Mimpi
yang aneh. Segera kukirim surat kilat ke Kampung, kutulis seusai kajian ba’da subuh. Saat akan berangkat kuliah,
kusempatkan ke kantor post. Segera ke Kampus karena takut telat. Kutulis dalam
surat itu keadaanku disini, dua lamaran dan aku minta balasan surat secepatnya.
Entah, bagaimana reaksi mereka ketika membacanya. Menikah segera bagiku, adalah
jalan terbaik untuk menghindari fitnah-fitnah yang teramat besar. Manusia bisa
menjadi ’alim di tengah goa itu mudah, tapi menjadi orang yang wara’ di tengah
metropolitan itu yang sulit, karena setiap saat, seluruh potensi maksiat
melambainya. Hanya jiwa-jiwa yang dekat dengan Allah, yang akan menang dan
beruntung.
Saat
mendekati pintu kelasku, wanita itu keluar kearahku. Wanda Hamidah.
Pandangannya tertunduk, tak menoleh sedikitpun saat melewatiku. Sangat berbeda
ketika kami pertama kali bertemu, bahkan sms bercandanya pun telah lama hilang.
Itukah kekuatan cinta? Yang dapat menjadikan seorang pecundang menjadi
pemberani, yang dapat membuat orang bertahan, walau dalam tengah kobaran api,
yang menjadikan orang bodoh menjadi pintar. Semua hal bisa berubah karena
cinta. Dia mengharapkan aku menjadi suaminya? Allah..., jangan buat hamba
menjadi sombong. Hamba hanyalah seorang miskin.
Aku
masuk kelas. Aisyah sudah kembali kuliah, Alhamdulillah.
Sorot matanya selalu sering sembab. Kejadian itu pasti membawa dampak psikologi
baginya, para penjahat itu telah dihukum sesuai ganjarannya. Lebih berhak
kusebut mereka lebih hina dari binatang, bagaimana mungkin seorang ayah tiri
tega menjualnya anaknya? Atau manusia yang membeli manusia lain, hanya untuk
kepuasan? Benar-benar biadab.
Mata
kuliah pertama selesai. Hanif mendahuluiku, katanya mau ke perpustakaan. Saat
kakiku hendak keluar, Aisyah mengucapkan salam padaku.
”Jazakallah
khoiron jaza’
akh. Jika saat itu engkau tak ada, aku...”
”Sudahlah
Ais, tidak usah dibahas lagi. Itu sudah kewajiban sesama muslim untuk saling
menolong. Allah telah mengatur segalanya dengan baik, aku hanya perantara dari
Allah, karena saat itu aku dibimbingnya untuk segera datang ke rumahmu.”
”Hatimu
begitu tulus. Fadli sangat mencintaimu, semua orang menyukaimu. Jika saja kau
halal untukku, aku akan mencium telapak kakimu dan menjadikan diriku selimutmu
setiap saat. Tapi..., itu tidak mungkin. Engkau berhati jernih, sejernih susu
murni. Engkau hanya pantas untuk orang yang berhati salju. Pantas, Wanda sangat
mencintaimu,” ada isakan lirih dari suaranya.
”Wanda?”
aku kaget sejenak, ”Wanda mencintaiku? Darimana kau tahu Ais?”
Aisyah
gemetaran menyerahkan sepucuk surat, ”Tadi dia menitipkan surat ini. Dia pantas
untukmu Ali...,” Aisyah berlalu setengah berlari, jilbabnya berkibar bagaikan
kapas yang tertiup angin kencang. Hadirku telah banyak membuat hati-hati yang
murni terluka. Allah..., janganlah Engkau jadikan diriku menjadi fitnah.
Jadikan diriku rahmat bagi setiap orang, telah banyak orang yang terluka
karenaku. Aku terduduk lemas di kursi. Kubuka pelan penutup amplop surat, yang
tertulis namaku di depannya.
Assalamu’alaikum
warahmatullah wabarakatuh
Aku
terpaksa menulis surat ini, karena aku tak tahu lagi apa yang harus kulakukan.
Meneleponmu aku tak kuasa, berkirim sms-pun tanganku bergetar. Jiwaku
benar-benar dalam ambang kehancuran, kecuali jika engkau menolongku dari
kebinasaan.
Ali...,
mohon dengan sangat..., mohon dengan sangat..., mohon dengan sangat...,
terimalah diriku menjadi pendampingmu. Jika kau tak memenuhinya, aku akan
dinikahkan oleh ayahku. Kau tahu, hatiku sepenuhnya adalah milikmu, selamanya.
Mohon dengan sangat..., selamatkanlah aku dari kehancuran.
Dalam
sajadahku, hanya terdapat namamu yang kusebut, kala kubersujud padaNya.
Wanda
Hamidah
Tak
kuasa lagi airmataku bergenang. Apa salahku Allah? Jika Kau mau kau dapat
mencabut nyawaku sekarang juga. Tapi..., cobaan apa ini? Aku tak kuasa melihat
airmata wanita yang sengsara karena hatinya terluka. Tetes airmataku menetes,
membentuk titik-titik di antara tulisan tangan Wanda. Menangis tak akan
menyelesaikan masalah, segera kutulis surat balasan.
Assalamu’alaikum
warahmatullah wabarakatuh
Untuk
Wanda yang dicintai Allah
Segala
puji, cinta, harapan kita hanya layak untukNya. Yang telah menuliskan garis
kehidupan setiap manusia. Shalawat untuk Rasulullah saw yang telah memberi
rambu-rambu kepada kita, untuk menetapi jalan lurus yaitu Islam.
Cinta
hanyalah sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Berharaplah kepada Allah
semata, jika kita tidak dijodohkan bersama, sesungguhnya itu mungkin yang
terbaik dalam pandanganNya, yang Maha Mengetahui sedang kita hambaNya yang
tidak mengetahui. Ketahuilah rasa cinta bukanlah segalanya? Dunia ini
membutuhkan kita, untuk dapat merubah kemunkaran menjadi kebaikan. Kita
diciptakan untuk membawa manfaat sebanyak-banyaknya untuk manusia. Semoga
Allah, memberi kita petunjuk untuk menentukan setiap langkah dalam hidup kita.
Semoga Allah memberikan yang terbaik dalam setiap pilihan kita. Amiin.
Laa tahzan, innallaaha ma’ana
Akhukum
fillah
Ali
Aku
akan menitipkan esok sore pada Fadli agar Aisyah menyerahkan pada Wanda. Mereka
sering bersama. Mata kuliah kedua dimulai. Benar dugaanku, Aisyah tidak masuk
kelas. Aku seolah menjadi bencana dan fitnah. Allah, ampuni hambaMu yang dhaif. Selepas Dzuhur, aku bekerja
kembali di Pasar. Hatiku gelisah, ini benar-benar ujian berat dalam hidupku.
Lebih berat daripada aku kekurangan uang atau ketika beberapa hari aku tidak
makan. Hati itu jika sakit, lebih menyiksa walau sakitnya tak terlihat hanya
hati yang merasainya.
Ba’da ashar, saat aku akan meneruskan bekerja.
Hp-ku menjerit, nomor Pesantren. Aku mengucapkan salam, Syahid membalas salam
dari seberang.
”Ada
apa Akh?”
”Segeralah
pulang. Sekarang juga.”
”Tapi...”
tut...tut...tutt.. sambungan terputus. Ada apa lagi ini? Terpaksa aku pamitan
dengan teman-teman di Pasar. Kusempatkan mampir di rumah Fadli dan meminta
suratnya diberikan kepada Aisyah untuk diberikan pada Wanda. Sekaligus jika
nanti tidak bisa datang, agar Fadli belajar sendiri.
