Ini dia. Saran yang
kuambil dari temanku sesama pemulung. Namanya Ari Sihasale, mirip artis
namanya. Dia dulu dari sebuah kampung terpencil di Kalimantan, berbekal sobekan
koran yang tanpa sengaja didapatkannya kala membeli ikan asin di kecamatan.
Koran pembungkus.
Sebungkus koran itu
baginya adalah harta, terpampang kondisi Jakarta dan harapan-harapan. Sebagai
Ibukota, tentu banyak investasi baik internal maupun eksternal berada di sana.
Kau tahu, Kawan, apa yang dilakukannya ketika nama Jakarta ada di sana,
kebetulan di situ ditulis tentang pasar uang. Dia langsung pamitan kepada kedua
orangtuanya merantau ke pulau seberang. Nekat, senekat-nekatnya.
Koran pembawa petaka! Begitu
katanya padaku, ketika bertemu dengannya di pedagang loakan. Setidaknya,
nasibnya sama denganku walau aku merasa lebih baik darinya. Lebih baik karena
aku pernah mencicipi nikmatnya sekolah, hingga kuliah, sedang dia sekolah dasar
saja tidak mencicipinya. Saban hari, dia bekerja bersama pekerja pencari barang
bekas. Satu hal yang kupelajari darinya, ’Hemat! Kumpulkan uang
sebanyak-banyaknya jika kau gagal, kembalilah ke rumah dan jadilah pahlawan di sana
daripada jadi pecundang di negeri yang besar.’
Sampai lupa, aku mengambil
sarannya jika ingin murah ketika bepergian, maka naiklah kereta api. Aku menuju
stasiun, terlihat kereta entah tahun berapa, sudah terlihat karatan dan buruk.
Pemerintah masih saja memercayakan barang panjang besi ini untuk mengangkut
manusia. Aku tak ambil pusing, aku ingin segera ke desa Cahaya yang melambai
dalam anganku.
Antrian di loket begitu
padat. Aku baris di belakang. Satu-persatu, satu langkah ke depan, satu langkah
lagi. Barisan baru terbentuk di belakangku, tepat di belakangku seorang lelaki
tambun sedang menyeruput es krim. Seumur hidup aku baru sekali menyeruput es
krim, hanya sekali. Catatan sejarah ini terjadi ketika aku mendapatkan ranking
satu waktu kelas satu SD, setelah itu walau ranking satu terus, Kakek tak pernah membelikan es krim lagi.
Kakek takut gigiku rusak, berlubang, dan akhirnya keropos.
Di barisan belakang sangat
ribut, kata-kata kasar keluar, menggerutui barisan depan yang katanya lelet! Telingaku paling tidak
betah jika ada kata makian, kasar, hinaan, ejekan. Dokter Masaru Emoto yang
memperkenalkan bahwa air itu hidup dan merespon ucapan pasti sepakat dengan
pendapatku bahwa tubuh manusia yang 75% lebih terdiri dari air tidak betah
mendengar kata-kata kasar.
Tinggal sepuluh orang di
depanku, perasaanku terasa bungah. Di belakang masih saja ribut, kulihat
sejenak ke belakang. Mereka demikian berdesak-desakkan. Aku kembali melihat ke
depan.
Tinggal sembilan, delapan,
tujuh...
Kuhitung terus. Antusias.
Empat, tiga, dua...,
Senyumku semakin tak bisa
kututupi. Bahagia sekali hatiku, belum pernah aku sebahagia ini selama setahun
di kota Jakarta. Kamu tahu, Kawan, aku sangat bergairah, bersemangat, antusias.
Karena orang yang tidak punya antusiasme dan memilih mengalah pada keadaan
seperti kata Andrew Matthews, ’Kita punya pilihan, yaitu antara benar-benar
hidup, atau semata-mata hidup.’
Satu orang di depanku
masih membeli tiket, suasana gerah, baju satu-satunya yang melekat di tubuhku
telah basah dengan keringat, apalagi ditambah beban tas di punggungku.
Lunas.
Giliranku. Aku tersenyum.
Namun, senyumku hilang kala petugas di hadapanku itu menatapku terdiam,
mulutnya hendak terbuka tapi seolah ragu, apa penampilanku terlihat aneh?
”Benar-benar habis ya, Pak,
tiketnya?”
Petugas yang terlihat
kurus itu mengangguk, ”Iya, Mas,” kali ini dia tersenyum kepadaku, dan kepada
beberapa orang yang menunggu di belakangku tadi.
Semua orang yang mengantri
tiket bubar.
Tubuhku lemas, kala
pembeli tiket bubar. Aku berjalan lunglai, mendekati beton tegak kokoh di dekat
tempat tunggu. Kulorotkan tubuhku, punggungku beradu dengan beton, aku terduduk
jongkok lesu di pinggir rel kereta. Aku akan menunggu kereta selanjutnya,
biarlah di sini saja. Aku tidak punya tempat, dunia tahu itu.
Peluit keras pertama
terdengar, berarti kereta hendak berangkat. Ramai nian suara pedagang yang
berhamburan menyingkir dari kereta api yang hendak berangkat, namun masih ada
yang ngeyel, menjejalkan dirinya di pintu masuk.
Aku menatap kokoh besi
panjang yang masih terdiam itu, sebentar lagi dia pasti berangkat.
”Mas...” Aku terperanjat. Seseorang memanggilku, aku
menoleh ke kiri. Seorang petugas, aku cermati, dia tadi yang menjual tiket. Aku
heran kenapa dia menghampiriku, tetapi ketika hendak bicara, dia menyodorkan
sebuah kertas padaku. Kertas yang teramat kecil.
”Aku...,”
”Cepatlah masuk ke kereta,
sebentar lagi berangkat,” wajahnya tersenyum padaku.
”Aku...,”
”Tadi aku menyimpan satu,
kukira saudaraku akan berangkat hari ini. Ternyata dia akan pergi besok. Ini
ambilah dan gratis untukmu, aku melihatmu sangat membutuhkan tiket ini.
Kuambil karcis satu lembar
itu dari tangannya. Tak lupa kuucapkan terima kasih dan senyuman
setulus-tulusnya yang kumiliki. Aku bergegas menuju pintu kereta api. Saat masuk
pintu itu kulihat petugas itu melambaikan tangannya padaku. Senyum kami beradu.
Terima kasih!
Aku patut juga berterima
kasih pada Ari Sihasale. Kenapa Ari? Karena pelajaran darinya sangat ampuh, ”Jika
ingin murah ketika bepergian, maka naiklah kereta api.” Terbukti bukan? Hari
ini aku gratis menaiki kereta api. Terima kasih Tuhan, Kau memang telah
menyediakan satu karcis untukku.
Not Comments Yet "Bagian 9, Takdir Satu Karcis"
Posting Komentar