Jumat, 18 Oktober 2019

Part 27, Kabar Terburuk

Mimpi yang aneh. Segera kukirim surat kilat ke Kampung, kutulis seusai kajian ba’da subuh. Saat akan berangkat kuliah, kusempatkan ke kantor post. Segera ke Kampus karena takut telat. Kutulis dalam surat itu keadaanku disini, dua lamaran dan aku minta balasan surat secepatnya. Entah, bagaimana reaksi mereka ketika membacanya. Menikah segera bagiku, adalah jalan terbaik untuk menghindari fitnah-fitnah yang teramat besar. Manusia bisa menjadi ’alim di tengah goa itu mudah, tapi menjadi orang yang wara’ di tengah metropolitan itu yang sulit, karena setiap saat, seluruh potensi maksiat melambainya. Hanya jiwa-jiwa yang dekat dengan Allah, yang akan menang dan beruntung.
Saat mendekati pintu kelasku, wanita itu keluar kearahku. Wanda Hamidah. Pandangannya tertunduk, tak menoleh sedikitpun saat melewatiku. Sangat berbeda ketika kami pertama kali bertemu, bahkan sms bercandanya pun telah lama hilang. Itukah kekuatan cinta? Yang dapat menjadikan seorang pecundang menjadi pemberani, yang dapat membuat orang bertahan, walau dalam tengah kobaran api, yang menjadikan orang bodoh menjadi pintar. Semua hal bisa berubah karena cinta. Dia mengharapkan aku menjadi suaminya? Allah..., jangan buat hamba menjadi sombong. Hamba hanyalah seorang miskin.
Aku masuk kelas. Aisyah sudah kembali kuliah, Alhamdulillah. Sorot matanya selalu sering sembab. Kejadian itu pasti membawa dampak psikologi baginya, para penjahat itu telah dihukum sesuai ganjarannya. Lebih berhak kusebut mereka lebih hina dari binatang, bagaimana mungkin seorang ayah tiri tega menjualnya anaknya? Atau manusia yang membeli manusia lain, hanya untuk kepuasan? Benar-benar biadab.
Mata kuliah pertama selesai. Hanif mendahuluiku, katanya mau ke perpustakaan. Saat kakiku hendak keluar, Aisyah mengucapkan salam padaku.
Jazakallah khoiron jaza’[1] akh. Jika saat itu engkau tak ada, aku...”
”Sudahlah Ais, tidak usah dibahas lagi. Itu sudah kewajiban sesama muslim untuk saling menolong. Allah telah mengatur segalanya dengan baik, aku hanya perantara dari Allah, karena saat itu aku dibimbingnya untuk segera datang ke rumahmu.”
”Hatimu begitu tulus. Fadli sangat mencintaimu, semua orang menyukaimu. Jika saja kau halal untukku, aku akan mencium telapak kakimu dan menjadikan diriku selimutmu setiap saat. Tapi..., itu tidak mungkin. Engkau berhati jernih, sejernih susu murni. Engkau hanya pantas untuk orang yang berhati salju. Pantas, Wanda sangat mencintaimu,” ada isakan lirih dari suaranya.
”Wanda?” aku kaget sejenak, ”Wanda mencintaiku? Darimana kau tahu Ais?”
Aisyah gemetaran menyerahkan sepucuk surat, ”Tadi dia menitipkan surat ini. Dia pantas untukmu Ali...,” Aisyah berlalu setengah berlari, jilbabnya berkibar bagaikan kapas yang tertiup angin kencang. Hadirku telah banyak membuat hati-hati yang murni terluka. Allah..., janganlah Engkau jadikan diriku menjadi fitnah. Jadikan diriku rahmat bagi setiap orang, telah banyak orang yang terluka karenaku. Aku terduduk lemas di kursi. Kubuka pelan penutup amplop surat, yang tertulis namaku di depannya.
Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh
Aku terpaksa menulis surat ini, karena aku tak tahu lagi apa yang harus kulakukan. Meneleponmu aku tak kuasa, berkirim sms-pun tanganku bergetar. Jiwaku benar-benar dalam ambang kehancuran, kecuali jika engkau menolongku dari kebinasaan.
Ali..., mohon dengan sangat..., mohon dengan sangat..., mohon dengan sangat..., terimalah diriku menjadi pendampingmu. Jika kau tak memenuhinya, aku akan dinikahkan oleh ayahku. Kau tahu, hatiku sepenuhnya adalah milikmu, selamanya. Mohon dengan sangat..., selamatkanlah aku dari kehancuran.
Dalam sajadahku, hanya terdapat namamu yang kusebut, kala kubersujud padaNya.
Wanda Hamidah
Tak kuasa lagi airmataku bergenang. Apa salahku Allah? Jika Kau mau kau dapat mencabut nyawaku sekarang juga. Tapi..., cobaan apa ini? Aku tak kuasa melihat airmata wanita yang sengsara karena hatinya terluka. Tetes airmataku menetes, membentuk titik-titik di antara tulisan tangan Wanda. Menangis tak akan menyelesaikan masalah, segera kutulis surat balasan.

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh
Untuk Wanda  yang dicintai Allah
Segala puji, cinta, harapan kita hanya layak untukNya. Yang telah menuliskan garis kehidupan setiap manusia. Shalawat untuk Rasulullah saw yang telah memberi rambu-rambu kepada kita, untuk menetapi jalan lurus yaitu Islam.
Cinta hanyalah sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Berharaplah kepada Allah semata, jika kita tidak dijodohkan bersama, sesungguhnya itu mungkin yang terbaik dalam pandanganNya, yang Maha Mengetahui sedang kita hambaNya yang tidak mengetahui. Ketahuilah rasa cinta bukanlah segalanya? Dunia ini membutuhkan kita, untuk dapat merubah kemunkaran menjadi kebaikan. Kita diciptakan untuk membawa manfaat sebanyak-banyaknya untuk manusia. Semoga Allah, memberi kita petunjuk untuk menentukan setiap langkah dalam hidup kita. Semoga Allah memberikan yang terbaik dalam setiap pilihan kita. Amiin.
Laa tahzan, innallaaha ma’ana
Akhukum fillah
Ali
Aku akan menitipkan esok sore pada Fadli agar Aisyah menyerahkan pada Wanda. Mereka sering bersama. Mata kuliah kedua dimulai. Benar dugaanku, Aisyah tidak masuk kelas. Aku seolah menjadi bencana dan fitnah. Allah, ampuni hambaMu yang dhaif. Selepas Dzuhur, aku bekerja kembali di Pasar. Hatiku gelisah, ini benar-benar ujian berat dalam hidupku. Lebih berat daripada aku kekurangan uang atau ketika beberapa hari aku tidak makan. Hati itu jika sakit, lebih menyiksa walau sakitnya tak terlihat hanya hati yang merasainya.
Ba’da ashar, saat aku akan meneruskan bekerja. Hp-ku menjerit, nomor Pesantren. Aku mengucapkan salam, Syahid membalas salam dari seberang.
”Ada apa Akh?”
”Segeralah pulang. Sekarang juga.”
”Tapi...” tut...tut...tutt.. sambungan terputus. Ada apa lagi ini? Terpaksa aku pamitan dengan teman-teman di Pasar. Kusempatkan mampir di rumah Fadli dan meminta suratnya diberikan kepada Aisyah untuk diberikan pada Wanda. Sekaligus jika nanti tidak bisa datang, agar Fadli belajar sendiri.
Aku bergegas masuk Pesantren. Samsul menjawab salamku dan diam, dia menepuk pundakku pelan dan mengajakku ke ruangan tamu. Disana beberapa santri berkumpul, mereka semua menatapku aneh. Kadang ada yang lebih sering menunduk, seolah menunggu sesuatu.
”Ada apa ini? Jangan membuatku semakin bingung.”
Syahid berdiri dari duduknya dan mendekatiku, ”Kau sudah lama tidak pulang ke rumah, beberapa bajumu telah kumasukkan dalam ransel. Hari ini pulanglah karena Ustadz Umair mengizinkanmu pulang untuk beberapa hari. Obatilah rindumu bersama keluargamu, bukankah engkau selalu berbicara padaku alangkah rindunya engkau akan kampung. Kini kesempatan itu datang, pulanglah.”
”Pulang?”
Syahid menganggukkan kepalanya, ”Ayo aku antar ke Terminal,” senyumnya terasa aneh. Tidak seperti senyum sehari-harinya.
”Tapi aku belum pamitan dengan para Ustadz?”
”Kami sudah memamitkannya, ayo sekarang langsung berangkat. Kami juga telah beli tiketnya,” mereka menggiringku seumpama membujukku untuk tidak banyak berpikir. Akhirnya aku mengikuti mereka sampai ke Terminal. Saat aku mengucapkan salam, Syahid memberiku sebuah amplop, ”Maafkan kami tak bisa menyertaimu..., salam kami untuk keluarga,” aku menganggukkan kepalaku. Keherananku masih belum terobati. Bus melaju cepat, derunya halus. Kulihat mereka mengusap airmata saat aku bus menderu dan menjauh. Kusobek amplop itu. Uang? Beberapa ratus ribu atau mungkin satu juta. Tanganku segera mengambil sebuah kertas putih.
Assalamu’alakum sahabat kami
Maafkan kami yang tak bisa berterus-terang. Kami tidak sanggup melihatmu meneteskan airmata, cukuplah kami melihat keherananmu saja. Kami tak akan sanggup. Begitu banyak kau bercerita, bahkan terlalu sering bibirmu menyebut namanya. Kau ceritakan tentang ketegaran dan pengorbanannya.
Maafkan kami, surat inilah yang akan menjelaskan, walau saat kami tulis airmata kami bercucuran. Ali..., Bapakmu telah kembali pada Dzat yang menciptakannya, yang selalu kita harapkan perjumpaan denganNya, dengan perjumpaan yang terindah.
Maafkan kami, Akhukum fillah
Santri Darussalam
Bapak..., ”innaa lillaahi wa innaa ilaihi raa ji’un,[2] tak kuasa kubendung segala rasa tapi tetap airmataku menetes. Bukan, bukan karena kecewa padaNya. Tapi bukankah Rasulullah saw juga meneteskan airmata karena kematian Abdullah putranya, dan aku hanyalah manusia yang lemah bahkan sangat lemah. Kertas yang telah terdapat bekas-bekas air, karena airmata sahabat-sahabatku kutimpali dengan gerimis airmataku. Aku teringat ujaran Ustadz Arifin kala mengisi kajian, ’Suatu ketika Abu Sulamah ra. mendapatkan kesyahidan pada perang Badar, lalu sang istri Ummu Salamah ra. melantunkan sebuah doa,  ”innaa lillaahi wa innaa ilaihi raa ji’un. Ya Allah, berikanlah pahala kepadaku dari musibah ini, dan berikanlah ganti yang lebih baik darinya.”
Maka Ummu Salamah ra. duduk dan merenung, dia berkata, ”Siapa lagi orang yang lebih baik dari Abu Salamah? Dia adalah seorang yang mulia, ikut serta dalam perang Badar dan memperoleh mati syahid.” padahal bukankah Rasulullah saw bersabda, ”Bisa jadi Allah melihat hati para ahli badar, maka Allah ’Azza wa Jalla berfirman, ’Lakukanlah apa yang kamu kehendaki... sesungguhnya aku telah mengampuni kamu.’[3] Akhirnya Allah menikahkan Ummu Salamah ra dengan RasulNya, karena bukankah Rasulullah saw jelas lebih baik dari Abu Salamah ra.
Aku melipat surat itu, memasukkan dalam tas. Kutatap kaca yang pemandangannya memburai karena kecepatan bus. Ya Allah, aku hanya berharap Engkau menetapi hatiku dalam kesabaran dan ketabahan, serta keikhlasan akan semua yang terjadi dalam hidupku. Karena itulah hartaku yang kupunya. Sepanjang jalan hanya kenangan bersama Bapak yang memenuhi pikiranku. Sebelum pergi ke UI masih jelas ingatanku pesan beliau, ”Walau engkau nanti jauh disana, hati kita mempunyai ikatan yang membuat kita bermesraan tanpa ada jarak. Jika Bapak kembali lebih dulu maka jagalah Ibumu, jagalah adik-adikmu,” Bapak? Tak kuasa apabila sempat kupandangi wajahnya yang tersenyum kaku. Kau ajari aku melawan buasnya kehidupan, kau ajari aku cinta, kau ajari aku silat yang kini kusadar engkau hanya asal mengajariku. Tapi aku sangat senang.
Bapak? Tangis hatiku semakin dalam. Belum ada yang kupersembahkan, hanya doaku..., begitu tak berbaktinya anakmu ini. Jika merenung sejenak, apakah engkau yang menyelesaikan ukiran cincin bulan, di malam ketika Mawar akan pergi meninggalkanku? Dialah malaikat itu? Kau tahu Pak, Mawar hanyalah serpihan masa lalu yang harus dilupakan. Untuk selamanya… dan kenapa. Kenapa Bapak hadir dalam mimpiku, kenapa Bapak datang hanya untuk menyerahkan seorang wanita yang memakai cincin bulan. Bukankah dia yang membuat kita terpisah? Aku mengejarnya dan meninggalkanmu. Bapak… maafkan Ihsan. Kuingat itulah nama yang engkau sematkan sebagai kebanggaanmu. Aku adalah Ihsan yang tegar, akan kujaga Ibu dan adik-adikku.
*     *     *
21 Desember 2007, di pekuburan basah. 09.00
Aku duduk di depannya. Gerimis air yang mengguyur Gedung Dalam Baru, tak menggoyahkan sedikitpun jasadku untuk pergi. Rintik air hujan mengiringi lantunan doa dalam hatiku yang bergema. Airmataku memburai, bahkan aku tak sempat melihat wajahnya yang terakhir kali. Aku baru tiba pukul 08.30. Jenazah Bapak telah dikubur kemarin siang, karena Bapak meninggal kemarin pagi ketika shalat subuh berjamaah di Masjid. Segala urusan adalah dariNya, dan akan dikembalikan padaNya dengan seadil-adilnya.
Kurelakan kepergiannya, walau belum banyak yang kupersembahkan untukmu Pak, hanya doa yang bisa kukirimkan. Aku akan berusaha menjadi anak yang soleh, dan berharap pada Allah untuk mempertemukan kita di tempatNya yang terindah. Inginku melihat bahagiamu saat melihatku di wisuda, tapi Allah yang berkehendak. Walau kutata hatiku untuk ridha, airmataku tetap menetes bercampur air hujan yang jatuh dari langit. Gluduk terdengar berulang-ulang, membahana. Kakiku enggan sedikitpun meninggalkan Bapak, aku tak tega meninggalkan dia, sendirian dalam dekapan tanah yang menghimpit.
Air hujan seolah jatuh di sekitarku, tapi tak mengenaiku. Ada orang yang memayungiku, aku melihatnya. Ibu dengan balutan jilbab biru muda, menatapku tersenyum. Aku membalas senyumnya, ada kerinduan sekaligus kesedihan yang kupancarkan. Mungkin Ibuku tahu, tapi aku juga tahu wajahnya yang telah memperlihatkan keriput, juga memendam kesedihan yang terbalut dalam ketulusan. Bagaimanapun juga, beliaulah yang selalu membersamai Bapak. Bapak adalah seorang pahlawan yang tak kenal lelah, menghadang matahari untuk mencari sesuap nasi, beliaulah Imam yang mengajari ibu dan anak-anaknya belajar mengaji. Ibulah yang paling kehilangan, lihatlah senyumnya bagaikan bidadari yang menjelma sebagai manusia.
Aku juga harus tabah, kini aku harus mengambil peran Bapak sepenuhnya. Yasmin di belakangnya, berpayung sendirian. Wajahnya begitu cantik, walau gurat kelelahan sedikit menyelimutinya, kuyakin dia bekerja keras membantu Ibu. Matanya masih menyisakan mendung duka, senyumnya tulus menyapaku. Betapa kerinduan ini tak berada di tempat yang tepat. Alangkah kesyukuran itu begitu menakjubkan, aku memiliki mutiara-mutiara. Sang Pemilik mutiara bisa mengambilnya kapan saja, tapi mutiara-mutiara itu akan terus hidup di hatiku, walau terpisah jarak yang jauh atau tempat yang berbeda. Karena itulah sesungguhnya ujian akan ketegaran, dan keteguhan iman dibuktikan, saat musibah dan kehilangan.
“Ibu pulang saja dulu, Ihsan masih ingin disini. Ihsan ingin menemani Bapak sejenak. Sebentar lagi Insyaallah Ihsan pulang.”
Ibu tidak menyahut, beliau duduk di sebelahku. Menatap nisan kayu yang basah kuyup kehujanan, “Ibu kesini bukan untuk menjemputmu San, Ibu kesini akan menemani kamu dan Bapak. Bukankah lama kita tidak berkumpul bersama,” matanya berkaca-kaca.
Aku menyandarkan kepalaku yang basah, tertimpa rintik hujan ke pundak Ibu. Ibu membelai rambutku. Semua kenangan berkelebat dalam bayangan suara hujan, yang menghantam payung. Saat itu, ketika malam Bapak membacakan surat An-Naas untuk kuhafal agar mendapatkan hadiah dari Mbak Ningsih, hadiah dua buah jilbab untuk Ibu. Saat yang membuat keluargaku menangis, untuk sebuah kalimat yang belum pernah mereka dengarkan dari orang lain, kecuali dari mulut mungilku. Kalimat cinta yang diajarkan mbak Fatimah, seandainya waktu dapat dilipat sedikit, aku akan mengucapkannya dengan ketulusan sebelum kepergian Bapak. Tidak ada yang terlambat.
Bibirku bergetar, “Bu, Ihsan mencintai Ibu karena Allah, Ihsan mencintai Bapak karena Allah, sungguh. Allah sebagai saksinya, maafkan semua khilaf Ihsan,” aku menggapai tangan Ibu, kucium dengan lembut.
Hujan yang membersamai derai airmata yang tumpah, mulai reda. Mendung mulai memisah-misahkan dirinya, tertiup angin pelan dan mulai memburai, menampakkan selaput biru langit yang basih buram. Gedung Dalam Baru berduka, untuk kepergian salah satu penghuninya.
Malam hening, di ruang tamu rumahku. Rumahku tak beda jauh dengan keadaan saat kutinggal pergi, hanya bertambah cantik dengan hiasan-hiasan di setiap sudut ruangan. Terdapat beraneka bunga-bunga nan menyejukkan di pekarangan depan, kala malam saat semburat bulan menyilau di langit, ketenangan Gedung Dalam Baru kembali menyentuh hatiku. Desa kelahiranku. Masih murni seperti dulu, hanya saja keriangan bocah-bocah bermain gobak sodor tidak lagi kelihatan, bocah-bocah pencari gangsir kala dengingannya yang keras juga tak menyuara. Apalagi permainan petak umpet yang tak lagi terdengar, jeritan-jeritannya kala si penyusup ketahuan penjaga. Dari cerita sekilas Yasmin tadi sore, banyak yang berubah dari desa. Sekarang banyak yang jadi TKI di Malaysia, Arab, Taiwan maupun Korea. Disana lebih makmur, dan kadang malah tidak mau pulang lagi atau meninggalkan suami atau isterinya di kampung ini.
Para remaja Gedung Dalam Baru, banyak yang setelah SMA langsung bekerja di luar Negeri atau melancong ke Jawa, dan bekerja apa saja karena disana katanya mencari pekerjaan lebih mudah. Setelah dirunut-runut dari mereka, ada yang bekerja sebagai tukang parkir, pedagang kaki lima, buruh yang lebih buruk, ada yang bekerja jadi tukang rongsokan[4], bahkan yang parah menjadi preman atau penjual narkoba, Naudzubillah. Begitulah akhir orang-orang yang ingin dunia berada di hatinya, membiarkannya mekar dan mempengaruhi pikirannya. Bukankah dunia ini hanyalah tempat menimba bekal, untuk bertemu dengan Allah?
Kami semua berkumpul di ruang tamu yang sempit, lantai tanah kami terlihat sedikit becek karena genting telah terlihat bolong-bolong. Setiap ada tamu, sandal harus selalu dipakai, jika masuk rumahku karena takut kakinya kotor. Kulihat Fajar terdiam menunduk, sejak kepulanganku dia terlihat sedih. Wajahnya bertambah tampan, wajahnya memang lebih putih dariku. Ingatanku melayang saat kecilnya dulu, sering kugendong dan kutidurkan. Aku ragu hendak memulai, karena aku merasa bersalah baru datang sesudah Bapak dikuburkan. Ibu juga terdiam sambil sesekali menyeruput teh buatan Yasmin. Yasmin sesekali memandangku, seolah ada yang ingin diceritakan tapi dia menahannya. Entahlah, siapa yang harus memulai…
“Maafkan Fajar…, maafkan Fajar…ini semua kesalahan Fajar,” Fajar sesenggukan sambil menutup wajah, dengan kedua tangannya. Aku kebingungan. Sebelum aku meminta kejelasan, Fajar meneruskan kata-katanya.
“Malam itu…, hiks,” Fajar masih sesenggukan. Kulihat Ibu dan Yasmin juga menunggu kata-kata Fajar, “Malam itu, Bapak memasuki rumah Rusli. Rumahnya di Metro. Bapak masuk ke rumah kontrakan itu, dan…, hiks! beliau menjerit-jerit, karena tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Beliau memukuli punggungku dengan kayu, Bapak berteriak, ‘Anak tak tahu diri!’ saat itu, aku hanya bisa berlari tak tahu kemana. Sebelum pergi, kulihat Bapak memegang kepalanya dan terduduk sambil meringis, aku semakin takut dan berlari. Bapak…!, ampuni Fajar,” Fajar berteriak sambil mengacak-acak rambutnya.
