arif!”
”Aku... aku sedang... aku sedang mengajarkan mimpi pada mereka, Pak,” itulah kata-kata yang keluar begitu saja dari mulutku.

”Mimpi?” raut wajahnya bukan kaget, tapi seolah mengejek, seolah berkata, tahu apa kau tentang mengajar anak muda? Aku telah mengajar puluhan tahun.
”Iya Pak, aku mengajarkan mimpi pada mereka.”

”Di Sekolah ini tidak pernah ada pelajaran mimpi, yang ada ilmu pengetahuan, yang ada matematika, ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, bahasa Indonesia, pelajaran moral. Untuk apa pelajaran mimpi?”

Sindiran itu kuat terasa menusuk langsung ke dalam hatiku. Nadanya keras, tegas. Kawan, aku sungguh tak terima. Pak Danu meremehkan apa yang telah kupegang kuat seumur hidupku, pelajaran Kakek terhebat dalam sejarah manusia, pelajaran yang lebih kuat dari ajaran Yunani, lebih kuat dari ajaran Archimedes maupun Galileo.

Untuk masalah ini aku merujuk sebuah nukilan kata Albert Einstein, bahwa, ’Inspirasi lebih penting dari ilmu pengetahuan.’ Teori mimpiku dihina kawan, aku akui ilmu yang disebutkan Pak Danu adalah ilmu, tapi mimpi adalah kekuatanku bertahan hingga saat ini. Sekarang aku tak akan tinggal diam karena ini menyangkut harga diri.

”Maaf Pak, Anda belum tahu apa itu kekuatan mimpi,” nadaku tak kalah tegas.
”Mimpi tak bisa memberikan apa-apa anak muda!”
”Anda salah! Karena saya melihat ada mimpi dan harapan besar di mata Anda. Tapi, Anda telah kalah dalam mewujudkan mimpi itu.”
”Apa maksudmu, Pak Arif?”

Benar dugaanku. Di sorot matanya, tepat pertama kali aku berkenalan dengan Pak Danu, sorot matanya adalah harapan yang menyala-nyala. Lihat saja, ketegasan kata-katanya surut.
”Maksudku adalah...”

Belum selesai ucapku, belum selesai lampiasan pembelaan harga diriku. Suara bergemuruh seperti jutaan halilintar menghunjam bumi, memekakkan telinga. Riuh, suara teriakan, sorak, tepuk tangan, auman, suara tarzan bercampur aduk.

Aku dan Pak Danu keluar dari ruangan guru. Kawan, kau lihatlah, tepat di depan kami. Puluhan siswa berteriak-teriak, melempar kertas gulungan ke arah kantor guru. Kacau benar. Pak Yusuf, Bu Siska dan Bu Ria tampak kerepotan mencegat dan membendung semua murid yang mirip demonstrasi di kota Jakarta.

Beberapa siswa, terutama Syahid yang berdiri paling depan, memegang kertas karton yang di belakangnya adalah tulisan piket kelas, bertuliskan acak adut tapi terbaca oleh mataku, ’Jangan pecat Pak Arif!

Lemparan gulungan kertas mengenai Pak Danu, dia kerepotan menghalaunya. Aku tertawa, tersenyum gembira sekali. Aku ambil gulungan kertas yang terjatuh di sekitarku, kuambil dan kulemparkan ke barisan demonstrasi tak ada jenderal lapangan, tak berkomando, semua menjadi pembicara, tak ada bagian penengah, yang ada hanya keriuhan. Kawan, aku yakin semua kelas melihat ramai, maka mereka ikut keluar dan menyemarakkan kehebohan ini.

Maka, di sana semuanya saling lempar.


Dan terakhir, dari kilatan gulungan kertas yang terbang berhamburan, dari sengatan matahari yang panas, dari riuhnya suara teriakan, dari saling sembunyinya manusia menghindari lemparan kertas, Kawan, kulihat Bu Siska tersenyum.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar