Rumah
Sakit Islam Metro masih lengang kala malam, hanya sesekali obrolan para
penunggu pasien, bercanda ria atau berbincang tentang apa saja. Dalam mengobati
musibah yang menimpa, mereka mencoba menghibur diri agar lebih nyaman, dan
menyemangati pasien dengan gurauan agar mereka tidak suntuk. Seorang yang sakit,
jika berpikir senang akan lebih cepat sembuh, ketimbang orang yang sakit tapi
tak ada yang menghibur dan mencandainya.
Sedari
sampai tadi, Ibu setia menunggui Fajar di dekatnya, tangannya yang dulu begitu
jeli menggoreng tahu bunting kesukaanku, kini bergetar ketika mengelus rambut
Fajar yang dibalut perban. Kulitnya telah menampakkan keriput liukan, begitu
fananya jasad manusia. Yasmin akan kujemput besok pagi, karena ini sudah
mendekati pagi. Pukul 03.00.
Aku
meninggalkan Ibu, yang dalam tidurnya pun tangannya masih bergerak mengelus
rambut Fajar, alangkah besar rasa cinta seorang Ibu. Apapun yang terjadi pada
anak-anaknya. Matanya yang terpejam pun, mengalirkan airmata bening, bagaikan
burung phoenix yang dalam dongeng dikatakan sebagai burung kasih sayang,
sehingga airmatanya dapat menyembuhkan luka dalam sekejap, tetapi bukan
sembarang orang yang diberikannya airmata, melainkan orang-orang yang bersih
hatinya atau orang yang memeliharanya dengan penuh kasih sayang. Aku berjalan
melewati koridor-koridor, tujuanku adalah mushola di sudut timur, bersebelahan
dengan ruangan saraf. Sambil melangkah aku teringat sebuah sajak yang kubuat
kala kurindu pada pelukan ibu
Ibu
Cintamu
bagaikan ilalang yang bergoyang
Walau
angin menerpamu kian kemari
Tak
goyah akarmu
Tak
goyah keyakinanmu
Untuk
mencintaiku sampai akarmu tercerabut
Sampai
nyawamu menemui Penciptamu
Ibu…
Dengarlah
nyanyian cinta ilalang
Yang
bergoyang seirama dengan doa-doamu
Untuk
menutupkan malam
Bisikmu
teduh pada Tuhan, ‘Kasihku untuk anakku, dan tak usah Kau balas’
Karena
kau mencintai tanpa alasan, tanpa pamrih, tanpa batas
Kuambil
air wudhu. Dingin tapi meneduhkan seluruh dahaga, yang terasa menimpaku
bertubi-tubi, seolah sirna tanpa bekas. Ya Allah, Engkau yang menghendaki
segala sesuatu terjadi. Tak ada yang luput dari genggamanMu. Kucoba hatiku
menyatu denganMu dalam keimanan, sehingga aku selalu yakin bahwa segalanya
dariMu, dan akan kembali kepadaMu. Keserahkan segenap urusan padaMu, keserahkan
segala pilihanku dariMu. Biarlah hamba menyatu dalam cahayaMu, kala setiap
langkah, maka sebenarnya Engkaulah yang melangkah. Kala mataku memandang, maka jadikanlah Engkau yang
memandang, kala ku mendengar jadikanlah bahwa Kaulah yang mendengar. Aku
bertasbih, mencium sajadah, terlelap dalam buaian cinta Allah. Kini, aku
semakin mengerti artinya Engkau menciptakan kami, sebagai manusia yang
sebenarnya sangat lemah. KepadaMulah tempat kembali kami.
Ibu
menyusulku shalat di belakangku. Kini, semua jelas. Aku harus menjadi imam bagi
keluargaku, setelah Bapak meninggalkan kami lebih dulu. Aku membaca surat Ar-Rahman di rekaat pertama, kala ayat
penekanan itu kulantunkan suaraku tercekat, Fabiay Yi Aa Laa Irobbikumaa
Tukadz Dzibaan airmataku berderai, kudengar isak lirih
suara ibu. Beliau menangis. Allah, cintailah kami. Allah, ridhailah kami.
Selesai shalat Ibu memberikan sebuah kertas, katanya wasiat dari Bapak setelah
mengatakan, “Insyaallah Bapak sudah
bertemu Ihsan. Dia nanti pasti menjaga Ibu, dan kedua adiknya,” sebuah surat wasiat.
Aku membukanya, di pojok kiri atas tertulis, “Untuk Ali Putraku, harapanku.”
Sebelum membacanya, Ibu tiba-tiba bicara pelan.
“Le, bacaan Quranmu kini bagus. Ibu gak nyangka begitu lembut dan mendalam, ngluwehi Bapakmu. Berarti kamu disana, selain kuliah
sambil kerja kamu juga belajar membaca Al-Quran ya?” Ibu bertanya penasaran.
“Iya Bu,
Ihsan tidak ingin hanya bisa dalam pelajaran umum dan kerja. Tapi, akhirat
adalah yang utama. Bukankah jika kita mengejar akhirat, maka dunia akan
mengikutinya? Itu yang Ibu dulu sering pesankan, sewaktu Ihsan dagang
gorengan.”
Ibu
tersenyum dan pamitan untuk menjaga Fajar kembali. Aku membuka surat itu dan
membacanya dengan mengucap Bismillah.
Untuk
Ali. Putraku, harapanku
Bapak
amat rindu padamu San. Sampai-sampai Bapak dikatakan cengeng sama Ibumu. Sudah
tua masih sering kangen-kangenan sama anak, dan katanya lagi seharusnya yang
rindu itu pasti Ihsan, dia tak punya siapa-siapa di sana, sedangkan kita punya
Yasmin dan Fajar. Semoga surat ini dapat mengobati rindu Bapak dan rindumu yo,
Le.
Biasanya
kalau kamu nulis surat, yang balas surat beramai-ramai. Setiap orang berebut
untuk dituliskan sama si Yasmin adikmu itu. Eh iya, dia kini jadi wanita yang
lembut seperti Mbak Fatimah. Dia sering mengaji sampai di kota, di tempat
Ustadz Azzam yang lulusan Universitas Sudan bareng Bapak. Biasanya Bapak gak
pernah nulis surat, tapi rasa rindu Bapak padamu membuat bapak memaksakan diri
menulis surat ini, walau tulisan Bapak sepert cacing kepanasan, wong SD saja
tidak lulus.
Airmataku
kembali tergenang dalam teduhnya malam. Suasana Rumah Sakit Islam tenang. Beberapa orang shalat malam, di antaranya
Dokter berkacamata juga shalat malam disana. Aku keluar di pojok Mushola, di
pinggir taman-taman penuh bunga, lampu bulat di atas tiang yang menyangganya
menerangkan tulisan Bapak. Aku meneruskan membacanya.
Kamu
ingat Le, waktu kamu kecil. Alangkah rindunya Bapak padamu San. Kau tahu, jika
ingat Bapak ingin minta maaf padamu. Sebenarnya sewaktu malam kamu pulang
malam-malam itu, saat itu Bapak sedang
shalat malam. Bapak mendengar suara gemerisik kayu disisik, selesai shalat
Bapak melihatmu tertidur dan pisau masih di tangan kananmu. Lalu, Bapak membuka
tangan kirimu, disana Bapak menemukan ukiran yang acak-acakan seperti cincin
dengan maniknya bulan tapi masih legok-legok. Bapak meneruskannya, lalu Bapak
memasukkan lagi cincin itu ke tanganmu hingga subuh datang. Maafkan Bapak ya
San, sehingga kamu mengira ada Malaikat yang membantumu membuat cincin itu.
Kamu
juga ingat Le sewaktu Bapak mengajarimu silat, sebenarnya Bapak saja tidak
lulus tingkat satu. Bapak asal saja mengajarimu, tapi kudengar kau mengalahkan
dua preman sekolahmu kan? Berarti bapak telah berhasil mengajarimu bela diri.
Yah, di antara ilalang yang bernyanyi di tempat kerja Bapak menjadi buruh,
karena setiap hari bapak selalu menjumpai ilalang-ilalang itu. Bapak jadi tahu
perjuanganmu disana, laksana ilalang yang bergoyang kesana-kemari, tapi tak
pernah pergi dari tempatnya, dia teguh menjalankan tugasnya. Ilalang itu, selalu
bernyanyi menemani Bapak bekerja, seperti itulah Bapak rindu engkau bernyanyi
bagaikan nyanyian ilalang itu. Cinta itu selalu menyanyi dalam jiwa Bapak,
rindu itu menyanyi setiap saat. Kuyakin engkau pun bernyanyi layaknya
ilalang-ilalang itu, kau melakukannya untuk kami. Nyayian itu selalu kudengar
dalam setiap gerak Bapak.
Le…,
Bapak curiga dengan si Fajar. Akhir-akhir ini dia sering tertutup sama Bapak. Uang yang kau kirimkan
tidak diambil sama sekali, katanya untuk di tabung saja, karena uang untuk
sekolah masih cukup. Bapak curiga, dan akhirnya Bapak menyelidiki adikmu pergi
ke tempat pesta narkoba. Bapak marah dan pukuli dia. Tapi setelah pulang, Bapak
sadar bahwa Bapak harus menyadarkan dia. Jika aku tak bertemu dengannya lagi,
salam maafku untuknya ya San.
Satu
hal lagi San. Bapak minta kamu sementara jangan menikah dulu, tolong jagalah
adik-adikmu dan ibumu. Bapak menyembunyikan penyakit Bapak pada ibumu dan
adik-adikmu. Bapak sakit Nak, tidak boleh bekerja keras oleh Bidan, tapi jika
tak bekerja Bapak tidak bisa menyekolahkan si Yasmin. Bapak rasa tubuh Bapak
sudah ringkih. Terasa sakit terus, tapi Bapak sembunyikan dari ibu dan
adik-adikmu, seperti kamu menyembunyikan kesedihan dan perasaanmu di Depok. Aku
tahu kamu Le…, karena kita satu aliran darah. Tolong jaga adikmu sampai
benar-benar dapat dilepas. Salam dari Bapak yang mencintaimu karena Allah
Ali
Rahman yang selalu merindukanmu.
Airmataku
tak kuat lagi kubendung. Menetes menyatu jatuh dengan embun pagi, yang
menandakan waktu terus berjalan. Tidak boleh berdiam diri menuggu hari, harus
dijemput. Begitu pesan Bapak dulu yang selalu terngiang di telingaku.
Siang
itu, kala aku shalat Dhuha di Mushola
memohon agar Fajar sembuh. Setelah Bapak, cukuplah dulu jangan dua-duanya Kau
ambil ya Allah. Saat itu, Yasmin masuk dengan wajah cerah, “Kak Fajar sadar,
tangannya tadi bergerak,” aku langsung mencuci wajahku lagi yang terlihat
kusut. Kubersihkan lelehan airmataku. Allah langsung mendengarkan doaku.
Fajar
membuka matanya perlahan. Matanya menatap kami satu-persatu, “Kak Ihsan,”
lirihnya pelan. Airmatanya mengalir kembali, “Maafkan Fajar Kak…, Fajar…”
Aku
menyentuhkan telunjuk tanganku ke bibirnya. Kudekatkan diriku di dekatnya lalu
kekecup keningnya, “Aku mencintaimu karena Allah, tidak usah merasa diri
bersalah. Allah telah mengaturnya, yang penting kita melangkah untuk menjadi
lebih baik,” aku mengelus kepalanya, seperti waktu kecilnya dulu kala Fajar
hendak tidur.
“Fajar…,
Fajar janji Kak. Fajar akan menjadi yang diinginkan Bapak,” matanya masih
berkaca. Hari ini, dia telah melewati masa kritisnya. Begitu Dokter berjilbab
yang tadi menjelaskan kepada kami, tapi beberapa tulangnya retak dan harus
segera dioperasi. Semakin cepat dioperasi semakin baik.
Alhamdulillah. Segala puji hanyalah milikMu ya Allah.
”Dok, kira-kira
operasinya menghabiskan dana berapa ya?”
Dokter muda itu
membetulkan kacamatanya, ”Biasanya berkisar empat atau lima juta Mas. Silakan
ke administrasi jika sudah siap operasi.”
”Terimakasih Dok.”
Setelah pamitan
sebentar pada Fajar dan Ibu, aku keluar ruangan dan memencet beberapa nomor
telepon. Pesantren. Syahid di ujung sana menjawab salam.
”Akh, aku butuh
uang sekitar lima juta, untuk operasi adikku. Bisa pinjamkan dulu?”
”Innalillah, Insyaallah saya usahakan Akh.”
”Uangnya kirimkan saja
melalui rekening Muamalatku ya, nanti aku sms nomor rekeningnya. Mungkin aku
juga akan sedikit lama disini, keluargaku sangat membutuhkanku kini. Tolong
izinkan dengan para Ustadz dan di Kampus.”
”Insyaallah,
semoga Allah menyertaimu.”
”Jazakallah khoiron
jaza’, mohon doanya dari teman-teman semua,” sambungan terputus. Aku harus
menemani Fajar, hingga benar-benar bisa ditinggal. Bapak memercayakan segalanya
padaku, Bapak percaya padaku maka aku harus percaya pada diriku.
Hari kelima di Rumah
Sakit, keadaan Fajar setelah operasi semakin baik. Tiga titik tulang yang patah
sudah dioperasi. Kata Dokter, untuk sampai pada taraf dapat berjalan seperti
semula, mungkin membutuhkan waktu setahun atau bahkan lebih. Aku selalu
menemani Fajar, sedangkan Yasmin karena sekolahnya tidak bisa ditinggal, maka
dia bergantian dengan ibu untuk memasak makanan dan mengantarnya ke Rumah
Sakit. Dengan musibah ini, rasa cinta kami semakin terasa kuat. Bapak pasti
melihatnya dan tersenyum dari sana. Akupun tersenyum pada Allah yang begitu
dekat terasa.
Hari ke-enam, kami
sekeluarga berpamitan pada dokter muda yang menangani adikku. Namanya Ani,
tepatnya Ani Rufaida. Artinya pun dokter. Sungguh anggun dalam balutan
jilbabnya yang panjang. Seolah Ani ingin membuktikan pada dunia, bahwa apa yang
dikatakan orang yang tak bertanggungjawab itu tidak benar. Mereka mengatakan
bahwa wanita berjilbab itu tidak gesit, dan menyusahkan keefektifan kerja. Sama
sekali tidak benar! Wanita berjilbab adalah bidadari di dunia, itu bagi orang
yang mencintai Allah dan Islam yang
menjadi tujuan hidupnya.
Hari itu juga, kami
pulang dan menyewa mobil kang Joko yang bekerja sebagai supir sateran,
tapi aku hanya menyewa mobilnya, karena aku sudah bisa menyetir. Aku bersyukur
karena semuanya begitu dimudahkan oleh Allah, tepat beberapa jam setelah
menelepon Syahid, rekeningku telah terisi uang, bahkan enam juta jumlahnya.
Kata Syahid, tidak usah dibayar, karena ada seseorang yang menganggapnya
sebagai anak, dan dia mengikhlaskan uangnya untuk pengobatan adikku.
Hari ini kami
menghibur Fajar dengan keliling-keliling dari metro, kemudian kearah Kalianda.
Kami menikmati pemandangan sambil mentadaburi ayat-ayat kauniyahNya. Fajar
tampak begitu senang dan bahagia, duka yang kemarin menyelimutinya seolah
hilang dan wajahnya kembali ceria. Dia berjanji tidak akan menyentuh sedikitpun
barang-barang haram itu lagi. Dia memang dijebak teman-temannya, maka aku
segera mengontak polisi untuk menguak peredaran narkoba di kota metro, apalagi
di daerah kampus, yang banyak terdiri dari mahasiswa dan para pelajar pendatang
dari berbagai penjuru itu.
Malam itu, nyanyian
cinta kembali didengungkan. Ibu sedang asik membuat gorengan di belakang
bersama Yasmin, mereka membuat tahu bunting, tempe goreng yang dibumbuhi tepung,
dan tempenya diiris tipis-tipis, lalu ada bakwan. Sebelum dihidangkan saja,
baunya sudah membuat air liurku dan Fajar meleleh rasanya. Saat Ibu keluar
bersama Yasmin membawa hidangannya, tangan Fajar hampir menyomot duluan, keburu
ditegur Ibu.
”Sekarang Kakakmulah
yang jadi kepala di rumah ini, biarkan dia memimpin doa untuk kita semua.”
Ibu melihatku, seolah
ingin mengetes bacaan Quranku, seperti sewaktu di Rumah Sakit tempo hari. Aku
membaca Doa dzikir pagi petang yang diajarkan Rasulullah saw, kemudian keteruskan
dengan doa yang sering kupelajari di pondok. Setelah itu doa mau makan, dan
terakhir meminta keberkahan dalam keluarga. Mereka mengamini dengan khusyuk,
sampai-sampai Yasmin melelehkan airmatanya, ”Kakakku kini tidak kalah dengan
Ustadz Azzam yang ganteng itu, yang lulusan Sudan University itu,” akhirnya
semua tertawa, dan memulai memakan santapan nikmat malam ini, sungguh nikmat,
dan kutahu Ibu membuatnya dengan penuh cinta kepada anak-anaknya.
Handphone bututku
menjerit. Sebuah nomor baru, aku angkat.
”Assalamu’alaikum
Nak,” sebuah suara yang seolah sudah agak tua.
”Wa’alaikumsalam warahmatullah, maaf ini dengan siapa?”
”Ini pak Hamdan,
Ayahnya Wanda.”
”Astaghfirullahal’adzim,
Masyaallah!” wajah ibu dan kedua
adikku tiba-tiba melotot kearahku. Mereka memelankan suara makan dan
obrolannya.
”Maafkan saya Pak,
saya benar-benar lupa untuk menjawab tawaran Bapak. Karena saya sedang mendapat
musibah.”
”Saya turut berduka
cita dan mendoakan untuk Bapakmu, terus sekarang apakah kamu sudah menentukan
jawabanmu? Kesepakatanku dengan Wanda tinggal hari ini, jika tidak, akan
kunikahkan dia dengan pilihanku. Dan Wanda sepenuhnya percaya dengan
keputusanmu, dia akan menerimanya dengan lapang dada. Sekarang juga Bapak
membutuhkan jawabanmu,” kurasa dari seberang sana. Ustadz Hamdan menunggu
kata-katanya. Orang Sumatera memang paling suka main tembak ke pokok masalah.
Aku lirih membaca
basmalah, ”Pak, saya sudah menentukan. Dengan tidak mengurangi rasa hormat saya
pada Bapak dan Wanda, demi kebaikan bersama. Mungkin saya harus jujur, saya
menunda waktu pernikahan saya. Saya diminta Bapak untuk menunda pernikahanku,
dan itu wasiat beliau sebelum beliau wafat. Kini adikku baru saja kecelakaan.
Bagiku, Ibuku...,” aku menatap Ibu tenang, Ibu pun melihat kearahku. bakwannya ditaruh
kembali pelan di piring, ”Bagiku dialah yang terpenting dalam hidupku setelah
musibah ini, dan adik-adikku belum bisa kutinggalkan ketika harus menikah
sekarang. Mereka membutuhkan aku dalam keadaan ini. Bagiku, mereka lebih
berharga dari apapun di dunia ini. Termasuk diriku sendiri. Maafkan saya Pak,”
dadaku berdebar kencang, menunggu jawaban dari seberang.
”Bapak mengerti
keadaanmu Nak. Sebenarnya, yang ingin Wanda cepat menikah adalah isteriku, karena dia ingin segera menimang cucu,
dan kebetulan temanku melamarkan anaknya, yang yang baru saja menyelesaikan
kuliahnya di Malaysia. Aku akan merundingkannya kembali bersama keluarga. Kau
tunggu saja musyawarah kami, semoga semuanya lancar, dan tidak akan ada yang
dirugikan. Perlu kau tahu, Wanda sangat mencintaimu, aku tahu itu karena aku
adalah ayahnya,” Ustadz Hamdan menutup dengan salam, aku menaruh Hpku kembali
ke saku celana.
Aku meneruskan makanku
tenang, seolah tak terjadi apa-apa. Kubuat senyumku setegar gunung. Suasana
menjadi hening, tidak ada yang makan kecuali diriku yang menahan rasa berat
dihatiku, walau sebenarnya tak kuasa menahan airmata, namun kutahan sekuat
tenaga. Adikku Yasmin angkat bicara, airmatanya jatuh. Wajahnya bersinar
”Kak..., maafkan
Yasmin. Maafkan Yasmin Kak..., kau merelakan kebahagiaanmu padaku. Yasmin akan
menjadi yang terbaik, agar Kakak tidak menyesal telah melakukan segalanya untuk
Yasmin. Yasmin malu pada Allah jika membuat Kakak kecewa, tak kutemukan seorang
pun yang lebih mencintaiku ketimbang Kakak,” airmatanya menetes, makan kami
yang semula ramai berganti kesenyapan.
”Akulah yang
sebenarnya merasa tidak pantas menjadi adik Kak Ihsan. Aku menghabiskan kiriman
uang Kakak untuk membeli barang haram, aku bahkan tak mau tahu, jika Kakak
disana membanting tulang dan mengorbankan segala senyumnya untukku,” tangannya
yang masih diperban mengusap airmata, ”Jika Kakak mengatakan bahwa kami lebih
berharga daripada dirinya sendiri, kenapa aku tega memperalatnya. Apakah Allah
sudi memaafkan dosa-dosaku, masih bisakah aku memperbaiki semua ini? Tapi aku
tidak tahu bagaimana caranya,” Fajar menggeleng sesenggukan.
Aku mendekati Fajar
dan memeluk kepalanya, ”Tidak ada yang terlambat, selama Allah masih memberi
kesempatan. Sebelum kita dipanggilNya. Kau harus bangkit adikku, kau harus
menjadi karang yang kuat, menjadi ilalang yang bertahan walau amukan angin
menerjang setiap saat. Kau harus memperbaiki dirimu, Kakak akan selalu
melindungi dan mendoakanmu hingga waktu memanggil Kakak, hingga napasku tak
berhembus lagi. Kau tahu, aku mencintaimu karena Allah karena Dialah yang
mentakdirkan aku sebagai kakakmu. Aku akan melakukan apapun untuk kebahagiaanmu
Adikku,” aku mencium kepalanya, tangis Fajar semakin pecah. Yasmin berdiri dan
memeluk Fajar dari sebelah kanan. Kami berpelukan, tepat di depan Ibu yang
meneteskan airmatanya, tapi bibirnya tersenyum bertasbih.
Ketika hari ketiga
Fajar di Rumah Sakit, surat tentang tawaran menikah itu telah dibaca Ibu.
Airmatanya kali ini, menandakan bahwa aku telah merelakan kebahagiaanku demi
keluarga. Lihatlah, aku paling tidak kuat jika melihat air matanya yang jernih
turun, membanjiri pipinya yang telah keriput. Ibu...
Aku memutuskan untuk
seminggu lagi di Gedung Dalam Baru, aku ingin menuntaskan rinduku disini,
sekaligus memberi semangat bangkit untuk Fajar. Wajar jika aku rindu mereka,
aku tak pernah pulang sejak kuliah di Depok. Seharusnya minimal aku pulang
setahun sekali, tapi jika aku pulang aku tak kuasa membiarkan diriku
menghabiskan uang, dan tak bekerja karena tujuanku hanyalah agar adik-adikku
dapat kuliah hingga tinggi. Kalau bisa lebih tinggi dariku. Bekerja di Tanah
Air sendiri memang tidak seenak kerja di luar negeri, yang walau hanya bekerja
di pabrik atau sebagai pembantu rumah tangga namun gajinya jutaan. Atau
Mahasiswa yang kuliah disana, mereka dapat nyambi kerja. Biasanya di Sudan dan
Mesir, setiap buruh bangunan rata-rata adalah mahasiswa dari Indonesia. Mereka bekerja ketika liburan semester, dan
itulah kehidupan.
Hari ini aku ingin ke
sawah, sudah lama aku tidak melihat hamparan padi, yang seumpama padang sahara
yang menghijau dan meneduhkan. Setelah melewati balong dan melewati jembatan di irigasi, bibirku mendesah tasbih.
KuasaMu Allah, tak terbatas. Kenapa masih ada manusia yang ingkar dan kufur
padaMu? Bukankah mereka melihat ciptaanMu yang membentang setiap hari? Hembusan
angin menampar mesra wajahku, aku teringat Mawar. Teringat kala dia meninju
mataku, teringat kala dia memanen padi, teringat ketika memintaku melepaskan
burung puyuh.
Mawar, sebuah nama
yang membuatku meninggalkan tempat ini dan menuju kota Depok. Persahabatan itu
ternyata membawaku ke dalam kesadaran, dia tidak menipuku tapi menunjukkan
jalan padaku untuk menjadi yang terbaik. Kini aku sadar, Allah-lah yang
mengatur segalanya. Kunikmati pengalaman seluruh hidupku di tengah pematang
padi yang menghijau teduh. Aku tidak pernah sendiri, Kau begitu dekat Allah. Ya
Allah, seluruh hidupku dan matiku kuserahkan tulus padaMu. Berikanlah aku
kesempatan waktu, untuk menyumbangkan segenap jiwaku untukMu. Aku pulang dengan
membawa semangat baru. Untuk berusaha lebih keras.
Saat pulang Fajar dan
Yasmin menyambutku dengan senyuman. Yasmin baru pulang dari sekolah, dia
menunjukkan kepadaku bangga akan hasil-hasil nilainya yang selalu mendapatkan
peringkat tertinggi. Aku janji akan memberikannya hadiah, siang itu juga aku
pergi ke pasar Simpang. Aku membeli dua jilbab cantik ukiran bulan sabit, warna
biru muda dan pink. Kubelikan buku-buku agama, buku motivasi untuk Fajar. Senja
itu menjadi saksi bahwa kini, tanggung jawabku semakin besar, semua itu
bukanlah beban tapi rasa syukur untuk
Allah.
* *
*
Waktunya sudah tiba,
Universitas Indonesia seolah memanggil-manggil namaku. Pesantren Darussalam
seolah merindukanku. Sahabat-sahabatku, Fadli, teman-teman di Pasar Minggu
seolah menyebut-nyebut namaku. Aku mencium tangan Ibu, matanya menatapku,
”Tegarlah kau disana, Allah selalu bersamamu. Bersama doa-doa kami yang
merindu,” Yasmin memelukku.
”Cobalah kau menulis
buku atau novel atau cerpen atau apa saja, kulihat bahasa suratmu bagus. Aku
yakin jika engkau bersungguh-sungguh, engkau akan menjadi kebanggaan Allah karena berdakwah melalui tulisan,”
Yasmin mengangguk dan mengusap airmata beningnya, wajahnya seperti bidadari.
Fajar meletakkan salah
satu penyangga kakinya. Aku membantunya berdiri, ”Semuanya kini terserah
padamu, Allah selalu menerima taubat hambaNya yang sunggh-sungguh. Kakak
percaya padamu karena Kakak
mencintaimu,” Fajar sesunggukan.
”Aku janji tak akan
mengecewakan Kakak, aku akan kembali pada Allah dan memulai hidup baru,” dia
tersenyum. Dan senyuman mereka mengiringi langkahku, kutatap nanar matahari
yang mulai naik di langit desa. Senyum seluruh masyarakat Gedung Dalam Baru
membuat kakiku mantap melangkah, kan kujemput impian dan kujemput nikmat Tuhan.
Not Comments Yet "Part 28, Nyanyian Cinta Ilalang"
Posting Komentar