“Apa yang kau lakukan Jar, apa yang kau lakukan hingga Bapak sakit! Katakan!” Aku memegang kedua pundaknya dan menggoncang-goncangkannya.
“Aku pantas mati!” Fajar menyibakku keras tiba-tiba, hingga aku  terpelanting di kursi kayu. Dia berlari sambil berteriak di malam hening, yang tiba-tiba mencekam. Teriakannya meratap pilu, “Bapak… aku akan menyusulmu!”
Yasmin membantuku berdiri, hendak kukejar Fajar, tapi ingin kudengar keterangan dari Yasmin dan Ibu, “Sebenarnya apa yang terjadi di rumah ini Bu?” Ibu hanya menggelengkan kepalanya sambil terisak, “Ibu tidak tahu persis ceritanya Le, Ibu hanya tahu, malam sebelum Bapakmu meninggal, dia pulang dengan keadaan marah dan sering memegang kepalanya. Tapi, pertanyaan Ibu dijawab Bapak, “Bapak kepingin ketemu Ihsan Bu, Ibu kepingin berpesan padanya. Semoga dia besok datang,” setelah itu Bapakmu mengambil air wudhu, dan shalat dua rekaat lalu tidur. Dan paginya saat akan pergi shalat Subuh di Mushola, beliau tersenyum pada Ibu, “Insyaallah Bapak sudah bertemu Ihsan. Dia nanti pasti menjaga Ibu, dan kedua adiknya,” baru Ibu tahu, bahwa itulah pesan terakhir Bapakmu,” airmata Ibu kembali membasah.
Yasmin yang berada di belakangku maju dan memeluk Ibu dari belakang, menenangkan. Dia yang sedari tadi diam ikut angkat bicara, “Kak Fajar…, Kak Fajar adalah pemakai dan penjual narkoba,” mata Yasmin berkaca, mata jernih itu menatapku, “Maafkan Yasmin, sebenarnya Yasmin tahu sejak lama, tapi Yasmin menyembunyikannya dari Ibu dan Bapak, karena tak ingin ada kesedihan disini. Yasmin akan berusaha pelan-pelan menyadarkan Kak Fajar. Aku teringat Ibu yang tiap hari berjualan kue, Bapak yang selalu kelelahan di sawah. Aku tak berani menambah beban. Kak Ihsan berjuang di Depok untuk kuliah, Kak Fajar dan sekolah Yasmin, maka Yasmin bertekad berjuang seperti Kakak mengembalikan kak Fajar seperti dulu.”
“Hingga malam itu. Kak Fajar ingin berubah, dia berjanji tak akan mengecewakan kerja keras kak Ihsan di Depok yang bekerja sambil kuliah. Tapi, para bosnya yang dulu tidak terima dan memberi syarat, jika ingin bebas dari mereka dia harus mengganti uang sepuluh juta, jika tidak mereka mengancam akan menggangu keluarga kita. Kak Fajar menceritakannya, sambil memintaku memberikan nasehat. Maka kami memutuskan untuk menyimpan uang kiriman Kakak, selama enam bulan dan ditambah satu juta dari tabunganku. Maka malam itu Kakak berangkat ke Metro untuk membayar uang itu. Setelah itu, Yasmin tidak tahu apa yang terjadi dan kenapa Bapak memergoki Kakak di tempat Rusli dan teman-temannya.”
“Fajar harus segera dicari,” saat langkahku hendak bergerak ke pintu. Suara ketukan pintu yang keras mengagetkanku. Langsung kubuka, semoga Fajar.
“Ada apa Lek?” ternyata Lek Dadal, dia masih saudara jauh Ibu.
“Fajar!” nadanya agak gamang.
“Ada apa dengan Fajar Lek?”
“Fajar kecelakaan, dia berlari saat sebuah truk yang mengangkut singkong lewat. Sekarang dia dilarikan di RS Islam Metro,” segera aku meluncur dengan motor butut Bapak bersama Ibu, nanti Yasmin kujemput setelah mengetahui keadaan Fajar. Tengah malam yang senyap itu kembali merenda segala kenangan. Jalinan ujian dan cobaan, kian semakin kuat merajut bagian kehidupanku.


[1] Semoga Allah membalasmu dengan yang lebih baik
[2] Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan akan dikembalikan kepadaNya.
[3] HR Abu Dawud dan Baihaqi
[4] Pemulung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar