Keadaan semakin gawat! Memang
benar, kelas lima yang mengomandoi terjadinya keheboha. Kehebohan pertama kali
di Sekolah Dasar Negeri Cahaya. Dalam sejarah desa, inilah kali pertama,
keributan yang membuat gempar desa.
Setelah semua tenang, di
halaman tempat upacara bendera setiap hari senin. Semua siswa berkumpul seperti
akan upacara, barisan diistirahatkan. Yang mengherankan, aku berdiri di tengah
seperti pemimpin upacara, seperti akan divonis hukuman, seperti akan diberi
penghargaan? Tak mungkin!
Semua kekacauan, akulah
mulanya.
Pak Danu berada di barisan
guru, di pojok kiriku. Di sampingnya berdiri dengan tegap, Pak Yusuf, Bu Siska,
dan Bu Ria. Semuanya diam, tanpa ekspresi, bagai para jaksa, baik pembela
maupun penggugat. Keringatku keluar berjejalan. Mereka pikir aku siapa? Apalagi
aku di tengah panasan sendiri. Tersengat matahari siang yang membara.
Angin berhembus tenang,
semilir.
Pak Danu berdehem,
bergerak menghentakkan kaki kanannya kuat ke tanah, lalu maju satu langkah.
Menghadap ke kiri, tegap, berjalan menuju posisi pembina upacara. Berdiri
tegap, menghadapku, membenahi kacamatanya, wajah tirusnya semakin menandakan
ketuaannya.
Tubuhnya tertutupi tembok
yang disusun setinggi lututnya. Pak Danu menghadap ke seluruh siswa dan padaku,
dia mengucapkan salam.
”Seperti taklimat-taklimat
pada ketetapan yang diambil pada setiap kondisi,” Pak Danu kembali berdehem,
”Melihat peristiwa-peristiwa yang terjadi, perlu kiranya diambil sebuah
keputusan untuk menyelesaikan masalah-masalah yang terjadi. Bermula dari
pelajaran mimpi yang diberikan Pak Arif. Maka... dengan itu diambil sebuah
keputusan.”
Kalimat Pak Danu
menggantung.
Kulihat Pak Yusuf masih
tenang dalam berdirinya, Bu Siska walau terlihat tenang tapi kutangkap
kekhawatiran tersembunyi dari wajahnya yang lembut. Bu Ria terlihat gelisah,
dia terlalu khawatirkah? Suara gemuruh kembali terdengar dari belakangku,
saling bisik.
”Diam dulu!” tegas.
Semuanya terdiam, hanya kinjeng tangis dan burung prenjak yang terdengar
masih membunyikan kidungnya.
”Bahwa...”
Pak Danu bergerak, dia
bergeser ke kiri lagi, tepat dua langkah. Langkah tegap, berjalan menuju ke arahku,
aku tahu mungkin inilah akhirku berada di desa Cahaya. Inilah pemecatan paling
terhormat yang pernah kuterima. Aku salut pada Pak Danu yang demikian
menghargai arti sebuah PHK. Tidak seperti para investor di negeri ini, PHK
seenaknya. Bahkan, kadang pesangon tak diberikan.
Sampailah Pak Danu di
depanku. Kedua tangannya bergerak, memegang pundakku kuat, ”Pak Arif, setelah
semua yang terjadi. Saya harap, kau tidak menyesal. Saya harap kau tidak merasa
sakit hati, aku harap kau bisa menerima keputusan ini.”
Nadanya teramat sedih
untuk sebuah perpisahan. Bahkan, aku tak merasa sakit hati sama sekali, walau
pemecatan, tapi selayak aku terhormat saat turun dari jabatan untuk melantik
pejabat yang baru.
”Aku bisa menerimanya
dengan baik, Pak! Saya tidak akan sakit hati, saya bahagia, saya sangat bahagia
pernah menjadi bagian dari desa Cahaya ini.”
”Apa maksud Pak Arif?”
Kini, aku yang terbengong,
”Bukankah ini perpisahan?”
Pak Danu mencengkeram
semakin kuat kedua pundakku, ”Pak Arif, aku mohon padamu. Teruskanlah
perjuangan!” Pak Danu tersenyum, mengangguk penuh makna. Sorot matanya kembali
ceria, dan kulihat harapan besar menyembul di kedua matanya yang telah keriput.
”Saya mohon, ajarkan
anak-anak mimpi itu! Ajarkan mereka mimpi, agar mereka dapat membangun Cahaya.
Kau benar! Itulah sebuah harapanku, aku mengaku kalah padamu. Maka aku mohon,
teruskan perjuangan ini! Karena sisa umurku tidaklah lama lagi, aku telah
melihat kekuatan mimpi, aku telah melihatnya anak muda.”
Senyum kami menyatu,
kawan, air mataku satu denting luluh.
Aku berbalik ke arah semua
siswa, Syahid berdiri paling depan. Senyumnya tak terperikan indahnya kawan.
Aku berbalik lagi, Pak Danu mengangguk seolah memohon padaku. Kulihat pula
senyum Bu Ria, senyumnya terlalu ceria. Pak Yusuf, yang kuceritakan wajahnya
seperti ustadz, mengangkat jempolnya ke arahku, dan sekali lagi kulihat senyum Bu
Siska yang anggun.
Seluruh siswa bersorak,
entah mereka paham atau tidak. Namanya anak-anak, setiap keributan pasti mereka
suka dan ikut ambil bagian. Tapi aku berjanji kawan, akan kuajarkan mimpi-mimpi
pada mereka, mimpi yang akan mereka peluk dalam tidur mereka, yang akan
membayang setiap mereka berjalan dan bernapas. Mimpi yang membuatku bertahan,
untuk menjadi yang terbaik.
Not Comments Yet "Bagian 20, Teruskan Perjuangan"
Posting Komentar