Aku
bergegas masuk Pesantren. Samsul menjawab salamku dan diam, dia menepuk
pundakku pelan dan mengajakku ke ruangan tamu. Disana beberapa santri
berkumpul, mereka semua menatapku aneh. Kadang ada yang lebih sering menunduk,
seolah menunggu sesuatu.
”Ada
apa ini? Jangan membuatku semakin bingung.”
Syahid
berdiri dari duduknya dan mendekatiku, ”Kau sudah lama tidak pulang ke rumah,
beberapa bajumu telah kumasukkan dalam ransel. Hari ini pulanglah karena Ustadz
Umair mengizinkanmu pulang untuk beberapa hari. Obatilah rindumu bersama
keluargamu, bukankah engkau selalu berbicara padaku alangkah rindunya engkau
akan kampung. Kini kesempatan itu datang, pulanglah.”
”Pulang?”
Syahid
menganggukkan kepalanya, ”Ayo aku antar ke Terminal,” senyumnya terasa aneh. Tidak
seperti senyum sehari-harinya.
”Tapi
aku belum pamitan dengan para Ustadz?”
”Kami
sudah memamitkannya, ayo sekarang langsung berangkat. Kami juga telah beli
tiketnya,” mereka menggiringku seumpama membujukku untuk tidak banyak berpikir.
Akhirnya aku mengikuti mereka sampai ke Terminal. Saat aku mengucapkan salam,
Syahid memberiku sebuah amplop, ”Maafkan kami tak bisa menyertaimu..., salam
kami untuk keluarga,” aku menganggukkan kepalaku. Keherananku masih belum terobati.
Bus melaju cepat, derunya halus. Kulihat mereka mengusap airmata saat aku bus
menderu dan menjauh. Kusobek amplop itu. Uang? Beberapa ratus ribu atau mungkin
satu juta. Tanganku segera mengambil sebuah kertas putih.
Assalamu’alakum
sahabat kami
Maafkan
kami yang tak bisa berterus-terang. Kami tidak sanggup melihatmu meneteskan
airmata, cukuplah kami melihat keherananmu saja. Kami tak akan sanggup. Begitu
banyak kau bercerita, bahkan terlalu sering bibirmu menyebut namanya. Kau
ceritakan tentang ketegaran dan pengorbanannya.
Maafkan
kami, surat inilah yang akan menjelaskan, walau saat kami tulis airmata kami
bercucuran. Ali..., Bapakmu telah kembali pada Dzat yang menciptakannya, yang
selalu kita harapkan perjumpaan denganNya, dengan perjumpaan yang terindah.
Maafkan
kami, Akhukum fillah
Santri
Darussalam
Bapak...,
”innaa lillaahi wa innaa ilaihi raa ji’un,”
tak kuasa kubendung segala rasa tapi tetap airmataku menetes. Bukan, bukan
karena kecewa padaNya. Tapi bukankah Rasulullah saw juga meneteskan airmata
karena kematian Abdullah putranya, dan aku hanyalah manusia yang lemah bahkan
sangat lemah. Kertas yang telah terdapat bekas-bekas air, karena airmata
sahabat-sahabatku kutimpali dengan gerimis airmataku. Aku teringat ujaran
Ustadz Arifin kala mengisi kajian, ’Suatu ketika Abu Sulamah ra. mendapatkan
kesyahidan pada perang Badar, lalu sang istri Ummu Salamah ra. melantunkan
sebuah doa, ”innaa lillaahi wa innaa
ilaihi raa ji’un. Ya Allah, berikanlah pahala kepadaku dari musibah ini, dan
berikanlah ganti yang lebih baik darinya.”
Maka
Ummu Salamah ra. duduk dan merenung, dia berkata, ”Siapa lagi orang yang lebih
baik dari Abu Salamah? Dia adalah seorang yang mulia, ikut serta dalam perang
Badar dan memperoleh mati syahid.” padahal bukankah Rasulullah saw bersabda, ”Bisa
jadi Allah melihat hati para ahli badar, maka Allah ’Azza wa Jalla berfirman,
’Lakukanlah apa yang kamu kehendaki... sesungguhnya aku telah mengampuni kamu.’
Akhirnya Allah menikahkan Ummu Salamah ra dengan RasulNya, karena bukankah
Rasulullah saw jelas lebih baik dari Abu Salamah ra.
Aku
melipat surat itu, memasukkan dalam tas. Kutatap kaca yang pemandangannya memburai
karena kecepatan bus. Ya Allah, aku hanya berharap Engkau menetapi hatiku dalam
kesabaran dan ketabahan, serta keikhlasan akan semua yang terjadi dalam
hidupku. Karena itulah hartaku yang kupunya. Sepanjang jalan hanya kenangan
bersama Bapak yang memenuhi pikiranku. Sebelum pergi ke UI masih jelas
ingatanku pesan beliau, ”Walau engkau nanti jauh
disana, hati kita mempunyai ikatan yang membuat kita bermesraan tanpa ada
jarak. Jika Bapak kembali lebih dulu maka jagalah Ibumu, jagalah adik-adikmu,” Bapak? Tak kuasa apabila sempat kupandangi wajahnya yang tersenyum
kaku. Kau ajari aku melawan buasnya kehidupan, kau ajari aku cinta, kau ajari
aku silat yang kini kusadar engkau hanya asal mengajariku. Tapi aku sangat
senang.
Bapak?
Tangis hatiku semakin dalam. Belum ada yang kupersembahkan, hanya doaku...,
begitu tak berbaktinya anakmu ini. Jika merenung sejenak, apakah engkau yang
menyelesaikan ukiran cincin bulan, di malam ketika Mawar akan pergi
meninggalkanku? Dialah malaikat itu? Kau tahu Pak, Mawar hanyalah serpihan masa
lalu yang harus dilupakan. Untuk selamanya… dan kenapa. Kenapa Bapak hadir
dalam mimpiku, kenapa Bapak datang hanya untuk menyerahkan seorang wanita yang
memakai cincin bulan. Bukankah dia yang membuat kita terpisah? Aku mengejarnya
dan meninggalkanmu. Bapak… maafkan Ihsan. Kuingat itulah nama yang engkau
sematkan sebagai kebanggaanmu. Aku adalah Ihsan yang tegar,
akan kujaga Ibu dan adik-adikku.
* *
*
21
Desember 2007, di pekuburan basah. 09.00
Aku
duduk di depannya. Gerimis air yang mengguyur Gedung Dalam Baru, tak
menggoyahkan sedikitpun jasadku untuk pergi. Rintik air hujan mengiringi
lantunan doa dalam hatiku yang bergema. Airmataku memburai, bahkan aku tak
sempat melihat wajahnya yang terakhir kali. Aku baru tiba pukul 08.30. Jenazah Bapak telah dikubur kemarin siang, karena Bapak meninggal kemarin
pagi ketika shalat subuh berjamaah di Masjid. Segala urusan adalah dariNya, dan
akan dikembalikan padaNya dengan seadil-adilnya.
Kurelakan
kepergiannya, walau belum banyak yang kupersembahkan untukmu Pak, hanya doa
yang bisa kukirimkan. Aku akan berusaha menjadi anak yang soleh, dan berharap
pada Allah untuk mempertemukan kita di tempatNya yang terindah. Inginku melihat
bahagiamu saat melihatku di wisuda, tapi Allah yang berkehendak. Walau kutata
hatiku untuk ridha, airmataku tetap menetes bercampur air hujan yang jatuh dari
langit. Gluduk terdengar berulang-ulang, membahana. Kakiku enggan sedikitpun
meninggalkan Bapak, aku tak tega meninggalkan dia, sendirian dalam dekapan
tanah yang menghimpit.
Air
hujan seolah jatuh di sekitarku, tapi tak mengenaiku. Ada orang yang
memayungiku, aku melihatnya. Ibu dengan balutan jilbab biru muda, menatapku
tersenyum. Aku membalas senyumnya, ada kerinduan sekaligus kesedihan yang
kupancarkan. Mungkin Ibuku tahu, tapi aku juga tahu wajahnya yang telah
memperlihatkan keriput, juga memendam kesedihan yang terbalut dalam ketulusan.
Bagaimanapun juga, beliaulah yang selalu membersamai Bapak. Bapak adalah
seorang pahlawan yang tak kenal lelah, menghadang matahari untuk mencari sesuap
nasi, beliaulah Imam yang mengajari ibu dan anak-anaknya belajar mengaji.
Ibulah yang paling kehilangan, lihatlah senyumnya bagaikan bidadari yang
menjelma sebagai manusia.
Aku juga
harus tabah, kini aku harus mengambil peran Bapak sepenuhnya. Yasmin di
belakangnya, berpayung sendirian. Wajahnya begitu cantik, walau gurat kelelahan
sedikit menyelimutinya, kuyakin dia bekerja keras membantu Ibu. Matanya masih
menyisakan mendung duka, senyumnya tulus menyapaku. Betapa kerinduan ini tak
berada di tempat yang tepat. Alangkah kesyukuran itu begitu menakjubkan, aku
memiliki mutiara-mutiara. Sang Pemilik mutiara bisa mengambilnya kapan saja,
tapi mutiara-mutiara itu akan terus hidup di hatiku, walau terpisah jarak yang
jauh atau tempat yang berbeda. Karena itulah sesungguhnya ujian akan ketegaran,
dan keteguhan iman dibuktikan, saat musibah dan kehilangan.
“Ibu
pulang saja dulu, Ihsan masih ingin disini. Ihsan ingin menemani Bapak sejenak.
Sebentar lagi Insyaallah Ihsan
pulang.”
Ibu
tidak menyahut, beliau duduk di sebelahku. Menatap nisan kayu yang basah kuyup
kehujanan, “Ibu kesini bukan untuk menjemputmu San, Ibu kesini akan menemani
kamu dan Bapak. Bukankah lama kita tidak berkumpul bersama,” matanya
berkaca-kaca.
Aku
menyandarkan kepalaku yang basah, tertimpa rintik hujan ke pundak Ibu. Ibu
membelai rambutku. Semua kenangan berkelebat dalam bayangan suara hujan, yang
menghantam payung. Saat itu, ketika malam Bapak membacakan surat An-Naas untuk kuhafal agar mendapatkan
hadiah dari Mbak Ningsih, hadiah dua buah jilbab untuk Ibu. Saat yang membuat
keluargaku menangis, untuk sebuah kalimat yang belum pernah mereka dengarkan
dari orang lain, kecuali dari mulut mungilku. Kalimat cinta yang diajarkan mbak
Fatimah, seandainya waktu dapat dilipat sedikit, aku akan mengucapkannya dengan
ketulusan sebelum kepergian Bapak. Tidak ada yang terlambat.
Bibirku
bergetar, “Bu, Ihsan mencintai Ibu karena Allah, Ihsan mencintai Bapak karena
Allah, sungguh. Allah sebagai saksinya, maafkan semua khilaf Ihsan,” aku
menggapai tangan Ibu, kucium dengan lembut.
Hujan
yang membersamai derai airmata yang tumpah, mulai reda. Mendung mulai
memisah-misahkan dirinya, tertiup angin pelan dan mulai memburai, menampakkan
selaput biru langit yang basih buram. Gedung Dalam Baru berduka, untuk
kepergian salah satu penghuninya.
Malam
hening, di ruang tamu rumahku. Rumahku tak beda jauh dengan keadaan saat
kutinggal pergi, hanya bertambah cantik dengan hiasan-hiasan di setiap sudut
ruangan. Terdapat beraneka bunga-bunga nan menyejukkan di pekarangan depan,
kala malam saat semburat bulan menyilau di langit, ketenangan Gedung Dalam Baru
kembali menyentuh hatiku. Desa kelahiranku. Masih murni seperti dulu, hanya
saja keriangan bocah-bocah bermain gobak sodor tidak lagi kelihatan,
bocah-bocah pencari gangsir kala dengingannya yang keras juga tak
menyuara. Apalagi permainan petak umpet yang tak lagi terdengar,
jeritan-jeritannya kala si penyusup ketahuan penjaga. Dari cerita sekilas Yasmin tadi sore, banyak yang
berubah dari desa. Sekarang banyak yang jadi TKI di Malaysia, Arab, Taiwan
maupun Korea. Disana lebih makmur, dan kadang malah tidak mau pulang lagi atau
meninggalkan suami atau isterinya di kampung ini.
Para
remaja Gedung Dalam Baru, banyak yang setelah SMA langsung bekerja di luar
Negeri atau melancong ke Jawa, dan bekerja apa saja karena disana katanya
mencari pekerjaan lebih mudah. Setelah dirunut-runut dari mereka, ada yang
bekerja sebagai tukang parkir, pedagang kaki lima, buruh yang lebih buruk, ada
yang bekerja jadi tukang rongsokan, bahkan yang parah menjadi preman atau
penjual narkoba, Naudzubillah. Begitulah akhir orang-orang yang ingin
dunia berada di hatinya, membiarkannya mekar dan mempengaruhi pikirannya.
Bukankah dunia ini hanyalah tempat menimba bekal, untuk bertemu dengan Allah?
Kami
semua berkumpul di ruang tamu yang sempit, lantai tanah kami terlihat sedikit
becek karena genting telah terlihat bolong-bolong. Setiap ada tamu, sandal harus selalu dipakai, jika
masuk rumahku karena takut kakinya kotor. Kulihat Fajar terdiam menunduk, sejak
kepulanganku dia terlihat sedih. Wajahnya bertambah tampan, wajahnya memang
lebih putih dariku. Ingatanku melayang saat kecilnya dulu, sering kugendong dan
kutidurkan. Aku ragu hendak memulai, karena aku merasa bersalah baru datang
sesudah Bapak dikuburkan. Ibu juga terdiam sambil sesekali menyeruput teh
buatan Yasmin. Yasmin sesekali memandangku, seolah ada yang ingin diceritakan
tapi dia menahannya. Entahlah, siapa yang harus memulai…
“Maafkan
Fajar…, maafkan Fajar…ini semua kesalahan Fajar,” Fajar sesenggukan sambil
menutup wajah, dengan kedua tangannya. Aku kebingungan. Sebelum aku meminta
kejelasan, Fajar meneruskan kata-katanya.
“Malam itu…,
hiks,” Fajar masih sesenggukan. Kulihat Ibu dan Yasmin juga menunggu kata-kata
Fajar, “Malam itu, Bapak memasuki rumah Rusli. Rumahnya di Metro. Bapak masuk
ke rumah kontrakan itu, dan…, hiks! beliau menjerit-jerit, karena tak percaya
dengan apa yang dilihatnya. Beliau memukuli punggungku dengan kayu, Bapak
berteriak, ‘Anak tak tahu diri!’ saat itu, aku hanya bisa berlari tak tahu
kemana. Sebelum pergi, kulihat Bapak memegang kepalanya dan terduduk sambil
meringis, aku semakin takut dan berlari. Bapak…!, ampuni Fajar,” Fajar
berteriak sambil mengacak-acak rambutnya.
“Apa
yang kau lakukan Jar, apa yang kau lakukan hingga Bapak sakit! Katakan!” Aku
memegang kedua pundaknya dan menggoncang-goncangkannya.
“Aku
pantas mati!” Fajar menyibakku keras tiba-tiba, hingga aku terpelanting di kursi kayu. Dia berlari
sambil berteriak di malam hening, yang tiba-tiba mencekam. Teriakannya meratap
pilu, “Bapak… aku akan menyusulmu!”
Yasmin
membantuku berdiri, hendak kukejar Fajar, tapi ingin kudengar keterangan dari
Yasmin dan Ibu, “Sebenarnya apa yang terjadi di rumah ini Bu?” Ibu hanya
menggelengkan kepalanya sambil terisak, “Ibu tidak tahu persis ceritanya Le, Ibu hanya tahu, malam sebelum
Bapakmu meninggal, dia pulang dengan keadaan marah dan sering memegang kepalanya.
Tapi, pertanyaan Ibu dijawab Bapak, “Bapak kepingin ketemu Ihsan Bu, Ibu
kepingin berpesan padanya. Semoga dia besok datang,” setelah itu Bapakmu
mengambil air wudhu, dan shalat dua rekaat lalu tidur. Dan paginya saat akan
pergi shalat Subuh di Mushola, beliau tersenyum pada Ibu, “Insyaallah Bapak sudah bertemu Ihsan. Dia nanti pasti menjaga Ibu,
dan kedua adiknya,” baru Ibu tahu, bahwa itulah pesan terakhir Bapakmu,”
airmata Ibu kembali membasah.
Yasmin
yang berada di belakangku maju dan memeluk Ibu dari belakang, menenangkan. Dia
yang sedari tadi diam ikut angkat bicara, “Kak Fajar…, Kak Fajar adalah pemakai
dan penjual narkoba,” mata Yasmin berkaca, mata jernih itu menatapku, “Maafkan
Yasmin, sebenarnya Yasmin tahu sejak lama, tapi Yasmin menyembunyikannya dari
Ibu dan Bapak, karena tak ingin ada kesedihan disini. Yasmin akan berusaha
pelan-pelan menyadarkan Kak Fajar. Aku teringat Ibu yang tiap hari berjualan
kue, Bapak yang selalu kelelahan di sawah. Aku tak berani menambah beban. Kak
Ihsan berjuang di Depok untuk kuliah, Kak Fajar dan sekolah Yasmin, maka Yasmin
bertekad berjuang seperti Kakak mengembalikan kak Fajar seperti dulu.”
“Hingga
malam itu. Kak Fajar ingin berubah, dia berjanji tak akan mengecewakan kerja
keras kak Ihsan di Depok yang bekerja sambil kuliah. Tapi, para bosnya yang
dulu tidak terima dan memberi syarat, jika ingin bebas dari mereka dia harus
mengganti uang sepuluh juta, jika tidak mereka mengancam akan menggangu
keluarga kita. Kak Fajar menceritakannya, sambil memintaku memberikan nasehat.
Maka kami memutuskan untuk menyimpan uang kiriman Kakak, selama enam bulan dan
ditambah satu juta dari tabunganku. Maka malam itu Kakak berangkat ke Metro
untuk membayar uang itu. Setelah itu, Yasmin tidak tahu apa yang terjadi dan
kenapa Bapak memergoki Kakak di tempat Rusli dan teman-temannya.”
“Fajar
harus segera dicari,” saat langkahku hendak bergerak ke pintu. Suara ketukan
pintu yang keras mengagetkanku. Langsung kubuka, semoga Fajar.
“Ada apa
Lek?” ternyata Lek Dadal, dia masih
saudara jauh Ibu.
“Fajar!”
nadanya agak gamang.
“Ada apa
dengan Fajar Lek?”
“Fajar
kecelakaan, dia berlari saat sebuah truk yang mengangkut singkong lewat.
Sekarang dia dilarikan di RS Islam Metro,” segera aku meluncur dengan motor
butut Bapak bersama Ibu, nanti Yasmin kujemput setelah mengetahui keadaan
Fajar. Tengah malam yang senyap itu kembali merenda segala kenangan. Jalinan
ujian dan cobaan, kian semakin kuat merajut bagian kehidupanku.
Not Comments Yet "Part 27, Kabar Terburuk"
Posting Komentar