Jumat, 18 Oktober 2019

Part 28, Nyanyian Cinta Ilalang

Rumah Sakit Islam Metro masih lengang kala malam, hanya sesekali obrolan para penunggu pasien, bercanda ria atau berbincang tentang apa saja. Dalam mengobati musibah yang menimpa, mereka mencoba menghibur diri agar lebih nyaman, dan menyemangati pasien dengan gurauan agar mereka tidak suntuk. Seorang yang sakit, jika berpikir senang akan lebih cepat sembuh, ketimbang orang yang sakit tapi tak ada yang menghibur dan mencandainya.
Sedari sampai tadi, Ibu setia menunggui Fajar di dekatnya, tangannya yang dulu begitu jeli menggoreng tahu bunting kesukaanku, kini bergetar ketika mengelus rambut Fajar yang dibalut perban. Kulitnya telah menampakkan keriput liukan, begitu fananya jasad manusia. Yasmin akan kujemput besok pagi, karena ini sudah mendekati pagi. Pukul 03.00.
Aku meninggalkan Ibu, yang dalam tidurnya pun tangannya masih bergerak mengelus rambut Fajar, alangkah besar rasa cinta seorang Ibu. Apapun yang terjadi pada anak-anaknya. Matanya yang terpejam pun, mengalirkan airmata bening, bagaikan burung phoenix yang dalam dongeng dikatakan sebagai burung kasih sayang, sehingga airmatanya dapat menyembuhkan luka dalam sekejap, tetapi bukan sembarang orang yang diberikannya airmata, melainkan orang-orang yang bersih hatinya atau orang yang memeliharanya dengan penuh kasih sayang. Aku berjalan melewati koridor-koridor, tujuanku adalah mushola di sudut timur, bersebelahan dengan ruangan saraf. Sambil melangkah aku teringat sebuah sajak yang kubuat kala kurindu pada pelukan ibu
Ibu
Cintamu bagaikan ilalang yang bergoyang
Walau angin menerpamu kian kemari
Tak goyah akarmu
Tak goyah keyakinanmu
Untuk mencintaiku sampai akarmu tercerabut
Sampai nyawamu menemui Penciptamu
Ibu…
Dengarlah nyanyian cinta ilalang
Yang bergoyang seirama dengan doa-doamu
Untuk menutupkan malam
Bisikmu teduh pada Tuhan, ‘Kasihku untuk anakku, dan tak usah Kau balas’
Karena kau mencintai tanpa alasan, tanpa pamrih, tanpa batas
Kuambil air wudhu. Dingin tapi meneduhkan seluruh dahaga, yang terasa menimpaku bertubi-tubi, seolah sirna tanpa bekas. Ya Allah, Engkau yang menghendaki segala sesuatu terjadi. Tak ada yang luput dari genggamanMu. Kucoba hatiku menyatu denganMu dalam keimanan, sehingga aku selalu yakin bahwa segalanya dariMu, dan akan kembali kepadaMu. Keserahkan segenap urusan padaMu, keserahkan segala pilihanku dariMu. Biarlah hamba menyatu dalam cahayaMu, kala setiap langkah, maka sebenarnya Engkaulah yang melangkah. Kala mataku memandang, maka jadikanlah Engkau yang memandang, kala ku mendengar jadikanlah bahwa Kaulah yang mendengar. Aku bertasbih, mencium sajadah, terlelap dalam buaian cinta Allah. Kini, aku semakin mengerti artinya Engkau menciptakan kami, sebagai manusia yang sebenarnya sangat lemah. KepadaMulah tempat kembali kami.
Ibu menyusulku shalat di belakangku. Kini, semua jelas. Aku harus menjadi imam bagi keluargaku, setelah Bapak meninggalkan kami lebih dulu. Aku membaca surat Ar-Rahman di rekaat pertama, kala ayat penekanan itu kulantunkan suaraku tercekat, Fabiay Yi Aa Laa Irobbikumaa Tukadz Dzibaan[1] airmataku berderai, kudengar isak lirih suara ibu. Beliau menangis. Allah, cintailah kami. Allah, ridhailah kami. Selesai shalat Ibu memberikan sebuah kertas, katanya wasiat dari Bapak setelah mengatakan, “Insyaallah Bapak sudah bertemu Ihsan. Dia nanti pasti menjaga Ibu, dan kedua adiknya,” sebuah surat wasiat. Aku membukanya, di pojok kiri atas tertulis, “Untuk Ali Putraku, harapanku.” Sebelum membacanya, Ibu tiba-tiba bicara pelan.
Le, bacaan Quranmu kini bagus. Ibu gak nyangka begitu lembut dan mendalam, ngluwehi[2] Bapakmu. Berarti kamu disana, selain kuliah sambil kerja kamu juga belajar membaca Al-Quran ya?” Ibu bertanya penasaran.
“Iya Bu, Ihsan tidak ingin hanya bisa dalam pelajaran umum dan kerja. Tapi, akhirat adalah yang utama. Bukankah jika kita mengejar akhirat, maka dunia akan mengikutinya? Itu yang Ibu dulu sering pesankan, sewaktu Ihsan dagang gorengan.”
Ibu tersenyum dan pamitan untuk menjaga Fajar kembali. Aku membuka surat itu dan membacanya dengan mengucap Bismillah.
Untuk Ali. Putraku, harapanku
Bapak amat rindu padamu San. Sampai-sampai Bapak dikatakan cengeng sama Ibumu. Sudah tua masih sering kangen-kangenan sama anak, dan katanya lagi seharusnya yang rindu itu pasti Ihsan, dia tak punya siapa-siapa di sana, sedangkan kita punya Yasmin dan Fajar. Semoga surat ini dapat mengobati rindu Bapak dan rindumu yo, Le.
Biasanya kalau kamu nulis surat, yang balas surat beramai-ramai. Setiap orang berebut untuk dituliskan sama si Yasmin adikmu itu. Eh iya, dia kini jadi wanita yang lembut seperti Mbak Fatimah. Dia sering mengaji sampai di kota, di tempat Ustadz Azzam yang lulusan Universitas Sudan bareng Bapak. Biasanya Bapak gak pernah nulis surat, tapi rasa rindu Bapak padamu membuat bapak memaksakan diri menulis surat ini, walau tulisan Bapak sepert cacing kepanasan, wong SD saja tidak lulus.
Airmataku kembali tergenang dalam teduhnya malam. Suasana Rumah Sakit Islam tenang. Beberapa orang shalat malam, di antaranya Dokter berkacamata juga shalat malam disana. Aku keluar di pojok Mushola, di pinggir taman-taman penuh bunga, lampu bulat di atas tiang yang menyangganya menerangkan tulisan Bapak. Aku meneruskan membacanya.
Kamu ingat Le, waktu kamu kecil. Alangkah rindunya Bapak padamu San. Kau tahu, jika ingat Bapak ingin minta maaf padamu. Sebenarnya sewaktu malam kamu pulang malam-malam itu, saat itu Bapak  sedang shalat malam. Bapak mendengar suara gemerisik kayu disisik, selesai shalat Bapak melihatmu tertidur dan pisau masih di tangan kananmu. Lalu, Bapak membuka tangan kirimu, disana Bapak menemukan ukiran yang acak-acakan seperti cincin dengan maniknya bulan tapi masih legok-legok[3]. Bapak meneruskannya, lalu Bapak memasukkan lagi cincin itu ke tanganmu hingga subuh datang. Maafkan Bapak ya San, sehingga kamu mengira ada Malaikat yang membantumu membuat cincin itu.
Kamu juga ingat Le sewaktu Bapak mengajarimu silat, sebenarnya Bapak saja tidak lulus tingkat satu. Bapak asal saja mengajarimu, tapi kudengar kau mengalahkan dua preman sekolahmu kan? Berarti bapak telah berhasil mengajarimu bela diri. Yah, di antara ilalang yang bernyanyi di tempat kerja Bapak menjadi buruh, karena setiap hari bapak selalu menjumpai ilalang-ilalang itu. Bapak jadi tahu perjuanganmu disana, laksana ilalang yang bergoyang kesana-kemari, tapi tak pernah pergi dari tempatnya, dia teguh menjalankan tugasnya. Ilalang itu, selalu bernyanyi menemani Bapak bekerja, seperti itulah Bapak rindu engkau bernyanyi bagaikan nyanyian ilalang itu. Cinta itu selalu menyanyi dalam jiwa Bapak, rindu itu menyanyi setiap saat. Kuyakin engkau pun bernyanyi layaknya ilalang-ilalang itu, kau melakukannya untuk kami. Nyayian itu selalu kudengar dalam setiap gerak Bapak.
Le…, Bapak curiga dengan si Fajar. Akhir-akhir ini dia sering tertutup sama Bapak. Uang yang kau kirimkan tidak diambil sama sekali, katanya untuk di tabung saja, karena uang untuk sekolah masih cukup. Bapak curiga, dan akhirnya Bapak menyelidiki adikmu pergi ke tempat pesta narkoba. Bapak marah dan pukuli dia. Tapi setelah pulang, Bapak sadar bahwa Bapak harus menyadarkan dia. Jika aku tak bertemu dengannya lagi, salam maafku untuknya ya San.
Satu hal lagi San. Bapak minta kamu sementara jangan menikah dulu, tolong jagalah adik-adikmu dan ibumu. Bapak menyembunyikan penyakit Bapak pada ibumu dan adik-adikmu. Bapak sakit Nak, tidak boleh bekerja keras oleh Bidan, tapi jika tak bekerja Bapak tidak bisa menyekolahkan si Yasmin. Bapak rasa tubuh Bapak sudah ringkih. Terasa sakit terus, tapi Bapak sembunyikan dari ibu dan adik-adikmu, seperti kamu menyembunyikan kesedihan dan perasaanmu di Depok. Aku tahu kamu Le…, karena kita satu aliran darah. Tolong jaga adikmu sampai benar-benar dapat dilepas. Salam dari Bapak yang mencintaimu karena Allah
Ali Rahman yang selalu merindukanmu.
Airmataku tak kuat lagi kubendung. Menetes menyatu jatuh dengan embun pagi, yang menandakan waktu terus berjalan. Tidak boleh berdiam diri menuggu hari, harus dijemput. Begitu pesan Bapak dulu yang selalu terngiang di telingaku.
Siang itu, kala aku shalat Dhuha di Mushola memohon agar Fajar sembuh. Setelah Bapak, cukuplah dulu jangan dua-duanya Kau ambil ya Allah. Saat itu, Yasmin masuk dengan wajah cerah, “Kak Fajar sadar, tangannya tadi bergerak,” aku langsung mencuci wajahku lagi yang terlihat kusut. Kubersihkan lelehan airmataku. Allah langsung mendengarkan doaku.
Fajar membuka matanya perlahan. Matanya menatap kami satu-persatu, “Kak Ihsan,” lirihnya pelan. Airmatanya mengalir kembali, “Maafkan Fajar Kak…, Fajar…”
Aku menyentuhkan telunjuk tanganku ke bibirnya. Kudekatkan diriku di dekatnya lalu kekecup keningnya, “Aku mencintaimu karena Allah, tidak usah merasa diri bersalah. Allah telah mengaturnya, yang penting kita melangkah untuk menjadi lebih baik,” aku mengelus kepalanya, seperti waktu kecilnya dulu kala Fajar hendak tidur.
“Fajar…, Fajar janji Kak. Fajar akan menjadi yang diinginkan Bapak,” matanya masih berkaca. Hari ini, dia telah melewati masa kritisnya. Begitu Dokter berjilbab yang tadi menjelaskan kepada kami, tapi beberapa tulangnya retak dan harus segera dioperasi. Semakin cepat dioperasi semakin baik.
Alhamdulillah. Segala puji hanyalah milikMu ya Allah.
”Dok, kira-kira operasinya menghabiskan dana berapa ya?”
