Aku masuk ke kelas penuh kewaspadaan.
Sudah dua minggu ini aku mengajar di Sekolah Cahaya. Berkali-kali aku dikerjai
siswa, mulai dari bedak kapur yang ditaruh di atas pintu saat aku masuk jatuh
dan aku mandi kapur; dilempar dengan bulatan kertas beberapa kali saat menulis
di depan; ditipu: ada yang memanggil lalu mereka bermain perang-perangan
seperti biasanya; sampai kursiku ditaruh permen karet. Aku harus bersabar,
setuju. Hari ini aku kembali masuk kelas. Aku mendekati meja guru, semua siswa
berdiri, kutendang sekali kursi guru, siapa tahu remuk. Duk! Bergeming, dan aku
duduk.
”Kalian boleh duduk.”
”Terima kasih, Pak Guru!”
suara mereka keras, bersama dan kompak.
Aku tersenyum, kuitarkan
pandangan, ruangan masih serba kotor. Kalian tahu, Kawan, di pojok-pojok
kulihat sawang dan laba-laba bergelantungan dengan kaki-kakinya penuh bulu, di sana
mereka menyimpan makanan yang terjebak, mengulumnya dengan serabut untuk
diawetkan. Beberapa kecoa tampak berlarian seolah tak ada orang-orang yang
peduli padanya. Di tambah cicak pun saling kejar, tak takut lagi pada orang,
merayap di dinding. Tanda cap kaki sepatu juga masih setia melekat seumpama
tanda tangan di kertas.
”Baik anak-anak, hari ini,
kita tidak belajar. Tapi...,”
Tidak! Belum sempat
selesai, semua murid bersorak. Seperti kemarin-kemarin, mereka mengambil kertas
gulungan yang berada di bawah meja, di bawah kursi, di dalam laci. Sambil ber auooo,
seperti tarzan, mereka melempariku dengan gulungan kertas itu serempak.
Aku menangkis sekenaku,
beberapa gulungan kutangkap. Kulihat wajah ceria mereka, Tuhan, itu adalah
wajah yang teramat polos dan indah, wajah keluguan, dan aku melihat wajahku
sendiri. Sama seperti mereka, kala aku bahagia bersama kakek.
Beberapa gulungan kertas
di tanganku, kucengkeram kuat. Kuangkat tinggi, kuambil ancang-ancang, dengan
wajah yang tak kalah ceria dengan mereka. Aku melempari siswa-siswa kelas lima
itu. Seorang yang kubidik, menghindar dengan bersembunyi, memelorotkan tubuhnya
dari balik laci meja. Ada yang menggulung kertas baru, melempariku, tidak
sebanding satu lawan tiga puluhan. Kutangkap, kulemparkan juga.
Seru, Kawan! Kelas kacau.
Antara kami tidak ada
jarak lagi, bukan lagi seorang guru dan murid, melainkan teman bermain
lemparan. Aku memungut satu gulungan kertas yang terjatuh di meja, kubidik
Syahid yang sedang berusaha menggulung kertas baru. Kupicingkan satu mataku,
kulemparkan dengan sekuat tenaga. Tepat! Mengenai jidatnya, dia memegangi
jidatnya dan kertas yang belum selesai digulungnya, dilemparkannya. Dan
sasarannya salah, tapi tepat mengenai belakang kepala siswa di depannya.
Kawan, apa yang terjadi?
Kau tak akan percaya. Aku baru saja melakukan strategi perang. Kini, aku tidak
melawan mereka semua. Tapi semuanya saling lempar, semua murid, aku bukan
sasaran utama. Kertas yang jatuh, dipunggut lagi, sedetik kemudian telah
terbang menurut sasaran lemparnya.
Posisi saling berubah,
saling sembunyi di meja-meja, mana kawan mana lawan sudah kabur dan samar. Yang
ada hanyalah keceriaan kala lemparannya mengenai sasaran, Tuhan! Keceriaan dan
kebahagiaan apa ini? Aku sangat bahagia sekali.
”Buk!” sebuah lemparan
kertas mengenai kening sebelah kananku, rupanya seorang siswi mengincarku sejak
tadi. Dia berteriak girang karena serangannya mengenaiku, lalu melonjak tinggi
sebagai ekspresi kemenangan seolah Chris John saat menang tinju.
Aku mengusap bekas
lemparan, tak sakit. Aku pura-pura mengaduh, dan semua siswa meledak tawa.
Kuambil kertas sebanyak-banyaknya yang tergeletak di meja dan di lantai, kuraup
dan kulemparkan asal di depanku.
”Bapak belum kalah!”
Dan semua berteriak
girang, saling lempar kembali terulang. Kawan, mataku tertawan oleh indahnya
gulungan kertas yang beterbangan, melesat, terjatuh, salah sasaran, keluar ke
jendela yang pecah kacanya, menabrak atap papan reot yang hancur berantakan. Seolah
puluhan kertas yang terbang, seolah ribuan, seolah jutaan gemerlapan, pelan
jatuhnya menimbulkan pesona indah. Bagai buih di lautan yang diterbangkan,
sinar matahari yang masuk melalui jendela dan genting yang rusak, meningkahi
indahnya simfoni kertas beterbangan. Kuangkat tanganku bagai kapal terkembang
layarnya, mengarungi samudera luas tak terbatas. Teriakan para siswa, bagai
nyanyian kinjeng tangis yang sering menyanyikan kidungnya di pepohonan
nyiur.
Seorang lelaki kurus
berdiri tepat di depan pintu yang engselnya telah rusak berkarat, lelaki tirus,
berkacamata tebal, berkumis tebal pula. Berdiri terdiam, tanpa ekspresi,
melihatku.
Aku menurunkan tanganku,
aku merasa tak enak membuat kelas berantakan. Pasti, atau mungkin saja, aku
akan dikeluarkan. Aku tertunduk, mengangkat kepala lagi. Dan masih
sempat-sempatnya sebuah gulungan kertas nyasar dan mengenai jidatku, saat adu
pandang mataku dengan mata bayi milik Pak Danu, bagai ada aliran listrik yang
terhubung.
Saat kertas nyasar itu
jatuh tepat di lantai, saat suara riuh para siswa tak terdengar lagi, saat
bunyi kertas jatuh itu jatuh di dekat sepatuku dan membunyi pelan.
”Pak Arif, ikut saya ke
kantor sebentar!”
Tegas! Kukira, selama aku
berinteraksi dengan Pak Danu, baru pertama kali ini pula nadanya tanpa
ekspresi. Alamat! Apakah aku akan meninggalkan desa ini? Dan menjadi petualang
dunia, dan... mungkin itulah nasibku. Sebagai penjelajah dunia.
Hening, hanya tinggal
desing angin yang kedengaran. Aku melangkah pelan, menuju pintu. Setiap derak,
jejak, bekas langkahku bagai seorang pejuang di medan perang, yang diturunkan
dari jabatan dan diminta pulang tanpa hormat. Aku tak menengok ke kelas lagi, tapi
hatiku berujar, anak-anak, mungkin ini pertemuan terakhir kita. Kalian harus
menemukan mimpi-mimpi kalian.
”Pak!”
Langkahku terhenti, tepat
satu langkah lagi mencapai undakan keluar kelas. Inginku tak menengok, demi kudengar
nama itu. Aku menengok juga, suara Syahid. Mata kami bertatapan, matanya tampak
sayu. Baru kutahu, mata itu sekali ini, tetaplah bersama kami, kumohon!
Syahid keluar dari posisi
tempat duduknya, dia berjalan pelan, langkahnya pelan terseret. Semua murid
melihat antara dia dan aku. Dia berjalan semakin dekat denganku. Kini, hanya
jejak langkahnya yang terdengar di suara itu.
Tepat. Beberapa langkah di
hadapanku, dia berhenti dan wajahnya mendongak melihatku. Satu bulir bening
mengalir di pipinya. Aku duduk, menyejajarkan diriku pada wajahnya, kuusap air
matanya dan aku tersenyum seperti pesan Kakek, tersenyum dalam kondisi apa pun.
”Jangan pergi ya, Pak?”
pelan.
Aku memeluknya. Tuhan,
sungguh aku tak tega melihat seorang anak kecil menangis, untukku. Seperti air
mata wanita itu, wanita yang meneteskan air mata untukku sewaktu acara wisuda
kuliah dulu.
”Kau harus kuat,” aku
tersenyum sambil kutatap matanya, ”Belum tentu kan aku akan pergi dari sini?”
Saat aku berdiri, kulihat
beberapa siswa mengusap air matanya. Aku tersenyum, mengedarkan pandangan pada
mereka semua. Setidaknya, jika aku harus pergi dari desa ini, aku telah bertemu
wajah-wajah mereka. Wajah-wajah yang di dalamnya terisi cinta.
Aku meninggalkan mereka,
aku menuju kantor. Ruangan kantor sepi, semua guru, atau tepatnya tiga guru
yang lain tengah mengajar di kelas-kelas, memberi tugas pada kelas lain dan
masuk gantian di kelas lainnya. Sungguh tidak efektif, siswa ribut, tak karuan,
prestasi belajar pasti tertinggal.
Aku masuk ke dalam ruangan
Pak Danu. Di sana, lelaki kurus dan tua yang seharusnya sudah pensiun itu duduk
sambil membaca sebuah buku. Hendak kuketuk pintu yang terbuka itu, tapi
keduluan.
”Masuklah Pak Arif,”
nadanya masih datar dan ada ketegasan di dalamnya.
Aku masuk, tangan Pak Danu
memberi isyarat tangannya agar aku duduk. Kawan, seolah ini ruangan sidang
bagiku. Lihat saja, Pak Danu yang biasanya ceria dan ramah pada setiap orang
tiba-tiba berlaku demikian tegang. Pikiranku mulai berpikir, berprasangka tapi
lisanku tetap diam menunggu kata-kata yang akan keluar dari mulut Pak Danu,
bagai menunggu vonis, bagi menunggu tembakan peluru saat hukuman mati siap
dilakukan.
”Pak Arif.”
Aku tergagap, sedikit
terkejut hingga hampir saja jantungku lepas keluar. Setelah lama, diam, tiba-tiba
suara Pak Danu keluar tiba-tiba. Pak Danu menaruh bukunya dengan gaya wibawanya,
mirip dosen penguji saat ujian pendadaran. Gayanya tak kalah dengan seorang
profesor.
”Apa yang kau ajarkan pada
anak-anak?”
Aku bingung hendak
menjawab apa, tubuhku seolah gemetaran, bibir-bibirku terasa kelu. Pelajaran?
Aku membuat para siswa bertambah asyik saling lempar, kelas jadi berantakan,
ribut tak terperikan. Tuhan, aku harus menjawab apa?
”Pelajaran apa yang Bapak
berikan pada anak-anak kelas lima?” nada Pak Danu semakin tegas, bagai
paku-paku yang ditancapkan pertama, dan dipukul dengan martil untuk
penguatannya.
”Jawab Pak Arif!”
”Aku... aku sedang... aku
sedang mengajarkan mimpi pada mereka, Pak,” itulah kata-kata yang keluar begitu
saja dari mulutku.
”Mimpi?” raut wajahnya
bukan kaget, tapi seolah mengejek, seolah berkata, tahu apa kau tentang
mengajar anak muda? Aku telah mengajar puluhan tahun.
”Iya Pak, aku mengajarkan
mimpi pada mereka.”
”Di Sekolah ini tidak
pernah ada pelajaran mimpi, yang ada ilmu pengetahuan, yang ada matematika,
ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, bahasa Indonesia, pelajaran
moral. Untuk apa pelajaran mimpi?”
Sindiran itu kuat terasa
menusuk langsung ke dalam hatiku. Nadanya keras, tegas. Kawan, aku sungguh tak
terima. Pak Danu meremehkan apa yang telah kupegang kuat seumur hidupku,
pelajaran Kakek terhebat dalam sejarah manusia, pelajaran yang lebih kuat dari
ajaran Yunani, lebih kuat dari ajaran Archimedes maupun Galileo.
Untuk masalah ini aku
merujuk sebuah nukilan kata Albert Einstein, bahwa, ’Inspirasi lebih penting
dari ilmu pengetahuan.’ Teori mimpiku dihina kawan, aku akui ilmu yang
disebutkan Pak Danu adalah ilmu, tapi mimpi adalah kekuatanku bertahan hingga
saat ini. Sekarang aku tak akan tinggal diam karena ini menyangkut harga diri.
”Maaf Pak, Anda belum tahu
apa itu kekuatan mimpi,” nadaku tak kalah tegas.
”Mimpi tak bisa memberikan
apa-apa anak muda!”
”Anda salah! Karena saya
melihat ada mimpi dan harapan besar di mata Anda. Tapi, Anda telah kalah dalam
mewujudkan mimpi itu.”
”Apa maksudmu, Pak Arif?”
Benar dugaanku. Di sorot
matanya, tepat pertama kali aku berkenalan dengan Pak Danu, sorot matanya
adalah harapan yang menyala-nyala. Lihat saja, ketegasan kata-katanya surut.
”Maksudku adalah...”
Belum selesai ucapku,
belum selesai lampiasan pembelaan harga diriku. Suara bergemuruh seperti jutaan
halilintar menghunjam bumi, memekakkan telinga. Riuh, suara teriakan, sorak,
tepuk tangan, auman, suara tarzan bercampur aduk.
Aku dan Pak Danu keluar
dari ruangan guru. Kawan, kau lihatlah, tepat di depan kami. Puluhan siswa
berteriak-teriak, melempar kertas gulungan ke arah kantor guru. Kacau benar. Pak
Yusuf, Bu Siska dan Bu Ria tampak kerepotan mencegat dan membendung semua murid
yang mirip demonstrasi di kota Jakarta.
Beberapa siswa, terutama
Syahid yang berdiri paling depan, memegang kertas karton yang di belakangnya
adalah tulisan piket kelas, bertuliskan acak adut tapi terbaca oleh mataku, ’Jangan
pecat Pak Arif!’
Lemparan gulungan kertas
mengenai Pak Danu, dia kerepotan menghalaunya. Aku tertawa, tersenyum gembira
sekali. Aku ambil gulungan kertas yang terjatuh di sekitarku, kuambil dan
kulemparkan ke barisan demonstrasi tak ada jenderal lapangan, tak berkomando,
semua menjadi pembicara, tak ada bagian penengah, yang ada hanya keriuhan.
Kawan, aku yakin semua kelas melihat ramai, maka mereka ikut keluar dan
menyemarakkan kehebohan ini.
Maka, di sana semuanya
saling lempar.
Dan terakhir, dari kilatan
gulungan kertas yang terbang berhamburan, dari sengatan matahari yang panas,
dari riuhnya suara teriakan, dari saling sembunyinya manusia menghindari
lemparan kertas, Kawan, kulihat Bu Siska tersenyum.
Not Comments Yet "Bagian 19, Transfer Mimpi"
Posting Komentar