Dokter muda itu membetulkan kacamatanya, ”Biasanya berkisar empat atau lima juta Mas. Silakan ke administrasi jika sudah siap operasi.”
”Terimakasih Dok.”
Setelah pamitan sebentar pada Fajar dan Ibu, aku keluar ruangan dan memencet beberapa nomor telepon. Pesantren. Syahid di ujung sana menjawab salam.
Akh, aku butuh uang sekitar lima juta, untuk operasi adikku. Bisa pinjamkan dulu?”
Innalillah, Insyaallah saya usahakan Akh.”
”Uangnya kirimkan saja melalui rekening Muamalatku ya, nanti aku sms nomor rekeningnya. Mungkin aku juga akan sedikit lama disini, keluargaku sangat membutuhkanku kini. Tolong izinkan dengan para Ustadz dan di Kampus.”
Insyaallah, semoga Allah menyertaimu.”
Jazakallah khoiron jaza’, mohon doanya dari teman-teman semua,” sambungan terputus. Aku harus menemani Fajar, hingga benar-benar bisa ditinggal. Bapak memercayakan segalanya padaku, Bapak percaya padaku maka aku harus percaya pada diriku.
Hari kelima di Rumah Sakit, keadaan Fajar setelah operasi semakin baik. Tiga titik tulang yang patah sudah dioperasi. Kata Dokter, untuk sampai pada taraf dapat berjalan seperti semula, mungkin membutuhkan waktu setahun atau bahkan lebih. Aku selalu menemani Fajar, sedangkan Yasmin karena sekolahnya tidak bisa ditinggal, maka dia bergantian dengan ibu untuk memasak makanan dan mengantarnya ke Rumah Sakit. Dengan musibah ini, rasa cinta kami semakin terasa kuat. Bapak pasti melihatnya dan tersenyum dari sana. Akupun tersenyum pada Allah yang begitu dekat terasa.
Hari ke-enam, kami sekeluarga berpamitan pada dokter muda yang menangani adikku. Namanya Ani, tepatnya Ani Rufaida. Artinya pun dokter. Sungguh anggun dalam balutan jilbabnya yang panjang. Seolah Ani ingin membuktikan pada dunia, bahwa apa yang dikatakan orang yang tak bertanggungjawab itu tidak benar. Mereka mengatakan bahwa wanita berjilbab itu tidak gesit, dan menyusahkan keefektifan kerja. Sama sekali tidak benar! Wanita berjilbab adalah bidadari di dunia, itu bagi orang yang mencintai Allah dan Islam  yang menjadi tujuan hidupnya.
Hari itu juga, kami pulang dan menyewa mobil kang Joko yang bekerja sebagai supir sateran[4], tapi aku hanya menyewa mobilnya, karena aku sudah bisa menyetir. Aku bersyukur karena semuanya begitu dimudahkan oleh Allah, tepat beberapa jam setelah menelepon Syahid, rekeningku telah terisi uang, bahkan enam juta jumlahnya. Kata Syahid, tidak usah dibayar, karena ada seseorang yang menganggapnya sebagai anak, dan dia mengikhlaskan uangnya untuk pengobatan adikku.
Hari ini kami menghibur Fajar dengan keliling-keliling dari metro, kemudian kearah Kalianda. Kami menikmati pemandangan sambil mentadaburi ayat-ayat kauniyahNya. Fajar tampak begitu senang dan bahagia, duka yang kemarin menyelimutinya seolah hilang dan wajahnya kembali ceria. Dia berjanji tidak akan menyentuh sedikitpun barang-barang haram itu lagi. Dia memang dijebak teman-temannya, maka aku segera mengontak polisi untuk menguak peredaran narkoba di kota metro, apalagi di daerah kampus, yang banyak terdiri dari mahasiswa dan para pelajar pendatang dari berbagai penjuru itu.
Malam itu, nyanyian cinta kembali didengungkan. Ibu sedang asik membuat gorengan di belakang bersama Yasmin, mereka membuat tahu bunting, tempe goreng yang dibumbuhi tepung, dan tempenya diiris tipis-tipis, lalu ada bakwan. Sebelum dihidangkan saja, baunya sudah membuat air liurku dan Fajar meleleh rasanya. Saat Ibu keluar bersama Yasmin membawa hidangannya, tangan Fajar hampir menyomot duluan, keburu ditegur Ibu.
”Sekarang Kakakmulah yang jadi kepala di rumah ini, biarkan dia memimpin doa untuk kita semua.”
Ibu melihatku, seolah ingin mengetes bacaan Quranku, seperti sewaktu di Rumah Sakit tempo hari. Aku membaca Doa dzikir pagi petang yang diajarkan Rasulullah saw, kemudian keteruskan dengan doa yang sering kupelajari di pondok. Setelah itu doa mau makan, dan terakhir meminta keberkahan dalam keluarga. Mereka mengamini dengan khusyuk, sampai-sampai Yasmin melelehkan airmatanya, ”Kakakku kini tidak kalah dengan Ustadz Azzam yang ganteng itu, yang lulusan Sudan University itu,” akhirnya semua tertawa, dan memulai memakan santapan nikmat malam ini, sungguh nikmat, dan kutahu Ibu membuatnya dengan penuh cinta kepada anak-anaknya.
Handphone bututku menjerit. Sebuah nomor baru, aku angkat.
”Assalamu’alaikum Nak,” sebuah suara yang seolah sudah agak tua.
Wa’alaikumsalam warahmatullah, maaf ini dengan siapa?”
”Ini pak Hamdan, Ayahnya Wanda.”
Astaghfirullahal’adzim, Masyaallah!” wajah ibu dan kedua adikku tiba-tiba melotot kearahku. Mereka memelankan suara makan dan obrolannya.
”Maafkan saya Pak, saya benar-benar lupa untuk menjawab tawaran Bapak. Karena saya sedang mendapat musibah.”
”Saya turut berduka cita dan mendoakan untuk Bapakmu, terus sekarang apakah kamu sudah menentukan jawabanmu? Kesepakatanku dengan Wanda tinggal hari ini, jika tidak, akan kunikahkan dia dengan pilihanku. Dan Wanda sepenuhnya percaya dengan keputusanmu, dia akan menerimanya dengan lapang dada. Sekarang juga Bapak membutuhkan jawabanmu,” kurasa dari seberang sana. Ustadz Hamdan menunggu kata-katanya. Orang Sumatera memang paling suka main tembak ke pokok masalah.
Aku lirih membaca basmalah, ”Pak, saya sudah menentukan. Dengan tidak mengurangi rasa hormat saya pada Bapak dan Wanda, demi kebaikan bersama. Mungkin saya harus jujur, saya menunda waktu pernikahan saya. Saya diminta Bapak untuk menunda pernikahanku, dan itu wasiat beliau sebelum beliau wafat. Kini adikku baru saja kecelakaan. Bagiku, Ibuku...,” aku menatap Ibu tenang, Ibu pun melihat kearahku. bakwannya ditaruh kembali pelan di piring, ”Bagiku dialah yang terpenting dalam hidupku setelah musibah ini, dan adik-adikku belum bisa kutinggalkan ketika harus menikah sekarang. Mereka membutuhkan aku dalam keadaan ini. Bagiku, mereka lebih berharga dari apapun di dunia ini. Termasuk diriku sendiri. Maafkan saya Pak,” dadaku berdebar kencang, menunggu jawaban dari seberang.
”Bapak mengerti keadaanmu Nak. Sebenarnya, yang ingin Wanda cepat menikah adalah isteriku, karena dia ingin segera menimang cucu, dan kebetulan temanku melamarkan anaknya, yang yang baru saja menyelesaikan kuliahnya di Malaysia. Aku akan merundingkannya kembali bersama keluarga. Kau tunggu saja musyawarah kami, semoga semuanya lancar, dan tidak akan ada yang dirugikan. Perlu kau tahu, Wanda sangat mencintaimu, aku tahu itu karena aku adalah ayahnya,” Ustadz Hamdan menutup dengan salam, aku menaruh Hpku kembali ke saku celana.
Aku meneruskan makanku tenang, seolah tak terjadi apa-apa. Kubuat senyumku setegar gunung. Suasana menjadi hening, tidak ada yang makan kecuali diriku yang menahan rasa berat dihatiku, walau sebenarnya tak kuasa menahan airmata, namun kutahan sekuat tenaga. Adikku Yasmin angkat bicara, airmatanya jatuh. Wajahnya bersinar
”Kak..., maafkan Yasmin. Maafkan Yasmin Kak..., kau merelakan kebahagiaanmu padaku. Yasmin akan menjadi yang terbaik, agar Kakak tidak menyesal telah melakukan segalanya untuk Yasmin. Yasmin malu pada Allah jika membuat Kakak kecewa, tak kutemukan seorang pun yang lebih mencintaiku ketimbang Kakak,” airmatanya menetes, makan kami yang semula ramai berganti kesenyapan.
”Akulah yang sebenarnya merasa tidak pantas menjadi adik Kak Ihsan. Aku menghabiskan kiriman uang Kakak untuk membeli barang haram, aku bahkan tak mau tahu, jika Kakak disana membanting tulang dan mengorbankan segala senyumnya untukku,” tangannya yang masih diperban mengusap airmata, ”Jika Kakak mengatakan bahwa kami lebih berharga daripada dirinya sendiri, kenapa aku tega memperalatnya. Apakah Allah sudi memaafkan dosa-dosaku, masih bisakah aku memperbaiki semua ini? Tapi aku tidak tahu bagaimana caranya,” Fajar menggeleng sesenggukan.
Aku mendekati Fajar dan memeluk kepalanya, ”Tidak ada yang terlambat, selama Allah masih memberi kesempatan. Sebelum kita dipanggilNya. Kau harus bangkit adikku, kau harus menjadi karang yang kuat, menjadi ilalang yang bertahan walau amukan angin menerjang setiap saat. Kau harus memperbaiki dirimu, Kakak akan selalu melindungi dan mendoakanmu hingga waktu memanggil Kakak, hingga napasku tak berhembus lagi. Kau tahu, aku mencintaimu karena Allah karena Dialah yang mentakdirkan aku sebagai kakakmu. Aku akan melakukan apapun untuk kebahagiaanmu Adikku,” aku mencium kepalanya, tangis Fajar semakin pecah. Yasmin berdiri dan memeluk Fajar dari sebelah kanan. Kami berpelukan, tepat di depan Ibu yang meneteskan airmatanya, tapi bibirnya tersenyum bertasbih.
Ketika hari ketiga Fajar di Rumah Sakit, surat tentang tawaran menikah itu telah dibaca Ibu. Airmatanya kali ini, menandakan bahwa aku telah merelakan kebahagiaanku demi keluarga. Lihatlah, aku paling tidak kuat jika melihat air matanya yang jernih turun, membanjiri pipinya yang telah keriput. Ibu...
Aku memutuskan untuk seminggu lagi di Gedung Dalam Baru, aku ingin menuntaskan rinduku disini, sekaligus memberi semangat bangkit untuk Fajar. Wajar jika aku rindu mereka, aku tak pernah pulang sejak kuliah di Depok. Seharusnya minimal aku pulang setahun sekali, tapi jika aku pulang aku tak kuasa membiarkan diriku menghabiskan uang, dan tak bekerja karena tujuanku hanyalah agar adik-adikku dapat kuliah hingga tinggi. Kalau bisa lebih tinggi dariku. Bekerja di Tanah Air sendiri memang tidak seenak kerja di luar negeri, yang walau hanya bekerja di pabrik atau sebagai pembantu rumah tangga namun gajinya jutaan. Atau Mahasiswa yang kuliah disana, mereka dapat nyambi kerja. Biasanya di Sudan dan Mesir, setiap buruh bangunan rata-rata adalah mahasiswa dari Indonesia. Mereka bekerja ketika liburan semester, dan itulah kehidupan.
Hari ini aku ingin ke sawah, sudah lama aku tidak melihat hamparan padi, yang seumpama padang sahara yang menghijau dan meneduhkan. Setelah melewati balong dan melewati jembatan di irigasi, bibirku mendesah tasbih. KuasaMu Allah, tak terbatas. Kenapa masih ada manusia yang ingkar dan kufur padaMu? Bukankah mereka melihat ciptaanMu yang membentang setiap hari? Hembusan angin menampar mesra wajahku, aku teringat Mawar. Teringat kala dia meninju mataku, teringat kala dia memanen padi, teringat ketika memintaku melepaskan burung puyuh.
Mawar, sebuah nama yang membuatku meninggalkan tempat ini dan menuju kota Depok. Persahabatan itu ternyata membawaku ke dalam kesadaran, dia tidak menipuku tapi menunjukkan jalan padaku untuk menjadi yang terbaik. Kini aku sadar, Allah-lah yang mengatur segalanya. Kunikmati pengalaman seluruh hidupku di tengah pematang padi yang menghijau teduh. Aku tidak pernah sendiri, Kau begitu dekat Allah. Ya Allah, seluruh hidupku dan matiku kuserahkan tulus padaMu. Berikanlah aku kesempatan waktu, untuk menyumbangkan segenap jiwaku untukMu. Aku pulang dengan membawa semangat baru. Untuk berusaha lebih keras.
Saat pulang Fajar dan Yasmin menyambutku dengan senyuman. Yasmin baru pulang dari sekolah, dia menunjukkan kepadaku bangga akan hasil-hasil nilainya yang selalu mendapatkan peringkat tertinggi. Aku janji akan memberikannya hadiah, siang itu juga aku pergi ke pasar Simpang. Aku membeli dua jilbab cantik ukiran bulan sabit, warna biru muda dan pink. Kubelikan buku-buku agama, buku motivasi untuk Fajar. Senja itu menjadi saksi bahwa kini, tanggung jawabku semakin besar, semua itu bukanlah beban tapi rasa syukur untuk  Allah.
*     *     *
Waktunya sudah tiba, Universitas Indonesia seolah memanggil-manggil namaku. Pesantren Darussalam seolah merindukanku. Sahabat-sahabatku, Fadli, teman-teman di Pasar Minggu seolah menyebut-nyebut namaku. Aku mencium tangan Ibu, matanya menatapku, ”Tegarlah kau disana, Allah selalu bersamamu. Bersama doa-doa kami yang merindu,” Yasmin memelukku.
”Cobalah kau menulis buku atau novel atau cerpen atau apa saja, kulihat bahasa suratmu bagus. Aku yakin jika engkau bersungguh-sungguh, engkau akan menjadi kebanggaan Allah karena berdakwah melalui tulisan,” Yasmin mengangguk dan mengusap airmata beningnya, wajahnya seperti bidadari.
Fajar meletakkan salah satu penyangga kakinya. Aku membantunya berdiri, ”Semuanya kini terserah padamu, Allah selalu menerima taubat hambaNya yang sunggh-sungguh. Kakak percaya padamu karena Kakak  mencintaimu,” Fajar sesunggukan.
”Aku janji tak akan mengecewakan Kakak, aku akan kembali pada Allah dan memulai hidup baru,” dia tersenyum. Dan senyuman mereka mengiringi langkahku, kutatap nanar matahari yang mulai naik di langit desa. Senyum seluruh masyarakat Gedung Dalam Baru membuat kakiku mantap melangkah, kan kujemput impian dan kujemput nikmat Tuhan.


[1] “maka, nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” ada 31 Pengulangan dalam surat Ar-Rahman sebagai pertanda bahwa manusia terlalu angkuh jika tidak mau menyembah Allah yang telah memberikan anugrah nikmat yang sangat tak terbatas.
[2] Melebihi
[3] Tidak halus, banyak liku-likunya.
[4] Mobil Orderan yang menerima pesanan untuk perjalanan jauh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar